Yuk Mampir ke Bekas Banknya Zaman Belanda di Surabaya

Surabaya – Tak hanya dikenal sebagai kota bisnis, Surabaya juga menyimpan sejumlah peninggalan zaman pendudukan Belanda, termasuk gedung-gedung tua yang masih terawat dengan baik, bahkan dipergunakan sebagai gedung perkantoran.

Salah satu gedung tua yang menarik untuk ditengok di Surabaya adalah De Javasche Bank. De Javasche Bank sendiri sebenarnya merupakan sebutan untuk Bank Indonesia pada masa Indonesia masih diakui sebagai Hindia-Belanda.

“Pada 1 Juli 1953, De Javasche Bank berubah menjadi Bank Indonesia dan secara otomatis gedung De Javasche Bank di Jalan Garuda ini beralih fungsi menjadi kantor Bank Indonesia,” tutur Rizki, pemandu tur De Javasche Bank saat berbincang dengan detikcom, Jumat (9/11/2018).


Namun karena kapasitasnya sudah tidak memadai, Bank Indonesia tak lagi menempati bangunan yang disebut sudah berdiri sejak tanggal 14 September 1829 tersebut, meski pengelolaannya masih berada di bawah Bank Indonesia.

“Pada tahun 1973, kantor tersebut tidak digunakan lagi karena kapasitas gedung tidak cukup memadai untuk melakukan kegiatan operasional Bank Indonesia,” lanjutnya.

Bangunan ini pun dibiarkan tetap terawat dan menjadi museum perbankan, bahkan dianggap sebagai saksi bisu lahirnya perbankan di Indonesia hingga berkembang sampai saat ini.

Dijelaskan Rizki, gedung ini terdiri atas 3 lantai, masing-masing untuk basement, ruang perkantoran dan ruang arsip.

“Yang pertama basement, di lantai kedua ada ruang yang dulunya sebagai kantor dan lantai tiga ada ruang arsip tapi hanya dua lantai yang bisa dikunjungi,” ujarnya.

Foto: Intan Puspita Asri

Basement juga merupakan pintu masuk pengunjung yang ingin melihat isi bangunan ini. Di sini pengunjung juga bisa melihat koleksi mata uang kuno yang disusun rapi dalam etalase kaca. Ada juga replika batang emas yang dapat dipegang.

Tidak hanya melihat koleksi uang, pengunjung juga akan melihat brangkas khusus untuk menyimpan uang yang saat ini sudah tidak digunakan.

Ada pula beragam mesin dan alat perbankan seperti mesin pemotong, mesin press, mesin penghitung hingga mesin penghancur uang yang dipajang di seantero ruangan. Tak lupa ada beberapa koleksi foto tentang gedung tersebut di masa lalu.

Naik ke lantai dua, hanya terdapat bilik-bilik kayu di bagian barat dan selebihnya adalah ruang kosong. Menurut Rizki, dahulu lantai ini dijadikan sebagai pusat aktivitas perbankan mulai dari menyimpan uang maupun penarikan uang oleh nasabah. Namun sejak Bank Indonesia berpindah gedung, lantai ini disulap menjadi ruang pameran umum seperti pameran lukis.

Foto: Intan Puspita Asri

Antusiasme warga pun terlihat saat memasuki bangunan berusia 186 tahun ini. Salah satunya Anita.

“Saya kesini sekalian untuk bikin tugas vlog tentang sejarah di Surabaya. Tempatnya bagus, bisa banyak belajar disini,” tutur siswa SMK Barunawati Surabaya ini.

Tak jarang pengunjung De Javasche Bank bukan hanya dari Kota Surabaya saja, melainkan dari luar kota.

“Yang berkunjung biasanya tidak dari Surabaya saja. Orang luar kota juga kesini. Kebanyakan saat ikut Bus Heritage Track,” tutur Rizki.

Tertarik untuk mampir akhir pekan ini? Museum ini buka setiap hari mulai pukul 08.00 hingga 16.00 WIB, kecuali di tanggal merah. Pengunjung tinggal datang dan tak perlu membayar tiket masuk.
(lll/lll)

<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *