Kerusakan Hutan dan Danau Toba Diminta Jadi Materi Debat Capres

Medan – Dosen Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara (FH USU) Prof Dr Syafruddin Kalo, SH menyarankan debat calon presiden membahas isu pembakaran hutan dan pencemaran parah perairan Danau Toba.

“Kehancuran hutan dan pencemaran Danau Toba itu, bukan hanya merugikan negara, tetapi juga memperparah kerusakan lingkungan di Indonesia yang seharusnya dilindungi oleh pemerintah,” kata Syafruddin di Medan sebagaimana dilansir Antara (17/2/2019).

Kebakaran hutan yang terjadi di Provinsi Riau, Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) dan daerah lainnya, menurut dia, juga merugikan negara maupun pemerintah daerah.

“Selain itu, kebakaran hutan di beberapa daerah Riau dan Sumsel juga mengganggu kegiatan ekonomi masyarakat maupun aktivitas akibat kabut asap, serta menimbulkan korban jiwa anak-anak, dan orang dewasa karena mengalami sakit,” ujar Syafruddin.
Ia mengatakan kebakaran tersebut karena alih fungsi hutan yang dilakukan para pengusaha perkebunan untuk menjadikan areal kebun sawit.

Begitu juga pencemaran yang terjadi di kawasan Danau Toba, Provinsi Sumatera Utara (Sumut) yang dilakukan pengusaha dengan budi daya ikan, dan diduga menggunakan makanan ikan mengandung bahan kimia.

“Kemudian, budi daya ikan di Danau Toba, diduga melebihi kapasitas dari izin yang dikeluarkan pemerintah melalui Kementerian Lingkungan dan Kehutanan (KLH),” ucap Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara (USU) itu.

Syafruddin menjelaskan pencemaran di Danau Toba, juga berdampak terhadap sektor pariwisata, karena daerah tersebut merupakan salah satu destinasi wisata di Indonesia, dan juga kunjungan wisatawan mancanegara (wisman).

Isu kerusakan hutan akibat pembakaran dan pencemaran Danau Toba itu, termasuk visi misi debat capres, yakni sumber daya alam dan lingkungan.

Bahkan, Komisi pemilihan Umum (KPU) pada debat capres tersebut, menetapkan tema debat adalah masalah pangan, energi, infrastruktur, serta sumber daya alam dan lingkungan.

Karena hal itu sangat penting bagi kelangsungan pembangunan bangsa dan negara, serta kesejahteran rakyat Indonesia.

“Diharapkan pada debat capres kedua itu, akan lahir ide-ide yang brilian untuk membangun Negara Indonesia yang lebih baik, mengejar segala ketertinggalan dari-negara-negar maju,” kata Pakar Hukum Lingkungan dan Tanah itu.
(asp/asp)

<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Menggali Potensi Wisata di Rest Area Cipali Sejak Pagi

Liputan6.com, Cirebon – Tol Cipali tak hanya menyambungkan kendaraan dari Jakarta ke Pantura Jawa Barat maupun Jawa Tengah. Beragam potensi masih terus dikembangkan seiring dengan meningkatnya volume kendaraan yang melintas.

Salah satunya dengan menggelar Festival Cipali yang berada di KM 86 Kabupaten Subang Jawa Barat. Sejumlah stand minuman, makanan, serta batik khas Cirebon dihadirkan dalam festival tersebut.

Pengunjung bisa belajar membatik dengan pewarna alami, cukup membayar Rp 30 ribu. Festival yang digelar tiga hari pada akhir pekan ini.

“Ini gebrakan kami untuk mendongkrak sektor wisata yang ada di sepanjang Tol Cipali,” kata GM Operasional PT LMS Suyitno, Sabtu (16/2/2019).

Dia mengatakan, dalam festival tersebut pengelola Tol Cipali mengajak seluruh UMKM binaan mereka. Pantauan dilokasi, Festival Cipali cukup ramai dikunjungi pengguna tol yang tengah beristirahat di KM 86.

Mereka berkerumun di beberapa tenda UMKM binaan pengelola Tol Cipali tersebut. Dia mengatakan, target utama festival Cipali tersebut agar menciptakan potensi wisata di setiap rest area sepanjang tol.

“Tapi tetap akan kami evaluasi dan review dulu untuk melangkah bagaimana kedepannya dan apa yang harus kami lakukan termasuk tempat dan konsep lain. Untuk festival ini mungkin setahun bisa dua kali kecuali musim arus mudik ya,” kata dia.

Festival Cipali digelar dari pagi hingga siang hari pukul 13.00 WIB. Suyitno mengatakan, ide menggali potensi wisata di rest area sepanjang Cipali dapat meningkatkan volume kunjungan pengendara melintas di Tol Cipali.

“Kami sempat membuat buku saku kuliner khas daerah-daerah yang berada di sepanjang Cipali. Upaya tersebut merupakan dukungan untuk mendongkrak sektor pariwisata,” kata dia.

2 dari 2 halaman

Tertib Lalu Lintas

Suyitno mengaku, Festival Cipali merupakan salah satu cara PT LMS menarik pelanggan. Dia juga menjelaskan kegiatan tersebut tidak bisa digelar saat musim arus mudik.

“Kalau sudah musim arus mudik fungsi rest area lebih pada dan penuh kendaraan sehingga tidak efektif,” kata dia.

Selain menggelar pameran UMKM binaan pengelola Tol Cipali, PT LMS juga terus mengkampanyekan keselamatan lalu lintas. Terutama mengimbau agar tertib berkendara.

Pengendara yang melintas dan beristirahat di kawasan Festival Cipali akan mendapat fasilitas pengecekan ban gratis dari petugas. Suyitno mengatakan, salah satu penyebab utama terjadinya kecelakaan di tol adalah pecah ban.

“Selain itu tabrak belakang karena pengendara satu dan lain tidak mempedulikan batas kecepatan,” kata dia.

Saksikan video pilihan berikut ini:

Keindahan dan Misteri Berpadu di Pantai Selatan Jember

Liputan6.com, Jember – Salah satu obyek wisata bahari pantai selatan Kabupaten Jember, Jawa Timur menyuguhkan pemandangan menawan. Bentangan bukit dan pantai bak lukisan alam berjajar sepanjang pantai selatan Jember,  mulai dari Pantai Paseban di Kecamatan Kencong, Pancer Puger, Watu Ulo Kecamatan Ambulu, Pantai Pasir Putih Malikan, Bande Alit Kecamatan Tempurejo, seperti lukisan alam.

Sementara perahu-perahu nelayan berlalu lalang dengan segala aktivitasnya menjadi pemandangan menarik tersendiri. Selain tempat-tempat tersebut menyuguhkan pemandangan indah, juga sebagai urat nadi kehidupan ekonomi masyarakat nelayan sekitar pantai.

Pantai Puger yang terletak kurang lebih 40 kilometer dari Kabupaten Jember juga jadi tujuan orang yang suka memancing. Di pantai ini juga terdapat TPI (Tempat Pelelangan Ikan) yang menjual ikan hasil tangkapan nelayan Puger dan Payangan Desa Sumber Rejo Ambulu. Tidak heran, jika pantai Puger menjadi titik temu antar nelayan.

“Banyak nelayan luar Puger sandar di sini. Seperti nelayan dari Madura, Probolinggo, dan Kalimantan,” ucap Hafid (36) nelayan setempat, Jumat 15 Fberuari 2019.

Daya tarik wisatanya terletak di sekitar Pantai Puger, baik dari Cagar Alam Puger Watangan maupun pesona Sumber Air Kucur di Pantai Kucur. Pantai Puger juga merupakan gerbang keluar menuju Cagar Alam Pulau Nusa Barong.

Aura mistis dirasakan, apalagi saat tradisi larung sesaji yang diadakan setiap tahunnya, tiap bulan Suro. Kedua tempat nelayan dan wisata bahari terpopuler di pantai selatan, nelayan Watu Ulo pantai Payangan Ambulu dan Puger menggelar acara petik laut secara rutin. Selain itu juga menggelar doa bersama sebulan sekali.

“Kami menggelar petik laut dengan melakukan larung sesaji, supaya diberi keberkahan dan keselamatan dan tangkapan ikan yang melimpah, setiap bulan suro,” kata Ketua Forum Nelayan Payangan, Heri Suryata.

2 dari 3 halaman

Tradisi Turun Temurun

Hal ini dilakukan untuk minta perlindungan kepada Allah, supaya dijauhkan dari marabahaya, dan mendapatkan rezeki yang berkah. Tradisi ini sudah menjadi kebiasaan dan turun – temurun, jika tidak dilakukan khawatir terjadi musibah terhadap warga.

Hal senada juga diucapkan Nidom (48) nelayan Puger. Kata Nidom, tradisi dan mitos yang ada di sepanjang Pantai Puger hingga Pantai Kucur memang sudah turun- temurun adanya. Nidom menjelaskan, selain fungsi sesajen seba­gai ucapan syukur kepada Yang Maha. Fungsi sesajen itu sendiri dianggap juga seba­gai penunjuk arah mata angin.

Mereka percaya, arah mata angin merupakan kompas keberuntungan ketika melaut. Jika sesajen terse­but berlabuhnya ke arah utara dan berhenti lama di tengah laut, maka di situlah letak kumpulnya ikan.

Jadi tidak mengherankan jika arah angin, kompas dan perahu merupakan guratan urat nadi kehidupan warga pesisir Pantai Puger yang lekat akan mitologi tersebut. Dan yang terpenting, diberikan rasa keberanian ketika menerjang ganasnya ombak laut Selatan serta diberikan perlindungan dari serangan gaib, baik dari ilmu hitam antar nelayan ataupun kemalangan.

“Makanya den­gan adanya larungan sesaji ini, berharap kedamaian selalu muncul di hari para nelayan. Intinya, jangan sampai terjadi perbuatan celaka gara-gara mencari ikan,” tutur Nidom.

Sementara nelayan lainnya, Muhamad Edy Susanto menyampaikan rasa syukurnya kepada Allah SWT, diberi keselamatan. Sebab, sejak menjadi nelayan Puger, mulai tahun 1975, sudah mengalami 12 kali kecelakaan.

“Alhamdulillah 12 kali kecelakaan, diterjang ombak saat memasuki pintu pelawangan pantai Pancer Puger, masih diberi keselamatan,” tutur pria yang biasa dipanggil Cak Mat ini.

3 dari 3 halaman

Jadi Menantu Nyi Roro Kidul

Cak Mat menjelaskan, pelawangan Puger adalah tempat yang paling berbahaya dan sudah puluhan perahu dan kapal nelayan, karam saat memasuki pintu pelawangan. Bahkan sudah banyak korban yang meninggal dunia dan hilang yang hingga saat ini belum ditemukan.

“Kepercayaan warga setempat, nelayan yang hilang dan belum ditemukan, dipek mantu Nyi Roro Kidul dijadikan menantu Nyi Roro K idul),” tutur Cak Mat.

Hingga saat ini ada satu tempat di sekitar pantai Pancer yang masih misteri yakni Palung Nyonya. Sehingga wisatawan bahkan warga setempat dilarang mandi di tempat tersebut. Sebab, tempat tersebut terkenal angker dan berbahaya. Jika mandi ditempat tersebut, bisa kesedot dan mayatnya akan keluar lagi di sekitar pintu pelawangan Puger.

“Jika terjadi Kecelakaan di pelawangan, korban terseret arus ke arah barat dan masuk Palung Nyonya, maka mayatnya akan keluar di timur lagi (di pintu pelawangan Puger),” katanya.

Mengapa hal itu, bisa terjadi hingga saat ini, tidak ada yang tahu. Meski demikian, nelayan tetap tidak gentar, apalagi takut melaut.

“Setinggi apapun ombaknya, kami akan tetap melaut, selama ada ikannya. Kalau paceklik ikan kami tidak melaut. Tapi bukan karena takut, tapi karena ikan tidak keluar. Kami hanya takut lapar saja,” katanya.

Saksikan video pilihan berikut ini:

Mengenal Warung’e Cak Moel Itali yang Dikunjungi Sandiaga Uno di Bojonegoro

Liputan6.com, Jakarta – Sandiaga Uno terlihat mengunjungi beberapa willayah di Jawa Timur sejak Kamis, 14 Februari 2019. Dalam kunjungannya, lelaki 49 tahun itu sempat bertandang ke salah satu warung makan populer di Bojonegoro.

Lewat unggahan di akun Instagram-nya @sandiuno, baru-baru ini, ia terlihat menyantap sajian Warung’e Cak Moel Itali setelah melaksanakan ibadah salat Jumat. “Saya diajak oleh warga lokal untuk mencoba masakan di Warung’e Cak Moel Itali,” tulis Sandi di keterangan foto.

Ia melanjutkan, tempat ini merupakan salah satu tujuan wisata kuliner yang populer di Bojonegoro. Bertempat di Desa Kabunan Lor Kecamatan Balen, warung makan ini buka Senin-Sabtu dari pukul 08.00 hingga 17.00.

Menu yang disediakan antara lain sop buntut, asem-asem, rawon, kikil, kare ayam, soto ayam, sayur lodeh, dan pecel. Terkesan sederhana memang, namun rasanya disebut sudah membuat tak sedikit pelanggan ketagihan.

Karena terletak di Jl. Raya Bojonegoro, warung yang berdiri sejak Mei 2006 ini kerap dikunjungi wisatawan dari berbagai kota. “Dari Surabaya, Semarang, Solo, bahkan Jakarta juga ada,” ucap Mulyono, pemilik Warung Cak Moel Itali saat dihubungi Liputan6.com melalui pesan singkat, Sabtu (16/2/2019).

“Kalau sudah langganan pasti sering mampir, bahkan dari luar kota pun ada langganan,” sambungnya. Jadi, maukah Anda mampir ke warung makan pilihan Sandiaga Uno ketika berada di Bojonegoro? (Esther Novita Inochi)


Saksikan video pilihan di bawah ini:

Inspirator Pelestarian Lingkungan, Pemkot Bitung Resmikan Monumen Alfred Russel Wallace   

Liputan6.com, Jakarta Pemerintah Kota Bitung beserta segenap elemen masyarakat pencinta lingkungan, menyelenggarakan kegiatan perayaan 100th Natuurmonument Goenoeng Tangkoko Batoeangoes pada tanggal 20 – 21 Februari 2019, bertempat di lapangan Singkanaung – Kampung wisata Batuputih. Kegiatan perayaan dikemas dalam berbagai kegiatan tontonan yang penuh tuntunan yang terdiri dari Workshop masyarakat & Komunitas, Talkshow, Pameran dan Konser Musik Alam.

Kegiatan talkshow akan menampilkan narasumber ahli diantaranya : Harry Hisler – UK; Dou Van Hoang – Vietnam ; Khouni Lomban Rawung dan Rahmi Handayani yang akan mengupas terkait pendekatan kampanye dan pelestarian lingkungan hidup melalui berbagai perspektif yang berbeda.

Kegiatan pameran akan melibatkan 24 komunitas lingkungan dan pariwisata yang bersama sama akan melandasi pengembangan kampung wisata Batuputih sebagai kampung wisata berbasis konservasi. Musisi Nugie dan Tanita bersama The early bird, lamp of bottle, jarank pulang dan 4play akan menyajikan konser alam yang mengajak seluruh pengunjung menghargai dan merawat alam melalui alunan musik.

Sebagai puncak kegiatan, akan diresmikan monumen Alfred Russel Wallace sebagai sosok inspirator dalam gerakan pemuliaan lingkungan bertempat di dalam Taman Wisata Alam Batuputih dan Batuangus. Monumen ini juga sekaligus menjadi simbol keunikan satwa endemik di Sulawesi serta menjadi peringatan bahwa mengkonsumsi satwa liar asli secara berlebihan bisa berujung pada kepunahan. Pada acara ini akan dihadir bapak Paul Smith OBE, Country Director British Councill Indonesia sebagai perwakilan negara sahabat.

Kota Bitung merasa bangga karena sejak kunjungan Wallace hingga hari ini, Batuputih mampu menarik para ilmuwan dan pelajar dari seluruh belahan dunia untukmempelajari keunikan dan kekayaan serta keanekaragaman hayati Sulawesi Utara di Tangkoko. Kehadiran monumen ini diharapkan dapat melindungi dan menghormati warisan alam kita sampai ke generasi yang akan datang.

Walikota Bitung, Max Lomban menyatakan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk melanjutkan keteladanan para pendahulu dalam menjaga dan melestarikan lingkungan, namun juga turut mendorong percepatan pembangunan pariwisata di kawasan Batuputih. Akan turut diluncurkan paket wisata “Jelajah Tangkoko” sebagai paket unggulan bagi para wisatawan untuk dapat menjelajahi keunikan alam dan budaya di kawasan Tangkoko.

Hutan Tangkoko-Batuangus

Hutan Tangkoko-Batuangus, merupakan salah satu hutan konservasi tertua di Indonesia yang ditetapkan melalui surat keputusan Gubernur Jendral Hindia Belanda pada tahun 21 Februari 1919. Pada tanggal 24 Desember 1981, kementrian pertanian Republik Indonesia merubah status Cagar Alam Gunung Tangkoko Batuangus seluas 1.250 Ha menjadi Taman Wisata Alam Batuputih (615 Ha) dan TWA Batuangus (635 Ha).

Sesuai dengan penetapan awalnya, tujuan pengelolaan kawasan ini adalah untuk perlindungan dan pelestarian satwa endemik, dan kegiatan wisata. Dalam perkembangannya, cagar alam Gunung Tangkoko-Batuangus mengalami perubahan berdasarkan SK Mentri Kehutanan RI No SK/1826/Menhut-VIII/KUH/2014 tentang penetapan kawasan hutan pada kelompok hutan Dua saudara seluas 8.5045.07 Ha. Kawasan ini terdiri dari Cagar Alam Dua Saudara (7.247,46 Ha) TWA Batu putih (649 ha), TWA Batuangus ( 648.57 Ha)

Terlepas dari penamaan yang berganti, dunia tetap mengenal kawasan TANGKOKO sebagai salah satu laboratorium hidup dengan tempat keragaman ekologi yang menawan. Adalah Alfred Russel Wallace, seorang naturalis berkebangsaan Inggris yang memulai perjalanan dan pengamatannya dengan meneliti fauna di kepulauan Indonesia bagian timur. Hasil pengamatannya dituliskan dalam sebuah buku bertajuk “THE MALAY ARCHIPILAGO”. Sebuah buku yang menginspirasi jutaan generasi setelahnya tentang kekayaan biogeografi untuk sekelompok pulau yang dipisahkan oleh selat yang dalam yang memisahkan lempeng ASIA dan AUSTRALIA”.

Sepak Terjang Alfred Russel Wallace

Alfred Russel Wallace dikenal sebagai penemu teori evolusi melalui seleksi alam dan membuat tulisan bersama Charles Darwin yang membahas subjek tersebut. Beliau dianggap sebagai “Bapak dari Biogeografi”- sebuah studi mengenai distribusi secara geografi dari flora dan fauna.

Alfred Russel Wallace yang lahir pada 8 Januari 1823 dan meninggal pada 7 November 1913) adalah seorang naturalis, ahli biologi, penjelajah, geografer dan antropolog dari Britania Raya. Ia paling dikenal akan pemahamannya tentang teori evolusi melalui seleksi alam. Tulisannya yang membahas tentang subjek tersebut diterbitkan bersamaan dengan beberapa tulisan Charles Darwin pada tahun 1858. Hal ini mendorong Darwin untuk mempublikasikan gagasannya sendiri dalam bukunya yang berjudul “Origin of Species”(Asal Usul Spesies).

Wallace banyak melakukan penelitian lapangan, pertama-tama di lembah Sungai Amazon dan kemudian di Kepulauan Melayu (Nusantara),termasuk Celebes (Sulawesi). Observasinya yang tajam menyoroti keunikan dari biogeografi Sulawesi.

Di Indonesia, Wallace mengidentifikasi pembagian flora dan fauna yang sekarang dikenal dengan istilah Garis Wallace. Garis tak kasat mata ini melintang melewati di antara Bali dan Lombok ke arah utara di antara Borneo dan Sulawesi. Garis Wallace membagi kepulauan Indonesia menjadi dua bagian flora dan fauna yang berbeda, bagian barat terdiri dari fauna yang berasal dari Asia (primata, macan, harimau, gajah, badak, dsb) dan bagian timur terdiri dari fauna asal Australia (kakaktua, perkici, cendrawasih, marsupial, dsb).

Garis Wallace dan batasan biogeografi antara Papua dan Maluku kini didefinisikan sebagai area ekologis yang dikenal sebagai Wallacea. Wallacea dideskripsikan sebagai zona dengan persilangan flora dan fauna yang unik antara Asia dan Australia. Zona ini terdiri dari Sulawesi dan Kepulauan Maluku bagian utara, dan Kepulauan Nusa Tenggara bagian selatan.

Sekarang ini, zona tersebut dianggap sebagai salah satu dari titik dengan keanekaragaman hayati yang terkaya di dunia, dimana spesies baru yang bahkan belum pernah ditemukan oleh peneliti sebelumnya masih bermunculan sampai hari ini. Dalam sejarah taksonomi, penamaan spesies hewan berdasarkan nama Wallace jumlahnya lebih banyak jika dibandingkan dengan nama-nama yang lain.

Wallace melakukan perjalanan ke wilayah Minahasa dari bulan Juni sampai September 1859. Ia mengunjungi Batu putih selama seminggu pada pertengahan September tahun 1859 untuk mencari spesimen Maleo – burung endemik Sulawesi – sebagai bahan koleksi di museum sejarah alam di Inggris. Populasi Maleo di Batuputih sekarang sudah punah karena telur-telur mereka diambil oleh masyarakat untuk dikonsumsisecara berlebihan. Namun sampai saat ini sebagian masyarakat masih mengingat tempat bersarang Maleo yang terletak di sepanjang garis pantai ini di masa lampau.

Wallace mencatat bahwa masyarakat setempat biasanya berjalan sejauh 50 km untuk mengumpulkan telur Maleo di Batuputih, sebuah desa nelayan yang didirikan oleh warga keturunan Kepulauan Sangihe-Talaud. Burung Maleo, termasuk sarang dan telur mereka, kini sudah dilindungi hukum Republik Indonesia.

35 tahun setelah kunjungan Wallace, seorang Belanda ahli botani Dr. Sijfert Koorders melakukan survei di hutan Minahasa secara ekstensif pada tahun 1894-1895,tetapi ia sendiri tidak sempat mejelajahi Tangoko. Beliau sudah mempelajari publikasi dari Wallace dan mereka berdua surat-menyurat menggenai beberapa hal. Koorders juga sempat memberi nama sekelompok pohon di Sulawesi Wallaceodendron, sebagai tanda untuk menghormati Wallace. Dr. Koorders menjabat sebaga iketua Perkumpulan Perlindungan Alam Hindia Belanda (Nederlandsch-Indische Vereeniging tot Natuurbescherming), yang mengusulkan beberapa kawasan konservasidi Jawa, Sumatera, Sulawesi, Maluku dan Papua. Meskipun Koorders tidak pernah survei hutannya sendiri, “Goenung Tongkoko-Batoeangoes” di resmikan oleh pemerintah Hindia Belanda sebagai cagar alam pada 1919 karena memiliki “nilai ilmiah” berdasarkan flora dan fauna (Anoa, Babirusa dan Maleo).

Wallace sangat terpukau dengan Sulawesi karena keunikan formasi geologinya yang terbagi atas dua kawasan ekologi. Berdasarkan penelitiannya terhadap burung, serangga, mamalia, tumbuhan dan biota lainnya, ia bisa menjelaskan secara detail mengenai apa yang disebutnya sebagai “anomali dan eksentriknya sejarah alam di Sulawesi” Kata beliau, Sulawesi merupakan “..pulau yang kaya akan makhluk yang khas, banyak keistimewaan dan keindahan… sejumlah fauna disini begitu luar biasa dan tidak ada duanya di belahan dunia yang lain”

Sulawesi adalah satu-satunya wilayah di Asia yang mempunyai baik primata (seperti ragam spesies tarsius dan macaca) dan marsupial (seperti ragam spesies kuse kerdil dan kuskus beruang). Kita bisa melihat apa yang menjadi inspirasi di balik konsep biogeografi Wallace dan evolusi dari seleksi alam: “Maka dari itu, Sulawesi menunjukkan kepada kita bukti nyata mengenai pentingnya kita mempelajari distribusi geografis fauna.”


(*)

Elipitua Siregar Siap Tempur di One: Clash of Legends

Liputan6.com, Jakarta – Atlet mixed martial arts (MMA) asal Indonesia, Elipitua Siregar saat ini sedang berada di Bangkok, Thailand, dalam persiapan akhir menuju gelaran ONE: CLASH OF LEGENDS.

Selain Elipitua Siregar, gelaran bersejarah ini akan menjadi saksi perebutan perdana gelar juara ONE Bantamweight Muay Thai World Title antara Nong-O Gaiyanghadao dan Han Zi Hao.

Pertandingan utama ini merupakan bagian dari pertandingan fenomenal antara petarung-petarung kelas dunia di ONE: CLASH OF LEGENDS. Sebagian besar pertandingan yang akan diadakan di Impact Arena menampilkan petarung ONE Super Series terbanyak dalam sejarah ONE Championship.

Sebagai satu-satunya petarung ONE Championship asal tanah air dalam ajang tersebut, Elipitua Siregar akan menghadapi Liu Peng Shuai asal Cina, di dalam pertandingan divisi strawweight.

Pria yang akrab disapa ‘Pitu’ ini tergabung di bawah Bali MMA dan telah mencatatkan tiga rekor kemenangan beruntun sepanjang tahun 2018, yang menjadi motivasi utamanya untuk membela merah putih di negeri Gajah Putih.

Kemenangan pertama langsung diraih Pitu dalam pertandingan debut pada bulan Mei tahun lalu melawan atlet Indonesia, Dodi Mardian, di gelaran ONE: GRIT AND GLORY. Atlet asal Sumatera Utara ini melanjutkan dengan kemenangan atas Phat Soda pada September lalu, dalam ajang ONE: BEYOND THE HORIZON di Shanghai, Cina.

Menutup tahun 2018, ia kembali mencatatkan kemenangan atas Muhammad Imran dalam ONE: WARRIOR’S DREAM pada bulan November di Jakarta.

Sejak berada di Bangkok hari Selasa, Pitu terus melakukan persiapan final demi menyajikan penampilan terbaik dan mempertahankan catatan rekor kemenangan di awal tahun ini. Bersama tim pelatihnya, juara gulat nasional ini juga intens melakukan observasi dan analisis atas calon lawannya, Liu Peng Shuai.

“Lawan saya bagus dalam striking, jadi defense dan blok saya harus rapat dan saya harus menjaga jarak,” ujar Elipitua.

Selain melakukan persiapan final secara teknis, Elipitua pun beradaptasi dengan suasana Thailand dengan mendatangi beberapa lokasi pariwisata, guna relaksasi dan jelang laga. Menurut Pitu,

“Rekreasi itu penting agar kita tidak terbebani oleh pikiran menang dan kalah saja. Perlu ada santainya. Saya ingin merasakan bedanya suasana pantai di Bali dan Thailand”.

Petarung Indonesia ini juga berencana mencicipi wisata kuliner khas Thailand, setelah pertandingan usai. “Kalau sebelum bertanding, makanan bisa mempengaruhi berat badan. Jadi, mungkin nanti setelah hari Sabtu,” pungkasnya.

Pitu menyadari betul bahwa mental yang kuat dan kondisi fisik yang prima akan menjadi modal utama kemenangannya di laga ONE: CLASH OF LEGENDS di Bangkok, yang akan semakin membawanya lebih dekat pada peluang merebut gelar juara divisi strawweight; yang saat ini dipegang petarung asal Jepang, Yosuke Saruta.

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Sejak Pagi Melekat di Museum, Mengenal Seluk-Beluk Cokelat Sejati

Liputan6.com, Yogyakarta – Cokelat nyaris menjadi makanan favorit setiap orang. Rasa manis dan citra cokelat yang identik dengan kebahagiaan, cinta, dan kesenangan juga menjadi daya tarik tersendiri.

Sayangnya, sebagai negara penghasil cokelat terbesar ketiga di dunia, belum banyak orang Indonesia yang memahami seluk beluk cokelat secara detail. Kebanyakan orang hanya suka mengonsumsi cokelat tanpa mengetahui seperti apa cokelat yang sesungguhnya.

“Kebanyakan yang dijual di swalayan atau pasar itu cokelat compound dan itu berbeda dengan cokelat sebenarnya yang berasal dari massa kakao,” ujar Tri Widiantoro, koordinator Museum And Factory Chocolate Monggo Bantul, beberapa waktu lalu.

Museum cokelat yang berdiri sejak Januari 2017 ini memberi edukasi kepada masyarakat mengenai cokelat yang sesungguhnya. Lantas, dari mana cokelat sejati itu muncul?

Museum ini tidak hanya menjelaskan sejarah dan latar belakang cokelat, melainkan juga jenis cokelat dan cara pembuatan serta pengolahan yang tepat.

Cokelat yang paling sehat adalah yang mengandung massa kakao paling tinggi, seperti cokelat hitam. Cokelat susu dan putih memiliki nutrisi lebih rendah, sedangkan cokelat compound sama sekali tidak sehat.

Ia menuturkan sebagian besar orang Indonesia tidak tahu jenis kakao. Persepsi yang salah soal cokelat semakin kuat ketika mereka berpikir cokelat rasanya manis dan cokelat diberi nama cokelat karena warnanya yang coklat.

Menurut Tri, petani kakao di Indonesia memilih untuk mengganti pohon kakao dengan tanaman lain karena sering dianggap tidak menguntungkan. Cokelat yang dihasilkan dari biji kakao kurang berkualitas.

“Padahal itu karena pengolahan biji kakao menjadi cokelat yang tidak tepat,” ucapnya.

2 dari 3 halaman

Salah Persepsi Mengolah Cokelat

Tri bercerita, kebanyakan orang menikmati kakao hanya buahnya saja. Buah dimakan dan bijinya dibuang, padahal biji kakao itulah asal muasal cokelat.

“Kalau pun ada yang mengolah, biasanya hanya dicuci saja bijinya dan berujung pada menghasilkan cokelat berkualitas rendah, karena hanya menjadi bubuk kakao,” tutur Tri.

Ia mengungkapkan, mengolah biji kakao harus melewati proses fermentasi. Caranya, memasukkan biji ke dalam kotak kayu yang bagian pinggirnya berlubang. Setelah itu, biji ditutup dengan daun pisang dan didiamkan selama tujuh hari.

Jika proses fermentasi selesai, maka barulah biji kakao dicuci, dibersihkan dari selaput, dan dikeringkan.

“Fungsi fermentasi, mengurangi rasa pahit, meningkatkan rasa cokelat, dan membersihkan selaput putih di biji kakao,” ucap Tri.

Setelah biji kakao kering, proses selanjutnya adalah roasting. Cangkang biji dipisahkan dan bisa dimanfaatkan untuk pupuk. Isi cangkang disebut nibs yang biasa digunakan untuk cokelat.

Satu biji nibs mengandung 54 persen cocoa butter. Nibs digiling menjadi kakao liquor yang berbentuk cair. Di sinilah letak perbedaan cokelat dengan kopi. Cokelat dapat meleleh karena mengandung minyak (cocoa butter).

Setelah digiling, nibs yang masih cair disimpan di dalam kotak sampai menggumpal dan menjadi kakao massa.

Kakao massa digiling kembali menggunakan stone grinder. Alat dari batu dipilih karena tidak akan mempengaruhi rasa cokelat. Kakao massa yang sudah digiling, dipress kembali menjadi kakao butter.

“Komposisi kakao butter ditambah kakao massa ditambah gula menjadi cokelat yang siap dikonsumsi,” kata Tri.

Ia mengungkapkan cokelat compound bukan cokelat yang sesungguhnya karena menggunakan bahan ampas dari cokelat butter ditambah gula dan minyak kepala sawit. Persentase komposisi tertingginya pun berupa gula.

3 dari 3 halaman

Belajar Mencetak dan Mencicipi Cokelat

Museum And Factory Chocolate Monggo didirikan oleh seorang Belgia bernama Thierry Detournay. Sejak 2005, ia berjualan cokelat yang diberi merek Monggo.

Di atas lahan seluas tiga hektare di Sribitan, Bangunjiwo, Bantul ini museum, pabrik, show room, dan kafe cokelat Monggo berdiri. Untuk mencapai lokasi ini tidak sulit, cukup masuk dari Desa Wisata Kasongan menuju ke barat dan memakan waktu sekitar 10 menit.

Untuk masuk ke museum ini sebenarnya gratis. Pengunjung membayar tiket Rp 10.000 dan mendapatkan voucher belanja di show room dengan nominal yang sama.

Tidak hanya berkunjung ke museum ditemani pemandu, pengunjung juga bisa memilih paket aktivitas. Ada dua paket aktivitas yang ditawarkan, yakni creating experiece dan tasting experience.

Creating experience adalah praktik mencetak cokelat. Paket ini dibanderol harga Rp 200.000 untuk 20 keping cokelat dan maksimal diikuti 10 orang. Apabila lebih dari 10 orang, maka setiap orang dikenakan biaya tambahan Rp 20.000.

Untuk paket tasting experience, per orang harus membayar Rp 50.000. Mereka bisa mencicipi beragam jenis cokelat dari awal sampai proses akhir.

Museum ini buka setiap hari kerja mulai pukul 09.00 sampai 17.00 WIB dan akhir pekan mulai pukul 09.00 sampai 19.00 WIB.

Saksikan video pilihan berikut ini:

Kisah Mistis Penunggu Sendang Beji dan Ikan yang Merenggut Nyawa

Liputan6.com, Ponorogo – Di salah satu sudut Desa Karangpatihan, Kecamatan Balong terdapat sebuah kolam. Oleh masyarakat sekitar biasa disebut dengan Sendang Beji.

Pada tahun 2017 lalu, tim dari Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) dari Trowulan, Mojokerto meneliti kolam yang berukuran 16 x 16 meter persegi itu. Bahkan menurut tim, kolam ini merupakan peninggalan kerajaan Majapahit.

Kolam ini awalnya difungsikan warga sekitar untuk pemandian dan irigasi areal persawahan. Namun sejak tahun 1970-an, warga mulai enggan berada di sekitar kolam. Sebab, ada kejadian warga yang memancing dan makan ikan dari kolam tersebut yang meninggal dunia.

“Apalagi dibumbui cerita mistis disana, kalau ada yang memancing ikan disana terus dimakan orang tersebut bisa mati,” terang Sekretaris Desa Marni Wibowo saat ditemui di kediamannya, Jumat (15/2/2019).

Dari cerita misteri tersebut, warga pun tidak berani mendekati sendang. Alhasil banyak tanaman rambat yang tumbuh disana menambah suasana angker.

“Malah orang dari luar kota banyak yang datang ke sendang untuk bermeditasi, orang dari Kediri, Tulungagung, Malang, Jember dan Banyuwangi,” papar dia.

Marni menambahkan, tim BPCB pun sebelum melakukan penelitian di sekitar kolam juga sempat berdoa. Karena mereka yakin tempat bersejarah biasanya ada penghuninya.

“Disini juga ada pohon asem besar, selain menambah asri tapi juga membuat suasana seram terasa kental,” jelasnya.

Akibat jarang dijamah manusia, tempat ini pun semakin banyak ditumbuhi semak belukar. Bahkan terdapat hewan melata seperti ular yang bebas berkeliaran disekitar kolam.

“Sekarang masyarakat sini jarang kesana karena takut, ada danyang (penunggu),” tukasnya.

Sementara itu, juru kunci sendang beji Sugito menambahkan sekitar tahun 1970-an warga tidak berani beraktifitas di kolam. Padahal tahun sebelumnya, warga seringkali menghabiskan waktu disekitar kolam. Apalagi ada arca di tengah kolam, lewat mulut bisa mengeluarkan air.

“Dibelakang arca ada sumber airnya jadi keluar air dari bagian mulut arca,” imbuh dia.

Menurutnya, sebelumnya ada 9 arca yang berada disekitar kolam. Namun saat ini tinggal 2 arca saja.

“Kami berharap sendang Beji ini bisa segera dipugar dan bisa dinikmati anak cucu sekaligus sebagai sumber destinasi wisata dan cagar budaya,” pungkas dia.

Saksikan video pilihan berikut ini:

Mitos Atau Fakta, Tangkur Buaya Bikin Pria Ganas di Atas Ranjang

Liputan6.com, Purwokerto – Seorang kawan mengarahkan saya untuk membelokkan kendaraan ke sebuah sudut di Kota Purwokerto. Dia bilang, di toko obat tradisional itu, mungkin masih ada tangkur buaya, kelamin buaya jantan yang konon berkhasiat meningkatkan vitalitas pria.

Sedikit malu-malu, kami pun bertanya apakah ada stok tangkur buaya di toko itu. Si pelayan toko, yang kebetulan perempuan, tersenyum. Tapi lantas menggeleng.

“Tidak ada. Kalau dulu ada,” ucap dia.

Pencarian tangkur buaya kemudian berlanjut di internet. Inilah jalan pintas yang kebanyakan digunakan saat dunia nyata buntu. Maka terpampanglah berderet-deret iklan obat kuat lelaki, obat oles untuk kejantanan pria dan lain sebagainya.

Ada satu nomor telepon yang tersanding. Maka, saya pun menghubunginya.

Tetapi, kembali saya dibuat kecewa. Responnya pun berbelit-belit. Di seberang sana, orang yang mengiklankan tangkur buaya dengan harga Rp200 ribu itu mengaku tangkur buaya itu bukan miliknya, melainkan temannya.

Dan si teman, sudah lama tak berhubungan. Kembali buntu.

Saya lantas teringat dengan seorang kawan, pemilik penangkaran buaya berizin satu-satunya di Jawa Tengah dan Yogyakarta. Namanya, Fatah Arif Suyanto. Saya memanggilnya Mas Yanto, terkadang Mas Fatah.

“Saya percaya kalau sebagian besar orang (yang belum pernah mencobanya) rata-rata percaya hal tersebut. Sebab di semua artikel media bacaan hanya ada keterangan membenarkan hak tersebut,” ucap Yanto, saat ditanya apakah ia percaya khasiat tangkur buaya untuk meningkatkan vitalitas pria.

Tetapi, sebagaimana misteriusnya fosil hidup zaman Dinosaurus ini, Yanto pun meyakini ada sisi-sisi tubuh buaya yang bermanfaat bagi manusia. Sebabnya, bangsa buaya mampu bertahan hidup berjuta-juta tahun. Ini tentu berbeda saudara tuanya, spesies lain sezaman yang akhirnya punah.

Saksikan video pilihan berikut ini:

2 dari 3 halaman

Pawang Buaya: Antara Mitos dan Fakta Khasiat Tangkur Buaya

Namun, ia sendiri mengaku belum pernah mencoba. Karenanya, ia tak bisa memastikan apakah tangkur buaya memang benar berkhasiat atau tidak.

Yanto, yang juga pawang buaya berlisensi ini mengakui, di komunitasnya pernah ada perbincangan soal tangkur buaya jantan. Namun, informasinya yang berkhasiat adalah kelamin buaya jantang yang mati karena usia.

Artinya, tangkur buaya yang didapat dari peternakan atau tangkapan alam yang buaya dibunuh, tak berkhasiat apa pun. Hanya saja, secara ilmiah, itu pun tak pernah dibuktikan.

Sedangkan di Indonesia, buaya tua yang mati secara alamiah mesti dilaporkan. Seluruh bagian tubuhnya diperiksa sehingga tak memungkinkan untuk mengambil bagian tubuh yang terkecil sekalipun, apalagi kelaminnya.

“Biasanya ada proses verbal hukum. Tidak ada yang sempat mengambil tangkur, kalaupun diambil mngkin tidakk bisa tahu persis cara pneggunaannya,” kata Yanto lagi.

Ia menganggap fenomena tangkur buaya yang dipercaya meningkatkan vitalitas pria telah bercampur antara fakta dengan mitos. Sebab, rata-rata pembelinya adalah orang yang belum pernah mencoba.

Celakanya, terkadang, ada obat-obatan tradisional atau jamu tertentu yang memasang foto tangkur buaya yang disebut sebagai salah satu bahannya. Padahal, belum tentu juga di dalam obat itu terkandung zat yang berasal dari kelamin buaya jantan.

“Obat-obatan vitalitas biasanya dijual kepada konsumen yang punya khayalan seksual berlebihan. Hanya menguntungkan si penjual,” Yanto menarik kesimpulan.

3 dari 3 halaman

Salah Kaprah Penyebutan Tangkur Buaya Versi Pengobatan Tradisional

Penjelasan lebih gamblang soal tangkur buaya dikemukakan oleh Kepala Laboratorium Biologi Farmasi Universitas Muhammadiyah Purwokerto, Dr Diniatik. Ternyata, ada perbedaan tangkur buaya versi pengobatan tradisional dengan tangkur buaya versi awam.

Dalam versi pengobatan tradisional, tangkur buaya yang dimaksud adalah hewan sejenis ikan laut dari keluarga Syngnathoides ordo Solonichtyes, dengan nama latin Syngnathoides biaculoatus. Sepintas lalu penampakannya mirip dengan kuda laut.

Hewan ini lah yang masuk dalam daftar bahan obat tradisional Tiongkok dan banyak diteliti secara ilmiah. Dari berbagai literatur, tangkur buaya atau Syngnathoides biaculoatus itu mengandung banyak asam amino.

Tentu saja, asam amino bermanfaat untuk kesehatan, Akan tetapi, dalam penelitian-penelitian yang telah dilakukan itu tak ada satu pun yang mengarah secara spesifik ke kemampuan seksual.

“Misalnya steroid, alkaloid atau afrodisiak. Itu belum ada,” ucap Diniatik.

Kandungan hewan laut yang disebut itu hanya bersifat tonikum, atau penambah stamina. Bisa dikonsumsi segar, berbentuk olahan, atau dibuat tablet dan kapsul.

Berbeda dengan tangkur buaya yang hewan laut yang banyak dipublikasikan secara ilmiah, tangkur buaya kelamin buaya jantan sulit ditemukan. Yang ada, adalah publikasi penelitian pengobatan dengan memanfaatkan sampel organ dalam buaya.

“Ini penelitian yang saya dapat tentang aktivitas antiamuba dan antitumor dari lisat organ jantung dan organ kandung empedu dari buaya crocoadylus palustris,” dia menerangkan.

Dan ampel yang diambil pun bukan lah testis buaya, melainkan darah buaya. Dan itu diperkuat banyak artikel penelitian tentang antikanker dari Crocodylus siamensis.

Soal pemanfaatan tangkur buaya sebagai penambah vitalitas, Dini justru memperingatkan kemungkinan munculnya toksin atau racun. Pasalnya, bahan tersebut berasal dari benda hidup yang telah mati.

Kalau pun ada zat yang efektif untuk meningkatkan stamina atau vitalitas, ia tak yakin metode yang digunakan, seperti merendam tangkur buaya dalam air dan minyak, mampu mengikat senyawa yang diperlukan.

“Menurut saya masih perlu penelitian lagi,” dia menambahkan.

Sebelum Wisuda, 5 Kegiatan Ini Dapat Dilakukan Bareng Teman Kuliah

Liputan6.com, Jakarta – Setiap fase dalam kehidupan memiliki cerita masing-masing, tak terkecuali masa kuliah. Meski disibukan dengan segudang tugas, momen kebersamaan bareng teman-teman selalu terasa menyenangkan.

Sebelum wisuda, Anda dan kawan-kawan dapat memaksimalkan waktu untuk kembali mengukir kisah. Banyak hal menarik dan pengalaman unik dapat Anda ukir sebelum memilih jalan hidup masing-masing.

Lantas, apa saja kegiatan seru yang bisa Anda dan teman kuliah lakukan sebelum wisuda? Simak ulasan selengkapnya seperti dirangkum Fimela.com di bawah ini.

1. Foto Grup

Mengabadikan kebersamaan dalam satu0dua potret akan jadi salah satu kenangan paling indah. Luangkan waktu untuk dapat membuat foto grup yang dapat dilakukan di studio atau di ruang kelas.

2. Traveling Bersama

Traveling bersama akan mempererat jalinan pertemanan Anda dan teman-teman, apalagi menjelang wisuda. Destinasi wisata yang bakal didatangi pun dapat dirundingkan bersama untuk menciptakan momen-momen manis.

3. Menonton Film ke Bioskop

Menyaksikan film ke bioskop juga dapat jadi pilihan Anda dan teman-teman kuliah menjelang wisuda. Menonton beramai-ramai tentu akan terasa lebih menyenangkan.

4. Tukar Kado

Kegiatan ini mungkin acap kali dilakukan tak sedikit orang. Tak melihat harga dari hadiah yang diberi, namun hangatnya kebersamaan. Tukar kado dibarengi dengan pesan manis membuat hari-hari Anda dan teman kuliah kian berkesan.

5. Membuat Acara Bersama

Makan bersama di restoran sebagai bentuk rasa syukur juga dapat dilakukan. Rekomendasi lain Anda dan teman kuliah bisa membuat masakan sendiri dan menikmati keseruan dalam proses pembuatan. (Endah Wijayanti/Fimela.com)


Saksikan video pilihan di bawah ini: