Diterpa Krisis, Warga Venezuela Ramai-ramai Rebutan Air di Sungai

Jakarta – Sudah lima hari pemadaman listrik terjadi di Venezuela. Selain gelap gulita, pemadaman ini juga menyebabkan warga kesulitan mendapatkan air bersih untuk kebutuhan sehari hari.

Salah seorang warga Venezuela, Lilibeth Tejedor tak menyangka harus mengambil air dari sungai yang terhubung dengan pembuangan air ibu kota. Wanita berusia 28 tahun ini bersama dengan puluhan warga lain berbondong-bondong ke sungai Guaire sambil menenteng jerigen berkapasitas 15 liter.

Ada aroma tak sedap yang menguar di sekitar sungai tersebut. Namun air yang muncul dari pipa tampak lebih jernih, hal ini karena pemerintah daerah sempat mengucurkan air melalui saluran itu.


Tejedor menyebut, meskipun lebih bersih dibanding air di sungai namun tak bisa digunakan untuk memasak, air ini hanya bisa digunakan untuk menyiram toilet atau menggosok lantai.

“Saya belum pernah mengalami ini sebelumnya. Ini sangat mengerikan, mengerikan sekali,” ujar Tejedor, dikutip dari Reuters, Sabtu (16/3/2019).

Setelah lima hari tanpa listrik, warga Venezuela mengeluhkan semakin jarang mandi, tak mencuci piring hingga kesulitan membersihkan toilet. Memang, Caracas membutuhkan 20.000 liter air per detik untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Akibat sulitnya air ini, banyak warga yang khawatir tentang penyebaran penyakit.

Warga menilai pemerintahan Maduro justru membunuh warga secara pelan-pelan. “Mereka akan membunuh kami dengan cara membiarkan kami kehausan dan kelaparan,” ujar warga bernama Gladyz Martinez.

Di sepanjang aliran sungai, remaja dan anak-anak membantu orang tua mereka untuk mengangkut air.

Air memang menjadi satu masalah krusial yang paling menyiksa warga Venezuela akibat pemadaman listrik yang dilakukan oleh pemerintahan Maduro. Hal ini juga sempat disebut sebagai sabotase karena banyak pengkritik Maduro tak mampu memimpin negara.

Pemadaman listrik juga membuat kondisi negara makin buruk, kenaikan harga bahan pokok menyebabkan hiperinflasi. (kil/ara)

Empat Orang Terbunuh Saat Pemadaman Nasional di Venezuela

Caracas – Sebanyak empat orang terbunuh dan setidaknya 300 ditahan akibat protes soal penjarahan yang terjadi selama pemadaman nasional Venezuela. Hal itu disampaikan oleh kelompok-kelompok hak asasi manusia Kamis (14/3).

Venezuela mengalami pemadaman terburuk dalam sejarah sejak pekan lalu. Pemadaman itu terjadi setelah masalah teknis yang oleh pemerintah Presiden Nicolas Maduro disebut sebagai tindakan sabotase yang didukung AS.

Dilansir dari Reuters, Kamis (14/3/2019), Kelompok-kelompok hak asasi manusia Provea dan Observatorium Sosial Konflik Venezuela melalui Twitter-nya menyebut ada tiga orang tewas di negara bagian tengah Lara dan satu orang tewas di negara bagian barat Zulia. Namun, belum diketahui penyebab kematiannya.

Sedangkan kelompok hak asasi manusia Foro Penal, Alfredo Romero, dalam konferensi pers mengatakan ada 124 orang telah ditahan. Lantaran protes dengan adanya pemadaman sejak 8 Maret 2019 dan 200 lainnya ditangkap karena penjarahan.

Akibat dari pemdaman ini seluruh rumah sakit berjuang menjaga peralatan tetap berjalan. Organisasi nonpemerintah, Dokter untuk Kesehatan mengatakan, 26 orang meninggal di rumah sakit umum selama pemadaman listrik.

Tidak hanya itu, negara bagian barat Zulia juga mengalami penjarahan hebat yang melanda sekitar 350 usaha.
(eva/nvl)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Venezuela Gelap Gulita, China Tawarkan Bantu Pulihkan Listrik

Beijing – Pemerintah China menawarkan untuk membantu Venezuela memulihkan kembali suplai listrik negara itu. Tawaran disampaikan setelah Presiden Nicolas Maduro menuduh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mendalangi ‘sabotase’ siber yang membuat Venezuela gelap gulita selama berhari-hari.

Maduro yang masih menguasai militer dan sejumlah institusi negara di Venezuela juga didukung Rusia dan China, menyalahkan AS atas kekacauan ekonomi yang dialami negaranya. Maduro juga mengecam pemimpin oposisi, Juan Guaido, sebagai ‘boneka AS’.

Seperti dilansir Reuters, Rabu (13/3/2019), pemadaman listrik besar-besaran yang terjadi di Venezuela memasuki hari keenam. Kondisi ini membuat kebanyakan rumah sakit setempat berjuang untuk tetap mengoperasikan peralatan dan perlengkapan mereka.

Tidak hanya itu, persediaan makanan di negara tropis ini juga membusuk dan aktivitas ekspor dari terminal minyak utama Venezuela terhenti.
Dalam konferensi pers di Beijing, juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Lu Kang, menyatakan pemerintah China mengetahui laporan soal padamnya jaringan listrik di Venezuela akibat serangan peretasan.

“China sungguh prihatin soal ini. China berharap pihak Venezuela bisa menemukan penyebab di balik isu ini sesegera mungkin dan memulihkan suplai listrik dan ketertiban sosial seperti semula,” ucap Lu.

“China bersedia untuk memberikan bantuan dan dukungan teknis untuk memulihkan jaringan listrik di Venezuela ,” tegasnya.

Lu tidak menjelaskan lebih detail soal tawaran bantuan itu.

Menurut saksi dan laporan via media sosial, suplai listrik di sebagian besar wilayah Venezuela telah pulih pada Selasa (12/3) waktu setempat. Namun suplai listrik untuk ibu kota Caracas dan wilayah barat negara itu, tepatnya dekat perbatasan Kolombia, masih padam hingga kini.

Menteri Informasi Venezuela, Jorge Rodriguez, menyatakan suplai listrik telah dipulihkan di ‘sebagian besar’ wilayah Venezuela.

Para pengamat menuturkan kepada Reuters bahwa padamnya jaringan listrik di Venezuela kemungkinan besar disebabkan oleh gangguan teknis pada jaringan transmisi yang menghubungkan pembangkit hidroelektrik Guri di Venezuela bagian tenggara dengan jaringan listrik nasional. Maduro menyalahkan AS yang disebutnya mendalangi ‘serangan siber canggih’ terhadap operasional listrik Venezuela.

(nvc/ita)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Pemadaman Listrik di Venezuela Berpotensi Kembali Picu Protes Besar-Besaran

Liputan6.com, Caracas – Pemimpin oposisi Venezuela Juan Guaido kembali menyerukan demonstrasi massa di seluruh negeri pada Selasa 12 Maret, untuk memprotes pemadaman listrik yang telah menyebabkan jutaan orang hidup menderita sejak akhir pekan lalu.

“Besok pukul tiga sore, semua rakyat Venezuela akan berada di jalanan,” kata Presiden sementara Guaido dalam pidatonya di hadapan Majelis Nasional, demikian sebagaimana dikutip dari Al Jazeera pada Rabu (13/3/2019).

Guaido menggambarkan situasi di Venezuela sebagai “malapetaka”, di mana pemadaman listrik yang dimulai Kamis lalu telah “merenggut puluhan nyawa”. Dia menyalahkan hal itu sebagai akibat “korupsi dan ketidakmampuan rezim” Presiden Nicolas Maduro.

Tetapi sebaliknya, Maduro justru menuduh Amerika Serikat (AS) dan oposisi melakukan serangan siber pada sistem kelistrikan di Venezuela.

“Serangan kejam yang dilakukan oleh kekaisaran AS terhadap sistem kelistrikan telah terdeteksi, berkat upaya para ahli dan peretas Venezuela yang mempertahankan kerja keras untuk memulihkan perdamaian bagi rakyat,” tulis Maduro di Twitter.

Tarek William Saab, kepala jaksa penuntut Venezuela, mengatakan dia meluncurkan penyelidikan ke Guaido atas kecurigaan keterlibatannya dalam pemadaman listrik.

Sebagian besar wilayah Venezuela kehilangan pasokan listrik sejak Kamis lalu, membuat warga mengalami kesulitan dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Pemadaman listrik itu juga membuat pemerintah menangguhkan sekolah dan kegiatan bisnis selama dua hari terakhir, karena sumber tenaga yang ada tidak mencukupi kebutuhan darurat, bahkan untuk ibu kota Caracas sekalipun.

Kongres yang dikendalikan oposisi Venezuela menyatakan “keadaan waspada” secara simbolis pada hari Senin, yang dibarengi oleh seruan Guaido tentang “kerja sama internasional” untuk mengatasi krisis pasoka listrik.

Guaido juga memerintahkan 10 perwakilan diplomatik yang telah ia tunjuk di luar negeri untuk mengoordinasikan dukungan itu.

Simak video pilihan berikut: 

Warga Venezuela terpaksa mengambil air dari sebuah sungai yang tercemar dan dari pipa-pipa drainase. Ini berkaitan dengan pemadaman listrik yang tengah terjadi di Venezuela selama berhari-hari.

Uni Eropa Imbau Tak Ada Campur Tangan Militer di Krisis Venezuela

Caracas – Uni Eropa mengatakan aksi militer untuk menyelesaikan krisis di Venezuela tidak bisa diterima. UE juga memperingatkan negara lain sebaiknya tidak ikut campur dalam krisis di Venzuela.

“Kami percaya tanpa campur tangan militer lebih bisa diterima” kata Kepala Kebijakan Luar Negeri UE, Federica Mogherini, saat pertemuan antara UE dengan PBB, seperti dilansir AFP, Rabu (13/3/2019).

Mogherini mengimbau penyelesaian krisis diserahkan pada internal pemerintahan Veneuzuela. Dia mengatakan solusi tidak bisa dipaksakan dari luar pemerintahan Venezuela.

“Solusi (krisis Venezuela) tidak boleh dan tidak bisa dipaksakan dari luar,” jelas Mogherini.

Mogherini mengatakan UE telah membentuk kelompok kontak dengan negara-negara Amerika Latin untuk mendorong proses politik yang akan mengarah pada pemilihan presiden. Dia ingin mengedepankan demokrasi dalam penyelesaian krisis tersebut.

“Krisis yang mempengaruhi negara ini memiliki penyebab politis dan institusional. Ini bukan bencana alam. Solusinya perlu damai, politis dan demokratis,” kata Mogherini.

Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump telah berulang kali mengatakan tidak mengesampingkan intervensi militer AS di Venezuela. Menteri Luar Negeri Mike Pompeo juga sudah menarik semua staf yang tersisa dari kedutaan besarnya di Caracas, Venezuela.

Dua dari lima anggota dewan yang memegang hak veto yaitu Rusia dan Cina mendukung keputusan AS untuk Venezuela. Sedangkan Prancis dan Inggrismengecam sikap AS dan mendukung Presiden Venezuela Nicolas Maduro.

(fdu/gbr)
<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Potret Kacaunya Venezuela: Air Minum dari Selokan Hingga Penjarahan

Selasa 12 Maret 2019, 16:34 WIB

Foto News

Pool – detikNews

Caracas detikNews – Krisis ekonomi di Venezuela semakin mengkhawatirkan. Warga antre mendapatkan air minum yang langka hingga ancaman penjarahan toko.

Seorang pegawai toserba meninjau kerusakan di sebuah toko yang dijarah di Caracas. (Foto: Dok. Reuters)

Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com

Pemimpin Oposisi Serukan Aksi Protes di Seluruh Wilayah Venezuela

Caracas – Pemimpin oposisi Venezuela Juan Guaido akan kembali ke negaranya setelah kunjungan luar negeri sepekan terakhir. Guaido menyerukan rakyat Venezuela melakukan aksi protes terhadap presiden Nicolas Maduro di semua wilayah.

“Saya mengumumkan kepulangan saya ke negara itu. Saya menyerukan rakyat Venezuela untuk memobilisasi seluruh negara besok pukul 11.00 waktu setempat,” kata Guaido di Twitter-nya seperti dilansir AFP, Senin (4/3/2019).

Guaido tidak menyebut waktu dan proses dia kembali ke Venezuela. Namun dia meminta aksi protes besar-besaran itu dilakukan pada Senin (4/3) waktu setempat.

Di tengah larangan perjalanan yang dikeluarkan Nicolas Maduro, Guaido menyelinap melintasi perbatasan ke Kolombia pekan lalu untuk membawa bantuan dan bertemu dengan Wakil Presiden AS Mike Pence. Dari situ dia melanjutkan kujungannya ke Brasil dan bertemu dengan presiden Jair Bolsonaro.

Selanjutnya pada Jumat Guaido melakukan perjalanan ke Paraguay dan Argentina. Dia lalu menghabiskan akhir pekan di Ekuador.

Guaido menyatakan dirinya sebagai penjabat presiden Venezuela pada 23 Januari lalu setelah Majelis Nasional yang dipimpinnya menyatakan Maduro sebagai perampas kekuasaan. Maduro juga dianggap tidak sah terpilih sebagai presiden pada Mei 2018.

Guaido ingin menggulingkan Maduro dan membentuk pemerintahan transisi menjelang pemilihan baru. Dia sudah mendapat dukungan lebih dari 50 negara.

Presiden Maduro pekan lalu memperingatkan Guaido untuk ‘menghormati hukum’ dan harus ‘menghadapi keadilan’ jika dia kembali ke negara itu.
(abw/haf)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Ketegangan Perdagangan AS-China Berlanjut Bawa Harga Minyak Jatuh

Liputan6.com, New York – Harga minyak mentah dunia turun dipicu berlanjutnya ketegangan perdagangan AS-Cina. Hal lainnya, tanda-tanda perlambatan ekonomi China dan India serta berita melonjaknya produksi AS melemahkan batas produksi minyak OPEC.

Melansir laman Reuters, Jumat (1/3/2019), harga minyak patokan global Brent untuk April berakhir turun 36 sen, atau 0,5 persen, menjadi USD 66,03 per barel. Sementara harga minyak Brent kontrak Mei turun 27 sen, atau 0,4 persen, menjadi USD 66,31.

Sementara harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman April naik 28 sen, atau 0,5 persen, menjadi USD 57,22 per barel.

Pada Februari, harga minyak mentah AS naik 6,4 persen dan minyak mentah Brent naik 6,6 persen. Harga telah dinaikkan sejak Januari oleh pemotongan pasokan dari Organisasi Negara Pengekspor Minyak dan sekutunya seperti Rusia – sebuah kelompok yang dikenal sebagai OPEC +.

Aktivitas pabrik di China, importir minyak terbesar di dunia, menyusut untuk bulan ketiga pada Februari karena pesanan ekspor turun pada laju tercepat sejak krisis keuangan satu dekade lalu.

Ekonomi India kehilangan momentum pada kuartal terakhir 2018, mengurangi tingkat pertumbuhan tahunan menjadi 6,6 persen, laju paling lambat dalam lima kuartal dan jauh lebih sedikit dari yang diperkirakan.

“Masalah energi akan membutuhkan bantuan besar dari kenaikan ekuitas dan / atau beberapa pelemahan berkelanjutan dalam Dolar AS jika WTI mampu mengangkat jauh di atas angka USD 58,” ujar Jim Ritterbusch, Presiden Ritterbusch and Associates, dalam catatannya.


Survei Reuters terhadap 36 ekonom dan analis mengindikasikan pesimisme yang tumbuh tentang prospek kenaikan harga yang signifikan tahun ini, memperkirakan Brent akan rata-rata USD 66,44 pada 2019, sedikit lebih rendah dari perkiraan Januari.

“Dalam jangka pendek, pasar minyak akan ditandai dengan ketatnya pasokan di pasar internasional. Namun, selama sisa 2019, kenaikan harga minyak duduk tidak sesuai dengan perlambatan pertumbuhan ekonomi di pasar utama,” ujar Edward Bell dari Emirates NBD. 

Presiden AS Donald Trump pada hari Kamis memperingatkan jika dirinya bisa meninggalkan perjanjian perdagangan dengan China, bahkan ketika penasihat ekonominya memuji kemajuan “fantastis” menuju kesepakatan untuk mengakhiri perselisihan dengan negara Asia tersebut.

Amerika Serikat dan China telah memberlakukan tarif untuk barang-barang satu sama lain senilai ratusan miliar dolar, yang mengguncang pasar keuangan.

Harga minyak mentah juga terseret oleh berita bahwa produksi minyak AS melonjak lebih dari 2 juta barel per hari (bph) dalam satu tahun terakhir menuju rekor 12,1 juta bph pekan lalu.

Sementara impor minyak dari Arab Saudi dan Venezuela ke AS turun tajam, membantu menurunkan cadangan minyak mentah komersial AS sebesar 8,6 juta barel pada minggu lalu.

Persediaan AS Anjlok, Harga Minyak Menguat

Liputan6.com, New York – Harga minyak berjangka menguat dua persen usai persediaan minyak mentah Amerika Serikat (AS) secara tak terduga anjlok.

Selain itu, Arab Saudi menepis komentar dari Presiden AS Donald Trump yang berusaha menjaga harga minyak dari kenaikan.

Persediaan minyak mentah AS turun 8,6 juta barel pada pekan lalu. Hal ini berlawanan dengan harapan kenaikan 2,8 juta barel.

Penarikan yang memecah lima minggu berturut-turut dari persediaan seiring impor minyak mentah melambat ke rekor terendah 2,6 juta barel per hari. Hal ini terjadi usai penurunan produksi OPEC dan sanksi AS terhadap Venezuela.

Minyak mentah berjangka AS berada di posisi USD 56,94 per barel atau naik USD 1,44. Kenaikan ini mencapai 2,6 persen, dan termasuk persentase kenaikan harian terbesar dalam empat minggu. Harga minyak mentah Brent naik USD 1,18 atau 1,8 persen ke posisi USD 66,39 per barel.

“Secara keseluruhan ini adalah laporan yang sangat positif dengan permintaan lebih kuat. Saya pikir Anda sudah melihat dampak dari pemotongan produksi OPEC,” kata Phil Flynn, Analis Price Futures Group, seperti dikutip dari laman Reuters, Kamis (28/2/2019).

2 dari 2 halaman

Selanjutnya

Menteri Energi Arab Saudi, Khalid al-Falih menuturkan, Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan mitranya tidak terlalu menanggapi unggahan status Presiden AS Donald Trump di twitter. Trump menuturkan agar OPEC santai untuk kurangi produksi.

“25 negara mengambil pendekatan yang sangat lambat dan terukur. Seperti paruh kedua tahun lalu membuktikan, kami tertarik pada stabilisas pasar,” ujar Falih.

Adapun harga minyak telah naik lebih dari 20 persen sepanjang 2019 setelah OPEC dan sekutunya sepakat untuk memangkas produksi selama enam bulan mulai Januari.

Langkah ini dilakukan untuk hindari penumpukan surplus global terutama ketika booming produksi minyak mentah AS.

Falih mengatakan, OPEC mungkin perlu memperpanjang perjanjian untuk mengekang produksi hingga akhir 2019. Produksi minyak mentah AS telah mencapai rekor tertinggi selama dua minggu berturut-turut, mencapai 12,1 juta barel per hari pada pekan lalu.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal OPEC Mohammed Barkindo menuturkan, untuk mengelola pasokan dunia adalah sulit ketika dua anggota Iran dan Venezuela mendapat sanksi dari AS.

Menteri Energi Rusia, Alexander Novak juga mengatakan, pasar minyak lebih stabil atau kurang serta volatilitas tidak disukai baik produsen dan konsumen.


Saksikan video pilihan di bawah ini:

Potret Trump Tiba di Vietnam untuk Pertemuan dengan Kim Jong Un

Rabu 27 Februari 2019, 00:29 WIB

Foto News

Dok. Reuters – detikNews

Hanoi detikNews – Presiden AS Donald Trump tiba di Hanoi, Vietnam, untuk pertemuan tingkat tinggi dengan Kim Jong Un. Seperti apa momennya?

Dilansir Reuters, Selasa (26/2/2019), Trump tiba di Hanoi dengan menumpang Air Force One (Foto: Dok. REUTERS/Kham/Pool)

Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com