Masuk Radar MU, Sporting CP Sulit Pertahankan Bruno Fernandes

Liputan6.com, Jakarta Klub Portugal, Sporting CP dibuat kelimpungan pada bursa tranfer musim panas 2019. Itu setelah pemainnya, Bruno Fernandes masuk dalam radar Manchester United (MU). 

Bruno diyakini menjadi properti panas di bursa transfer kali ini. Sang playmaker tampil istimewa bersama Sporting, di mana ia berhasil mengemas total 32 gol dan 18 assist bagi klub Portugal itu di musim panas ini.

Salah satu tim yang diberitakan cukup intens mengejar Bruno Fernandes adalah MU. Tim Inggris itu ingin menjadikannya sebagai motor serangan mereka yang baru musim depan.

MU juga diberitakan tengah intens mendekati Bruno Fernandes. Mereka diyakini sudah menawarkan kontrak yang menarik untuk pemain Timnas Portugal tersebut.

Ketika dikonfirmasi kebenaran kabar itu, pihak Sporting CP enggan memberikan klarifikasi. Namun mereka mengakui bahwa timnya sulit menahan sang pemain di musim panas ini.

“Harus saya akui bahwa akan sangat sulit bagi kami untuk mempertahankan dia [Bruno Fernandes] di musim depan,” ujar Marcel Keizer kepada Record.

“Dia saat ini tengah berlibur. Kita lihat nanti apa yang akan terjadi dengan masa depannya.” tutup pelatih kepala Sporting CP tersebut.

2 dari 2 halaman

Tengah Negosiasi

Menurut sejumlah laporan yang beredar di Inggris, Bruno Fernandes memang membuka peluang untuk bergabung Manchester United musim depan.

Agen sang pemain diberitakan tengah berada di Inggris. Ia tengah berdiskusi dengan perwakilan Manchester United terkait transfer Bruno di musim panas ini.

Menurut laporan yang beredar, pihak Sporting mematok sekitar 60-70 juta Euro untuk mahar transfer sang playmaker di musim panas ini.

Sumber: Bola.net

Saksikan juga video menarik di bawah ini:

Usai Putusan MK, Jimly: Demo di Darat dan Udara Tidak Perlu Lagi

Liputan6.com, Jakarta – Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia Jimly Asshiddiqie meminta para tokoh politik serta pemimpin formal dan informal dengan kesadaran hati mulai mengurangi ujaran kebencian pascaputusan Mahkamah Konstitusi soal sengketa hasil Pilpres 2019.

“Mengurangi ujaran kebencian, mengurangi statemen-statemen yang saling ‘ngenyek’ (mencibir),” kata Jimly seusai acara silaturahim parlemen di Kantor DPD RI di DIY, Yogyakarta, Sabtu (29/6/2019).

Menurut Jimly, para pihak yang sebelumnya berada pada kubu pasangan Prabowo-Sandiaga Uno maupun Jokowi-Ma’ruf Amin sudah harus saling menghargai satu sama lain. Apalagi, baik kubu yang kalah maupun yang menang dari sisi jumlah sama-sama banyaknya.

“Yang satu 78 juta (pendukung), yang satunya 85 juta. 78 juta itu banyak sekali, 78 juta orang ingin ganti presiden itu banyak sekali, kalau 10 persen saja emosional sudah 7 juta. Jadi kita harus menang tanpa ‘ngasorake’ (merendahkan) dan kalah juga jangan mencibir,” kata mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) ini, seperti dikutip dari Antara.

Pascaputusan MK, menurut dia, rekonsiliasi akan secara alamiah terwujud. Meski demikian, komunikasi publik juga harus terus diperbaiki.

“Misalnya, di medsos jangan ada lagi (ujaran kebencian) supaya demo di jalanan juga tidak perlu ada. Jadi demo di darat dan demo di udara tidak diperlukan lagi,” ucap Jimly Asshiddiqie.

2 dari 3 halaman

Jangan Mudah Terpancing

Ia juga berpesan agar seluruh pihak tidak mudah terpancing dan tersinggung perasaan apabila ada statemen di medsos yang tidak tepat.

“Jangan ada yang ‘baper’ bawa perasaan. Kadang ada (komentar) anak muda di twitter, ya tidak usah dibaca, tidak udah ditanggapi,” tegasnya.

3 dari 3 halaman

Saksikan video pilihan berikut ini:

Mahfud Md: Dalam Politik di Indonesia Rekonsiliasi Selalu Terjadi

Sleman – Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud Md menilai kontestasi politik di Indonesia selalu berujung dengan rekonsiliasi. Menurut Mahfud, kondisi tersebut terjadi karena budaya politik di Tanah Air.

“Dalam politik di Indonesia rekonsiliasi selalu terjadi karena tidak bisa menghindar,” kata Mahfud di sela Simposium Nasional Hukum Tata Negara yang digelar oleh Universitas Islam Indonesia (UII) di Sleman, DIY, Sabtu (29/6/2019) seperti dilansir Antara.

Mahfud mengatakan sesuai budaya politik di Indonesia tidak mungkin antarparpol bermusuhan. Karena itu, ia berharap para pendukung di akar rumput tidak terlalu berlebihan membela para calon yang didukung.

“Saya sejak dulu berharap rakyat itu di bawah tidak usah terlalu panas membela salah satunya. Membela ya membela tetapi kalau sampai panas gitu nanti kecewa sendiri karena toh pada akhirnya yang dibela sama saja akan bersatu,” jelasnya.

Mahfud menilai persatuan atau upaya pendekatan antarpartai pascaputusan MK patut disyukuri. Meskipun demikian, dia menilai masih diperlukan pendekatan langsung kepada masyarakat dengan menegaskan bahwa proses pemilu telah usai.

“Sudah selesai tidak ada lagi musuh karena pemilu itu bukan untuk membangun musuh tetapi mencari pemimpin. Dan sesudah pemimpin terpilih, ya diterima bersama,” ujar Mahfud.

Mahfud sendiri menitikberatkan dalam hal pemberantasan korupsi. Dia meminta presiden dan wakil presiden terpilih lebih fokus terhadap aspek tersebut.

“Urusan ribut-ribut politik sudah selesai, tinggal bagaimana agar para pemimpin terpilih di DPR maupun yang di eksekutif memperkuat gerakan pemberantasan korupsi,” terangnya.
(zak/zak)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>