Ujung Gerilya Depati Amir: Menyerah di Depan Pribumi Antek Belanda

Jakarta – Depati Amir sang pahlawan nasional dari Bangka memang berkolaborasi dengan orang Tionghoa untuk melawan penjajah Belanda. Namun justru akhir perjuangan Amir disebabkan oleh pengkhianat dari kaumnya sendiri.

Sebagaimana diberitakan detikcom sebelumnya, adalah para pekerja tambang Tionghoa yang berjuang bersama Depati Amir melawan penjajah. Di Bangka, tambang timah memang mendatangkan banyak pekerja dan modal.

Dikutip detikcom dari buku “Konflik di Kawasan Pertambangan Timah Bangka Belitung: Persoalan dan Alternatif Solusi” terbitan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Depati Amir termasuk golongan elite Bangka. Tak mau wilayahnya terus-menerus dikuasai pihak lain, tentu saja elite seperti Depati Amir memberontak.

Depati Bahrain selaku ayah Depati Amir sudah mengawali pemberontakan. Ada pula pejuang bernama Batin Tikal yang bersama menghantam Belanda.

Pertempuran sudah dimulai pada tahun 1818 di sekitar Bangka Kota dan berakhir dengan perdamaian ada 1829. Batin Tikal meneruskan perjuangan Depati Bahrain, hingga Depati Amir yang melanjutkan perjuangan, melibatkan pula para penambang Cina. Kenapa penambang Cina mau ikut berjuang?

“Para penambang Cina juga merasa dirugikan sebagai akibat korupsi para staf kolonial Belanda dalam pemberian fasilitas makanan dan kebutuhan pokok mereka,” demikian kata tim LIPI dalam buku itu.

Perjuangan menghantam penjajah dilakukan sampai ke aktivitas gerilya. Pasukan tambahan Belanda dari Batavia didatangkan untuk menumpas pemberontakan Depati Amir dkk.

Dijelaskan Dien Madjid dalam “Depati Amir and Chinese People’s Resistance against Dutch Colonialism in Bangka, 1848-1851: An Archival Study”, para gerilyawan pimpinan Depati Amir yang terdiri dari orang Bangka dan orang Tionghoa itu menggunakan senjata yang tak memadai, sementara pasukan Belanda menggunakan senjata yang lebih baik plus strategi yang lebih modern.

Namun Belanda tak cuma memakai alat dan strategi modern. Mereka menggunakan taktik politik pecah-belah. Mereka mempekerjakan pribumi (Dien Madjid menggunakan istilah ‘indigenous‘ dalam tulisan Bahasa Inggrisnya itu) untuk membujuk Depati Amir supaya menyerah.

Pada 17 Januari 1851, lewat sepucuk surat laporan, diketahui kondisi Depati Amir dan rekan-rekannya sudah semakin lemah. Mereka kekurangan makanan di tengah aktivitas gerilya yang keras. Mereka bersembunyi di hutan Mendu Barat.

Belanda menggelar sayembara, siapa yang bisa menyerahkan Depati Amir ke pihak Belanda maka akan diberi hadiah. Empat orang antek Belanda berhasil melakukannya. Depati Amir akhirnya harus mengakhiri gerilyanya dengan tanda menyerahkan keris, cincin emas, dan duit 6 Gulden Spanyol ke empat orang antek Belanda itu. Dengan kata lain, Depati Amir menyerah. Di sekitar Depati Amir juga sudah bersiaga pasukan Belanda.

Depati Amir kemudian diikat dengan tali dan digelandang ke tempat Residen setempat. Dan benar saja, Belanda menepati janjinya yakni memberi hadiah untuk orang yang berhasil menyerahkan Depati Amir. Hadiahnya 1.000 gulden.

Duit 1000 gulden itu dibagi-bagi untuk banyak orang yang punya andil dalam membawa Depati Amir ke pihak Belanda. Angar dan Sawal masing-masing dapat 100 gulden, Haji Mohammad Seman dapat 100 gulden, Batin (penghulu adat) Awal dari Bukit mendapat 100 gulden, Batin dari Mundu Barat dapat 100 gulden, pasukan Mohamad dapat 100 gulden, Batin dari Mundu Timur dapat 25 gulden, dan 36 pasukan dapat 375 gulden.

Depati Amir tak dibunuh Belanda, karena ada kekhawatiran itu bisa memicu kemarahan seluruh orang Bangka. Maka Depati Amir dibuang ke Kupang, Nusa Tenggara Timur.

Depati Amir yang lahir di Pulau Bangka tahun 1805 itu meninggal di Kupang NTT pada 28 September 1869. Dia telah dianugerahi gelar pahlawan oleh Presiden Jokowi pada 8 November kemarin. Ada pertimbangan yang melatarbelakangi pemberian gelar pahlawan nasional untuk Depati Amir.

“Masa perlawanan Depati Amir berlangsung cukup lama yakni 1830-1851, dan berhasil menyertakan gabungan warga lokal dan komunitas ‘asing-pendatang’ (penambang Tionghoa). Walau taktik perang gerilya tidak cukup menimbulkan perlawanan yang masif, menyeluruh, dan berakibat kepada masalah logistik yang melemahkan barisan Depati Amir, tetapi kualitas perlawanan Depati Amir dan efek yang ditimbulkannya menyebabkan konflik internal dalam birokrasi pemerintahan kolonial Hindia-Belanda. Konflik antara pihak militer dan birokrasi sipil juga turut membantu keberlangsungan perlawanan Depati Amir cukup lama, lebih dari 20 tahun,” demikian kata Kementerian Sosial dalam keterangan pers tertulisnya.
(dnu/fjp)

<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *