Guru Pembuat Soal Ujian ‘Bubarkan Banser’ Terancam Dipecat

Garut – Bupati Garut Rudy Gunawan mengaku telah memberikan sanksi terhadap sejumlah pejabat Dinas Pendidikan (Disdik) Garut serta seorang guru pembuat soal USBN SMP yang mencantumkan ‘Bubarkan Banser‘. Rudy menjamin kejadian serupa tak akan terulang di kemudian hari.

“Sudah diberikan sanksi. Sanksi teguran,” ujar Rudy di Pendopo Garut, Jalan Dewi Sartika, Garut, Jawa Barat, Jumat (19/4/2019).

Sanksi teguran itu ditujukan kepada kepala, kabid SMP dan kasi kurikulum Disdik Garut. Seorang guru pembuat naskah soal ‘Bubarkan Banser’ juga sudah ditegur.

Rudy menyayangkan kejadian yang sempat menghebohkan tersebut dapat muncul di soal ujian pelajar SMP. Sebab, naskah soal USBN itu dianggap menyinggung kelompok tertentu. “Saya tak habis pikir. Sangat prihatin. Padahal dia (pembuat soal) itu lulusan S2,” katanya.

Dia menegaskan guru pembuat soal ujian itu dapat dijatuhi hukuman pemberhentian secara tidak hormat atau dipecat. Namun hal tersebut harus melalui proses yang berlaku.
Sebagai kepala pemerintahan di Garut, Rudy mengaku bertanggung jawab atas hal ini. Dia tak ingin terulang.

“Ini yang terakhir, kami akan bertanggung jawab dan menjamin tak akan terulang lagi,” ucap Rudy.
(bbn/bbn)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Soal Ujian Berisi ‘Bubarkan Banser’, GP Ansor: Hantu HTI Masih Gentayangan

Jakarta – Beredar soal Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional (USBN) SMP yang dianggap mendiskreditkan salah satu ormas Islam, Banser NU. GP Ansor menilai hal ini jadi bukti hantu HTI masih bergentayangan.

“Ini menunjukkan bagaimana hantu HTI masih bergentayangan bahkan di lembaga-lembaga pendidikan. Negara dalam hal ini pemerintah harus segera mengambil langkah-langkah strategis untuk mengatasi hal ini.” ujar Ketua Umum GP Ansor Yaqut Cholil Qoumas, saat dihubungi detikcom, Rabu (10/4/2019).

Untuk diketahui, GP Ansor merupakan organisasi induk dari Banser NU.

Yaqut juga mengatakan pihaknya telah melakukan investigasi dan tabayun kepada Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Garut. Berdasarkan hasil tersebut, Yaqut menyebut Kepala Dinas (Kadis) telah menyampaikan permohonan maaf dan mengakui kesalahannya.

“Kami juga sudah lakukan investigasi, kita dapatkan fakta lalu tabayun ke Disdik setempat,” kata Yaqut.

“Kadis menyampaikan permohonan maaf melalui media, Kadis mengakui kesalahan, Kadis mempertegas pernyataan HTI organisasi terlarang dan dibubarkan,” sambungnya.

Soal Ujian Berisi 'Bubarkan Banser', GP Ansor: Hantu HTI Masih GentayanganFoto: Hakim Ghani

Tak hanya itu, Yaqut juga menyebut terdapat sanksi yang akan diterima oleh Kepala Seksi (Kasi) dan Ketua Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) bahasa Indonesia, yaitu berupa pemecatan. Menurut Yaqut, pihaknya juga akan tetap melanjutkan kasus ini dalam proses hukum.

“Sanksi bagi menyatakan lalai baik kepada Kasi Kurikulum maupun kepada tim penyusun soal, Kasi kurikulum dipecat, Ketua MGMP B Indonesia dipecat dan melanjutkan ke proses hukum,” tuturnya.

Diketahui, beredar soal Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional (USBN) SMP di Garut yang dianggap mendiskreditkan Banser NU.

Soal ujian mata pelajaran bahasa Indonesia tersebut memuat persoalan pembakaran bendera bertulis kalimat tauhid yang dilakukan oknum Banser saat Hari Santri Nasional di Garut beberapa waktu lalu.

Soal itu dianggap mendiskreditkan Banser dan Nahdlatul Ulama. Soal USBN kurikulum 2006 itu beredar melalui pesan berantai di aplikasi perpesanan WhatsApp. Dalam soal nomor bahasa Indonesia nomor 9 yang berada di halaman 3 tersebut, membahas persoalan pembakaran bendera yang disebut polisi merupakan bendera Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang dilakukan oknum Banser saat gelaran Hari Santri Nasional (HSN) di Kecamatan Limbangan, 22 Oktober 2018 lalu.

Atas peristiwa ini, Disdik Garut, Totong, dipolisikan Banser. Pelaporan tersebut terkait dugaan pencemaran nama baik Banser oleh Dinas Pendidikan Garut. Soal ujian yang berisi ‘Bubarkan Banser’ itu dinilai mencoreng nama baik organisasi mereka.

Totong sendiri dengan mewakili Dinas Pendidikan Garut telah menyampaikan permintaan maaf. Totong mengungkapkan naskah soal-soal ujian tersebut dibuat oleh Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Garut. Ia juga mengaku telah berulangkali mengingatkan tim pembuat soal, untuk tidak memasukkan soal yang mengandung unsur SARA ataupun soal yang berpotensi menimbulkan polemik.

Disdik Garut kemudian mengambil langkah, dengan menarik soal tersebut dan akan mengulangi ujian dalam waktu dekat. Totong menjelaskan, pihaknya akan menarik soal Bahasa Indonesia yang sudah dipasok ke 134 dari 386 SMP di Garut yang melaksanakan USBN berbasis kertas dan pensil.
(dwia/jbr)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Soal Ujian Cantumkan ‘Bubarkan Banser’, PBNU: Tidak Mendidik

Jakarta – Beredar soal Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional (USBN) SMP yang dianggap mendiskreditkan salah satu ormas Islam, Banser NU. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengatakan soal tersebut seperti dibuat oleh simpatisan.

“Soal itu dibikin agak aneh seperti dibikin oleh simpatisan-simatisan,” ujar Wasekjen PBNU Masduki Baidlowi saat dihubungi detikcom, Kamis (11/4/2019).

Dia mempertanyakan, mengapa dalam soal Bahasa Indonesia tersebut tidak dibuat dengan contoh lain. Masduki menyebut, kasus pembakaran bendera tauhid telah lama dan dinyatakan selesai sehingga menurutnya, hal ini tidak perlu kembali diungkit.

“Itu kan (soal) bahasa Indonesia, kenapa seakan akan tidak ada pertanyaan lain. Di situ dijelaskan membakar bendera tauhid sebenarnya itukan sudah lama, kasusnya sudah selesai kenapa itu diungkit,” ujar Masduki.

Menurut Masduki, soal tersebut tidak dapat digunakan untuk mendidik anak. Dia mengatakan seharusnya, soal dibuat untuk menampilkan kemajemukan dan saling menghormati satu sama lain.

“Secara pendidikan juga tidak mendidik, karena itu menanamkan unsur ketidaksukaan anak didik kepada ormas yang di sini adalah Banser NU. Sehingga mestinya kalau membikin soal untuk anak didik itu, mempunyai nilai-nilai positif, penghargaan,” kata Masduki.

“Bahwa negara ini negara majemuk dengan menghargai antara satu dengan yang lain, kalau itukan (soalnya) menanamkan ketidaksukaan pada Banser,” sambungnya.

Dia menyebut respon NU terkait kasus ini telah sesuai. Sehingga diharapkan hal serupa tidak kembali terjadi di dalam soal ujian.

“Orang-orang NU merasa tersinggung sehingga melakukan tindakan, saya kira itu langkah yang semestinya ditempuh agar tidak terulang seperti itu, Karena banyak kejadian guru-guru yang sengaja membuat soal yang mendiskreditkan NU,”

Dia juga meminta Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) dapat mengontrol anak buahnya di daerah. Serta memberikan aturan atau rambu-rambu terkait batasan dalam membuat soal-soal tersebut.

“Menteri Pendidikan juga diharapkan melakukan kontrol terhadap elemen yang ada di bawahnya dan memberikan arahan atau rambu-rambu lah, jangan ada soal-soal yang menimbulkan permasalahan sesama umat Islam, tetapi bagaimana untuk membangun persaudaraan,” tuturnya.

Diketahui, beredar soal Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional (USBN) SMP yang dianggap mendiskreditkan salah satu ormas Islam, Banser NU.

Soal ujian mata pelajaran Bahasa Indonesia tersebut memuat persoalan pembakaran bendera bertulis kalimat tauhid yang dilakukan oknum Banser saat Hari Santri Nasional di Garut beberapa waktu lalu.

Soal itu dianggap mendiskreditkan Banser dan Nahdlatul Ulama. Soal USBN kurikulum 2006 itu beredar melalui pesan berantai di aplikasi perpesanan WhatsApp. Dalam soal nomor Bahasa Indonesia nomor 9 yang berada di halaman 3 tersebut, membahas persoalan pembakaran bendera yang disebut polisi merupakan bendera Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang dilakukan oknum Banser saat gelaran Hari Santri Nasional (HSN) di Kecamatan Limbangan, 22 Oktober 2018 lalu.
(dwia/jbr)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Soal Ujian ‘Bubarkan Banser’ di Garut Berujung Laporan ke Polisi

Garut – Beredar soal ujian USBN SMP di Garut yang mencantumkan ‘bubarkan banser’. Hal itu pun menjadi kecaman dari sejumlah pihak karena dinilai provokatif.

Soal ujian yang dipersoalkan itu adalah mata pelajaran Bahasa Indonesia. Di kertas ujian soal nomor 9 terdapat pernyataan yang dianggap mendiskreditkan Banser.

Soal tersebut mengangkat persoalan pembakaran bendera HTI yang dilakukan oknum Banser saat gelaran Hari Santri Nasional (HSN) di Kecamatan Limbangan tahun 2018 lalu.

“Tokoh ulama Garut Tatang Mustafa Kamal mengecam aksi pembakaran bendera Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang dilakukan Bantuan Ansor Serbaguna (Banser) Nahdlatul Ulama (NU). Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Huda Melangbong Garut itu mendesak agar anggota Banser NU segera menyampaikan permintaan maaf karena anggotanya telah menghina kalimat tauhid dan umat Islam di seluruh dunia,” begitu pernyataan teks 1 dalam soal itu yang menyadur berita dari CNN Indonesia.

Selanjutnya di teks kedua bertuliskan: “Pasca adanya pembakaran bendera di Garut, Jawa Barat, saat peringatan hari santri oleh tiga anggota Banser, mulai terdengar permintaan agar organisasi yang dipimpin oleh Gus Yaqut itu dibubarkan. Alasannya karena keberadaannya tidak berguna, bahkan cenderung arogan.” Soal ini menyadur berita dari JawaPos.com.

Siswa disuruh menyimpulkan masalah utama dari kedua teks tersebut. Kedua soal tersebut memuat jawaban pilihan ganda A,B,C,D. Salah satu opsi jawaban untuk teks kedua, menyatakan Banser agar dibubarkan.

“Permintaan agar Banser NU dibubarkan karena tidak berguna dan cenderung arogan,” isi jawaban pilihan ganda A, teks 2 soal tersebut.

Banser Lapor Polisi

Berbagai respons muncul menanggapi soal ujian ini. Yudi Nurcahyadi, Kasatkorwil Banser Jabar menganggap soal ujian itu menghina sekaligus mencoreng nama baik Banser sebagai ormas Islam.

“Kami dari jajaran Banser Jawa Barat tetap mengecam keras terhadap tim pembuat soal tersebut, karena itu jelas mendiskreditkan kita,” ujar Yudi saat dihubungi detikcom Rabu (10/4).

Banser mengambil sikap dengan menempuh jalur hukum. Yudi mengatakan pihaknya telah melaporkan Dinas Pendidikan Garut ke Polda Jabar atas tudingan dugaan pencemaran nama baik.

“Kedua, kita tuntut Bupati Garut untuk mencopot Kadisdik Garut dan juga tim pembuat soal untuk dibubarkan agar tidak lagi terjadi masalah-masalah seperti itu,” ungkap Yudi.

Nahdlatul Ulama lewat Pengurus Cabang Garut menyayangkan adanya soal yang dianggap berbau SARA itu. Wakil Sekretaris 1 Bidang Organisasi Hilman Umar Basori mempertanyakan maksud tim pembuat soal yang memasukan permasalahan pembakaran bendera ke dalam soal.

“Saya melihat ada kesalahan fatal yang dilakukan oleh dinas pendidikan. Di mana soal tersebut, ini mengandung sifat-sifat yang provokatif, yang tidak sesuai dengan kaidah-kaidah pendidikan yang seharusnya dilakukan,” ujar Hilman kepada wartawan di kantor LP Ma’arif, Jalan Pembangunan, Tarogong Kidul, Rabu (10/4).

Senada dengan NU, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Garut juga menyayangkan adanya soal kontroversial tersebut. Soal ‘Bubarkan Banser’ dianggap dapat menuai keresahan di masyarakat.

Ketua MUI Garut mengatakan soal itu tidak mendidik dan cenderung provokatif.

“Persoalan pembakaran bendera tersebut sudah selesai dengan ditegaskannya hukum oleh pihak penegak hukum. Tapi, dengan dimunculkannya di soal UN tersebut ini bisa menimbulkan keresahan baru di tengah-tengah masyarakat dan hal tersebut sangat tidak mendidik terhadap anak didik juga ada unsur provokatif,” ujar Munir saat dihubungi wartawan, Rabu (10/4).

Disdik Minta Maaf dan USBN Susulan

Kepala Dinas Pendidikan Garut, Totong, mengakui adanya kesalahan dari pihaknya terkait soal ‘Bubarkan Banser’. Mewakili Disdik, Totong meminta maaf di hadapan puluhan anggota Banser yang pada Rabu sore kemarin mendatangi kantor Disdik.

“Kami secara tulus atas nama keluarga besar Dinas Pendidikan Garut dengan kejadian ini memohon maaf sebesar-besarnya,” kata Totong.

Dinas Pendidikan memutuskan untuk menarik ribuan soal yang telah tersebar dan dikerjakan oleh para pelajar di 134 SMP di Garut yang melaksanakan ujian sekolah berbasis kertas dan pensil. Disdik juga akan mengulangi ujian mata pelajaran Bahasa Indonesia.

“Kami akan menarik kembali seluruh berkas naskah yang sudah dikirim ke sekolah dan kami akan susulan USBN ulang,” ungkap Totong.

(ern/err)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

5 Peserta Ujian Masuk Tentara Guinea Tewas Usai Tes Lari 8 Km

Jakarta – Lima orang pemuda yang mengikuti ujian masuk tentara Guinea tewas usai tes lari 8 km. Mereka tewas di dekat garis finis.

Dilansir dari AFP, Selasa (9/4/2019), kelima orang yang tewas berusia antara 23 hingga 32 tahun. Mereka pingsan saat mendekati garis finis.

Para peserta ujian diharuskan untuk menyelesaikan tes lari dan dilanjutkan dengan press-up, abdominal crunches dan tes pengetahuan. Serangkaian tes itu harus dilewati demi masuk di antara 8.400 kandidat terpilih.

Masih menurut AFP, pengangguran dan kemiskinan di negara Afrika Barat itu kronis. Tes penerimaan angkatan bersenjata, polisi atau bea cukai, bisa 10 kali kelebihan permintaan.

Salah satu kematian terjadi di sebuah kamp militer di timur kota Mandiana, yang kedua di kota selatan N’Zerekore, dan tiga lainnya terjadi di Kankan, juga di bagian timur negara itu.
(haf/haf)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Siswi Ini Ujian Nasional Pakai Kacamata Hitam, Alasannya Bikin Ngakak

Tentu saja tingkah teman satu ruangannya membuat siswa lainnya tidak fokus. Apalagi kacamata hitam yang digunakan memiliki frame cukup besar bak seorang turis. Netizen pun mengomentari tingkah siswa tersebut dengan berbagai guyonan.

Komentar netizen tentang siswa yang UNBK menggunakan kacamata hitam cukup beragam, salah satunya dari akun @yoblue_.

“sekarang ketawa tapi satu tahun kedepan gua bakalan ngelakuin yg sama kayaknya wkwk”

Ada pula yang menanggapi siswa tersebut seperti ingin mengelas, @zulvaryan.

“Mau un kayak mau ngelas”

Bahkan ada yang memberi komentar jika layar komputer untuk UNBK tersebut seperti memakai produk pencerah kulit, seperti yang ditulis oleh @fafafafafayyyy.

“Gw juga dulu gitu kok wkwk pake kacamata item soalnya dapet unit yg layarnya cerah banget kek abis pake fairandlovely :(“

MotoGP Argentina, Ujian Sempurna Dovizioso dan Ducati

JakartaMotoGP Argentina akan digelar akhir pekan ini. Seri kedua di 2019 itu akan menjadi ujian yang sempurna untuk Andrea Dovizioso dan tim Mission Winnow Ducati.

Seri kedua MotoGP 2019 akan digelar di Sirkuit Termas de Rio Hondo, Argentina, Minggu (31/3/2019) waktu setempat. Datang ke Negeri Tango, Ducati dan Dovizioso dibayangi statistik kurang mengesankan.

Sejak Argentina kembali menggelar MotoGP pada 2014, Ducati cukup kesulitan di sana. Hanya sekali pabrikan Italia itu masuk podium, yakni ketika Dovizioso finis kedua pada musim 2015.

Podium itu juga satu-satunya yang didapat Dovizioso di MotoGP Argentina. Selebihnya, runner up MotoGP 2018 itu selalu terlempar di luar lima besar, bahkan sempat gagal finis di 2017.

Ducati dan Dovizioso sendiri baru saja mengawali MotoGP 2019 dengan apik. Di seri pembuka di Qatar, Dovizioso memenangkan balapan, mengalahkan sang juara bertahan dari tim Repsol Honda Marc Marquez.

Tak ayal, di tengah start oke pada MotoGP 2019, seri Argentina bisa menjadi ujian yang bagus untuk Ducati dan Dovizioso. Pebalap Italia itu pun mengatakan tujuannya pada akhir pekan nanti adalah bisa meraih podium.

“Argentina, dan balapannya pada khususnya, akan menjadi ujian yang bagus bagi kami dan memungkinkan kami mencoba menemukan solusi baru,” kata Dovizioso di situs resmi MotoGP.

“Tujuan kami adalah untuk naik podium, terutama di trek yang secara teoritis akan membuat kami menderita, demi memperjuangkan gelar sampai akhir,” tambahnya.

Selain kemenangan di Qatar, motivasi Ducati juga diprediksi membuncah mengingat baru saja memenangkan Pengadilan Banding MotoGP, terkait komponen wingletnya yang dinyatakan sah atau legal.

(yna/raw)

Demi Lulus Ujian Kompetensi Dokter, Wanita Ini Tahan Sakitnya Kontraksi Jelang Melahirkan

Dalam status Facebook yang dibuat pada 18 Maret 2019 lalu, tertulis bahwa putra pertamanya lahir pada 11 Maret 2019. Pada saat itu, sang ibu sedang menjalani Ujian Kompetensi Dokter. Impian sang ibu adalah sebagai seorang dokter berlisensi. Meski tahu dirinya sedang mengandung, namun Eunice bertekad untuk tetap mempertahankan calon buah hati sekaligus gelar dokternya.

Bahkan, Eunice sempat ditawari untuk melakukan aborsi dan beristirahat sementara karena ambisinya menjadi dokter berlisensi. Namun, dirinya menolak dan yakin untuk menjalani ujian tersebut.

Satu minggu sebelum jadwal ujian, Eunice rupanya telah mengalami bukaan 1-2 cm, yang berarti buah hatinya sudah siap menyapa dunia. Eunice mengaku dirinya cukup khawatir apakah dia bisa bertahan hingga 2 minggu ke depan.

Tak disangka, Eunice justru terus mempelajari materi ujiannya meski harus sambil tiduran. Saat hari besar itu tiba, Eunice mengalami kram dan tanda-tanda dirinya akan melahirkan. Bahkan, pada pukul 2 dini hari, air ketubannya pecah.

Eunice tidak memberi tahu suaminya karena takut akan dibawa ke rumah sakit dan tidak bisa melangsungkan ujian. Benar saja, ia tetap menghadiri ujian kompetisi dokternya meski harus menahan sakitnya kontraksi. Beruntung, ujian hanya berlangsung selama 1 jam hingga setelahnya Eunice langsung dibawa ke rumah sakit.

Prediksi Myanmar Vs Timnas Indonesia: Ujian Perdana Simon McMenemy

Jakarta Timnas Indonesia bakal ditantang Myanmar pada partai persahabatan bertajuk FIFA Matchday. Pertandingan uji coba tersebut akan digelar di di Mandalar Tiri Stadium, Mandalay, Senin (25/3/2019).

Laga ini jadi ujian bagi Simon McMenemy sebagai pembesut andal. Menghadapi Myanmar adalah partai prestisius pertama McMenemy bersama Timnas Indonesia sejak ditunjuk menjadi pelatih pada akhir tahun lalu. Arsitek asal Skotlandia itu membawa 22 pemain, termasuk sepuluh pemain jebolan Piala AFF 2018.

“Saya menantikan laga ini. Saya pikir akan menjadi suatu ujian yang bagus untuk kami melihat hasil dari latihan selama ini. Melawan Myanmar menjadi laga pertama bagi saya, maka evaluasi tentang memahami bagaimana para pemain sangat penting,” ujar McMenemy dilansir dari situs PSSI, Minggu (24/3/2019). 

Sebagai persiapan menantang Myanmar, McMenemy menggembleng Evan Dimas Darmono dan kawan-kawan pada pemusatan latihan (training centre) di Australia dan Bali sejak 9-20 Maret 2019. Eks arsitek Bhayangkara FC ini menargetkan Timnas Indonesia meraih kemenangan. Meski, proses selama pemusatan latihan dinilainya lebih penting.

“Hasil laga nanti sangat penting, tetapi lebih penting tentang proses membangun tim saat ini, dan proses menuju kualifikasi Piala Dunia dan Piala Asia pada akhir tahun ini. Lebih baik kami menghadapi laga ini dengan bijak. Yang terpenting adalah bagaimana kami bermain dan apakah kami melakukan hal yang benar untuk kualifikasi akhir tahun ini,” kata McMenemy.

PLN Jaga Pasokan Listrik Handal Dukung Ujian Nasional

Sebelumnya, PT PLN (Persero) berkomitmen memasok listrik untuk empat calon pelanggan tegangan Tinggi di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah. Hal ini untuk mendorong ekonomi Indonesia. 

Hal ini kembali dibuktikan dengan Penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara PLN bersama dengan empat calon pelanggan.

Direktur Bisnis Regional Kalimantan PLN, Machnizon Masri mengatakan,  PLN menyatakan siap memasok listrik dengan daya total sebesar 188 juta volt ampere (VA), yang akan diserap oleh empat Pelanggan Tegangan Tinggi di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah.

Adapun keempat pelanggan tersebut adalah PT Indocement Tunggal Prakarsa (ITP) yang berlokasi di Kotabaru, PT Sebuku Iron Lateric Ores (SILO) yang berlokasi di Pulau Sebuku Kotabaru, PT THU Green Energy (THUGE) yang berlokasi di Buntok dan PT Angkasa Jaya Mulia (AJM) yang berlokasi di Satui, Tanah Bumbu.

“PLN berkomitmen memasok listrik untuk empat pelanggan,” kata Machnizon, di Jakarta, Rabu 13 Maret 2019.

Dia pun mengapresiasi calon pelanggan tegangan tinggi yang telah mempercayakan kebutuhan listrik mereka kepada PLN, mengingat pelanggan tegangan tinggi merupakan suatu hal yang baru di kawasan Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah.

“Beberapa waktu lalu, kita juga telah melakukan MoU bersama PT Indo Tambangraya Megah (ITM), yang merupakan calon pelanggan Tegangan Tinggi pertama kita di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah,” lanjutnya.

Direktur Perencanaan Korporat PLN, Syofvi Felienty Roekman menambahkan, PLN kini memiliki kemampuan membangun jaringan transmisi sepanjang 5.000 kilometer sirkit (KMS) per tahun, dan Gardu Induk (GI) hingga 20 ribu MVA per tahunnya. 

“Itu adalah peningkatan yang luar biasa dibanding tahun-tahun sebelumnya,” ujar dia.

Sementara itu, General Manager Operation PT Indocement Tunggal Prakarsa Site Tanjung Katon Primanto mengungkapkan, selain untuk kelangsungan industri, kerja sama ini dia yakini akan menjadikan perusahaannya jauh lebih kompetitif. 

“Selama ini, jika terjadi black out kita perlu melakukan recovery lebih dari 12 jam. Jelas ke depannya suplai dari PLN akan sangat kita andalkan. Harapannya komunikasi akan terus berlangsung dengan baik,” ujar dia.

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Ini Cara PLN Mendeteksi Pencurian Listrik