Adik Almarhumah Rina yang Wisuda Digantikan Ayah Ditawari Masuk UIN Tanpa Tes

Banda Aceh – Kisah Bukhari (59) mengikuti prosesi wisuda untuk menggantikan almarhunah putrinya Rina Muharrami membuat haru banyak orang. Pihak rektorat UIN Ar-Raniry Banda Aceh kini memberikan undangan masuk UIN tanpa tes untuk adik Rina.

“Kita memberikan panggilan undangan untuk masuk ke UIN kepada adiknya pada saat nya nanti. Masuk melalui jalur undangan tanpa tes. Ini kita melihat ada adiknya yang sedang belajar di pesantren atau setara dengan SMA,” kata Rektor UIN Ar-Raniry, Prof Warul Walidin, kepada wartawan, Jumat (1/3/2019).

Menurut Warul, pemberian undangan itu sebagai bentuk penghargaan kepada orang tua Rina yang telah berjuang menyekolahkan anaknya hingga ke perguruan tinggi. Selain itu, Rina juga meninggal saat tengah menuntut ilmu.

“Dia masih sedang berada di bangku kuliah. Dia meninggal pada 5 Februari lalu karena sakit, sehingga belum sempat merasakan yudisium dan mengikuti proses wisuda seperti teman-temannya yang lain,” jelas Warul.

“Kemudian sang ayah rela mewakili sang ananda untuk mengambil ijazahnya. Ini sebagai pertanda orang tua memberikan atensi dan perhatian yang sangat tinggi terhadap pendidikan anak. Bahkan Rina sudah tiada, tapi berkenan hadir untuk menerima ijazah yang dianugerahkan oleh kampus,” ungkap Warul.

Pihak rektorat juga sudah berkunjung ke rumah duka pada Kamie 28 Februari kemarin. Rektor menyerahkan baju toga kepada keluarga almarhumah Rina.

“Kami memberikan baju toga adalah sebagai wujud dari kecintaan semua komunitas kampus,” kata Warul.

Seperti diketahui, cerita tentang sosok almarhumah Rina dan kedatangan sang ayah untuk mewakili di acara wisuda diceritakan di situs UIN Ar-Raniry, Kamis (28/2/2019). Rina adalah mahasiswa Program Studi Kimia Fakultas Tarbiyah.

Rina menjalani sidang skripsi pada 24 Januari 2019 pukul 12.00 WIB. Tetapi, 13 hari setelahnya yaitu pada 5 Februari 2019 sebelum Subuh, perempuan kelahiran 16 Mei 1996 itu meninggal pada usia 22 tahun. Rina meninggal dunia setelah menderita penyakit tifus stadium akhir hingga berujung pada saraf.
(agse/rvk)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Top 3 Berita Hari Ini: Siswi SMP Jember Hilang Keperawanan Akibat Rayuan Miras

Liputan6.com, Jember – Top 3 berita hari ini mengungkap aksi pencabulan yang dilakukan seorang remaja putus sekolah (18) terhadap siswi SMP di Jember. Aksi bejat pelaku terungkap setelah korban mengaku telah ditiduri pria yang baru dikenalnya.

Oleh polisi, GN berhasil diciduk di rumahnya. Dari pengakuan pelaku, korban terlebih dulu diberi minuman keras agar mudah diajak untuk berhubungan badan. Perbuatan tersebut telah dilakukan GN sebanyak dua kali terhadap korban.

Sementara itu, kisah haru datang dari Provinsi Aceh. Seorang bapak menggantikan posisi anaknya di acara wisuda karena sang putri meninggal dunia akibat penyakit asam lambung.

Seperti teman-temanya di Prodi Kimia, Fakultas Tarbiyah, sejatinya saat itu Rina Muharami akan mengenakan atribut wisuda. Namun, Tuhan berkehendak lain. 

Bukhari tidak dapat menyembunyikan kesedihan dari raut mukanya, terlebih saat Rektor UIN Ar-Raniry, Prof Warul Walidin memeluk pria yang kesehariannya bekerja sebagai petani.

“Itu (SKL, red) nanti kita simpan sebagai kenang-kenangan karena dari awal saya sudah menguliahkan almarhum. Seharusnya, dia yang pertama mendapat gelar sarjana di keluarga,” ujar Bukhari, kepada Liputan6.com.

Berikut berita terpopuler dalam Top 3 Berita Hari Ini:

1. Rayuan Miras dan Hilangnya Keperawanan Gadis SMP di Jember

Foto: Dian Kurniawan/ Liputan6.com.

Siswa putus sekolah berinisial GN (18), warga Dusun Besuki Desa Sidomekar Kecamatan Semboro Kabupaten Jember, Jawa Timur, ditangkap polisi lantaran merayu siswi SMP minum minuman keras lalu mencabulinya.

Menurut Fathur, saat diinterogasi di Mapolsek Semboro, GN mengaku lebih dari sekali meniduri korban yang berasal dari kecamatan lain, yakni Kecamatan Gumukmas, Kabupaten Jember. Pertama kali korban dipaksa menyerahkan kegadisannya, Jumat, 1 Februari 2019.

Modusnya, tersangka GN menghubungi korban melalui WA, mengundang untuk datang ke rumahnya.

Selengkapnya…

2. Bikin Haru, Bapak di Aceh Diwisuda Gantikan Anaknya yang Meninggal Usai Skripsi

Bukhari lengkap dengan toga naik ke podium wisuda yang digelar Universitas Islam Negeri (UIN) Arraniry Banda Aceh, Kamis (27/2/2019). (Liputan6.com/ Rino Abonita)

Di rumah Bukhari (57) tentu saja tidak terpajang foto Rina Muharami sedang mengenakan topi wisuda dan baju toga. Putrinya itu berpulang sebelum sempat mengenakan atribut wisuda.

Rina sejatinya ikut dalam barisan wisudawan dan wisudawati saat acara wisuda yang digelar Universitas Islam Negeri (UIN) Arraniry Banda Aceh, Rabu, 27 Februari 2019. Namun, Rina meninggal dunia tepat sehari setelah ia menyelesaikan sidang skripsi pada 24 Januari 2019 lalu.

Anak pertama pasangan Bukhari-Nur Bayani itu meninggal karena penyakit asam lambung yang dideritanya.

Bukhari tidak pernah menyangka, kiranya dia yang akan mewakili putrinya menjadi sarjana.

Selengkapnya…

 3. Kronologi Dugaan Penganiayaan oleh Bahar bin Smith Versi Dakwaan JPU

Terdakwa kasus penganiayaan remaja, HB Assayid Bahar bin Smith menjalani sidang dakwaan di Pengadilan Negeri Klas IA Bandung, Kamis (28/2/2019). (Huyogo Simbolon)

Terdakwa kasus penganiayaan remaja, HB Assayid Bahar bin Smith menjalani sidang dakwaan di Pengadilan Negeri Klas IA Bandung, Kamis (28/2/2019). Selain Bahar, dua rekannya yakni Agil Yahya dan Basit Iskandar yang berstatus terdakwa juga turut disidang.

Jaksa mengatakan, pada Senin, 26 Nopember 2018 saksi korban CAJ (18) diajak oleh rekannya MKU (17) untuk menemani mengisi acara di Seminyak, Bali. CAJ yang disuruh MHU mengaku sebagai Habib Bahar bin Smith dalam acara tersebut.

Kemudian pada 1 Desember 2018 sekitar pukul 09.00 WIB, Bahar memerintahkan saksi Agil Yahya, untuk menemui Basid dan mengajak Habib Husein, Wiro, Keling (tersangka belum tertangkap) untuk membawa CAJ ke Pondok Pesantren Tajul Al Awiyin.

Selengkapnya…

2 dari 2 halaman

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Cerita Pilu Ayahanda Gantikan Wisuda Mendiang Putrinya

Jakarta – Cerita pilu seorang ayah yang menggantikan mendiang putrinya untuk menghadiri wisuda jadi viral dan membuat banyak orang terharu. Begini cerita lengkapnya.

Ayah itu bernama Bukhari (59). Pada 5 Februari 2019 lalu, Bukhari kehilangan putri sulungnya, Rina Muharrammi yang meninggal karena sakit tifus stadium akhir hingga berujung pada saraf. Sebelumnya, Rina sakit beberapa hari menjelang sidang. Sempat dibawa ke RS, mahasiswa Program Studi Kimia Fakultas Tarbiyah UIN Ar-Raniry 3 kali gagal sidang karena sakit.

Hingga akhirnya, Rina sidang skripsi pada 24 Januari 2019. Dua hari setelahnya, Rina kembali sakit hingga akhirnya dirawat di Rumah Sakit Meuraxa, Banda Aceh. Rina koma selama tiga hari sampai akhirnya menghembuskan nafas terakhir 13 hari setelah menjalani sidang.

Cerita Pilu Ayahanda Gantikan Wisuda Mendiang PutrinyaFoto: Almarhumah Rina yang digantikan ayah saat wisuda (Dok. Keluarga)

Pada Rabu (27/2) pagi-pagi, Bukhari menerima telepon dari salah satu dosen UIN Ar-Raniry. Dia diminta datang ke kampus lebih cepat karena tidak ada undangan layaknya orang tua lain. Bukhari diminta untuk ikut mengambil ijazah mendiang Rina.

Saat mahasiswa Program Studi Kimia Fakultas Tarbiyah dipanggil, Bukhari ikut maju. Pria berusia 59 tahun itu ikut berbaris bersama wisudawan lainnya untuk naik ke panggung. Saat wisudawan lainnya bertoga, Bukhari memakai kemeja lengan panjang dan peci. Dia lalu menerima ijazah Rina lalu bersalaman dengan rektor dan dekan di atas panggung.

Cerita Pilu Ayahanda Gantikan Wisuda Mendiang PutrinyaFoto: Ayah gantikan almarhumah anak saat wisuda (Dok. UIN Ar-Raniry)

Air mata Bukhari menetes saat dipeluk oleh rektor dan diminta untuk sabar. Usai menerima ijazah, Bukhari makin tak bisa membendung tangisnya terlebih kala melihat semua orang menangis.

Ketika wisuda selesai, suasana haru kembali terjadi. Bukhari yang datang ke UIN bersama adik Rina ingin mengabadikan momen wisuda dengan kamera. Biasanya orang tua berfoto dengan anak-anaknya. Pada akhirnya, Bukhari mengajak wisudawan lain yang merupakan teman Rina untuk berfoto sambil membawa ijazah mendiang anaknya.

Seketika, sang juru foto mengabadikan momen. Setelah itu, Bukhari pulang ke rumah dengan mata sembab.

Di mata Bukhary, Rina adalah sosok yang tidak pernah membebani orang tua. Bahkan, dia menerima berapa saja uang jajan yang diberikan. Semasa hidupnya, Rina adalah anak yang cerdas dan selalu juara kelas.

Cerita Pilu Ayahanda Gantikan Wisuda Mendiang PutrinyaFoto: Ayah yang gantikan almarhumah putrinya saat wisuda (Agus Setyadi/detikcom)

Kisah Bukhari dan almarhumah Rina jadi viral setelah videonya diunggah oleh akun media sosial UIN Ar-Raniry. Netizen terharu lalu memberi pujian serta mendoakan almarhumah Rina.

Alfatihah untuk Rina….
(imk/gbr)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Potret Ketegaran Sang Ayah Saat Gantikan Almarhumah Anaknya Wisuda

Kamis 28 Februari 2019, 18:36 WIB

Foto News

Pool – detikNews

Banda Aceh detikNews – Dengan tegar, Bukhari mengikuti wisuda di UIN Ar-Raniry untuk menggantikan putrinya yang sudah meninggal dunia. Ini potret ketegaran pria Aceh itu

Foto: Youtube UIN Ar-Raniry

Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com

Kisah Pilu Ayah Gantikan Wisuda Almarhumah Anak: Dia 3 Kali Gagal Sidang

Jakarta – Kisah seorang ayah menggantikan almarhumah putrinya yang wisuda di UIN Ar-Raniry, Aceh viral dan membuat haru. Sang ayah, Bukhari, dengan tegar mengambil ijazah Rina Muharrami. Bukhari menuturkan momen itu.

Bukhari berkisah, pada saat wisuda digelar pada Rabu (27/2/2019) kemarin, dirinya pagi-pagi dihubungi seorang dosen. Dia diminta datang ke kampus lebih cepat karena tidak ada undangan layaknya orang tua lain.

Tiba di UIN Ar-Raniry, Bukhari bertemu sang dosen. Dia ditemani masuk ke tempat wisuda dan bergabung bersama tamu undangan lain.

“Waktu itu bapak dosen itu sudah bilang agar saya mengambil ijazah Rina. Menurut beliau sayang kan ijazah tidak diambil,” kata Bukhari dengan mata berkaca-kaca saat ditemui rumah duka di Desa Cut Rumpun, Kecamatan Blang Bintang, Aceh Besar, Aceh, Kamis (28/2).

Jelang prosesi wisuda digelar, Bukhari kembali diberi tahu tata caranya. Saat mahasiswa Program Studi Kimia Fakultas Tarbiyah dipanggil, Bukhari ikut maju.

Pria berusia 59 tahun itu ikut berbaris bersama wisudawan lainnya untuk naik ke panggung. Saat wisudawan lainnya bertoga, Bukhari memakai kemeja lengan panjang dan peci. Dia lalu menerima ijazah Rina lalu bersalaman dengan rektor dan dekan di atas panggung. Bukhari juga dipeluk lalu mendekap erat ijazah putrinya itu dan turun dari panggung.

“Saat bersalaman itu, pak Rektor bilang ‘sabar pak, sabar’. Itu yang membuat saya haru sampai keluar air mata,” jelas pria yang sehari-hari bekerja sebagai tukang bangunan tersebut.

Usai menerima ijazah, air mata Bukhari tak terbendung terlebih kala melihat semua orang menangis. Bukhari sempat minta langsung pulang, tapi dicegah.

Kisah Pilu Ayah Gantikan Wisuda Almarhumah Anak: Dia 3 Kali Gagal SidangFoto: Ayah gantikan almarhumah anak saat wisuda (Dok. UIN Ar-Raniry)

Menurut Bukhari, putrinya Rina mulai mengalami sakit beberapa hari menjelang sidang. Putri sulungnya dibawa ke rumah sakit oleh teman-teman kampusnya karena tiba-tiba demam.

Beberapa jam di rumah sakit Zainal Abidin Banda Aceh, dia dibolehkan pulang. Esok harinya, Rina kembali kuliah seperti biasa.

“Rina tiga kali gagal sidang karena sakit dan akhirnya dia sidang pada tanggal 24 Januari. Dua hari usai sidang, dia kembali sakit dirawat di Puskesmas Blang Bintang karena kembali demam,” ungkap Bukhari.

Empat malam dirawat di rumah Puskesmas, dokter membolehkannya pulang. Namun tiba di rumah, kondisi Rina agak berlainan. Malam itu, dia sudah tidak tidur.

Pihak keluarga membawa Rina ke Rumah Sakit Meuraxa, Banda Aceh. Usai diinfus, Rina koma selama tiga hari sampai akhirnya menghembuskan nafas terakhir pada Selasa 5 Februari pagi.

“Hasil diagnosa dokter dia menderita tipes. Tapi menurut dokter penyakitnya diperparah karena Rina beban sehingga menyerang otaknya,” beber Bukhari.

“Selama hidup, dia anak cerdas dan tidak pernah membebankan orang tua. Dia gak pernah mengeluh,” ungkap Bukhari didampingi istrinya Nur Bayani (48).
(agse/imk)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Momen Haru Ayah Gantikan Wisuda Putrinya yang Meninggal

Liputan6.com, Jakarta – Wisuda menjadi salah satu momen yang tentunya sangat ditunggu-tunggu semua mahasiswa. Tak hanya diri sendiri, berhasil melewati masa kuliah dan menyandang gelar sarjana tentu membuat orangtua turut bangga. Segala pengorbanan orangtua tentunya akan terbayar lunas dengan kelulusan anak mereka.

Ketika wisuda biasanya keluarga, khususnya orangtua akan turut hadir menyaksikan momen membanggakan tersebut. Namun berbeda dengan seorang ayah di Aceh ini. Alih-alih menyaksikan momen penyematan gelar sarjana anaknya, dia justru menggantikan sang anak yang telah meninggal untuk menerima gelar tersebut.

Dia adalah Rina Muharrami, mahasiswi Fakultas Tarbiyah UIN Ar-Raniry yang meninggal dunia beberapa minggu sebelum momen wisudanya. Rina menyelesaikan sidang skripsinya pada tanggal 24 Januari lalu.

Beberapa hari kemudian Rina jatuh sakit dan pada 5 Februari 2019, Rina menghembuskan napas terakhirnya. Sang ayah lantas menggantikan Rina untuk menghadiri wisuda yang digelar di Auditorium Prof Ali Hasjmy pada Rabu (27/2/2019).




Lihat postingan ini di Instagram

Ayah, anakmu wisuda.. • Momen paling mengharukan di acara wisuda hari kedua. Rina muharrami, mahasiswi Fakultas Tarbiyah UIN Ar-Raniry yang memyelesaikan sidang skripsi tanggal 24 januari 2019, beberap hari kemudian tanggal 5 februari rina sang sarjana muda berpulang kerahmatullah karena sakit. Wisuda adalah prosesi penyematan gelar sarjana, puncak pencapaian seseorang dalam menempuh pendidikan tinggi. Wisuda dan sarjana adalah anugerah kebanggaan bagi orang tua dari anak mereka. Orang tua berjuang dan berkorban demi kelanjutan pendidikan anaknya, sementara sang anak berjuang sepenuh hati segenap tenaga merengkuh cita-cita sarjana selayaknya harapan orang tua. Dan wisuda, sekali lagi adalah puncak pencapaiannya. Dimana anak dengan bangga mempersembahkan kesuksesan untuk orang tuanya, bersama menikmati kebahagiaan. Tapi tidak bagi ayah rina, beliau datang mewakili anaknya menjadi sarjana. • ————– • Anakku, hari ini Ayah datang ke acara wisudamu bersama ayah-ayah temanmu yang lain. ayah yang lain datang untuk melihat anaknya jadi sarjana, sementara ayah datang untuk menggantikanmu mengambil tanda sarjana dari kampusmu, nak. Sebenarnya Kaki ayah tak lagi kuat, tapi ayah tegapkan langkah menaiki anak tangga untuk maju mengambil ijazahmu. Hari ini ayah berdiri di depan teman-temanmu. Ayah sedih nak, karena seharusnya kita ada disini bersama. Tetapi Ayah bangga padamu, kamu itu hebat dan mampu meraih impian yang besar. Dan kelak ayah akan menceritakan kepada warga di desa kita bahwa anak ayah seorang sarjana. Seketika terbayang di pelupuk mata engkau datang tersenyum sangat manis dengan baju wisuda yang sangat kau idam-idamkan itu. Kamu seakan membisikkan ditelinga ayah: Ayah, anakmu wisuda… • ——— • Alfatihah untuk rina #uin #wisuda #sarjanamuda #uinar #uinarraniry @kabaraceh @acehinfo @infobandaaceh @kampusuinid

Sebuah kiriman dibagikan oleh UIN AR-RANIRY BANDA ACEH (@uin_arraniry_official) pada 27 Peb 2019 jam 4:59 PST

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

2 dari 2 halaman

Bikin Haru Warganet

Akun Instagram resmi universitas tersebut lantas mengunggah momen mengharukan ini. Ayah Rani terlihat turut berbaris di panggung bersama dengan mahasiswa lainnya yang hendak menerima gelar sarjana pada momen wisuda tersebut. Ayah Rani lantas menerima ijazah sang anak yang diserahkan langsung oleh rektor Uin Ar-Raniry Banda Aceh.

Sejak diunggah, video tersebut menjadi perhatian publik khususnya warganet. Tak sedikit pula yang memberikan komentar dan mengaku turut sedih melihat momen haru ini.

“Ya allah sang bapak sangat tegar, smoga amal ibada almarhum di trima di sisi allah Amiin,” komentar akun @bilqisazra.

“Sedih,” kata @yandi_diki07.

“Merinding + ikut sedih,” ujar @dodhyazhar_.

Kejutan Mengharukan untuk Polisi yang Rajin Bersedekah

Liputan6.com, Kebumen – Barangkali, Parsono adalah nama polisi yang paling dikenal di Kecamatan Pejagoan, Kebumen, Jawa Tengah. Polisi baik hati ini dikenal dengan kedermawanan dan keramahannya kepada semua orang.

Belakangan, nama polisi berpangkat Aiptu ini semakin terkenal. Rupanya, ada warganet Kebumen yang mengunggah kedermawanan Aiptu Parsono ke dunia maya.

Mendadak namanya melambung. Banyak warganet yang salut dengan kedermawanan Parsono.

Rambutnya mulai memutih. Namun, sejak memulai karir di Polri pada tahun 1989, Parsono tak pernah melupakan pesan orangtuanya untuk berbagi rezeki kepada yang membutuhkan.

Setiap hari, terutama pagi hari, polisi baik hati ini selalu meluangkan waktu bersedekah untuk orang yang membutuhkan. Tugasnya sebagai Kanit Binmas Polsek Pejagoan membuatnya paham, lokasi-lokasi para duafa yang membutuhkan uluran tangan.

Pagi itu, seperti biasanya, setelah pengaturan lalu lintas pagi, ia bergegas ke salah satu rumah penduduk miskin. Kali ini, ia singgah ke rumah, atau lebih tepat, gubuk milik Bera (60) warga Desa Kedawung, Kecamatan Pejagoan, Kebumen.

Parsono datang ke gubuk itu untuk mengetahui kondisi Bera sekaligus membagikan sembako dan sedikit uang untuk membantu meringankan kebutuhannya sehari-hari. Bera adalah warga penyandang tunanetra dan hidup sebatang kara di sebuah gubuk reyot.

Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari, ia mengandalkan bantuan dari warga karena keterbatasannya. Kondisi Bera tak luput dari pantauan Parsono.

“Enggak seberapa sih. Namun, kebiasaan ini sudah saya lakukan bertahun-tahun kepada orang yang membutuhkan. Bantuan ini murni dari penghasilan saya. Karena saya ingin berbagi,” ucap polisi baik hati ini, dikutip dari keterangan tertulis yang diterima Liputan6.com, Rabu, 20 Februari 2019.

Saksikan video pilihan berikut ini:

2 dari 2 halaman

Penghargaan dari Kapolres Kebumen

Dia pun yakin, berbagi atau bersedekah tak bakal membuat seseorang menjadi susah. Keyakinan itu telah tertanam jauh hari, sejak masa muda.

Terbukti, meski hanya berpangkat Aiptu, ia mampu mengnyekolahkan anaknya hingga jenjang S2 dan kini menjadi Dosen di UIN Walisongo Semarang. Anak kedua, masih kuliah di UGM Yogyakarta dan yang terakhir anak perempuannya masih kelas 5 SD.

“Kami yakin, pendapatan kita berdua (istri) bisa untuk menyekolahkan anak dan berbagi. Istri saya bekerja sebagai Guru SD,” dia mengungkapkan.

Di mata rekan kerjanya, Aiptu Parsono merupakan pribadi yang disiplin dan agamis. Bahkan, di tengah kesibukkannya menjadi anggota Polri, ia menyempatkan waktunya menjadi Takmir Masjid di Desa Tanggerang, Kecamatan Sruweng, tempat tinggalnya.

“Jadi muazin juga,” kata polisi yang tiga tahun lagi bakal memasuki masa pensiun ini.

Aksi bersedekah tanpa pamrih Parsono ini rupanya menjadi perhatian pimpinan Polres Kebumen. Selasa, 19 Februari 2019, Parsono memperoleh penghargaan dari Kapolres Kebumen, AKBP Robert Pardede dalam sebuah upacara penyerahan penghargaan.

Wakil Kepala Polres Kebumen Kompol Prayudha Widiatmoko yang menjadi inspektur upacara dan menyerahkan piagam penghargaan dari Kapolres Kebumen kepada Aiptu Parsono. Suasana begitu khidmat ketika Aiptu menerima penghargaan ini.

Parsono tak bisa menyembunyikan betapa hatinya haru. Tentu, polisi baik hati ini tak pernah mengira sedekahnya yang tanpa pamrih diperhatikan oleh pimpinan.

“Kami sangat berterima kasih sekali kepada Bapak Kapolres serta institusi, karena apa yang saya lakukan ini mendapat apresiasi. Karena, bagi saya bersedekah itu hal biasa. Dan merupakan anjuran agama untuk menyisihkan penghasilan kita untuk orang yang kurang mampu,” Parsono menuturkan.

Aiptu Parasono mungkin salah satu contoh sisi lain anggota Polri yang belum diketahui banyak orang. Di balik sosok disiplin anggota Bhayangkara, tersimpan jiwa-jiwa lembut kemanusiaan.

Sahabat: Ahok Nggak akan Balas Dendam ke PA 212 Lewat PDIP

Jakarta – Dosen UIN Adi Prayitno mengungkap PA 212 curiga Basuki Tjahaja Purnama (BTP) alias Ahok akan balas dendam lewat PDIP. Jubir PA 212, Novel Bamukmin, mengklarifikasi bahwa hal tersebut harapan, bukan kecurigaan. Sahabat Ahok yang juga politikus PDIP, Charles Honoris, menegaskan isu itu sama sekali tidak benar.

“Nah itu, saya bilang nggak mungkin balas dendam. Karena gini, Pak Ahok sudah memilih masuk PDI Perjuangan bukan untuk aktif berpolitik tetapi memilih PDI Perjuangan sebagai rumah untuk menyalurkan aspirasi politiknya,” kata politikus PDIP, Charles Honoris, di Resto Es Teler 77, Jalan Adityawarman, Jakarta Selatan, Senin (11/2/2019).

Charles sekali lagi menepis anggapan bahwa Ahok akan balas dendam. Menurutnya, meskipun bergabung ke PDIP, Ahok tak tertarik menjadi pejabat negara.
“Jadi saya rasa tidak benar anggapan bahwa Pak Ahok ingin balas dendam ya, karena sekali lagi Pak Ahok sendiri sudah mengatakan bahwa masuk PDI Perjuangan itu bukan untuk menjadi pengurus ya, tidak tertarik menjadi pejabat negara, tapi hanya merasa bahwa PDI Perjuangan adalah rumah besar kaum nasionalis sehingga rumah yang cocok untuk bisa menyalurkan aspirasi politiknya,” ungkapnya.

“Bahwa Pak Ahok masuk PDI ya sebagai kader, bukan sebagai pengurus partai. Tidak punya kewenangan khusus untuk bisa mengatur kebijakan partai juga, atau tidak juga memiliki keinginan untuk menjadi pejabat negara. Misalkan ikut pilkada, atau ikut pemilu legislatif ya, hanya sebagai kader yang ingin memberikan kontribusi pemikiran, menyalurkan aspirasi politiknya ke PDI Perjuangan,” imbuh Charles.

Charles sekali lagi menegaskan Ahok tak akan balas dendam. Baginya, partai politik bukan alat untuk balas dendam, tetapi untuk kesejahteraan rakyat.

“Pasti tidak (akan balas dendam), pasti tidak. Karena PDI Perjuangan partai politik, partai PDI Perjuangan bukan alat untuk balas dendam ya, tapi partai politik adalah alat untuk kesejahteraan rakyat,” tegasnya.

Sebelumnya, Adi Prayitno mengungkapkan, PA 212 curiga bergabungnya Ahok ke PDIP lantaran ingin balas dendam. Ahok dicurigai ingin menjadikan PDIP sebagai alat untuk membalas dendam kepada kelompok yang memenjarakannya.

“Semalam saya diskusi dengan Alumni 212 Novel Bamukmin, dia ngomong bahwa di PA 212 itu mencurigai kembalinya Ahok ke PDIP dikhawatirkan menjadi ajang untuk membalas dendam kepada kelompok yang mengkriminalkan Ahok,” ujar Adi di restoran Bakoel Koffie, Cikini, Jakarta Pusat, Minggu (10/2).

Adi mengaku mendapat informasi langsung dari Ketua Media Center PA 212 Novel Bamukmin. Ahok dicurigai akan menggunakan PDIP sebagai kendaraan politik untuk memperoleh lagi kekuasaan.

Novel Bamukmin sudah meluruskan pernyataan Adi. Novel hanya berharap PDIP bisa membina Ahok agar tak lagi bikin gaduh.

“Saya hanya mengkhawatirkan semoga bergabungnya BTP ini tidak menjadi ajang balas dendam atas masalah yang pernah terjadi dengan kasus hukum BTP ini. Semoga PDIP bisa membina BTP dengan baik agar BTP tidak kembali membuat kegaduhan dan kekisruhan negara ini,” kata Novel, hari ini.
(gbr/tor)

<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Fenomena Alumni-alumni Dukung Capres, Seberapa Besar Efeknya?

Jakarta – Perhelatan Pilpres 2019 diramaikan dengan deklarasi sejumlah alumni sekolah dan perguruan tinggi mendukung capres-cawapres. Seberapa besar efek elektoral membawa nama sekolah ke panggung pilpres?

Pengamat politik UIN Syarif Hidayatullah Adi Prayitno menilai deklarasi alumni sekolah atau kampus mendukung capres bertujuan untuk menggaet pemilih rasional. Citra alumni sebagai kaum terdidik diharapkan mendekatkan pemilih rasional ke pasangan capres cawapres.

“Kampus inikan basisnya pemilih rasional, kampus itu adalah orang yang ngerti mana yang hoax mana yang tidak, kan begitu. Jadi alumni-alumni kampus ini bukan hanya mendukung salah satu paslon tapi yang paling penting harus menjadi triger, dia harus jadi garda terdepan untuk menyampaikan politik-politik kebangsaan,” kata Adi kepada wartawan, Minggu (10/2/2019).


Dia yakin dukungan para alumni membawa nama sekolah atau kampus akan berdampak positif terhadap keterpilihan capres cawapres. Dia juga berharap dukungan alumni-alumni-an ini bisa memperbaiki dunia politik Indonesia.

“Ketika alumni kampus, sekolah ini sudah mulai muncul ke mana-mana, dia mendukung salah satu paslon, narasi politik yang harus disampaikan kepada publik bukan kebohongan, bukan fitnah tapi narasi politik yang ini mencerdaskan kehidupan mereka,” kata Adi.

Politikus Golkar yang juga Ketua DPR, Bambang Soesatyo, juga meyakini deklarasi alumni mendukung capres cawapres akan berpengaruh ke tingkat keterpilihan calon. Dukungan berbagai alumni akan memperkuat citra bahwa pasangan capres cawapres didukung banyak orang.

“Ya pasti berpengaruh (ke elektabilitas paslon) karena apa yang dilakukan masing-masing pasangan tentu untuk meyakinkan masyarakat bahwa mereka didukung orang banyak,” kata Bamsoet.

Dukungan alumni ini juga diharapkan mempengaruhi swing voters. “Maka ini diharapkan mempengaruhi pemilih yang belum menentukan pilihanya. Jadi merupakan bagian dari strategi kampanye,” ulas Bamsoet.
(tor/tor)

<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Dosen UIN Ungkap PA 212 Curiga Ahok akan Balas Dendam Lewat PDIP

Jakarta – Dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Adi Prayitno, mengungkapkan PA 212 curiga bergabungnya Basuki Tjahaja Purnama (BTP) alias Ahok ke PDIP lantaran ingin balas dendam. Ahok dicurigai ingin menjadikan PDIP sebagai alat untuk membalas dendam pada kelompok yang memenjarakannya.

“Semalam saya diskusi dengan Alumni 212 Novel Bamukmin, dia ngomong bahwa di PA 212 itu mencurigai kembalinya Ahok ke PDIP dikhawatirkan menjadi ajang untuk membalas dendam kepada kelompok yang mengkriminalkan Ahok,” ujar Adi di restoran Bakoel Koffie, Cikini, Jakarta Pusat, Minggu (10/2/2019).

Adi mengaku mendapat informasi langsung dari Ketua Media Center PA 212 Novel Bamukmin. Ahok dicurigai akan menggunakan PDIP sebagai kendaraan politik untuk memperoleh lagi kekuasaan.
“Jadi kelompok 212 sekalipun Ahok hanya anggota biasa di PDIP dikhawatirkan dia mengakumulasi kekuatan politiknya di PDIP apalagi berpotensi jadi menteri dan seterusnya. Ini akan menjadi ancaman besar terhadap 212,” katanya.

Di sisi lain, menurut Adi, bergabungnya Ahok ke PDIP juga untuk menggaet suara para Ahoker yang belum menentukan pilihan. Dengan demikian, Ahoker akan ikut melabuhkan dukungannya ke PDIP dan Jokowi-Ma’ruf Amin.

“Ahokers minimal tidak galau. Mereka tidak galau apalagi mengancam golput untuk memilih di 2019. Ahokers kan timbuh di mana-mana, menantikan kiprah Ahok di politik. Setelag Ahok ke politik masuk ke PDIP ini, loyalis-loyalis Ahok ini akan berdenyut di mana-mana,” tutur Adi.

Sebelumnya diberitakan, Ahok resmi menjadi kader PDIP sejak 26 Januari 2019. Dia mengaku PDIP sejalan dengan ideologi perjuangannya. Dia pun mengaku mantap menjadi kader partai berlambang banteng moncong putih itu.

“Memang sesuai garis ideologi perjuangan saya,” kata Ahok ketika ditanya alasannya menjadi kader PDIP.
(mae/tor)

<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>