Sahabat: Ahok Nggak akan Balas Dendam ke PA 212 Lewat PDIP

Jakarta – Dosen UIN Adi Prayitno mengungkap PA 212 curiga Basuki Tjahaja Purnama (BTP) alias Ahok akan balas dendam lewat PDIP. Jubir PA 212, Novel Bamukmin, mengklarifikasi bahwa hal tersebut harapan, bukan kecurigaan. Sahabat Ahok yang juga politikus PDIP, Charles Honoris, menegaskan isu itu sama sekali tidak benar.

“Nah itu, saya bilang nggak mungkin balas dendam. Karena gini, Pak Ahok sudah memilih masuk PDI Perjuangan bukan untuk aktif berpolitik tetapi memilih PDI Perjuangan sebagai rumah untuk menyalurkan aspirasi politiknya,” kata politikus PDIP, Charles Honoris, di Resto Es Teler 77, Jalan Adityawarman, Jakarta Selatan, Senin (11/2/2019).

Charles sekali lagi menepis anggapan bahwa Ahok akan balas dendam. Menurutnya, meskipun bergabung ke PDIP, Ahok tak tertarik menjadi pejabat negara.
“Jadi saya rasa tidak benar anggapan bahwa Pak Ahok ingin balas dendam ya, karena sekali lagi Pak Ahok sendiri sudah mengatakan bahwa masuk PDI Perjuangan itu bukan untuk menjadi pengurus ya, tidak tertarik menjadi pejabat negara, tapi hanya merasa bahwa PDI Perjuangan adalah rumah besar kaum nasionalis sehingga rumah yang cocok untuk bisa menyalurkan aspirasi politiknya,” ungkapnya.

“Bahwa Pak Ahok masuk PDI ya sebagai kader, bukan sebagai pengurus partai. Tidak punya kewenangan khusus untuk bisa mengatur kebijakan partai juga, atau tidak juga memiliki keinginan untuk menjadi pejabat negara. Misalkan ikut pilkada, atau ikut pemilu legislatif ya, hanya sebagai kader yang ingin memberikan kontribusi pemikiran, menyalurkan aspirasi politiknya ke PDI Perjuangan,” imbuh Charles.

Charles sekali lagi menegaskan Ahok tak akan balas dendam. Baginya, partai politik bukan alat untuk balas dendam, tetapi untuk kesejahteraan rakyat.

“Pasti tidak (akan balas dendam), pasti tidak. Karena PDI Perjuangan partai politik, partai PDI Perjuangan bukan alat untuk balas dendam ya, tapi partai politik adalah alat untuk kesejahteraan rakyat,” tegasnya.

Sebelumnya, Adi Prayitno mengungkapkan, PA 212 curiga bergabungnya Ahok ke PDIP lantaran ingin balas dendam. Ahok dicurigai ingin menjadikan PDIP sebagai alat untuk membalas dendam kepada kelompok yang memenjarakannya.

“Semalam saya diskusi dengan Alumni 212 Novel Bamukmin, dia ngomong bahwa di PA 212 itu mencurigai kembalinya Ahok ke PDIP dikhawatirkan menjadi ajang untuk membalas dendam kepada kelompok yang mengkriminalkan Ahok,” ujar Adi di restoran Bakoel Koffie, Cikini, Jakarta Pusat, Minggu (10/2).

Adi mengaku mendapat informasi langsung dari Ketua Media Center PA 212 Novel Bamukmin. Ahok dicurigai akan menggunakan PDIP sebagai kendaraan politik untuk memperoleh lagi kekuasaan.

Novel Bamukmin sudah meluruskan pernyataan Adi. Novel hanya berharap PDIP bisa membina Ahok agar tak lagi bikin gaduh.

“Saya hanya mengkhawatirkan semoga bergabungnya BTP ini tidak menjadi ajang balas dendam atas masalah yang pernah terjadi dengan kasus hukum BTP ini. Semoga PDIP bisa membina BTP dengan baik agar BTP tidak kembali membuat kegaduhan dan kekisruhan negara ini,” kata Novel, hari ini.
(gbr/tor)

<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Fenomena Alumni-alumni Dukung Capres, Seberapa Besar Efeknya?

Jakarta – Perhelatan Pilpres 2019 diramaikan dengan deklarasi sejumlah alumni sekolah dan perguruan tinggi mendukung capres-cawapres. Seberapa besar efek elektoral membawa nama sekolah ke panggung pilpres?

Pengamat politik UIN Syarif Hidayatullah Adi Prayitno menilai deklarasi alumni sekolah atau kampus mendukung capres bertujuan untuk menggaet pemilih rasional. Citra alumni sebagai kaum terdidik diharapkan mendekatkan pemilih rasional ke pasangan capres cawapres.

“Kampus inikan basisnya pemilih rasional, kampus itu adalah orang yang ngerti mana yang hoax mana yang tidak, kan begitu. Jadi alumni-alumni kampus ini bukan hanya mendukung salah satu paslon tapi yang paling penting harus menjadi triger, dia harus jadi garda terdepan untuk menyampaikan politik-politik kebangsaan,” kata Adi kepada wartawan, Minggu (10/2/2019).


Dia yakin dukungan para alumni membawa nama sekolah atau kampus akan berdampak positif terhadap keterpilihan capres cawapres. Dia juga berharap dukungan alumni-alumni-an ini bisa memperbaiki dunia politik Indonesia.

“Ketika alumni kampus, sekolah ini sudah mulai muncul ke mana-mana, dia mendukung salah satu paslon, narasi politik yang harus disampaikan kepada publik bukan kebohongan, bukan fitnah tapi narasi politik yang ini mencerdaskan kehidupan mereka,” kata Adi.

Politikus Golkar yang juga Ketua DPR, Bambang Soesatyo, juga meyakini deklarasi alumni mendukung capres cawapres akan berpengaruh ke tingkat keterpilihan calon. Dukungan berbagai alumni akan memperkuat citra bahwa pasangan capres cawapres didukung banyak orang.

“Ya pasti berpengaruh (ke elektabilitas paslon) karena apa yang dilakukan masing-masing pasangan tentu untuk meyakinkan masyarakat bahwa mereka didukung orang banyak,” kata Bamsoet.

Dukungan alumni ini juga diharapkan mempengaruhi swing voters. “Maka ini diharapkan mempengaruhi pemilih yang belum menentukan pilihanya. Jadi merupakan bagian dari strategi kampanye,” ulas Bamsoet.
(tor/tor)

<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Dosen UIN Ungkap PA 212 Curiga Ahok akan Balas Dendam Lewat PDIP

Jakarta – Dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Adi Prayitno, mengungkapkan PA 212 curiga bergabungnya Basuki Tjahaja Purnama (BTP) alias Ahok ke PDIP lantaran ingin balas dendam. Ahok dicurigai ingin menjadikan PDIP sebagai alat untuk membalas dendam pada kelompok yang memenjarakannya.

“Semalam saya diskusi dengan Alumni 212 Novel Bamukmin, dia ngomong bahwa di PA 212 itu mencurigai kembalinya Ahok ke PDIP dikhawatirkan menjadi ajang untuk membalas dendam kepada kelompok yang mengkriminalkan Ahok,” ujar Adi di restoran Bakoel Koffie, Cikini, Jakarta Pusat, Minggu (10/2/2019).

Adi mengaku mendapat informasi langsung dari Ketua Media Center PA 212 Novel Bamukmin. Ahok dicurigai akan menggunakan PDIP sebagai kendaraan politik untuk memperoleh lagi kekuasaan.
“Jadi kelompok 212 sekalipun Ahok hanya anggota biasa di PDIP dikhawatirkan dia mengakumulasi kekuatan politiknya di PDIP apalagi berpotensi jadi menteri dan seterusnya. Ini akan menjadi ancaman besar terhadap 212,” katanya.

Di sisi lain, menurut Adi, bergabungnya Ahok ke PDIP juga untuk menggaet suara para Ahoker yang belum menentukan pilihan. Dengan demikian, Ahoker akan ikut melabuhkan dukungannya ke PDIP dan Jokowi-Ma’ruf Amin.

“Ahokers minimal tidak galau. Mereka tidak galau apalagi mengancam golput untuk memilih di 2019. Ahokers kan timbuh di mana-mana, menantikan kiprah Ahok di politik. Setelag Ahok ke politik masuk ke PDIP ini, loyalis-loyalis Ahok ini akan berdenyut di mana-mana,” tutur Adi.

Sebelumnya diberitakan, Ahok resmi menjadi kader PDIP sejak 26 Januari 2019. Dia mengaku PDIP sejalan dengan ideologi perjuangannya. Dia pun mengaku mantap menjadi kader partai berlambang banteng moncong putih itu.

“Memang sesuai garis ideologi perjuangan saya,” kata Ahok ketika ditanya alasannya menjadi kader PDIP.
(mae/tor)

<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Survei Celebes Research: PKB-PKS di Atas PD, PSI Hingga Berkarya Parnoko

Jakarta

Selain elektabilitas pasangan calon pada Pilpres 2019, Celebes Research Center (CRC) juga melakukan survei terhadap partai politik. Hasilnya, PDI Perjuangan jadi yang terdepan diikuti Partai Gerindra dan Partai Golkar.

Survei dilakukan dalam rentang waktu 23-31 Januari 2019 terhadap 1.200 responden dengan metode penarikan sampel multistage random sampling. Margin of error sruvei sebesar +/- 2,83% dengan tingkat kepercayaan 95,0%. Sampel berasal dari 34 Provinsi di Indonesia yang terdistribusi secara proporsional. Pengumpulan data dilakukan dengan metode wawancara tatap muka langsung (face to face) dengan menggunakan kuisioner oleh pewawancara yang sudah terlatih. Quality control survei sebesar 20%.

“PDI Perjuangan 24,5%, Gerindra 12,9%, Golkar 10,4%,” kata Direktur Eksekutif Celebes Research Center, Herman Heizer di restauran Bakoel Koffie, Cikini, Jakarta Pusat, Minggu (10/2/2019).

Survei itu dilakukan dengan menggunakan metode simulasi tertutup. Survei dilakukan dengan pertanyaan ‘Jika pemilihan umum legislatif dilaksanakan hari ini, partai mana yang akan Ibu/Bapak pilih?’ kepada para responden.

Setelah Golkar, PKB membuntuti dengan elektabilitas 7,5%. PKS ada di posisi kelima dengan angka 5,0%. Partai-partai baru seperti PSI, Partai Berkarya, Partai Garuda berkutat di angka nol koma atau partai nol koma (parnoko).

Berikut ini hasil survei CRC soal elektabilitas partai jelang Pileg 2019:

PDIP: 24,5%
Gerindra: 12,9%
Golkar: 10,4%
PKB: 7,5%
PKS: 5,0%
Demokrat: 4,6%
PPP: 2,8%
NasDem: 2,8%
Perindo: 2,3%
PAN: 2,2%
Hanura: 0,8%
PBB: 0,6%
PSI: 0,2%
Berkarya: 0,1%
Garuda: 0,1%
PKPI: 0,0%
Tidak akan ikut memilih: 1,5%
Tidak tahu/tidak jawab/rahasia: 21,7%

Politikus Partai Golkar Bambang Soesatyo, Anggawira dari kubu Prabowo-Sandi, Direktur Penggalangan Pemilih Muda Tim Jokowi Bahlil Lahadalia, Rektor Universitas Al Azhar Asep Saifuddin dan Pengamat Politik dari UIN Adi Prayitno hadir dalam rilis survei itu.

(gbr/tor) <!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Sambangi Habib Luthfi, Ustaz Abdul Somad Diajak Kokohkan Dakwah Lewat NU

Jakarta – Ustaz Abdul Somad (UAS) menyambangi Habib Luthfi bin Yahya di Pekalongan, Jawa Tengah. UAS diberi pesan oleh Habib Luthfi untuk bersama-sama dakwah melalui Nahdlatul Ulama (NU).

Foto pertemuan UAS dan Habib Luthfi diunggah di akun Instagram @nahdlatululama, seperti dilihat detikcom, Sabtu (9/2/2019). Dalam foto tersebut, UAS yang memakai baju putih dan kopiah hitam tampak bersalaman dengan Habib Luthfi.

“Ustaz Abdul Shomad (UAS) berbaiat Thoriqoh Qodliriyah wa Naqsyabandiyah kepada Mursyid, Habib Luthfi bin Yahya (Rois Aam Jatman NU), hari ini di Pekalongan, Jawa Tengah,” tulis akun tersebut.

Di foto lainnya, UAS tampak mencium tangan Habib Luthfi. UAS juga diajak untuk mengokohkan dakwah lewat NU sebagai suatu organisasi.

“Pesan Habib Luthfi bin Yahya (Rois Aam Jamiyyah Ahliththoriqoh Al Muktabaroh An Nahdliyah/ JATMAN NU) Mengajak Ustadz Abdul Shomad (UAS) untuk bersama-sama mengokohkan dakwah melalui NU sebagai jamiyyah yang menjaga & mengamalkan ajaran Islam ahlussunnah wal jamaah di Indonesia dan dunia,” tulis akun @nahdlatululama.

Momen silaturahmi itu juga diunggah oleh UAS di akun Instagram-nya. Dalam pertemuan itu, UAS menyerap banyak nasihat dari Habib Luthfi.

“Silaturrahim ke kediaman Habib Luthfi bin Yahya. Masya Allah, menyejukkan, zahir dan batin,” ujar UAS.

Berikut pernyataan lengkap UAS tentang pertemuannya dengan Habib Luthfi:

Silaturahmi ke Habib Luthfi Bin Yahya:

1. Alhamdulillah sampai di Semarang, dijemput KH. Anis Maftuhin, KH. DR. Fadholan dan KH. DR. Muhammad Afifuddin

2. Setelah mampir di Pesantren yang dipimpin KH. DR. Fadholan di lingkungan UIN Semarang, perjalanan dilanjutkan ke Pekalongan. Bertemu dengan KH. Arif Hasanul Muna sahabat di Mesir dulu

3. Silaturrahim ke kediaman Habib Luthfi bin Yahya. Masya Allah, menyejukkan, zahir dan batin

4. Mohon ijazah zikir, doa dan nasihat. Kata-kata beliau penuh hikmah, “Pohon itu, kalau sudah berbuah, akan ada kalong, ada semut, ada hama, itu baru pohon. Kalau cuma berbunga, belum pohon besar”, kalimatnya penuh makna

5. Kata beliau, “Lautan itu luas. Ada perahu Qadiriyah yang dibawa Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani, ada perahu Naqsyabandiyah, tapi lautannya tetap La-ilaha-illallah”

6. Beliau melanjutkan agar tetap menjadi benteng Ahlussunnah Waljama’ah

View this post on Instagram

SILATURRAHIM KE HABIB LUTHFI BIN YAHYA 1. Alhamdulillah sampai di Semarang, dijemput KH. Anis Maftuhin, KH. DR. Fadholan dan KH. DR. Muhammad Afifuddin 2. Setelah mampir di Pesantren yang dipimpin KH. DR. Fadholan di lingkungan UIN Semarang, perjalanan dilanjutkan ke Pekalongan. Bertemu dengan KH. Arif Hasanul Muna sahabat di Mesir dulu 3. Silaturrahim ke kediaman Habib Luthfi bin Yahya. Masya Allah, menyejukkan, zahir dan batin 4. Mohon ijazah zikir, doa dan nasihat. Kata-kata beliau penuh hikmah, “Pohon itu, kalau sudah berbuah, akan ada kalong, ada semut, ada hama, itu baru pohon. Kalau cuma berbunga, belum pohon besar”, kalimatnya penuh makna 5. Kata beliau, “Lautan itu luas. Ada perahu Qadiriyah yang dibawa Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani, ada perahu Naqsyabandiyah, tapi lautannya tetap La-ilaha-illallah” 6. Beliau melanjutkan agar tetap menjadi benteng Ahlussunnah Waljama’ah Pekalongan, 3 Jumadil Akhir 1440 8 Februari 2019

A post shared by Ustadz Abdul Somad (Official) (@ustadzabdulsomad) on Feb 8, 2019 at 7:17pm PST

(knv/idh) <!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Ma’ruf Amin Puji Jokowi karena Tak Lihat Ulama Bak Daun Salam

PayakumbuhKH Ma’ruf Amin memuji Joko Widodo (Jokowi) sebagai sosok pemimpin yang menghargai ulama. Calon presiden (capres) nomor urut 01 yang juga petahana itu disebut Ma’ruf tidak memandang ulama hanya sebagai daun salam, apa maksudnya?

“Ulama itu seperti daun salam. Kalau mau masak, cari daun salam. Tapi kalau sudah matang, yang dibuang pertama kali ya daun salam itu. Banyak orang yang mau maju minta dukungan ulama, tapi setelah berkuasa melupakan ulama,” ujar Ma’ruf di Payakumbuh, Sumatera Barat, Kamis (7/2/2019).

“Tapi Pak Jokowi bukan begitu. Beliau malah menggandeng ulama. Ini sebuah penghargaan,” imbuh Ma’ruf.

Hal itu disampaikan Ma’ruf dalam Tablig Akbar bersama Thariqat Naqshabandiyyah dan Samaniyah di Gelanggang Olahraga Muhammad Yamin Payakumbuh. Ma’ruf juga mengajak masyarakat untuk membersihkan hati serta menghindari hoaks.

“Pak Jokowi mengajak saya karena ingin menjadikan negara ini utuh. Jangan sampai Pilpres memecah belah bangsa,” ucap calon wakil presiden (cawapres) nomor urut 01 tersebut.

Salah satu hoaks atau kabar bohong yang disinggung Ma’ruf yaitu yang menyebut Jokowi sebagai keturunan PKI. Ma’ruf pun menepis mentah-mentah hal itu.

“Sekarang banyak bohong-bohong itu. Namanya hoaks, Jokowi PKI-lah, PKI dari mana? Anti-ulama, anti-ulama dari mana? Wong saya jadi wakilnya. Saya ini disebut ulama, lalu diajak jadi wakilnya. Ini kan penghormatan. Mudah-mudahan, saat ini ulama jadi Wakil Presiden, suatu saat nanti akan ada pula ulama yang jadi Presiden,” ujar Ma’ruf.

Ma’ruf memang tengah bersafari kampanye selama dua hari ini di Sumbar. Setelah dari Payakumbuh, dia akan bertemu para ulama di Kabupaten Agam, keluarga Proklamator Bung Hatta, serta memberikan kuliah umum di UIN Imam Bonjol Padang.
(dhn/tor)

<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Gerakan Koalisi Alumni Diponegoro Dinilai Langkah Konkret Dukung Jokowi

Liputan6.com, Jakarta – Alumni dari berbagai perguruan tinggi Jawa Tengah, yang menamakan Alumni Diponegoro mendeklarasikan diri untuk mendukung pasangan calon presiden dan wakil presiden Jokowi-Ma’ruf Amin.

Acara yang berlangsung di Gedung Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI), Kota Lama, Jawa Tengah itu, dihadiri belasan ribu orang. Banyak yang berada di luar gedung untuk menyambut Jokowi yang hadir di sana.

Nusyirwan Soejono, Anggota DPR Fraksi PDI Perjuangan yang juga alumni Universitas Diponegoro, merasa dukungan ini penting sekali. Pasalnya, inilah bentuk kekuatan yang sebenarnya.

“Gerakan ini merupakan bentuk dukungan konkret Koalisi Alumni Diponegoro kepada Joko Widodo untuk kembali menjadi Presiden,” kata Nusyirwan, Minggu (3/1/2019).

Alumni Diponegoro berisikan perguruan-perguruan tinggi negeri dan swasta di Provinsi Jawa Tengah. Perguruan tinggi itu seperti Universitas Diponegoro, Universitas Negeri Semarang, UIN Walisongo, Universitas Sebelas Maret Surakarta, Universitas Katolik Soegijapranata,

Selain itu, Universitas Dian Nuswantoro, Universitas Tujuh Belas Agustus, Universitas Stikubank, dan lain-lain. Masih ditambah alumni SMA/SMK yang ada di Semarang.

Jokowi yang hadir, sempat memberikan pesan kepada para alumni yang merupakan kaum intelektual ini untuk bisa melawan hoaks.

“Saya berhadapan dengan intelektual-intelektual yang bisa kita harapkan bisa memberikan pencerahan kepada masyarakat. Jangan sampai kita biarkan hoaks ini merajalela sampai ke desa-desa, sangat berbahaya sekali,” kata Jokowi di hadapan koalisi Alumni

2 dari 2 halaman

Hoaks Jelang Pilpres

Dia memberikan contoh beberapa isu hoaks yang merajalela jelang Pilpres, mulai dari 7 kontainer sudah dicoblos, hingga selang darah dipakai 40 kali di rumah sakit. “Begitu dijawab diam,” ucap Jokowi.

Tidak hanya itu, Jokowi juga mengungkit terkait kasus hoaks yang menjerat Ratna Sarumpaet. Dia mengatakan Ratna sebagai pihak yang sudah dikenalnya adalah orang yang jujur dan berani. Karena itu, Jokowi pun mengacungkan jempol kepada Ratna.

“Sehingga waktu terakhir sudah ramai, beliau sampaikan apa adanya. Saya sampaikan apa adanya, saya acungi jempol pada Mba Ratna Sarumpaet ngomong apa adanya,” ungkap Jokowi.

Dia mengatakan yang tidak benar adalah yang memberikan informasi bahwa Ratna babak belur lantaran dipukuli dan dianiaya. “Itu enggak benar. Itu maunya apa sih? Maunya sebetulnya apa? Nuduh kita kriminalisasi, itu saja sebetulnya arahnya,” kata Jokowi.

Jokowi pun yakin masyarakat kini bisa cerdas. Dan tidak bisa termakan isu hoaks. “Tapi masyarakat sekarang ini cerdas dan masyarakat pintar-pintar. Dipikir masyarakat masih bodoh-bodoh,” tegas Jokowi.


Saksikan video pilihan berikut ini:

Koalisi Alumni Diponegoro Dukung Jokowi di Pilpres 2019

Jakarta – Calon presiden incumbent Joko Widodo (Jokowi) kembali mendapat dukungan dari alumni perguruan tinggi. Kini, giliran Koalisi Alumni Diponegoro yang mendukung Jokowi untuk Pilpres 2019.

Acara dilangsungkan di gedung PPI, kawasan Kota Lama Semarang, Jawa Tengah, Minggu (3/2/2019). Jokowi tiba sekitar pukul 08.00 WIB.

Seusai pembacaan deklarasi dukungan, Jokowi diberikan jaket secara simbolis. Jaket varsity tersebut berwarna biru dongker.

“Selamat pagi, hari ini saya berterima kasih mendapat dukungan dari alumni Undip, alumni Unnes, alumni UIN Walisongo, alumni Udinus, alumni Unissula, alumni Untag, alumni USM, alumni UKSW, alumni UGM. Yang belom mana? Alumni UIN, mana lagi yang belom? Alumni UNS, alumni perguruan tinggi se-Jawa Tengah,” ujar Jokowi.

Pantauan di lokasi, acara dihadiri menteri kabinet yang juga alumnus Undip seperti Tjahjo Kumolo dan M Nasir. Hadir juga Ibu Negara Iriana, Gubernur Jawa Tengah sekaligus politikus PDIP Ganjar Pranowo, dan Ketua Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma’ruf Erick Thohir.

Para peserta yang hadir didominasi mengenakan kaus berwarna putih bertuliskan ‘#01 Jokowi Bocahe Dewe’. Ada juga massa yang memakai kaus kuning bertuliskan ‘Alumni Unnes 01’.
(dkp/knv)

<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Pembunuh Mahasiswi UIN Palembang Ditangkap

Jakarta – Pelaku pembunuhan Fatmi Rohanayanti (20), mahasiswi UIN Raden Fatah Palembang yang tewas telanjang dengan mulut tersumpal bra akhirnya tertangkap. Pelaku merupakan pria berusia 30 tahun asal Muaraenim.

“Palaku sudah kami tangkap tadi sama tim gabungan Polda, Polres dan Polsek. Pelaku bernama Sairun,” kata Kapolres Muaraenim, AKBP Afner Juwono ketika dikonfirmasi, Sabtu (2/2/2019).

Dikatakan Afner, Sairun merupakan pelaku tunggal dalam kasus pemerkosaan dan pembunuhan Fatmi. Bahkan Sairun pun disebut residivis kasus perampokan.

“Dia residivis. Memang kerjanya seperti itu, merampok dan begal. Dia asli warga Desa Suban Baru, Muaraenim,” sambung Afner.

Selain menangkap pelaku, polisi pun sudah mengamankan beberapa barang bukti. Salah satunya yaitu sepeda motor korban.

Sebagaimana diketahui, mahasiswi UIN Raden Fatah Palembang, Fatmi Rohanayati hilang sepulang mengantarkan ibunya ke kebun, Kamis (31/1) siang. Terakhir korban ditemukan tewas dengan kondisi telanjang bulat serta mulut dan tangan diikat.

Sontak penemuan mayat mahasiswi ini membuat heboh warga sekitar. Apalagi Fatmi dikenal baik di lingkungan sekitar tempat tinggalnya yang berada di Desa Menanti, Muaraenim. (Raja Adil Siregar)
(ras/abw)

<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>