Melanggar FFP Lagi, Milan pun Diselidiki UEFA

NyonUEFA tengah menyelidiki lagi AC Milan terkait pelanggaran Financial Fair Play (FFP) pada periode 2016-2018, Sanksi baru menanti Rossoneri.

Sebelumnya pada Desember 2018, Milan dinyatakan bersalah melanggar FPP setelah neraca keuangan mereka dianggap tak seimbang pada akhir musim lalu. Il Diavolo kemudian dijatuhi sanksi oleh UEFA larangan tampil di kompetisi Eropa selama dua musim.

Namun sanksi tersebut kemudian ditangguhkan usai mereka mengajukan banding ke Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS). Milan kemudian diberi waktu hingga akhir 2020/2021 untuk menyeimbangkan neraca keuangan mereka.

Jika hal tersebut gagal dilakukan, sanki larangan tampil di kompetisi Eropa bakal diberlakukan kepada Milan pada musim 2022/2023 and 2023/2024. Kini, di tengah upaya menghindari sanksi tersebut, Milan malah diterpa masalah lagi.

Ini setelah pengumuman UEFA Rabu (10/4/2019) waktu setempat, mengungkapkan adanya penyelidikan baru MIlan erkait pelanggaran FPP pada periode 2016-2018. Kasus tersebut tak terkait dengan sanksi yang sudah diberikan UEFA kepada Milan.

“Badan Kontrol Keuangan Klub UEFA (CFCB) bidang penyelidikan hari ini telah berkomunikasi terkait keputusan yang merujuk pada kasus AC Milan (Italia),” demikian pernyataan resmi UEFA.

“Kasus ini akan dilimpahkan ke pengadilan CFCB karena klub telah gagal menyeimbangkan neraca keuangan mereka selama periode pemantauan yang dinilai dari musim ini dan juga mencakup musim 2015/16, 2016/17 dan 2017/18.”

“UEFA tidak akan berkomentar lebih lanjut tentang masalah ini sampai keputusan dibuat pengadilan CFCB terkait kasus tersebut. Masalah ini tidak ada hubungannya dengan keputusan yang dibuat oleh pengadilan CFCB pada Desember 2018 lalu karena penilaian tersebut mencakup pada musim 2014/15, 2015/16, dan 2016/17.”

Kubu Milan sendiri kabarkan tak terlalu terkejut dengan kabar ini. Menurut ANSA, tim yang bermarkas di San Siro ini telah mengetahui penyelidikan kasus tersebut akan dilakukan UEFA.

Milan disebut bakal berkomitmen mengikuti langkah-langkah yang diambil oleh UEFA agar mereka bisa menjalankan aturan FPP dengan baik.

(mrp/yna)

Denda UEFA adalah Hal Normal Bagi Ronaldo

JakartaCristiano Ronaldo didenda UEFA terkait selebrasi selangkangannya saat menghadapi Atletico Madrid. Penyerang Juventus itu menganggapnya hal yang normal.

Ronaldo mencetak hat-trick saat Juventus mengalahkan Atletico Madrid 3-0 di leg kedua babak 16 besar Liga Champions, 13 Maret 2019. Dalam kemenangan yang mengantar Si Nyonya Tua ke perempatfinal itu, CR7 merayakan golnya dengan menonjolkan selangkangannya.

Gaya selebrasi Ronaldo itu ditujukan untuk membalas aksi pelatih Atletico Madrid, Diego Simeone. Pada leg pertama, 21 Februari 2019, pelatih asal Argentina itu merayakan gol timnya juga dengan gaya serupa, ketika Los Colchoneros menang 2-0.

UEFA rupanya mendakwa Ronaldo bersalah atas perayaan golnya. Pemilik lima gelar Ballon d’Or itu lantas disanksi dengan denda sebesar 20 ribu euro atau sekitar Rp 320 juta. Simeone juga dihukum serupa.

Ronaldo, seperti dilansir AS, rupanya sudah dimintai tanggapan soal dendanya. Usai melakoni laga bersama Timnas Portugal, pemain yang dibeli Juventus seharga 100 juta euro itu mengomentari singkat hukumannya.

“Itu normal,” kata Ronaldo, yang diwawancara saat hendak masuk bus timnya.

Juventus sendiri melaju ke perempatfinal dengan agregat 3-2. Di babak delapan besar, raksasa Serie A itu akan ditantang Ajax Amsterdam, yang sebelumnya menyingkirkan Real Madrid–mantan klub Ronaldo.

(yna/raw)

UEFA Siap Hukum Neymar Usai Menghina Wasit

Liputan6.com, Jakarta – Asosiasi Sepak Bola Eropa (UEFA) menjerat striker Paris Saint-Germain (PSG), Neymar. Mereka menganggapnya mengucapkan komentar tidak pantas setelah PSG disingkirkan Manchester United (MU) pada 16 besar Liga Champions. 

PSG tersingkir gara-gara penalti Marcus Rashford di akhir laga. Hadiah penalti sendiri diberikan wasit kepada MU setelah melakukan konsultasi dengan tim VAR. Dalam tayangan ulang, Presnel Kimpembe terlihat menghalangi lajur tendangan Diogo Dalot dengan tangannya.

Anak asuh Thomas Tuchel yang sebenarnya sudah unggul 2-0 di leg pertama pun terpaksa gagal melaju ke perempat final setelah kalah agresivitas gol tandang.

Sesaat setelah laga berakhir, Neymar yang menyaksikan dari tribune mencoba mengungkapkan kekesalannya. “Itu memalukan!” tulis Neymar di Instagram Storiy beserta cuplikan gambar tayangan ulang VAR.

“Dan UEFA masih memilih empat orang yang tak tahu apa-apa soal sepak bola untuk meninjau ulang keputusan VAR melalui gerakan lambat… handsball itu tidak pernah ada!” lanjutnya.

“Bagaimana bisa anda melakukan handball yang datang dari belakang anda? Ahh.. urus saja dirimu sendiri!” tutup Neymar.

Pelatih Paris Saint-Germain (PSG), Unai Emery, buka suara terkait rencana Real Madrid membajak penyerang andalan mereka, Neymar.

Selebrasi Tidak Senonoh, UEFA Hanya Denda Ronaldo Rp 321 Juta

Sebelumnya penggawa Juventus, Federico Bernardeschi, menganggap aneh jika Ronaldo sampai dijatuhi sanksi larangan bermain oleh UEFA. Sebab menurutnya, apa yang ia lakukan itu merupakan selebrasi yang biasa saja.

“Saya pikir tak ada lagi yang perlu ditambahkan. Itu adalah sesuatu yang tak perlu diperhatikan, tapi [hukuman] akan terasa gila,” tutur Bernardeschi dalam konferensi pers, seperti yang dikutip dari Football Italia.

“Saya pikir ini akan berakhir, itu hanya sebuah selebrasi, sebuah gerakan. Saya selalu melihatnya tenang dan rileks, begitu juga dengan kami. Saya yakin semuanya akan baik-baik saja,” lanjutnya.Dengan keputusan ini, maka Ronaldo bisa dipastikan tetap bermain melawan Ajax Amsterdam di babak perempat final. Leg pertama akan dihelat di Amsterdam pada 17 April mendatang.

Sumber: bola.net

Saksikan video pilihan di bawah ini:

5 Alasan untuk Berhenti Membenci Cristiano Ronaldo

PSG Kalahkan UEFA Terkait FFP

JakartaParis Saint-Germain memenangkan banding terkait penyelidikan kembali dugaan pelanggaran Financial Fair Play (FFP). Dalam hal ini, UEFA kalah.

PSG mengajukan banding kepada Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS) pada Oktober 2018, usai UEFA berniat menyelidiki lagi dugaan pelanggaran Financial Fair Play yang dilakukan Les Parisiens pada September 2018.

Ketika itu, UEFA berniat menyelidiki lagi laporan keuangan PSG dari 2015 hingga Juni 2017, yang sebelumnya sudah ditutup dan dinyatakan tidak bersalah. CAS kemudian menggugurkannya, dengan alasan UEFA melewatkan tenggat waktu untuk menentang keputusan sebelumnya.

Dalam gugatannya, PSG memprotes sikap UEFA yang menyalahi aturannya sendiri. UEFA mengatur untuk membuat keputusan dalam waktu 10 hari, sejak wacana peninjauan kembali sebuah kasus dilontarkan.

Sementara UEFA memerintahkannya peninjauan kembali kasus dugaan pelanggaran FFP yang dilakukan PSG pada 22 Juni 2018, dan baru membuat keputusan penyelidikan kembali pada 19 September 2018.

“Keputusan yang ditentang itu tidak tepat pada waktunya dan harus dibatalkan,” demikian pernyataan CAS seperti dilaporkan Associated Press.

Keputusan CAS ini tidak terkait dengan penyelidikan UEFA lain tentang keuangan PSG pada musim 2017-18, saat Neymar dan Mbappe didatangkan ke Paris.

Adapun UEFA sudah mengomentari putusan CAS ini. Otoritas Sepakbola Eropa itu akan menganalisis putusan ini dan sesegera mengumumkan sikapnya.

“UEFA akan menganalisis putusan terbaru CAS ini secara terperinci dan akan mempertimbangkan membuat klarifikasi sesegera mungkin atau amandemen terhadap aturannya yang mungkin dihasilkan dari analisis putusan yang disebutkan di atas,” jelas UEFA. (yna/rin)


Arsenal vs Rennes: Stephen Sebut Kembalinya Lacazette sebagai Tindakan Aneh UEFA

Liputan6.com, London – Liga Europa akan kembali bergulir dini hari WIB nanti. Salah satu pertandingan yang menarik adalah Arsenal vs Rennes. Bermain di kandang Emirates Stadium membuat The Gunners lebih mendapat kepercayan diri.

Selain bermain di kandang, kembalinya striker Arsenal, Alexandre Lacazette juga menjadi sebuah keuntungan. Pria Prancis ini telah mendapat potongan masa hukumuan oleh UEFA. Sebelumnya, ia terkena skors akibat akumulasi kartu.

Dia menadapat kartu merah pada leg pertama babak 32 besar saat berhadapan dengan BATE. Karena hal itu, ia harus menerima hukuman larangan bermain dalam tiga pertandingan. Nasib baik masih menghampiri dirinya.

Namun, UEFA memutuskan untuk memangkas masa hukuman bertanding yang diterima pemain 47 tahun tersebut. UEFA memangkas masa hukuman Lacazette menjadi dua pertandingan. Dengan begitu, ia dapat membela Arsenalpada leg kedua dinihari nanti.

Keputusan ini membuat kubu Rennes meradang. Pelatih Rennes, Julien Stephen, mengaggap ini merupakan tindakan aneh UEFA. Keputusan UEFA tersebut dikeluarkan menjelang pertandingan leg kedua.

“Waktunya agak mengejutkan bagi semua orang yang terlibat. Kami tidak berpikir bahwa ia akan dimasukkan hingga kemarin malam. Mereka telah memutuskan untuk mengurangi sanksi dari tiga, menjadi dua pertandingan dan itu bagus untuknya,” ujar Stephen yang dikutip dari The Guardian.

UEFA Jatuhi Skors 2 Laga pada Sergio Ramos

Madrid – Bek dan kapten Real Madrid Sergio Ramos diskors dua pertandingan oleh UEFA. Ramos dianggap sengaja mendapatkan kartu kuning dalam laga tandang melawan Ajax.

Kartu kuning diacungkan kepada pesepakbola Spanyol itu usai melanggar Kasper Dolberg saat Madrid mengalahkan Ajax 2-1 di leg I babak 16 besar Liga Champions. Dengan kartu kuning itu, Ramos akan absen di leg II karena akumulasi kartu.

Meski begitu, Ramos mengurangi risiko absen di laga-laga yang lebih penting di fase kompetisi berikutnya, mengingat seluruh akumulasi kartu dihapuskan di perempatfinal.


Seusai laga di Amsterdam Arena itu, Ramos mengakui bahwa dirinya sengaja agar dikartu kuning, tapi kemudian meralat komentarnya.

Meski demikian, UEFA akhirnya tetap mengadakan penyelidikan. Sampai pada prosesnya, Ramos diputus bersalah dan mendapatkan hukuman tambahan.

Dengan sanksi ini, pemain berusia 32 tahun itu juga akan absen di laga perempatfinal leg I seandainya Madrid lolos. Besar peluang El Real karena hanya akan butuh minimal hasil seri saat gantian menjamu Ajax di Santiago Bernabeu, Rabu (6/3) dinihari WIB. Demikian dilaporkan BBC.

Ramos bukan sekali ini saja melakukan aksi tersebut. Sky Sports menyebutkan sebelumnya Ramos melakukannya di 2010, juga ketika melawan Ajax, di mana dia sengaja mendapatkan dua kartu kuning (kartu merah) saat Madrid sudah dipastikan lolos ke fase knockout.

UEFA tidak memberi skorsing tambahan kepada Ramos sehingga dia hanya absen di laga grup terakhir melawan Auxerre. Selain itu, Ramos juga didenda sebesar 20 ribu euro.
(rin/raw)

Liga Inggris: Transfer Jadon Sancho, Manchester City Diduga Langgar Aturan

Jakarta – Juara bertahan Liga Inggris Manchester City kembali bermasalah dengan hukum. Mereka diselidiki FA atas dugaan transfer ilegar Jadon Sancho.

Padq 2015, juara Liga Inggris lima kali itu mendatangkan Sancho dari Watford. Pemain yang kini berseragam Borussia Dortmund tersebut masih berusia 14 tahun ketika pindah ke Etihad.

Kabar yang berkembang, media Jerman, Der Spiegel, menemukan bukti laporan Manchester City membayar agen Sancho, Emeka Obasi, sebesar 200 ribu poundsterling. Menurut peraturan, pemain di bawah usia 16 tahun tidak diperbolehkan memiliki agen.

Dugaan tersebut membuat Manchester City kesal. Melalui keterangan resmi, The Citizens merasa ada pihak yang dengan sengaja mencuri berkas-berkas rahasia tim.

“Ada upaya merusak reputasi klub. Kami tidak akan memberikan komentar apapun tentang materi di luar konteks yang diduga dicuri ataupun diretas dari City Football Group dan personel Manchester City serta orang-orang terkait,” sebut pernyataan Manchester City.

Selain itu, ada juga dugaan Manchester City memanipulasi peraturan Financial Fair Play (FFP) yang dibuat UEFA. Ada indikasi Manchester City menjanjikan bayaran kepada orang tua Sancho begitu sang pemain resmi menjadi pemain profesional.

Saat ini, Sancho bukan lagi menjadi pemain Manchester City. Dia dibeli Borussia Dortmund pada 2017 dan tidak pernah bermain di Liga Inggris.


Sumber: Bola.com

Sengaja Dapatkan Kartu Kuning, Sergio Ramos Didakwa UEFA

Madrid – UEFA resmi menjatuhkan dakwaan kepada bek sekaligus kapten Real Madrid Sergio Ramos. Menyusul tudingan bahwa Ramos sengaja mendapatkan kartu kuning.

Pesepakbola Spanyol itu dikartu kuning wasit karena melanggar Kasper Dolberg saat Madrid mengalahkan Ajax 2-1 di laga babak 16 besar leg I Liga Champions. Namun, insiden itu terlihat janggal karena bola sedang tidak berada dekat Dolberg.

Dugaan Ramos sengaja mendapatkan kartu kuning kemudian muncul. Dengan situasi ini, Ramos memang akan absen di leg kedua, tapi dia akan bersih dari akumulasi kartu di babak berikutnya seandainya El Real lolos.


“Bukan karena memandang remeh lawan, tapi kadang Anda harus mengambil keputusan seperti ini dan itulah yang yang saya lakukan,” kata Ramos usai pertandingan.
Ramos kemudian meluruskan pernyataanya itu usai pertandingan. Sekalipun hal tersebut tidak bisa mencegah UEFA melakukan penyelidikan.

“Maksud saya memaksakan pelanggaran, sebuah pelanggaran yang tidak bisa dihindarkan. Bukan sengaja mendapatkan kartu kuning. Saat itu dalam situasi serangan balik yang berbahaya di menit ke-88, dengan pertandingan yang terbuka dan duel yang terbuka juga,” ucap dia.

Dilaporkan ESPN, Komisi Disiplin UEFA akan memutuskan kasus ini pada Kamis (28/1/2019).

(rin/raw)

Selebrasi Pegang Selangkangan, Simeone Didakwa UEFA

Madrid – Selebrasi gol memegang selangkangan yang dilakukan pelatih Atletico Madrid Diego Simeone berbuntut panjang. Simeone kini didakwa UEFA.

Selebrasi kontroversial dilakukan Simeone saat Atletico mengalahkan Juventus 2-0 di Wanda Metropolitano dalam laga Liga Champions (13/2/2019). Usai gol pembuka Los Rojiblancos tercipta, Simeone merayakan gol dengan memegang selangkangannya.

Aksi itu membuat Simeone dikritik karena dianggap tak menghormati tim lawan. Usai pertandingan pelatih yang akrab dipanggil El Cholo itu kemudian meminta maaf, sekalipun dia menegaskan bahwa selebrasinya tersebut cuma menunjukkan bahwa Atletico memiliki nyali melawan Juventus.


Permintaan maaf Simeone rupanya tidak dapat menghindarkan dia dari ancaman sanksi. Komisi Disiplin UEFA akan memutuskan apakah Simeone bersalah atau tidak dalam waktu dekat.
Dilansir dari Sky Sports, pelatih berusia 48 tahun ini bisa saja mendapatkan hukuman larangan mendampingi Los Rojiblancos.

Jika sanksi ini benar dijatuhkan, Simeone tak bisa berada di pinggir lapangan saat Atletico giliran bertandang ke markas Juventus untuk melakoni laga leg kedua babak 16 besar (12/3/2019).

Tak hanya Simeone, pelatih Juventus Massimilliano Allegri ternyata juga didakwa UEFA melakukan hal yang tak pantas di Wanda Metropolitano. Juve datang terlambat di atas lapangan untuk kickoff.
(rin/rin)