Tim Prabowo Cek Pengakuan Ketua PA 212 Baru Tahu Masuk Struktur BPN

Jakarta – Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo SubiantoSandiaga Uno akan mengecek pengakuan Ketua Persaudaraan Alumni (PA) 212 Slamet Ma’arif. Slamet mengaku baru tahu namanya masuk dalam jajaran BPN.

“Nanti akan kita komunikasikan, akan kita cek di mana missed link-nya,” ucap Juru Debat BPN Prabowo-Sandiaga, Ahmad Riza Patria, saat dihubungi wartawan, Selasa (22/1/2019).

Riza mengatakan tim BPN Prabowo-Sandiaga mungkin akan menggelar pertemuan informal dengan Slamet terkait persoalan itu. Baginya, hal itu bukanlah persoalan besar.

“Kan ada ratusan orang di sana (BPN). Misal saya merekomendasikan A, B, C. Lalu setelah masuk, saya belum memberi tahu. Itu bisa aja. Mungkin ada yang merekomendasikan nama Pak Slamet, lalu mungkin belum diberitahu. Ya itu soal teknis, akan diselesaikan baik-baik,” ujar Riza.

Slamet mengaku baru tahu masuk jajaran tim BPN itu setelah menjalani pemeriksaan di Bawaslu Surakarta karena diduga melakukan pelanggaran pemilu dalam Tablig Akbar PA 212 Solo Raya pada Minggu, 13 Januari kemarin. Perihal pelaporan Slamet ke Bawaslu itu, juru bicara BPN Prabowo-Sandiaga, Andra Rosiade meyakini Slamet tidak bersalah.

“Kami meyakini ustaz Slamet Maarif akan lepas dari tuduhan tersebut, karena beliau datang dalam kapasitas sebagai Ketua PA 212. Acara tersebut tablig akbar 212. Tidak ada ustaz Slamet Maarif berkampanye seperti citra diri, penyampaian visi misi,” kata Andre sebelumnya.
(tsa/dhn)

<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Perseteruan Memanas di Suriah, Iran Ancam Lenyapkan Israel dari Muka Bumi

Liputan6.com, Teheran – Kepala angkatan udara Iran mengatakan siap untuk melawan Israel “dan melenyapkannya dari Bumi”, menyusul serangan Tel Aviv pada berbagai target Negeri Persia di Suriah yang dilanda perang, awal pekan ini.

Brigadir Jenderal Aziz Nasirzadeh mengutip laporan kelompok pemantau bahwa 11 orang telah tewas dalam serangan Israel, yang mengenai fasilitas penyimpanan amunisi di Bandara Internasional Damaskus, yang berdekatan dengan situs intelijen dan kamp pelatihan militer Iran.

Dikutip dari Independent.co.uk pada Selasa (22/1/2019), militer Rusia mengatakan empat tentara Suriah termasuk di antara mereka yang tewas dalam serangan itu. Tidak ada rincian lebih lanjut tentang korban atau kebangsaan mereka.

Tel Aviv mengatakan telah meluncurkan serangan dalam menanggapi roket Pasukan Quds Iran yang ditembakkan dari sebuah resor ski di Dataran Tinggi Golan –wilayah Suriah yang diduduki Israel– pada Minggu 20 Januari.

Pengumuman yang tidak biasa tampaknya menandai berakhirnya kebijakan diam Israel selama bertahun-tahun mengenai kegiatan di negara tetangga Suriah.

Menanggapi hal itu, Brigadir Iran Nasirzadeh merilis pernyataan berapi-api kepada Young Journalist Club –sebuah situs web milik televisi pemerintah– yang memicu kekhawatiran akan perang lebih lanjut antara kedua musuh bebuyutan itu.

“Orang-orang muda di angkatan udara sepenuhnya siap dan tidak sabar untuk menghadapi rezim Zionis, dan melenyapkannya dari Bumi,” katanya.

Iran Dituduh Lebih Dulu Menyerang

Di lain pihak, menurut juru bicara militer Israel, Letnan Jenderal Jonathan Conricus, pasukan Iran telah lebih dulu menyerang resor ski Hermon, di Dataran Tinggi Golan, pada hari Minggu sore. Serangan itu menggunakan rudal jarak menengah yang ditembakkan dari pinggiran Damaskus.

Conricus menyebut serangan itu sebagai aksi “yang direncanakan” untuk mencegah Israel melakukan serangan udara terhadap Iran, di mana Negeri Zionis itu turut mengklaim “bukti definitif” dari niat Teheran untuk mempengaruhi Suriah.

“Itu (resor skri Hermon) adalah aerea umum, dan ada warga sipil di sana. Kami melihat itu sebagai serangan Iran yang tidak dapat diterima, bukan sebagai dukungan pertahanan di Suriah,” kata Conricus.

“Selain itu, daerah yang diserang rudal adalah daerah yang telah mereka janjikan tidak akan ada campur tangan Iran di dalamnya. Kami tahu itu tidak dilakukan mendadak, itu adalah serangan yang sudah direncanakan,” tambahnya.

Sementara itu, Iran belum menanggapi klaim tuduhan di atas.


Simak video pilihan berikut: 


2 dari 2 halaman

Laporan Langsung yang Pertama

Militer Israel mengatakan serangan itu menghantam “pusat logistik utama Iran di Suriah” yang digunakan untuk mengangkut senjata ke sekutu mereka di Suriah, termasuk kepada kelompok militan Lebanon, Hizbullah.

Israel baru-baru ini mengakui melakukan ratusan serangan ke Suriah selama beberapa tahun terakhir, tetapi sebelumnya kerap menahan diri untuk tidak berkomentar karena takut memicu ketegangan lebih lanjut.

Pengumuman pada hari Senin menandai pertama kalinya Tel Aviv melaporkan serangan secara langsung, dan merilis informasi terperinci sejak Mei 2018 lalu, ketika Israel mengklaim telah menyerang hampir semua infrastruktur militer Iran di Suriah, menyusul serangan roket lain pada posisinya di Dataran Tinggi Golan.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, dan beberapa pejabat tinggi di sekitarnya, telah berbicara lebih terbuka tentang serangan mereka terhadap Suriah dalam beberapa hari terakhir.

Beberapa analis menduga sikap itu sebagai bagian dari upaya Netanyahu untuk memperkuat kepercayaan keamanannya menjelang pemilu, yang dia sebut akan segera digelar pada 9 April 2019.

Tetapi, Israel juga menghadapi risiko konfrontasi langsung dengan Suriah dan Iran, serta secara khusus dengan Rusia.

Koordinasi militer antara Tel Aviv dan Moskow di Suriah mengalami kemunduran setelah insiden pada September 2019, ketika pesawat Rusia jatuh oleh pertahanan udara Suriah selama serangan Israel.

Insiden itu membuat Kremlin marah dan mempersulit operasi Israel di Suriah, terutama ketika Moskow menempatkan sistem pertahanan udara canggih di sana sebagai tanggapan.

Teror Candi Borobudur, Misteri Ledakan 9 Bom di Pagi Buta

Liputan6.com, Jakarta – Senin 21 Januari 1985, hari baru saja berganti. Petugas keamanan Candi Borobudur melirik jam dinding di pos jaga yang menunjukkan pukul 01.20 WIB. Saatnya untuk berpatroli. Dua orang petugas kemudian meninggalkan Pos Jaga I untuk mengelilingi candi Buddha terbesar di dunia itu.

Catatan Sejarah Hari Ini (Sahrini) Liputan6.com mengutip, baru 10 menit berkeliling, kedua petugas itu dikejutkan bunyi menggelegar. Baru saja keduanya berlari menuju sumber bunyi itu, terdengar bunyi lain yang tak kalah besar. Belakangan diketahui kalau itu adalah bunyi ledakan dari bom yang sengaja ditujukan untuk menghancurkan situs tersebut.

Ada sembilan kali ledakan di pagi itu. Ledakan terakhir terdengar pada pukul 03.40 WIB. Namun, dalam suasana yang gelap gulita itu, masih belum diketahui apa yang sebenarnya terjadi. Para petugas keamanan lokal pun masih menunggu kedatangan aparat untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi.

Petugas Garnisun Magelang tiba di lokasi sekitar pukul 04.30 WIB dan langsung menyisir kawasan candi yang terkena ledakan. Mereka menyaksikan batu-batu candi berserakan. Terlihat dengan jelas kalau kejadian ini memang disengaja.

“Ledakan ternyata telah merusak 9 stupa berlubang. 3 yang berada di sisi timur batur pertama Arupadhatu, 2 lagi yang terdapat di batur kedua dan 4 lainnya di batur ketiga,” tulis Daoed Joesoef, mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan serta tokoh pemugaran candi tersebut dalam bukunya Borobudur yang diterbitkan tahun 2004.

Namun, muncul kabar kalau belum semua bom yang dipasang meledak. Masih ada yang bom terpasang yang menunggu waktu untuk meledak. Sekitar pukul 05.00 WIB, seorang personel Sat Brimob Polda Jawa Tengah diperintahkan Dansat Brimob Kolonel Pranoto (Kasat Brimob waktu itu) untuk mendatangi Candi Borobudur dan menjinakkan bom yang belum meledak.

Anggota Brimob itu yakni Sersan Kepala Sugiyanto. Pria asal Boyolali itu dengan berani menjinakkan bom yang belum meledak. Bersama dengan tim Jihandak (Penjinak Bahan Peledak) dari Kompi 5155 Brimob Jogja, dia menemukan 2 buah bom yang siap meledak.

Ternyata, pelaku teror berencana meledakkan 11 bom di Candi Borobudur. Pukul 08.00 WIB adalah tenggat waktu bom terakhir meledak. Sembilan buah bom meledak dan 2 bom dapat dijinakkan Sugiyanto. Hebatnya, dia menjinakkan itu seorang diri.

“Saat itu peralatan belum seperti sekarang. Berbekal seragam dinas Brimob dan tekad baja, saya melakukan aksi penjinakan bom itu. Dalam benak saya, hanya Allah yang dapat menyelamatkan nyawa saya kalau bom itu meledak ketika tengah saya tangani,” ucap Sugiyanto seperti dilansir Tribrata Polda Jateng, Jumat (9/11/2018).

Dalam proses penjinakan bom itu, Sugiyanto hanya membawa sebuah tool kit standar operator penjinak, selimut bom, dan sebuah metal detector. Tidak ada X-ray seperti saat ini, yang dapat menembus sekat. Sehingga benda yang ada di dalamnya dapat dideteksi.

“Pada waktu itu, bom terbungkus kertas tebal dengan perekat lakban. Seingat saya, benda itu cukup besar. Saya tidak bisa mengetahui apa isi di dalamnya,” terang dia.

Ia bercerita, bom yang berhasil dijinakkannya berupa dinamit dengan berat sekitar 1 kg. Dinamit itu dilengkapi dengan sebuah inisiator, 2 baterai dan sebuah timer.

Tanpa body protector dan peralatan canggih, Sugiyanto berhasil mencegah 2 stupa luluh lantak karena ledakan. Atas jasanya ini, Sugiyanto mendapatkan penghargaan dari Kapolri berupa kesempatan untuk melanjutkan jenjang karier menjadi perwira Polri.

2 dari 3 halaman

Misteri Peneror Candi

Bayang-bayang akan adanya serangan terhadap Borobudur sudah tercium jauh-jauh hari. Saat proses pemugaran berlangsung, 10 Agustus 1973 hingga diresmikan 23 Februari 1983, Daoed Joesoef yang menjadi tokoh di balik pemugaran Borobudur mengaku kerap menerima surat kaleng dan selebaran gelap. Isinya berupa makian, hujatan, dan kutukan.

“Isinya berupa makian, hujatan dan kutukan bahwa saya orang kafir. Karena bertanggung jawab atas pembangunan berhala terbesar di Tanah Air,” ujar Daoed.

Menurut dia, dari gaya bahasa yang dipakai dan ayat-ayat yang diketengahkan, sebenarnya sudah jelas si penulis surat kaleng hidup dan berada di lingkungan yang mana.

Spekulasi pelaku peledakan pun bermunculan. Pemerintah mengarahkan kecurigaan pada kelompok Islam radikal. Ketegangan antara pemerintah dan kelompok Islam memang meningkat sejak peristiwa Tanjung Priok pada September 1984 dan penolakan asas tunggal Pancasila.

Tiga bulan berlalu, sosok di balik pengeboman Candi Borobudur masih dalam penyelidikan intensif. Sampai akhirnya muncul kejadian meledaknya sebuah bus bernama Pemudi Express di Banyuwangi, Jawa Timur.

Dari situlah akhirnya terbongkar, jika bus itu meledak lantaran ada bom yang dibawa penumpangnya. Bom itu tak tahan panas, lantaran bergesekan dengan mesin mobil.

Polisi pun bergerak cepat, bom yang meledak di Pemudi Express menjadi titik masuk untuk memburu pelaku bom Candi Borobudur, yang kemudian merujuk pada nama Abdul Kadir Al-Habsy.

Ia pun diamankan dan terbongkarlah jika bom dalam mobil itu akan diledakkan di Bali, dengan sasaran hotel-hotel atau tempat prostitusi di Pulau Dewata.

Dari sini muncul nama Husein bin Ali Al-Habsyi, yang tak lain kakak kandung dari Kadir. Keduanya pun ditetapkan sebagai tersangka.

Kadir mengakui jika bom itu berkaitan dengan kejadian Borobudur. Namun Husein menolak keras jika disebut terlibat. Sampai kemudian muncul nama otak di belakang kejadian itu adalah Mohammad Jawad alias Krisna alias Abu Mahdi.

Pria yang disebut-sebut sebagai ustaz asal Jakarta itulah yang disebut Kadir dan Husein sebagai dalang. Namun demikian, ia raib tak berbekas.

Di pengadilan jaksa penuntut menuduh mereka meledakkan Borobudur sebagai balas dendam atas peristiwa Tanjung Priok 1984. Mereka menolak tuduhan jaksa, tapi pengadilan tetap memutuskan mereka bersalah.

Kadir kemudian divonis 20 tahun penjara dan Husein dihukum seumur hidup. Tapi Husein mendapatkan grasi dari pemerintah Habibie pada 23 Maret 1999. Sedangkan siapa Mohammad Jawad hingga kini masih misteri. Siapa Jawad tak ada yang mengetahui. Bahkan, termasuk Kadir dan Husein yang juga hanya mengenal orang itu dalam waktu singkat.

3 dari 3 halaman

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Bung Besar juga Kena Sita

<!–

Caption / Nama penulis / Reporter / Narasumber

Ilustrasi : Nama ilustrator

–>

Dari dulu sampai hari ini, komunisme dan segala hal yang berbau, bahkan meski baunya hanya samar-samar sekalipun, termasuk buku, selalu dicurigai hendak menyebarkan ideologi itu. Beberapa hari lalu, prajurit-prajurit TNI di sejumlah tempat, di Kecamatan Pare, Kediri, Jawa Timur, juga di kota Padang, Sumatera Barat, menyita beberapa buku dari lapak penjual buku. Dalihnya kurang lebih seragam yakni buku-buku itu dianggap menyebarkan komunisme.

Di antara buku yang disita adalah Orang-orang di Persimpangan Kiri Jalan karya Soe Hok Gie, Sukarno, Orang Kiri, Revolusi, dan G30S 1965 karya sejarawan Ong Hok Ham, Jas Merah yang ditulis oleh Wirianto Sumartono, dan Mengincar Bung Besar – Tujuh Upaya Pembunuhan Presiden Sukarno yang ditulis tim Historia.

Melarang buku sejarah soal PKI atau komunisme atau buku soal apa pun di zaman internet ini sebenarnya agak sulit dimengerti. Semua orang, asal punya kuota internet, dengan gampang membaca Das Kapital karya ‘nenek moyangnya’ komunisme, Karl Marx, atau Negara dan Revolusi karya Vladimir Lenin atau surat terakhir yang ditulis gerilyawan kiri Ernesto ‘Che’ Guevara kepada Fidel Castro. Bahkan versi berbahasa Indonesia-nya sekali pun.

Jadi pertanyaan pula, mengapa buku seperti Jas Merah yang memuat pidato-pidato Bung Karno, dan tulisan tim Historia soal upaya pembunuhan Presiden Sukarno juga ikut kena garuk? Bonnie Triyana, ketua tim penulis Historia, tak habis pikir bagaimana buku yang acara peluncurannya dihadiri oleh Megawati Soekarnoputri dan mantan Wakil Presiden Jenderal (purn.) Try Sutrisno kena sita tentara. Dia meminta TNI menjelaskan alasan penyitaan bukunya. “Peluncuran bukunya saja yang menghadiri purnawirawan Jenderal TNI, masa bukunya disita dengan tuduhan komunisme?” kata Bonnie.

Dulu, Kejaksaan Agung juga pernah melarang peredaran buku soal Bung Karno. Judulnya sangat panjang, The Devious Dalang, Sukarno and the So-called Untung-putsch, Eye witness Report by Bambang S. Widjanarko. Penerbitnya Interdoc Publishing Houses, di Van Stolkweg 10, The Hague, Belanda. Buku ini sebenarnya sudah terbit pada 1974, namun baru pada Agustus 1990, beberapa hari setelah Jaksa Agung Singgih dilantik, buku itu dilarang beredar di Indonesia.

Akan Bebas, Abu Bakar Ba’asyir Tetap Tolak Taat Pancasila

Jakarta

Pendiri Jamaah Anshorut Tauhid (JAT), Abu Bakar Ba’asyir, yang mendekam di penjara dalam kasus terorisme, dijadwalkan akan segera dibebaskan.

Begitu bebas, Abu Bakar Ba’asyir akan kembali berdakwah, seperti diungkapkan seorang putranya, Abdul Rochim Ba’asyir. Betapapun, kesibukan dakwah itu kemungkinan akan jauh berkurang.

“Kondisi beliau sudah tidak seperti dulu dan sudah tua. Kegiatan dakwah mungkin akan berkurang. Beliau akan lebih banyak beristirahat di rumah,” ujar Rochim.

Putra bungsu Ba’asyir itu juga mengatakan bahwa keluarganya sangat bersyukur atas bebasnya pendiri Pondok Pesantren Al Mukmin Ngruki itu.

“Untuk syukuran keluarga dengan mengundang tetangga dan sekitarnya. Insyaallah nanti pesantren juga akan melakukan persiapan untuk penyambutan. Hari ini akan koordinasi dengan pesantren,” kata Rochim.

“Hanya taat kepada Islam” Bebasnya Abu Bakar Ba’asyir setelah persyaratan bebas bersyarat “diringankan” dengan menekankan ia hanya akan “taat kepada Islam.”

Pemilihan kata-kata dalam surat pernyataan itu, menurut Yusril Ihza Mahendra, penasihat hukum pasangan calon Presiden/Wakil Presiden Joko Widodo-Ma’ruf Amin, disepakati setelah Ba’syir menolak menandatangani dokumen pembebasan bersyarat yang mencakup taat kepada Pancasila.

“Yang harus ditandatangani Pak Ba’asyir agak berat bagi beliau karena beliau punya keyakinan yang dipatuhi hanya Allah, hanya Tuhan dan beliau menyatakan hanya taat kepada Islam. ‘Jadi kalau saya diminta tanda tangan taat kepada Pancasila, saya tak mau’,” kata Yusril tentang isi percakapannya dengan Ba’syir di Lembaga Pemasyarakatan Gunung Sindur, Bogor.

“Beliau hanya ingin taat kepada Islam dan kita memahaminya…Tak ada pertentangan antara Islam dan Pancasila dan tak mau berdebat panjang dengan Pak Ba’asyir,” tambah Yusril dalam wawancara dengan wartawan BBC News Indonesia, Endang Nurdin, Jumat (18/01).

Ba’asyir telah menjalani hukuman selama sembilan tahun dari 15 tahun hukuman penjara karena dinyatakan bersalah pada Juni 2011 dalam kasus mendanai pelatihan teroris di Aceh dan mendukung terorisme di Indonesia.

Ulama berusia 81 tahun ini sebelumnya ditahan di Nusakambangan, Cilacap, namun dipindahkan ke LP Gunung Sindur, Bogor dengan alasan kesehatannya menurun.

Yusril mengatakan Ba’asyir telah mendapatkan remisi tiga kali dan berhak untuk bebas bersyarat dan menyatakan telah mendapatkan persetujuan dari Presiden Joko Widodo untuk membebaskannya dari penjara dengan “pertimbangan kemanusiaan” karena “sudah berusia 81 tahun dengan kondisi kesehatan yang semakin menurun, dengan pembengkakan kakinya yang berwarna hitam.”

Namun, Abdul Rochim Ba’asyir mengakui bahwa kondisi kesehatan bapaknya semakin membaik setelah mendapatkan perawatan rutin selama menjadi tahanan di LP Gunung Sindur.

“Kaki beliau yang bengkak sudah mulai berkurang dan keluhan sering kram dan pinggang sering sakit,” ungkap Rochim.

Proses administrasi pembebasan Ba’asyir tidak akan memakan waktu lama namun dia sendiri meminta waktu tiga sampai lima hari untuk berkemas, kata Yusril.

Tak lagi mendukung ISIS Peneliti terorisme Sidney Jones menyatakan Ba’asyir sempat dibaiat sebagai pengikut gerakan yang menamakan diri ISIS, yang muncul saat Ba’asyir sudah di dalam penjara.

Namun Sidney menyatakan pengaruh dua putra Ba’asyir menyebabkan ulama ini tak lagi menjadi pendukung gerakan kekhalifahan itu.

“Melalui pengaruh anaknya Ba’asyir tak lagi pro ISIS… jelas anaknya Abdul Rochim dan Abdul Rosyid tidak mendukung ISIS. Itu bisa berarti bahwa mereka bisa mempengaruhi bapaknya dan kalau begitu, mungkin tak jadi risiko kalau sudah bebas. Karena jelas unsur pro-ISIS adalah kelompok yang paling berbahaya di Indonesia sekarang ini,” kata Sidney.

Putra Ba’asyir, Abdul Rochim, yang ikut mendampingi Yusril Ihza Mahendra mengatakan ayahnya akan langsung pulang ke Solo setelah dibebaskan, “kemungkinan Senin atau Selasa”.

Menyusul serangan bom Bali pada 2002, Ba’asyir ditetapkan sebagai tersangka dan divonis dua tahun enam bulan setelah dinyatakan berkomplot dalam kasus terorisme tersebut. Setelah bebas pada Juni 2006, ia kembali ditahan pada Agustus 2010 dengan tuduhan terkait pendirian kelompok militan di Aceh.

Ba’asyir ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus serangan bom di Bali pada 2002. Ia divonis 2,6 tahun penjara setelah dinyatakan berkomplot dalam kasus itu.

Jamaah Anshorut Tauhid (JAT) pada tahun 2012 ditetapkan oleh Departemen Luar Negeri AS, dalam daftar organisasi teroris asing (FTO).

Saat itu, JAT dicurigai terlibat dalam berbagai kejahatan antara lain perampokan bank untuk mendanai kegiatan mereka, termasuk serangan bom bunuh diri di sebuah gereja di Solo, Jawa Tengah tahun lalu dan sebuah masjid di Cirebon, Jawa Barat.

JAT didirikan oleh Ba’asyir setelah keluar dari Jemaah Islamiah, yang dinyatakan berada di belakang bom Bali 2002 dan beberapa kasus terorisme.


(nvc/nvc) <!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

2 WNI Bebas dari Hukuman Mati di Malaysia, Bagaimana Nasib 100 Lainnya?

Kuala Lumpur

Siti Nurhidayah dan Mattari dipulangkan ke keluarga mereka di Indonesia setelah dibebaskan dari hukuman mati di Malaysia. Mereka adalah dua dari lebih dari seratus WNI yang terancam hukuman mati.

Siti Nurhidayah, WNI asal Brebes, Jawa Tengah, ditangkap pada 6 November 2013 dalam penerbangan transit di Penang dari Guang Zhou dan dinyatakan terbukti membawa narkotika jenis shabu.

Namun Tim Perlindungan WNI yakin bahwa Siti adalah korban penipuan. Dan dalam proses persidangan, pengacara berhasil menghadirkan sejumlah saksi kunci yang menguatkan hal itu. Dia pun dibebaskan dari semua dakwaan pada 15 November 2018.

Sementara itu Mattari ditangkap pada 14 Desember 2016 di sebuah proyek konstruksi tempatnya bekerja di Selangor, Malaysia, karena dituduh melakukan pembunuhan terhadap seorang warga Bangladesh yang jenazahnya ditemukan dekat tempatnya bekerja.

Setelah pengacara yang disediakan KBRI berhasil meyakinkan bahwa bukti-bukti yang ada tidak memadai, hakim di Mahkamah Tinggi Syah Alam pun membebaskan Mattari dari semua tuduhan pada 2 November 2018.

“Hasil pendalaman Tim Perlindungan WNI terhadap dua kasus ini memperkuat keyakinan bahwa Siti Nurhidayah adalah korban penipuan. Demikian pula dengan Mattari adalah korban salah tangkap”, ujar Lalu Muhamad Iqbal, Direktur Perlindungan WNI Kementerian Luar Negeri, dalam pernyataan persnya.

“Karena itu kita berikan pendampingan dan pembelaan semaksimal mungkin.”

Bagaimana dengan lebih dari 100 lainnya?

Siti Nurhidayah dan Mattari adalah dua dari 134 WNI yang saat ini terancam hukuman mati di Malaysia.

Kantor berita Antara melaporkan bahwa sejak 2011, terdapat 442 WNI terancam hukuman mati di seluruh Malaysia, 308 di antaranya berhasil dibebaskan.

death sentence
Sejak 2011, terdapat 442 WNI terancam hukuman mati di seluruh Malaysia, 308 diantaranya berhasil dibebaskan. (Getty Images)

Namun, Wahyu Susilo, Direktur Eksekutif Migrant CARE, optimistis bahwa mereka bisa dibebaskan bula, sebagaimana Siti Nurhidayah dan Mattari, karena saat ini pemerintah Malaysia secara perlahan sedang menghapus pidana mati.

“Karena peta jalan moratorium hukuman mati Malaysia ada progressnya. Mereka sudah melakukan ini sejak 2010,” kata Wahyu Susilo.

Yang tersisa kebanyakan eks pejuang GAM

Wahyu menambahkan bahwa sebagian besar dari seratusan WNI yang dalam status terpidana mati adalah “para pejuang GAM asal Aceh yang melarikan diri ke Malaysia.”

“Mereka itu sebenarnya dijebak. Dulu ada namanya Operasi Jaring Merah, di zaman Soeharto. Aparat Indonesia dan aparat Malaysia datang ke pemukiman-pemukiman orang Aceh, kemudian menyusupkan barang yang diduga narkotika,” papar Wahyu.

Bahkan, menurut Wahyu, sebagian dari dari 308 orang yang telah dibebaskan itu adalah tahanan asal Aceh yang dijebak itu.


(ita/ita) <!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Barcelona vs Levante: Rakitic Kaget Chumi Bermasalah

Liputan6.com, Barcelona – Barcelona lolos ke perempat final Copa del Rey setelah unggul agregat 4-2 dari Levante. Pada leg kedua, Jumat (18/1/2018) dini hari WIB di Camp Nou Stadium, Barcelona menang 3-0.

Dua gol Barcelona dicetak oleh Ousmane Dembele (dua gol) dan Lionel Messi. Namun, bukan mereka yang dibicarakan, melainkan Juan Brandariz atau yang dipanggil Chumi.

Chumi merupakan pemain berusia 19 tahun, yang dimainkan Barcelona pada leg pertama babak 16 besar Copa del Rey. Sebelum tampil di Copa del Rey, Chumi dalam situasi sanksi larangan bermain karena akumulasi kartu kuning yang dia dapatkan saat bermain dengan Barca B di pentas Segunda B.

Masalah Chumi ini rupanya membuat gelandang Barcelona, Ivan Rakitic terkejut. Dia tak tahu pemain tersebut sedang terkena akumulasi kartu.

“Akumulasi Chumi? Saya baru tahu itu beberapa jam sebelum pertandingan (leg kedua). Ketika saya bangun tidur siang, kami mendapat banyak pesan. Namun kami fokus untuk memperhatikan hal lain,” ucap gelandang Barcelona asal Kroasia itu, dikutip dari Football Espana.

2 dari 3 halaman

Terancam Didiskualifikasi

Dengan memainkan pemain ilegal, Barcelona terancam didiskualifikasi. Sebab, Levante telah melaporkan Barcelona memainkan pemain ilegal pada leg pertama kepada RFEF, Federasi Sepak Bola Spanyol.

“Tidak ada yang membicarakannya karena itu bukan sesuatu yang bisa kami ubah,” kata Rakitic.

“Namun yang terpenting bagi kami, Barcelona bisa memainkan pertandingan hebat dan terus melaju,” ujar gelandang Barcelona berusia 30 tahun itu.

3 dari 3 halaman

Tuduhan Lucu

Barcelona menolak keras sudah memainkan pemain ilegal saat menghadapi Levante pada leg pertama 16 besar Copa del Rey 2018-2019. Saat itu, Barcelona kalah 1-2 dari Levante.

Barcelona menilai tuduhan sudah memakai pemain ilegal sebagai hal yang lucu. Mereka punya alasan kuat tidak melakukan kesalahan.

“Yang lucu adalah bahwa seorang dari federasi belum memberi tahu apa pun kepada kami. Itu logika kami untuk melihat situasi Chumi,” ucap Josep Vives, juru bicara Barcelona, dikutip dari Marca.

Saksikan video pilihan berikut ini:

Kemlu RI Pulangkan WNI yang Bebas dari Ancaman Hukuman Mati di Malaysia

Liputan6.com, Jakarta – Kementerian Luar Negeri RI telah memulangkan dan menyerahterimakan dua WNI yang terbebas dari ancaman hukuman mati di Malaysia kepada pihak keluarga. Prosesi itu dilaksanakan di Kemlu RI Jakarta pada 17 Januari 2019.

Kedua WNI tersebut adalah Siti Nurhidayah asal Brebes, Jawa Tengah, dan Mattari asal Bangkalan, Madura.

Siti Nurhidayah (SN) ditangkap pada 6 November 2013 dalam penerbangan transit di Penang dari Guang Zhou membawa narkotika jenis sabu. Hasil pendalaman Tim Perlindungan WNI menguatkan keyakinan bahwa SN adalah korban penipuan.

Dalam proses persidangan, pengacara berhasil menghadirkan sejumlah saksi kunci yang mengetahui dan bersaksi bahwa SN adalah korban. SN dibebaskan dari semua dakwaan pada 15 November 2018.

“Hasil pendalaman Tim Perlindungan WNI terhadap 2 kasus ini memperkuat keyakinan bahwa Siti Nurhidayah adalah korban penipuan. Demikian pula dengan Mattari adalah korban salah tangkap. Karena itu kita berikan pendampingan dan pembelaan semaksimal mungkin,” ujar Lalu Muhamad Iqbal, Direktur Perlindungan WNI Kementerian Luar Negeri RI, dalam rilis yang diterima Liputan6.com, Jumat (18/1/2019).

Sementara itu, Mattari ditangkap pada 14 Desember 2016 di sebuah proyek konstruksi tempatnya bekerja di negara bagian Selangor, Malaysia. Mattari dituduh melakukan pembunuhan terhadap seorang WN Bangladesh yang jenazahnya ditemukan dekat tempatnya bekerja.

Pengacara KBRI Kuala Lumpur, Gooi & Azzura, berhasil meyakinkan hakim bahwa bukti-bukti yang ada tidak memadai, khususnya karena tidak ada saksi yang melihat atau mengetahui langsung kejadian tersebut. Pada 2 November 2018, Hakim di Mahkamah Tinggi Syah Alam membebaskan Mattari dari semua tuduhan. Namun demikian, baru 8 Januari 2019, ijin pemulangan diterima dari Imigrasi Malaysia.

“Selama proses hukum, KBRI selalu memberikan pendampingan kepada keduanya. Termasuk dalam bentuk memfasilitasi komunikasi dengan keluarga masing-masing,” ungkap Galuh Indriyati, staf KBRI Kuala Lumpur yang selama ini melakukan kunjungan ke penjara dalam rangka pendampingan bagi WNI yang menjalani proses hukum di wilayah kerja KBRI Kuala Lumpur.

Sementara itu, putra tunggal Siti Nurhidayah, Muhamad Ali Al Farisi atas nama keluarga menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah atas pendampingan dan pembelaaan yang diberikan kepada ibunya.

“Saya tidak tahu harus mengucapkan apalagi selain terima kasih kami sekeluarga atas perjuangan Pemerintah membebaskan Ibu saya yang korban penipuan. Semoga menjadi pelajaran bagi yang lain,” ujar mahasiswa semester 8 Teknik Elektronika yang ditinggal ibunya saat di kelas 2 SMA ini.

Sejak 2011, sebanyak 442 WNI terancam hukuman mati di Malaysia. Pemerintah berhasil membebaskan sebanyak 308 WNI dan saat ini masih ada 134 WNI terancam hukuman mati, menurut data Kementerian Luar Negeri RI.


Simak video pilihan berikut:

2 dari 2 halaman

WNI Dibebaskan dari Sandera Abu Sayyaf di Filipina

Di lain kabar, seorang nelayan warga negara Indonesia (WNI) yang menjadi sandera Abu Sayyaf, Samsul Saguni, dilaporkan telah dibebaskan dari sekapan kelompok separatis yang berbasis di sekitar kepulauan selatan Filipina itu.

Menurut keterangan dari Direktur Perlindungan WNI Kementerian Luar Negeri Indonesia, Lalu Muhammad Iqbal, Samsul dilepaskan pada Selasa, 15 Januari 2019, sekitar pukul 15.35 waktu setempat.

“Samsul Saguni saat ini masih berada di Pangkalan Militer Westmincom di Jolo, Filipina Selatan, guna pemeriksaan kesehatan dan menunggu diterbangkan ke Zamboanga City,” tutur Iqbal saaat dihubungi Liputan6.com pada Rabu (16/1/2019).

Setelah diserahterimakan secara resmi kepada KBRI Manila, Samsul akan diproses pemulangannya ke Indonesia. Meski demikian, waktu pengembalian korban ke Tanah Air belum bisa dipastikan.

“Tergantung kondisi di Filipina,” ujar Iqbal.

Samsul Saguni diculik pada 11 September 2018 di perairan pulau Gaya, Semporna, Sabah. 

Seorang WNI lainnya atas nama Usman Yunus, yang diculik oleh Abu Sayyaf bersamaan dengan Samsul, telah lebih dahulu bebas pada tanggal 7 Desember 2018.

Sebelumnya, keduanya disekap bersama dengan tiga korban penculikan lainnya –seorang warga negara Malaysia dan dua orang WNI– di perairan Kinabatangan, dekat dengan Pulau Tawi Tawi di Filipina, ketika menangkap ikan di wilayah ini. Baca selengkapnya…

Netizen Kecewa dengan Debat Capres yang Kaku dan Kurang Menarik

Jakarta

Reaksi yang bermunculan dari netizen di media sosial menyatakan kecewa dengan debat perdana presiden dan wakil presiden di Indonesia hari Kamis (17/1/2019) malam yang dianggap tidak menarik dan kaku.

Debat perdana capres

  • Tema debat perdana capres/cawapres Indonesia adalah hukum, HAM, terorisme dan korupsi
  • Pengamat mengatakan debat berlangsung kurang menarik karena para calon seperti sudah menghapalkan jawaban mereka
  • Akan ada empat debat lagi sampai pemilihan umum dan pemilihan presiden dilangsungkan 17 April 2019

Setelah debat selesai, media sosial dipenuhi dengan berbagai komentar, sehingga hashtag #DebatePilpres2019 menjadi nomor satu menjadi topik pembicaraan di Twitter untuk topik dunia.

Namun ketika debat dimulai antara Presiden Joko Widodo dan calon presiden Prabowo Subianto, beberapa pendapat muncul menyatakan bahwa kedua calon presiden hanya mengulangi apa yang sudah disampaikan sebelumnya dan berbicara seperti pidato dan bukan berdebat.

Sebuah pendapat bahkan mengatakan debat ini mirip seperti debat di SMA.

“Ini bukan, namun kompetisi menghapal. Mereka menjawab satu kali jawaban dari lawan dan setelah itu selesai. Murid SMA bahkan lebih baik dari ini dan mereka melakukannya dalam bahasa Inggris.” tulis seseorang di Twitter.

Ketika mendapat pertanyaan mengenai rencana mereka mencegah serangan teroris dan radikalisasi, Prabowo menjawab dengan mengatakan ‘adanya campur tangan dari luar negeri ‘ dan masih tidak adanya ketidakadilan di dalam negeri.

“Saya akan mendukung program deradikalisasi. Saya akan memberikan perhatian serius ke pesantren, ke guru-guru, dan warga kita semua guna meningkatkan taraf hidup mereka – sehingga mereka tidak merasa dikecewakan dan membenci negeri ini.” katanya.

Setelah adanya jawaban yang sama dari kubu lainnya, beberapa komentator mengatakan debat antara kedua calon presiden itu ‘tidak dinamis’, karena masing-masing pihak tidak mempersiapkan pertanyaan lanjutan guna menyerang lawan debat mereka.

“Ini mungkin disebabkan karena mereka tidak menguasai masalah terorisme di Indonesia.”

Indonesian President Joko Widodo delivers a speech dressed in white with running mate Ma'ruf Amin.
Presiden Jokowi dan cawapres Ma’ruf Amin ketika menyampaikan visi mereka dalam debat capres perdana hari Kamis malam. (AP: Tatan Syuflana)

Ini adalah untuk keduakalinyaJokowi-Prabowo menjadi calon presiden

Sama seperti yang biasa terjadi dalam kampanye politik di Indonesia, para capres dan cawapres datang mengenakan seragam yang sama, dengan Prabowo Subianto dan cawapres Sandiaga Uno tiba lebih awal di lokasi debat dengan setelan jas warna biru, dan dasi merah darah.

Presiden Jokowi dan cawapres Mar’uf Amin mengenakan baju putih dan tiba terlambat karena macet.

Ini adalah untuk kedua kalinya Presiden Joko Widodo menghadapi Prabowo Subianto dalam pemilihan presiden.

Di tahun 2014, Jokowo mengalahkan Prabowo dengan mendapat 53 persen suara.

Namun selama pemerintahannya empat tahun terakhir, para pendukung Prabowo seringkali mempertanyakan latar belakang “keislaman” Presiden Jokowi.

Dan tahun ini Jokowi memilih Ma’ruf Amin, ulama berusia 75 tahun yang sebelumnya menjadi Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) sebagai pendampingnya.

Sementara itu, Prabowo memilih Sandiaga Uno mantan wakil gubernur DKI Jakarta, seorang pengusaha muda yang sering digambarkan sebagai memiliki daya tarik kuat untuk menggaet generasi milenial di Indonesia.

Indonesian presidential candidate Prabowo Subianto delivers his speech from behind a podium.
Capres Prabowo Subianto didampingi oleh cawapres Sandiaga Uno. (AP: Tatan Syuflana)

Unsur agama menjadi salah satu perhatian utama netizen di media sosial dengan banyak postingan membicarakan doa yang dilakukan kedua pasangan calon sebelum debat dilangsungkan.

Pendukung Jokowi mengirim cuitan bahwa presiden dan Mar’uf Amin sholat di mesjid sebelum debat dimulai.

Yang lain mengatakan bahwa Prabowo dan Sandiaga juga sholat bersama.

Tema debat perdana ini adalah masalah hukum, HAM, terorisme, dan korupsi, namun para pengamat mengatakan karena tema dan pertanyaan sudah dibocorkan sebelumnya, sehingga debat berlangsung kurang menarik.

“Inilah akibatnya bila pertanyaan sudah diberikan kepada para calon.” kata Feri Amsari, Direktur Pusat Studi Konstitusi Universitas Andalas Padang.

“Debat menjadi kurang menarik karena para calon seperti menghapal jawaban mereka.” katanya kepada televisi lokal ketika debat berlangsung.

Apa yang dilakukan para calon harus dihargai

Dalam pidato pembukaannya, Presiden Jokowi yang menggunakan teks yang sudah dipersiapkan menyampaikan visinya mengenai Indonesia.

Sementara itu, Prabowo tampak lebih percaya diri dalam pidato yang tanpa teks, selain berbicara sendiri, Prabowo juga memberikan kesempatan kepada Sandiaga Uno juga berbicara.

Namun pidato Prabowo dikritik karena hanya mengulangi apa yang sudah disampaikan sebelumnya dalam kampanye.

Meski debat mendapat banyak kritikan, Jokowi mendapat pujian karena lebih berani dalam jawaban-jawaban debat.

Beberapa kali Presiden Jokowi memberi jawaban atas tuduhan lawan dengan mengatakan ‘jangan hanya menuduh, beri bukti dan laporkan ke pihak berwenang.”

Namun banyak netizen merasa kecewa karena kedua calon tidak membahas penuh masalah-masalah utama seperti keterlibatan militer dalam memerangi terorisme, UU ITE yang kontroversial, dan status dan masa depan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Sebelumnya juga diduga bahwa kedua pasangan calon sudah setuju untuk tidak membicarakan masalah HAM yang kontroversial.

Namun Usman Hamid dari Amnesty International Indonesia mengatakan apa yang sudah dilakukan para calon harus dihargai.

Indonesian President Joko Widodo and Prabowo Subianto laugh as they sit next to each other in a crowd.
Muncul spekulasi bahwa kedua calon presiden tidak mau membicarakan masalah HAM dalam debat semalam. (AP: Tatan Syuflana)

“Pak Jokowi sudah memberikan komitmen untuk menempatkan masalah HAM lebih penting lagi dan Pak Prabowo juga sudah menyebut pentingnya hal tersebut.” kata Usman Hamid kepada Kompas TV.

Usman Hamid mengatakan kedua calon sudah berjanji untuk menghormati HAM ketika memerangi terorisme dan melakukan deradikalisasi meskipun mereka tidak memberi jawaban rinci mengenai hal tersebut ataupun apakah akan menjadi prioritas ketika mereka nanti berkuasa.

Dalam sesi terakhir, moderator memberikan kesempatan kepada para calon masing-masing dua menit untuk memberikan pendapat akhir mengenai lawan mereka, namun tawaran itu ditolak semua pihak.

Debat yang akan dilangsungkan empat kali lagi dilakukan setiap tanggal 17 sampai pemilu dilangsungkan 17 April 2019.

Debat kedua yang akan dilakukan bulan depan akan membicarakan masalah energi, pangan, infrastruktur, sumber daya alam, lingkungan hidup.

Lihat beritanya dalam bahasa Inggris di sini

(ita/ita) <!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Kasus Kaburnya Remaja Saudi Bikin Sikap Thailand ke Pengungsi Melunak?

Liputan6.com, Bangkok – Kepala imigrasi Thailand mengumumkan pada Rabu 16 Januari, bahwa pihaknya tidak akan lagi memaksa para pengungsi untuk pulang “tanpa pendampingan”, menyusul permohonan putus asa seorang remaja perempuan asal Arab Saudi untuk suaka, menarik perhatian global.

Thailand sendiri diketahui sebagai salah satu negara yang tidak menandatangani konvensi PBB tentang pengungsi, demikian sebagaimana dikutip dari Channel News Asia pada Kamis (17/1/2019).

Selain itu, Thailand juga telah lama dikecam karena kerap menahan sepihak para pengungsi, dan tidak jarang mengembalikan mereka ke negara asal yang memiliki rezim represif, sehingga berisiko menghadapi ancaman penjara atau hukuman yang lebih buruk.

Banyak kasus sejennis tidak terungkap ke permukaan, sebelum kemudian berubah ketika seorang remaja perempuan berusia 18, Rahaf Mohammed al-Qunun, kabur dari orang tuanya yang berkewarganegaraan Arab Saudi karena mengaku murtad, dan nyawanya tengah dipertaruhkan.

Qunun mengurung diri di sebuah hotel transit di Bandara Suvarnabhumi, Bangkok, ketika petugas imigrasi berusaha memaksanya pulang ke negara asal. Di tengah upaya memblokade diri, dia terus menerus mengetwit tentang ketakutan kembali ke negara dan keluarganya, karena ancaman pengabaian hak asasi manusia.

Rangkaian kicauannya menarik perhatian global, membuatnya mendapat perlindungan dari badan pengungsi PBB selama beberapa hari, sebelum kemudian diterbangkan ke Kanada untuk mendapatkan suaka di sana. Qunun mendarat di Toronto pada Sabtu 12 Desember, dan disambut oleh menter luar negeri setempat, Chrystia Freeland.

Qunun mengklaim dirinya mengalami pelecehan di Arab Saudi, dan menolak untuk melihat anggota keluarganya yang datang ke Thailand, untuk membujuknya pulang.

Pemrosesan kasusnya yang sangat cepat tidak pernah terjadi sebelumnya di Thailand, dan hal itu diawasi secara penuh oleh kepala imigrasi setempat, Surachate Hakparn.

Besarnya perhatian global terhadap kasus tersebut, menurut beberapa opini media lokal, membuat Thailand “tersentil” untuk melakukan reformasi terhadap kebijakan imigrasinya.


Simak video pilihan berikut: 

2 dari 2 halaman

Dituding Menyerah pada Tekanan

Menanggapi pertanyaan tentang perlakuan Thailand terhadap pengungsi, Surachate mengatakan di hadapan wartawan bahwa dia akan mengambil pendekatan baru, di mana “tidak akan ada yang dikirim kembali ke negara asal jika mereka tidak ingin kembali”.

Dia menambahkan bahwa sebagai kepala departemen imigrasu, “kami sekarang akan mengikuti norma-norma internasional.”

Namun, klaim itu disambut dengan skeptis oleh sebagian kalangan, menyusul penangkapan pemain sepak bola –yang juga pengungsi– Hakeem Alaraibi di Thailand November lalu, yang sebenarnya telah diberikan izin tinggal permanen di Australia, tetapi ditahan di bandara Bangkok ketika hendak pergi berlibur.

Alaraibi, mantan pemain tim nasional Bahrain, diburu atas tuduhan perusakan kantor polisi terkait peristiwa Arab Spring di Timur Tengah, beberapa tahun silam.

Namun, kelompok-kelompok pemerhati HAM mengatakan bahwa Alaraibi tengah bertanding saat kerusuhan merebak, dan tegas mengklaim bahwa tuduhan Bahrain adalah palsu.

Australia telah menyerukan agar Alaraibi dikembalikan ke negara itu, tempat di mana dia tinggal dan bermain untuk tim sepak bola kota Melbourne.

Surachate mengatakan kasus itu berbeda karena ada surat perintah penangkapan yang bersifat luar biasa mendesak dari Bahrai terhadap Alaraibi, tetapi kemudian mengatakan bahwa ia dapat memperdebatkan kasus tersebut di pengadilan.

“Pemrosesan Qunun tidak akan menjadi contoh untuk kasus-kasus imigrasi Thailand di masa depan,” tegas Surachate, seraya membantah bahwa pihaknya menyerah pada tekanan internasional pada kasus terkait.