Eden Hazard Bakal Selalu Bikin Manajer Chelsea Frustrasi

London – Eden Hazard mengaku akan selalu membuat manajer Chelsea frustrasi. Hazard menyebut manajer The Blues merasa frustrasi karena menuntutnya untuk selalu tampil apik.

Gelandang timnas Belgia itu merupakan pemain penting di lini tengah skuat London Biru. Mulai berseragam Chelsea pada 4 Juni 2012, Eden Hazard turut mempersembahkan lima trofi juara, termasuk dua gelar Premier League dan satu titel juara Liga Europa.

Penampilan apik Hazard masih berlanjut pada musim ini. Dia telah mendulang 12 gol dan 10 assist dari 28 pertandingan di seluruh ajang kompetisi bersama The Blues.

Meski begitu, performa impresif Eden Hazard masih belum mendongkrak posisi Chelsea di klasemen sementara Premier League. Klub asuhan Maurizio Sarri itu tertahan di posisi empat dengan nilai 47.

Alhasil, Sarri menuntut Hazard untuk terus mendulang gol. Situasi serupa juga pernah dialami pemain 28 tahun tersebut saat Chelsea masih ditangani Antonio Conte dan Jose Mourinho.

“Saya tidak hanya membuat Conte frustrasi. Dalam karier saya, saya telah membuat frustrasi semua manajer. Sekarang, saya membuat Sarri frustrasi. Saya membuat Mourinho frustrasi,” ujar Hazard.

“Mereka semua berpikir Anda perlu mencetak lebih banyak gol, melakukan lebih banyak hal, dan lebih banyak lagi. Saya juga akan membuat frustrasi manajer berikutnya yang saya miliki,” paparnya.

Eden Hazard memang pemain paling bersinar di Chelsea pada musim ini. Dengan koleksi 12 gol tersebut, Hazard menjadi top skorer The Blues, unggul tiga gol atas Alvaro Morata.

Sumber: FourFourTwo

Saksikan siaran langsung pertandingan-pertandingan Premier League, La Liga, Ligue 1, dan Liga Europa di sini:

Tanpa Higuain, AC Milan Bungkam Genoa

Liputan6.com, Genoa – AC Milan menaklukkan Genoa 2-0 pada lanjutan Serie A di Stadio Luigi Ferarris, Senin (21/1/2019). Tampil tanpa Gonzalo Higuain, yang hendak pindah ke Chelsea, I Rossoneri mencetak gol lewat Fabio Borini dan Suso. 

Borini membuka kemenangan AC Milan pada menit ke-72. Suso lalu menggandakan keungggulan tim tamu sepuluh meniit berselang.

AC Milan tertekan sepanjang babak pertama. Genoa memiliki peluang melalui Christian Kouame, Davide Biraschi, Darko Lazovic, dan Daniel Bessa. Namun, tidak ada yang berbuah gol.

I Rossoneri juga hampir tertinggal karena bunuh diri Tiemoue Bakayoko. Beruntung kiper Gianluigi Donnarumma bisa menghalau bola.

Di sisi lain, Lucas Paqueta hampir membuat gol pertama bagi AC Milan jika tendangan volinya tidak mengenai gawang.

2 dari 3 halaman

Babak Kedua

Kedua tim tetap saling jual beli serangan pada babak kedua. AC Milan mendapat kesempatan dua kali lewat Borini.

Sementara tuan rumah hampir unggul kalau sepakan Domenico Criscito tidak melebar. Donnarumma lalu melakukan penyelamatan ganda untuk mementahkan usaha beruntun Veloso dan Bessa.

AC Milan akhirnya unggul setelah Borini meneruskan umpan silang Andrea Conti. Namun, tidak lama berselang, Veloso menyaksikan tendangannya dimentahkan Donnarumma dan mengenai mistar.

Aksi heroik sang kiper akhirnya berbuah manis lewat gol Suso. Dia menjebol gawang Genoa lewat serangan balik memaksimalkan umpan Patrick Cutrone. Skor lalu tidak berubah. 

Kemenangan ini mengangkat I Rossoneri ke posisi empat klasemen sementara. Mereka memiliki 34 poin dari 20 laga, unggul satu nilai atas pesaing terdekat AS Roma. 

3 dari 3 halaman

Susunan Pemain

Genoa: Radu; Biraschi (Pereira 76), Romero, Zukanovic, Criscito; Lazovic, Rolon, Veloso (Dalmonte 84), Bessa; Kouame, Pandev (Favilli 58)

AC Milan: G Donnarumma; Abate, Musacchio, Zapata (Conti 14), Rodriguez; Paqueta, Bakayoko, Calhanoglu (Mauri 78); Suso (Castillejo 88), Cutrone, Borini

Punya DNA Juara, Allegri Minta Juventus Tetap Waspada

Liputan6.com, Turin – Hasil apik yang didapat Juventus sejauh musim ini tidak membuat pelatih Massimiliano Allegri lengah. Meski Bianconeri punya DNA sebagai tim juara, ia meminta anak asuhnya untuk tidak berleha-leha.

Juventus saat ini memuncaki klasemen Liga Italia Serie A dengan 53 poin. Keunggulan sembilan poin atas penghuni peringkat dua, Napoli, membuat Juventus semakin dekat dengan gelar Scudetto.

Ketegasan Juventus dalam meraih banyak trofi di musim ini pun telah terlihat saat mereka melakoni laga Supercoppa Italiana, Kamis (17/1/2019) lalu. Menghadapi musuh bebuyutannya AC Milan, Cristiano Ronaldo dan kolega menang dengan skor 1-0.

2 dari 3 halaman

Tetap Waspada

Selasa (22/1/2019), Juventus akan melakoni laga lanjutan Serie A kontra tim juru kunci klasemen, Chievo. Melihat perbedaan jauh pada klasemen, wajar jika Bianconeri diyakini bisa meraih tiga poin tanpa mengalami kesulitan berarti.

Namun, hal tersebut tidak membuat Allegri lengah. Sosok yang juga pernah melatih AC Milan tersebut berujar tim asuhannya harus tetap waspada, terlebih setelah kursi kepelatihan Chievo diisi oleh Domenico Di Carlo.

“Ini adalah laga Juventus-Chievo dan kami harus melakoninya dengan serius,” ujar Allegri dalam konferensi persnya, seperti yang dikutip dari Football Italia.

“Sejak Mimmo di Carlo mengambil alih, mereka berhasil meraih lima hasil imbang, satu kemenangan dan satu kekalahan. Mereka bisa percaya dan berjuang untuk mendapatkan tempat aman di Serie A hingga akhir,” sambungnya.

3 dari 3 halaman

Punya DNA Juara

Lebih lanjut, Allegri menuntut para anak asuhnya untuk sesegera mungkin menyelesaikan pertandingan dengan margin skor yang besar. Ia ingin Juventus tampil perkasa dan tak boleh membiarkan lawan mengejar ketertinggalan.

“Kami harus belajar cara menyelesaikan pertandingan, sebab saat lawan lengah, anda harus menghabisinya. Kami tak boleh memberi kesempatan kepada mereka untuk mengejar,” tambahnya.

“Skuat ini punya DNA juara dan itu artinya kami harus bekerja setiap harinya untuk menjadi lebih baik, serta tak boleh berpuas diri,” tandasnya.

Sebagai informasi, Juventus akan bertindak sebagai tuan rumah dalam laga kali ini. Pada pertemuan sebelumnya yang digelar di Marcantonio Bentegodi bulan Agustus lalu, Bianconeri keluar sebagai pemenang dengan skor tipis 3-2.

Sumber: Bola.net

Saksikan video pilihan berikut ini:

Edy Out dari PSSI, tapi Exco Asyik Rangkap Jabatan dan Atur Skor

JakartaEdy Rahmayadi out dari PSSI. Masalahnya belum tuntas di situ, sebab masih banyak anggota PSSI yang rangkap jabatan dan terlibat match fixing.

Edy mundur dari kursi ketua umum dalam Kongres PSSI di Sofitel, Nusa Dua, Bali, Minggu (20/1/2019) WITA. Ia meletakkan jabatannya saat persepakbolaan nasional masih dililit sejumlah masalah.

Tercatat, ada masalah laten yang masih belum tuntas sepeninggal Edy Rahmayadi. Pertama, adalah kekerasan pada suporter yang masih terus membuat nyawa bergelimpangan.

Sejak menjabat sebagai ketua umum pada 10 November 2016 hingga mundur hari ini, seperti dirangkum Save Our Soccer (SOS), perkumpulan pecinta sepakbola Indonesia, sebanyak 22 nyawa suporter melayang di era kepemimpinan Edy.
Terakhir dan tentu yang masih jelas diingatan adalah tewasnya suporter Persija Jakarta, Haringga Sirila. Haringga meninggal usai dikeroyok sejumlah oknum pendukung Persib Bandung. Sejauh ini, belum ada upaya dari PSSI untuk menjamin kasus tersebut tidak terulang di masa mendatang.

Yang kedua, masalah rangkap jabatan. Meski FIFA sudah jelas melarang para pengurus sepakbola rangkap jabatan, nyatanya federasi sepakbola Indonesia masih kerap melanggarnya.

Mereka yang di antaranya rangkap jabatan adalah para anggota Exco. Sebut saja Iwan Budianto, kepala Staf Ketum PSSI yang juga CEO Arema FC, Pieter Tanuri Exco PSSI yang juga CEO Bali United, hingga Joko Driyono sebagai Wakil Ketua Umum yang punya saham mayoritas di Persija Jakarta.

Bahkan, kini, Jokdri menjadi pelaksana tugas ketum PSSI menggantikan Edy Rahmayadi untuk sementara.

Edy juga merangkap jabatan, sebagai ketua umum PSSI sekaligus pembina PSMS Medan. Belum lagi Edy juga merangkap jabatan sebagai Gubernur Sumatera Utara.

Di dalam internal komite eksekutif, juga terjadi tumpang tindih. satu anggota exco memiliki dua atau tiga jabatan lain dalam komite. Menjadi ketua satu komite, namun juga menjabat sebagai wakil di komite lain.

Kemudian, masalah pengaturan skor. Problem yang sudah ada sejak lama itu masih menggerogoti sepakbola Indonesia. Bukan Edy selaku ketua umum, namun beberapa anggota PSSI yang terlibat. Johar Lin Eng (Asprov Jawa Tengah), yang juga anggota exco PSSI, dan Dwi Irianto (Anggota Komdis PSSI) yang sudah diciduk kepolisian, serta Hidayat, yang kemudian mundur dari kursi Exco.

Masalah-masalah teknis yang gagal dikerjakan PSSI juga mencuat, seperti menyiapkan Timnas Indonesia di berbagai turnamen. Kasus pemutusan kontrak Luis Milla menjadi indikator federasi tidak serius menyiapkan Skuat Garuda. Timnas Indonesia pun gagal total di Piala AFF 2018.

Ketidakbecusan PSSI mengatasi persoalan-persoalan itu membuat masyarakat yang menelan imbasnya: harus gigit jari melihat Tim Garuda mengangkat trofi juara.

Edy menyadari telah gagal menjalankan tugas untuk mengangkat prestasi dan menyelesaikan problem itu.

“Ini semua saya lakukan dalam kondisi sehat walafiat. Bertanggung jawab kalian. Saya mundur, karena saya bertanggung jawab,” kata Edy dalam pidato pembukaan Kongres PSSI.

(yna/fem)


Edy Out dari PSSI, tapi Exco Asyik Rangkap Jabatan dan Diduga Atur Skor

JakartaEdy Rahmayadi out dari PSSI. Masalahnya belum tuntas di situ, sebab masih banyak anggota PSSI yang rangkap jabatan dan diduga terlibat match fixing.

Edy mundur dari kursi ketua umum dalam Kongres PSSI di Sofitel, Nusa Dua, Bali, Minggu (20/1/2019) WITA. Ia meletakkan jabatannya saat persepakbolaan nasional masih dililit sejumlah masalah.

Tercatat, ada masalah laten yang masih belum tuntas sepeninggal Edy Rahmayadi. Pertama, adalah kekerasan pada suporter yang masih terus membuat nyawa berjatuhan.

Sejak menjabat sebagai ketua umum pada 10 November 2016 hingga mundur hari ini, seperti dirangkum Save Our Soccer (SOS), perkumpulan pecinta sepakbola Indonesia, sebanyak 22 nyawa suporter melayang di era kepemimpinan Edy.
Terakhir dan tentu yang masih jelas di ingatan adalah tewasnya suporter Persija Jakarta, Haringga Sirila. Haringga meninggal usai dikeroyok sejumlah oknum pendukung Persib Bandung. Sejauh ini, belum ada upaya nyata dari PSSI untuk menjamin kasus tersebut tidak terulang di masa mendatang.

Yang kedua, masalah rangkap jabatan. Meski FIFA sudah jelas melarang para pengurus sepakbola rangkap jabatan, nyatanya federasi sepakbola Indonesia masih kerap melanggarnya.

Mereka yang di antaranya rangkap jabatan adalah para anggota Exco. Sebut saja Iwan Budianto, kepala Staf Ketum PSSI yang juga CEO Arema FC, Pieter Tanuri Exco PSSI yang juga CEO Bali United, hingga Joko Driyono sebagai Wakil Ketua Umum yang punya saham mayoritas di Persija Jakarta.

Bahkan, kini, Jokdri menjadi pelaksana tugas ketum PSSI menggantikan Edy Rahmayadi untuk sementara.

Edy juga merangkap jabatan, sebagai ketua umum PSSI sekaligus pembina PSMS Medan. Belum lagi Edy juga merangkap jabatan sebagai Gubernur Sumatera Utara.

Di dalam internal komite eksekutif, juga terjadi tumpang tindih. satu anggota exco memiliki dua atau tiga jabatan lain dalam komite. Menjadi ketua satu komite, namun juga menjabat sebagai wakil di komite lain.

Kemudian, masalah pengaturan skor. Problem yang sudah ada sejak lama itu masih menggerogoti sepakbola Indonesia. Bukan Edy selaku ketua umum, namun beberapa anggota PSSI yang diduga terlibat dan bahkan sudah ada yang berstatus tersangka. Johar Lin Eng (Asprov Jawa Tengah), yang juga anggota exco PSSI, dan Dwi Irianto (Anggota Komdis PSSI) yang sudah diciduk kepolisian, serta Hidayat, yang kemudian mundur dari kursi Exco.

Masalah-masalah teknis yang gagal dikerjakan PSSI juga mencuat, seperti menyiapkan Timnas Indonesia di berbagai turnamen. Kasus pemutusan kontrak Luis Milla menjadi indikator federasi tidak serius menyiapkan Skuat Garuda. Timnas Indonesia pun gagal total di Piala AFF 2018.

Persoalan-persoalan itu tak kunjung diselesaikan PSSI secara tuntas, yang membuat masyarakat Indonesia menelan imbasnya: harus gigit jari melihat Tim Garuda mengangkat trofi juara.

Edy menyadari tak mampu menjalankan tugas untuk mengangkat prestasi dan menyelesaikan problem itu.

“Begitu berat saya rasakan. Untuk itu sampaikan ke rakyat PSSI ini milik rakyat seluruh Indonesia yang diwakilkan ke kita. Saya tak mampu lakukan ini saya mohon maaf,” kata Edy dalam pidato itu.

“Ini semua saya lakukan dalam kondisi sehat walafiat. Bertanggung jawab kalian. Saya mundur, karena saya bertanggung jawab,” kata Edy dalam pidato pembukaan Kongres PSSI.

(yna/fem)


Rekrutan Anyar AC Milan Tunjukkan Skill ala Bintang Brasil

Liputan6.com, Jakarta AC Milan resmi mendatangkan Lucas Paqueta di bursa transfer Januari 2019. Milan mendatangkan Paqueta dari klub asal Brasil, Flamengo.

Kabarnya, dana yang harud dibayar AC Milan untuk bisa mendapatkan Paqueta cukup mahal. Mereka harus membayar senilai 35 juta euro dan potensi bonus mencapai 10 juta euro.

AC Milan seolah memiliki tradisi merekrut bintang asal Brasil. Mulai dari Cafu, Kaka dan Thiago Silva.

Dan, untuk kepentingan membangun kembali tradisi itu, direktur sepakbola AC Milan, Leonardo – yang pernah menjadi bagian dari tim Brasil – menyodorkan nama Paqueta ke manajer Gennaro Gattuso.

Dengan nama-nama besar pendahulunya yang memberikan prestasi panjang, Paqueta sudah dimainkan dalam dua pertandingan pertamanya – keduanya bermain sejak awal.

2 dari 3 halaman

Tunjukkan Skill

Pemain berusia 21 tahun itu, langsung masuk ke trio gelandang muda AC Milan bersama Frank Kessie dan Tiemoue Bakayoko. Dan, saat melawan Juventus di Piala Super Italia, ia adalah gelandang terbaik di lapangan selama 45 menit pertama.

Kepercayaan diri dan kemampuan pendatang baru ini, sudah dibuktikannya. Paqueta memamerkan skill Back Heel Back Heel atau trik menendang dalam sepak bola yaitu menendang dengan menggunakan tumit kaki.

3 dari 3 halaman

Solusi

Paqueta datang saat posisi AC Milan sedang tak bagus pada musim 2018/19. Beban besar pun ditanggung oleh Paqueta. Sebab, Presiden AC Milan, Paolo Scaroni, yakin jika pemain 21 tahun mampu membawa Milan ke puncak lagi.

Dengan kondisi tersebut, Scaroni merasa jika Paqueta akan menjadi solusi bagi Milan pada sisa musim 2018/19. Milan yang akan mencapai hasil yang jauh lebih baik bersama pemain berusia 21 tahun tersebut.

Fakta Menarik Juventus vs Chievo

Liputan6.com, Jakarta – Pemimpin klasemen Serie A Juventus bakal mendapat lawan mudah di pekan 20 Serie A 2018-2019. I Bianconeri cuma menjamu tim juru kunci Chievo Verona. Simak beberapa data dan fakta yang melatarbelakangi pertandingan di Allianz Stadium ini.

Pada pertemuan pertama di Serie A musim ini (giornata 1), Juventus menang 3-2 di kandang Chievo. Juventus unggul lewat Sami Khedira menit 3, kemudian Chievo berbalik memimpin melalu Mariusz Stepinski menit 38 dan Emanuele Giaccherini menit 56 (penalti). Juventus menyamakan kedudukan lewat bunuh diri Mattia Bani menit 75, lalu memastikan kemenangan melalui Federico Bernardeschi di injury time. 

Laga kontra Chievo itu adalah laga debut Cristiano Ronaldo di Serie A. Ronaldo mencatatkan sembilan shots dan empat shots on target, tapi tak mencetak gol.

Dalam laga kandangnya melawan Chievo di Serie A musim lalu, Juventus menang 3-0 lewat bunuh diri Perparim Hetemaj serta gol-gol Gonzalo Higuain dan Paulo Dybala.

Juventus selalu menang dan selalu mencetak minimal dua gol dalam enam laga terakhirnya melawan Chievo di Serie A, kandang dan tandang.

Juventus tak terkalahkan dalam 17 laga terakhirnya melawan Chievo di Serie A (M12 S5 K0), sejak takluk 0-1 di Marc’Antonio Bentegodi pada musim 2010/11.

Juventus belum pernah kalah dalam laga-laga kandangnya melawan Chievo di Serie A (M11 S4 K0), mencetak 32 gol dan hanya kebobolan 13 gol.

Juventus selalu menang dengan margin minimal dua gol dan tanpa kebobolan dalam dua laga kandang terakhirnya melawan Chievo di Serie A: 2-0 pada musim 2016/17 dan 3-0 pada musim 2017/18.

2 dari 3 halaman

Masih Belum Terkalahkan

Juventus belum terkalahkan di Serie A musim ini (M17 S2 K0), sudah mencetak 38 gol dan baru kebobolan 11 gol.

Juventus selalu menang dalam lima laga kandang terakhirnya di Serie A: 3-1 vs Cagliari, 2-0 vs SPAL, 1-0 vs Inter Milan, 1-0 vs AS Roma, 2-1 vs Sampdoria.

Juventus memenangi sembilan dari sepuluh laga kandang yang sudah mereka mainkan di Serie A musim ini, hanya gagal menang ketika imbang 1-1 menjamu Genoa pada giornata 9.

Juventus selalu menang dengan margin satu gol dalam tiga laga kandang terakhirnya di Serie A.

Cristiano Ronaldo mencetak empat gol dalam empat penampilan terakhirnya untuk Juventus di Serie A.

Cristiano Ronaldo sudah mencatatkan total 125 tembakan dalam 19 penampilan di Serie A musim ini, lebih banyak dibandingkan pemain-pemain lain.

3 dari 3 halaman

Ronaldo Tersubur

Gol terbanyak untuk Juventus di Serie A 2018/19 sejauh ini: Cristiano Ronaldo (14).

Assist terbanyak untuk Juventus di Serie A 2018/19 sejauh ini: Cristiano Ronaldo (5).

Dalam laga terakhirnya di Serie A, Chievo menang 1-0 menjamu Frosinone lewat tendangan bebas Emanuele Giaccherini. Itu adalah kemenangan pertama Chievo di liga tertinggi Italia musim ini (M1 S8 K10).

Chievo baru mencetak 14 gol dan sudah kebobolan 35 gol di Serie A musim ini. Produktivitas gol Chievo adalah yang terburuk kedua di bawah Frosinone (12 gol). Sementara itu, angka kebobolan Chievo hanya lebih baik daripada Empoli dan Frosinone (masing-masing 37 gol).

Chievo tanpa kemenangan dalam sembilan laga tandang terakhirnya di Serie A (M0 S4 K5).

Chievo gagal mencetak gol dalam empat dari tujuh laga tandang terakhirnya di Serie A.

Gol terbanyak untuk Chievo di Serie A 2018/19 sejauh ini: Mariusz Stepinski (4).

Sumber Bola.net

Sempat Bengal di Inter Milan, Nainggolan Sudah Tobat?

Liputan6.com, Milan – Pelatih Inter Milan, Luciano Spalletti mengatakan pemain bengal Radja Nainggolan sudah menyesali perbuatan negatif yang pernah dilakukan.

Pada Desember 2018, Nainggolan sempat mendapat hukuman dari Inter Milan. Statusnya sebagai pemain dibekukan dan kena denda 100 ribu euro atau Rp 1,6 miliar.

Sanksi itu didapat setelah Nainggolan beberapa kali mangkir dari latihan. Karena hal itu juga, pemain yang memiliki darah Batak tersebut dicoret dalam daftar pemain Inter Milan melawan Napoli, 27 Desember 2018.

“Nainggolan? Dia mulai kembali ke kondisi kebugaran terbaiknya. Baginya, dia membutuhkan kondisi fisik terbaik untuk membuat perbedaan.”

“Dia menyesal tidak dalam performa terbaik selama periode terakhir ini. Namun, dia sudah kembali menjadi pemain yang kita semua harapkan dan ia akan menunjukkannya mulai saat ini hingga akhir musim,” ucap Spalletti, seperti dikutip dari situs resmi Inter Milan.

2 dari 3 halaman

Bidik Papan Atas

Dengan penyesalan Nainggolan, Spalletti berharap Inter Milan bisa mempertahankan posisi papan atas di klasemen Liga Italia. Namun, Spalleti menyadari hal itu tak mudah karena banyak lawan tangguh.

“Saya tidak tahu berapa banyak poin yang dapat kami raih pada paruh kedua musim ini. Namun kami tidak boleh membatasi apapun dalam diri kami. Kami adalah Inter, kami memiliki ambisi kuat dan ingin meraih prestasi sebaik mungkin.”

“Kami ingin meraih gelar juara, sudah terlalu lama bagi sebuah klub bergengsi seperti Inter Milan untuk tidak mengamankan trofi apapun. Namun, hal itu tidak akan mudah karena banyak sekali lawan yang kuat, Napoli misalnya. Mereka berada di atas kami dalam beberapa tahun terakhir, namun kami juga secara layak mengalahkan mereka,” ujar pelatih asal Italia tersebut.

3 dari 3 halaman

Klasemen Liga Italia

Saksikan video pilihan berikut ini:

Ancelotti: Zidane Mengubah Gagasanku Soal Sepak Bola

Liputan6.com, Jakarta – Carlo Ancelotti mengakui Zinedine Zidane telah mengubah ide saya tentang sepakbola. Itu dirasakan pelatih Napoli itu, saat menukangi Jventus.

Ancelotti mengaku awalnya selalu mengikuti filosofi taktik 4-4-2. Tapi, seorang pria membuatnya mengubah cara hidupnya.

“Zidane di Juventus mengubah gagasan saya tentang sepakbola. Saya telah menghentikan Parma dari penandatanganan Baggio, yang sudah memiliki perjanjian dengan klub. Baggio adalah salah satu talenta terhebat dalam sejarah sepakbola Italia, tetapi saya sudah memiliki Enrico Chiesa dan Hernan Crespo,” kata Ancelotti.

“Pada dasarnya, saya memiliki gaya sepakbola yang tidak memasukkan trequartista, peran yang diminta Roberto. Jika Baggio datang setelah titik balik karier Zidane, saya dengan senang hati akan bekerja dengannya,” kenang Ancelotti.

2 dari 3 halaman

Bakat Spesial

Ancelotti datang ke Juventus pada 1999. Saat itu, Ancelotti selalu mengutamakan formasi 4-4-2. Namun, setelah bertemu Zidane, Ancelotti sadar pria asal Prancis itu memiliki bakat spesial.

Demi memasukkan Zidane ke dalam tim, Ancelotti pun mengubah formasi menjadi 4-3-1-2. Dengan formasi itu, Ancelotti memang tak meraih gelar di Juve. Namun, saat menerapkannya di AC Milan, Ancelotti sukses meraih delapan trofi selama delapan tahun.

3 dari 3 halaman

Prestasi Zidane

Sementara itu, Zidane ditunjuk sebagai pelatih Real Madrid pada 4 Januari 2016. Dia datang menggantikan Rafael Benitez. Pada musim pertama sebagai pelatih tim senior Real Madrid, Zidane sukses mempersembahkan trofi Liga Champions. Hal itu diulangi pada dua musim berikutnya.

Total delapan gelar bergengsi dipersembahkan Zidane. Rinciannya adalah: tiga gelar Liga Champions, dua trofi Piala Dunia Klub dan Piala Super Eropa, serta masing-masing satu kali gelar juara Liga Spanyol dan Piala Super Spanyol.