Juventus Siap Lepas Paulo Dybala di Harga Rp 1,9 Triliun

Situasi Dybala di Juventus pun membuat klub raksasa Eropa seperti Manchester United, Manchester City, Liverpool, hingga Real Madrid berniat merayu pemain 25 tahun itu untuk bergabung dengan mereka.

Namun ambisi para klub peminat tersebut dipastikan tak mudah terealisasi karena seperti dilansir Corriere dello Sport, Juventus sudah mematok harga mahal untuk Dybala, yakni mencapai 120 juta euro atau kurang lebih Rp1,9 triliun.

Tentu saja nilai tersebut tak bakal menjadi masalah bagi klub sebesar para peminat Dybala. Namun mereka bisa jadi akan lebih memilih untuk mencari pemain lain yang lebih murah.

Ini Dia Rincian Utang Pemerintah Rp 4.566 Triliun

Jakarta – Hingga akhir Februari 2019 utang pemerintah sudah mencapai Rp 4.566,26 triliun. Jumlah ini meningkat sebesar Rp 531,46 triliun dibandingkan Februari 2018 yang sebesar Rp 4.034,80 triliun.

Jumlah utang pemerintah pusat ini dipengaruhi dengan strategi frontloading pemerintah atau penerbitan utang di awal tahun yang sudah dilakukan pada tahun sebelumnya pada penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) dan dilanjutkan kembali. Dengan demikian, penerbitan utang sampai dengan akhir tahun menjadi lebih sedikit.

Frontloading untuk mengantisipasi dinamika global. Jadi sampai akhir tahun bisa lebih leluasa untuk pembiayaan,” kata Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati di Gedung Kemenkeu, Jakarta, Selasa (19/3/2019).


Jika dirinci, utang pemerintah yang sebesar Rp 4.566,26 triliun itu terdiri dari pinjaman yang sebesar Rp 790,47 triliun dan surat berharga negara (SBN) Rp 3.775,79 triliun.

Pinjaman yang sebesar Rp 790,47 triliun itu terdiri dari pinjaman luar negeri sebesar Rp 783,33 triliun dengan rincian, pinjaman bilateral Rp 322,86 triliun, multilateral Rp 418,82 triliun, komersial Rp 41,66 triliun. Sedangkan pinjaman dalam negerinya sebesar Rp 7,13 triliun.

Untuk SBN yang sebesar Rp 3.775,79 triliun, terdiri dari denominasi rupiah Rp 2.723,13 triliun degan rincian SUN Rp 2.260,18 triliun, SBSN Rp 462,95 triliun.

Selanjutnya, denominasi valas sebesar Rp 1.052,66 triliun dengan rincian SUN Rp 817,82 triliun dan SBSN sebesar Rp 234,84 triliun.

(das/fdl)

Incar Mohamed Salah, Real Madrid Siapkan Rp 2,4 Triliun 

Real Madrid kini memang sedang mencari sosok bintang baru. Mereka kehilangan Cristiano Ronaldo yang pindah ke Juventus pada awal musim 2018/19 ini. Gareth Bale dan Marco Asensio yang diharap jadi penerus masih belum tampil optimal.

Dikutip dari Don Balon, Madrid lantas mengincar jasa Mohamed Salah yang bermain bagus di Liverpool. Dana dalam jumlah yang besar disiapkan oleh Madrid untuk membeli kapten timnas Mesir tersebut.

Untuk bisa mendapatkan Salah, Madrid disebut menyiapkan dana senilai 150 juta euro atau senilai Rp 2,4 triliun. Madrid sendiri menyiapkan dana hingga 300 juta euro untuk membeli pemain baru pada bursa transfer musim panas mendatang.

Dengan nilai pembelian tersebut, jika terwujud, maka Salah bakal jadi pemain paling mahal dalam sejarah Real Madrid. Dia juga akan jadi pemain paling mahal dalam sejarah transfer di Premier League.

Total Aset Reksa Dana Syariah Capai Rp 37,3 Triliun

Bursa Efek Indonesia (BEI) menegaskan bahwa pasar modal syariah Indonesia merupakan yang terbesar di dunia. Menurut data World Bank, total penduduk Indonesia berjumlah 264 juta orang. Angka ini lebih besar dari jumlah penduduk di 8 negara yang memiliki aset kuangan syariah terbesar di dunia.

Dari 264 juta orang, 87 persen penduduknya merupakan muslim dan 64 persennya merupakan kelompok produktif. Hal ini lah yang membuat potensi pasar modal syariah di Indonesia begitu besar.

Ini dapat dibuktikan dari aset keuangan syariah Indonesia di pasar global berada di peringkat ke 7 mencapai USD 81 miliar pada 2017, mengalahkan Turki yang mencapai USD 49,5 miliar. 

“Indonesia peringkat ke 7 aset keuangan syariah di dunia 2017. Karna masih kecil maka ruang tumbuhnya begitu besar,” jelas Iwan Abdalloh, Kepala Divisi Pasar Modal Syariah Bursa Efek Indonesia, Senin (18/3/2019).

Adapun negara lain yang memiliki aset keuangan syariah tertinggi didunia pada 2017, Iran menduduki peringkat pertama dengan jumlah aset mencapai USD 545 miliar. Sedangkan posisi kedua ditempati oleh Saudi Arabia mencapai USD 472 miliar.

Sementara Malaysia menduduki peringkat ke tiga dengan jumlah aset USD 405 miliar. Posisi ke empat oleh Uni Emirat Arab mencapai USD 203 miliar. Dan posisi selanjutnya yaitu, Kuwait dengan USD 120 miliar, dan Bahrain mencapai USD 99 miliar.

Irwan menambahakan tingginya potensi pasar modal syariah di Indonesia juga didukung oleh milesstones lainnya. “Milestones ini udah ada dari lama kok, sudah ada sejak 1997,” ujarnya.

Adapun milestones yang menunjang pasar modal syariah yaitu, Reksa Dana Syariah yang ada sejak 1997, Indeks Saham Syariah sejak 2000, Sukuk pada 2002, Regulasi Pasar Modal Syariah sejak 2006, dan terakhir yaitu ETF Syariah yang ada sejak 2013.

Kalah Saing, Miliarder Baidu Merugi Rp 34 Triliun

Liputan6.com, Beijing – Beberapa tahun belakangan menjadi waktu paling sulit bagi Robin Li. Miliarder Baidu, mesin pencarian khusus dalam bahasa China ini mengalami penurunan harta kekayaan sebesar USD 2,4 miliar atau sekitar Rp 34,1 triliun dalam waktu satu tahun ke belakang.

Sang miliarder, Li, yang tadinya menduduki peringkat 134 orang terkaya di dunia versi majalah Forbes, harus turun 19 peringkat. Kekayaan bersihnya saat ini diperkirakan mencapai USD 9,6 miliar atau sekitar Rp 136,5 triliun didasarkan pada saham Baidu yang terdaftar di Nasdaq, yang telah merosot sebesar 33 persen sejak Maret lalu.

Investor kemudian mempertanyakan apakah persaingan Baidu dengan usaha sejenis semakin ketat. Dilansir dari Forbes, Baidu dikabarkan mengalokasikan dana yang cukup besar untuk pemasaran produknya namun hanya mendapat untung sebesar 4 persen pada kuartal IV 2018, jauh dibanding tahun 2017 yang mencapai 21 persen.

Analis memprediksi, miliarder Baidu masih akan berusaha mengeluarkan dana yang besar untuk tetap memikat para pengiklan.

“Dengan laju iklan online di China yang tumbuh sangat lambat, semua perusahaan harus berjuang dengan agresif untuk mendapatkan uang,” kata Raymond Feng, analis senior perusahaan riset Pacific Epoch di Shanghai.

Astra Financial Incar SPK Lebih dari Rp 1,1 Triliun di GIIAS 2019

Liputan6.com, Jakarta – Astra Financial memastikan diri menjadi sponsor utama gelaran pameran otomotif besar di Tanah Air, Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2019. Dalam pameran yang bakal berlangsung di ICE BSD, Tangerang Selatan ini, bakal diikuti enam lembaga jasa keungan (LJK), yaitu PermataBank, Astra Credit Companies (ACC), Toyota Astra Financial Service (TAF), Asuransi Astra, FIFGroup, dan Astra Life.

“Sesuai komitmen Astra Financial untuk memajukan industri otomotif nasional dalam jangka menengah dan panjang, tahun ini enam LJK tersebut kembali bersinergi untuk mewujudkan misi menjadi mitra keuangan bagi kesejahteraan Indonesia dengan menjadi sponsor utama GIIAS 2019,” jelas Suparno Djasmin, Direktur PT Astra International Tbk yang juga Director in Charge Astra Financial, di sela-sela Media Kick Off di Menara Astra, Jakarta, Kamis (14/3/2019).

Tercatat, pada GIIAS 2018, Astra Financial mampu menorehkan 5.500 surat pemesanan kendaraan (SPK) dengan nilai mencapai Rp 1,1 triliun. Dengan pencapaian tersebut juga, kinerja Astra Financial menorehkan hasil yang positif, dengan laba bersih divisi jasa keuangan Astra meningkat 28 persen menjadi Rp 4,8 triliun.

Sementara itu, menurut Gunawan Salim, Project Director GIIAS 2019, Astra Financial akan membawa program pembelian menarik, untuk mampu mengulang keberhasilannya tahun lalu.

“kalau ditanya tahun ini, yang pasti kita optimistis akan lebih meningkat,” tambah Gunawan.

PK Ditolak, Ini Detail Utang Pajak Subaru Rp 1,5 Triliun

Jakarta – Pengadilan Tinggi (PT) Jakarta menyatakan langkah penyitaan Ditjen Pajak atas ratusan mobil Subaru sah. Di sisi lain, MA juga menguatkan denda pajak Rp 1,5 triliun ke Subaru.

Sebagaimana dikutip dari website Mahkamah Agung (MA), Selasa (12/3/2019), kasus mulai membelit Subaru saat Ditjen Pajak mengeluarkan audit kurang bea masuk dan pajak pada 17 Juli 2014. Ditjen Pajak memberikan tenggat hingga 15 Agustus 2014 agar PT TC Subaru melunasi kekurangan bea masuk dan pajaknya.

Detailnya yaitu:

1. Bea masuk sebesar Rp 115,9 miliar.
2. PPN sebesar Rp 40,5 miliar.
3. PPNbM sebesar Rp 163 miliar.
4. PpH sebesar Pasal 22 Rp 10 miliar
5. Denda sebesar Rp 1,1 triliun.

Total yaitu sebesar 1,503 triliun.

Atas hal itu, PT TC Subaru menyatakan keberatan dan mengajukan banding ke Pengadilan Pajak. Pada 5 Mei 2015, Pengadilan Pajak tidak menerima permohonan banding itu.

PT TC Subaru lalu mengajukan PK dan ditolak MA pada 22 Februari 2016. Tidak terima, PT TC Subaru kemudian mengajukan PK lagi. Apa kata MA?

“Menolak permohonan peninjauan kembali dari Pemohon Peninjauan Kembali ke-II PT. TC SUBARU tersebut,” demikian putus majelis yang diketuai Supandi dengan anggota Harry Djatmiko dan Yosran.

Majelis menilai dalil-dalil yang diajukan dalam memori PK tidak dapat menggugurkan fakta-fakta dan melemahkan bukti-bukti yang terungkap di persidangan serta pertimbangan hukum majelis Pengadilan Pajak.

“Pemohon banding tidak memenuhi syarat formil banding sebagaimana dimaksudkan dalam Pasal 36 ayat 4 UU Pengadilan Pajak,” ujar majelis.

Setelah itu, importir Subaru ke Indonesia, Motor Image Interprises dan TC Subaru SDN BHD juga menggugat penyitaan ratusan unit mobil yang dilakukan Ditjen Pajak.

Awalnya, Pengadilan Negeri Jakarta Utara (PN Jakut) menyatakan penyitaan itu tidak sah. Tapi Ditjen Pajak mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi (PT) Jakarta dan dikabulkan.

“Menyatakan gugatan perlawanan Para Terbanding /semula Pelawan I dan II
tidak dapat diterima,” putus majelis pada 17 Februari 2019. Duduk sebagai ketua majelis yaitu Ester siregar dengan anggota M Yusud dan Hidayat.

(asp/idh)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Pemerintah RI Utang Rp 22 Triliun ke China

Jakarta – Kementerian Keuangan menyebutkan bahwa jumlah utang dari China sebesar Rp 22 triliun atau hanya sebesar 0,5% dari total utang pemerintah per tahun 2018.

Per akhir Desember 2018 tercatat sebesar Rp 4.418,30 triliun. Jumlah utang itu sama dengan 29,98% dari total PDB yang berdasarkan data sementara sebesar Rp 14.735,85 triliun.

“Pada akhir 2018, pinjaman pemerintah kepada China sekitar Rp 22 triliun atau sebesar 0,50% dari jumlah total utang pemerintah,” kata Nufransa saat dihubungi detikFinance, Jakarta, Senin (11/3/2019).


Menurut Nufransa, masyarakat tidak perlu mengkhawatirkan video tentang jebakan utang China atau Chinese Money Trap. Dalam video itu disebutkan bahwa China lewat pinjaman yang besar ke negara-negara termasuk Indonesia dalam rangka memperkuat negaranya dengan mengambil aset bagi yang tidak sanggup membayarnya.

Jumlah utang Indonesia terhadap China yang kecil ini tidak perlu dikhawatirkan. Apalagi, kata Nufransa, pemerintah mengelola utang dengan prinsip kehati-hatian.

“Proporsinya sangat kecil bila dibanding total utang pemerintah,” ujar dia.

Menurut Nufransa, utang dari China pun masih bisa dilunasi oleh pemerintah sesuai dengan jadwal jatuh temponya.

“Pinjaman pemerintah kan tidak jatuh tempo sekaligus, tetapi pembayarannya dicicil selama periode tertentu sehingga tidak memberatkan keuangan negara,” ujar dia.

“Pemerintah juga memiliki kemampuan untuk membayar kembali utangnya, dimana pembayarannya telah dianggarkan setiap tahun dalam APBN,” tambah dia.

Sebagai informasi, Utang pemerintah hingga Januari 2019 mencapai Rp 4.498,56 triliun dengan rasio utang terhadap PDB mencapai 30,1%. Utang pemerintah pusat itu lebih tinggi dibandingkan posisi Januari 2018 sebesar Rp 3.958,66 triliun, atau bertambah Rp 539 triliun. Jika dibandingkan dengan posisi Desember 2018 utang itu naik Rp 80,2 triliun dari sebelumnya Rp 4.418,30 triliun. (hek/dna)

Antisipasi Serangan Musuh, India Sewa Kapal Nuklir Rusia Senilai Rp 42 Triliun

Liputan6.com, Jakarta India telah menandatangani perjanjian pertahanan senilai lebih dari US$ 3 miliar (sekira Rp 42,9 triliun) untuk menyewa kapal selam Rusia, pada Kamis 7 Maret 2019. Kapal selam yang diberi nama Chakra III itu memiliki kemampuan untuk meluncurkan rudal nuklir.

Informasi diberikan oleh sumber-sumber pertahanan India, yang mengatakan kepada media lokal dengan syarat anonimitas. Adapun pemerintah India maupun Rusia tidak memberikan konfirmasi secara resmi bahwa kesepakatan telah ditandatangani.

Keputusan itu disinyalir didorong oleh keberadaan ancaman di Samudera Hindia, khususnya yang berpotensi datang dari Pakistan dan China.

Mengutip media lokal Times of India, Jumat (8/3/2019), Chakra III akan siap digunakan pada 2025 mendatang, dengan kontrak sewa selama 10 tahun. Harga sewa yang diberikan sudah termasuk paket komprehensif untuk perbaikan kapal hingga suku cadangnya, termasuk pula pelatihan dan infrastruktur teknis yang menunjang operasi.

Chakra III memiliki kapasitas 73 awak dan akan memiliki kecepatan 30 knot. Selain itu, kapal berharga puluhan triliun rupiah disebut-sebut memiliki kemampuan beroperasi dengan kedalaman 530 meter, sebagaimana dikutip dari situs The Diplomat.

Selanjutnya, Chakra III akan dipersenjatai dengan empat tabung peluncuran 650-milimeter dan 533 milimeter untuk menembakkan torpedo tipe 65 dan tipe 53 buatan Rusia. Adapun daya didapatkan dari reaktor nuklir berukuran 190 mega watt

Kapal selam berkelas Akula-1 itu akan menggantikan INS Chakra, kapal selam kelas Akula yang disewa dari Rusia sejak 2012 lalu.

Sambil menunggu kedatangan kapal baru, kontrak INS Chakra disebut-sebut akan diperpanjang.

“Sewa INS Chakra akan diperpanjang hingga setidaknya 2025 melalui kontrak lain hingga kapal selam baru, yang lebih besar dan lebih maju dari itu, akan beroperasi,” kata sebuah sumber anonim.

Sistem Nuklir India Jadi Kenyataan

Keberadaan kapal selam berharga 42,9 triliun akan menjadikan nyata sistem pertahanan triad nuklir yang selama ini diharapkan India. Triad nuklir yang dimaksud merujuk pada kemampuan menembakkan senjata nuklir dari darat, udara, dan laut.

Dalam konteks pertahanan darat, India telah memiliki Agni Missiles, rudal kendali dengan berbagai variasi dari jarak menengah hingga antarbenua.

Sedangkan dalam pertahanan udara, India mengandalkan pada jet tempur pengebom (fighter-bomber).

Adapun Chakra III, digadang-gadang akan melengkapi SSBN, sebuah kapal buatan dalam negeri dengan sistem rudal balistik bertenaga nuklir yang diumumkan pada November 2018 lalu.

Kapal selam bertenaga nuklir tidak hanya dimaksudkan untuk patroli pencegahan (strategi pertahanan deterrent patrols), namun juga berpotensi menjadi pembunuh pemburu (hunter-killer) bagi musuh. Selain itu, juga dapat digunakan untuk misi intelijen, pengawasan, dan pengintaian karena bersifat tersembunyi dan mampu bertahan di bawah air dalam waktu lama.

Bahkan, Chakra III disinyalir dapat berada di bawah air selama berbulan-bulan, tergantung pada ketahanan fisik dan mental para kru. Meskipun demikian, kapal tetap harus muncul ke permukaan setiap beberapa hari untuk mendapatkan oksigen dalam rangka mengisi ulang baterai diesel listrik.

Simak pula video pilihan berikut:

India dan Pakistan kembali berada di ambang konflik terbuka menyusul ketegangan yang semakin meningkat antara kedua negara dalam sepekan terakhir.

Indosat Catatkan Rugi Rp 2,4 Triliun pada 2018

Liputan6.com, Jakarta – PT Indosat Tbk (ISAT) merilis kinerja sepanjang 2018. Perseroan alami rugi mencapai Rp 2,4 triliun pada 2018 dari periode sama tahun sebelumnya untung Rp 1,13 triliun.

Berdasarkan keterangan yang disampaikan perseroan dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), seperti ditulis Kamis (7/3/2019), perseroan mencatatkan penurunan pendapatan turun 22,7 persen dari Rp 29,92 triliun pada 2017 menjadi Rp 23,13 triliun pada 2018.

Perseroan alami penurunan pendapatan dari seluler sebesar 26,4 persen pada 2018. Pendapatan dari bisnis selular tercatat Rp 18,02 triliun pada 2018 dari periode sama tahun sebelumnya Rp 24,49 triliun.

Demikian juga dari pendapatan dari bisnis multimedia, komunikasi data, internet (MIDI) yang turun tipis tiga persen menjadi Rp 4,38 triliun pada 2018. Dari pendapatan telekomunikasi tetap merosot 20,1 persen menjadi Rp 729,3 miliar hingga 2018.

Beban perseroan merosot 8,8 persen menjadi Rp 23,60 triliun pada 2018 dari periode sama tahun sebelumnya Rp 25,89 triliun. Beban penyelenggaraan jasa turun dari Rp 12,64 triliun pada 2017 menjadi Rp 12,04 triliun.

Hal itu dipicu penurunan beban interkoneksi, pemeliharaan, sewa sirkit, paket perdana dan voucher, beban USO dan biaya hak penyelenggaraan jasa telekomunikasi yang diimbangi dengan peningkatan beban frekuensi, beban utilitas, instalasi, beban perangkat telekomunikasi, beban jasa penagihan, dan beban sewa.

Beban penyusutan dan amortisasi merosot menjadi Rp 8,24 triliun. Hal ini didorong tidak adanya lagi depresiasi dari aset tetap dengan nilai buku bersih nol.

Sementara itu, beban karyawan naik menjadi Rp 2,23 triliun pada 2018 dari periode sama tahun sebelumnya Rp 2,02 triliun. Hal ini karena ada penyesuaian biaya fasilitas kesehatan pada 2017. Beban pemasaran merosot menjadi Rp 1,22 triliun dari periode 2017 sebesar Rp 1,28 triliun.

Perseroan menjelaskan kalau beban pemasaran itu turun akibat penurunan aktivitas pemasaran terkait transformasi strategi pemasaran serta dampak implementasi awal PSAK 72. Perseroan juga alami rugi selisih kurs Rp 25,87 miliar pada 2018..

Dengan melihat kondisi itu, PT Indosat Tbk alami rugi per saham dasar dan dilusi yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk menjadi Rp 442,38 dari periode 2017 masih untung Rp 209,02.

2 dari 2 halaman

Kinerja Operasional

Berdasarkan kinerja operasional, basis pelanggan selular mencapai 58 juta pada 2018 dari periode 2017 sebesar 110,2 juta pada 2017 imbas implementasi aturan terkait registrasi kartu perdana.

Rata-rata pendapatan bulanan per pelanggan (ARPU) untuk pelanggan selular pada 2018 sebesar Rp 18,7 ribu atau turun Rp 1,6 ribu dibanding 2017. Rata-rata menit pemakaian (MOU) per pelanggan turun menjadi 36,1 menit atau merosot 24 persen dibandingkan 2017, sejalan penurunan layanan suara sesuai tren industri.

Sementara itu, total aset perseroan naik 4,9 persen menjadi Rp 53,13 triliun pada 2018 dari periode sama tahun sebelumnya Rp 50,66 triliun.

Liabilitas perseroan naik 14,4 persen menjadi Rp 41 triliun pada 2018 dari periode sama tahun sebelumnya Rp 35,84 triliun.

PT Indosat Ooredoo mengurangi 77,7 persen porsi utang dalam dolar AS dari USD 90,3 juta atau mewakili 6,3 persen dari total utang pada 2017 menjadi USD 20,1 juta (mewakilii 1,4 persen dari total utang) pada 2018.

Total ekuitas merosot 18,1 persen menjadi Rp 12,1 triliun pada 2018 dari periode sama tahun sebelumnya Rp 14,81 triliun. Total utang naik 9,9 persen menjadi Rp 21,42 triliun pada 2018.


Saksikan video pilihan di bawah ini: