Ini Alasan ISIS Masih Jadi Ancaman Dunia Meski Sudah Kalah Total

DamaskusIslamic State of Iraq and Syria (ISIS) diyakini masih menjadi ancaman dunia meski dinyatakan kalah total setelah markas terakhir mereka di Baghouz, Suriah direbut Pasukan Demokratik Suriah (SDF). Sisa-sisa militan ISIS diyakini masih bersembunyi dan afiliasi di berbagai negara masih aktif.

SDF menyatakan pada Sabtu (23/5) lalu, bahwa ISIS mengalami ‘100 persen kekalahan teritorial’ setelah markas terakhir di Baghouz direbut kembali. SDF yang terdiri atas milisi Kurdi dan Arab di Suriah telah sejak lama bertempur melawan ISIS, dengan dukungan dari koalisi militer pimpinan Amerika Serikat (AS).

Namun, seperti dilansir Reuters, Senin (25/3/2019), meski markas terakhirnya dihancurkan, sisa-sisa militan ISIS yang bersembunyi di area gurun terpencil Suriah dan di kota-kota Irak masih melakukan aksi skala kecil, dengan melakukan serangan penembakan atau penculikan atau menunggu kebangkitan ISIS nantinya.

Presiden AS Donald Trump dalam pernyataannya menegaskan AS akan tetap waspada atas setiap ancaman yang mungkin muncul dari sisa-sisa militan ISIS. “Kita akan tetap waspada terhadap ISIS melalui serangkaian upaya-upaya antiterorisme global untuk memerangi ISIS hingga akhirnya ISIS dikalahkan di mana saja kelompok itu beroperasi,” tegasnya seperti dilansir The Hill dan Bloomberg.
Dalam pernyataan terpisah, komandan koalisi pimpinan AS melawan ISIS, Letnan Jenderal Angkatan Darat AS, Paul LaCamera, mengakui ISIS masih menjadi ancaman berbahaya meski wilayahnya tercerai-berai. LaCamera menegaskan perang melawan ISIS masih jauh dari usai.

“Akhir dari apa yang disebut kekhalifahan fisik menjadi pencapaian militer bersejarah yang menyatukan koalisi terbesar dalam sejarah, tetapi perang melawan Daesh (nama lain ISIS) dan ekstremisme kekerasan masih jauh dari selesai,” tegas LaCamera.

Peringatan soal ancaman ISIS juga diungkapkan pengamat Sami Nader dari Institut Levant untuk Urusan Strategis. “Pertanyaannya sekarang adalah bagaimana ISIS akan bereaksi? Apa strategi baru mereka sekarang?” ucapnya.

“Hari ini, ISIS dan seluruh kelompok jihad akan mengekspor upaya-upaya militer mereka keluar Levant (Irak dan Suriah-red) dan mereka akan mengubah taktik, dari tadinya membentuk kehadiran geografis menjadi lebih condong pada pertempuran gerilya, baik di kawasan itu atau di lokasi lain,” imbuhnya.

Berikut beberapa alasan ISIS masih dianggap sebagai ancaman dunia:

100 Persen Kekalahan Teritorial, Apa Dampaknya bagi ISIS?

ISIS awalnya menguasai wilayah seluas 88 ribu kilometer persegi di Irak dan Suriah sejak tahun 2014. Wilayah itu menyusut cukup drastis pada akhir tahun 2016 menjadi hanya 60 ribu kilometer persegi. Kini, ISIS telah kehilangan seluruh wilayah tersebut. Pelaksana Tugas (Plt) Menteri Pertahanan AS, Patrick Shanahan, menegaskan ISIS ‘tidak lagi menguasai area-area berpenduduk’ di Irak dan Suriah.

Hancurnya wilayah yang diklaim sebagai ‘kekhalifahan’ oleh ISIS telah menghilangkan alat propaganda dan perekrutan serta basis logistik kelompok radikal tersebut. Praktik-praktik kekejaman ISIS seperti eksekusi brutal dan hukuman keji untuk setiap pelanggaran, kemudian praktik pembantaian dan perbudakan seks juga hilang.

Kehilangan wilayah membuat ISIS tidak lagi mendapatkan sumber daya, khususnya secara finansial, untuk mendanai setiap aktivitas teror mereka. Sebelumnya ISIS bergantung pada pajak di wilayah dan hasil penjualan minyak di wilayah-wilayah yang dikuasainya.

Usai Kalah Total, ISIS Masih Bisa Bangkit Lagi

Pada awal kemunculan sebagai pecahan Al-Qaeda di Irak beberapa dekade lalu, ISIS bergerak melalui jaringan bawah tanah sebelum akhirnya muncul ke permukaan. Sejak kehilangan sebagian besar wilayah tahun 2017, ISIS kembali menggunakan taktik serupa. Sel-sel tidur di wilayah Irak telah melancarkan serangan bersenjata dalam skala kecil, yang melibatkan penculikan dan pembunuhan demi mengancam pemerintahan Irak.

Di Suriah, sisa-sisa militan ISIS diyakini masih ada di wilayah jarang penduduk yang ada di sebelah barat Sungai Eufrat, yang tidak dikuasai pemerintah Suriah.

Laporan tim pengawas internal Pentagon AS, yang dirilis bulan lalu, menyebut ISIS melakukan regenenerasi fungsi dan kemampuan lebih cepat di Irak daripada Suriah. “Dengan tidak adanya tekanan (antiterorisme) berkelanjutan, ISIS kemungkinan besar akan lahir kembali di Suriah dalam 6-12 bulan dan kembali menguasai wilayah terbatas,” sebut laporan itu.
<!–

Ikuti berbagai berita menarik hari ini di program “Reportase Sore” TRANS TV Senin sampai Jumat pukul 16.45 WIB

–>

ISIS Kalah Total, Trump: Mereka Pecundang, Akan Selalu Jadi Pecundang!

ISIS Kalah Total, Trump: Mereka Pecundang, Akan Selalu Jadi Pecundang! Donald Trump dan peta yang menunjukkan perbedaan wilayah ISIS di Suriah dan Irak (REUTERS/Kevin Lamarque)

Washington DC – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memberikan tanggapan soal pernyataan Pasukan Demokrat Suriah (SDF) yang menyatakan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) kalah total. Apa kata Trump?

Diketahui bahwa SDF yang terdiri dari milisi Kurdi dan Arab di Suriah telah sejak lama bertempur melawan ISIS, dengan dukungan dari koalisi militer pimpinan AS. Pada Sabtu (23/5) lalu, SDF menyatakan ISIS mengalami ‘100 persen kekalahan teritorial’ setelah markas terakhir ISIS di Baghouz, Suriah direbut kembali.

Seperti dilansir Reuters dan dikutip dari whitehouse.gov, Senin (25/3/2019), Trump menyampaikan tanggapannya dengan menunjukkan sebuah peta ‘before-after’ yang menunjukkan kehadiran ISIS di Suriah dan Irak.
“Jadi di sini ISIS saat Hari Pemilihan Umum,” ucap Trump sambil menunjuk peta wilayah Suriah dan Irak yang dikuasai ISIS tahun 2017, setelah pilpres AS digelar. Pada peta itu, wilayah-wilayah yang dikuasai ISIS diberi warna merah.

“Di sini ISIS sekarang. Jika Anda lihat — jadi di sanalah ISIS,” ucapnya lagi, sembari menunjuk peta wilayah Suriah dan Irak sama namun tanpa warna merah yang menandai wilayah yang sebelumnya dikuasai ISIS.

“Kalian bisa mengambil petanya. Selamat,” ujarnya kepada wartawan. “Saya pikir ini persoalan waktu,” tegas Trump.

Kertas yang dipegang Trump berisi dua peta wilayah-wilayah yang pernah dikuasai ISIS di Suriah dan Irak. Peta pertama yang diberi judul ‘Iraq/Syria Physical Caliphate 2017‘ menunjukkan kehadiran ISIS — yang diberi warna merah — di wilayah Suriah dan Irak saat pilpres AS digelar tahun 2016. Versi yang diberikan kepada wartawan menunjukkan peta pertama itu merupakan data tahun 2014 saat ISIS berada di puncak kejayaannya.

Peta kedua diberi judul ‘Iraq/Syria Physical Caliphate 2019‘ menunjukkan wilayah Suriah dan Irak tanpa warna merah atau kehadiran ISIS.

Secara terpisah, Gedung Putih dalam pernyataannya menyebut ISIS telah ‘dilenyapkan’ dari peta. “Lebih dari dua tahun lalu, ISIS dianggap sebagai salah satu ancaman paling genting untuk masa depan Timur Tengah — dan bagi perdamaian dan keamanan dunia yang bebas,” sebut Gedung Putih dalam pernyataan via Twitter.

“Sekarang, hal yang diklaim sebagai kekhalifahan (ISIS) telah dilenyapkan dari peta. Secara harfiah,” tegas Gedung Putih.

Tanggapan lain juga disampaikan Trump lewat pernyataan resmi yang dirilis Gedung Putih. Trump menyebut seluruh wilayah yang dikuasai ISIS di Suriah dan Irak ‘telah dibebaskan’. Dia juga menyebut ISIS sebagai pecundang.

“Saya dengan senang mengumumkan bahwa, bersama dengan mitra-mitra kita dalam Koalisi Global untuk Mengalahkan ISIS, termasuk Pasukan Keamanan Irak dan Pasukan Demokratik Suriah (SDF), Amerika Serikat telah membebaskan seluruh wilayah yang dikuasai ISIS di Suriah dan Irak — 100 persen ‘kekhalifahan’,” sebutnya.

“Sementara sewaktu-waktu para pengecut ini akan muncul kembali, mereka telah kehilangan seluruh martabat dan kekuasaan. Mereka adalah pecundang dan akan selalu menjadi pecundang,” ucap Trump seperti dilansir The Hill dan Bloomberg.

Donald Trump dan peta wilayah ISISDonald Trump dan peta wilayah ISIS Foto: Twitter/@WhiteHouse

Ditambahkan Trump bahwa AS akan tetap waspada atas setiap ancaman yang mungkin muncul dari sisa-sisa militan ISIS.

“Kita akan tetap waspada terhadap ISIS melalui serangkaian upaya-upaya antiterorisme global untuk memerangi ISIS hingga akhirnya ISIS dikalahkan di mana saja kelompok itu beroperasi. Amerika Serikat akan membela kepentingan rakyat Amerika kapan saja dan di mana saya jika diperlukan. Kita akan terus bekerja bersama mitra-mitra dan sekutu-sekutu kita untuk sepenuhnya menghancurkan Teroris Islam Radikal,” tegasnya.

(nvc/ita)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Kalah Total, Para Militan ISIS Keluar dari Terowongan Persembunyian

Damaskus – Militan-militan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) di Suriah bagian timur mulai muncul dari terowongan-terowongan persembunyian untuk menyerahkan diri. Hal ini terjadi sehari setelah ‘kekhalifahan’ ISIS dinyatakan kalah total oleh Pasukan Demokratik Suriah (SDF) yang didukung koalisi Amerika Serikat (AS).

Seperti dilansir AFP, Senin (25/3/2019), reporter AFP melihat langsung belasan orang — kebanyakan pria — bergerak keluar dari area perkemahan militan di Baghouz, desa terpencil di Suriah, yang baru saja direbut SDF dari ISIS. Orang-orang itu merupakan petempur ISIS yang menyerahkan diri pada Minggu (24/3) waktu setempat.

“Mereka merupakan para petempur IS (nama lain ISIS) yang keluar dari terowongan-terowongan dan menyerahkan diri hari ini,” sebut juru bicara unit Kurdi, Jiaker Amed, yang tergabung dalam SDF.


Belasan petempur ISIS itu berlari keluar dari markas terakhir mereka di tepi Sungai Eufrat dekat perbatasan Irak, yang telah dikalahkan. Beberapa petempur, sebut AFP, tampak memiliki berewok tebal, memakai baju gamis dan ada yang memakai kayifeh di kepala mereka.

“Beberapa orang bisa saja masih bersembunyi di dalam,” sebut Amed dalam pernyataannya.

Pertempuran sengit selama berbulan-bulan antara SDF yang didukung AS dengan ISIS di Suriah diakhiri dengan deklarasi kemenangan pada Sabtu (23/5) lalu. Juru bicara SDF, Mutefa Bali, dalam pernyataannya menyatakan SDF telah melakukan ‘pembersihan total’ atas ‘kekhalifahan dan 100 persen kekalahan teritorial ISIS’.

Pertempuran itu diwarnai beberapa kali penangguhan untuk memberi kesempatan pada warga sipil yang akan dievakuasi dan petempur yang ingin menyerahkan diri di Baghouz. Menurut SDF, lebih dari 66 ribu orang, kebanyakan warga sipil, telah dievakuasi keluar dari markas terakhir ISIS sejak 9 Januari lalu.

SDF juga menyebut jumlah itu terdiri atas 5 ribu petempur ISIS dan 24 ribu keluarga mereka. Jumlah warga sipil yang dievakuasi disebut mencapai 37 ribu orang.

Ditambahkan SDF bahwa militan-militan ISIS yang menyerahkan diri itu langsung ditahan, sedangkan keluarga-keluarga mereka dibawa dengan truk ke kamp-kamp penampungan pengungsi di Suriah bagian utara.

(nvc/ita)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

3 Militan ISIS Tewas Meledakkan Diri Usai Pengumuman Kalah Total

Baghdad – Tiga orang terduga teroris ISIS di Irak utara meledakkan diri mereka sendiri pada Minggu (24/3) waktu setempat, sehari setelah kekhalifahan ISIS di negara tetangga, Suriah berhasil ditaklukkan.

Juru bicara militer Irak, Yahya Rassoul mengatakan, insiden itu terjadi di wilayah dekat perbatasan Suriah, di mana sel-sel militan ISIS diyakini ada.

Dikatakannya, para terduga ISIS itu tewas bunuh diri dengan meledakkan bom mereka saat pasukan Irak mengepung mereka. Tak ada korban di pihak pasukan pemerintah Irak.


Pejabat-pejabat lokal mengatakan seperti dilansir kantor berita AFP, Senin (25/3/2019), ketiga terduga militan ISIS itu tewas saat mereka mencoba menyerang pasukan di desa Qayrawan, sebelah selatan wilayah pegunungan Sinjar yang berbatasan dengan Suriah.

Sebelumnya pada Sabtu (23/3) waktu setempat, Pasukan Demokrasi Suriah (SDF) yang didukung Amerika Serikat mengumumkan berakhirnya “kekhalifahan” ISIS yang telah berlangsung hampir lima tahun, yang selama ini mencakup sebagian besar wilayah Suriah dan Irak.

Kemenangan pasukan SDF tersebut disambut sebagai terobosan besar dalam perang melawan ISIS. Namun sejumlah pihak juga menyerukan kewaspadaan karena menganggap perang melawan ISIS belumlah berakhir.

Sebelumnya pada Februari 2019, SDF mengumumkan ‘pertempuran terakhir’ dengan ISIS. Sebuah desa kecil bernama Barghouz di dekat Sungai Eufrat disebut menjadi markas terakhir ISIS di Suriah.

Pada Maret 2019, SDF menyatakan Barghouz berhasil dikuasai kembali dan mengumumkan ‘kekalahan total’ ISIS di Suriah. Bendera kuning SDF dikibarkan di gedung-gedung Barghouz sebagai buktinya.

“Pasukan Demokratik Suriah menyatakan pembersihan total atas hal yang disebut kekhalifahan dan 100 persen kekalahan teritorial ISIS,” tegas juru bicara SDF, Mustefa Bali, dalam pernyataannya pada Sabtu (23/3) lalu.

(ita/ita)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Bukannya Keren, 7 Editan Photoshop Ini Malah Gagal Total

Liputan6.com, Jakarta Hampir sebagian besar foto yang diterbitkan di majalah atau iklan-iklan di TV dan billboard tentu harus tampil sempurna dan menarik. Oleh karena itu sebelum diterbitkan, tentu dilakukan serangkaian proses editing.

Photoshop menjadi salah satu proses editing yang sering digunakan oleh para fotografer. Melalui photoshop ada banyak hal yang bisa dilakukan untuk “menyulap” foto menjadi lebih ciamik.

Namun nyatanya tak semua foto yang diedit dengan photoshop berhasil terlihat menakjubkan loh. Ada pula beberapa editan photoshop yang gagal.

Dilansir dari BrightSide.me, berikut hasil editan Photoshop gagal yang bukannya terlihat keren tapi malah bikin tak habis pikir.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Untuk alasan tertentu, jika kamu ingin mengetahui lokasi seseorang lewat WhatsApp, kamu bisa melacaknya

Menuju Pariwisata Kelas Dunia, ISTA 2019 Menyediakan Total Hadiah Rp 1 Miliar

Liputan6.com, Jakarta – Kementerian Pariwisata (Kemenpar) kembali menggelar Indonesia Sustainable Tourism Awards (ISTA) 2019 yang kini memasuki tahun penyelenggaraan ketiga. Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya menargetkan semua destinasi wisata di Indonesia tersertifikasi pariwisata berkelanjutan sebagai syarat untuk menjadi berkelas dunia.

“Untuk mencapau tujuan itu, Kemenpar menerapkan program sustainable tourism for development (STDev) yang dituangkan dalam Peraturan Menteri Nomor 14 Tahun 2016 tentang Pedoman Destinasi Pariwisata Berkelanjutan yang mengadopsi standar internasional dari GSTC atau Global Sustainable Tourism Council,” ucap Arief dalam jumpa pers peluncuran dan dimulainya pendaftaran ISTA 2019 di Gedung Sapta Pesona, Kementerian Pariwisata, Jakarta Pusat, Senin, 18 Maret 2019.

ISTA bukan hanya memberikan penghargaan kepada masyarakat tapi juga untuk mengukur implementasi pariwisata berkelanjutan dalam pengelolaan destinasi wisata di Indonesia.

Ajang ISTA 2019 menawarkan total hadiah Rp 1 miliar dan diharapkan menjadi sarana sosialisasi dalam mewujudkan target Kemenpar agar semua destinasi pariwisata di Tanah Air tersertifikasi berkelanjutan.

“Ajang ISTA ini jadi langkah awal menuju sertifikasi destinasi berkelanjutan. Saya sudah membentuk Tim Percepatan Pembangunan Pariwisata Berkelanjutan yang dipimpin oleh Valerina Daniel,” tukas Menpar pada Liputan6.com.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Tim Percepatan Pembangunan Pariwisata Berkelanjutan Valerina Daniel menjelaskan, pariwisata berkelanjutan merupakan program Kemenpar yang senada dengan tujuan pembangunan global (sustainable development goals) dan sudah diadopsi dalam rencana pembangunan jangka menengah nasional (RPJMN).

Untuk menjadi sektor andalan, pariwisata harus memberdayakan semua pihak. Kemenpar telah membentuk Indonesia Sustainable Tourism Council (ISTC) yang bertugas melakukan sertifikasi bagi destinasi.

Prosesnya akan dimulai dengan menyertifikasi destinasi pemenang ISTA 2017 dan 2018 yang dinilai sudah mematuhi standar keberlanjutan yang diakui oleh United Nations World Tourism Organization (UNWTO).

Pariwisata berkelanjutan mempertimbangkan tiga aspek utama yaitu aspek lingkungan, sosial, dan ekonomi baik untuk saat ini maupun pada masa depan. Singkatnya 3P + 1M, yaitu ‘people, planet, prosperity, dan management’.

Total Aset Reksa Dana Syariah Capai Rp 37,3 Triliun

Bursa Efek Indonesia (BEI) menegaskan bahwa pasar modal syariah Indonesia merupakan yang terbesar di dunia. Menurut data World Bank, total penduduk Indonesia berjumlah 264 juta orang. Angka ini lebih besar dari jumlah penduduk di 8 negara yang memiliki aset kuangan syariah terbesar di dunia.

Dari 264 juta orang, 87 persen penduduknya merupakan muslim dan 64 persennya merupakan kelompok produktif. Hal ini lah yang membuat potensi pasar modal syariah di Indonesia begitu besar.

Ini dapat dibuktikan dari aset keuangan syariah Indonesia di pasar global berada di peringkat ke 7 mencapai USD 81 miliar pada 2017, mengalahkan Turki yang mencapai USD 49,5 miliar. 

“Indonesia peringkat ke 7 aset keuangan syariah di dunia 2017. Karna masih kecil maka ruang tumbuhnya begitu besar,” jelas Iwan Abdalloh, Kepala Divisi Pasar Modal Syariah Bursa Efek Indonesia, Senin (18/3/2019).

Adapun negara lain yang memiliki aset keuangan syariah tertinggi didunia pada 2017, Iran menduduki peringkat pertama dengan jumlah aset mencapai USD 545 miliar. Sedangkan posisi kedua ditempati oleh Saudi Arabia mencapai USD 472 miliar.

Sementara Malaysia menduduki peringkat ke tiga dengan jumlah aset USD 405 miliar. Posisi ke empat oleh Uni Emirat Arab mencapai USD 203 miliar. Dan posisi selanjutnya yaitu, Kuwait dengan USD 120 miliar, dan Bahrain mencapai USD 99 miliar.

Irwan menambahakan tingginya potensi pasar modal syariah di Indonesia juga didukung oleh milesstones lainnya. “Milestones ini udah ada dari lama kok, sudah ada sejak 1997,” ujarnya.

Adapun milestones yang menunjang pasar modal syariah yaitu, Reksa Dana Syariah yang ada sejak 1997, Indeks Saham Syariah sejak 2000, Sukuk pada 2002, Regulasi Pasar Modal Syariah sejak 2006, dan terakhir yaitu ETF Syariah yang ada sejak 2013.

California Umumkan Moratorium Hukuman Mati karena Dianggap Gagal Total

California – Gubernur California, Amerika Serikat, Gavin Newsom menerapkan moratorium hukuman mati di negara bagian yang dipimpinnya. Dengan moratorium ini, sebanyak 737 orang terpidana mati mendapat penangguhan hukuman mati.

“Hukuman mati telah gagal total. Itu membedakan berdasarkan warna kulit Anda atau berapa banyak uang yang Anda hasilkan,” ujar Newsom pada konferensi pers, Rabu (13/3) waktu setempat. “Itu tidak efektif, tidak dapat diubah, dan tidak bermoral,” imbuhnya seperti dilansir kantor berita AFP, Kamis (14/3/2019).

“Itu (hukuman mati) bertentangan dengan nilai-nilai yang kita perjuangkan — itulah sebabnya California menghentikan sistem yang gagal ini,” tandasnya.


Newsom, politikus Partai Demokrat yang mulai menjabat pada Januari lalu, selama ini telah menjadi penentang keras hukuman mati. Terakhir kali hukuman mati dilaksanakan di negara bagian tersebut adalah pada tahun 2006.

Newsom pun berharap California dan Amerika Serikat secara keseluruhan pada akhirnya akan menghapuskan hukuman mati untuk selamanya. “Kita tak ingin bergabung dengan Arab Saudi… Korea Utara. Kita tidak ingin menjadi bagian dari apa yang terjadi di Iran, di Irak, China, Somalia, Pakistan dan Mesir,” tutur Newsom.

“Itulah negara-negara — yang lima terakhir itu — yang bergabung dengan AS dalam mengeksekusi warga negaranya paling banyak dibandingkan negara-negara lainnya di bumi,” imbuhnya.

Newsom yang tampak emosional saat konferensi pers, menyatakan bahwa dirinya telah bertemu dengan kerabat para korban dan mengakui bahwa mereka berbeda pendapat mengenai hukuman mati.

“Saya bertemu seseorang kemarin yang mengatakan bahwa ini tentang membasmi kejahatan, dan Anda punya tanggung jawab untuk membasmi kejahatan dengan mengeksekusi mereka yang divonis mati,” tutur Newsom.

“Saya juga bertemu seorang ibu yang mengatakan … Anda tak berhak mencabut nyawa orang lain atas nama putri saya yang dibunuh,” katanya.
(ita/ita)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

PDIP: 165 WNI Terancam Hukuman Mati Juga Berhak Diplomasi Total Seperti Siti Aisyah

Liputan6.com, Jakarta – Anggota Komisi I DPR RI Charles Honoris, mengapresiasi keberhasilan Pemerintah dalam memulangkan Siti Aisyah ke Tanah Air. Aisyah bebas dari kasus pembunuhan tokoh politik Korea Utara di Malaysia.

“Bagi saya, pemerintah sudah menjalankan tugas konstitusionalnya untuk melindungi segenap warga negaranya baik di dalam maupun di luar negeri. Tercatat dalam 4 tahun terakhir pemerintah sudah berhasil memulangkan 279 WNI yang terancam hukuman mati di luar negeri,” kata Charles dalam keterangan tertulis di Jakarta, Rabu (13/3/2019).

Meski demikian, politisi PDIP itu menyebut data Kemenlu akhir 2018 masih ada 165 WNI yang terancam hukuman mati di sejumlah negara. Menurutnya, para pekerja lain juga berhak untuk mendapatkan upaya maksimal dan diplomasi total dari negara untuk bisa pulang ke Tanah Air, sama seperti Siti Aisyah.

“Mereka juga berhak mendapatkan perhatian publik yang tidak kalah dari kasus Siti Aisyah. Jangan sampai kejadian yang menimpa Tuti Tursilawati, TKI yang dihukum mati di Arab Saudi tanpa pemberitahuan otoritas setempat, terulang lagi. Saat ini masih ada setidaknya 13 WNI yang menunggu hukuman mati di Saudi,” jelasnya.

Charles mengatakan, ancaman hukuman mati WNI di luar negeri terjadi karena kasus pembunuhan majikan. Padahal, menurutnya, pada TKI terpaksa membunuh karena membela diri.

“Bukan karena tiba-tiba menjadi psikopat, tetapi karena dilecehkan, dianiaya bahkan diperkosa oleh sang majikan. Artinya, kekerasan itu terjadi karena tidak ada perlindungan yang memadai bagi buruh migran Indonesia di tempat mereka bekerja,” terangnya.