Tok! MA Bui Asma Dewi 165 Hari karena Sebarkan Kebencian ke Rezim Jokowi

Jakarta – Mahkamah Agung (MA) mengabulkan kasasi jaksa dan menghukum Asma Dewi selama 165 hari penjara. Asma Dewi dinyatakan bersalah karena menyebarkan kebencian di Facebook.

Kasus bermula saat Asma mengomentari status Facebook dengan nada kebencian pada 2016. Seperti:

Kalau di sini wajib belajar bahasa China.

Bahan baku vaksin palsu dari China, tapi Jokowi malah izinkan China bangun pabrik vaksin.

Rezim koplak. Di luar negeri dibuang, di sini disuruh makan rakyatnya.

Posting-posting itu dinilai memuat ujaran kebencian. Akhirnya tim Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim pada Jumat (8/9/2017) menangkap Asma dengan jeratan kasus ujaran kebencian, isu SARA, dan penghinaan. Asma lalu diadili di PN Jaksel.

Pada 15 Maret 2018, PN Jaksel menyatakan Asma melakukan pidana menghina suatu produk kekuasaan yang ada di negara Indonesia. Asma Dewi tidak menghormati kekuasaan negara. PN Jaksel lalu menjatuhkan hukuman 165 hari ke Asma Dewi.

Putusan itu dikuatkan Pengadilan Tinggi (PT) Jakarta pada Agustus 2018. Perkara berlangsung hingga tingkat kasasi. Apa kata MA?

“Kabul permohonan kasasi Jaksa/Penuntut Umum karena Judex facti telah tidak menerapkan hukum sebagaimana mestinya, sebab semestinya menerapkan Ubdang-undangan ITE, maka MA membatalkan putusan Judex facti dan mengadili sendiri dengan menerapkan Undang-undang ITE sehingga Terdakwa dinyatakan terbukti bersalah melakukan tindak pidana dalam dakwaan Kesatu. Lalu menjatuhkan pidana tetap sama dengan pidana yang dijatuhkan Pengadilan Negeri,” kata juru bicara MA, Andi Samsan Nganro saat dihubungi detikcom, Jumat (15/3/2019).

Putusan itu diketok oleh ketua majelis kasasi Andi Samsan Nganro dengan anggota Eddy Army dan Margono. Vonis itu diucapkan dalam sidang pada Rabu (13/3) kemarin.

“Pidananya 5 bulan 15 hari,” ujar Andi Samsan Nganro menegaskan.

(asp/rvk)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *