Quick Count Pilpres 2014 Diungkit, Husin Yazid Serang Balik Hamdi Muluk

Jakarta – Anggota Dewan Etik Perhimpunan Survei Opini Publik Indonesia (Persepi) Hamdi Muluk menyebut Indomatrik cuma ganti nama dari Puskaptis. Direktur Riset Indomatrik, Husin Yazid, menyerang balik Hamdi.

Yazid menyebut Hamdi tidak independen dan melibatkan lembaga survei yang ada di bawah naungan Persepi untuk mendukung Basuki Tjahaja Purnama (BTP) alias Ahok di Pilgub DKI 2017. Ini lantaran Hamdi mengungkit soal Puskaptis yang dikeluarkan dari Persepi karena dituding manipulatif karena quick count di Pilpres 2017 berbeda dari lembaga survei lainnya dengan memenangkan Prabowo-Hatta Rajasa.

“Justru Pak Hamdi Muluk yang ganti nama dari ketua jadi anggota. Karena sebagai ketua dewan etik dia tidak independen. Keberpihakan kepada calon-calon. Dan bahkan disinyalir menyuruh beberapa anggotanya di Persepi untuk mendukung calon tertentu. Contoh di Pilgub DKI 2017, di Ahoker,” tutur Yazid saat dihubungi, Sabtu (16/2/2019).


Dia mengatakan hanya berasumsi. Setelah mendukung Ahok di Pilgub DKI 2017, Yazid menduga Hamdi bersama beberapa lembaga survei di bawah Persepi kini mendukung capres petahana Joko Widodo (Jokowi)-Ma’ruf Amin.

“Saya berasumsi. Dulu dia Ahoker benar. Sekarang dia disinyalir. Karena dia membawahi beberapa lembaga survei yang dulu ke Ahok ini. Sekarang kan ke Jokowi, 01,” ucap Yazid.

Dia juga menyebut Hamdi tak punya pengalaman. Alasan-alasan ini pula yang disebut Yazid Puskaptis tak bersedia untuk diaudit pada 2014 lalu.

“Kedua, Saya pertanyakan integritas, kredibilitas, plus kompetensi dari Prof Hamdi Muluk karena dia belum punya pengalaman dalam survei bupati, wali kota, dan gubernur.Sementara saya, dari 2014 sudah lakukan 350-an untuk bupati-wali kota. Plus 34 provinsi. Dan presiden 2004-2009. Artinya dia tak punya kompetensi. Untuk apa saya diperiksa orang tak berpengalaman,” kata Yazid.

Sebelumnya diberitakan, Indomatrik mengeluarkan survei terkait Pilpres 2019. Hasilnya, elektabilitas Prabowo-Sandiaga semakin mendekati Jokowi-Ma’ruf Amin.

Anggota Dewan Etik Persepi, Hamdi Muluk, mengatakan Indomatrik tidak terdaftar di Persepi. Hamdi kemudian mengungkit soal hasil quick count Pilpres 2014 dari Puskaptis yang berbeda dengan perhitungan real count KPU.

Quick count Puskaptis, menyatakan elektabilitas Prabowo-Hatta Radjasa unggul dari Jokowi-Jusuf Kalla. Padahal kebanyakan lembaga survei mengumumkan kemenangan Jokowi-JK.

Hamdi kemudian mengungkit Puskaptis yang tak mau diaudit terkait quick count tersebut. Hamdi kemudian meminta masyarakat skeptis dengan melihat rekam jejak penyelenggara riset.

“Publik harusnya tidak melupakan rekam jejak Yazid dalam kasus kesalahan quick count di 2014. (Indomatrik) itu ganti nama saja (dari Puskaptis),” tandas Hamdi ketika dikonfirmasi detikcom, Sabtu (16/2/2019).

Puskaptis merupakan satu dari 4 lembaga survei yang dipermasalahkan saat Pilpres 2014 karena diduga memanipulasi hasil quick count. Pukaptis dan tiga lembaga riset lainnya, yakni Lembaga Survei Nasional (LSN), Indonesia Research Center (IRC), dan Jaringan Suara Indonesia (JSI), memenangkan pasangan Prabowo-Hatta Rajasa. Padahal lembaga survei lainnya merilis hasil Jokowi-Jusuf Kalla yang menang, dengan selisih angka tidak jauh dari real count KPU.

Hasil prediksi 4 lembaga itu sangat melenceng jauh dari real count KPU di mana pasangan Jokowi-JK mendapat perolehan 53,15% sementara Prabowo-Hatta 46,65%. Dari 4 lembaga survei yang diduga melakukan manipulatif, Puskaptis dan IRC yang prediksinya paling melenceng.

Puskaptis memiliki perbedaan angka sebesar 5,20%, sementara IRC selisihnya 4,26%. Padahal mereka sama-sama mematok margin error +-1%. Artinya, dalam prediksi mereka, kemungkinan perbedaan data dengan real count tidak akan lebih dari 1 persen. Namun kenyataannya sangat jauh.
(jbr/elz)

<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Top 3 News: Liburan Romantis Ala Ahok dan Puput Nastiti Devi di Jeju Korea

Liputan6.com, Jakarta – Top 3 news hari ini mengungkap sejumlah momen romantis seorang Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok dan Puput Nastiti Devi di Hari Valentine atau Hari Kasih Sayang. 

Lewat akun Instagram @sanggarguna dan @basuki_btp_lovers, sejumlah foto-foto kebersamaan keduanya tersebar luas di media sosial. Tak sedikit warganet yang dibuat baper karenanya.

Belakangan diketahui, momen romantis itu dilakukan Ahok dan Puput di Pulau Jeju Korea Selatan. 

Sementara itu, sebuah granat aktif meledak di permukiman warga di Desa Ciaruteun Ilir, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Kamis, 14 Februari 2019. Dua orang bocah meninggal dunia dalam peristiwa tersebut.

Sementara, satu orang lainnya kini tengah menjalani perawatan intensif di RSUD Leuwiliang.

Berawal dari tiga orang bocah belasan tahun yang menemukan sebuah kaleng susu di area lapangan dan membawanya pulang. Kaleng tersebut sempat dibuang orangtua dari salah satu anak, namun kembali diambil untuk dimainkan bersama kedua temannya.

Tanpa tahu jika isi kaleng tersebut berisi granat aktif, Muhammad Ibnu Mubarok (11), Muhammad Doni (11) dan Khoirul Islami (10), memukul kaleng susu tersebut menggunakan batu hingga terjadi ledakan.

Berikut berita terpopuler di kanal News Liputan6.com, sepanjang Jumat, 15 Februari 2019:

2 dari 5 halaman

1. 3 Pose Ahok Puput di Hari Valentine yang Bikin Baper Netizen

Seiring rencana pernikahan keduanya yang disebut segera digelar, Ahok dan Puput belum lama ini menunjukkan beberapa momen kemesraan di Hari Kasih Sayang, Kamis, 14 Februari kemarin. Tak terlihat lagi rasa canggung di antara kedunya.

Baik Ahok dan Puput nampak kompak dalam balutan baju serba hitam dengan latar belakang hamparan bunga kuning dan laut biru di kejauhan.

Dalam foto yang diposting oleh @sanggarguna di akun Instagramnya, terlihat Ahok merangkul pinggang Puput dengan erat sambil duduk dengan latar pemandangan alam yang indah.

Selain disuguhkan dengan panorama alam, hamparan bunga kuning dan lautan lepas di belakang semakin menambah keromantisan yang terjalin antara Ahok dan mantan ajudan Veronica Tan ini.


Selengkapnya…

3 dari 5 halaman

2. 5 Fakta 2 Bocah di Bogor Tewas Akibat Ledakan Granat Kaleng Susu

Sebuah granat aktif meledak di permukiman warga, tepatnya di Kampung Wangun Jaya RT 02/06, Desa Ciaruteun Ilir, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Dua bocah tewas dalam kejadian tersebut.

Cerita berawal saat tiga orang bocah tengah asyik bermain di sekitar lapangan tembak yang berada di kampung sebelah. Di sana mereka menemukan sebuah kaleng susu yang belakangan isinya ternyata granat aktif. 

Meski sang ibu telah membuangnya, salah satu korban kembali mengambil kaleng susu tersebut dan memainkannya. Ketiganya memukul-mukul kaleng berisi granat itu dengan menggunakan batu hingga terjadi ledakan.


Selengkapnya…

4 dari 5 halaman

3. Profil Achmad Zaky, Pendiri Bukalapak yang Sukses Berkarier di Usia Muda

From zero to hero mungkin predikat ini sangat pas disematkan untuk sosok Achmad Zaky, sebagai pendiri salah satu startup terbesar di Indonesia, yaitu Bukalapak. 

Sebenarnya apa alasan predikat tersebut pantas untuk disematkan pada pria kelahiran Sragen, Jawa Tengah, 32 tahun lalu ini?

Ketertarikan Achmad Zaky dengan dunia teknologi rupanya sudah tumbuh sejak dirinya menggeluti buku-buku pemrogaman yang dibelikan oleh pamannya, yaitu pada tahun 1997 silam.

Karena ketekunannya itu, saat menduduki bangku sekolah menengah atas di sebuah sekolah di Solo, Zaky berhasil meraih juara Olimpiade Sains Nasional (OSN) di bidang komputer.

Kesuksesan akademisnya itu tidak Zaky raih semata-mata hanya dengan belajar. Semasa kuliah, pria berkaca mata ini berkontribusi dalam menggagas ShARE Global Student Think-Tank bersama teman-temannya.


Selengkapnya… 

5 dari 5 halaman

Saksikan video pilihan di bawah ini:

JK Larang BTP Gabung TKN, PA 212: Memang Masih Ada Kekuatan Ahok?

Jakarta – Ketua Dewan Pengarah TKN, Jusuf Kalla (JK) tak ingin Basuki Tjahaja Purnama (BTP) alias Ahok bergabung dengan TKN. JK khawatir gabungnya Ahok akan mengurangi suara untuk Joko Widodo (Jokowi)-Ma’ruf Amin khususnya segmen pemilih muslim.

Terkait hal ini, Sekretaris Umum Persaudaraan Alumni (PA) 212 Bernard Abdul Jabbar menilai ungkapan JK bersifat normatif. Pasalnya, Ahok yang sudah bergabung dengan PDIP pasti akan memberi andil terhadap kemenangan Jokowi-Ma’ruf.

“Itu urusan JK dan tim. Memangnya kekuatan Ahok bagaimana? Masih ada kekuatan dia? Ya silakan-silakan aja. Dia kan sekarang sudah masuk PDIP, jadi otomatis harus bantu PDIP meskipun belum dimasukkan ke dalam timses,” kata Bernard saat dihubungi, Rabu (13/2/2019).
Namun Bernard melihat jika Ahok bergabung ke dalam timses, tak akan terlalu berpengaruh pada jumlah dukungan kalangan muslim ke Jokowi. Sebab, dukungan yang diberikan kalangan muslim karena memandang sosok Jokowi-Ma’ruf.
“Bergabungnya Ahok atau tidak bergabungnya Ahok, kita tahu Ahok sudah dihukum, penista agama, baru bebas juga. Mungkin bagi pendukungnya ya tetap. Tapi kalau Islam secara umum mendukung Jokowi-Ma’ruf mungkin ada reaksi. Cuma nggak terlalu berpengaruh, mereka kan nggak memandang Ahok. Tapi paslonnya yang dipandang,” kata Bernard.

Sebelumnya diberitakan, JK menyebut Ahok tak perlu bergabung dengan TKN Jokowi-Ma’ruf. Jika Ahok bergabung ke dalam TKN, lanjutnya, akan membuat orang mengaitkan Jokowi pada kasus Ahok.

“Kalau saya ditanya sebagai Ketua Dewan Pengarah, jangan (Ahok masuk TKN),” kata JK di kantor Wapres, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Selasa (12/2).

“Bahwa bisa berakibat lagi orang mengingat bahwa ‘oh ini Pak Jokowi dukung orang yang penista agama’, kan bahaya itu, bisa mengurangi suara. Apa saya bilang nanti, jadi lebihlah tenang-tenang, toh pemilu lagi 2 bulan, juga efeknya tidak akan banyak,” sambung JK.
(jbr/bag)

<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Eva Sundari Yakin Elektabilitas Jokowi-Ma’ruf Tak Turun Meski Ahok Gabung ke PDIP

Liputan6.com, Jakarta – Sekretaris Bidang Pelatihan dan Pendidikan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Eva Kusuma Sundari yakin elektabilitas pasangan capres-cawapres Joko Widodo (Jokowi) dan Ma’ruf Amin tak akan merosot meski Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok gabung ke PDIP. Sebab, kata dia, pemilih Jokowi memiliki pandangan Islam yang moderat.

“Menurutku enggak. Karena gini, siapa yang mendukung Pak Jokowi itu selalu mempunyai pandangan yang moderat tentang Islam dan bukan pandangan yang konservatif,” kata Eva di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (13/2/2019).

Menurut dia, Ahok juga akan tahu diri untuk tidak membantu Jokowi pada bagian-bagian pemenangan yang bisa merugikan pasangan nomor urut 01. Karena itu, dia yakin elektabilitas Jokowi-Ma’ruf tidak akan terpengaruh oleh Ahok.

“Pak Ahok tahu dirilah enggak mungkin akan bertindak sesuatu yang merugikan Pak Jokowi yang sahabat karibnya,” ujar Eva.

“Jadi kalau dia mau memaksakan kehendak-kehendak yang sensitif tidak akan dilakukan. kalau mau membantu ya jangan menurgikan itu menurutku,” sambung dia.

2 dari 3 halaman

Ahok Tak Gabung ke TKN

Eva juga menegaskan Ahok tidak akan bergabung ke Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf. Pasalnya, struktur TKN sudah tidak bisa diubah.

“Nah susunan TKN juga sudah fix di dalamnya jadi spekulasi bahwa Pak Ahok akan masuk ke TKN itu tidak benar. Dan Pak JK juga sudah menegaskan ini kan tidak masuk karena memang secara teknis nggak memungkinkan untuk merubah susunan TKN,” ucap dia.


Reporter: Sania Mashabi

Sumber: Merdeka

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Beda JK dan OSO soal Ahok Jadi Timses Jokowi

Jakarta – Dua pimpinan Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma’ruf Amin beda pendapat soal peran Basuki Tjahaja Purnama (BTP) alias Ahok di tim pemenangan pasangan nomor urut 01 itu. Bila Jusuf Kalla (JK) menolak Ahok masuk TKN, Oesman Sapta Odang (OSO) justru memberikan dukungan.

“Kalau saya ditanya sebagai Ketua Dewan Pengarah, jangan (Ahok masuk TKN),” kata JK di kantor Wapres, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Selasa (12/2/2019).

Di TKN Jokowi-Ma’ruf, JK merupakan Ketua Dewan Pengarah. Pria yang kini masih menjabat sebagai Wapres ini punya alasan mengapa melarang Ahok masuk ke tim pemenangan Jokowi-Ma’ruf.

Jika Ahok masuk ke TKN, kata JK, hal itu akan mengingatkan orang akan kasus penistaan agama yang membuat eks Gubernur DKI itu dihukum bui 2 tahun penjara. Menurutnya, Orang-orang yang sampai saat ini masih meyakini kesalahan Ahok akan mengira capres petahana Joko Widodo (Jokowi) mendukung kesalahan Ahok.
“Bahwa bisa berakibat lagi orang mengingat bahwa ‘oh ini Pak Jokowi dukung orang yang penista agama’, kan bahaya itu, bisa mengurangi suara. Apa saya bilang nanti, jadi lebihlah tenang-tenang, toh pemilu lagi 2 bulan,” kata JK.

JK pun menilai efek yang akan diberikan Ahok bila masuk TKN Jokowi-Ma’ruf tidak akan signifikan mengingat pelaksanaan Pilpres 2019 tak akan lama lagi. “Juga efeknya tidak akan banyak,” tuturnya.

Rupanya OSO tak sependapat dengan JK. Menurut Dewan Penasihat TKN ini, Ahok sudah otomatis bergabung dalam pemenangan Jokowi-Ma’ruf tanpa perlu ada formalitas.

“Sebetulnya nggak usah disuruh bergabung juga dia udah bergabung kan, karena dia bergabung dengan PDIP. PDIP kan pendukung 01,” kata OSO di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (13/2).

Beda JK dan OSO soal Ahok Jadi Timses JokowiFoto: Jusuf Kalla (JK). (Noval Dhwinuari Antony/detikcom).

Soal pernyataan JK terkait kasus Ahok, dia justru bertanya-tanya apakah kader baru PDIP tersebut betul penista agama. OSO juga mengingatkan, Ahok sudah menjalani hukumannya.

“Ya itu kan prediksi Pak JK, saya juga nggak bisa mempengaruhi. Tapi kan begini, apa benar Ahok itu penista agama? Itu kan menjadi tanda tanya, ya kan?” ujar Ketua DPD RI itu.

“Jadi, ya, sebetulnya dia sudah melakukan kewajibannya, ya sudah dong. Jadi apa yang mau dilakukan sebagai anak bangsa ya silakan aja dilakukan,” lanjut OSO.

Jokowi sendiri belum mengomentari polemik status Ahok di tim pemenangannya. Namun Ma’ruf Amin sudah angkat bicara. Ia setuju dengan pendapat JK.

“Saya kira bagus sarannya Pak JK itu ya bagus aja,” ujar Ma’ruf Amin kepada wartawan di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jl Jenderal Sudirman, Jakarta, Rabu (13/2).

Sementara itu menurut eks juru bicara Ahok di Pilgub DKI 2017, Raja Juli Antoni, Ahok sudah sadar dengan posisinya. Meski begitu, ia juga memahami kekhawatiran JK.

“Tanpa perlu dilarang, Ahok kayaknya sadar untuk tidak akan terlibat langsung pilpres kali ini, apalagi masuk secara formal di TKN,” ungkap Raja Juli kepada wartawan, Rabu (13/2).

Beda JK dan OSO soal Ahok Jadi Timses JokowiFoto: Ahok saat ke rumah OSO. (Screenshot video)

“Dalam konteks itu, saya bisa memahami kekhawatiran Pak JK. Politik identitas pada pilpres lalu sampai sekarang sangat kental. Apalagi setelah Pilkada DKI,” sambung Wakil Sekretaris TKN Jokowi-Ma’ruf itu.

Terlepas dari masalah ini, Toni meyakini Ahok akan berperan untuk pemenangan Jokowi lewat caranya sendiri. Wakil Sekretaris TKN Jokowi-Ma’ruf Amin itu yakin Ahok juga tak akan memaksa bisa masuk timses pasangan nomor urut 01 tersebut.

“Dalam konteks itu, saya bisa memahami kekhawatiran Pak JK. Politik identitas pada pilpres lalu sampai sekarang sangat kental. Apalagi setelah Pilkada DKI,” tutup Toni.

Ikuti Perkembangan Pemilu 2019 hanya di sini.
(elz/tor)

<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Yenny Wahid: Saya Terkejut Kiai Ma’ruf Kuasai Strategi Debat, Lebih Siap

Jakarta – Putri Presiden RI ke-4 Abdurrahman Wahid (Gus Dur) Yenny Wahid bertemu cawapres nomor urut 01 KH Ma’ruf Amin untuk memberi masukan terkait debat cawapres. Yenny mengaku terkejut karena menurutnya Kiai Ma’ruf sudah menguasai banyak isu.

“(Memberi masukan soal debat) sedikit, ke Kiai Ma’ruf iya. Soal millenial misalnya, tapi ternyata saya cukup surprise ini bisa jadi beritanya nih. Saya datang memang untuk bicara dengan beliau soal bagaimana strategi debat. Ternyata, beliau jauh lebih siap dan lebih menguasai banyak isu yang ada,” ujar Yenny usai berkunjung ke kediaman KH Ma’ruf Amin di Jl Situbondo, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (12/2/2019).

Yenny mengatakan Ma’ruf menguasai banyak isu. Dia lalu berbicara soal komitmen Ma’ruf Amin terhadap kaum millenial.
“Saya malah sangat terkejut tapi senang, bahwa beliau sangat menguasai banyak isu yang ada, beliau sangat up to date dengan perkembangan-perkembangan yang ada di masyarakat. Termasuk juga dengan apa yang terjadi,” ucap Yenny.

“Komitmen beliau terhadap kelompok millenial dan beliau punya komitmen besar untuk…, bukan saja mendengarkan atau mendapatkan suara dari millenial, tapi juga mendengarkan suara millenial agar bisa bersama-sama membangun bangsa,” imbunya.

Dia lalu berbicara soal Jokowi. Jokowi, kata Yenny, pasti akan tetap jadi diri sendiri.

“Pak Jokowi jadi dirinya sendiri, Pak Jokowi bisa menjelaskan apa yang telah beliau lakukan dengan jelas, dengan artikulatif. Yang paling penting Jokowi tetap jadi dirinya sendiri. Sosok yang humble, sosok yang tegas, dan sosok yang sederhana yang memang betul-betul punya komitmen besar untuk kebaikan di tengah-tengah masyarakat,” tutur Yenny.

Yenny Tanggapi soal Peluang Ahok Gabung TKN

Usai bertemu dengan Ma’ruf Amin, Yenny Wahid juga diwawancarai soal peluang Basuki Tjahaja Purnama (BTP) atau Ahok gabung TKN Jokowi-Ma’ruf Amin. Apa kata Yenny?

“Saya nggak tahu strategi tim kampanye seperti apa karena saya nggak gabung di TKN, jadi saya tidak punya hak sama sekali untuk memberikan arahan tentang harus seperti apa, siapa yang harus dirangkul. Tapi saya berharap semua orang yang memang mempunyai nilai-nilai yang sama dengan yang diperjuangkan oleh pasangan Jokowi-Maruf mau ikut turun tangan, mau ikut andil untuk memenangkan pasangan Jokowi-Ma’ruf,” sebut Yenny.

Yenny menegaskan dirinya tidak bisa merekomendasikan TKN merekrut tokoh tertentu untuk mendukung Jokowi-Ma’ruf. Dia melanjutkan, jika memang ingin mendukung Jokowi, tokoh-tokoh itu sebaiknya turun langsung.

“Siapa pun, yang mau ikut ambil bagian. Tapi bahwa, saya tidak bisa mengatakan akan TKN karena saya tidak di situ. Tidak bisa minta tokoh yang mana, tokoh yang mana, kita juga datang dengan kesadaran sendiri,’ imbuh Yenny.

Dia juga menanggapi dukungan Waketum Partai Berkarya Muchdi PR ke Jokowi-Ma’ruf Amin. Yenny menegaskan setiap orang punya hak sama dalam politik.

“Semua orang punya hak politik. Semua orang yang paling penting paslon mana pun menerima dukungan dari siapa pun. Yang paling penting dukungan itu tidak mendikte atau membelenggu kebijakan pemerintahan ke depan. Siapa pun boleh mendukung,” ucap Yenny.

“Saya rasa komitmen dari beliau berdua sudah ditunjukkan dan tidak akan terpengaruh. Hal yang menarik dari Jokowi-Ma’ruf adalah beliau berdua bukan orang yang bisa didikte. Jadi menurut saya orang bebas kok mengekspresikan dukungan kepada paslon 01, nah kita lihat. Bagi kami adalah kualitas dari beliau berdua yang punya sikap ketegasan dan tidak bisa didikte,” tutur Yenny.
(gbr/hri)

<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Sahabat: Ahok Nggak akan Balas Dendam ke PA 212 Lewat PDIP

Jakarta – Dosen UIN Adi Prayitno mengungkap PA 212 curiga Basuki Tjahaja Purnama (BTP) alias Ahok akan balas dendam lewat PDIP. Jubir PA 212, Novel Bamukmin, mengklarifikasi bahwa hal tersebut harapan, bukan kecurigaan. Sahabat Ahok yang juga politikus PDIP, Charles Honoris, menegaskan isu itu sama sekali tidak benar.

“Nah itu, saya bilang nggak mungkin balas dendam. Karena gini, Pak Ahok sudah memilih masuk PDI Perjuangan bukan untuk aktif berpolitik tetapi memilih PDI Perjuangan sebagai rumah untuk menyalurkan aspirasi politiknya,” kata politikus PDIP, Charles Honoris, di Resto Es Teler 77, Jalan Adityawarman, Jakarta Selatan, Senin (11/2/2019).

Charles sekali lagi menepis anggapan bahwa Ahok akan balas dendam. Menurutnya, meskipun bergabung ke PDIP, Ahok tak tertarik menjadi pejabat negara.
“Jadi saya rasa tidak benar anggapan bahwa Pak Ahok ingin balas dendam ya, karena sekali lagi Pak Ahok sendiri sudah mengatakan bahwa masuk PDI Perjuangan itu bukan untuk menjadi pengurus ya, tidak tertarik menjadi pejabat negara, tapi hanya merasa bahwa PDI Perjuangan adalah rumah besar kaum nasionalis sehingga rumah yang cocok untuk bisa menyalurkan aspirasi politiknya,” ungkapnya.

“Bahwa Pak Ahok masuk PDI ya sebagai kader, bukan sebagai pengurus partai. Tidak punya kewenangan khusus untuk bisa mengatur kebijakan partai juga, atau tidak juga memiliki keinginan untuk menjadi pejabat negara. Misalkan ikut pilkada, atau ikut pemilu legislatif ya, hanya sebagai kader yang ingin memberikan kontribusi pemikiran, menyalurkan aspirasi politiknya ke PDI Perjuangan,” imbuh Charles.

Charles sekali lagi menegaskan Ahok tak akan balas dendam. Baginya, partai politik bukan alat untuk balas dendam, tetapi untuk kesejahteraan rakyat.

“Pasti tidak (akan balas dendam), pasti tidak. Karena PDI Perjuangan partai politik, partai PDI Perjuangan bukan alat untuk balas dendam ya, tapi partai politik adalah alat untuk kesejahteraan rakyat,” tegasnya.

Sebelumnya, Adi Prayitno mengungkapkan, PA 212 curiga bergabungnya Ahok ke PDIP lantaran ingin balas dendam. Ahok dicurigai ingin menjadikan PDIP sebagai alat untuk membalas dendam kepada kelompok yang memenjarakannya.

“Semalam saya diskusi dengan Alumni 212 Novel Bamukmin, dia ngomong bahwa di PA 212 itu mencurigai kembalinya Ahok ke PDIP dikhawatirkan menjadi ajang untuk membalas dendam kepada kelompok yang mengkriminalkan Ahok,” ujar Adi di restoran Bakoel Koffie, Cikini, Jakarta Pusat, Minggu (10/2).

Adi mengaku mendapat informasi langsung dari Ketua Media Center PA 212 Novel Bamukmin. Ahok dicurigai akan menggunakan PDIP sebagai kendaraan politik untuk memperoleh lagi kekuasaan.

Novel Bamukmin sudah meluruskan pernyataan Adi. Novel hanya berharap PDIP bisa membina Ahok agar tak lagi bikin gaduh.

“Saya hanya mengkhawatirkan semoga bergabungnya BTP ini tidak menjadi ajang balas dendam atas masalah yang pernah terjadi dengan kasus hukum BTP ini. Semoga PDIP bisa membina BTP dengan baik agar BTP tidak kembali membuat kegaduhan dan kekisruhan negara ini,” kata Novel, hari ini.
(gbr/tor)

<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Erick Thohir Pastikan Ahok Tak Akan Masuk TKN Jokowi-Ma’ruf

Jakarta – Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma’ruf Amin, Erick Thohir menaggapi isu bergabungnya Basuki Tjahaja Purnama (BTP/Ahok) jadi bagian TKN. Apa kata Erick?

“Ketika BTP (masuk PDIP) ya pilihan, apakah BTP di TKN, ya tidak ada (peluang), kan (TKN) sudah ada strukturnya,” ujar Erick di Ballroom Hotel Pullman, Podomoro City, Jakarta Barat, Minggu (10/2/2019).

Selain itu, Erick membandingkan keputusan Ahok sama seperti tokoh lain yang masuk ke dalam partai politik. Dirinya tidak ingin mencampuri urusan partai karena TKN hanya berfokus pada pilpres 2019.

“Hak sebagai warga negara itu hal yang wajar saja. Seperti Tuan Guru Bajang (TGB) yang ke Partai Golkar, dan Mba Yenni Wahid yang tidak ke partai, kan itu hal pilihan,” katanya.

“Bahwa masing-masing partai punya pergerakan sendiri, TKN ini dibentuk untuk mendukung pilpres, bukan partai. Karena itu, apakah TKN juga bisa mencampuri urusan partai, tidak mungkin, kita punya keterbatasan,” lanjut Erick.
Sebelumnya, Ahok resmi menjadi kader PDIP pada Jumat (8/2) di Kantor DPD PDI Perjuangan Bali. Dia mengaku PDIP sejalan dengan ideologi perjuangannya.

“Memang sesuai garis ideologi perjuangan saya,” kata Ahok ketika ditanya alasannya menjadi kader PDIP.
(gbr/tor)

<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Dosen UIN Ungkap PA 212 Curiga Ahok akan Balas Dendam Lewat PDIP

Jakarta – Dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Adi Prayitno, mengungkapkan PA 212 curiga bergabungnya Basuki Tjahaja Purnama (BTP) alias Ahok ke PDIP lantaran ingin balas dendam. Ahok dicurigai ingin menjadikan PDIP sebagai alat untuk membalas dendam pada kelompok yang memenjarakannya.

“Semalam saya diskusi dengan Alumni 212 Novel Bamukmin, dia ngomong bahwa di PA 212 itu mencurigai kembalinya Ahok ke PDIP dikhawatirkan menjadi ajang untuk membalas dendam kepada kelompok yang mengkriminalkan Ahok,” ujar Adi di restoran Bakoel Koffie, Cikini, Jakarta Pusat, Minggu (10/2/2019).

Adi mengaku mendapat informasi langsung dari Ketua Media Center PA 212 Novel Bamukmin. Ahok dicurigai akan menggunakan PDIP sebagai kendaraan politik untuk memperoleh lagi kekuasaan.
“Jadi kelompok 212 sekalipun Ahok hanya anggota biasa di PDIP dikhawatirkan dia mengakumulasi kekuatan politiknya di PDIP apalagi berpotensi jadi menteri dan seterusnya. Ini akan menjadi ancaman besar terhadap 212,” katanya.

Di sisi lain, menurut Adi, bergabungnya Ahok ke PDIP juga untuk menggaet suara para Ahoker yang belum menentukan pilihan. Dengan demikian, Ahoker akan ikut melabuhkan dukungannya ke PDIP dan Jokowi-Ma’ruf Amin.

“Ahokers minimal tidak galau. Mereka tidak galau apalagi mengancam golput untuk memilih di 2019. Ahokers kan timbuh di mana-mana, menantikan kiprah Ahok di politik. Setelag Ahok ke politik masuk ke PDIP ini, loyalis-loyalis Ahok ini akan berdenyut di mana-mana,” tutur Adi.

Sebelumnya diberitakan, Ahok resmi menjadi kader PDIP sejak 26 Januari 2019. Dia mengaku PDIP sejalan dengan ideologi perjuangannya. Dia pun mengaku mantap menjadi kader partai berlambang banteng moncong putih itu.

“Memang sesuai garis ideologi perjuangan saya,” kata Ahok ketika ditanya alasannya menjadi kader PDIP.
(mae/tor)

<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

PDIP soal Ahok Bergabung: Akan Digembleng Jadi Pancasilais Sejati

Jakarta – Wakil Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan, Ahmad Basarah bicara terkait Basuki Tjahaja Purnama (BTP) alias Ahok yang bergabung ke PDIP. Basarah menjelaskan Ahok akan digembleng jadi pancasilais sejati.

“Masuknya Ahok ke PDIP bukan sesuatu yang istimewa. Karena hampir setiap hari PDIP di berbagai daerah menerima pendaftaran kader kader bangsa yang sebelumnya belum menjadi anggota PDIP karena tertarik dengan ideologinya,” ucap Basarah dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (9/2/2019).

Basarah mengatakan banyak orang yang sengaja masuk PDIP karena ideologi yang dimiliki PDIP. Terlebih, menurutnya, semua yang sudah masuk menjadi pribadi yang nasionalis.
“Saya kira termasuk Pak Ahok. Begitu masuk ke PDIP, dia juga akan digembleng secara ideologis menjadi seorang pancasilais sejati,” ujarnya.

Menurut Basarah, penggemblengan itu merupakan salah satu fungsi partai sebagai sarana pendidikan politik rakyat. Kader diharapkan menjadi kader pemimpin bangsa.

“Jadi inilah fungsi parpol sebagai sarana pendidikan politik rakyat, menggembleng anggotanya, kadernya untuk dapat menjadi kader pemimpin bangsa yang akan mengabdikan dirinya untuk kepentingan rakyat, bangsa dan negara,” imbuhnya.

Basarah menyatakan bergabungnya Ahok ke PDIP bukanlah sesuatu yang spesial. Ahok tidak akan diperlakukan spesial dan sama seperti anggota baru lainnya.

“Sama sebagai anggota baru, akan diperlakukan sama seperti anggota anggota baru yang lainnya. Mereka akan memiliki hak dan kewajiban yang harus ditunaikan,” tutur Basarah.

Basarah mengaku sudah tahu ketika Ahok mendaftarkna diri dan deklarasi di DPD Bali. Menurutnya, selepas keluar dari penjara, hak-hak Ahok pun ikut pulih.

“Sejak dia sudah dinyatakan bebas oleh pengadilan, karena sudah menjalani hukumannya, maka hak-hak politik Ahok pulih kembali,” ucap Basarah.

Basarah berharap Ahok bisa menjadi pancasilais dan bisa kembali berjuang untuk kepentingan bangsa dan negara.

“Saya kira Pak Ahok masuk ke PDIP dalam rangka mendarmabaktikan perjuangannya untuk kepentingan bangsa dan negara dengan keinginan Ibu Megawati agar beliau dapat menjadi seorang pancasilais,” tuturnya.
(idh/idh)

<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>