Tiga Batak di Balik Pembangunan Masjid Istiqlal

Organisasi proyek pembangunan Masjid Istiqlal sebenarnya tak seberapa rumit. Di lapangan, menurut Setiadi Sopandi, arsitek dan penulis biografi Friedrich Silaban, ada tiga bagian besar kelompok kerja. Bagian perancangan yang bertanggungjawab atas semua gambar detail arsitektur Istiqlal dipimpin langsung oleh Friedrich Silaban dibantu tim dari Perusahaan Negara Virama Karya.

Sementara bagian kedua bertanggungjawab atas perhitungan struktur dipimpin Roosseno dan H.R. Sidjabat bersama tim PN Indah Karya. Bagian terakhir, pekerjaan konstruksi ditangani oleh Perusahaan Negara Adhi Karya. Di PN Adhi Karya, Johan Simanjuntak menjabat Direktur Teknik.

Salah satu bagian pekerjaan paling sulit dari Proyek Istiqlal adalah penggarapan bagian kubah besarnya yang berdiameter 45 meter dan berada pada ketinggian 35 meter di atas tanah. “Silaban mengusulkan kubah itu dibangun mengikuti model cangkang telur,” kata Setiadi. Artinya, kekuatan dari kubah itu bersandar pada bagian cangkang kubah beton itu sendiri, tanpa perlu ada jari-jari kerangkanya.

Masalahnya, saat itu belum ada kubah beton sebesar dan seberat itu pernah dibangun di Indonesia. Tak ada satu pun insinyur Indonesia punya pengalaman membangun kubah beton sebesar itu. Tak hanya soal bagaimana menghitung kekuatannya, tapi juga bagaimana metode pengecoran kubah raksasa itu?

Walhasil, Panitia Pembangunan Masjid Istiqlal mengutus dua sahabat keturunan Batak, H.R. Sidjabat dan Johan Simanjuntak, berangkat ke Eropa. Selama sebulan, mereka berkeliling menemui ahli-ahli struktur bangunan dan perusahaan fabrikasi beton yang punya kemampuan maupun pengalaman membuat kubah beton sebesar itu.

Setelah menyimak hasil perjalanan H.R. Sidjabat dan Johan Simanjuntak dari Eropa, Panitia Proyek Istiqlal memutuskan memakai metode polihedron untuk membangun kubah masjid nasional itu. Dua jago struktur bangunan dari Technische Universitat Darmstadt, Jerman Barat, Walther Mann dan Helmut Emde, dipercaya merancang dan menghitung kestabilan kubah polihedron Istiqlal. Untuk urusan fabrikasi panel-panel polihedron kubah, ditunjuk perusahaan Jerman, MERO TSK International Gmbh.

Bertahun-tahun bekerja bersama untuk Proyek Istiqlal membuat Sidjabat makin akrab dengan teman kuliahnya, Johan Simanjuntak. “Pak Simanjuntak adalah soulmate Bapak hingga akhir hayatnya,” Sonya menuturkan. Bahkan setelah tak lagi di Proyek Istiqlal, hubungan keduanya makin erat. Reguel Sidjabat terus berkarir di perusahaan negara dan Kementerian Pekerjaan Umum hingga pensiun, sementara Johan Simanjuntak menjadi pengusaha fabrikasi beton.”Saking dekatnya hubungan mereka, belum pernah satu pagi pun dilalui Bapak tanpa sapaan telepon dari Pak Simanjuntak.”

Lantaran begitu sering berhubungan, Sidjabat makin dekat pula dengan dua idolanya, Roosseno dan Friedrich Silaban. Bahkan sang profesor, Roosseno, lah tamu yang datang pertama dan pulang terakhir ketika Sidjabat menikahkan putrinya. Lewat Roosseno pula, Reguel Sidjabat, pemuda dari Pulau Samosir itu, bertemu dan bersalaman pertama kalinya dengan idola masa kecilnya, Presiden Sukarno. “Saat pertama kali bertemu Presiden Soekarno di Istana, katanya Bapak gemetar,” ujar si sulung Relinda. Sejak saat itu, Sidjabat makin sering ke Istana bersama Roosseno untuk melaporkan perkembangan proyek Istiqlal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *