Tersandung Skandal Korupsi, Ini Penampakan Gedung Kemenag Aceh

Kamis 21 Maret 2019, 16:04 WIB

Agus Setyadi – detikNews

Banda Aceh detikNews – Pembangunan gedung Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Aceh tersandung skandal korupsi. Seperti apa penampakan gedung tersebut?

Gedung perkantoran Kanwil Kemenag Aceh terletak di Jalan Tgk. Abu Lam U, Desa Kampung Baru, Kecamatan Baiturrahman, Kota Banda Aceh.  Lokasi ini persis di depan Taman Sari Banda Aceh.

Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com

Berurutan 2 Ketumnya Tersandung Korupsi, Bagaimana Langkah PPP?

Jakarta – Sudah dua Ketua Umum PPP berurusan dengan KPK karena kasus korupsi. Setelah Suryadharma Ali, kini penggantinya yaitu Romahurmuziy (Rommy) juga mengenakan rompi oranye KPK. Dua kasusnya juga sama-sama berkaitan dengan Kementerian Agama. Apa yang akan dilakukan Partai Kakbah?

Pada 22 Mei 2014, Ketum PPP Suryadharma Ali ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan korupsi penyelenggaraan ibadah haji. Suryadharma ditahan setelah menjalani pemeriksaan sebagai tersangka pada 10 April 2015.

Pada 11 Januari 2016, Suryadharma dihukum 6 tahun penjara dan denda Rp 300 juta subsider 3 bulan kurungan serta uang pengganti Rp 1,821 miliar. Suryadharma terbukti melakukan tindak pidana korupsi dalam penyelenggaraan ibadah haji. Lalu, divonis 6 tahun penjara diperberat oleh pengadilan tinggi menjadi 10 tahun penjara.


Selanjutnya, Ketum PPP Romahurmuziy ditetapkan tersangka oleh KPK pada Sabtu (16/3) kemarin. Dia menjadi tersangka kasus dugaan jual beli jabatan di Kementerian Agama level pusat dan daerah.

Baik Suryadharma maupun Rommy tersandung korupsi, dalam artian terganggu langkah politiknya sebagai Ketua Umum PPP gara-gara harus berurusan dengan penegak hukum, entah sebagai tersangka ataupun status hukum lain. Kini Sekretaris Jenderal PPP Arsul Sani menyadari kondisi ini.

“Ada yang perlu diperbaiki,” kata Sekjen PPP Arsul Sani kepada wartawan, Minggu (17/3/2019).

Dia menilai perlu perubahan skala luas di PPP. Perubahan itu meliputi struktur, aturan, dan budaya. Pertama, PPP akan membentuk Majelis Partai.

“Ada perubahan sistemik yang harus kami lakukan di PPP. Pertama, menyangkut struktur partai, antara lain dengan membuat Majelis Etik Partai,” kata Arsul.

Perubahan selanjutnya yakni menciptakan aturan dan kode etik terhadap pengurus partai, termasuk yang menjabat sebagai anggota legislatif dan eksekutif.

“Ketiga, mengubah budaya berpartai agar tercipta kesadaran bahwa berpartai itu bukan untuk mendapat sesuatu, tapi untuk mengkontribusikan sesuatu,” ujar Arsul.

Menurut Arsul, tiga langkah itu bisa memperbaiki partainya. Mampukah Partai Kakbah berubah?
(dnu/zap)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Menag Pecat Dua Anak Buahnya yang Tersandung Kasus Suap Lelang Jabatan

Liputan6.com, Jakarta Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin memastikan akan memecat dua anak buahnya yang terlibat kasus dugaan suap seleksi jabatan yang diungkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Lukman memastikan segera memecat dua anak buahnya tersebut dan tidak akan memberikan bantuan hukum.

“Kementerian Agama segera memberhentikan pegawai yang terlibat dalam peristiwa OTT oleh KPK, dan tidak akan memberikan bantuan hukum dalam bentuk apapun,” ujar Lukman saat memberikan keterangan persnya di kantor Kementerian Agama, Jakarta, Sabtu (16/3/2019).

Adapun dua anak buahnya yang ditetapkan sebagai tersangka suap adalah Kepala Kantor Kemenag Gresik Muhammad Muafaq dan Kepala Kanwil Kementerian Agama, Jawa Timur Haris Hasanuddin.

Keduanya ditangkap KPK dalam operasi tangkap tangan (OTT) bersama Ketum PPP Romahurmuziy atau Romi.

Lukman pun memerintahkan jajaran aparatur sipil negara (ASN) di bawahnya untuk bekerja sama dengan KPK dalam mengungkap dan menuntaskan kasus dugaan suap terkait seleksi jabatan di lingkungan Kemenag.

Pihaknya juga segera mengevaluasi sistem dan tata kelola kepemerintahan di lingkungan Kemenag agar benar-benar dapat mencegah dan memberantas korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN).

Dia juga meminta ASN untuk menjaga integritas pribadi dan institusi dengan menolak setiap pengaruh yang dapat menjerumuskan diri dan institusi ke dalam praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN).

Serta menegakkan etika, disiplin, dan aturan dalam menyelenggarakan urusan pemerintahan termasuk dalam penjatuhan sanksi dan hukuman disiplin.

“Tetap bekerja dengan baik dan penuh semangat pengabdian dalam memberikan layanan kepada seluruh masyarakat,” ucap Lukman.

Tabrakan Kapal Feri di Jepang Gara-gara ‘Tersandung’ Hewan Laut

Jakarta – Sebuah kapal feri jetfoil (berkecepatan tinggi) menabrak binatang laut saat melintas di Pulau Sado, Laut Jepang. Akibat kejadian tersebut, 80 orang dilaporkan luka-luka.

Dilansir dari Japan Today, Minggu (10/3/2019), kecelakaan tersebut terjadi pada Sabtu (9/3) siang sekitar pukul 12.15 waktu setempat. Penjaga pantai dan operator kapal menyatakan 13 dari 80 orang terluka di antaranya mengalami luka parah seperti retak hingga patah tulang.

Kapal feri jetfoil tersebut membawa 121 penumpang dan 4 kru kapal. Kapal tersebut berangkat dari pelabuhan di Niigata sekitar pukul 11.30 waktu setempat.


Mengacu pada keterangan Sado Steam Ship Co, kecelakaan tak menyebabkan kapal tak mencapai tujuan. Kapal tetap mencapai tujuan akhir di Pelabuhan Ryotsu sekitar pukul 13.30 waktu setempat.

Bagian sayap belakang kapal mengalami kerusakan karena kecelakaan menabrak pesawat tersebut. Hewan penyebab kecelakaan masih dalam investigasi, bisa paus atau makhluk laut besar lain.

Dewan Keselamatan Transportasi Jepang mengatakan akan mengirim tiga penyelidik untuk melakukan penyelidikan mulai hari Minggu kemarin.

Disebutkan bahwa kecelakaan kapal menabrak hewan laut bukanlah hal yang langka untuk wilayah perairan antara Jepang dan Korea Selatan. Khusus operator feri yang mengalami kecelakaan, mereka menyatakan telah memasang perangkat khusus untuk mengeluarkan suara yang dapat mengusir paus.
(rna/tsa)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Final Piala AFF U-22 2019, Begini Perjalanan Timnas Indonesia U-22 dan Thailand ke Partai Puncak

Jakarta Timnas Indonesia U-22 bakal melakoni pertandingan penentuan juara Piala AFF U-22 2019 pada Selasa (26/2/2019) di Olympic Stadium, Kamboja. Thailand, lawan yang dihadapi bukan tim yang asing.

Thailand, spesialis sukses di berbagai level turnamen Asia Tenggara. Tim Negeri Gajah Putih mungkin sudah bosan mengangkat trofi sanking seringnya menjadi juara.

Sementara itu, Tim Merah-Putih selalu kesulitan menjadi yang terbaik. Semenjak 1991 menjadi juara SEA Games, Indonesia baru mengakhiri paceklik gelar pada Piala AFF U-19 2013, dan kemudian diikuti kesuksesan di Piala AFF U-16 2018 lalu.

Di level senior, nama Timnas Indonesia tak pernah masuk dalam catatan buku sejarah sebagai juara.

Menariknya Indra Sjafri, yang menukangi Timnas Indonesia U-22 saat ini adalah aktor sukses Timnas Indonesia U-19 lima tahun silam.

Sang mentor dianggap sosok yang membangkitkan euforia sepak bola usia dini. Di tangannya lahir bintang-bintang berkelas macam Evan Dimas, Putu Gede, Ilham Udin Arymain.

Bersama Timnas Indonesia U-22, Indra membawa bintang-bintang wajah baru. Osvaldo Haay, Marinus Wanewar, Lutfi Anwar, bersiap mencetak sejarah baru bagi sepak bola Indonesia, yang tengah koyak dengan kasus-kasus pengaturan skor di kompetisi domestik. 


2 dari 3 halaman

Timnas Indonesia U-22 Sempat Terseok di Penyisihan

Langkah Timnas Indonesia U-22 menunju final Piala AFF U-22 2019 tak mulus. Terutama saat melakoni tiga laga penyisihan Grup B.

Pada laga pertama penyisihan Grup B, Tim Garuda Muda ditahan 1-1 oleh Myanmar. Ketika itu lawan lebih dulu menjebol gawang Indonesia, sebelum akhirnya Rachmat Irianto mencetak gol pada menit ke-38 dan membawa Indonesia meraih poin satu.

Dari segi hasil, Timnas Indonesia U-22 masih belum ada peningkatan saat melakoni laga kedua di Grup B (20/2/2019). Berjumpa musuh bebuyutan, Malaysia, Tim Merah-Putih kembali meraih skor imbang, kali ini 2-2.

Timnas Indonesia U-22 sempat unggul dua kali, lewat Marinus Wanewar menit ke-52 dan Witan Sulaeman menit ke-77, namun dua kali pula gawang Indonesia jebol, hingga akhirnya Indonesia terpaksa berbagi poin lagi dengan lawan. 

Pada laga terakhir Grup B, partai terakhir, yang sekaligus jadi penentu kelolosan ke semifinal, Timnas Indonesia U-22 dengan gagah berani menantang tuan rumah, Kamboja (22/2/2019).

Meski sudah memastikan lolos ke semifinal sebagai juara grup sejak laga kedua berkat kemenangan beruntun, Kamboja tetap merepotkan Indonesia. Namun, tekad tak mau angkat koper dan mengharumkan nama bangsa, menyelimuti setiap pemain Tim Garuda.

Marinus Wanewar jadi sorotan dalam laga ini menyusul brace yang dicetaknya pada menit ke-19 dan ke-83. Indonesia akhirnya menyudahi perlawanan Kamboja dengan skor 2-0.

Indonesia memastikan tempat di semifinal dengan koleksi poin lima dan jadi runner-up Grup B, menantang Vietnam yang berstatus juara Grup A.

Grafik Timnas Indonesia U-22 kian menanjak. Di semifinal, Bagas Adi cs. merontokkan Vietnam, satu di antara kandidat juara turnamen ini.

Vietnam ke semifinal sebagai juara Grup A, namun Timnas Indonesia U-22 tak gentar. Tim Merah-Putih tampil cukup apik untuk menahan setiap gempuran lawan.

Bahkan, mampu menjebol gawang Vietnam lewat tendangan bebas cantik yang dieksekusi Luthfi Kamal pada menit ke-69. Itulah satu-satunya gol yang tercipta, dan Indonesia pun ke final.

Timnas Indonesia U-22 tentu diharapkan mampu menyuguhkan permainan yang kian moncer dan mencapai puncaknya pada partai final melawan Thailand. Dengan begitu, trofi juara bisa dibawa pulang ke Tanah Air.

3 dari 3 halaman

Thailand Kelelahan di Semifinal

Sebaliknya, langkah Timnas Thailand U-22 cenderung mulus hingga ke laga puncak.

Tim asuhan Alexandre Lima, belum tersentuh kekalahan serta kebobolan dalam waktu normal pertandingan selama Piala AFF U-22 2019. Sang arsitek asal Brasil yang didapuk jadi nakhoda tim pada awal November 2018 terlihat sukses menjaga tempo permainan Timnas Thailand U-22.

Menghadapi jadwal padat turnamen, Thailand tak habis-habisan di awal namun gembos di akhir. 

Di fase penyisihan Grup A Thailand menang 1-0 dan 3-0 masing-masing atas Timor Leste dan Filipina, bermain tanpa gol kontra Vietnam.

Mereka melaju ke semifinal dengan status runner-up Grup A. Memasuki periode knock-out Tim Negeri Gajah Putih Muda bersua tuan rumah Kamboja yang jadi tim kuda hitam di penyisihan.

Thailand menang 5-3 dalam adu penalti atas Kamboja (0-0) di semifinal.

Pelatih Thailand, Alexandre Gama, mengakui kalau anak asuhnya mengalami kesulitan dengan gaya permainan Timnas Kamboja U-22. Timnas Thailand U-22 akan menghadapi Timnas sepak bola Indonesia U-22 di final Piala AFF U-22.

Sebab Timnas Thailand U-22 kerap mengalami masalah saat berusaha membangun serangan. Apalagi pada laga tersebut anak asuh Gama juga jarang memegang bola.

“Saya tahu bahwa kami bisa bermain lebih baik jika kami memegang bola lebih banyak. Tapi itu adalah sesuatu yang bisa kami tingkatkan dari laga ke laga,” kata Gama.

Pernyataan Gama jangan diartikan secara harafiah bahwa Timnas Thailand U-22 punya persoalan jelang laga final. Pernyataan model ini seringkali dilontarkan pelatih berbagai tim untuk mengecoh lawan.

Realitasnya Thailand di berbagai level dikenal sebagai tim jagoan turnamen level Asia Tenggara. Sudah sering terjadi mereka bermain biasa saja di penyisihan, namun intensitas permainan ditingkatkan begitu memasuki periode knock-out.  Timnas Indonesia U-22 perlu mencermati hal ini, karena Tim Merah-Putih kerap tersandung di pengujung turnamen.



Selain Joko Driyono, 2 Ketua Umum PSSI Ini Sempat Bermasalah dengan Hukum

Jakarta Sejak mendeklarasikan diri sebagai organisasi sepak bola tertinggi Tanah Air pada 19 April 1930, tercatat 17 figur bercokol sebagai Ketua Umum PSSI. Mulai dari Soeratin Sosrosoegondo hingga yang terkini Joko Driyono yang berstatus caretaker menggantikan Edy Rahmayadi yang mengundurkan diri pada saat kongres tahunan awal 2019 ini.

Sejak pertama kali berdiri PSSI sering mencuatkan banyak kontroversial. Mulai dari keberanian PSSI melakukan perlawanan ke penjajah Belanda dan Jepang, kasus-kasus yang melibatkan Timnas di pentas internasional, hingga kisruh internal organisasi yang tak berkesudahan sejak 2011 silam.

Sebagai organisasi yang memayungi sepak bola, olahraga paling populer di Indonesia, merupakan sesuatu hal yang wajar jika PSSI seringkali mendapat sorotan dari banyak pihak. Di sepanjang sejarahnya mencuat sejumlah figur kontroversial yang duduk di singgasana kepemimpinan PSSI.

Joko Driyono yang saat ini ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus dugaan pengaturan skor oleh Satgas Antimafia Bola bentukan Mabes Polri bukan orang pertama yang tersandung kasus hukum.

Sebelumnya ada dua orang lainnya Ketua Umum PSSI yang juga harus berurusan dengan pihak berwajib. Mereka bahkan sempat merasakan derita ada di balik jeruji besi.

2 dari 3 halaman

La Nyalla Mattalitti

Selama lima tahun terakhir, nama La Nyalla Mahmud Mattalitti begitu nyaring terdengar di telinga pecinta sepak bola Indonesia. Ia jadi figur sentral kasus dualisme federasi serta kompetisi dan kini pembekuan PSSI. Daftar sikap kontroversialnya banyak semenjak aktif sebagai pengurus teras di PSSI pada tahun 2011 silam.

Figur pria asal Makassar ini sebetulnya bukan orang baru di dunia sepak bola. Tercatat, ia adalah salah satu pendiri Yayasan Suporter Surabaya (YSS) yang saat ini lebih dikenal dengan Bonek YSS. Bersama enam tokoh suporter lainnya, La Nyalla membidani lahirnya kelompok suporter militan asal Surabaya ini pada 3 November 1994 lalu.

Setelah kelahiran YSS, nama La Nyalla seperti hilang ditelan bumi. Ini tak lepas dari kesibukannya mengurusi bisnis kontraktor yang ia geluti. Karena itu, ia memilih berada di belakang layar dan mempercayakan jalannya yayasan ke mendiang Wastomi Suheri.

Setelah tujuh tahun sejak berdirinya YSS, pada 2011 La Nyalla justru muncul lagi di dunia olahraga sebagai wakil ketua KONI Jatim era kepemimpinan Saifullah Yusuf. Dari sinilah cikal bakal La Nyalla menggeluti organisasi sepak bola.

Ada pun konflik Persebaya dengan PSSI era Nurdin Halid yang membuat La Nyalla terpanggil. Ia bersama pelaku sepak bola di Jawa Timur serta mayoritas klub di provinsi paling timur pulau Jawa itulah yang mendorong La Nyalla melakukan perlawanan terhadap PSSI kala itu. Ia mendirikan PSSI tandingan dengan basis di Surabaya.

Tampaknya, perlawanan yang dilakukan La Nyalla ini mengundang simpati klub-klub di Jawa Timur. Tak heran, di awal 2011 La Nyalla didorong maju dalam pencalonan Ketua Pengurus Provinsi (sekarang Asosiasi Provinsi) PSSI Jatim. Ia pun terpilih sebagai Ketua Pengprov PSSI Jatim.


Ketua Umum PSSI 2011-2015, Djohar Arifin Husin (kiri) berbincang dengan La Nyalla Mattalitti saat Kongres Luar Biasa PSSI 2015 di Surabaya, (18/4/2015). Kongres menetapkan La Nyalla sebagai Ketua Umum PSSI 2015-2019. (Liputan6.com/Helmi Fithriansyah)


Perlawanan yang ia lakukan semakin getol. Bersama mayoritas voters, La Nyalla pun terus berupaya melengserkan kepengurusan PSSI era Nurdin Halid. Arus besar yang menghendaki pergantian Ketua Umum PSSI inilah yang kemudian membuat FIFA turun tangan dan membentuk Komite Normalisasi yang bertugas menggelar Kongres PSSI.

Melalui Kongres PSSI pada 9 Juli 2011 La Nyalla terpilih sebagai anggota Komite Eksekutif (Exco) PSSI. Namun, tak lama setelah ia menjabat sebagai anggota Exco PSSI bidang hukum, La Nyalla bersama ketiga anggota Exco lainnya, Toni Aprilani, Roberto Rouw, dan Erwin Budiawan didepak oleh Komite Etik PSSI karena dianggap melanggar kode etik.

La Nyalla pun melawan, ia bersama Komite Penyelamat Sepak Bola Indonesia (KPSI) menggelar KLB di Hotel Mercure Ancol pada 18 Maret 2012. Di forum itu, La Nyalla terpilih sebagai ketua KPSI-PSSI untuk menandingi PSSI pimpinan Djohar Arifin Husin.

Pada 2013, melalui perjanjian antara KPSI dan PSSI yang dimediasi oleh AFC, pria yang menjabat sebagai ketua ormas Pemuda Pancasila Jatim kembali masuk ke PSSI. Melalui Kongres Luar Biasa PSSI pada 17 Maret 2013, La Nyalla pun terpilih sebagai Wakil Ketua Umum PSSI.

Setelah masa kepengurusan Djohar selesai, La Nyalla maju sebagai calon Ketua Umum PSSI. Ia pun terpilih sebagai ketua umum PSSI lewat Kongres PSSI pada 17 Maret 2015 di Hotel JW Marriot, Surabaya.

Namun, hanya saat setelah ia terpilih, Menpora Imam Nahrawi menjatuhkan sanksi administratif terhadap kepengurusan PSSI pimpinan La Nyalla. Kegaduhan pun terjadi, roda organisasi yang ia pimpin lumpuh akibat hukuman tersebut.

Selain oleh Kemenpora, status PSSI juga dibekukan sejak bulan Mei 2015 oleh FIFA. Otoritas tertinggi sepak bola dunia tersebut menjatuhkan sanksi ke PSSI karena intervensi pemerintah (Kemenpora). Hal yang dinilai tabu oleh FIFA.

Selama setahun ia terpilih sebagai nakhoda PSSI, kepemimpinan La Nyalla tak berhenti digoyang prahara. Ditekan Kemenpora ia sama sekali tak takut. Hingga saat ini klub-klub anggota belum ada yang berani menggoyang kepengurusannya. 

Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jatim menetapkannya sebagai tersangka kasus dugaan korupsi dana hibah Kaamar Dagang dan Industri (Kadin) Jatim. Suara-suara yang menginginkan digelarnya Kongres Luar Biasa PSSI untuk mencari pemimpin baru mulai bermunculan.

Gara-gara huru hara antara pemerintah dengan La Nyalla, FIFA sempat menjatuhkan vonis pembekuan keanggotaan selama setahun lebih. Otoritas tertinggi sepak bola dunia menilai pemerintah Indonesia terlalu ikut campur dalam urusan sepak bola.

La Nyalla Mattalitti, tetap keras hati menolak mundur sekalipun jadi tersangka.  Ia minta publik menghormati proses pengadilan hingga memiliki kekuatan hukum tetap. Ia secara kontroversial menuding Menpora, Imam Nahrawi, menjadi dalang penetapan status tersangka di kasus uang hibah Kadin Jatim.

La Nyalla akhirnya terpingirkan dari PSSI karena terkena penahanan oleh kepolisian. PSSI kemudian menggelar Kongres Luar Biasa dengan memunculkan Edy Rahmayadi sebagai nahkhoda baru.

Dalam persidangan pada 17 Desember 2016, La Nyalla diputus bebas. Walau divonis tak bersalah, kursi kekuasaannya di PSSI hilang.

3 dari 3 halaman

Nurdin Halid

Menggantikan Agum Gumelar, Nurdin Halid terpilih sebagai Ketua Umum PSSI pada Rapat Anggota PSSI di Hotel Indonesia tahun 2003. Ia dikenal sebagai sosok kontroversial karena beberapa kali memimpin organisasi dari balik terali besi penjara.

Pada 16 Juli 2004, pria asal Makassar tersebut ditahan sebagai tersangka dalam kasus penyelundupan gula impor ilegal. Ia kemudian juga ditahan atas dugaan korupsi dalam  distribusi minyak goreng.

Pada tanggal 16 Juni 2005, dia dinyatakan tidak bersalah atas tuduhan tersebut oleh Pengadilan Negeri Jakarta Selatan dan dibebaskan. Hanya saja putusan itu kemudian dibatalkan Mahkamah Agung pada 13 September 2007. MA memvonis Nurdin dua tahun penjara.

Selanjutnya ia kemudian dituntut dalam kasus yang gula impor pada September 2005, namun dakwaan terhadapnya ditolak majelis hakim pada 15 Desember 2005 karena berita acara pemeriksaan (BAP) perkaranya cacat hukum.

Selain kasus ini, ia juga terlibat kasus pelanggaran kepabeanan impor beras dari Vietnam dan divonis penjara dua tahun 6 bulan oleh Pengadilan Negeri Jakarta Utara pada 9 Agustus 2005. Tanggal 17 Agustus 2006 ia dibebaskan setelah mendapatkan remisi dari pemerintah bertepatan dengan HUT Kemerdekaan Indonesia.

Pada 13 Agustus 2007, Nurdin Halid kembali divonis dua tahun penjara akibat tindak pidana korupsi dalam pengadaan minyak goreng. Berdasarkan standar statuta FIFA, seorang pelaku kriminal tidak boleh menjabat sebagai ketua umum sebuah asosiasi sepak bola nasional.

Nurdin Halid (Liputan6.com/Johan Tallo)

Karena alasan tersebut, Nurdin didesak untuk mundur dari berbagai pihak. Jusuf Kalla (Wakil Presiden RI), Agum Gumelar (Ketua KONI), dan juga FIFA bersuara kritis ke NH.

FIFA bahkan mengancam untuk menjatuhkan sanksi kepada PSSI jika tidak diselenggarakan pemilihan ulang ketua umum. Namun, Nurdin tetap bersikeras untuk tidak mundur dari jabatannya sebagai Ketua Umum PSSI. Kekuasaannya tidak goyah sekalipun ia mengendalikan organisasi dari penjara.

Kontroversi muncul saat ia merubah statuta PSSI, berkaitan dengan status ketua umum. Statuta yang sebelum berbunyi “harus tidak pernah terlibat dalam kasus kriminal” (They…, must not have been previously found guilty of a criminal offense) diubah dengan menghapuskan kata “pernah” (have been previously).

 Arti harafiah dari pasal tersebut menjadi “harus tidak sedang dinyatakan bersalah atas suatu tindakan kriminal” (must not found guilty of a criminal offense). Para anggota PSSI menyetujui perubahan tersebut. Posisi Nurdin aman sebagai Ketua Umum PSSI.

Sepanjang masa kepemimpinanya sejumlah kasus mencuat. Mulai dari penghilangan status degradasi kompetisi kasta tertinggi, pelanggaran disiplin di pentas kompetisi, hingga kasus-kasus dugaan pengaturan skor.

Nurdin jadi public enemy pencinta sepak bola Indonesia, karena di saat bersamaan prestasi Timnas Indonesia di berbagai event internasional terpuruk. 

Desakan meminta Nurdin lengser dari PSSI seusai Piala AFF 2010. Pengusaha minyak, Arifin Panigoro, terlibat aktif menggoyang kepengurusan PSSI. Ia menggelontorkan dana besar untuk membiayai pelaksanaan kompetisi tandingan, Liga Primer Indonesia.

Walau begitu pria kelahiran 17 November 1958 tetap percaya diri memimpin PSSI. Ia pun bersama Nirwan Dermawan Bakrie kembali mencalonkan diri dalam bursa pemilihan Ketua Umum PSSI pada 2011. Ia menjegal duet George Toisutta-Arifin Panigoro untuk ikut bersaing. Suporter dari berbagai penjuru Tanah Air turun ke jalan mendemo PSSI.

Untuk mengamankan jabatannya ia menggelar kongres di Kepulauan Riau. Sayangnya kongres berakhir ricuh. FIFA kemudian mengambil keputusan tegas melarang Nurdin Halid, Nirwan Dermawan Bakrie, George Toisutta, Arifin Panigoro, ikut serta dalam pemilihan pemimpin di PSSI. Di sisi lain Menpora, Andi Mallarangeng, juga membekukan status kepengurusan PSSI.

Nurdin secara menyakitkan lengser dari PSSI digantikan oleh Djohar Arifin. Sang mantan manajer klub PSM Makassar dan Pelita Jaya tersebut mengaku trauma. Ia kini memilih tak mau lagi jadi pengurus bola untuk kemudian fokus di Partai Golkar.

Persija: Semoga Kasus Simic Bisa Diselesaikan Secara Kekeluargaan

JakartaMarko Simic tersandung kasus hukum di Australia. Manajamen Persija Jakarta berharap masalah tersebut bisa diselesaikan secara kekeluargaan.

Simic masih berada di Australia setelah paspornya ditahan oleh yang berwenang. Dia diduga kasus melakukan pelecehan terhadap wanita di dalam pesawat menuju Sydney, Australia beberapa hari lalu. Simic terancam berada di negeri Kangguru hingga 9 April atau tepatnya setelah sidang digelar.

Tanpa Simic, lini depan Persija akan berlubang cukup besar. Apalagi, Macan Kemayoran ditunggu Piala AFC dan Piala Presiden 2019.


Persija tak tinggal diam. Manajemen telah mengutus Gusti Randa dengan restu PSSI sebagai pengacara yang ditemani oleh kuasa hukum Simic dari Kroasia, Robert Haralovic.

CEO Persija, Ferry Paulus, tengah berupaya menyelesaikan masalah tersebut. Pengacara sedang mencari tahu identitas korban untuk melobi agar kasus tersebut bisa dituntaskan secara baik-baik.

“Komunikasi sesama pengacara lokal (Gusti Randa) dengan yang asing (Robert Haralovic) lumayan kondusif dan sudah ketemu clue-nya memang ada upaya yang harus juga dikomunikasikan ke korban,” ujar Ferry Paulus kepada detikSport di Lapangan Sutasoma, Halim, Jakarta, Jumat (15/2/2019).

“Komunikasi ke korban menjadi upaya yang paling bagus untuk dapatkan solusi terbaik bagi Persija Jakarta. Ada clue bahwa korban ini adalah warga negara Indonesia tapi punya kerjaan humas di sana. Namun identitas nama pastinya belum ketemu,” kata Ferry.

Saat ini, Persija menunggu perkembangan lebih lanjut kasus itu. Gusti Randa terbang ke Australia pada pekan depan.

“Kebetulan Pak Gusti Randa pernah tinggal lama di sana, jadi rasanya tidak terlalu sulit untuk beradaptasi dan mencari tau korban yang menetap di sana. Inti permasalahannya kan kalau bisa diselesaikan kekeluargaan kenapa harus jadi rese,” kata dia.

Dalam penuturan Simic, Ferry menyebut pemain 31 tahun itu membantah jika telah melakukan pelecehan. Untuk itu, Persija akan berusaha keras agar cepat menyelesaikan masalah itu.

“Detailnya saya tidak tahu. Pokoknya dia merasa dia tidak bersalah. Yang bisa buktikan kan ya pengadilan. Tapi saya tidak mau jauh-jauh sampai arah pengadilan bagaimana caranya kami cari jalan tengah supaya ini selesai,” katanya.

(ads/iah)

Kasus Marko Simic, Persija Jakarta Antisipasi Skenario Terburuk

Liputan6.com, Jakarta – Persija Jakarta mengantisipasi skenario terburuk terhadap kasus hukum yang menimpa striker Marko Simic. Manajemen bakal mempertimbangkan opsi yang tersedia sebelum mengambil keputusan.

“Kalau ternyata masalah ini menjadi panjang dan ada hukuman dalam rentang waktu tertentu, kami di internal akan melihat lagi tindakan apa yang harus diambil,” kata CEO Persija Ferry Paulus, dilansir situs resmi Liga 1.

Simic tinggal di Australia dan tidak kembali ke Jakarta selepas putaran kedua kualifikasi Liga Champions Asia melawan Newcastle Jets, Selasa (12/2/2019). Paspornya ditahan karena diduga melecehkan perempuan yang duduk di sebelahnya pada pesawat dalam penerbangan Denpasar menuju Sydney.

“Dia masih di Australia sampai sidang kedua pada 9 April 2019. Sekarang kasus ini ditangani pengacara dari Kroasia,” kata manajer Persija Ardhi Tjahjoko.

Artinya, Simic dipastikan tidak bisa memperkuat Persija pada berbagai pertandingan penting. Dia melewatkan Piala Indonesia, Piala AFC, serta turnamen pramusim Piala Presiden.

Namun, Simic berpotensi absen lebih lama jika pengadilan memberikan hukuman lain atas perbuatannya.

2 dari 3 halaman

Bomber Andalan

Bergabung pada awal tahun lalu, Simic menjadi ujung tombak andalan Persija. Dia menjadi top skor Piala Presiden 2018 yang berbuah gelar bagi klub.

Simic lalu menyumbang 18 gol di Liga 1 untuk membawa Macan Kemayoran menjadi juara. Dia juga mencetak 10 gol di Piala AFC tahun lalu.

3 dari 3 halaman

Tetap Tajam

Musim ini Simic tetap menunjukkan produktivitasnya. Torehan satu gol ke gawang Home United membawa Persija melangkah ke putaran kedua kualifikasi Liga Champions Asia.

Anggota Exco PSSI Beri Bantuan Hukum pada Marko Simic

Liputan6.com, Jakarta – Anggota komite eksekutif Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) Gusti Randa, yang juga berprofesi sebagai pengacara, siap membantu striker Persija Jakarta Marko Simic dengan memberikan bantuan hukum nonlitigasi atau dari luar pengadilan.

“Pengacara Indonesia tidak dapat bersidang di Australia, jadi saya hanya mendampingi pengacara Marko Simic. Saya memberikan bantuan dari sisi nonlitigasi,” ujar Gusti dilansir Antara.

Begitu ditunjuk untuk menjadi pendamping kuasa hukum dari Persija Jakarta, pria berusia 53 tahun bergerak untuk mendapatkan bukti-bukti terkait kasus Simic.

Gusti mengumpulkan keterangan mengenai paspor dan kartu izin tinggal terbatas (kitas) Simic di Indonesia. Dia lalu menghubungi beberapa institusi di Tanah Air untuk mendapatkan informasi penunjang, termasuk di dalamnya pihak Garuda Indonesia. Selain itu, Gusti juga mengontak pihak Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Sydney.

“Berikan ruang pada kami selaku kuasa hukum dari Persija untuk mengumpulkan beberapa bukti, sehingga terang duduk perkaranya,” tutur dia.

Marko Simic dibawa ke kantor polisi, Minggu (10/2/2019), setelah Polisi Federal Australia (AFP) Bandara Sydney menangkapnya atas dugaan pelecehan seksual terhadap seorang penumpang perempuan dalam pesawat dari Bali menuju Sydney, Australia.

2 dari 3 halaman

Siapkan Pembelaan

Pesepakbola berusia 31 tahun itu kemudian dilepaskan dengan jaminan dan telah menjalani persidangan di Pengadilan Lokal Downing Centre, Sydney, Selasa (12/2/2019), beberapa jam sebelum menjalani pertandingan kualifikasi kedua Liga Champions Asia 2019 menghadapi Newcastle Jets. Simic bermain 120 menit di laga itu.

Terkait lokasi kejadian yang di dalam pesawat Garuda Indonesia, Gusti Randa melontarkan kemungkinan kasus tersebut masuk dalam lingkup hukum Indonesia.

“Secara hukum Indonesia, kejadian di penerbangan Garuda Indonesia atau di atas pelayaran yang berbendera Indonesia, maka berlaku hukum atau yurisdiksi Indonesia. Namun, hal ini harus dibicarakan lebih lanjut,” tutur Gusti yang mengaku sudah berkomunikasi dengan Simic.

3 dari 3 halaman

Dalam Keadaan Baik

Gusti mengatakan Simic dalam keadaan baik di Australia. Saat ini dia menunggu sidang lanjutannya yang digelar pada 9 April 2019. Sebelum sidang, pencetak gol terbanyak Persija di Liga 1 Indonesia tahun 2018 itu dilarang meninggalkan Negeri Kanguru.

Sementara CEO Persija Jakarta Ferry Paulus memastikan Simic mulai nyaman setelah adanya pembelaan hukum dari pengacaranya asal Australia dan Gusti Randa.

“Kami berupaya semaksimal mungkin memberikan yang terbaik bagi Simic,” tutur Ferry.

Jalani Sidang, Simic Absen di Laga Persija vs Becamex Binh Duong

Jakarta Striker Persija Jakarta, Marko Simic, gagal melakukan reuni dengan mantan klub yang pernah diperkuatnya, Becamex Binh Duong. Ia harus menjalani sidang saat Persija bersua tim asal Vietnam tersebut pada laga perdana Grup G Piala AFC 2019, Selasa (26/2/2019), di Jakarta.

Becamex Binh Duong merupakan klub pertama, dari tiga klub Vietnam, yang dibela Marko Simic. Pemain asal Kroasia itu bermain di Becamex Binh Duong pada 2015. Saat itu, klub tempat bernaung Simic berhasil menjadi juara Liga Vietnam.

Sayang, pertemuan pertama kedua tim tak bisa melibatkan Simic. Sang bomber masih berada di Australia karena terganjal kasus tuduhan pelecehan.

“Marko Simic masih berada di Australia sampai sidang kedua pada 9 April 2019 mendatang. Kasus itu sudah ditangani pengacara dari Kroasia. Sementara itu, KBRI di Australia akan tetap memonitor perkembangannya,” ujar Manajer Persija, Ardhi Tjahjoko.

Jika Marko Simic bisa bebas setelah 9 April 2019, pemain berusia 31 tahun itu masih memiliki kesempatan melakukan reuni dengan Binh Duong. Hal itu bisa terealisasi pada pertemuan kedua.

Persija akan menjalani laga tandang ke markas Binh Duong, Go Dau Stadium, Selasa (16/4/2019), atau sepekan seusai sidang kedua Marko Simic di Australia. Simic terpaksa berurusan dengan hukum Australia setelah dituduh melakukan pelecehan dalam penerbangan dari Bali menuju Sydney, Minggu (10/2/2019).