Masjid Lain di Cilandak Ini Juga Jadi Sasaran ‘Teror’ Gambar Kemaluan

Jakarta – Sebuah masjid di kawasan Lebak Bulus, Cilandak, Jakarta Selatan juga menjadi sasaran aksi vandalisme oleh orang tidak dikenal. Sama dengan yang terjadi di Masjid Jami’ Al-Hikmah, Masjid Jami’ Nurul Fallah itu juga dicoret dengan gambar kemaluan.

Seorang warga bernama Mansur (60) mengungkap peristiwa itu terjadi subuh tadi. Dia mengaku sempat bertemu dengan pelaku di depan masjid.

“Saya lagi diri di depan masjid, saya nengok ke utara, terus nengok ke selatan ada orang nyoret-nyoret,” kata Mansur kepada wartawan di lokasi, Kamis (18/4/2019).

Mansur mengatakan, coretan itu berupa gambar kemaluan pria yang disemprot dengan menggunakan pylox warna merah. Sekilas, cara penggambarannya mirip dengan gambar yang ada di Masjid Jami’ Al-Hikmah.

“Ada tiga (titik gambar), di pintu masjid, di samping pintu masjid sama di tiang masjid,” katanya.

Mansur mengatakan di dalam masjid saat itu ada jamaah. Namun, ketika dia berniat masuk ke dalam masjid, dia bertemu dengan pelaku yang langsung menghardiknya.

“Saya mau kasih tahu yang di dalam masjid, lalu dia menghampiri, (pelaku mengatakan) ‘mau marah ya, marah ya’,” tuturnya.

Mansur tidak berani menjawab pelaku. Tidak lama setelah itu, pelaku pergi.

Menurut Mansur, pelaku melakukan aksinya seorang diri. Pelaku datang dengan menggunakan motor.

Pantauan detikcom, gambar kemaluan di dinding dan pintu kaca masjid sudah dihapus. Lokasi masjid ini sendiri berjarak sekitar

(mea/mea)
<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Cak Nun Bicara Hukum Tuhan di Peringatan 2 Tahun Teror Novel

Jakarta – Kehadiran Emha Ainun Najib (Cak Nun) dan jemaah Maiyah menutup peringatan 2 tahun teror terhadap Novel Baswedan. Dalam Sarasehan Budaya itu, Cak Nun bicara tentang adanya hukum tuhan.

“Minimum yang bisa kita lakukan sekarang adalah, ada hukum macam-macam loh di dunia. Ada hukum Tuhan, ada hukum negara, yang tidak pernah kita kerjakan hukum Tuhan itu,” kata Cak Nun di gedung KPK, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Kamis (11/4/2019).

Cak Nun mengatakan, hukum tuhan itu selalu dijunjungnya selama ini. Dia juga mengajak setiap unsur di KPK memakai hukum tersebut.

“Nah saya kan hidupnya pakai hukum Tuhan terus di mana-mana. Jadi dulu saya melawan Pak Harto, melawan siapapun, dari dulu saya tidak apa-apa karena saya pakai hukum Tuhan,” ucapnya.

Paling tidak kita sekarang pakai itu lah di KPK. Saya minta Teman KPK untuk wiridan khusus untuk teman-teman di KPK selamat. Mereka dilindungi Tuhan, mereka terus punya etos kerja dan daya juang yang tidak berhenti untuk menjaga Republik Indonesia dari pencurian korupsi,” imbuhnya.

Dia juga mengaku sangat mendukung KPK di era kepemimpinan Busyro Muqoddas. Namun dukungan itu sempat surut dan sekarang kembali muncul.

“Saya melihat ‘oh di jaman Pak Busyro saya full membantu,’ Pak Busyro turun saya mulai tidak intens lagi. Kemudian ada beberapa hal yang membuat saya ragu ke KPK. Tapi akhir-akhir ini saya mulai mengenal lagi KPK yang dulu saya kenal,” ucapnya.

Dalam Sarasehan itu, kehadiran Maiyah yang didominasi kalangan muda itu sudah mulai tampak sejak pukul 19.30 WIB. Mereka memenuhi halaman depan gedung KPK sebelum Sarasehan dimulai.

Selain Cak Nun, Sarasehan ini juga dihadiri Najwa Shihab dan Novel Baswedan. Najwa sempat membacakan puisi sebelum pengajian bersama Cak Nun dimulai.
(abw/nvl)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Genap 2 Tahun, Begini Perjalanan Kasus Teror Novel Baswedan

Jakarta – Teror air keras terhadap penyidik KPK Novel Baswedan terjadi tepat 2 tahun yang lalu. Namun, siapa pelaku dan apa motif teror itu masih belum terungkap hingga hari ini.

Novel disiram air keras pada 11 April 2017 usai salat subuh di Masjid Al Ihsan yang berjarak sekitar 4 rumah dari rumah Novel. Rumah Novel sendiri berada di Jalan Deposito T nomor 8, RT 03 RW 10, Pegangsaan Dua, Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Saat itu, Novel mengikuti salat subuh berjamaah pukul 04.39 WIB di Masjid Al Ihsan. Ketua RT 03 saat itu, Wisnu Broto, mengatakan Novel pulang lebih dulu usai salat subuh.

Pukul 05.10 Novel disebut meninggalkan masjid untuk kembali ke rumahnya. Tak berapa lama, terdengar suara teriakan yang membuat jemaah yang masih berada di masjid berhamburan keluar.

Warga kemudian menolong Novel dan membawanya ke RS Mitra Keluarga Kelapa Gading. Novel pun menjalani perawatan intensif. Berikut perjalanan kasus teror terhadap Novel Baswedan:

11 April 2017

Novel disiram air keras pasca salat subuh di Masjid Al Ihsan yang tak jauh dari rumahnya di Jalan Deposito T nomor 8, RT 03 RW 10, Pegangsaan Dua, Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Dia langsung dibawa ke RS Mitra Keluarga usai peristiwa itu. Perawatan Novel kemudian dipindah ke RS Jakarta Eye Center, Menteng pada hari yang sama.

12 April 2017

Novel dibawa ke Singapura untuk menjalani operasi. Dia pun menjalani perawatan secara intensif di Singapura pasca operasi.

Saat masih dirawat di Singapura itu Novel sempat memberi keterangan soal sosok jenderal yang diduga menjadi dalang teror air keras itu. Hal itu disampaikan Novel kepada media AS TIME.

“Sebenarnya saya sudah menerima informasi bahwa seorang jenderal polisi–seorang pejabat polisi tingkat atas–telah terlibat. Awalnya, saya mengatakan informasi itu bisa saja salah. Namun kini, ketika telah 2 bulan berlalu dan kasus tersebut belum juga terpecahkan, saya katakan, perasaan terhadap informasi itu bisa saja benar,” ucap Novel kepada TIME seperti dilansir time.com, Rabu (14/6/2017).

Polisi pun meminta Novel melaporkan informasi itu. Polri mengerahkan Densus hingga Inafis untuk mengungkap kasus Novel. Polri juga mengirim tim ke Singapura untuk mengkonfirmasi pernyataan soal jenderal.

“Kalau dia menyebut nama, sebaiknya hati-hati, karena kalau menyebut nama dan tidak ternukti ada implikasi hukum,” ujar Kadiv Humas Polri saat itu, Irjen Setyo Wasisto, Jumat (16/6/2017).

ICW Sebut Seratusan Pegiat Antikorupsi Dapat Teror

Sebelumnya, teror kepada Novel Baswedan terjadi pada 11 April 2017 usai salat subuh. Hari itu menjadi momen yang tak terlupa bagi penyidik senior KPK tersebut. Kala itu, lepas subuh, Novel yang sedang berjalan kaki sendirian dari masjid di kompleks rumahnya, menjadi target penyerangan.

Dua orang yang berboncengan sepeda motor menyiramkan air keras ke wajahnya. Cairan asam mengenai kedua matanya. Sakitnya bukan kepalang.

Operasi demi operasi dijalani hingga ke Singapura untuk memperbaiki kedua matanya yang rusak. Kini, baru mata kirinya yang diobati. Itupun, dengan cara yang tak lazim bagi orang awam medis.

9 Januari 2019, botol berisi spirtus dengan sumbu, mirip bom molotov, ditemukan di depan garasi rumah Wakil Ketua KPK Laode Muhamad Syarif di Jalan Kalibata Selatan No 42C, Kalibata, Pancoran, Jakarta Selatan.

Setelah dicek melalui CCTV, rupanya, sekitar pukul 01.00 WIB, ada orang mencurigakan beraktivitas di depan rumah Laode Syarif.

Tak hanya itu, teror juga dialami oleh Ketua KPK Agus Rahardjo pada hari yang sama. Sebuah benda seperti bom rakitan jenis high explosive ditemukan di rumahnya di Graha Indah, Jatiasih, Bekasi, Jawa Barat.

Kedua pimpinan lembaga antirasuah tersebut mendapat teror dari oknum yang hingga kini masih dicari oleh kepolisian.

Reporter: Ronald

Sumber: Merdeka

Pasca Teror Air Keras, Novel Baswedan Tekuni Tinju

Jakarta

Memasuki dua tahun aksi teror air keras yang merusak dua bola matanya, tinju menjadi olah raga pilihan Novel Baswedan. Penyidik senior KPK itu menilai tinju paling kecil risikonya ketimbang jogging di sekitar kompleks perumahannya di Kelapa Gading, Jakarta Utara.

“Penglihatan saya kan belum sempurna benar. Kalau berlari atau jalan terus ada jalan yang tidak rata saya bisa jatuh,” kata Novel dalam Blak-blakan yang tayang di detikcom, Rabu (10/4)

Dia membeli sandsack portabel seharga Rp 2 jutaan, dan sarung tinju sekitar Rp 300 ribu. Meski lebih mahal, dia sengaja memilih sandsack portabel karena untuk model yang digantung sulit memasangnya di rumah.

Pasca Teror Air Keras, Novel Baswedan Tekuni TinjuPenyidik Senior KPK Novel Baswedan (Foto: Jefrie Nandy Satria/detikcom)

Selain memukul, sesekali Novel juga menendang-nendang sandsack tersebut. Maklum, selain karate, dia juga pernah menekuni bela diri Judo. “Saya sebentar aja kok tinjunya. Ini olah raga yang paling oke untuk menjaga kebugaran dan saya pikir asyiklah melakukannya,” tuturnya.

Sementara untuk makanan, dia mengaku tak punya pantangan khusus terkait dengan kondisi kesehatan matanya. Sejauh hidangan yang ada itu terlihat lezat dan sehat dia akan menyantapnya. “Soal makanan saya bisa makan apapun,” ujar Novel.

Untuk diketahui, lelaki kelahiran Semarang, 22 Juni 1977 itu mendapat teror pada 11 April 2017 seusai salat subuh di masjid dekat rumahnya. Sampai sekarang dia masih harus bolak-balik ke Singapura untuk mengobati bola matanya.

(jat/erd)
<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Pelaku Serangan Teror Masjid New Zealand Akan Jalani Tes Kejiwaan

Christchurch – Pria yang dituduh membunuh 50 orang dalam serangan di dua masjid di Christchurch, Selandia Baru, bulan lalu, diperintahkan untuk menjalani tes kejiwaan.

Brenton Tarrant, warga negara Australia berusia 28 tahun ini akan menemui pakar kejiwaan untuk menentukan apakah dia layak menjalani sidang, atau dianggap tidak waras, ujar hakim pengadilan tinggi Cameron Mander.

Tarrant menghadiri persidangan yang penuh sesak oleh kerabat dari para korban.

Dia menghadapi tuntutan berlapis, yakni 50 kasus pembunuhan dan 39 kasus percobaan pembunuhan.

Dia tidak diperbolehkan mengajukan pembelaan.

Serangan yang dia lakukan bulan lalu merupakan aksi penembakan massal yang paling mematikan yang pernah dialami Selandia Baru.

Perdana Menteri Selandia Baru, Jacinda Ardern, menyebut serangan itu sebagai salah satu “hari tergelap” Selandia Baru.

Dia telah berjanji untuk melarang semua jenis senjata semi-otomatis dan senapan serbu.

Apa yang terjadi di pengadilan?

Pada sidang yang digelar Jumat (05/04) pagi, Hakim Mader memerintahkan bahwa dua pemeriksaan kejiwaan akan dilakukan untuk menentukan kondisi kesehatan mental tersangka.

Tersangka terlihat mendengarkan dengan seksama selama sidang yang digelar singkat itu. Dia tidak memberikan komentar apa pun.

Anggota komunitas Muslim Christchurch menghadiri sidang pengadilan. Photo: 5 April 2019Anggota komunitas Muslim Christchurch menghadiri sidang pengadilan (Getty Images)

Usai persidangan, hakim mengirimnya kembali ke tahanan, sementara pengadilan berikutnya akan digelar 14 Juni mendatang.

Bagaimana serangan itu terjadi?

Tahanan ditangkap pada 15 Maret karena keterlibatannya dalam penembakan di masjid Al Noor dan Linwood, keduanya berlokasi di Christchurch.

Saat melakukan serangan, dia pertama kali berkendara ke masjid Al Noor, memarkirkan mobilnya di dekat masjid dan mulai menembaki masjid saat dia berjalan masuk melalui pintu depan.

Dia menembaki pria, perempuan dan anak-anak di dalam masjid selama lima menit. Dia menyiarkan langsung serangan itu di media sosial, dari kamera yang dipasang di kepala dan mengidentifikasi dirinya dalam rekaman itu.

Jendela yang hancur di Masjid LinwoodJendela yang hancur di Masjid Linwood (Reuters)

Tersangka kemudian disebut mengemudi sekitar lima kilometer ke masjid Linwood dimana penembakan kedua terjadi.

Pria yang dipersenjatai dengan senapan semi-otomatis termasuk AR-15, diyakini telah memodifikasi senjatanya dengan magazin -bagian dari senjata untuk menyimpan amunisi – berkapasitas tinggi, sehingga senjatanya dapat menyimpan lebih banyak peluru.

Dia saat ini ditahan di penjara Auckland di Paremoremo, yang dianggap sebagai penjara yang paling ketat di Selandia Baru.

Bagaimana tanggapan Selandia Baru?

Kurang dari seminggu setelah serangan, Addern mengumumkan Selandia Baru akan melarang semua jenis senjata semi-otomatis dan senapan serbu.

Dia berharap undang-undang baru ini akan berlaku mulai pekan depan pada 11 April

Bagi pemilik senjata tersebut, bisa menyerahkan senjata itu dengan skema pembelian kembali.

Kebanyakan warga di Selandia Baru hingga kini masih mencoba berdamai dengan pembunuhan massal.

Lebih dari 20.000 menghadiri upacara peringatan untuk menghormati 50 korban penembakan pada bulan lalu.

A young boy holds a placard as he takes part in a vigil to remember the victims of the Christchurch mosque attacks, on March 24(Getty Images)

Seluruh 50 nama korban yang tewas dalam serangan dibacakan di acara tersebut oleh anggota komunitasmuslim di kota Christchurch.

Para korban termasuk pria, perempuan dan anak-anak, kebanyakan adalah kaum imigran yang berasal dari berbagai negara, termasuk salah satunya dari Indonesia.

Korban termuda baru berusia tiga tahun.

(ita/ita)
<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Parlemen Australia Kecam Senator Anning yang Salahkan Korban Teror

Canberra

Senat Australia hari Rabu (3/4/2019) secara resmi mengecam politisi kontroversial asal Queensland Senator Fraser Anning karena pernyataan anti imigran yang disampaikannya setelah pembantaian di Christchurch.

Senat Australia KecamAnning:

  • Pemerintah dan oposisi sama-sama mengecam Fraser Anning atas pandangannya yang ekstrim soal pendatang Muslim
  • Senator asal Queensland ini menolak minta maaf setelah mengaitkan pembantaian Christchurch dengan pendatang Muslim
  • Mathias Cormann dari Partai Liberal dan Penny Wong dari Partai Buruh mengecam pernyataan Anning

Dalam istilah politik, keputusan Senat itu disebut sebagai ‘censure motion’.

Politisi dari hampir semua partai politik kompak dalam keputusan mereka mengecam senator independen tersebut, dengan tindakan ‘censure’ ini diterima oleh Majelis Tinggi setelah debat selama satu jam.

Ketua faksi pemerintah di Senat, Mathias Corman dari Partai Liberal serta ketua faksi oposisi Penny Wong dari Partai Buruh memulai debat dengan mengecam tindakan Senator Anning tersebut.

“Penting sekali bahwa parlemen bersatu dalam mengecam komentarnya memalukan yang dilontarkannya,” kata Senator Corman.

“Komentar-komenar tersebut buruk dan yang lebih menyedihkan karena posisi Senator Anning sebagai anggota parlemen, sebagai seorang senator,” tambahnya.

External Link: @politicsabc: An emotional Labor Senator Pat Dodson speaks directly to the people of Christchurch, as he voices his support for the censure of Fraser Anning #auspol @abcnews

“Komentar Senator Anning buruk dan memecah-belah. Komentar itu berbahaya dan tidak layak disampaikan siapapun, apalagi oleh anggota majelis ini.”

Dalam pernyataannya, Senator Penny Wong mengatakan ada perbedaan dalam soal kebebasan berbicara dan ujaran kebencian. Dia bahkan menuduh Senator Anning melakukan ujaran kebencian.

“Ketika keluarga, kerabat, dan komunitas dari para korban masih dilanda kesedihan, senator ini malah menyalahkan para korban,” kata Senator Wong.

“Ketika mereka yang terluka masih dirawat, senator ini berusaha memperbesar api perbedaan. Betapa memalukannya,” ujarnya.

Sebelumnya, Senator Anning mengaitkan serangan terhadap jamaah masjid di Selandia Baru tersebut dengan para pendatang Muslim. Pernyataan ini mendapat kecaman dari seluruh dunia. Namun dia berulang kali menolak meminta maaf.

Menurut hukum, parlemen Australia tidak bisa memberhentikan anggota parlemen karena perilaku mereka.

Namun mereka bisa dikeluarkan bila dinyatakan bersalah oleh pengadilan, dengan ancaman hukuman penjara satu tahun atau lebih.

Video Player failed to load. Fraser Anning looks to towards reporters at a press conference with Queensland's state emblem behind him
Fraser Anning says voters can vote him out if they disagree with him. (ABC News )

Tindakan pengecaman atau ‘censure’ ini diterima oleh Senat lolos tanpa harus melakukan pemungutan suara.

Senator Anning sendiri tidak berada di ruang sidang ketika debat dilangsungkan.

Sebelumnya, Anning sudah membuat pernyataan membela diri dan menuduh Parlemen “menunjukkan sikap kekiri-kirian”.

“Apakah saya mempersalahkan para korban? Saya tidak mengatakan hal tersebut,” katanya dalam pidato di Senat.

“Saya mengeluarkan pernyataan kepada media mengutuk penembakan dan pelakunya, dengan kecaman paling keras,” tambahnya.

“Namun setelah mengecam pelakunya, saya kemudian melihat masalah yang menyebabkan hal ini terjadi,” kata Anning.

“Saya melihat program imigrasi yang mengizinkan warga Muslim fanatik pindah ke Selandia Baru menjadi faktor kunci kekerasan dalam msyarakat,” kata mengulangi pernyataan dia sebelumnya.

“Penilaian bahwa saya telah menyalahkan para korban itu merupakan pendapat yang absurd,” kata Anning.

Lihat beritanya dalam bahasa Inggris di sini


(ita/ita)
<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Jenguk Korban Teror, Aksi Jacinda Ardern Berkerudung dan Ucapkan Salam Viral

Empati yang ditunjukkan oleh Perdana Menteri (PM) Selandia Baru, Jacinda Ardern bukanlah pertama kali ia lakukan. Minggu (17/3/2019) beberapa saat setelah kejadian penembakan, Jacinda Ardern terlihat menyapa, berbincang, dan memeluk para pelayat di Masjid Kilbernie di Wellington. Perempuan 38 tahun tersebut hadir di tengah isak tangis dan wajah-wajah tak kuasa menahan perih.

Di kesempatan yang sama, ibu satu anak itu terlihat ikut membaringkan bunga sebagai tanda simpati pada korban penembakan di dua masjid di Kota Christchurch, Selandia Baru. Waktu itu ia terlihat memakai long sleeve dress berwarna navy yang dipadu stocking hitam.

Boots hitam tampak senada dengan kerudung yang disampirkan. Membawa buket, di sebuah video yang dimuat laman globalnews.ca, PM Selandia Baru itu terlihat menggandeng seorang ibu yang tengah menggendong bocah lelaki.

Jacinda Ardern sempat berpidato di depan para muslim di Christchurch dan mengatakan bahwa Selandia Baru bersatu dalam duka. Ia juga menuturkan, dukungan yang diperlihatkan sekarang adalah wajah sesungguhnya dari Selandia Baru.

Ribuan Orang di Memorial Teror New Zealand, Nama-nama Korban Dibacakan

Wellington – Ribuan orang berdiri dalam hening di Hagley Park, Christchurch, New Zealand saat memorial nasional untuk korban teror dua masjid digelar. Satu per satu nama korban tewas dibacakan di hadapan hadirin yang diam sebagai wujud penghormatan terakhir.

Pembicara dalam memorial itu menyerukan agar tragedi ini bisa menjadikan New Zealand lebih baik dan lebih toleran.

Seperti dilansir Reuters, Jumat (29/3/2019), belasan perwakilan pemerintah berbagai negara ikut bergabung bersama Perdana Menteri Jacinda Ardern dalam national memorial service yang digelar di Hagley Park, seberang Masjid Al Noor yang pada 15 Maret lalu menjadi salah satu lokasi teror mematikan.

Sedikitnya 50 orang tewas dalam teror masjid itu, dengan lebih dari 40 orang di antaranya tewas di Masjid Al Noor.
Dalam acara memorial yang digelar dua pekan usai teror mematikan itu, nama-nama korban dibacakan oleh anggota komunitas muslim bersama Komunitas Lintas Agama Christchurch yang ikut berdiri di panggung untuk memberikan dukungan. Hadirin tetap hening selama pembacaan nama korban berlangsung.

“Ahmed Gamal Eldin Mohamed Abdel Ghany, Osama Adnan Yousef Abukwaik, Husna Ahmed, Syed Areeb Ahmed, Farhaj Ahsan, Mohsen Mohammed Al-Harbi, Ashraf Ali, Ashraf Ali, Syed Jahandad Ali, Ansi Karippakulam Alibava.”

“Hussein Al-Umari, Linda Susan Armstrong, Muse Nur Awale, Zakaria Bhuiya, Kamel Moh Kamal Kamel Darwish, Ata Mohammad Ata Elayyan, Ali Mah Abdullah Elmadani, Abdukadir Elmi, Mohammad Omar Faruk, Mucaad Ibrahim.”

“Junaid Ismail, Amjad Kasem Hamid, Lilik Abdul Hamid, MD Mojammel Hoq, Ozair Kadir, Mohammed Imran Khan, Maheboob Allarakha Khokhar, Haroon Mahmood, Sayyad Ahmad Milne, Mohamad Moosid Mohamedhosen.”

“Muhammad Haziq Mohd-Tarmizi, Hussein, Mohamed Khalil Moustafa, Haji Mohemmed Daoud Nabi, Tariq Rashid Omar, Musa Vali Suleman Patel, Abdelfattah Qasem, Ashraf El-Moursy Ragheb, Matiullah Safi, Muhammad Abdus Samad, Muhammad Suhail Shahid.”

“Mounir Soliman, Khaled Mwafak Alhaj-Mustafa, Hamza Khaled Alhaj-Mustafa, Ghulam Hussain, Karam Bibi, Mohammad Zeshan Raza, Naeem Rashid, Talha Naeem, Arif Mohamedali Vohra, Ramiz Arifbhai Vohra.”

PM Ardern yang hadir di panggung dengan memakai jubah Maori yang bernama ‘kakahu’, menyatakan dunia harus mengakhiri siklus ekstremisme yang keji dan itu memerlukan upaya global.

“Jawaban untuk mereka ada pada konsep sederhana yang tidak terikat pada perbatasan domestik, tidak didasarkan pada etnis, kekuatan atau bahkan bentuk pemerintahan. Jawabannya ada pada kemanusiaan kita,” tegasnya.

Acara memorial yang disiarkan secara nasional ke seluruh New Zealand ini digelar dengan pengamanan ketat. Hingga kini, New Zealand masih dalam kondisi siaga tinggi. Komisioner Kepolisian New Zealand, Mike Bush, menyebut acara ini menjadi salah satu acara dengan pengamanan paling besar yang pernah dilakukan pihaknya.

“Tantangan kita sekarang adalah menjadi diri kita yang terbaik setiap harinya. Karena kita tidak kebal pada virus kebencian, ketakutan, dan lainnya. Kita tidak pernah kebal. Tapi kita bisa menjadi negara yang menemukan kesembuhan. Dan oleh karena itu, masing-masing kita, begitu meninggalkan tempat ini, kita punya pekerjaan untuk dilakukan,” ucap PM Ardern.
(nvc/ita)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>