Tak Ada Gajah yang Mau Dijajah

Liputan6.com, Bandar Lampung – Kepala Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) Agus Wahyudiono mengimbau masyarakat untuk tidak mengganggu habitat gajah atau mengusirnya secara sembarangan ketika kawanan itu memasuki permukiman.

“Masyarakat yang ada jangan sampai mengganggu kawanan gajah, bila tidak mau kawanan gajah ini merusak rumah, perkebunan dan pertanian warga,” kata Agus saat dihubungi dari Bandarlampung, Jumat (22/2/2019), dilansir Antara.

Menurut dia, sering keluar dan masuknya kawanan gajah ke permukiman warga karena mereka merasa terganggu dengan keberadaan manusia di habitatnya, terutama memberikan dampak keterbatasan makanan.

Selain itu, masyarakat juga jangan gegabah saat mengusir kawanan gajah yang masuk ke permukiman warga. Kalau perlu berkoordinasi terlebih dahulu dengan petugas yang ada agar tidak memakan korban.

“Masyarakat jangan suka gegabah untuk mengusir kawanan gajah yang ada, karena bisa membahayakan warga,” katanya.

Sebelumnya, kawanan gajah liar kembali masuk ke perkebunan serta merusak puluhan hektare tanaman di sawah yang berada di Pekon (Desa) Roworejo, Kecamatan Suoh, Kabupaten Lampung Barat.

“Iya tadi sore kawanan gajah kembali masuk dan merusak lahan perkebunan dan pertanian milik warga termasuk sawah,” ujar Eko, salah seorang warga saat dihubungi dari Bandarlampung, Sabtu, pekan lalu.

Menurut dia, kawanan gajah sudah hampir dua pekan menginap di lahan perkebunan dan pertanian milik warga di Pekon Roworejo, Kecamatan Suoh, Lampung Barat.

Dia menerangkan, para pemilik lahan perkebunan dan pertanian hanya dapat melihat dari jarak terdekat sekitar 50 meter.

“Kami hanya bisa melihat dari jarak 50 meter saja. Dan belum berani mendekat, karena tidak mau mengambil risiko,” katanya.

Eko menjelaskan, puluhan gajah ini sudah hampir satu bulan menginap di dekat permukiman warga dan sampai saat ini kawanan gajah tersebut berpindah dari pekon satu ke pekon lainnya.

“Bila diusir dari pekon Roworejo maka akan berpindah ke pekon lainnya. Karena hutan ini dikelilingi oleh rumah penduduk,” ungkapnya.


Simak video pilihan berikut ini:

Gangguan KRL arah Bogor, Penumpang Ini Pingsan saat Turun di Ps Minggu

Jakarta – KRL 1176 relasi Jakarta Kota-Bogor mengalami gangguan di Stasiun Lenteng Agung dan mengakibatkan kereta yang mengarah ke Bogor juga terganggu perjalanannya. Gangguan ini menyebabkan seorang wanita yang turun di Stasiun Pasar Minggu pingsan.

Pantauan detikcom di lokasi, Stasiun Pasar Minggu, Jumat (22/2/2019), seorang wanita tiba-tiba tergolek ke lantai peron sesaat setelah keluar dari KRL yang mengarah ke Bogor. Wanita itu jatuh dengan posisi terlentang agak miring.

Beberapa orang langsung sigap menghampiri sang wanita. Petugas KRL di lokasi juga tampak langsung mendekat.

Gangguan KRL arah Bogor, Penumpang Ini Pingsan saat Turun di Ps MingguFoto: Penumpang pingsan saat turun di Stasiun Pasar Minggu (Gresnia Arela/detikcom)

Wanita itu lantas dipindahkan ke kursi di peron. Beberapa wanita tampak mengusapkan sesuatu ke dekat hidungnya. Ada juga yang memijit tangan si wanita.

Kondisi di dalam gerbong memang padat. Penumpukan penumpang terjadi di sejumlah stasiun, sebagai dampak gangguan KRL.

Sebelumnya diberitakan, KRL KA 1176 lintas Jakarta Kota-Bogor mengalami gangguan di Stasiun Lenteng Agung. PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) memohon maaf atas gangguan itu dan menyarankan penumpang mencari alternatif transportasi.
“Bagi pengguna jasa yang tidak dapat menunggu disarankan untuk menggunakan moda lain, sementara bagi yang telah melakukan transaksi tiket dan memutuskan untuk berpindah moda maka pengguna jasa dapat melakukan proses pengembalian tiket di loket stasiun terdekat,” sebut VP Komunikasi Perusahaan PT KCI Eva Chairunisa, Jumat (22/2/2019).

(gbr/tor)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

KRL Jakarta-Bogor Gangguan di Lenteng Agung, Penumpang Numpuk

Jakarta – KRL Jakarta Kota-Bogor mengalami gangguan pada rangkaiannya di Stasiun Lenteng Agung. Akibatnya, perjalanan terganggu.

Informasi tersebut disampaikan PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) lewat akun Twitter resmi mereka, @CommuterLine, Jumat (22/2/2019).

“#InfoLintas KA 1176 (Jakarta Kota-Bogor) mengalami kendala pada rangkaian di Stasiun Lenteng Agung dan saat ini dalam penanganan Unit terkait,” cuit akun CommuterLine.

Sekitar pukul 20.10, akun Twitter CommuterLine mengatakan KRL tersebut masih mengalami gangguan. Pengguna jasa KRL yang diimbau mencari alternatif transportasi.
“#InfoLintas Info lanjut Kendala rangkaian KA 1176 (Jakarata Kota-Bogor) masih dalam penanganan unit terkait. #RekanCommuters yang tidak dapat menunggu dihimbau untuk menggunakan moda transportasi lain dan proses pengembalian tiket dapat dilakukan di loket Stasiun,” cuit akun itu.

Sejumlah pengguna kereta mengabarkan penumpukan penumpang di stasiun, salah satunya di stasiun Pasar Minggu.

(gbr/tor)
<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Serangan Sudirman Said ‘Terganggu’ Wawancara Masa Lalu

Jakarta – Serangan mantan Menteri ESDM Sudirman Said dipertanyakan Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf Amin. TKN menyebut cerita Sudirman Said soal Freeport berbeda dengan penuturan di tahun 2015.

Sudirman Said sebelumnya mengungkap adanya pertemuan antara Jokowi dan James Robert Moffett–saat itu menjabat Executive Chairman Freeport-McMoRan pada Oktober 2015.

“Saya paham itu bukan pertemuan normal,” ujar Sudirman dalam acara bedah buku bertajuk ‘Satu Dekade Nasionalisme Pertambangan’ di Jalan Adityawarman, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (20/2).

Sudirman mengaku diperintahkan Jokowi untuk membuat draft mengenai kesepakatan pembelian saham. Padahal menurut Sudirman, draf itu tidak menguntungkan Indonesia.

“Namun kini, saat menjadi pembela Pak Prabowo, Pak Sudirman lupa bahwa dia pernah menyatakan Pak Jokowi ketika bertemu Jim Moffet di majalah Tambang dengan mengatakan ‘Presiden menjalankan tugas negara, dan itu bukan operasi rahasia. Itulah cara beliau mengurangi kegaduhan. Akan salah kalau Presiden dan Moffet membuat kesepakatan sendiri, baru kemudian mengundang saya’. Pernyataan itu jelas terdokumentasi dalam majalah Tambang, November 2015,” ujar Jubir TKN Ace Hasan Syadzily menanggapi Sudirman Said, Kamis (21/2/2019).

Sudirman lantas menegaskan tidak ada yang berubah dari ceritanya. Pernyataan ini disampaikan Sudirman Said lewat akun Twitter saat menanggapi komentar pengamat ekonomi Yustinus Prastowo yang saat itu mengomentari cuitan Rocky Gerung.

Sudirman mengatakan tak ada yang berubah dari ceritanya. Apa yang disampaikannya di acara bedah buku bertajuk ‘Satu Dekade Nasionalisme Pertambangan’ di Jalan Adityawarman, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (20/2) kemarin hanyalah menceritakan perihal kronologis terbitnya surat Menteri ESDM 7 Oktober 2015.

“Tidak ada yang berubah Mas Pras. Saya bercerita kronologis terbitnya surat Menteri ESDM 7 Oktober 2015. Tak pernah menyebut ada ‘pertemuan rahasia’. Saya hanya menjelaskan ada staf Pak Presiden yang memberi tahu: ‘Pak Menteri, pertemuan ini tidak ada’. Clear ya Mas Pras,” tulis Sudirman.

Sementara, dalam wawancara bersama Majalah Tambang, saat menjawab pertanyaan ‘mengapa ketika anda ketemu Presiden, di situ sudah ada Moffet? Kesannya ada yang dirahasiakan’, Sudirman menjawab ‘Presiden menjalankan tugas negara, dan itu bukan merupakan operasi rahasia. Itulah cara beliau mengurangi kegaduhan. Akan salah kalau Presiden dan Moffet membuat kesepakatan sendiri, baru kemudian mengundang saya. Presiden ketika beliau bertemu Moffet selalu mengajak menteri teknisnya. Saya sebagai menteri teknis berkewajiban menindaklanjuti.’

Dalam wawancara itu, Sudirman yang menjawab pertanyaan ‘Jim Moffet seperti luar biasa, karena diundang khusus oleh Presiden’ juga menjelaskan bahwa pertemuan Jokowi dengan Moffet merupakan pertemuan biasa. Usai draft selesai, Sudirman juga mengungkap bahwa Jokowi mempertanyakan soal posisi kesepakatan itu di mata hukum.
(fdn/fdn)



<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Tips Aman Membawa Sepeda Pakai Bike Rack di Mobil

Liputan6.com, Jakarta – Bagi pemilik mobil yang bersepeda tidak jarang membawa tunggangannya ke tempat pelesiran pada akhir pekan. Dengan begitu, pasti dibutuhkan bike rack atau tempat dudukan sepeda di mobil, agar saat menuju ke tempat tujuan sepeda kesayangan tetap aman.

Nah, bagi pesepeda yang hendak memasang bike rack yang tepat, berikut tips sederhana yang dilansir dari laman resmi Hyundai Indonesia.

Pertama, Jika Anda hanya membawa satu sepeda, ada baiknya bike rack diletakkan di posisi tengah atas mobil. Untuk memasangnya, lihat dengan benar garis tengah yang ada di bodi mobil.

Kemudian, pastikan Anda mengencangkan kenop depan dan belakang untuk mengikat bike rack dengan crossbar. Jangan sampai, Anda tidak mengencangkan bike rack dengan benar, karena pastinya bisa berbahaya, baik untuk diri sendiri ataupun orang lain, dan fatalnya sepeda bisa jatuh dari atap mobil.

Saat menaikkan sepeda, lakukan dengan hati-hati dan letakkan sepeda di atas mobil dengan menghadap ke depan. Lalu, kencangkan frame sepeda dengan pengunci hingga benar-benar kencang, dan tidak bergerak saat mobil melaju.

Pastikan juga semua ikatan dikencangkan, dan sepeda dalam kondisi aman. Terakhir, saat berkendara jangan melebihi kecepatan hingga 120km/jam agar sepeda tidak bergeser ataupun terlepas.

2 dari 3 halaman

Tips Anti-Limbung Pakai Roof Rack Saat Mudik

Penggunaan roof rack menjadi solusi saat barang bawaan di bagasi atau kabin sudah penuh. 

Namun, meletakkan barang di atap mobil tanpa perhitungan bisa menyebabkan keseimbangan kendaraan terganggu. 

Terkait itu, Direktur Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI), Sony Susmana menyarankan agar tidak menaruh barang yang besar atau berat di roof rack. Hal ini bisa menyebabkan perpindahan pusat gravitasi kendaraan (center of gravity), menjadi lebih besar sehingga mobil menjadi tidak stabil.

“Sebisa mungkin yang ada di roof rack itu bukan barang-barang yang berat. Barang yang berat harus ada di kabin, karena kalau di kabin berarti kan dia di bawah, artinya center of gravity kendaraan ada di bawah,” kata Sony saat dihubungi Liputan6.com, Jumat (25/5/2018).

Menurutnya, jika barang yang berat berada di atas, ini bisa berpotensi membuat limbung bahkan bisa terbalik.

“Kalau beban di atas, itu bisa terjadi body roll yang besar. Tetapi mengingat macetnya mudik sekarang, kan berarti enggak ada kecepatan tinggi kan. Kalau enggak ada kecepatan tinggi enggak ada masalah sebenarnya,” kata dia.

“Jadi memang ada aturannya. Barang yang ringan di atas, yang berat taruh di bawah. Sebisa mungkin roof rack-nya itu yang tertutup, bukan roof rack yang terbuka di taruh barang kemudian ditutup terpal, bukan seperti itu,” lanjutnya.

Menurutnya, pemakaian terpal juga tidak disarankan untuk menutup barang yang ada di atap mobil.

“Kebiasaan orang-orang itu kan ketika bisa dilakukan di satu mobil ya semua ditaruh di mobil itu tanpa memedulikan faktor keselamatan. Yang pasti kecepatan maksimal 60 km/jam, kalau lebih pasti goyang,” pungkasnya.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Proyek Infrastruktur Garut Terancam Mangkrak

Liputan6.com, Garut Berhasil mematahkan mitos kutukan petahana yang selalu gagal memenangi pilkada Garut, Jawa Barat, Juni 2018 lalu, tak membuat pasangan Rudy Gunawan dan Helmi Budiman, semakin mudah memimpin Garut di periode kedua 2019-2014 ini. 

Minimnya kucuran anggaran belanja infrastruktur yang dikucurkan pemerintah pusat dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat, membuat mereka mesti pintar memutar otak mengatur belanja publik agar tepat dan efisien.

Bupati Garut Rudy Gunawan mengatakan, tahun pertama di periode kedua dirinya memimpin, dibutuhkan banyak anggaran pembangunan infrastruktur. Khusus tahun ini, lembaganya mengajukan anggaran hingga Rp 1,3 triliun kepada Pemprov Jawa Barat, tetapi dalam realisasinya, hanya Rp 516 miliar yang berhasil dikucurkan kas anggaran provinsi untuk pembangunan infrastruktur.

“Itu pun hampir 90 persen di antaranya sebagian besar untuk proyek seharga Rp 200 jutaan, seperti TPT (Tembok Penahan Tanah) dan lainnya, yang untuk teknokrasinya infrastruktur tidak ada,” ujar dia di sela penyampaian forum konsultasi publik dalam RPJMD Garut, di Gedung Pendopo, Selasa, 19 Februari 2019. 

Menurut Rudy, pelaksanaan konsultasi terbuka musyawarah Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Garut 2019-2024 sangat penting. Kegiatan ini melibatkan seluruh lapisan masyarakat Garut sehingga mereka bisa mengetahui rencana pembangunan Garut dalam lima tahun ke depan.

“Prosesnya memang sudah benar seperti ini, masukan dari seluruh masyarakat,” kata dia.

Mereka menyampaikan seluruh aspirasi dan masukannya, termasuk keluhan yang selama ini dirasakan, dalam menikmati pembangunan di Garut. “Sayangnya tahun ini banyak program teknokratiknya (infrastruktur) tidak dikabulkan, sehingga penyelesaian proyek besar terganggu,” kata dia.

Ia mencontohkan pengerjaan penyelesaian proyek jalan lingkar Kadungora yang melintasi Leuwigoong, Leles, dan Benyuresmi hingga Copong, kemudian lingkar Leles akhirnya tersendat, akibat tidak adanya anggaran.

Bahkan, rencana pembangunan Gelangang Olahraga (GOR) Internasional Ciateul, termasuk penyelesaian pembangunan gedung ART Center yang berada di kawasan GOR Ciateul, nasibnya tidak jauh berbeda. “Akhirnya saya frustasi dalam pembangunan itu, bantuan dari pusat hanya Rp 18 miliar,” ujar dia. 

Meskipun demikian, Rudy tetap memastikan jika roda pembangunan di Garut tetap berlangsung walaupun menggunakan Dana Alokasi Umum (DAU). “Provinsi meminta jika pembangunan yang besar-besar itu seluruhnya diserahkan kepada kabupaten,” kata dia.

Seperti diketahui, tahun lalu APBD Garut mencapai Rp 4,9 triliun, dari jumlah itu sekitar Rp 1,7 triliun di antaranya dialokasikan untuk membayar gaji dan tunjangan para pegawai negeri sipil Pemda Garut. Sedangkan pendapatan asli daerah yang berasal dari pajak dan retribusi hanya Rp 170 miliar.


Simak video pilihan berikut ini:

HEADLINE: Gempa Magnitudo 5,6 Malang Disusul Erupsi Gunung Bromo, Terkait?

Liputan6.com, Jakarta – Dua peristiwa alam dengan waktu berdekatan terjadi di Jawa Timur. Gempa dengan magnitudo 5,9 yang kemudian dimutakhirkan menjadi magnitudo 5,6 menggoyang Malang, Selasa (19/2/201) pukul 02.30 WIB. Lindu dengan kedalaman 10 kilometer tersebut dipastikan tidak berpotensi tsunami.

Tak lama berselang, Gunung Bromo, yang letak geografisnya tak jauh dari Malang, erupsi dan mengeluarkan abu vulkanik putih kecoklatan.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menyebut, erupsi terjadi sekitar pukul 06.00 WIB. Tinggi kolom abu teramati kurang lebih 600 meter di atas puncak (± 2.929 m di atas permukaan laut). Status Bromo pun naik menjadi Level II atau Waspada.

Dua peristiwa alam ini pun mengundang tanya, adakah keterkaitan antara gempa Malang dengan erupsi Bromo?

Ahli Geologi dari Pusat Studi Kebumian, Bencana, dan Perubahan Iklim (PSKBPI) Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya Amien Widodo berpendapat, gempa Malang dan erupsi Bromo adalah dua peristiwa alam yang berbeda.

“Jalannya beda-beda. Sistemnya sendiri-sendiri dan letaknya beda jauh,” ujar Amien saat dihubungi Liputan6.com, Selasa (19/2/2019).

Dia menyebut, gempa Malang terjadi karena tumbukan lempeng Samudra Hindia dan Eurasia. 

“Beberapa bulan terakhir Malang Selatan memang sering gempa. Terakhir ya pagi tadi itu hingga magnitudo 5, terasa dampaknya,” ujarnya.

Sedangkan untuk Bromo, Amien menyatakan erupsi merupakan fenomena yang biasa terjadi karena memang saat ini sudah waktunya gunung itu aktif.

“Kalau memang aktif, ya aktif, memang begitu. Seperti orang hamil, ketika tiba masanya ya mbrojol, mengeluarkan abu panas,” tuturnya.

Amien menjelaskan, erupsi Bromo yang terakhir terjadi pada 2010 dan pada 2019 ini kembali terjadi.

“Jadi kisaran waktu erupsi Gunung  Bromo itu terjadi sembilan tahun sekali, kayak Gunung Merapi, mirip-mirip,” katanya.

Infografis Letusan Gunung Bromo (Liputan6.com/Abdillah)

Penegasan serupa disampaikan Adi Susilo. Kepala Pusat Studi Kebumian dan Kebencanaan Universitas Brawijaya Malang ini berpendapat, gempa Malang dan erupsi Bromo tak terkait. Fenomena itu adalah keseimbangan alam yang normal terjadi.

“Justru jika tidak terjadi gempa dan aktivitas vulkanik di Gunung Bromo, masyarakat Malang dan sekitarnya patut waspada,” jelasnya kepada Liputan6.com Selasa, (19/2/2019). 

Dia menyatakan, waktu gempa dan letusan Bromo yang berdekatan itu, hanya kebetulan. Menurut Adi, titik kedalaman gempa Malang sangat dangkal, jika dipotong ke utara tidak akan menyentuh kelompok magma Bromo.

Dekan Fakultas Matematika dan IPA (Mipa) Universitas Brawijaya ini menyebut, dua fenomena alam itu memang harus rutin terjadi. Pelepasan energi yang bisa mengurangi potensi terjadi gempa maupun letusan gunung berapi yang jauh lebih besar.

Gempa yang terjadi di selatan Malang disebabkan kerak atau lempeng patahan bumi di kawasan ini termasuk tua. Sehingga sangat sering terjadi gempa bumi berkekuatan besar yang bisa terekam maupun gempa kecil yang tak bisa terekam oleh seismograf.

“Kalau sering terjadi gempa itu lebih baik karena terus melepas energi. Berbahaya jika tak ada, patahan berpotensi terjadi gempa berkekuatan besar,” ucap Adi Susilo.

Sedangkan Bromo yang termasuk gunung berapi aktif, sangat wajar jika terjadi gempa tremor yang terus-menerus. Kolom di dalam kawah gunung berapi purba ini juga terbuka, melepas energi dengan bentuk aktivitas vulkanik yang rutin.

“Pelepasan energi di Bromo seperti yang terjadi hari ini masih wajar. Berbahaya kalau aktivitasnya berhenti, itu bisa terjadi erupsi dalam skala lebih besar,” ulas Adi.

Karena itulah, gempa yang mengguncang Malang dini hari tadi tak ada korelasinya dengan aktivitas vulkanik di Gunung Bromo. Ini sekaligus memberi sinyal pada pemerintah daerah agar selalu siap siaga jika terjadi bencana alam.

“Mudah–mudahan kekuatan gempa dan letusan Bromo tetap kecil seperti hari ini. Sehingga tak ada potensi terjadi bencana lebih besar,” kata Adi Susilo.

Terpisah, Peneliti utama kegempaan dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Danny Hilman Natawidjaja menyatakan, gempa tektonik bisa saja mempengaruhi erupsi gunung.

Dia mencontohkan kejadian di Sumatera pada 2007. Saat itu gempa di Singkarak diikuti letusan Gunung Talang Sumatera Barat tidak lama setelah gempa.

“Intinya gelombang gempa itu bisa membuat tekanan magma naik, karena timbul gelembung udara di magma. Kalau kebetulan ada gunung api yang magmanya penuh terus ada gempa, ya dia berpengaruh,” jelasnya, Selasa (19/2/2019). 

Hanya, Hilman tidak bisa memastikan apakah kasus gempa Malang juga berkorelasi dengan erupsi Bromo.

“Saya belum lihat persis datanya. Jadi belum bisa bilang banyak. Kemungkinan besar sih enggak,” ujarnya Danny.

Penegasan gempa Malang tak terkait letusan Bromo juga disampaikan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG). 

Kabid Humas BMKG Taufan Maulana menyatakan, gempa magnitudo 5,6 di Malang adalah aktivitas tektonik di Samudra Hindia, 170 km selatan Malang. Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan, gempa dibangkitkan oleh deformasi batuan dengan mekanisme pergerakan jenis sesar naik (thrust fault).

“Sementara ini kita simpulkan tidak ada kaitan (dengan letusan Bromo),”ungkapnya kepada Liputan6.com, Selasa (19/2/2019) 

Pihaknya masih berkoordinasi detailnya soal apakah aktivitas tektonik ini menimbulkan dampak kepada aktivitas vulkanik di Gunung Bromo.

Terlepas itu, pihaknya mengimbau warga Malang dan sekitarnya selalu waspada, tetapi tidak perlu terlalu khawatir dan takut.

“Harapan kita gempa ini memang sebuah proses alamiah yang wajar yaitu proses pelepasan energi gempa dan tidak menimbulkan kerusakan,” ujarnya.

2 dari 4 halaman

Kode Vona Oranye

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mengeluarkan kode Volcano Observatory Notice for Aviation (Vona) warna oranye menyusul hujan abu di Bromo.

Kode tersebut menjadi petunjuk penerbangan bagi Kementerian Perhubungan (Kemenhub) dan 3 Bandara di Jawa Timur, yakni Bandara Juanda Surabaya, Bandara Abdurrahman Saleh Malang dan Bandara Blimbingsari Banyuwangi.

Kode Vona oranye artinya ketinggian abu di bawah 5.000 meter di atas permukaan laut. Kode itu dikeluarkan menyusul meningkatnya aktivitas kegempaan di Bromo. Asap tebal membubung setinggi hampir 700 meter dari puncak kawah Bromo, sejak Senin 18 Februari 2019.

Kolom asap itu, juga membawa material abu vulkanik. Sehingga mengakibatkan hujan abu tipis di sekitar Bromo.

Kode Vona oranye juga menunjukkan bahwa abu yang dikeluarkan gunung api intensitasnya rendah. Laporan Vona berisikan informasi waktu letusan, tinggi letusan serta warna abu.

Pada Selasa pukul 06.00 WIB, dilaporkan tinggi kolom abu sekitar 600 meter dari atas puncak (2.929 meter di atas permukaan laut).

Informasi dari Darwin VAAC (Volcanic Ash Advisory Center) menyebut sebaran abu vulkanik masih belum terdeteksi.

“Kami akan memantau perkembangannya untuk update ke depan. Akan tetapi tetap waspada bagi penerbangan,” ujar Kasi Data dan Informasi BMKG Wilayah III Juanda Teguh Tri Susanto, Selasa (19/2/2019).

Sementara itu, Kepala Unit Pelaksana Teknis Bandara Abdulrahman Saleh Malang Suhirno mengatakan, aktivitas penerbangan di bandara tak terganggu dengan kondisi Bromo.

“Situasi tetap aman. Tak terdampak apapun dan tetap beroperasi seperti biasa,” kata Suharno, Selasa (19/2/2019).

Dia menyatakan, sejauh ini otoritas bandara tak menerima informasi atau pemberitahuan yang bersifat mendesak. Baik dari Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana dan Geologi (PVMBG) maupun dari Kementerian Perhubungan yang bisa menyebabkan pembatalan jadwal penerbangan.

“Tidak ada pembatalan karena memang normal-normal saja kondisinya,” ujar Suharno.

Secara keseluruhan Bandara Abdulrahman Saleh Malang melayani 14 jadwal penerbangan setiap harinya. Dengan sebagian besar melayani rute Malang-Jakarta. Tak ada satu pun jadwal yang ditunda atau dibatalkan terkait aktivitas Bromo.

3 dari 4 halaman

Bromo Tetap Aman Dikunjungi

Meski ‘batuk’ dan mengeluarkan abu vulkanik, Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB TNTBS) menyebut kawasan wisata Bromo tetap aman dikunjungi. 

“Berdasarkan pengamatan di lapangan, kondisi Bromo kondusif, seperti hari-hari biasanya,” ujar Kepala Balai Besar John Kenedie, Selasa (19/2/2019). 

Berdasarkan informasi dari PVMBG (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi) Pos Pengamatan Gunungapi (PPGA) Bromo yang berada di Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, disebutkan aktivitas Bromo Level II atau Waspada.

Sementara cuaca dilaporkan dalam kondisi cerah, berawan, mendung, dan hujan. Angin bertiup lemah ke arah timur laut, timur, tenggara, selatan, dan barat daya, dan barat. Suhu udara 12-20 °C, kelembaban udara 0-0 %, dan tekanan udara 0-0 mmHg.

Secara visual, Bromo terlihat meski berkabut. Asap kawah bertekanan lemah hingga sedang teramati berwarna putih dan coklat. Asap ini dengan intensitas tipis hingga tebal dengan tinggi mencapai 700 meter atas puncak kawah. Dengan Tremor Menerus (Microtremor) terekam dengan amplitudo 0.5-1 mm, dominan 1 mm.

“Secara umum kondisi Bromo masih kondusif. Dengan potensi kesiap-siagaan yang harus ditingkatkan, yakni kewaspadaan dan mematuhi arahan dan instruksi pengelola TNBTS dan PVMBG,” lanjut John Kenedie.

Kepala Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Gunung Bromo Wahyu Andiran Kusuma menambahkan, meski kondusif warga dan juga wisatawan diminta mematuhi radius aman sejauh 1 kilometer dari kawah Bromo.

PGA Gunung Bromo tak bisa memastikan apakah gunung suci Suku Tengger ini akan kembali turun atau malah naik aktivitas vulkaniknya. Namun apapun perubahannya bakal segera diinformasikan secepatnya ke masyarakat.

“Warga maupun wisatawan tetap bisa ke Bromo, tapi tak boleh mendekat kawah. Jika ada perubahan dalam waktu dekat, segera kami informasikan,” katanya.

Wahyu menyatakan, sampai saat ini status Bromo masih waspada. Bromo status siaga terakhir kali pada medio Desember 2015 – Juli 2016. Erupsi saat itu ditandai dengan letusan sampai material abu vulkanik tinggi. Tapi statusnya kembali diturunkan ke level waspada sejak 20 Juli 2016 setelah erupsi surut.

“Jadi kalau ada informasi statusnya siaga bisa dipastikan itu hoaks,” tegasnya.

Sejak erupsi terakhir itu pula, aktivitas vulkanik Bromo fluktuatif. Namun, gejala perubahan aktivitas mulai tampak pada Desember 2018 sampai Januari 2019 lalu. Saat itu sempat terjadi beberapa kali gempa vulkanik di dalam kawah.

“Tapi cirinya tetap sama, dari dalam kawah hanya mengeluarkan asap putih. Itu masih tanda normal,” ujar Wahyu.

Perubahan mulai terjadi dalam dua hari terakhir ini. Kawah mengeluarkan asap kecokelatan disertai material abu vulkanik setinggi 600 meter. Disertai intensitas tipis tremor 0,5 – 1 milimeter. Namun, puncak gunung masih tampak jelas dengan sesekali tertutup kabut.

“Jadi sejak dua hari terakhir ini bisa disebut ada erupsi, tapi levelnya masih kecil,” pungkasnya.

4 dari 4 halaman

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Bobotoh Teriak Prabowo di Jalak Harupat, Viking: Harusnya Tahan Diri

Bandung – Ketua Viking Persib Club (VPC) Heru Joko buka suara soal nama Prabowo Subianto yang menggema diteriakkan bobotoh saat laga Persib Bandung vs Arema FC di Stadion Si Jalak Harupat, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Senin (18/2). Dia menegaskan mayoritas bobotoh yang datang ke stadion murni mendukung Persib, bukan menyampaikan pesan politik berkaitan dukungan kepada salah satu pasangan calon yang maju di Pilpres 2019.

“(Pertandingan kemarin) suasana yang selalu ditunggu. Tapi terganggu dengan teriakan (Prabowo) itu,” kata Heru saat dihubungi, Selasa (19/2/2019).

Dia menegaskan, sikap politik merupakan hak pribadi masing-masing termasuk di tubuh bobotoh. Tapi seharusnya semua pihak khususnya bobotoh bisa menahan diri dalam menyampaikan pandangan politiknya.
“Politik itu hak individu. Di bobotoh juga ada pendukung Pak Jokowi dan Pak Prabowo juga. Tapi harusnya bisa menahan diri,” ucapnya.

Terlepas dari itu, dia tidak ingin aksi kemarin terlalu dikaitkan dengan sikap politik bobotoh seluruhnya. Karena dia kembali menyebut bila kedatangan bobotoh ke stadion untuk mendukung Persib.

“Saya juga berpolitik, tapi di luar (stadion). Saya hanya berharap Persib bisa juara,” ujar Heru.

Diberitakan sebelumnya, ada momen tak biasa saat jeda babak pertama pertandingan Persib Bandung berhadapan Arema FC, Senin (18/2). Nama Prabowo Subianto menggema di Stadion Si Jalak Harupat, Kabupaten Bandung.

Moment itu terjadi saat jeda babak pertama pertandingan. Saat itu, Gubernur Jabar Ridwan Kamil bersama istri Atalia Praratya baru saja tiba sekitar pukul16.00 WIB dari pintu gerbang utara menuju tribun VVIP.

Kehadiran orang nomor satu di Jabar itu disambut riuh ribuan bobotoh yang membirukan stadion. Di antara riuh ribuan bobotoh ada yang terdengar cukup keras di tribun barat sebelah VVIP nama Prabowo Subianto. Teriakan nama capres 02 berulang kali terdengar saat Ridwan Kamil menuju tribun VVIP.
(mso/bbn)



<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Manajer Madura United Sarankan Klub Tahan Opsi KLB

Liputan6.com, Jakarta Manajer Madura United, Haruna Soemitro berharap klub-klub bisa menahan diri dengan kemungkinan digelarnya Kongres Luar Biasa (KLB) PSSI. Ini menyusul ditetapkannya Joko Driyono,Plt Ketua Umum PSSI sebagai tersangka oleh Satgas Antimafia Bola.

Dia menilai PSSI saat ini sudah sistematis dan berjalan di jalurnya. Itu sebabnya, klub yakin penetapan Joko Driyono sebagai tersangka tidak akan mempengaruhi hasil dari Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) PT LIB.

“Kita ingin PSSI melalui exco melakukan terobosan yang bagus, mengantisipasi persoalan-persoalan kedepan. Khususnya aspirasi yang berkembang di masyarakat khususnya klub,” terangnya dalam keterangan tertulis yang diterima wartawan usai Haruna mengikuti RUPS di The Sultan Hotel, Jakarta Selatan, Senin (18/2/2019).

Menurut Haruna, Exco harus segera melakukan terobosan-terobosan yang bagus dan aspiratif yang sesuai dengan aspirasi klub.Kalau pun KLB menjadi jalan terbaik, yang jadi penggagas sebaiknya jangan klub.

Dia mengkhawatirkan, sepak bola sebagai pemersatu bangsa bisa kembali tercabik-cabik gara-gara KLB PSSI. Apalagi suasana perpolitikan di Indonesia sedang panas karena ini tahun politik.

“KLB itu sebaiknya diendorse oleh Exco dan jalan itu menurut saya yang terbaik,”katanya.

2 dari 2 halaman

Jalan Terbaik

Haruna mempersilahkan kalau kemungkinan KLB diajukan oleh anggota Exco. Soalnya KLB bisa dilakukan lewat dua mekanisme yaitu satu melalui klub dengan 2/3 suara atau dari exco sendiri sudah cukup.

“Saya pikir itu yang harus kita junjung tinggi dan hormati agar ke depan perkembangan sepak bola ini tidak terganggu, kompetisi bisa berjalan normal. Saya masih yakin dan memberikan kepercayaan kepada exco untuk memberikan keputusan yang terbaik,” katanya.