Diragukan Prabowo, 5 Lembaga Survei Beberkan Skema Quick Count Pilpres

Jakarta – Capres Prabowo Subianto sebelumnya meragukan hasil hitung cepat atau quick count Pilpres 2019 yang menyatakan suara Prabowo-Sandiaga berada di bawah Jokowi-Ma’ruf. Dia menuding lembaga yang merilis hasil survei itu bohong.

“Hai tukang bohong, tukang bohong. Rakyat tidak percaya sama kalian. Mungkin kalian harus pindah ke negara lain. Mungkin kalau bisa pindah ke Antartika. Kalian tukang bohong, kau bisa bohongin penguin di Antartika. Lembaga survei tukang bohong, rakyat Indonesia tidak mau dengar kamu lagi,” ujar Prabowo dalam orasinya di depan kediamannya, Jl Kertanegara, Jakarta Selatan, Jumat (19/4).

Merespons hal itu, Perhimpunan Survei Opini Publik (Persepi) mengambil sikap terkait hasil quick count 5 lembaga survei yang merupakan anggotanya. Persepi memberi kesempatakn bagi anggota-anggotanya membuka skema pengolahan data perolehan suara Pemilu 2019 yang mereka kerjakan.

“Elitenya membuat distrust padahal record kita cukup baik ya. Anggota Persepi membuat quick count sejak pilpres beberapa waktu lalu, termasuk Pilkada. Kalau hasilnya baik, disukai elite. Tapi kalau hasilnya nggak disukai, dibilang abal-abal. Itu hal biasa,” ucap Ketua Umum Persepi, Philips J Vermonte, di Hotel Morissey, Jalan Wahid Hasyim, Jakarta Pusat, Sabtu (20/4/2019).

Dia mengatakan menjadi kewajiban anggota Persepi untuk membuka data agar semua orang bisa melihat proses secara sistematik. Philips menyatakan hasil quick count memiliki metode dan bukan sebagai penggiring opini.

“Cuma ini kewajiban anggota Persepi, sudah buka saja datanya, supaya orang bisa lihat ini proses sistematik dan ada metodenya. Bukan seperti yang dituduhkan dan dibuat sedemikian rupa agar KPU menyesuaikan atau menjadi penggiring opini dan lain-lain,” sambung Philips.

Berikut skema pengolahan data perolehan suara oleh lima lembaga survei anggota Persepi:

1. Charta Politika
Lembaga survei ini mengambil 8.000 responden yang sudah melakukan pencoblosan di TPS di 2.000 TPS yang menjadi sampel lewat metode stratified random sampling (dari total jumlah 809.497 TPS).

Di TPS sampel, kontributor melakukan wawancara dengan durasi waktu maksimal 1 jam mulai pukul 08.00 hingga 11.00 WIB. Responden yang diwawacarai harus selang seling wanita dan pria.

Saat pemungutan suara selesai dilakukan di TPS tempat relawan bertugas, relawan mengirim hasil perhitungan suara melalui aplikasi. Data tersebut kemudian disimpan dalam server.

Data masuk lalu diverifikasi melalui call center dan relawan diminta mengirim ulang hasil perhitungan suara. Data yang terkonfirmasi ditampilkan.

2. Poltracking Indonesia
Lembaga survei ini mengambil sampel dengan metode clustered random sampling dengan jumlah sampel 2.000 TPS yang telah dikelompokan menurut 80 daerah pemilihan DPR RI. Di TPS terpilih, enumerator menginput hasil perhitungan suara Pemilu 2019 berupa foto C1 atau formulir perhitungan suara yang telah ditandatangani petugas TPS maupun saksi ke pusat data.

Kontrol kualitas enumerator adalah mahasiswa atau sederajat dan sudah menjalani pelatihan dan supervisi.

3. SMRC
Lembaga survei ini mengambil sampel 6.000 TPS dengan metode stratified systematic random sampling dari total keseluruhan 809.497 TPS se-Indonesia. Di lapangan, sebanyak 93 TPS sampel tak bisa dijangkau relawan dan mayoritas berada di Indonesia Timur sehingga sampel TPS yang final berjumlah 5.907 titik.

Dari 5.907 TPS, data yang masuk ke pusat SMRC-LSI berjumlah 5.897 TPS untuk pilpres dan 5.838 untuk pileg DPR RI. Dalam satu TPS ditugaskan satu orang relawan yang akan mencatat dan mengirimkan hasil perolehan suara.

Data masuk lalu diverifikasi melalui call center dan kemudian dihitung di pusat untuk dipublikasikan.

4. CSIS-Cyrus Network
Lembaga survei ini mengambil 2.002 TPS sebagai sampel dari populasi 809.497 TPS se-Indonesia. Penentuan sampel dilakukan dengan metode multistage random sampling.

Skema pengolahan quick count adalah relawan mengirim hasil perhitungan suara dan foto C1 plano melalui aplikasi e-Saksi. Server menerima dan mengolah data hanya dari aplikasi yang sudah diinstal relawan berdasarkan nomor ponsel yang telah terdaftar di sistem. Data dan foto C1 plano divalidasi kemudian ditampilkan.

5. Konsepindo
Lembaga survei ini menggunakan two stage random sampling untuk menentukan 2.000 sampel TPS. Pada tahap pertama menentukan besaran sampel di tiap unit populasi (provinsi), lalu memilih TPS sampel secara sistematis.

Hasil perhitungan suara diinput enumerator di masing-masing TPA tempatnya bertugas ke server data base di pusat. Hasil perhitungan suara kemudian diverifikasi dan ditampilkan.
(aud/haf)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Jokowi: 12 Lembaga Survei Menangkan Pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin

Liputan6.com, Jakarta – Capres petahana Jokowi menggelar pertemuan dengan ketua umum partai pendukung di Restoran Plataran Menteng, Jakarta, Kamis (18/4/2019).

Jokowi menyatakan, salah satu pembahasan pertemuan tersebut adalah soal membahas soal quick count atau hitung cepat yang telah rampung 100 persen.

“Kemarin saya belum bisa berkomentar karena angkanya masih kecil, sekarang quick count semuanya sudah 100 persen, jadi kita tanggapi,” ujar Jokowi.   

Jokowi menyatakan, hasil quick count 12 lembaga survei memenangkan pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin dengan angka 54,05 persen dan Prabowo-Sandi 45,05 persen.

“Tapi kita tetap menunggu penghitungan resmi dari KPU. Kita harapkan bisa secepatnya selesai,” ujarnya.

Jokowi menyatakan, quick count adalah penghitungan ilmiah. Berdasar pengaaman pemilu sebelumnya, akurasinya hampir 99 persen dengan real count.

“Namun, sekali lagi kita harus tetap sabar menunggu hasil hitung resmi KPU,” ungkapnya.

Pendukung Prabowo Laporkan Lembaga Survei soal QC Pilpres ke KPU

Jakarta – Pendukung Prabowo Subianto-Sandiaga Uno mendatangi KPU RI guna melaporkan lembaga survei yang menampilkan quick count Pemilu 2019. Beberapa lembaga survei disebut menyiarkan berita menyesatkan.

“Kami dari BPN Prabowo-Sandi khususnya tim advokasi dan hukum ke KPU RI dalam rangka melaporkan berapa rekan-rekan atau lembaga survei yang berapa hari ini menyiarkan berita-berita yang tidak benar, hoaks, dan bahkan menyesatkan,” ujar koordinator tim advokasi BPN Djamaludin Koedoeboen di kantor KPU, Jl Imam Bonjol, Jakarta Pusat, Kamis (18/4/2019).

Djamal menyebut dia dan rombongan sebelumnya telah bertemu dengan pihak KPU. Djamal lantas memerinci beberapa lembaga survei itu.
“Ada kita di sini ada LSI, Denny JA kemudian Indo Barometer, Charta Politika, SMRC, Poltracking dan Voxpol,” kata Djamal.

Menurutnya, beberapa lembaga survei tersebut diduga menyampaikan hasil quick count berdasarkan pesanan. Dia juga menyebut hal ini serupa dengan hasil quick qount yang dikeluarkan pada saat Pilkada DKI lalu.

“Beberapa lembaga survei ini kami menduga, mereka pasti ada orderan untuk kemudian membuat quick count seperti ini. Kita kira semua juga pernah mengikuti Pilkada DKI kemarin bahwa hasil survei itu beda dengan fakta yang sesungguhnya, suvei memberi kemenangan pada Ahok-Djarot padahal fakta sebenarnya tidak seperti itu,” tuturnya.

Dia mengatakan, dalam hasil quick count pemilu ini terdapat penghitungan yang melebihi jumlah pemilih. Menurutnya, hal ini dapat merugikan Prabowo-Sandi serta meresahkan masyarakat.

“Ada yang hasil perhitungannya bahkan melebihi 100% dari jumlah pemilih itu sendiri. Ada yang jumlah persentase yang dipaparkan di atasnya berbeda dengan apa yang ada di layar monitor itu sendiri, dan ini tentu bagi kami sendiri dari BPN Prabowo-Sandi ini sangat menyesatkan dan sangat berbahaya,” kata Djamal.

“Bisa berpotensi bisa menimbulkan keonaran di tengah masyarakat, karena KPU belum mengumumkan tapi berbagai statement berbagai gaya yang disampaikan oleh rekan-rekan dari berbagai survei itu seolah-olah telah mengisi otak dan pikiran masyarakat,” sambungnya.

Djamal meminta KPU memberikan sanksi kepada lembaga survei tersebut. KPU diminta mencabut izin survei beberapa lembaga yang diduga bermasalah.

“KPU RI yang punya kompeten untuk memberikan sanksi, terhadap lisensi yang diberikan para lembaga survei ini. Maka kami minta pada surat ini, kami minta secara tegas KPU untuk mencabut kembali segala izin-izin yang diberikan kepada mereka,” sebutnya.
(dwia/gbr)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Jokowi vs Prabowo, Ini Perbandingan Hasil Survei dan Quick Count

JakartaJokowi-Ma’ruf mengungguli Prabowo-Sandiaga di quick count Pilpres 2019 versi berbagai lembaga survei. Bagaimana perbandingannya dengan hasil survei yang dirilis sebelum pencoblosan?

Berikut perbandingan antara hasil survei terakhir lembaga survei dan hasil quick count pada Kamis (18/4/2019):

Litbang Kompas

Survei Maret 2019
01. Jokowi-Ma’ruf Amin: 49,2%
02. Prabowo-Sandiaga: 37,4%
Rahasia 13,4%

Ekstrapolasi elektabilitas Maret 2019
01. Jokowi-Ma’ruf: 56,8%
02. Prabowo-Sandiaga: 43,2%

Hasil Quick Count
01. Jokowi-Ma’ruf: 54,44%
02. Prabowo-Sandiaga: 45,56%
Data Masuk: 99,75%

Indo Barometer

Survei April 2019
01. Jokowi-Ma’ruf Amin: 59,9%
02. Prabowo-Sandiaga: 40,1%

Hasil Quick Count
01. Jokowi-Ma’ruf: 54,32%
02. Prabowo-Sandiaga: 45,68%
Data Masuk: 99,67%

LSI Denny JA

Survei April 2019
01. Jokowi-Ma’ruf Amin: 55,9-65,8%
02. Prabowo-Sandiaga: 34,2-44%

Hasil Quick Count
01. Jokowi-Ma’ruf: 55,79%
02. Prabowo-Sandiaga: 44,21%
Data Masuk: 99,8%

Charta Politika

Survei April 2019
01. Jokowi-Ma’ruf: 55,7%
02. Prabowo-Sandi: 38,8%
Tidak tahu/tidak jawab: 5,5%

Hasil Quick Count
01. Jokowi-Ma’ruf: 54,42%
02. Prabowo-Sandiaga: 45,58%
Data Terkumpul: 92,5% Suara
(imk/tor)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Hasil Quick Count Nyaris 100% 6 Lembaga Survei: Jokowi Unggul!

Jakarta – Menjelang pergantian hari, sejumlah lembaga survei yang menggelar penghitungan cepat (quick count) sudah mengumpulkan data hampir 100%. Pasangan capres-cawapres Jokowi-Ma’ruf Amin unggul atas Prabowo-Sandi.

Hingga pukul 22.35 WIB, Rabu (17/4/2019), ada 6 lembaga survei yang sudah mengumpulkan data pada kisaran 92,1% sampai 98,9%. Berikut hasilnya:

Litbang Kompas

01. Jokowi-Ma’ruf: 54,52 %
02. Prabowo-Sandiaga: 45,48%
Data terkumpul: 97% Suara

Indo Barometer

01. Jokowi-Ma’ruf: 54,53%
02. Prabowo-Sandiaga: 45,47%
Data terkumpul: 97,33% Suara

LSI Denny JA

01. Jokowi-Ma’ruf: 55,73%
02. Prabowo-Sandiaga: 44,27%
Data terkumpul: 98,90% Suara

CSIS-Cyrus

01. Jokowi-Ma’ruf: 55,7%
02. Prabowo-Sandiaga: 44,3%
Data terkumpul: 95,1% Suara

Charta Politika

01. Jokowi-Ma’ruf: 54,42%
02. Prabowo-Sandiaga: 45,58%
Data Terkumpul: 92,5% Suara

Konsepindo

01. Jokowi-Ma’ruf: 53,5%%
02. Prabowo-Sandiaga: 46,5%%
Data Terkumpul: 92,1% Suara

Quick count atau hitung cepat adalah metode verifikasi hasil pemilihan umum yang dilakukan dengan menghitung persentase hasil pemilu di tempat pemungutan suara (TPS) yang dijadikan sampel. Hasil quick count ini merupakan hasil sementara. Hingga saat ini, data terbaru masih masuk ke lembaga survei yang mengadakan quick count.

Data quick count bukan hasil resmi Pilpres 2019. Hasil resmi Pemilu menunggu penghitungan suara secara manual dari KPU.

KPU Buka Suara Usai Banyak Masyarakat Pertanyakan Hasil Quick Count, Simak Videonya:

[Gambas:Video 20detik]



(dkp/imk)
<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Perbandingan Hasil Lembaga Survei Australia dengan Quick Count Pilpres 2019

Tak hanya itu, hasil quick count Indo Barometer pada pukul 16.30 WIB dengan total suara sementara 63,33 persen, Jokowi-Ma’ruf Amin mendapat 52,74 Persen dan Prabowo-Sandiaga sebesar 47,26 Persen.

Dengan begitu, selisih dengan hasil survei Roy Morgan adalah untuk Jokowi-Ma’ruf 3,26 persen dan Prabowo-Sandiaga 3,76 persen.

Kemudian, hasil hitung cepat Litbang Kompas pada pukul 16.30 WIB dengan total suara sementara 63,95 persen, Jokowi-Ma’ruf mendapat 54,26 Persen dan Prabowo-Sandiaga Uno sebanyak 45,74 Persen.

Selisih perolehan suara hasil survei Roy Morgan dengan hasil quick count sementara adalah Jokowi-Ma’ruf 8,26 persen dan Prabowo-Sandiaga 2,24 persen.

Lalu, hasil quick count Centre for Strategic and International Studies (CSIS) pada pukul 16.35 WIB dengan total suara sementara 83,87 persen, Jokowi-Ma’ruf mendapat 55,79 Persen dan Prabowo-Sandiaga memperoleh 44,21 persen.

Sehingga, selisih suara keduanya berdasarkan survei Roy Morgan dan quick count adalah Jokowi-Ma’ruf hanya 0,21 persen dan Prabowo-Sandiaga 0,71 persen.

Dan terakhir, berdasarkan hasil quick count Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) pada pukul 16.20 WIB dengan total suara masuk 70,59 persen, Jokowi-Ma’ruf memperoleh suara sementara 54,95 Persen dan Prabowo-Sandiaga 45,05 persen.

Dengan begitu, selisih hasil survei Roy Morgan dengan hasil quick count sementara adalah Jokowi-Ma’ruf 1,08 persen dan Prabowo-Sandiaga 1,55 persen.

* Ikuti Hitung Cepat atau Quick Count Hasil Pilpres 2019 dan Pemilu 2019 di sini

KPU Himbau Lembaga Survei Taat MK, Umumkan Quick Count Pukul 15.00 WIB

Jakarta – Mahkamah Konstitusi (MK) menyatakan quick count baru dapat diumumkan sore hari. KPU mengatakan lembaga survei harus mentaati putusan MK tersebut.

“Jadi begini, dengan adanya putusan MK yang menolak judicial review atas quick count lembaga survei itu, maka UU itu kan efektif berlaku. Sehingga semua pihak dalam hal ini lembaga survei mematuhi hukum,” ujar komisioner KPU Wahyu Setiawan di kantor KPU, Jl Imam Bonjol, Jakarta Pusat, Selasa (16/4/2019).

Wahyu mengatakan, pada saat pencoblosan, TPS akan dibuka pada pukul 07.00 dan ditutup pasa 13.00 WIB. Menurutnya, berdasarkan undang-undang hasil survei baru dapat diumumkan 2 jam setelah TPS ditutup, sehingga lembaga survei baru dapat mengumumkan pada pukul 15.00 WIB.
“TPS akan buka jam 07.00 WIB waktu setempat sampai dengan pukul 13.00 waktu setempat. Akan tetapi pengertiannya jam 13.00 WIB itu dimaknai pasti ditutup. Jadi jam 13.00 WIB TPS tetap dapat melayani sepanjang pemilih itu sudah datang dan mendaftar, itu tetap bisa dilayani dan sudah masuk antrean,” kata Wahyu.

“Nah kemudian berdasarkan UU, maka dua jam setelah ditutupnya TPS WIB, berarti kan jam 15.00 wib, yakni setelah jam 3 sore itu lembaga survei baru bisa menyampaikan hasil surveinya,” sambungnya.

Wahyu mengatakan terdapat sanksi pidana bagi lembaga survei yang tidak mentaati aturan. Hal ini diatur dalam UU 7 tahun 2017 pasal 540 ayat 2 tentang pemilu.

“Sebab ada konsekuensi hukum jika tidak patuh. Jika itu dilanggar maka akan ada sanksi pidana,” kata Wahyu.

Berikut isi pasal 540,:

(2) Pelaksana kegiatan penghitungan cepat yang mengumumkan prakiraan hasil penghitungan cepat sebelum 2 (dua) jam setelah selesainya pemungutan suara di wilayah Indonesia bagian barat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 449 ayat (5) dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun 6 (enam) bulan dan denda paling banyak Rp18 juta.

(dwia/asp)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Survei LSI Denny JA: PDIP Unggul, 6 Parpol Terancam Gagal di Pemilu 2019

Liputan6.com, Jakarta – Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA merilis hasil penelitian elektabilitas partai politik (parpol) dalam kontestasi Pemilu 2019. Dalam hasil survei ini, PDI Perjuangan berpotensi besar menang, sementara enam parpol terbawah terancam gagal lolos.

Peneliti LSI Denny JA Ikrama Masloman menyampaikan, elektabilitas PDIP per April 2019 ini adalah 26,7 persen hingga 31,1 persen.

“Kita gunakan rentang dengan memperhitungkan margin of error, swing voters, dan golput,” tutur Ikrama di Kantor LSI Denny JA, Rawamangun, Jakarta Timur, Sabtu (13/4/2019).

Menyusul di bawahnya adalah Partai Gerindra 13,4 persen-17,8 persen, Partai Golkar 11,5 persen-15,9 persen, Partai Demokrat 4,6 persen-9,0 persen, PKB 4,5 persen-8,9 persen, PKS 3,8 persen-8,2 persen, Partai Nasdem 3,5 persen-7,9 persen, Partai Perindo 2,3 persen-6,7 persen, PPP 1,9 persen-6,3 persen, dan PAN 1,4 persen-5,8 persen.

“Untuk PKS, Nasdem, PAN, PPP, dan Perindo masih rawan walaupun potensial lolos Parlementary Threshold 4 persen,” jelas dia.

Sementara untuk elektabilitas enam parpol terbawah adalah Partai Hanura 0,5 persen-3,2 persen, PBB 0,5 persen-3,2 persen, PSI 0,5 persen-3,2 persen, Partai Berkarya 0,5 persen-3,0 persen, Partai Garuda 0,4 persen-2,6 persen, dan PKPI 0,3 persen-2,3 persen.

“Jika tidak ada langkah big bang, enam parpolini terancam terhempas pada Pileg 2019,” Ikrama menandaskan.

Penelitian tersebut dilakukan pada 4 April sampai 9 April 2019. Metode yang digunakan adalah multistage random sampling dengan melibatkan 2 ribu responden lewat kuesioner wawancara tatap muka. Adapun margin of error penelitian tersebut sebesar 2,2 persen.

Survei Indo Barometer: Jokowi 59,9 Persen dan Prabowo 40,1 Persen

Liputan6.com, Jakarta – Indo Barometer menggelar survei elektabilitas pasangan capres cawapres Jokowi- Ma’ruf dan Prabowo-Sandiaga. Hasilnya, Jokowi lebih unggul dari lawan politiknya di Pilpres 2019.

“Proyeksi hasil Pilpres 17 April 2019 dengan asumsi golput merata, Jokowi-Ma’ruf 59,9 persen sementara Prabowo-Sandiaga 40,1,” kata Direktur Eksekutif Indo Barometer M Qodari di Hotel Haris, Jakarta Selatan, Sabtu (13/4/2019)

Qodari menyatakan, selisih antara 01 dan 02 sebesar 19,8 persen. “Adapun rentang suara 01 antara 57, 07 persen – 62,73 persen dan Prabowo-Sandiaga antara 37,27 persen – 42,93 persen (suara saat pencoblosan),” ujar dia.

Alasan responden menjatuhkan pilihan pada 01 disebut Qodari adalah tingkat kepuasan kinerja Jokowi yang selalu tinggi.

“Kita perlihatkan pada survei sebelumnya pertama tingkat kepuasan kepada Pak Jokowi itu diangkat sekitar 65 persen, jadi mayoritas puas,” ucap dia.

Survei Poltracking: Sumatera-Jabar Arena Tarung Sengit Pileg 2019

Jakarta – Lembagai survei Poltracking merilis peta elektabilitas partai politik pada Pileg 2019 ini. Berdasarkan survei tersebut, ada lima wilayah yang jadi arena pertarungan sengit antar-parpol karena selisih angka elektabilitas partai-partai yang mendominasi terpaut tipis.

“Di Sumatera, Golkar dan Gerindra berkompetisi dengan ketat karena elektabilitasnya selisih sedikit, begitu juga dengan PDIP dan NasDem di Sulawesi, Golkar dan PDIP di Maluku-Papua dan PDIP dengan Gerindra di Jawa Barat,” kata Direktur Eksekutif Poltracking Hanta Yudha dalam rilis survei berjudul ‘Siapakah Pemenang Pemilu 2019?’ di Hotel Oria, Jl Wahid Hasyim, Jakarta Pusat, Sabtu (13/4/2019).

Survei itu dilakukan pada 1-8 April 2019 dengan melibatkan 2.000 orang responden yang dipilih lewat metode multistage random sampling. Para responden itu merupakan orang-orang yang sudah terdaftar dalam DPT Pemilu 2019.

Berikut hasilnya survei Pileg 2019 versi Poltracking di 5 wilayah yang diprediksi bakal terjadi pertarungan sengit:

Sumatera
Golkar 14,1 persen
Gerindra 12,9 persen
PDIP 11,8
PKB 6,0 persen
NasDem 4,8 persen
Lain-lain 22,7 persen
Tidak menjawab/tidak tahu 27,7 persen

Sulawesi
PDIP 15 persen
NasDem 14,7 persen
Golkar 10 persen
Gerindra 7,4 persen
PKB 1 persen
Lain-lain 26,8 persen
Tidak menjawab/tidak tahu 24,3 persen

Papua dan Maluku
Golkar 24,1 persen
PDIP 21,8 persen
NasDem 12,8 persen
Gerindra 12,7 persen
PKB 2,4 persen
Lain-lain 18,1 persen
Tidak menjawab/tidak tahu 8,1 persen

Jawa Barat
PDIP 18,6 persen
Gerindra 16,9 persen
Golkar 13,6 persen
PKB 3,2 persen
NasDem 2,9 persen
Lain-lain 28,4 persen
Tidak menjawab/tidak tahu 16,4 persen

Sementara itu Hanta Yudha menjelaskan elektabilitas PDIP kuat Jawa Tengah, DIY, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara dan Kalimantan. Sedangkan elektabilitas Gerindra paling kuat di wilayah DKI Jakarta dan Banten.
(aud/haf)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>