Sorotan Keluarga Korban ke Bos Lion Air

Jakarta – Sejumlah keluarga korban penumpang Lion Air PK-LQP menumpahkan perasaan mereka saat bertemu dengan manajemen maskapai. Mereka menyampaikan soal perhatian manajemen hingga harapan soal hasil investigasi.

Hal ini disampaikan dalam pertemuan yang digelar di Hotel Ibis, Cawang, Jakarta Timur. Selain keluarga korban dan pihak Lion Air, hadir Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, Kabasarnas Marsdya M Syaugi, Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono, Kapusdokkes Polri Brigjen Arthur Tampi, dan perwakilan lainnya.

Orang tua Shandy Johan Ramadhan mempertanyakan perhatian Lion Air pada saat awal kabar tragedi pesawat jatuh itu terjadi. Shandy merupakan jaksa fungsional Kejaksaan Negeri Bangka Selatan yang menjadi salah satu penumpang pesawat JT 610 tersebut.

“Saya ingin memberi perhatian kepada Pak Rusdi Kirana dan tim. Pada saat krisis, saya tidak pernah dihubungi oleh pihak Lion. Jangankan empati, menelepon pun tidak,” ucapnya, Senin (5/11/2018).

“Kalau Lion mempresentasikan uang, itu kewajiban Lion. Tapi sekarang ini kami keluarga perlu dirangkul. Tidak ada telepon itu yang jadi permasalahan. Kami kehilangan anak kami,” imbuhnya.

Keluarga korban mencurahkan perasaannya dalam pertemuan iniKeluarga korban mencurahkan perasaannya dalam pertemuan ini (Grandyos Zafna/detikcom)

Orang tua Shandy juga meminta pemerintah mendorong KNKT segera mendapatkan hasil investigasi penyebab jatuhnya pesawat itu.
Hal senada disampaikan M Bambang Sukandarayah, anggota keluarga penumpang Lion Air Panky Pradana Sukandar. Bambang ingin masalah Lion Air, yang dikabarkan terjadi sehari sebelum jatuh di perairan Karawang, diminta diinvestigasi.

“Kami dapat informasi benar atau tidak, benar atau tidak kalau pesawat ini sudah trouble di Bandara Ngurah Rai, kemudian ada perbaikan. Apakah perbaikan itu sudah clear?” kata Bambang di lokasi yang sama.

Bambang juga meminta pertanggungjawaban teknisi Lion Air. Dia menuntut pihak Lion Air menjelaskan secara terperinci persoalan pesawat PK-LQP itu saat terbang dari Bandara Ngurah Rai menuju Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng.

“Nyawa seratusan itu harus dipertanggungjawabkan, hukumnya mutlak karena menyatakan pesawat clear untuk take off. Kami mohon dengan hormat peristiwa ini jangan sampai terjadi. Tolong proses hukum teknisi-teknisi yang tidak benar,” sambungnya.

Pada pertemuan itu, Bambang juga meminta pihak manajemen, termasuk Rusdi Kirana, berdiri. Dia ingin peristiwa ini diselidiki agar kecelakaan tak terulang lagi.

“Tolong manajemen Lion diperbaiki, kami hanya mengusulkan jangan sampai terjadi lagi. Kita tidak bermaksud mendiskreditkan Lion,” kata Bambang.

Sorotan Keluarga Korban ke Bos Lion AirAir lifting bag mengangkat bagian as roda Lion Air dari dasar lautan. (Lisye Sri Rahayu/detikcom)

“Mohon dengan hormat Pak Rusdi Kirana berdiri. Bapak Menteri kiranya untuk ditindaklanjuti, jangan sampai kejadian ini terulang,” sambungnya.

Ada juga keluarga korban yang mempertanyakan manifes penumpang bayi. Sebab, meski body part bayi sudah ditemukan, tim DVI RS Polri belum mengumumkan hasil identifikasi.

“Saya tahu adik saya ditemukan dari Selasa. Dari data manifes hanya dua bayi. Dari pihak lain, saya tanyakan apa benar manifesnya? Ini mengidentifikasikannya apa susah. Sampai hari ini keponakan saya belum ada juga identifikasinya, benar nggak manifes di bandara dua bayi?” kata keluarga korban itu.

Rusdi Kirana, Presdir Lion Air Edward Sirait, serta satu perwakilan lainnya lantas berdiri. Pihak Lion Air memastikan manifes dua bayi benar tercatat. Di lokasi yang sama, pihak RS Polri menyatakan masih melakukan identifikasi karena belum menemukan kecocokan sampel DNA.

Pesawat Lion Air PK-LQP dengan nomor penerbangan JT 610 itu jatuh di perairan Tanjung Pakis, Karawang, Jawa Barat, pada Senin, 29 Oktober 2018. Pesawat berjenis Boeing 737 MAX 8 itu membawa 189 orang, termasuk pilot, kopilot, dan awak kabin.

Pada Selasa (30/10), pendiri Lion Group, Rusdi Kirana, menemui keluarga korban di Hotel Ibis. Rusdi menyampaikan dukacita atas jatuhnya pesawat.

Sementara itu, Direktur Operasional Lion Group I Putu Wijaya mengatakan setiap keluarga korban mendapatkan uang sekitar Rp 1,25 miliar dan beberapa santunan lainnya. Hal ini sesuai dengan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 77 Tahun 2011 tentang Tanggung Jawab Pengangkut Angkutan Udara.
(jbr/tor)

<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *