Sinyal Kuat Black Box dan Ceceran Barang Lion Air di Dasar Laut

Jakarta – Sinyal kuat dari black box Lion Air JT610 tertangkap alat canggih yang dikerahkan dalam pencarian. Penanda ini membuat fokus pencarian black box dan badan pesawat difokuskan satu titik.

Koordinator sinyal black box yang tertangkap transponder USBL berada pada koordinat S 05 48 48.051 – E 107 07 37.622 dan pada koordinat S 05 48 46.545 – E 107 07 38.393.

“Ketemunya di koordinat lost contact pesawat. Arahnya barat laut, jaraknya kurang lebih 400 meter dari koordinat itu,” kata Kabasarnas Marsekal Madya TNI Muhammad Syaugi dalam jumpa pers di posko utama evakuasi Lion Air di JICT 2, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Rabu (30/10/2018).

Di dasar laut lokasi penyisiran koordinat sinyal black box, ditemukan sejumlah properti pesawat Lion Air termasuk barang-barang diduga milik penumpang Lion Air.

“Kita sudah bisa melihat dan menemukan hal-hal yang berkaitan dengan barang-barang penumpang. Apakah itu tadi life jacket, celana, baju. Ada lain-lain. Banyak tadi, kita lihat di dasar laut,” sambung Syaugi.

Barang-barang tersebut termonitor alat canggih ROV yang dibawa Kapal Riset Baruna Jaya I BPPT. Tapi black box belum tervisualisasikan. Arus kencang di dasar laut jadi kendala dalam pencarian black box yang diperkirakan berada di kedalaman 32 meter.

Soal temuan ini, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto juga menyaksikan lewat monitor di Kapal Baruna Jaya I. Selain life jacket, terlihat kursi pesawat juga baju.

“Termasuk majalah, dan ketika didekatkan ROV itu majalahnya terbuka. Artinya majalah itu baru saja berada di tempat itu, jadi majalah, baju banyak tercecer di dasar laut. Saya yakin dengan kondisi seperti itu body pesawat ada di sekitar itu,” papar Hadi.

Pun dengan deteksi sinyal black box. Ada dua suara yang dipancarkan sinyal dan tertangkap transponder USBL Kapal Baruna Jaya I.

“Kita menemukan suara ping dari black box. Black box ada 2, jadi bunyi pingnya ada 2, saya dengarkan langsung dengan Kabasarnas. Bunyi ping, ping, yang satu jelas, yang satu kecil. Itu adalah bagian black box, mungkin yang satunya tertutup dengan pasir dan sebagainya. Tapi yang jelas suara itu ada, sifatnya semakin dekat semakin kencang,” papar Hadi.

Temuan ini jadi dasar tindaklanjut. Selain memfokuskan pencarian pada lokasi sinyal black box, akan disiapkan juga crane pinjaman dari Kementerian ESDM untuk pengangkatan badan pesawat setelah ditemukan.

“Saya sudah mendapatkan izin Menteri ESDM supaya kita bisa mendapatkan crane supaya bisa angkat body pesawat itu dengan berat hampir lebih dari 80 ton, bisa sampai 100 ton,” kata Hadi.

Sementara dari proses identifikasi korban Lion Air yang jatuh pada Senin (29/10), tim forensik RS Polri sudah memeriksa 48 kantong jenazah yang berisi body part. Satu jenazah teridentifikasi Jannatun bernama Cintya Dewi.

Identifikasi dilakukan salah satunya dengan pencocokan sidik jari. Sidik jari itu dicocokan dengan data e-KTP.

“Di jenazah ini kita menemukan 13 titik persamaan sehingga dapat kami yakini bahwa ini adalah identitas yang bersangkutan dan identik. Artinya, sidik jari yang ada di mayat dengan sidik jari yang ada di e-KTP sudah sama,” ujar Kapus Inafis Bareskrim Polri Brigjen Hudi Suryanto dalam jumpa pers di RS Polri.
(fdn/hri)

<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *