Subkhan Pastikan Tangisannya di Depan Sandiaga Asli Tak Dibuat-buat

Jakarta – Petani bawang di Brebes, Subkhan, menepis tudingan air matanya di depan Sandiaga Uno direkayasa. Dia pun mengaku bukan simpatisan salah satu pasangan capres-cawapres.

“Saya baru kali ini, saya ingin menyampaikan uneg-uneg tentang petani,” kata Subkhan di Bareskrim Polri, Jalan Medan Merdeka Timur, Jakarta Pusat, Jumat (15/02/2019).

“Saya menghormati 01, 02,” imbuh Subkhan.

Dia menyebut petani bawang di Brebes terpuruk. Untuk itulah dia mengeluhkan hal itu pada saat kebetulan Sandiaga berkampanye.

“YaAllah. Makanya ketika seperti itu, saya benar-benar merasakan. Bukan hanya saya yang merasakan terenyuhnya tapi saudara-saudara saya, tetangga-tetangga saya di sana itu tidak bisa juga mengembalikan. Juga sama borok nya itu sertifikat, di BRI, satu desa kemungkinan hampir satu miliar pun ada,” ujar Subkhan.

“Itu nangis beneran? Tidak dibuat-buat?” tanya wartawan.

“Bener (nangis). Tidak (dibuat-buat),” jawab Subkhan.

Sebelumnya beredarnya surat yang mengatasnamakan Subkhan yang intinya menyebutkan Subkhan selaku pihak yang membuat pernyataan meminta maaf dan mengaku telah melakukan kebohongan di depan Sandiaga karena menjalankan skenario tim sukses. Subkhan pun menepis surat itu dan menyebutnya hoax.
(dhn/dhn)

<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Singapura Tangkap Dua Warga Negara yang Terlibat Jaringan ISIS

Liputan6.com, Singapura – Dua warga negara Singapura yang diduga terlibat jaringan ISIS telah ditangkap kepolisian setempat, setelah dideportasi dari Malaysia pada 7 Januari 2019. Mereka ditahan karena melanggar Undang-Undang Keamanan Dalam Negeri (ISA).

Salah satu pejabat Kementerian Dalam Negeri menyatakan pada Jumat 15 Februari 2019, keduanya bernama Mohamed Kazali Salleh dan Hazim Syahmi Mahfoot, dikutip dari Channel News Asia pada Jumat (15/2/2019). Saat ini, baru informasi seputar Kazali yang dilaporkan kepada publik.

Kazali (48) adalah seorang pengusaha yang disinyalir memiliki hubungan dekat dengan anggota ISIS senior asal Malaysia, Aquil Wan Zainal Abidin alias Akel. Akel juga dicurigai ambil bagian dalam serangan ISIS di Malaysia baru-baru ini.

Kementerian Dalam Negeri menyampaikan bahwa Kazali pernah diperintahkan oleh Akel untuk menyerang dan/atau merekrut orang-orang untuk menghabisi pusat Freemason di Malaysia pada tahun lalu, namun ia menolak karena takut akan ditangkap oleh pihak yang berwajib.

Kazali juga sempat memengaruhi Hazim, seorang eksportir mobil, untuk memiliki pandangan radikal.

“Mereka memiliki urusan bisnis, dan dengan cepat mengembangkan persahabatan pribadi. Hazim dipengaruhi oleh pandangan radikal Kazali,” kata pejabat kementerian dalam negeri.

Kazali mengatakan kepada Hazim untuk memerangi dengan kekerasan seluruh musuh Islam.

“Hazim memandang Kazali dan diyakinkan oleh Kazali bahwa dia harus melakukan kekerasan bersenjata terhadap musuh-musuh yang dianggap agamanya, khususnya non-Muslim,” kata MHA.


Simak video pilihan berikut:

2 dari 2 halaman

Kronologi Bergabungnya Kazali dalam Jaringan ISIS

Kazali telah bertempat tinggal di Malaysia sejak kecil, saat itu keluarga membawanya merantau ke Negeri Jiran. Beberaba dekade terakhir ia memutuskan bekerja dan menetap di Johor Baru meskipun berstatus warga negara Singapura.

Menurut Kementerian Dalam Negeri Singapura, Kazel bertemu Akel pada 2009 dan diberikan teori konspirasi khususnya terkait pandangan jihad melawan penindasan ke Suriah.

Kazali kemudian bersedia membiayai Akel perjalanan dan kegiatan Akel di Suriah. Ia percaya bahwa uang yang disumbangkan akan mengantarkannya ke surga, khususnya jika Akel mati “syahid” di medan tempur.

Kazali pernah menyanggupi untuk turut pergi ke Suriah, mengingat ia sempat berikrar untuk setia kepada pemimpin ISIS, Abu Bakar Al-Baghdadi. Namun ia masih belum yakin untuk meninggalkan Malaysia.

Sebagi gantinya, Kazali bersedia merekrut lebih banyak simpatisan ISIS dan membiayai siapapun yang menginginkan berangkat ke Suriah.

Minta Kader Sambut Prabowo di Masjid, Gerindra Larang Pakai Atribut

Jakarta – DPC Partai Gerindra Semarang menginstruksikan kadernya untuk salat bareng sang ketum, Prabowo Subianto, di Masjid Agung Semarang atau Masjid Kauman. Namun, Gerindra melarang para kader menggunakan atribut partai.

Larangan itu tercantum dalam surat instruksi nomor JT-01/02-005/A/DPC-Gerindra/2019. Surat instruksi agar mengikuti salat berjamaah bersama Prabowo itu meminta para kader mengenakan baju bernuansa putih islami.

“Nah itu karena kegiatannya di masjid, itu ada keterangan yang saya sampaikan bahwa, karena saya tahu masjid itu tidak boleh digunakan untuk kampanye, karena sebagai tempat ibadah. Maka di situ untuk menyambut kedatangan beliau, dan tidak boleh menggunakan atribut partai. Tapi harus menggunakan baju islami,” ujar Sekretaris DPC Gerindra Semarang, Joko Santoso, saat dimintai konfirmasi oleh detikcom, Kamis (14/2/2019).


Joko menjelaskan alasan melarang kadernya menggunakan atribut partai. Dia tidak ingin menjadikan masjid tempat untuk berkampanye atau berpolitik.

“Kita nggak mungkin menggunakan masjid untuk kampanye. Kalau Jumat kan memang kewajiban seorang muslim untuk Jumatan to mbak,” katanya.

Surat instruksi bertanggal 12 Februari itu dikeluarkan dalam rangka menyambut kedatangan sang ketum yang akan menyampaikan pidato kebangsaan di Semarang. Rencananya, di sela kegiatannya itu, Prabowo akan menunaikan salat Jumat di Masjid Agung Semarang.

Minta Kader Sambut Prabowo di Masjid, Gerindra Larang Pakai AtributFoto: Istimewa

Joko sebelumnya menjelaskan alasan surat tersebut dikeluarkan. Surat internal itu merupakan bagian dari kewajiban elemen partai untuk menyambut kedatangan sang ketum.

“Jadi begini dalam suatu organisasi ada kedatangan seorang ketum itu kan wajib mengerahkan semua elemen yang ada di dalam struktur partai. Kalau di kita, DPC itu ada PAC, ada ranting, dan ada simpatisan dan struktur partai,” katanya.

“Ketika ketua kita di manapun tetap kita ikuti wong kita menyambut kedatangan ketum. Ya di masjid, atau di manapun. Kebetulan kan pas beliau di masjid ya kita ikuti di masjid. Kalau beliau di restoran ya kita ikuti di restoran. Jadi menyambut ketum itu wajar dan wajib,” imbuh Joko.

(mae/fjp)

<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Satgas Tinombala Tangkap Kurir Logistik Kelompok Teroris Ali Kalora

Liputan6.com, Jakarta – Satgas Tinombala terus mengejar kelompok teroris Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Ali Kalora di Pegunungan Biru, Sulawesi Tengah. Dalam operasi tersebut, polisi menangkap seseorang yang dicurigai sebagai kurir logistik kelompok teroris Poso itu.

“Dilakukan penangkapan kurirnya dan dalam pemeriksaan. Ditangkap di Parigi Moutong (perbatasan Poso),” ujar Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo di kantornya, Jakarta, Kamis (14/2/2019).

Namun, Dedi tidak mengungkap identitas kurir tersebut. Dia diketahui sebagai simpatisan Ali Kalora yang bertugas mengirim logistik makanan.

“Logistik untuk kebutuhan, beras, mi, telor. (Dibawa pakai) karung, dipikul. Soalnya jalurnya terbatas, karena hutan,” ucapnya.

Selain itu, Satgas gabungan Polri-TNI juga memutus jalur logistik di empat titik menuju tempat persembunyian Ali Kalora cs. Aparat secara teknis juga telah mempersiapkan pendeteksi jalur komunikasi yang dilakukan Ali Kalora cs.

Satgas juga meminta kerjasama masyarakat setempat, khususnya petani yang memasuki wilayah hutan Pegunungan Biru agar membawa perbekalan secukupnya. Satgas juga meminta kerjasama pihak keluarga untuk membujuk 14 kelompok teroris MIT yang telah masuk dalam daftar pencarian orang (DPO) atau buronan polisi untuk menyerahkan diri.

“Ini akan terus dilakukan oleh Satgas dalam rangka untuk mempersempit ruang gerak Ali Kalora cs,” kata Dedi.

Sebelumnya, Polri telah mendeteksi adanya empat anggota baru yang bergabung dengan kelompok teroris pimpinan Ali Kalora. Dengan begitu, jumlah kelompok Ali Kalora cs yang masuk daftar pencarian orang (DPO) kepolisian menjadi 14 orang.

Tak mau kalah, Satgas Tinombala juga mempertebal kekuatan untuk memburu kelompok teroris tersebut. Selain berkoordinasi dengan masyarakat setempat, aparat juga menyebarkan pamflet melalui udara agar kelompok Ali Kalora ini segera menyerahkan diri.

2 dari 2 halaman

Jadi Sorotan

Ali Kalora cs menjadi sorotan publik setelah aksinya membunuh dan memutilasi warga di Desa Salubanga, Sausu, Parigi Moutong, Sulawesi Tengah pada Senin 31 Desember 2019. Diduga aksi tersebut untuk mengundang aparat kepolisian mendatangi lokasi.

Esoknya, mereka menembaki petugas kepolisian yang tengah olah TKP dan mengevakuasi jasad korban mutilasi. Dua anggota mengalami luka tembak akibat peristiwa tersebut.

Kontak tembak antara petugas dan kelompok teroris sempat berlangsung sekitar 30 menit. Mereka kemudian melarikan diri ke wilayah pegunungan di perbatasan Kabupaten Parigi Moutong dan Poso. Hingga saat ini, pengejaran terhadap mantan anak buah Santoso alias Abu Wardah itu terus berlanjut.

Grace Natalie Kecam Pembiaran Intoleransi

Liputan6.com, Jakarta – Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Grace Natalie mengingatkan masyarakat akan bahaya fenomena yang disebut “normalisasi intoleransi”. Menurutnya fenomena ini dapat menimbulkan konflik yang akan menghancurkan toleransi di masyarakat.

“Pembiaran penyerangan atas kelompok yang berbeda keyakinan, penutupan tempat ibadah, meluasnya ceramah kebencian, lama-lama menjadi sesuatu yang kita anggap biasa. Inilah fenomena berbahaya yang disebut aktivis peneliti perempuan Sandra Hamid sebagai normalisasi intoleransi,” jelas Grace dalam pidato politiknya yang berjudul Musuh Utama Persatuan Indonesia di Festival 11 Yogyakarta yang bertempat di Grha Pradipta Jogja Expo Center, Senin (11/2/2019). 

Lebih lanjut dia mengatakan, gejala ini akan terjadi ketika masyarakat semakin menganggap intoleransi sebagai sesuatu yang normal.

“Gejala normalisasi intoleransi adalah ketika masyarakat semakin menganggap intoleransi sebagai sesuatu yang normal akibat meluasnya kampanye kultural yang mengajak orang hanya berpikir secara biner: hitam – putih. Kaum kita – musuh kita,” jelas Grace dihadapan ribuan ribu hadirin yang terdiri dari pengurus, kader, dan simpatisan PSI.

Di tengah gelombang normalisasi intoleransi yang semakin besar ini, Grace kembali menegaskan, pihaknya tidak akan tinggal diam. PSI akan terus melakukan perlawanan segala bentuk ancaman bagi persatuan masyarakat Indonesia. Karena sesuai dengan perjuangan pokok PSI, yaitu melawan intoleransi.

2 dari 3 halaman

Hentikan Provokasi di Medsos

Di sisi lain, Partai Solidaritas Indonesia (PSI) meminta politikus kubu pasangan capres cawapres nomor urut 02 Prabowo-Sandiaga menghentikan provokasi di media sosial.

Menurut juru bicara PSI bidang Teknologi Informasi Sigit Widodo, belakangan ini politikus dari kubu pasangan capres 02 itu kerap melontarkan pernyataan-pernyataan kontroversial di media sosial, sehingga memicu kemarahan publik.

“Yang terakhir, puisi ‘Doa yang Ditukar’ cuitan Fadli Zon memicu kemarahan kelompok Nahdliyin karena diduga menyindir Kiai Maimoen Zubair,” kata Sigit Widodo, Rabu (6/2/2019).

Sebelum puisi Fadli Zon, politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Hidayat Nur Wahid, juga sempat di-bully warganet karena mempersoalkan cucu Jokowi, Jan Ethes, dengan mencolek akun Bawaslu.

3 dari 3 halaman

Saksikan video pilihan di bawah ini:

TKN soal Slamet Ma’arif Tersangka: Jangan Selalu Merasa Benar

TKN soal Slamet Maarif Tersangka: Jangan Selalu Merasa Benar Foto: Abdul Kadir Karding. (Ari Saputra/detikcom).

Jakarta – Ketum Persaudaraan Alumni (PA) 212 Slamet Ma’arif merasa diperlakukan tidak adil menyusul penetapan tersangkanya dalam kasus pidana pemilu. Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma’ruf Amin meminta Slamet dan kubu Prabowo Subianto-Sandiaga Uno yang membelanya untuk fair.

“Di era politik ini, apapun yang terjadi, yang merugikan BPN Prabowo-Sandiaga pasti tuduhannya ke pemerintah, itu tidak fair,” ungkap Wakil Ketua TKN Jokowi-Ma’ruf, Abdul Kadir Karding kepada wartawan, Senin (11/2/2019).

Karding menegaskan, penetapan Slamet Ma’arif sebagai tersangka bukan asal-asalan. Masalah pidana dalam pemilu pun juga sudah diatur dalam UU Pemilu dan ditagani oleh Sentra Gakkumdu (penegakan hukum terpadu).


“Itu kewenangan di Gakkumdu, ada Jaksa, Polisi dan Bawaslu. Kalau kemudian dia tersangka itu artinya ada bukti hukum yang nyata yang dapat dipertanggungjawabkan oleh penyidik , apalagi sekarang ini seluruh proses-proses itu terbuka, apalagi kalau dia tokoh publik,” kata Karding.

Menurutnya, Gakkumdu pun tak akan aneh-aneh dalam penanganan kasus pemilu. Sebab hal tersebut bisa menjadi masalah dan menyerang balik penegak hukum.

“Kita fair aja, pengadilan terbuka kok, boleh didampingi pengacara, boleh di-medsoskan. Akan dapat dibuktikan di pengadilan. Pasti mereka punya bukti yang cukup. Tidak semua apa-apa ujungnya ke pemerintah, nggak bisa. Kita menganut sistem persamaan di mata hukum dan hukum yang tidak bisa diintervensi. Pengadilan memiliki independensi yang tinggi terhadap satu kasus,” tutur anggota Komisi III DPR itu.

Karding pun menyebut tim sukses dan pendukung Prabowo-Sandiaga selalu menuduh pemerintahan Presiden Joko Widodo bila ada pihaknya yang terkena masalah. Itu menurutnya justru sikap yang tidak adil.

“Masalahnya segala sesuatu yang terjadi terhadap gengnya BPN Prabowo ini, kelompok BPN, apa-apa kalau yang salah itu tuduhannya, framingnya adalah kriminalisasi, framingnya adalah pekerjaan pemerintah, dalangnya pemerintah, saya kira itu juga tidak fair,” sebut Karding.

Politikus PKB ini mengimbau Badan Pemenagan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga dan para simpatisan pasangan nomor urut 02 itu, termasuk Slamet Ma’arif untuk bijaksana dalam bersikap. Bila tidak ingin terkena kasus, kata Karding, mereka diminta untuk menjaga sikap dan tutur katanya.

“Kalau tidak ingin kena masalah, jangan berbuat salah. Kita harus proporsional. Jangan mau selalu merasa benar bisa omong apa saja tidak tersentuh hukum, setelah dihukum nyalahkan Jokowi,” katanya.

Seperti diketahui, Slamet Ma’arif menjadi tersangka terkait dugaan pelanggaran pemilu dalam acara tablig akbar PA 212 Solo Raya pada 13 Januari 2019. Kubu Prabowo-Sandiaga membela Slamet habis-habisan.

Slamet Ma’aruf sendiri menyatakan tidak adil terhadap penetapan status tersangkanya. Polisi memastikan sudah melakukan prosedur yang semestinya. Slamet ditetapkan sebagai tersangka karena polisi sudah punya bukti kuat terkait kasus tersebut.

“Memilukan dan memalukan hukum di Indonesia, ketidakadilan hukum terpampang jelas dan gamblang di negeri ini,” kata Slamet kepada wartawan, Senin (11/2).

Ikuti perkembangan Pemilu 2019 hanya di sini.
(elz/tor)

<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Megawati: Wes Kalah, ya Kalah Wae toh

Liputan6.com, Banyumas – Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri mengaku heran dengan pemilu kali ini. Masyarakat menurutnya seperti ketakutan, padahal sejak pemilu pertama 1955 rakyat selalu tertawa dan senang hati saat datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS).

“Pemilu 2019 kenapa jadi seperti ini. Kenapa sekarang orang ditakut takuti, jangan pilih Jokowi, memangnya kenapa ya Pak Jokowi. Katanya demokrasi, demokrasi apa?,” kata Megawati Soekarnoputri saat memberikan amanat kepada ribuan kader dan simpatisan PDI Perjuangan dalam acara Jambore Kader Komunitas Juang se- Jawa Tengah di Gor Satria Purwokerto, Banyumas, Minggu, 10 Februari 2019 seperti dilansir Jawapos.com.

Megawati juga mengatakan, penyebaran hoaks menjadi penyebab keadaan bangsa Indonesia seperti saat ini. Ujaran kebencian terus disebar untuk menjatuhkan Jokowi yang telah bekerja dan berupaya membangun Indonesia.

“Aneh sekali sekarang ini. Kenapa hanya mencari seorang Presiden rakyat ini ditebarkan kebencian hoaks segala, hanya untuk memenangkan yang menyebarkan hoaks,” kata Megawati.

“Pertanyaannya, kalau kalian dibegitukan kayak apa ya rasanya, tidak ada sopan santun lagi, tidak ada saling bergotong royongan. Padahal Pancasila sama dengan gotong royong, dan Pancasila bukan dibuat oleh Bung Karno, tapi di gali dari kultur Indonesia. Wes kalah ya kalah wae toh yo, (Kalau sudah kalah ya kalah aja),” ucapnya.

Dia pun meminta agar para penyebar hoaks kebencian segera sadar dan bertanggungjawab dengan apa yang telah dilakukan selama ini.

“Hai anak muda yang menyebar kebencian, kalau benar kamu bertanggungjawab dan ksatria, maka datanglah ke sini, ayo ngomong, nanti ibu jawab. Jangan main medsos menyembunyikan diri kamu, yang hanya keluar adalah kebencian, yang belum tentu kamu pun mengalami kebencian seperti itu, dapat juga kamu merasakan betapa sakitnya,” jelasnya.

Simak berita Jawapos lainnya di sini.

2 dari 3 halaman

Ancaman Bagi Kader Jika Sebar Hoaks

Bahkan dia mengancam kadernya jika di partainya terdapat penyebar hoaks agar segera angkat kaki dan keluar dari PDI Perjuangan. PDIP tidak membutuhkan kader yang meyebarkan kebencian yang dapat memecah belah bangsa Indonesia.

“Sekarang (banyak) anak muda pintar bermain cyber, banyak yang pintar tapi tak punya sopan santun dan etika. Di sini jangan ada yang seperti itu. Kalau disini ada, segera keluar, tidak ada (penyebar hoaks) di PDI Perjuangan. Harus bertanggung jawab berani kamu menyebarkan kebencian, sini..!!,” tegas Megawati.

3 dari 3 halaman

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Megawati Tantang Penyebar Kebencian Keluar untuk Menemuinya

Banyumas – Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, menantang anak-anak muda yang disebutnya sebagai penyebar kebencian untuk bertemu dengannya. Dia juga merasakan saat ini ada pihak-pihak yang telah mempengaruhi kegembiraan kehidupan berdemokrasi.

“Hai anak muda yang menyebar kebencian, kalau benar kamu bertanggungjawb dan kesatria datang ke sini, ngomong, nanti Ibu jawab. Jangan main medsos menyembunyikan diri diri kamu, yang hanya keluar adalah kebencian, yang belum tentu kamu pun mengalami kebencian seperti itu, dapat juga kamu merasakan betapa sakitnya.”

Hal tersebut disampaikan Megawati saat memberikan amanat kepada 5.000 kader dan simpatisan PDI Perjuangan dalam acara Jambore Kader Komunitas Juang se Jawa Tengah di GOR Satria Purwokerto, Banyumas, Minggu (10/2/2019).


Mega menuding mereka yang disebutnya sebagai penyebar kebencian itu sebagai orang-orang yang lupa diri. Dia menyebut pelakunya adalah anak-anak muda pintar nantun tidak memiliki kesantunan..

“Sekarang (banyak) anak muda pintar bermain cyber, banyak yang pintar tapi tak punya sopan santun dan etika. Di sini (PDIP) jangan ada yang seperti itu. Kalau di sini ada, segera keluar. Tidak ada (penyebar kebencian) di PDI Perjuangan. Harus bertanggung jawab berani kamu menyebarkan kebencian,” tegasnya.

Lebih lanjut, Megawati mengaku bingung dengan keadaan Bangsa Indonesia yang saat ini telah banyak berubah. Sekarang dinilainya banyak yang menakut-nakuti calon pemilih ketika akan menggunakan hak pilihnya.

“Pemilu ini kenapa jadi seperti ini, padahal dari sejak Pemilu pertama tahun 1955, keadaaanya aman dan damai. Rakyatnya tertawa dan senang hati datang ke TPS. Kenapa sekarang orang ditakut-takuti, jangan pilih Jokowi. Memangnya kenapa ya Pak Jokowi? Katanya demokrasi. Demokrasi apa?” sergahnya.

Ikuti perkembangan Pemilu 2019 hanya di detik.com/pemilu
(mbr/mbr)

<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Pamer Keberhasilan, Megawati: Paslon 02 Masih Janji Akan dan Akan

Banyumas – Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, menyinggung paslon 02 yang hanya berkata akan dan akan tapi belum berbuat. Megawati meminta paslon nomor urut dua untuk berfikir logis dan obyektif.

“Kita nomor satu dengan paslon nomor dua mari kita berfikir logic objektif. Yang sini sudah bekerja keras, buktinya ada. Kalau dilihat dengan objektif dari sisi Mbak Puan sebagai Menko PMK, tadinya tidak ada BPJS, sekarang ada BPJS. Lalu jalan dibuat sedemikin rupa, orang ada kok buktinya.”

Hal tersebut disampaikan Megawati saat memberikan amanat kepada para kader dan simpatisan PDI Perjuangan dalam acara Jambore Kader Komunitas Juang di GOR Satria Purwokerto, Banyumas, Minggu (10/2/2019).


Megawati menyontohkan saat dalam perjalanan dari Bandara Tunggul Wulung, Cilacap, menuju Banyumas terdapat infrastruktur terowongan kereta api double track yang tengah dibuat di daerah Kebasen.

“Dari bandara mau ke sini ada terowongan kereta baru, itu kan bukti. Yang paslon dua selama ini kan bilang nanti akan, nanti akan, mbok ya mikir to, yang ketok wae sih sulit (yang kelihatan saja masih sulit), yang di sini akan akan akan, sisanya mengritik. Saya ya mikir, saya ya sudah pernah jadi Presiden, dipikir apa gampang ya, seperti membalik tangan akan akan. Berarti kan belum to,” jelasnya.

Dia juga mengingatkan kepada warga Jawa Tengah, terutama kaum perempuan agar jangan hanya karena diberikan uang lalu mengubah pilihan untuk masa depan Indonesia lima tahun ke depan.

“Terutama yang di Jawa Tengah ini, mungkin ibu-ibu, sampeyan kan pinter mikir, aja merga mung rong atus ewu, telung atus ewu (jangan hanya karena uang dua ratus ribu, tiga ratus ribu) terus nyoblos. Nyoblos itu tidak sampai 5 menit, tapi harga nyoblos itu kan 5 tahun, mari belajar mensimulasi sebuah pikiran yang mendatangkan objektifitas bagi kita,” ujarnya.

Ikuti perkembangan Pemilu 2019 hanya di detik.com/pemilu
(mbr/mbr)

<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Posko Prabowo-Sandiaga di Solo Kemalingan, Ada TV Hilang

Jakarta – Pos pertempuran Prabowo Subianto-Sandiaga Uno di Solo, Jawa Tengah sempat disatroni maling. Kejadian yang menimpa posko yang berada di Jalan Letjen Suprapto RT 03 RW 08 Kelurahan Sumber, Kecamatan Banjarsari itu terjadi pada Januari lalu.

“Bulan lalu (Januari dimalingnya). Tv yang ilang. Itu sebulan yang lalu. Poskonya yang deket rumah Pak Jokowi,” ujar Juru Bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga, Andre Rosiade, saat dihubungi, Minggu (10/2/2019).

Padahal, saat itu ada pihak yang menjaga posko pertempuran itu. Namun, maling masih tetap menggasak satu buah televisi dari posko.

“Ada yang jaga tapi kalau maling ya maling, jangankan di sana, di Jakarta saja kalau kita lagi apes lengah sedikit ilang,” ujar Cawapres Sandiaga Uno, di Jalan Jenggala, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Posko Prabowo-Sandiaga di Solo Kemalingan, Ada TV HilangFoto: Dok. ANTARA FOTO/Siswowidodo/

Sandiaga mengatakan, berdasarkan pengalaman itu dia pun meminta jajarannya untuk bersosialisasi dengan masyarakat sekitar. Pengurus, relawan hingga simpatisan harus turun ke masyarakat.

“Saya sampaikan ke mereka turun banyak ke masyarakat. Itu ya saya sampaikan mereka turun banyak di masyarakat jangan nunggu bola, jangan di posko, kalau di posko itu kan buat gagah-gagahan harus turun ke masyarakat balik lagi ke posko. Malah saya bilang kalau bisa poskonya dibuat di pedesaan di masyarakat kalau kita tempatnya di prominen yang di tempat-tempat yang hanya bisa dilihat oleh orang perkotaan tidak bisa dilihat,” tuturnya.

Eks Wagub DKI itu pun mengaku saat ini perkembangan posko di Jateng semakin bagus. Dia selalu mengingatkan agar semua jajarannya untuk menyampaikan visi-misi Prabowo-Sandiaga kepada masyarakat.

“Saya minta mereka untuk turun ke pedesaan sampaikan visi-misi kita bawakan kabar baik bahwa kita fokusnya 2 isu utama yaitu isu ekonomi lapangan pekerjaan dan peningkatan produktivitas petani sehingga daya belinya semakin meningkat dan harga bahan pokok semakin stabil,” pungkas Sandiaga.

Simak Juga ‘Anggaran Bocor, Sandi Minta Pemerintah Introspeksi’:

[Gambas:Video 20detik]



(mae/tor) <!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>