Wiranto Puji Sikap Negarawan Jokowi dan Prabowo

Liputan6.com, Jakarta – Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Wiranto memuji sikap negarawan capres petahana Jokowi dan capres nomor urut 02 Prabowo Subianto. Dia menilai dua capres tersebut telah memberikan pesan-pesan kedamaian kepada pendukungnya, pasca pencoblosan Pilpres 2019.

“Dalam konteks pemilu, Pak Jokowi maupun Pak Prabowo juga mengatakan bahwa jaga perdamaian, jangan sampai ada perbuatan kegiatan aksi dari para pendukung yang inkonstitusional. Itu pernyataan-pernyataan negarawan yang harus dicermati oleh semua pihak,” kata Wiranto di Kompleks Istana Kepresidenan Bogor Jawa Barat, Selasa (23/4/2019).

Wiranto pun menyambut baik rencana pertemuan antara Jokowi dan Prabowo. Menurut dia, tak ada lagi alasan bagi masyarakat untuk terpecah belah karena berbeda pilihan politik.

“Saya kira itu niat yang sangat baik dan disambut oleh semua pihak, tidak ada alasan kita tidak bersatu lagi sebagai bangsa. Pemilu tidak menyebabkan kita pecah, pemilu hanya memilih calon presiden, calon wakil presiden, calon anggota-anggota DPR,” jelasnya.

Wiranto pun mengajak semua pihak untuk menunggu proses penghitungan suara yang dilakukan Komisi Pemilihan Umum (KPU). Rekapitulasi suara ini maksimal harus selesai pada 22 Mei mendatang.

“Kita tinggal menunggu aja tanggal 22 Mei nanti pengumuman dari KPU yang sudah memang ditunjuk, dibentuk secara mandiri independen,” ujar Wiranto.

Real Madrid Takkan Toleransi Sikap Pogba

Liputan6.com, Madrid – Mantan bek Manchester United, Paul Parker, mengaku yakin Real Madrid tak tertarik dengan Paul Pogba. Sebab, performa pemain asal Prancis itu kurang konsisten.

Sejak merapat ke United pada 2016 lalu, performa Pogba tak juga stabil. Kadang tampil bagus, namun kadang juga tak memberi kontribusi.

Meski demikian, pemain 26 tahun itu terus dihubungkan dengan Real Madrid. Menurut Parker, klub seperti Real Madrid takkan memberi toleransi kepada pemain yang penampilannya angin-anginan di lapangan.

“Pogba punya kemampuan, tetapi jika Anda ingin dilihat sebagai yang terbaik, Anda harus menunjukkan konsistensi. Anda tidak bisa memilih pertandingan sesuka hati,” kata Parker di Soccerway.

“Pogba tidak tampil bagus di bawah Jose Mourinho dan semua orang melihat masalahnya adalah Mourinho sebagai pribadi dan sebagai manajer. Ketika Anda memiliki seseorang yang datang (Ole Gunnar Solskjaer) dan merangkul Anda dan menidurkan situasi sebelumnya, Anda tidak dapat mengecewakan mereka dan yang lebih penting, Anda tidak bisa mengecewakan rekan setim Anda.”

Sikap MK: Dulu Izinkan Quick Count Sejak Pagi, Kini Pukul 15.00 WIB

Jakarta – Mahkamah Konstitusi (MK) membolehkan quick count pada Pemilu 2004, 2009 dan 2014 sejak pagi hari. Namun kini MK mengubah pendiriannya yaitu quick count setelah pukul 15.00 WIB.

“Perubahan demikian dilakukan dalam rangka melindungi hak konstitusional warga negara,” kata Ketua MK Anwar Usman dalam sidang di Gedung MK, Selasa (16/4/2019).

Menurut MK, perubahan pendirian Mahkamah bukanlah sesuatu yang tanpa dasar. Hal demikian merupakan sesuatu yang lazim terjadi. MK mencontohkan di Amerika Serikat yang telah menjadi praktik yang lumrah di mana pengadilan mengubah pendiriannya dalam soal-soal yang berkait dengan konstitusi.
MK mencontohkan kasus pemisahan sekolah warna berdasarkan warna kulit di AS. Pada 1896, MK Ameriksa Serikat menyatakan hal itu bukan diskriminasi atas dasar prinsip separate but equal (terpisah tetapi sama).
Namun, pendirian itu diubah pada 1954. Supreme Court memutuskan pemisahan sekolah yang didasarkan atas dasar warna kulit adalah bertentangan dengan Konstitusi.

“Oleh karena itu, Indonesia yang termasuk ke dalam negara penganut tradisi civil law, yang tidak terikat secara ketat pada prinsip precedent atau stare decisis, tentu tidak terdapat hambatan secara doktriner maupun praktik untuk mengubah pendiriannya. Hal yang terpenting, sebagaimana dalam putusan-putusan Mahkamah Agung Amerika Serikat, adalah menjelaskan mengapa perubahan pendirian tersebut harus dilakukan,” pungkas MK.

(asp/rvk)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

AHY: Sikap Mengapresiasi yang Berjasa untuk Negeri Syarat Mutlak Pemimpin Bangsa

AHY mengatakan, pihaknya percaya, siapapun yang terpilih menjadi Presiden dan Wakil Presiden, pastilah putra terbaik bangsa.

“Yang telah berkorban sebesar-besarnya untuk bangsa ini. Waktu, tenaga, pikiran, keluarga, segalanya,” kata AHY.

Sebelumnya, calon Presiden 02 Prabowo Subianto menyampaikan, deindustrialisasi bangsa Indonesia perlu dilakukan segera demi menutupi kesalahan para pemimpin sebelum masa pemerintahan Joko Widodo atau Jokowi.

“Belajar baik dan berani merencanakan pembangunan deindustrialisasi, ciptakan lapangan kerja, lindungi petani dan nelayan kita. Ini kesalahan besar presiden-presiden sebelum bapak (Jokowi), kita semua harus bertanggung jawab. Benar, itu pendapat saya,” tutur Prabowo dalam debat pilpres 2019 di hotel Sultan, Jakarta, Sabtu (13/4/2019).

Prabowo menyatakan, dia tidak menyalahkan Jokowi dalam upayanya melakukan perbaikan demi kesejahteraan rakyat. Hanya saja, Jokowi harus berkaca bahwa ada cara yang salah saat menjalankan program pilihannya.

“Jadi kembali lagi saya terus terang saja tidak menyalahkan Pak Jokowi. Ini masalah kesalahan kita sebagai bangsa dan sudah berlangsung belasan, puluhan tahun, tapi harus berani mengoreksi diri. Kita salah jalan,” jelas dia.

Indonesia, lanjut Prabowo, harus mencontoh Republik Rakyat Tiongkok yang berupaya menghilangkan kemiskinan selama 40  tahun.

“Berani belajar dari yang hebat. Ini kesalahan kita semua. Jadi kita nih salah jalan. Harus kembali ke UU 45 Pasal 33,” Prabowo menandaskan.

Pengamat LIPI Sebut Sikap Prabowo Gebrak Meja Hanya Emosi Sesaat

Senada, Direktur Indonesian Public Institute Karyono Wibowo, mengatakan Pemilu 2019 masih menyisakan masalah. Hal ini terbukti dari ribuan pelanggaran Pemilu yang dilaporkan ke Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu), terutama soal hoaks.

Menurut data PoliticaWafe dan Masyarakat Anti Fitnah (MAFINDO), penyebaran hoaks terus meningkat. Tercatat, ada 771 konten hoaks, dengan 181 konten di antaranya terkait politik.

Selain hoaks, Karyono juga menyoroti beberapa peristiwa lain yang juga menjadi acaman dalam Pemilu. Seperti, pembakaran sepeda motor dan mobil yang terjadi di Solo, Jawa Tengah dan Temanggung, Jawa Timur.

“Kenapa terjadi di Jateng dan Jatim, karena itu merupakan basis kandidat capres terentu. Peristiwa tersebut tidak berdiri sendiri tapi memiliki korelasi kuat dengan agenda Pemilu,” tutur Karyono.

Sumber: Merdeka

Reporter: Nur Habibie

PDIP Kritik Sikap Prabowo saat Kampanye: Cenderung Temperamental

JakartaPDIP menyoroti sikap dan gaya kepemimpinan capres nomor urut 02 Prabowo Subianto. PDIP menilai Prabowo cenderung temperamental dengan sering mengeluarkan kata-kata kasar dan tidak pantas saat kampanye.

“Dalam berbagai kampanye yang ditampilkan Pak Prabowo, PDI Perjuangan mengamati adanya persoalan serius terkait kepemimpinannya yang cenderung temperamental, keluarkan kata-kata kasar, dan ketidakpantasan etis di hadapan publik” kata Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto dalam keterangan tertulis, Selasa (9/4/2019).

“Kata-kata kasar yang keluar dari Pak Prabowo semakin runtuhkan kredibilitas dan martabat pemimpin. Sikap egonya dan tampilannya, elite sekitarnya yang biasa dengan hoax dan fitnah, justru semakin memperburuk keseluruhan tampilan politik yang seharusnya positif dan penuh hal-hal baik,” sambung dia.

Hasto mengatakan sikap temperamental yang kerap ditunjukkan Ketum Partai Gerindra itu sangatlah tidak pantas diperlihatkan oleh seorang calon pemimpin bangsa. Dia lantas menyinggung insiden penonton debat tertawa saat Prabowo berbicara.

“Atas berbagai tampilan gebrakan temperamental Pak Prabowo termasuk larangan bagi penonton yang menertawakan dirinya saat debat yang lalu, harus dilihat sebagai persoalan serius tentang watak dan karakter pemimpin yang berkorelasi langsung dengan peradaban bangsa,” ujarnya.

Sekretaris Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf Amin itu pun membandingkan dengan sosok sang capres, Joko Widodo (Jokowi). Menurut Hasto, karakter Jokowi sangat bertolak belakang dengan Prabowo yang disebutnya kerap emosional.

“Politik adalah proses berpenghidupan kebangsaan yang seharusnya mengontestasikan hal-hal baik dan membawa kemajuan peradaban serta kebaikan bagi bangsa dan negara. Pilpres akhirnya menampilkan kontradiksi karakter dasar pemimpin,” kata Hasto.

Hasto menilai sudah seharusnya seorang pemimpin berlaku dan bertutur kata lebih bijaksana. Sebab, karakter pemimpin akan ikut menentukan kultur positif dan martabat bangsa.

“Ketika Pak Jokowi tampil sebagai sosok apa adanya, merakyat, visioner dan selalu bergulat dengan apapun persoalan rakyat sambil terus kedepankan optimisme, maka hal ini menghasilkan kultur bangsa yang bergerak maju dan mengejar prestasi. Sebaliknya, Pak Prabowo yang emosional dan sering keluarkan kata-kata yang tidak pantas, hadirkan ketakutan, kegelisahan akut dan pesimisme,” pungkasnya.
(mae/gbr)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Prabowo akan Beri Pensiun ke Koruptor, ICW: Sikap Toleran Tak Kurangi Korupsi

Jakarta – Indonesia Corruption Watch (ICW) heran dengan sikap toleran Capres Prabowo Subianto yang akan memberi kesempatan bertobat dan memberi pensiun bagi para koruptor. Koordinator Divisi Korupsi Politik ICW Donal Fariz menilai sikap toleran yang dimiliki Prabowo itu justru tidak akan mengurangi prilaku korupsi di negeri ini.

“Sikap toleran kayak begitu justru tidak akan mengurangi perilaku korupsi. Justru koruptor itu adalah dihukum badannya dan disita asetnya. Kok malah memaafkan kayak begitu,” ujar Donal saat dihubungi, Minggu (7/4/2019).

Donal melanjutkan, pemberantasan korupsi di Indonesia sudah ada tataran dan aturannya yang tertera dalam undang-undang. Ada akibat hukum yang akan diberikan kepada para koruptor, salah satunya disita asetnya disiksa badannya.

“Sehingga justru itu (sikap toleran memberi koruptor pensiun) bertentangan dengan semangat yang sudah dibangun selama ini, bahwa pemberantasan korupsi itu menghukum badan pelakunya dan kemudian merampas atau menyita asetnya. Nah konsep kayak begitu bertentangan dengan desain pemberantasan korupsi di dalam undang-undang 31 tahun 1999 yang kemudian menghukum badan, merampas aset pelaku kejahatan korupsi itu, bukan justru menafkahinya dalam bentuk uang (pensiun), apalah begitu seperti bahasa dia (Prabowo),” kata Donal.

Menurut Donal, masalah tobat adalah urusan pribadi masing-masing koruptor. Ketika undang-undang sudah mengatur mekanisme hukuman untuk koruptor, maka tidak ada mekanisme tobat dalam undang-undang.

“Kalau taubat itu kan mekanisme urusan dia dengan Tuhan, jadi menurut saya mekanisme taubat seperti apa? Menurut saya masih terlalu kabur tawaran seperti itu. Justru harusnya dikongkretkan saja seperti memperkuat KPK, kemudian melakukan pembersian di sisi penegak hukum, kepolisian, kejaksaaan, itu menurut saya lebih tegas dan lebih kongkret, daripada konsep-konsep yang masih menerawang dan akan menimbulkan perdebatan,” imbuhnya.

Donal pun meminta Prabowo untuk lebih kongkret dalam memaksimalkan konsep pemberantasan korupsi yang sudah ada di negara ini. Hal ini lebih baik daripada memberi tawaran yang masih kosepnya masih kabur seperti memberi dana pensiun bagi koruptor.

“Definisi taubat itu membingungkan. Definisi taubat seperti apa yang dimaksud. Jadi ketika ada kasus korupsi diproses secara hukum, kemudian pelaku dipidana, aset dirampas, menurut saya itu justru lebih efektif daripada tawaran-tawaran lain yang belum teruji dan apalagi tidak diterapkan di banyak negara,” jelasnya.

Sebelumnya, dalam pidatonya di GBK, Prabowo sempat mengatakan akan meminta para koruptor bertobat dan mengembalikan uang negara. Koruptor juga akan diberi dana pensiun.

“Kita akan panggil koruptor-koruptor itu, kita akan minta mereka taubat dan sadar kembalikan lah uang-uang yang kau (koruptor) curi, ya boleh kita sisikan sedikit lah, boleh nggak? Ya untuk dia pensiun, berapa, Kita tinggalin berapa,” ujar Prabowo dalam pidatonya di GBK, Minggu (7/4).
(nvl/ibh)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Kapten Persija Sesalkan Sikap Ngotot Patrich Wanggai

Liputan6.com, Jakarta Persija Jakarta kalah adu penalti lawan Kalteng Putra pada babak perempat final Piala Presiden 2019, Kamis 28 Maret 2019 lalu. Dalam laga di Stadion Patriot Candrabhaga, yang disiarkan Indosiar itu, sempat diwarnai ketegangan antara Patrich Wanggai dan Riko Simanjuntak.

Terkait dengan itu, kapten Persija, Ismed Sofyan, mengaku kecewa dengan sikap Wanggai. Wanggai dinilai bersikap terlalu ngotot saat dia hendak melerai keributan yang terjadi.

Kejadian yang disebut Ismed Sofyan itu, diawali dengan cedera yang dialami kiper Kalteng Putra, Dimas Galih. Riko Simanjuntak yang hendak membantunya untuk segera berdiri, justru membuat kesal Patrich Wanggai yang diikuti dengan adu argumen di antara kedua pemain.

“Wanggai mendorong Riko secara berlebihan. Sebagai seorang kapten, saya mencoba melerai, tapi dia malah ngotot kepada saya. Padahal, saya hanya ingin melerai agar tidak seperti itu. Seharusnya ada etika yang lebih baik darinya,” ujar Ismed Sofyan.

Kapten Persija itu pun memilih untuk tidak meladeni Patrich Wanggai lebih lanjut. Pemain Persija dan Kalteng Putra kemudian berusaha melerai dan menjauhkan kedua pemain agar tidak terlibat perselisihan lebih lanjut.

Berita video highlights perempat final Piala Presiden 2019 antara Persija Jakarta melawan Kalteng Putra yang berakhir dengan adu penalti dengan skor 3-4 setelah sebelumnya bermain 1-1.

Nicholas Cerita Sikap Ahok saat Pembangunan MRT

Nicholas Cerita Sikap Ahok saat Pembangunan MRT Nicholas Sean putra Ahok (Instagram)

Jakarta – Sambil jalan-jalan di stasiun MRT, Nicholas Sean mengenang akibat politik yang harus dituai ayahnya, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), saat melanjutkan pembangunan MRT, LRT, dan jalanan di Jakarta dulu. Pembangunan itu berakibat ke kampanye Ahok dalam Pemilu Gubernur DKI 2017.

Cerita itu diunggah Nicholas di akun Instagramnya, @nachoseann, Minggu (24/3/2019). Dia menyertakan keterangan tertulis di bawah video unggahannya. Ahok bercerita kepadanya bahwa menangani kemacetan adalah prioritas kerjanya saat masih memimpin DKI, salah satu cara menangani kemacetan adalah melanjutkan pembangunan MRT.

Saat masa kampanye 2017, pembangunan MRT, LRT, dan beberapa ruas jalan lintas bawah (underpass) dan jalan layang (flyover) mengakibatkan kemacetan. Nicholas juga mendapat keluhan kemacetan itu dari teman-temannya sendiri.
“Tentu tidak perlu analisa politik untuk mengatakan bahwa itu berpengaruh negatif kepada usaha kampanye Papa,” tulis Nicholas.

Namun Ahok tetap saja melanjutkan pembangunan infrastruktur itu, karena kemacetan di Jakarta harus segera diakhiri. Ahok melanjutkan pembangunan itu tanpa keraguan. Menurutnya, ini sikap tidak populis namun harus diambil.

“Dari situlah saya belajar, bahwa laki-laki harus mengambil keputusan paling tidak populer sekalipun, walaupun itu harus mengorbankan hal lainnya,” tulis Nicholas.

View this post on Instagram

Dulu papa @basukibtp pernah cerita, bahwa menanggulangi kemacetan adalah salah satu prioritas kerja dia ketika dia menjawab sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta pada tahun 2012, dan sebagai Gubernur DKI Jakarta ketika dia menggantikan Pak Jokowi sebagai Gubernur di tahun 2014. salah satu yang sering diceritakan beliau di rumah adalah mengenai MRT Jakarta. . Dan yang paling saya ingat adalah ketika masa kampanye 2017 lalu, saya menyampaikan keluhan dari beberapa teman saya bahwa pembangunan MRT, LRT, dan beberapa ruas underpass dan flyover di Jakarta dalam waktu yang relatif dekat menyebabkan kemacetan yang luar biasa, tentu tidak perlu analisa politik untuk mengatakan bahwa itu berpengaruh negatif kepada usaha kampanye Papa. . Tetapi Papa dengan tegas dan tanpa keraguan menyatakan, bahwa ini semua harus dilakukan, apapun dampaknya kepada kampanye dia. Dia hanya ingin pembangunan sarana-sarana transportasi tersebut bisa segera selesai, dia hanya ingin masalah kemacetan di Jakarta bisa segera diselesaikan. Dari situlah saya belajar, bahwa laki-laki harus mengambil keputusan paling tidak populer sekalipun, walaupun itu harus mengorbankan hal lainnya. . Selamat beroperasi MRT Jakarta, semoga benar-benar bisa menjadi moda transportasi yang dibanggakan oleh Jakarta dan Indonesia. semoga semua sarana prasarana bisa dirawat, dan juga mayarakat bisa tertib menggunakannya.

A post shared by Nicholas Sean (@nachoseann) on Mar 24, 2019 at 6:28am PDT

Video yang diunggahnya berisi kegiatan jalan-jalan ke fasilitas Moda Raya Terpadu, istilah versi Bahasa Indonesia dari Mass Rapid Transit (MRT). Dia melihat keramaian di stasiun MRT dan menilai fasilitas ini rapi, bagus, dan ‘civilized’ atau beradab. Dia lantas masuk ke gerbong MRT.

“Selamat beroperasi MRT Jakarta, semoga benar-benar bisa menjadi moda transportasi yang dibanggakan oleh Jakarta dan Indonesia. semoga semua sarana prasarana bisa dirawat, dan juga mayarakat bisa tertib menggunakannya,” tulis Nicholas.

(dnu/eva)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Duduk Perkara Saling Klarifikasi Aa Gym-Rommy Soal Sikap di Pilpres 2019

Jakarta – Pimpinan Pondok Pesantren Da’arut Tauhiid, Abdullah Gymnastiar (Aa Gym), angkat bicara soal sikapnya di Pilpres 2019 yang disinggung oleh Ketum PPP Romahurmuziy (Rommy) hingga akhirnya gantian Rommy yang memberi klarifikasi. Begini duduk perkaranya.

Hal ini berawal dari pernyataan Rommy di media soal sikap Aa Gym di Pilpres 2019. Atas pernyataan itu, Aa Gym lalu membuat video klarifikasi di Youtube Aagym Official pada Minggu (10/3). Dalam video tersebut, Aa Gym mengaku mendapat broadcast dan video berisi pernyataan Rommy yang mengajak Aa Gym untuk netral di Pilpres 2019.

“Dari kemarin saya mendapatkan broadcast tentang pernyataan Pak Romi, dan barusan juga dapat videonya, tapi saya belum tabayyun. Pak Romi dari pimpinan salah satu partai Islam itu mendekati UAS bahwa kalau tidak bergabung, maka bersikap netral, dan sudah pernah mendekati Aa, berbicara dengan Aa Gym supaya bisa netral dalam pemilu, kalau tidak gabung netral lah begitu, dan sekarang katanya Aa Gym sudah berubah di postingan-nya,” kata Aa Gym.

Aa Gym belum tabayyun dengan Rommy soal broadcast itu. Namun, dia menegaskan bahwa pernyataan itu tidak benar karena dia tidak pernah mengeluarkan pernyataan bahwa dirinya netral di Pilpres 2019.

“Saya tidak berkomunikasi selama Pilpres, sama sekali tidak pernah mengeluarkan pernyataan seperti itu, karena itu tidak benar pernyataannya,” ucapnya.

Aa Gym menegaskan dia tidak netral di Pilpres 2019. Dia memiliki pilihan, tetapi memutuskan untuk mengambil sikap khusus di perhelatan ini.

“Saya sebagai warga Indonesia tidak netral, karena saya punya pilihan dalam Pilpres ini, salah satu pasangan capres. Saya punya pilihan. Tetapi sebagai mubaligh melihat kondisi Pilpres seperti saat ini, maka Aa lebih menempatkan diri berusaha mengajak umat Islam khususnya dan masyarakat Indonesia agar bisa menjalankan Pilpres ini lebih damai, lebih sejuk, dan bersih serta adil,” papar Aa Gym.

Setelah video klarifikasi Aa Gym ini beredar, Rommy lalu tabayyun lewat WhatsApp ke Aa Gym. Lewat video dan keterangan di Instagram, Rommy menegaskan tidak pernah menyatakan mengajak Aa Gym untuk netral di Pilpres 2019.

“Saya tidak pernah melakukan pendekatan kepada @aagym dalam rangka pilpres untuk bersikap mendukung salah satu paslon atau netral, maka kalau ada statemen seperti itu tentu itu tidak benar/hoax,” kata Rommy.

Romahurmuziy / Romahurmuziy / Foto: Agung Pambudhy

Dia lalu menjelaskan pernyataan awalnya yang akhirnya bikin heboh dan ditanggapi oleh Aa Gym. Rommy mengaku memang pernah bertemu dengan Aa Gym sekitar 2-3 tahun yang lalu. Namun tidak membicarakan Pilpres 2019. Saat ada wartawan yang bertanya terkait sikap Aa Gym pasca pertemuan tersebut, Rommy mengaku hanya menyampaikan jawaban standar dan normatif.

“Kalau ada hal-hal yang lebih daripada itu, itu sudah diluar statement saya.⠀Semoga ini cukup menjadi sarana #tabayyun agar jangan sampai kita terprovokasi oleh berita yang tidak benar,” ungkapnya.

Aa Gym Dukung Prabowo Apa Jokowi? Simak Videonya:

[Gambas:Video 20detik]

(imk/tor)
<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>