Hasil Jagung Melimpah di Tuban, Mentan: Saya Senang Lihat Para Petani Tersenyum

Liputan6.com, Jakarta Jawa Timur merupakan sentra jagung nasional. Ada tujuh kabupaten mulai gelaran panen raya, seperti di Tuban, Lamongan, Lumajang, Jember, Kediri, Mojokerto, dan Pasuruan. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman ikut hadir dalam panen raya jagung di desa Talun, Kecamatan Montong, Tuban, Jumat (15/2).

Amran tampak sumringah melihat hasil panen jagung melimpah di Tuban. Dengan penuh rasa gembira, Amran pun ikut berdialog langsung dengan para petani. “Saya senang lihat para petani tersenyum dengan hasil panennya. Di sini kami memang untuk melayani, jadi kami datang tidak dengan tangan kosong,” kata Amran. 

Pada Februari ini, Desa Talun, Kecamatan Montong memanen sekitar 10 ribu hektare lahan jagung. Lalu untuk Kabupaten Tuban keseluruhan memanen lebih dari 50 hektare lahan jagung.

Dengan tibanya masa panen jagung ini, Amran berharap para petani dapat mensuplai kebutuhan jagung peternak, baik yang berada di wilayah Tuban, maupun di kabupaten lainnya.

“Kami berharap Bulog dapat membantu menyerap jagung petani saat panen raya seperti ini, sehingga dapat menjadi buffer stock. Kalau mekanisme ini berjalan baik, petani tak akan lagi terjerat tengkulak,” kata Amran.

Amran berharap petani jagung dan peternak ayam mandiri dapat menikmati masa panen raya jagung saat ini melalui mekanisme distribusi dan stok yang baik. Sukses panen jagung ini tak lepas dari kerjasama semua pihak.

Mulai dari mulai stakeholder pertanian tingkat pusat hingga daerah, kelompok-kelompok usaha tani, perbankan dan masyarakat petani. Salah satu yang ikut mendorong sukses panen ini adalah Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementan lewat bantuan alsintannya kepada petani.

Secara terpisah Dirjen Prasarana dan Sarana (PSP) Kementan, Sarwo Eddy mengatakan bahwa sudah menjadi kewajiban pihaknya, untuk membantu petani jagung dalam usaha meningkatkan hasil pertanian mereka.

“Produksi jagung harus ditingkatkan ke depan. Kami akan terus membantu para petani untuk mewujudkan hal tersebut. Saya juga mengharapkan para petani tetap semangat melakukan usaha tani dengan memproduksi pangan lokal, serta mencintai produk dalam negeri,” kata Sarwo Eddy.

Ditambahkan Sarwo Eddy Ditjen PSP sendiri akan melanjutkan program mekanisasi pertanian. Untuk tahun 2019, Kementan akan mengalokasikan alat mesin pertanian (alsintan) sebanyak 40.390 unit

Alsintan tersebut berupa traktor roda dua sebanyak 13.911 unit, traktor roda empat 200 unit, pompa air 19.279 unit, rice transplanter 2.000 unit, cultivator 4.970 unit, dan excavator 30 unit.

Untuk Kabupaten Tuban tahun ini mendapat bantuan pompa 4 dim 15, pompa 6 dim 16, tracktor roda empat sejumlah lima buah, tracktor roda dua ada 19, dan cultivator 5.

Dikonfirmasi terpisah, informasi tentang panen jagung pada Februari-Maret ini, juga sempat diutarakan oleh Ketua Asosiasi Petani Jagung Indonesia (APJI) Sholahuddin. Ia yakin bahwa produksi jagung bulan Februari-Maret bisa mencapai target yang ditetapkan pemerintah. Terlebih panen di tahun ini mencakup lahan yang luas.

Hasil produksi itu juga turut menegaskan bahwa kebutuhan jagung di Jawa Timur akan tercukupi. “Harga jagung di Tuban selama ini tidak pernah di bawah Rp 3.000,” ujar Bupati Tuban Fathul Huda.

Ia menginformasikan bahwa harga jagung saat ini Rp 4.500 per kilogram. Harga ini, kata dia cukup menggembirakan dan menguntungkan bagi petani jagung maupun peternak.

“Petani tersenyum karena harga jagung tidak pernah di bawah Rp 3.000. Kami juga berterima kasih kepada Kementerian Pertanian karena telah banyak membantu,” tambahnya.



(*)

4 Jaksa Teliti Berkas Perkara Ketua Alumni 212 Slamet Ma’arif

Liputan6.com, Solo – Kejaksaan Negeri Surakarta menerima surat pemberitahuan dimulainya penyidikan (SPDP) dengan nomor SPDP/24/II/RES.1.24/2019/Reskrim tanggal 4 Februari 2019 dalam perkara dugaan tindak pidana pemilu Ketua Persaudaraan Alumni 212, Slamet Maarif.

Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejaksaan RI Mukri mengatakan dengan diterimanya SPDP tersebut, Kepala Kejaksaan Negeri Surakarta telah menerbitkan surat perintah penunjukan tim jaksa penuntut umum.

“Tim JPU Kejaksaan Negeri Surakarta yang ditunjuk beranggotakan empat orang jaksa untuk mengikuti perkembangan penyidikan dan meneliti berkas perkara hasil penyidikan perkara yang dimaksud,” ujar Mukri.

Saat ini Kejaksaan Negeri Surakarta masih menunggu pengiriman berkas perkara dari Penyidik Kepolisian Resor Kota Surakarta.

Ada pun Slamet Maarif diduga melanggar Pasal 280 ayat (1) huruf a, huruf b, huruf c, huruf e, huruf f, huruf g, huruf h, huruf i, atau huruf j atau Pasal 276 ayat (2) Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum.

 

2 dari 3 halaman

Sesuai Prosedur

Sebelumnya, Polresta Surakarta menetapkan Slamet sebagai tersangka dalam kasus dugaan pelanggaran Pemilu. Hal itu terkait orasi Slamet dalam acara Tabligh Akbar PA 212 di Solo, Jawa Tengah yang digelar pada 13 Januari 2019.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo menegaskan penetapan Slamet Maarif sebagai tersangka sudah melalui prosedur hukum yang berlaku.

“Semua berproses hukum. Kami menjunjung persamaan kedudukan di mata hukum. Kami juga mengedepankan asas praduga tidak bersalah,” kata Brigjen Dedi.

Polri tidak bekerja sendiri dalam mengusut kasus ini, melainkan bekerja sama dengan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) dan Kejaksaan yang tergabung dalam Sentra Penegakan Hukum Terpadu (Sentra Gakkumdu).

 

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini: 

Di Tuban, Sandiaga Beri Pelatihan Selfie ke Emak-emak

Tuban – Cawapres Sandiaga Uno berkunjung ke sentra industri batik tenun Gedog Tuban, Dusun Kajian, Tuban, Jawa Timur. Sandiaga memberi pelatihan OK OCE kepada emak-emak yang hadir.

Saat di lokasi, langkah Sandiaga sempat tersendat akibat dikerumuni oleh emak-emak yang ingin mengajak selfie. Mantan Wagub DKI Jakarta itu pun mengaku prihatin cara swafoto para emak-emak yang terkadang keliru mengarahkan kamera ponselnya.

“Jadi Ibu-ibu mau nggak saya ajarin Selfie yang baik dan benar? Saya prihatin dan sayang sama emak-emak karena kadang nggak kebagian selfie karena banyak yang salah cara selfienya. Sehingga sering nggak kebagian foto bareng. Jadi mau nggak saya kasih tahu tips selfie?” ucap Sandiaga dalam keterangan tertulis yang dikirim tim BPN Prabowo Subianto-Sandiaga, Kamis (14/2/2019).

“Belajar memegang hape untuk selfie, yang benar adalah (memakai) satu tangan, bukan dua tangan. Biar kuat telunjuk di atas dan kelingking di bawah diapit seperti ini,” katanya memulai tips bagaimana caranya selfie.

Di Tuban, Sandiaga Beri Pelatihan Selfie ke Emak-emakFoto: Dok. BPN Prabowo Subianto-Sandiaga Uno

Sandiaga juga menunjukkan cara yang benar memegang ponsel untuk berselfie yakni dengan keadaan ponsel dalam kondisi lanskap. Sandiaga juga menyarankan emak-emak untuk tidak mengatur setelan waktu pada saat selfie.

“Harus landscape, jangan potrait, karena potrait nggak akan dapet banyak. Timer di-off kan, jangan pasang 10 detik atau satu dua jam nanti giginya keburu kering. Pastikan juga memory cukup,” ujar Sandiaga.

Selama safari politik di Tuban, Sandiaga juga berziarah ke makam Sunan Bonang di Jalan KH Mustain, Kutorejo, Tuban, Jawa Timur. Di lokasi ziarah, Sandiaga diberikan batik oleh pemilik toko batik Sidomakmur, Nunung yang berada di depan pintu masuk.

“Ini batik Gedog, dinamakan Gedog karena dulu bajunya dirajut dengan menggunakan alat pintal. Saat memintal diujung berbunyi dhog-dhog. Tapi sekarang sudah jarang yang memintal bahan, semuanya bahan jadi,” ucap Nunung.

Di Tuban, Sandiaga Beri Pelatihan Selfie ke Emak-emakFoto: Dok. BPN Prabowo Subianto-Sandiaga Uno

Sandiaga melihat wisata ziarah bisa menggerakkan ekonomi masyarakat sekitar. Dia mengatakan UMKM di lokasi ziarah juga bisa menyerap lapangan kerja.

“Di semua tempat ziarah yang saya kunjungi di seluruh Indonesia, geliat ekonomi para pelaku UMKM sangat terasa. Ini memperlihatkan wisata ziarah bisa memberikan dampak positif bagi masyarakat sekitarnya. Menggerakkan ekonomi dan menyerap lapangan kerja. Tinggal kita tingkatkan lagi,” terang Sandi.
(idn/elz)

<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Kisah Pantai Mandala Ria dan Pesanan Perahu Mayjen Soeharto

Liputan6.com, Bulukumba – Pantai Mandala Ria di Desa Ara, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan memang tak setenar Pantai Bira. Padahal bentangan pasir putih dan pusatnya pembuat kapal pinisi di Butta Panritalopi, ada di Desa Ara.

Uniknya lagi karena penamaan Pantai Mandala Ria, erat kaitannya dengan kisah sejarah Soekarno yang membentuk Komando Mandala, dan Mayjen Soeharto sebagai Panglima Komando Operasi Militer.

Tugas komando operasi militer (Opmil) Mandala saat itu merencanakan, mempersiapkan, dan menyelenggarakan operasi untuk menggabungkan Irian Barat yang kini Papua bagian barat masuk dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Budayawan Bulukumba, Muhannis Ara mengatakan, nama pantai Mandala Ria diambil dari kisah pesanan perahu menyerupai sekoci oleh Soeharto.

“Saat Soekarno membentuk Komando Mandala, Soeharto mesan 20 perahu menyerupai sekoci dalam waktu 20 hari di Desa Ara yang dikenal sebagai pusat pembuatan kapal pinisi,” kata Muhannis Ara kepada Liputan6.com, Minggu 10 Februari 2019.

Berkat kegigihan warga kampung Ara bergotong royong, dalam waktu 18 hari semuanya rampung.

“Saya masih kecil melihat proses pesanan perahu Soeharto untuk pembebasan Irian Barat,” kata Muhannis.

Menurut Muhannis, Kecamatan Bonto Bahari, khususnya Desa Ara sejak dulu kala warganya dikenal sebagai pembuat perahu pinisi yang mendunia. Masalahnya hanya akses jalan yang perlu mendapat perhatian serius.

“Pantai Mandala Ria ini sudah 8 tahun dirintis sebagai wisata pantai,” ungkap Muhannis.

Keadaan vegetasi sekitar kawasan taman hutan rakyat (Tahura) Bonto Bahari di Desa Ara terdiri dari semak belukar, kebun jagung dan kacang-kacangan, kebun campur jambu mete, dan tanaman kayu. Sebagian besar tanaman kayu tumbuh kerdil. Karena secara geologis permukaan tanahnya terdiri dari batu karang.

Dengan luas wilayah 13,4 Km2 Desa Ara, ternyata kaya dengan satwa liar seperti Kera hitam, Rusa, dan Ayam hutan. “Bahkan masih ada kucing hutan hingga saat ini,” kata dia.

Seiring pertumbuhan penduduk, kondisi sosial ekonomi dan tata kelola ruang pemukiman warga di Desa Ara yang berkembang pesat sebagai sentra pembuatan kapal perlahan mulai tergerus.

“Sementara potret arsitektur tradisional Desa Ara, rumah penduduknya berbahan baku utuh dari kayu dan berorientasi menghadap ke laut. Kondisinya kini perlahan tergerus konsep pembangunan rumah batu yang menghadap ke jalan,” kata Muhannis.

Dia menambahkan, maraknya limbah plastik di pesisir pantai Mandala Ria. “Sampah plastik yang berserakan di bibir pantai itu kiriman dari Teluk Bone yang berhadapan langsung dengan Teluk Bone,” ujar dia.

Saksikan video pilihan berikut ini:

Hiu-hiu Anakan Dijual di Muara Angke, Bagaimana Nasibnya di Lautan?

Jakarta – Terlihat hiu-hiu berukuran kecil dijajakan di sudut Pasar Muara Angke. Sementara, populasi hiu di lautan Indonesia sedang memasuki tahap kritis.

Terlihat di sudut Pasar Ikan Muara Angke, Jakarta Utara, Selasa (12/2/2019) sore, hiu-hiu kecil ada di baskom pedagang. Ada yang bercampur dengan jenis ikan lainnya, ada pula belasan ekor yang berkumpul bersama hiu-hiu kecil lain.

Predator lautan itu berwarna abu-abu, sirip masih menempel di tubuhnya. Paling besar, ukurannya sepanjang lengan bawah orang dewasa. “Rp 30 ribu sekilo,” kata pedagang yang menjaga hiu-hiu kecil ini.

“Itu baby shark,” kata Bycatch & Shark Conservation Coordinator WWF Indonesia, Dwi Ariyoga Gautama, dengan prihatin.
Yoga mengidentifikasi hiu itu sebagai Carcharhinus melanopterus, dikenal sebagai Blacktip Reef Shark, biasa hidup di perairan karang. “Saya khawatirnya malah didapat dari daerah karang terdekat seperti Kepulauan Seribu,” ujarnya.

Hiu-hiu Anakan Dijual di Muara Angke, Bagaimana Nasibnya di Lautan?Hiu di Pasar Muara Angke, Jakarta (Adhi Indra Prasetya/detikcom)

Uni Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN) memberi status hiu jenis itu “Near Threatened” atau terancam punah dalam waktu dekat. Ancaman datang dari aktivitas perikanan. Populasi hiu Carcharhinus melanopterus mengalami penurunan.

Namun demikian, para nelayan dan pengrajin juga tidak salah karena Carcharhinus melanopterus bukan termasuk hiu yang dilindungi di Indonesia. Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) hingga 22 Mei 2018 menyatakan belum memiliki status perlindungan. Hiu jenis ini masih terus tertangkap dan dijual di pasar.

Pengolah Hiu di Jakarta

Di sentra pengolahan ikan asin Kalibaru Barat, Cilincing, Jakarta Utara, hiu dijadikan ikan asin. Rabu (6/2/2019) sekitar pukul 15.00 WIB, sebuah mobil pick-up tiba dan mulai membongkar muatan ikan-ikan berukuran besar. Para pekerja dari dalam gang pun mulai berdatangan, mencoba merapikan dan memindahkan ikan-ikan yang baru saja datang tersebut ke dalam gang.

Terdapat beberapa potongan ikan hiu. Ukurannya yang besar membuat ikan jenis tersebut ditaruh di tumpukan paling bawah di mobil tersebut. detikcom pun memastikan apakah ikan tersebut merupakan ikan hiu dengan bertanya pada salah satu pekerja yang sedang duduk. “Itu ikan hiu dan talang-talang,” ujar pekerja tersebut.

Hiu-hiu Anakan Dijual di Muara Angke, Bagaimana Nasibnya di Lautan?Hiu di Kalibaru Jakarta (Adhi Indra Prasetya/detikcom)

Sodikin (40), pemilik usaha pengolahan ikan asin, mempunyai spesialisasi mengolah ikan-ikan besar, ikan hiu hanyalah salah satunya. “Saya waktu mulai belajar ikan hiu itu dari harga Rp 3 ribu per kg dulu, sampai sekarang harganya sudah Rp 20-30 ribu lebih per kg. Jenisnya beda-beda, yang namanya ikan hiu kan banyak. Ada berapa macam itu, mulai dari hiu martil, hiu gepeng, hiu moro, hiu super, hiu kikir, hiu gelembung, semua beda-beda jenis,” kata dia.
Dia membeli hiu dalam kondisi sudah mati dengan isi perut yang sudah tidak ada. Hasil olahan hiu yang sudah diasinkan itu dijualnya lagi ke pengepul seharga Rp 30-35 ribu per kg. Dia tidak tahu hasil olahannya itu dipasarkan di dalam negeri atau diekspor ke negara lain. Dia paham ada beberapa jenis hiu yang dilarang untuk ditangkap dan diekspor. Namun akan menjadi sulit diidentifikasi jenis hiu apa gerangan yang mendarat di pelabuhan bila kepalanya sudah hilang.

“Sejak ada larangan, peraturan-peraturan, orang Dinas bilang, ‘Ini ikan hiu yang berbentuk seperti ini nggak boleh ditangkap, karena hampir punah.’ Nanti ada lagi perubahan, boleh ditangkep tapi nggak boleh buat ekspor. Kan bingung. Nelayannya bingung, pengolahnya juga. Nanti misalnya mau beli ikan hiu, saya kan belinya dalam keadaan udah nggak ada kepala, nggak tahu ini ikan hiu yang dilarang atau bukan,” tutur Sodikin.

Hiu-hiu Anakan Dijual di Muara Angke, Bagaimana Nasibnya di Lautan?Hiu di Kalibaru Jakarta (Adhi Indra Prasetya/detikcom)

Di pojokan Gang Musala At-Taubah, ada Herman (40) yang juga merupakan pemilik usaha pengolahan ikan. Sama seperti Sodikin, dia hanya menerima ikan-ikan yang mendarat, yakni di Muara Baru, dan setelah itu dia kerjakan dengan mengolah tangkapan itu menjadi ikan asin.

Herman merasa saat ini harga hiu tangkapan sedang kelewat tinggi, yakni Rp 27 ribu per kg. Maka dia tak kuat bila beli banyak-banyak. Biasanya, yang beli adalah pengecer yang langsung menjual ikan basah di pasar. Namun biasanya dia bisa mendapat harga lebih miring, yakni Rp 22 ribu per kg.

“Nunggu kalau ada orang pesan lagi, baru belanja lagi. Intinya gini, kalau ada permintaan ya saya beli lagi,” kata Herman.

Nasib Hiu di Lautan

Hiu adalah predator teratas di laut, punya peran menjaga keseimbangan ekosistem di laut. Yoga dari WWF Indonesia menjelaskan, populasi hiu di Indonesia mengalami penurunan. Dia menyitir keterangan dari IUCN, 30% dari 114 spesies sudah terancam kepunahan. Produksi hiu nasional dari tahun 2000 hingga 2014 cenderung mengalami penurunan sebesar 28,30%.

Hiu sering diburu siripnya dan dibiarkan mati tanpa bisa berenang karena kehilangan sirip. Daging hiu juga diperdagangkan. Perburuan hiu juga didorong permintaan ekspor. Hiu sering menjadi tangkapan sampingan (bycatch), atau secara tidak sengaja terangkut jaring nelayan. Hal-hal seperti itu membuat populasi hiu berkurang, di sisi lain hiu termasuk lambat bereproduksi.

WHO menyebut Indonesia sebagai produsen produk hiu terbesar di dunia dan menjadi negara nomor tiga di dunia dalam hal besarnya nilai produk hiu yang dikirim ke China dan Hong Kong pada 2012. WWF Indonesia menghimpun data dari Kementerian Kelautan dan Perikanan, Indonesia menjadi negara produsen hiu terbesar di dunia dengan kontribusi sebesar 16,8 persen dari total tangkapan dunia.

Hiu-hiu Anakan Dijual di Muara Angke, Bagaimana Nasibnya di Lautan?Suasana di Kalibaru, Jakarta (Beawiharta/Reuters)

Soal perlindungan terhadap hiu, Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut KKP menjelaskan hanya satu jenis hiu yang sudah berstatus dilindungi penuh, yaitu hiu paus (Rhyncodon typus). Empat jenis hiu lainnya, yaitu hiu koboi (Carcharhinus longimanus) dan tiga jenis hiu martil (Spyhrna lewini, Sphyrna zygaena, dan Sphyrna mokarran) termasuk yang dilarang ekspor melalui Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 5 Tahun 2018. Ada pula delapan jenis hiu yang masuk CITES (Konvensi Perdagangan Internasional Tumbuhan dan Satwa Liar Spesies Terancam), yang artinya pemanfaatan untuk perdagangan luar negerinya diperbolehkan, namun dengan aturan ketat.

“Penetapan status perlindungan ikan hiu tentunya harus dilakukan secara bijaksana dan berdasarkan prinsip kehati-hatian, karena menyangkut sosial dan ekonomi sebagian masyarakat, khususnya masyarakat nelayan yang menjadikan ikan hiu sebagai tangkapan utama (Tanjung Luar-NTB) dan konsumsi lokal (Aceh, Toraja) karena murah dagingnya. Kehati-hatian itu berarti kekayaan alam Indonesia seperti ikan hiu dan pari boleh kita manfaatkan secara optimal untuk kesejahtraan masyarakatnya, namun dengan tetap menjaga kelestariannya sehingga ikan hiu itu dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan,” demikian keterangan pers dari Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut KKP sebagaimana tertera di situs resminya.

Bycatch & Shark Conservation Coordinator WWF Indonesia, Dwi Ariyoga Gautama, berharap agar pemerintah memperluas cakupan jenis-jenis hiu yang perlu diatur supaya tidak punah. “Kami menyarankan agar pemerintah mengatur jenis-jenis hiu yang terancam puna, ini urgen dalam mengatur lebih banyak hiu yang masuk kategori terancam punah,” kata dia.

(dnu/dnu)

<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Jalan Keseimbangan Alam dan Budaya ala Muhannis Ara

Liputan6.com, Bulukumba – Sejak zaman dulu Desa Ara, Kecamatan Bonto Bahari, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan dikenal sebagai sentra aktivitas pembuatan perahu pinisi yang mendunia. Di Kampung Butta Panritalopi, julukan Desa Ara yang luasnya hanya 13,4 kilometer persegi ini terdapat sosok Muhannis Ara.

Setelah Sulawesi Selatan kehilangan sosok Muhammad Salim, penerjemah sekaligus penafsir Sureq Galigo, Muhannis Ara disebut-sebut sebagai satu-satunya penulis dan pencinta naskah kuno dan pelestari bahasa daerah suku Bugis Makassar. Apalagi Ara telah melahirkan karya novel berjudul Karruq Ri Bantilang Pinisi atau Tangisan di Gubuk Pinisi yang delapan tahun silam sempat menarik perhatian para pencinta sastra Indonesia.

Saat ditemui Liputan6.com, Muhannis Ara mengatakan, keseimbangan alam, bahasa, sastra dan kebudayaan lokal daerah wajib jadi perhatian pemimpin bangsa dan masyarakat luas secara umum di era teknologi dan informasi yang begitu pesat. Baginya, aset kekayaan Nusantara perlu dilestarikan. 

“Untuk selamatkan aset kultural bangsa dengan bentang kekayaan alam nusantara kita ini dibutuhkan pelestari,” kata Muhannis Ara.

Menurut Muhannis, bukan hanya bentang alam seperti gunung, hutan, sungai, laut dan pantai yang dapat rusak dan kondisinya kritis. Jika tidak dilestarikan dengan baik. Tapi bahasa daerah di nusantara juga bisa terancam punah. Termasuk bahasa daerah Bugis Makassar akibat pengaruh perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang begitu pesat.

“Terancam dilupakannya budaya bahasa daerah atau etnis karena dipengaruhi oleh bahasa Melayu atau bahasa Indonesia. Kalau pun ada yang menggunakan itu tidak asli lagi karena sudah bercampur dan dipengaruhi oleh bahasa lainnya. Dan hal itu sama dengan pembuatan kapal pinisi yang sebagian perkakasnya sudah menggunakan mesin,” kata Muhannis.

Kekhawatiran Muhannis yang juga budayawan Bugis Makassar sangat beralasan dengan kondisi saat ini. Karena bukan hanya menyangkut bahasa dan aksara saja. Namun di balik semua itu terdapat banyaknya kearifan lokal yang terkandung dalam bahasa dan aksara punya nilai peradaban indah dan menakjubkan. Termasuk narasi melestarikan alam.

Muhannis Ara yang juga Ketua Ikatan Guru Bahasa Jerman Indonesia (IGBJI) Cabang Bawakaraeng Sulawesi Selatan ini mengaku masih tetap menulis puisi dalam bahasa daerah dan bahasa Jerman. Termasuk menulis lirik lagu dalam bahasa konjo seperti “Maliang Ri Ara”.

“Terakhir saya ke Jerman tahun 2011 ikuti seminar kebahasaan dan metodik serta Landeskunde di Universitas Gottingen. Dan sebelumnya saya memang pernah dapat Stipendium atau beasiswa dari Pemerintah Republik Federal Jerman untuk ikut Deutsefortbildungskurs di Goethe Institut Munchen Jerman,” jelas instruktur Bahasa Jerman Goethe Institut Jakarta ini.

Sejumlah prestasi Muhannis Ara oleh ketekunannya dalam menulis dan mendalami kehidupan tradisional, sudah tak terbilang lagi. Ia pernah dianugerahi Celebes Award bidang kebudayaan dari Gubernur Sulawesi Selatan tahun 2005.


Simak juga video pilihan berikut ini:

Wanita Tukang Pijat di Mojokerto Diculik 2 Pria Lalu Dipukuli

Mojokerto

Tukang pijat bernama Suprapti (42) diculik 2 pria tak dikenal di Jalan Empunala, Kota Mojokerto. Wanita asal Magersari ini sempat dipukuli pelaku di areal persawahan.

Aksi kekerasan ini terjadi di Lingkungan Keboan, Kelurahan Gunung Gedangan, Kecamatan Magersari. Lokasinya di areal persawahan sebelah barat pabrik pengolahan plastik.

Satpam pabrik, Bagus Widodo mengatakan, sekitar pukul 19.00 WIB, dirinya diberitahu warga soal teriakan orang meminta pertolongan dari areal persawahan, di dekat tempatnya bekerja. Bersama dua warga Lingkungan Keboan, Bagus mendatangi lokasi asal suara tersebut.

“Warga sini sedang nongkrong di tepi sawah mendengar teriakan minta tolong, datangnya dari sebelah barat pabrik. Karena kelihatan ada lampu sein sepeda motor yang nyala dari arah suara itu,” kata Bagus kepada detikcom di lokasi kejadian, Selasa (12/2/2019).

Benar saja, di areal persawahan, dia menemukan Suprapti dalam kondisi tak berdaya. Kepala bagian belakang tukang pijat keliling ini mengalami pendarahan. Mata sebelah kanan korban lebam. Korban mengaku dipukuli dua pria tak dikenal yang telah menculiknya.

“Celana korban sudah dilepas sama pelakunya, ada bercak darah di sekitar pahanya, nampaknya diperkosa,” ungkap Bagus.

Namun, pelaku lebih dulu kabur saat warga mendatangi korban. Menurut Bagus, pelaku adalah 2 pria mengendarai sepeda motor warna hitam.

“Pelaku kabur ke arah Mojoanyar (Kabupaten Mojokerto), nopol sepedanya kami tak sempat melihatnya karena laju sepeda motornya kencang,” ujarnya.

Kejadian dilaporkan warga ke Ketua RT di lingkungan Keboan. Laporan tersebut diteruskan ke Polres Mojokerto Kota.

Polisi dari unsur Unit Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT), Tim Indentifikasi hingga Unit Resmob Satreskrim Polres Mojokerto Kota datang ke lokasi untuk olah tempat kejadian perkara (TKP) dan memintai keterangan sejumlah saksi.

Di lokasi, petugas menemukan sebuah helm berwarna hitam milik pelaku. Sementara korban dibawa petugas ke RS Hasanah di Jalan HOS Cokroaminoto, Kota Mojokerto untuk divisum dan diobati lukanya.

Kakak kandung korban Priyanto menuturkan, Suprapti diculik 2 pria tak dikenal dalam perjalanan pulang usai memijat pelanggannya di kawasan Pasar Tanjung Anyar, Jalan Residen Pamudji, Kota Mojokerto. Saat itu korban berjalan kaki seorang diri.

Menurut dia, Suprapti selalu membawa uang dalam jumlah besar dari upah memijat. Uang itu selalu disimpan korban di balik bajunya.

“Sampai di depan pasar burung Jalan Empunala, adik saya diculik dua pria tersebut, dia dibonceng paksa oleh pelaku,” terang Priyanto di IGD RS Hasanah.

Kanit SPKT Polres Mojokerto Kota Aiptu Eko Purwanto menjelaskan, hasil visum di rumah sakit menunjukkan korban mengalami luka di kepala belakang dan mata sebelah kanan akibat dipukuli pelaku penculikan.

“Visum untuk dugaan pemerkosaan kami lakukan besok karena ini tadi dokternya sedang tidak ada” jelasnya.

Dari keterangan sementara, korban mengaku tidak mengenal dengan 2 pria yang membawanya. Uang yang dibawa masih utuh.

“Pengakuan korban dibonceng paksa oleh dua pria tak dikenal. Motifnya masih kami dalami,” ujarnya.


(fdn/fdn) <!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

JK Soal Slamet Ma’arif Tersangka: Bedakan Kriminalisasi dengan Masalah Hukum

Jakarta – Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) meminta penetapan tersangka Ketum PA 212 Slamet Ma’arif dibedakan dengan kriminalisasi. Jika harus disebut kriminalisasi, maka masalah hukum yang menjerat Slamet perlu dikaji dengan baik.

“Tentu Kita harus bedakan kriminalisasi dengan masalah hukum. Kalau ya memang, ya perlu dikaji dengan baiklah,” kata JK di Kantor Wapres, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Selasa (12/2/2019).

JK mengatakan setiap pelanggar hukum memang harus ditindak dengan penegakan hukum. JK pun mengingatkan penegak hukum agar adil dalam menegakkan hukum kepada siapa saja.
“Hukum memang harus diterapkan, tetapi harus adil pada penerapannya,” ujarnya.

Sementara itu, Polri sedianya melakukan pemeriksaan terhadap Slamet pada Rabu (13/2). Namun pemeriksaan itu diundur menjadi Senin (18/2).

“Info terakhir yang kami dapat pemeriksaan pada hari Rabu nanti minta dilakukan pada Senin. Hari Senin nanti akan dimintai keterangan di Polda Jateng,” ujar Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karo Penmas) Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo di PTIK, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa (12/2).

Pemintaan pengunduran jadwal pemeriksaan, menurut Dedi, diajukan pihak pengacara Slamet Ma’arif. Menurut Dedi, pemeriksaan juga akan berkoordinasi dengan Sentra Gakkumdu.

“Proses pemeriksaan akan diverifikasi kembali sesuai dengan fakta diajukan oleh Bawaslu menyangkut masalah dan bentuk pelanggaran pemilu dilakukan,” ujar Dedi.

Slamet Ma’arif mengatakan penetapan dirinya sebagai tersangka memilukan dan memalukan hukum. Slamet menyebut dirinya kini khawatir rakyat akan kehilangan kepercayaan kepada penyelenggara pemilu dan penegak hukum.

“Memilukan dan memalukan hukum di Indonesia, ketidakadilan hukum terpampang jelas dan gamblang di negeri ini,” kata Slamet.

Polri menepis penilaian Slamet, dengan menegaskan semua warga negara sama di mata hukum. “Kami menjunjung persamaan, sama di mata hukum. Kami juga mengedepankan asas praduga tak bersalah. Warga negara berhak menyampaikan keberatan-keberatannya. Silakan saja (keberatan), asal tetap pada koridor hukum,” kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karo Penmas) Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo.
(nvl/gbr)

<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Fakta di Balik Aksi Kejam Penyeret Kucing Pakai Motor di Pekalongan

Pekalongan – Aksi seorang pembonceng motor, ML (29) yang menyeret kucing di Pekalongan banjir kecaman. Beberapa jam setelah video aksi kejam itu beredar di media sosial, polisi mengungkap identitas pelaku.

Melalui nomor polisi yang terekam video, diketahui pria yang membonceng motor berinisial ML. Video direkamn oleh seorang mahasiswi, Diefie Hafiez Maufalia (21). Diefie merekam karena marah melihat kejadian itu. Keinginannya untuk menegur pelaku diurungkan karena takut terjadi perselisihan, lalu dialihkan dengan membuat rekaman.

“Kucingnya diseret pakai motor. Saya melihat saat di jalan Desa Babel, Kecamatan Wonokerto menuju arah pantai (Wonokerto) pukul 11.30 WIB (Minggu 10/2),” kata dia.

Diefie tidak bisa memastikan apakah kucing yang ditarik pakai tali tersebut sudah mati apa belum. Diefie hanya melihat tali yang melilit leher kucing ditarik pembonceng motor.

“Pemboncengnya yang menarik kucing,” jelasnya.

Polisi mendatangi ML di rumahnya pada Minggu (10/2) malam. Saat dimintai keterangannya, pengakuan ML berbelit-belit. Sedangkan keluarga mengatakan bahwa ML mengalami gangguan jiwa sejak usianya 22 tahun.

Polisi kemudian mengamankan ML dan membawanya ke RS Djunaid untuk mendapat pemeriksaan medis.

Menurut pengakuan kakak ML kepada polisi, anak bungsu dari lima bersaudara tersebut mulai mengalami gangguan jiwa usai belajar ilmu kebatinan tujuh tahun lalu.

“Terakhir berobat menurut pihak pihak keluarga pada Bulan November lalu di dokter Gito, sebelum ia berangkat kerja di kapal sebagai ABK,” kata Kapolsek Wiradesa, AKP Yorisa Prabowo saat ditemui detikcom di kantornya, Senin (11/2).

Bahkan, lanjut Yorisa, saat bekerja di kapal ML sempat diturunkan di Sumatera pada tanggal 23 Januari 2019 lalu, karena penyakit gangguan jiwanya kambuh.

“Jadi karena sakitnya kambuh, oleh nahkoda diturunkan di Sumatera dan dijemput oleh Fadholi (kakak kandung),” kata Yorisa.

Usai kejadian, ML sempat mengaku kepada keluarga bahwa dirinya memukul dan menyeret kucing.

“Katanya mendapatkan bisikan ghaib untuk memukul kucing hingga tidak berdaya kemudian menyeretnya pakai tali,” tambah Yorisa Prabowo.

Kapan dan di mana aksi itu dilakukan ML, polisi belum berhasil mengorek keterangan lebih jauh.

“Sampai saat ini (Senin petang) masih dalam pengaruh obat penenang, setelah sebelumnya dimintai keterangan berbelit-belit,” tambahnya.

Sehingga polisi masih belum bisa mengumpulkan keterangan dari ML maupun mengungkap seorang pelaku lain yang berperan sebagai pengendara motor.

“Kita belum menemukan titik terangnya, dari mana pelaku ini menemukan kucing dan dibawa ke mana kucingnya serta satu pelaku lagi siapa,” beber Yorisa Prabowo.

Pihaknya sendiri kini menunggu kondisi kejiwaan ML tenang untuk kembali dimintai keterangan.

Sementara itu, bila terukti bersalah kedua pelaku ini akan dijerat dengan pasal 302 KUHP tentang penganiayaan binatang dengan ancaman hukuman 9 bulan penjara.

Animal Defender Indonesia secara resmi melaporkan kasus penyiksaan seekor kucing oleh pembonceng motor yang terjadi kepada polisi di Kabupaten Pekalongan. Anggota Animal Defender Indonesia dari seperti Yogyakarta, Jakarta dan Pekalongan melapor ke Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polres Pekalongan.

Sekitar 12 pecinta satwa ini melaporkan dua pelaku yang menyeret seekor kucing menggunakan sepeda motor di jalanan. Mereka membawa bukti penyebaran video yang viral di media sosial.

“Hari ini, kita pelaporan ke polisi, dan yang paling menggembirakan adalah polisi sudah bertindak dari semalam,” kata Ketua Animal Defender Indonesia, Doni Hendaru, saat ditemui usai melakukan pelaporan ke SPKT Polres Pekalongan, Senin (11/2) sore.

Ia berharap laporannya ditindaklanjuti agar penegakan hukum tentang hewan bisa menjadi satu keputusan hukum tetap.

“Hal ini agar bisa menjadi tolok ukur kawan-kawan di mana saja di wilayah hukum Republik Indonensia terkait adanya penganiayaan hewan,” katanya.

Diwawancara terpisah, Kareskrim Polres Pekalongan, AKP Agung Ariyanto mengatakan laporan ini akan ditindaklanjuti.

“Ini akan kita tindaklanjuti. Karena (salah seorang pelaku) diduga mengalami gangguan jiwa masih dilakukan pemeriksaan kejiwaanya,” kata Agung.
(sip/sip)

<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

TKN soal Slamet Ma’arif Tersangka: Jangan Selalu Merasa Benar

TKN soal Slamet Maarif Tersangka: Jangan Selalu Merasa Benar Foto: Abdul Kadir Karding. (Ari Saputra/detikcom).

Jakarta – Ketum Persaudaraan Alumni (PA) 212 Slamet Ma’arif merasa diperlakukan tidak adil menyusul penetapan tersangkanya dalam kasus pidana pemilu. Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma’ruf Amin meminta Slamet dan kubu Prabowo Subianto-Sandiaga Uno yang membelanya untuk fair.

“Di era politik ini, apapun yang terjadi, yang merugikan BPN Prabowo-Sandiaga pasti tuduhannya ke pemerintah, itu tidak fair,” ungkap Wakil Ketua TKN Jokowi-Ma’ruf, Abdul Kadir Karding kepada wartawan, Senin (11/2/2019).

Karding menegaskan, penetapan Slamet Ma’arif sebagai tersangka bukan asal-asalan. Masalah pidana dalam pemilu pun juga sudah diatur dalam UU Pemilu dan ditagani oleh Sentra Gakkumdu (penegakan hukum terpadu).


“Itu kewenangan di Gakkumdu, ada Jaksa, Polisi dan Bawaslu. Kalau kemudian dia tersangka itu artinya ada bukti hukum yang nyata yang dapat dipertanggungjawabkan oleh penyidik , apalagi sekarang ini seluruh proses-proses itu terbuka, apalagi kalau dia tokoh publik,” kata Karding.

Menurutnya, Gakkumdu pun tak akan aneh-aneh dalam penanganan kasus pemilu. Sebab hal tersebut bisa menjadi masalah dan menyerang balik penegak hukum.

“Kita fair aja, pengadilan terbuka kok, boleh didampingi pengacara, boleh di-medsoskan. Akan dapat dibuktikan di pengadilan. Pasti mereka punya bukti yang cukup. Tidak semua apa-apa ujungnya ke pemerintah, nggak bisa. Kita menganut sistem persamaan di mata hukum dan hukum yang tidak bisa diintervensi. Pengadilan memiliki independensi yang tinggi terhadap satu kasus,” tutur anggota Komisi III DPR itu.

Karding pun menyebut tim sukses dan pendukung Prabowo-Sandiaga selalu menuduh pemerintahan Presiden Joko Widodo bila ada pihaknya yang terkena masalah. Itu menurutnya justru sikap yang tidak adil.

“Masalahnya segala sesuatu yang terjadi terhadap gengnya BPN Prabowo ini, kelompok BPN, apa-apa kalau yang salah itu tuduhannya, framingnya adalah kriminalisasi, framingnya adalah pekerjaan pemerintah, dalangnya pemerintah, saya kira itu juga tidak fair,” sebut Karding.

Politikus PKB ini mengimbau Badan Pemenagan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga dan para simpatisan pasangan nomor urut 02 itu, termasuk Slamet Ma’arif untuk bijaksana dalam bersikap. Bila tidak ingin terkena kasus, kata Karding, mereka diminta untuk menjaga sikap dan tutur katanya.

“Kalau tidak ingin kena masalah, jangan berbuat salah. Kita harus proporsional. Jangan mau selalu merasa benar bisa omong apa saja tidak tersentuh hukum, setelah dihukum nyalahkan Jokowi,” katanya.

Seperti diketahui, Slamet Ma’arif menjadi tersangka terkait dugaan pelanggaran pemilu dalam acara tablig akbar PA 212 Solo Raya pada 13 Januari 2019. Kubu Prabowo-Sandiaga membela Slamet habis-habisan.

Slamet Ma’aruf sendiri menyatakan tidak adil terhadap penetapan status tersangkanya. Polisi memastikan sudah melakukan prosedur yang semestinya. Slamet ditetapkan sebagai tersangka karena polisi sudah punya bukti kuat terkait kasus tersebut.

“Memilukan dan memalukan hukum di Indonesia, ketidakadilan hukum terpampang jelas dan gamblang di negeri ini,” kata Slamet kepada wartawan, Senin (11/2).

Ikuti perkembangan Pemilu 2019 hanya di sini.
(elz/tor)

<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>