Sebuah Simfoni Persahabatan Indonesia – Selandia Baru

Wellington

Hujan yang nyaris tanpa henti di sepanjang hari ini, disertai angin yang cukup kuat mencubit kulit, tidak menyurutkan keinginan lebih dari seribuan orang untuk mendatangi The Opera House di pusat kota Wellington, Selandia Baru.

Di tempat ini, Jumat (9/11) malam waktu setempat, sebuah pertunjukan musik telah disiapkan oleh Kedutaan Besar RI untuk Selandia Baru, dalam sebuah misi diplomatik berbalut kebudayaan.

Sebuah konser orkestra bertajuk The Symphony of Friendship dipilih sebagai penutup dari rangkaian perayaan hubungan bilateral Indonesia dan Selandia Baru, yang tahun ini berusia enam dekade. Dalam hubungan selama itu, selayaknya ada ikatan yang tak biasa, terlebih karena terdapat banyak kesamaan di antara keduanya.

Secara geografis, sebagian wilayah (timur) Indonesia terletak di kawasan Pasifik, seperti halnya Selandia Baru. Dua ras besar di Pasifik, yakni polinesia dan melanesia, terwakili oleh Papua, Nusa Tenggara Timur, dan Maluku. Hanya saja, Indonesia selama ini lebih dikenal sebagai bagian dari Asia, ketimbang juga negara Pasifik. Padahal menurut data, dari 18 juta populasi penduduk negara-negara di Pasifik, lebih dari 60%-nya ada di tiga pulau di Indonesia tersebut.

Pun demikian dalam hal budaya, banyak benang merah di antara negara-negara Pasifik dengan kawasan timur Indonesia, salah satunya musik. Itulah yang ingin ditampilkan dalam The Symphony of Friendship: kolaborasi musik Indonesia dan Selandia Baru — two heart, one harmony (dua jiwa, satu harmoni),

Sebuah Simfoni Persahabatan Indonesia - Selandia BaruFoto: a2s

Sebanyak 70 musisi dari Wellington Orchestra, salah satu orkestra paling ternama di Selandia Baru, dikerahkan untuk konser malam ini. Mereka tampil di bawah kendali legenda hidup musik Indonesia, Erwin Gutawa, yang bertindak sebagai arranger sekaligus konduktor.

Pukul 19.30 waktu setempat layar panggung opera diangkat. Pertunjukan dimulai dengan melantunkan lagu kebangsaan kedua negara, dengan menampilkan 50 anak-anak yang tergabung dalam Wellington Young Voices. Mereka lebih dulu menyanyikan “God Defend New Zealand”, sebelum melanjutkan menyanyikan “Indonesia Raya” — yang tentu saja diikuti serentak oleh hadirin yang sebagian besar penonton Indonesia –mulai dari warga negara maupun pelajar yang tinggal di Selandia Baru, sampai undangan dari tanah air termasuk sejumlah anggota DPR dan selebritas.

Ketua DPR RI Bambang Soesatyo naik ke pentas untuk memberikan sambutan. “Dari Jakarta ke Selandia Baru, Transit di Sydney membeli sepatu. Ayo perkuat hubungan dengan Selandia Baru, agar rumpun pasifik semakin menyatu,” demikian ia berpantun di pengujung sambutannya. Koleganya, ketua parlemen Selandia Baru, Hon Trevor Mallard, juga memberikan sambutan — tanpa puisi.

Sebuah Simfoni Persahabatan Indonesia - Selandia BaruFoto: a2s

Konser dibuka dengan suguhan etnik Maori (suku asli Selandia Baru), yang berjudul Haere Mei. Dengan iringan gitar, lagu dan gerak dari empat wanita dan tiga pria ini serasa menyalurkan energi penyambutan yang melunakkan hati.

Penampil pertama dari Indonesia adalah penyanyi Papua, Edo Kondologit, yang membawakan lagu asal kelahirannya, Pangkur Sagu. Edo selalu menjadi pilihan terbaik untuk lagu-lagu Papua berwarna ceria, karena ia akan selalu berhasil membawa penonton untuk ikut berdansa.

Setelah itu Gita Gutawa naik ke panggung dan berduet dengan Maisey Rika, salah satu penyanyi Maori paling terpandang di Selandia Baru. Dengan iringan orkestra yang syahdu, mereka memanjatkan lirik-lirik dari salah satu lagu terbaik yang pernah diciptakan: What a Wonderful World, seakan-akan menyampaikan pesan, bahwa simfoni persahabatan (kedua negara) ini sangatlah indah.

Selain ketiga penyanyi di atas, artis Indonesia lain yang tampil adalah Andmesh Kamaleng. Ia membawakan secara medley lagu khas dari kampung halamannya di NTT yakni, Balebo dan Gemufamire. Kembali, penonton diajak bergoyang untuk lagu yang riang gembira dan etnik ini.

Setelah itu Maisey Rika menyihir audiens dengan lagu yang sangat memikat berjudul “Tangaroa Whakamautai”. Sangat khas pasifik, mengalun bak gelombang laut yang tenang, sempurna oleh aransemen orkestra penuh.

Dari 13 lagu yang disajikan, yang paling “surprise” adalah ketika lagu ciptaan (almarhum) A. Riyanto berjudul “Mimpi Sedih” dihadirkan ke atas panggung – dan dibawakan dalam dua bahasa! Di sini Andmesh berduet dengan penyanyi Maori top lainnya, Tama Waipara.

Tahukah Anda, Mimpi Sedih adalah lagu Indonesia paling terkenal di Pasifik, karena telah diterjemahkan ke berbagai bahasa di kawasan ini. Lagu ini sampai didengarkan oleh penyanyi legendaris Selandia Baru, Prince Tui Teka, dan melodinya dimasukkan ke dalam lagu populer suku Maori, E lpo. Inspirasi dan kolaborasi yang menggetarkan hati.

Konser berakhir setelah berlangsung sekitar 90 menit, termasuk mengulang lagu Rame-Rame yang sebelumnya dibawakan Edo, karena penonton meneriakkan “We want more, we want more”. Mereka tampak menikmati betul pertunjukan ini, mengikuti tanpa jeda, dan seperti merasakan langsung sebuah simfoni persahabatan.

“Alhamdulillah, saya puas sekali. Misi yang ingin kita capai melalui konser ini tercapai. Bahwa melalui lagu-lagu yang dimainkan, masyarakat Selandia Baru, masyarakat Pasifik yang hadir, menerima dan mengakui bahwa Indonesia bagian dari Pasifik, penduduk Indonesia adalah bagian dari melanesia dan polinesia,” ungkap sang penggagas acara yang juga Dubes RI untuk Selandia Baru,TantowiYahya.

Sebuah Simfoni Persahabatan Indonesia - Selandia BaruFoto: a2s


(a2s/van)

<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *