Kawanan Gajah Masih Betah di Kebun Warga

Liputan6.com, Pekanbaru- Belasan Gajah Sumatera sepertinya masih betah mengitari sejumlah kebun warga di Desa Maharani, Kecamatan Rumbai, Kota Pekanbaru. Sejauh ini belum ada tanda-tanda satwa berbelalai dan bongsor itu meninggalkan lokasi sejak datang beberapa hari lalu.

Pemilik lahan kelapa hybrida, kelapa sawit, pisang serta tanaman lainnya belum berani menjenguk kebunnya. Mereka hanya pasrah tanaman mereka dicabut lalu dimakan oleh satwa bernama latin Elephas Maximus Sumatrensis ini.

Beberapa personel dari Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau dan pawang dari Pusat Latihan Gajah (PLG) Minas sudah di lokasi memantau pergerakan kawanan gajah dimaksud. Kewaspadaan tinggi menjadi syarat penanganan karena sewaktu-waktu gajah bisa menyerang.

“Sudah dari malam sampai pagi tadi kami ikuti, sekarang kami masih di lokasi,” terang pawang gajah dari PLG Minas, Widodo pada Selasa petang, 19 Februari 2019.

Selama di lokasi, Widodo mengaku sudah melihat kawanan gajah yang meluluh-lantakkan puluhan batang kelapa hybrida milik Mangido Nababan. Secara perlahan, dia mengiring gajah itu untuk kembali masuk ke hutan.

Hingga kini, penggiringan masih dilakukan secara manual. Petugas mengikuti gajah dari belakang dan membuatnya supaya kembali lagi ke hutan di kawasan Minas.

Petugas di lapangan juga dibekali mercon atau alat-alat yang menimbulkan suara jika dipukul. Hanya penggunaannya tak sembarangan karena dibawa untuk jaga-jaga jika gajah mendekat. “Mercon ada, itu alat kita. Digunakan sewaktu-waktu saja, untuk jaga-jaga saja,” sebut Widodo.

2 dari 2 halaman

Kelompok 11

Sejauh ini, Widodo belum berniat mengerahkan gajah jinak dari PLG Minas. Menurutnya hal itu dilakukan jika penggiringan secara manual dan bunyi-bunyian sudah tidak ampuh lagi.

“Kalau kuwalahan baru dikerahkan gajah jinak, di PLG itu ada 17 ekor,” sebut Widodo.

Penuturan Widodo, gajah itu sudah dua hari masuk ke kebun warga. Hanya saja warga tidak melapor karena pihak RT yang sering berkomunikasi dengan PLG ataupun BBKSDA Riau tidak berada di desa tersebut.

“Malahan kami tahu dari media, makanya turun ke lokasi,” sebut Widodo.

Sementara itu, Kabid II BBKSDA Riau Heru Sutmantoro menyebut kawanan gajah itu sering melintasi Kabupaten Kampar, Kota Pekanbaru dan Minas, Siak. Kawanan ini merupakan satu di antara beberapa kantong gajah di kawasan tersebut.

Dia memperkirakan ada 22-24 ekor gajah liar masih mendiami kantong gajah tersebut dan terbagi dalam dua kelompok besar. Untuk gajah di kebun itu, Heru menyebut masuk dalam kelompok 11.

“Mereka terus bermigrasi untuk mencari makan dan melakukan penandaan wilayah dia,” paparnya..

Belakangan, tambah Heru, habitat gajah semakin terancam dengan semakin banyaknya perkebunan sawit serta pemukiman. Hal ini membuat intensitas kemunculan meningkat karena pemukiman dan kebun buatan manusia itu termasuk home range atau area pergerakan gajah secara periodik.

Saksikan video pilihan berikut ini:

Derita Anak Gajah Hidup dengan Belalai Terpotong

Liputan6.com, Lampung – Bupati Lampung Timur Chusnunia Chalim kembali mengajak peduli pada nasib gajah betina bernama Erin yang berumur sekitar lima tahun. Erin mengalami cacat akibat jeratan pemburu liar separuh belalainya terputus.

Setelah sebelumnya sejumlah pihak menunjukkan kepedulian pada nasib gajah Erin itu, kini perhatian kembali datang dari Bupati Lampung Timur Chusnunia Chalim.

Prihatin dengan kondisi Erin, Cusnunia Chalim, melalui akun instagramnya Noenia_ch mengunggah video pendek Erin disertai keterangan ajakan peduli kembali terhadap satwa berbadan besar, berbelalai, dan termasuk salah satu spesies satwa langka yang dilindungi di dunia tersebut.

Dilansir Antara, pada akun instagramnya, Chusnunia menulis Erin adalah gajah kesayangannya. Dia menulis ajakan menengok Erin di Taman Nasional Way Kambas dan berpesan tidak lupa membawa makanan kesukaannya.

2 dari 2 halaman

Harus Menunduk Ketika Makan

Makanan yang disukai Erin, kata Chusnunia, adalah buah-buahan dan sayur-sayuran.

Ini Erin, kesayanganku, yang belalainya terkena jerat hingga putus. Alhamdulillah mahot-mahot sayang pada Erin, ayo berkunjung ke Way Kambas, tengok Erin kecil, jangan lupa bawa makanan ya, bisa pisang, sayur-sayuran, kacang panjang, jagung, Erin suka macam-macam sayuran, bantu rawat Erin ya,” tulis Chusnunia Chalim di akun IG-nya itu pula.

Erin berada di Pusat Konservasi Gajah (PLG) Taman Nasional Way Kambas, Kabupaten Lampung Timur, Provinsi Lampung.

Gajah betina Erin yang berumur sekitar lima tahun itu, belalainya telah terpotong akibat jerat, dan diselamatkan Tim Elephant Response Unit (ERU) Way Kambas pada tahun 2016.

Namun, sampai dengan saat ini untuk makan Erin harus menunduk, bahkan terkadang disuapi oleh pengasuhnya (mahot/pawang).

Tahun 2018 lalu, Erin telah mendapat perhatian banyak pihak, termasuk dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).


Simak video pilihan berikut ini:

Malam Mencekam Saat Belasan Gajah Cabut Puluhan Pohon Kelapa di Pekanbaru

Liputan6.com, Pekanbaru- Belasan Gajah Sumatera memakan puluhan batang kelapa hybrida milik warga bernama Mangido Nababan di Jalan Maharani, Kecamatan Rumbai, Kota Pekanbaru. Pria 59 tahun ini tak bisa berbuat dan hanya pasrah melihat tanamannya porak-poranda oleh satwa berbelalai dan berbadan bongsor itu.

Mangido dihubungi wartawan pada  menjelaskan, kedatangan satwa bernama latin Elephas Maximus Sumatrensis itu dikabarkan penjaga kebunnnya, Nono. Kala itu, dia sedang tidur dan terbangun oleh dering telepon selulernya.

”Pak Nababan cepat ke kebun, tanaman bapak habis dimakan gajah,” kata Mangido menirukan perkataan Nono di ujung telepon, Senin (18/2/2019) petang.

Mangido memang tak bergegas ke kebun karena sadar takkan bisa mengusir belasan gajah itu. Dia baru ke kebunya pukul 9.00 WIB, lalu mendatangi Nono untuk mencari tahu kronologis masuknya gajah itu ke kebun.

Saat gajah datang, Nono engah tidur di pondok. Patahan demi patahan pelepah kelapa dan bunyi ringsek pohon membangunkannya lalu mengintip ke luar yang masih gelap.

“Nono ini tak berani keluar, dia hanya melihat dari kejauhan karena takut menjadi sasaran,” cerita Mangido.

Pengakuan Nono, gajah itu berjumlah 13 ekor dan terdiri dari berbagai ukuran, mulai dari besar hingga kecil. Gajah itu bergerak meninggalkan kebun beberapa jam kemudian karena sudah kenyang.

“Barulah Nono ini keluar paginya untuk melihat, ternyata puluhan kelapa sudah tumbang,” kata Mangido.

2 dari 2 halaman

Bukan Pertama Kali

Mangido menyebutkan, bukan kali ini saja kawanan gajah datang ke kebunnya. Hampir tiap tahun sejak tahun 2017, kawanan itu menghampiri kebun kepala dan memakan isinya.

“Kalau kebun sebelah untuk tahun ini saja sudah lima kali gajah datang ke sana,” jelasnya.

Mangido menyebut, kedatangan pertama kali terjadi pada 31 juli 2017. Kala itu gajah liar merusakan sekitar 90 batang sawitnya. Selanjutnya pada 10 Agustus 2018, di mana ada 40 batang kelapa dirusak.

”Ada juga tanaman pisang yang dimakan dan tanaman lainnya selain kelapa hybrida,” sebut Mangido.

Mangido sadar bahwa kebunnya saat ini merupakan perlintasan gajah. Diapun berharap ada solusi dari pihak terkait agar masalah ini tidak terulang tiap tahunnya.

“Harapannya gajah ini dipindah, kalau tidak bisa tak makan saya dan keluarga,” ucapnya.

Inspirator Pelestarian Lingkungan, Pemkot Bitung Resmikan Monumen Alfred Russel Wallace   

Liputan6.com, Jakarta Pemerintah Kota Bitung beserta segenap elemen masyarakat pencinta lingkungan, menyelenggarakan kegiatan perayaan 100th Natuurmonument Goenoeng Tangkoko Batoeangoes pada tanggal 20 – 21 Februari 2019, bertempat di lapangan Singkanaung – Kampung wisata Batuputih. Kegiatan perayaan dikemas dalam berbagai kegiatan tontonan yang penuh tuntunan yang terdiri dari Workshop masyarakat & Komunitas, Talkshow, Pameran dan Konser Musik Alam.

Kegiatan talkshow akan menampilkan narasumber ahli diantaranya : Harry Hisler – UK; Dou Van Hoang – Vietnam ; Khouni Lomban Rawung dan Rahmi Handayani yang akan mengupas terkait pendekatan kampanye dan pelestarian lingkungan hidup melalui berbagai perspektif yang berbeda.

Kegiatan pameran akan melibatkan 24 komunitas lingkungan dan pariwisata yang bersama sama akan melandasi pengembangan kampung wisata Batuputih sebagai kampung wisata berbasis konservasi. Musisi Nugie dan Tanita bersama The early bird, lamp of bottle, jarank pulang dan 4play akan menyajikan konser alam yang mengajak seluruh pengunjung menghargai dan merawat alam melalui alunan musik.

Sebagai puncak kegiatan, akan diresmikan monumen Alfred Russel Wallace sebagai sosok inspirator dalam gerakan pemuliaan lingkungan bertempat di dalam Taman Wisata Alam Batuputih dan Batuangus. Monumen ini juga sekaligus menjadi simbol keunikan satwa endemik di Sulawesi serta menjadi peringatan bahwa mengkonsumsi satwa liar asli secara berlebihan bisa berujung pada kepunahan. Pada acara ini akan dihadir bapak Paul Smith OBE, Country Director British Councill Indonesia sebagai perwakilan negara sahabat.

Kota Bitung merasa bangga karena sejak kunjungan Wallace hingga hari ini, Batuputih mampu menarik para ilmuwan dan pelajar dari seluruh belahan dunia untukmempelajari keunikan dan kekayaan serta keanekaragaman hayati Sulawesi Utara di Tangkoko. Kehadiran monumen ini diharapkan dapat melindungi dan menghormati warisan alam kita sampai ke generasi yang akan datang.

Walikota Bitung, Max Lomban menyatakan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk melanjutkan keteladanan para pendahulu dalam menjaga dan melestarikan lingkungan, namun juga turut mendorong percepatan pembangunan pariwisata di kawasan Batuputih. Akan turut diluncurkan paket wisata “Jelajah Tangkoko” sebagai paket unggulan bagi para wisatawan untuk dapat menjelajahi keunikan alam dan budaya di kawasan Tangkoko.

Hutan Tangkoko-Batuangus

Hutan Tangkoko-Batuangus, merupakan salah satu hutan konservasi tertua di Indonesia yang ditetapkan melalui surat keputusan Gubernur Jendral Hindia Belanda pada tahun 21 Februari 1919. Pada tanggal 24 Desember 1981, kementrian pertanian Republik Indonesia merubah status Cagar Alam Gunung Tangkoko Batuangus seluas 1.250 Ha menjadi Taman Wisata Alam Batuputih (615 Ha) dan TWA Batuangus (635 Ha).

Sesuai dengan penetapan awalnya, tujuan pengelolaan kawasan ini adalah untuk perlindungan dan pelestarian satwa endemik, dan kegiatan wisata. Dalam perkembangannya, cagar alam Gunung Tangkoko-Batuangus mengalami perubahan berdasarkan SK Mentri Kehutanan RI No SK/1826/Menhut-VIII/KUH/2014 tentang penetapan kawasan hutan pada kelompok hutan Dua saudara seluas 8.5045.07 Ha. Kawasan ini terdiri dari Cagar Alam Dua Saudara (7.247,46 Ha) TWA Batu putih (649 ha), TWA Batuangus ( 648.57 Ha)

Terlepas dari penamaan yang berganti, dunia tetap mengenal kawasan TANGKOKO sebagai salah satu laboratorium hidup dengan tempat keragaman ekologi yang menawan. Adalah Alfred Russel Wallace, seorang naturalis berkebangsaan Inggris yang memulai perjalanan dan pengamatannya dengan meneliti fauna di kepulauan Indonesia bagian timur. Hasil pengamatannya dituliskan dalam sebuah buku bertajuk “THE MALAY ARCHIPILAGO”. Sebuah buku yang menginspirasi jutaan generasi setelahnya tentang kekayaan biogeografi untuk sekelompok pulau yang dipisahkan oleh selat yang dalam yang memisahkan lempeng ASIA dan AUSTRALIA”.

Sepak Terjang Alfred Russel Wallace

Alfred Russel Wallace dikenal sebagai penemu teori evolusi melalui seleksi alam dan membuat tulisan bersama Charles Darwin yang membahas subjek tersebut. Beliau dianggap sebagai “Bapak dari Biogeografi”- sebuah studi mengenai distribusi secara geografi dari flora dan fauna.

Alfred Russel Wallace yang lahir pada 8 Januari 1823 dan meninggal pada 7 November 1913) adalah seorang naturalis, ahli biologi, penjelajah, geografer dan antropolog dari Britania Raya. Ia paling dikenal akan pemahamannya tentang teori evolusi melalui seleksi alam. Tulisannya yang membahas tentang subjek tersebut diterbitkan bersamaan dengan beberapa tulisan Charles Darwin pada tahun 1858. Hal ini mendorong Darwin untuk mempublikasikan gagasannya sendiri dalam bukunya yang berjudul “Origin of Species”(Asal Usul Spesies).

Wallace banyak melakukan penelitian lapangan, pertama-tama di lembah Sungai Amazon dan kemudian di Kepulauan Melayu (Nusantara),termasuk Celebes (Sulawesi). Observasinya yang tajam menyoroti keunikan dari biogeografi Sulawesi.

Di Indonesia, Wallace mengidentifikasi pembagian flora dan fauna yang sekarang dikenal dengan istilah Garis Wallace. Garis tak kasat mata ini melintang melewati di antara Bali dan Lombok ke arah utara di antara Borneo dan Sulawesi. Garis Wallace membagi kepulauan Indonesia menjadi dua bagian flora dan fauna yang berbeda, bagian barat terdiri dari fauna yang berasal dari Asia (primata, macan, harimau, gajah, badak, dsb) dan bagian timur terdiri dari fauna asal Australia (kakaktua, perkici, cendrawasih, marsupial, dsb).

Garis Wallace dan batasan biogeografi antara Papua dan Maluku kini didefinisikan sebagai area ekologis yang dikenal sebagai Wallacea. Wallacea dideskripsikan sebagai zona dengan persilangan flora dan fauna yang unik antara Asia dan Australia. Zona ini terdiri dari Sulawesi dan Kepulauan Maluku bagian utara, dan Kepulauan Nusa Tenggara bagian selatan.

Sekarang ini, zona tersebut dianggap sebagai salah satu dari titik dengan keanekaragaman hayati yang terkaya di dunia, dimana spesies baru yang bahkan belum pernah ditemukan oleh peneliti sebelumnya masih bermunculan sampai hari ini. Dalam sejarah taksonomi, penamaan spesies hewan berdasarkan nama Wallace jumlahnya lebih banyak jika dibandingkan dengan nama-nama yang lain.

Wallace melakukan perjalanan ke wilayah Minahasa dari bulan Juni sampai September 1859. Ia mengunjungi Batu putih selama seminggu pada pertengahan September tahun 1859 untuk mencari spesimen Maleo – burung endemik Sulawesi – sebagai bahan koleksi di museum sejarah alam di Inggris. Populasi Maleo di Batuputih sekarang sudah punah karena telur-telur mereka diambil oleh masyarakat untuk dikonsumsisecara berlebihan. Namun sampai saat ini sebagian masyarakat masih mengingat tempat bersarang Maleo yang terletak di sepanjang garis pantai ini di masa lampau.

Wallace mencatat bahwa masyarakat setempat biasanya berjalan sejauh 50 km untuk mengumpulkan telur Maleo di Batuputih, sebuah desa nelayan yang didirikan oleh warga keturunan Kepulauan Sangihe-Talaud. Burung Maleo, termasuk sarang dan telur mereka, kini sudah dilindungi hukum Republik Indonesia.

35 tahun setelah kunjungan Wallace, seorang Belanda ahli botani Dr. Sijfert Koorders melakukan survei di hutan Minahasa secara ekstensif pada tahun 1894-1895,tetapi ia sendiri tidak sempat mejelajahi Tangoko. Beliau sudah mempelajari publikasi dari Wallace dan mereka berdua surat-menyurat menggenai beberapa hal. Koorders juga sempat memberi nama sekelompok pohon di Sulawesi Wallaceodendron, sebagai tanda untuk menghormati Wallace. Dr. Koorders menjabat sebaga iketua Perkumpulan Perlindungan Alam Hindia Belanda (Nederlandsch-Indische Vereeniging tot Natuurbescherming), yang mengusulkan beberapa kawasan konservasidi Jawa, Sumatera, Sulawesi, Maluku dan Papua. Meskipun Koorders tidak pernah survei hutannya sendiri, “Goenung Tongkoko-Batoeangoes” di resmikan oleh pemerintah Hindia Belanda sebagai cagar alam pada 1919 karena memiliki “nilai ilmiah” berdasarkan flora dan fauna (Anoa, Babirusa dan Maleo).

Wallace sangat terpukau dengan Sulawesi karena keunikan formasi geologinya yang terbagi atas dua kawasan ekologi. Berdasarkan penelitiannya terhadap burung, serangga, mamalia, tumbuhan dan biota lainnya, ia bisa menjelaskan secara detail mengenai apa yang disebutnya sebagai “anomali dan eksentriknya sejarah alam di Sulawesi” Kata beliau, Sulawesi merupakan “..pulau yang kaya akan makhluk yang khas, banyak keistimewaan dan keindahan… sejumlah fauna disini begitu luar biasa dan tidak ada duanya di belahan dunia yang lain”

Sulawesi adalah satu-satunya wilayah di Asia yang mempunyai baik primata (seperti ragam spesies tarsius dan macaca) dan marsupial (seperti ragam spesies kuse kerdil dan kuskus beruang). Kita bisa melihat apa yang menjadi inspirasi di balik konsep biogeografi Wallace dan evolusi dari seleksi alam: “Maka dari itu, Sulawesi menunjukkan kepada kita bukti nyata mengenai pentingnya kita mempelajari distribusi geografis fauna.”


(*)

Seru-seruan ‘Pura-pura Capres’ 2019, Ada yang Butuh Tambatan Hati!

Jumat 15 Februari 2019, 11:14 WIB

#MantapMemilih

dok. detikcom – detikNews

Jakarta detikNews – Hari ini merupakan hari terakhir program ‘Pura-pura Capres’ detikcom. Banyak program-program kocak dari pembaca. Ini di antaranya!

Program peduli jomblo masih jadi janji utama. Foto: dok. detikcom

Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com

Kisah Pantai Mandala Ria dan Pesanan Perahu Mayjen Soeharto

Liputan6.com, Bulukumba – Pantai Mandala Ria di Desa Ara, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan memang tak setenar Pantai Bira. Padahal bentangan pasir putih dan pusatnya pembuat kapal pinisi di Butta Panritalopi, ada di Desa Ara.

Uniknya lagi karena penamaan Pantai Mandala Ria, erat kaitannya dengan kisah sejarah Soekarno yang membentuk Komando Mandala, dan Mayjen Soeharto sebagai Panglima Komando Operasi Militer.

Tugas komando operasi militer (Opmil) Mandala saat itu merencanakan, mempersiapkan, dan menyelenggarakan operasi untuk menggabungkan Irian Barat yang kini Papua bagian barat masuk dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Budayawan Bulukumba, Muhannis Ara mengatakan, nama pantai Mandala Ria diambil dari kisah pesanan perahu menyerupai sekoci oleh Soeharto.

“Saat Soekarno membentuk Komando Mandala, Soeharto mesan 20 perahu menyerupai sekoci dalam waktu 20 hari di Desa Ara yang dikenal sebagai pusat pembuatan kapal pinisi,” kata Muhannis Ara kepada Liputan6.com, Minggu 10 Februari 2019.

Berkat kegigihan warga kampung Ara bergotong royong, dalam waktu 18 hari semuanya rampung.

“Saya masih kecil melihat proses pesanan perahu Soeharto untuk pembebasan Irian Barat,” kata Muhannis.

Menurut Muhannis, Kecamatan Bonto Bahari, khususnya Desa Ara sejak dulu kala warganya dikenal sebagai pembuat perahu pinisi yang mendunia. Masalahnya hanya akses jalan yang perlu mendapat perhatian serius.

“Pantai Mandala Ria ini sudah 8 tahun dirintis sebagai wisata pantai,” ungkap Muhannis.

Keadaan vegetasi sekitar kawasan taman hutan rakyat (Tahura) Bonto Bahari di Desa Ara terdiri dari semak belukar, kebun jagung dan kacang-kacangan, kebun campur jambu mete, dan tanaman kayu. Sebagian besar tanaman kayu tumbuh kerdil. Karena secara geologis permukaan tanahnya terdiri dari batu karang.

Dengan luas wilayah 13,4 Km2 Desa Ara, ternyata kaya dengan satwa liar seperti Kera hitam, Rusa, dan Ayam hutan. “Bahkan masih ada kucing hutan hingga saat ini,” kata dia.

Seiring pertumbuhan penduduk, kondisi sosial ekonomi dan tata kelola ruang pemukiman warga di Desa Ara yang berkembang pesat sebagai sentra pembuatan kapal perlahan mulai tergerus.

“Sementara potret arsitektur tradisional Desa Ara, rumah penduduknya berbahan baku utuh dari kayu dan berorientasi menghadap ke laut. Kondisinya kini perlahan tergerus konsep pembangunan rumah batu yang menghadap ke jalan,” kata Muhannis.

Dia menambahkan, maraknya limbah plastik di pesisir pantai Mandala Ria. “Sampah plastik yang berserakan di bibir pantai itu kiriman dari Teluk Bone yang berhadapan langsung dengan Teluk Bone,” ujar dia.

Saksikan video pilihan berikut ini:

Hiu-hiu Anakan Dijual di Muara Angke, Bagaimana Nasibnya di Lautan?

Jakarta – Terlihat hiu-hiu berukuran kecil dijajakan di sudut Pasar Muara Angke. Sementara, populasi hiu di lautan Indonesia sedang memasuki tahap kritis.

Terlihat di sudut Pasar Ikan Muara Angke, Jakarta Utara, Selasa (12/2/2019) sore, hiu-hiu kecil ada di baskom pedagang. Ada yang bercampur dengan jenis ikan lainnya, ada pula belasan ekor yang berkumpul bersama hiu-hiu kecil lain.

Predator lautan itu berwarna abu-abu, sirip masih menempel di tubuhnya. Paling besar, ukurannya sepanjang lengan bawah orang dewasa. “Rp 30 ribu sekilo,” kata pedagang yang menjaga hiu-hiu kecil ini.

“Itu baby shark,” kata Bycatch & Shark Conservation Coordinator WWF Indonesia, Dwi Ariyoga Gautama, dengan prihatin.
Yoga mengidentifikasi hiu itu sebagai Carcharhinus melanopterus, dikenal sebagai Blacktip Reef Shark, biasa hidup di perairan karang. “Saya khawatirnya malah didapat dari daerah karang terdekat seperti Kepulauan Seribu,” ujarnya.

Hiu-hiu Anakan Dijual di Muara Angke, Bagaimana Nasibnya di Lautan?Hiu di Pasar Muara Angke, Jakarta (Adhi Indra Prasetya/detikcom)

Uni Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN) memberi status hiu jenis itu “Near Threatened” atau terancam punah dalam waktu dekat. Ancaman datang dari aktivitas perikanan. Populasi hiu Carcharhinus melanopterus mengalami penurunan.

Namun demikian, para nelayan dan pengrajin juga tidak salah karena Carcharhinus melanopterus bukan termasuk hiu yang dilindungi di Indonesia. Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) hingga 22 Mei 2018 menyatakan belum memiliki status perlindungan. Hiu jenis ini masih terus tertangkap dan dijual di pasar.

Pengolah Hiu di Jakarta

Di sentra pengolahan ikan asin Kalibaru Barat, Cilincing, Jakarta Utara, hiu dijadikan ikan asin. Rabu (6/2/2019) sekitar pukul 15.00 WIB, sebuah mobil pick-up tiba dan mulai membongkar muatan ikan-ikan berukuran besar. Para pekerja dari dalam gang pun mulai berdatangan, mencoba merapikan dan memindahkan ikan-ikan yang baru saja datang tersebut ke dalam gang.

Terdapat beberapa potongan ikan hiu. Ukurannya yang besar membuat ikan jenis tersebut ditaruh di tumpukan paling bawah di mobil tersebut. detikcom pun memastikan apakah ikan tersebut merupakan ikan hiu dengan bertanya pada salah satu pekerja yang sedang duduk. “Itu ikan hiu dan talang-talang,” ujar pekerja tersebut.

Hiu-hiu Anakan Dijual di Muara Angke, Bagaimana Nasibnya di Lautan?Hiu di Kalibaru Jakarta (Adhi Indra Prasetya/detikcom)

Sodikin (40), pemilik usaha pengolahan ikan asin, mempunyai spesialisasi mengolah ikan-ikan besar, ikan hiu hanyalah salah satunya. “Saya waktu mulai belajar ikan hiu itu dari harga Rp 3 ribu per kg dulu, sampai sekarang harganya sudah Rp 20-30 ribu lebih per kg. Jenisnya beda-beda, yang namanya ikan hiu kan banyak. Ada berapa macam itu, mulai dari hiu martil, hiu gepeng, hiu moro, hiu super, hiu kikir, hiu gelembung, semua beda-beda jenis,” kata dia.
Dia membeli hiu dalam kondisi sudah mati dengan isi perut yang sudah tidak ada. Hasil olahan hiu yang sudah diasinkan itu dijualnya lagi ke pengepul seharga Rp 30-35 ribu per kg. Dia tidak tahu hasil olahannya itu dipasarkan di dalam negeri atau diekspor ke negara lain. Dia paham ada beberapa jenis hiu yang dilarang untuk ditangkap dan diekspor. Namun akan menjadi sulit diidentifikasi jenis hiu apa gerangan yang mendarat di pelabuhan bila kepalanya sudah hilang.

“Sejak ada larangan, peraturan-peraturan, orang Dinas bilang, ‘Ini ikan hiu yang berbentuk seperti ini nggak boleh ditangkap, karena hampir punah.’ Nanti ada lagi perubahan, boleh ditangkep tapi nggak boleh buat ekspor. Kan bingung. Nelayannya bingung, pengolahnya juga. Nanti misalnya mau beli ikan hiu, saya kan belinya dalam keadaan udah nggak ada kepala, nggak tahu ini ikan hiu yang dilarang atau bukan,” tutur Sodikin.

Hiu-hiu Anakan Dijual di Muara Angke, Bagaimana Nasibnya di Lautan?Hiu di Kalibaru Jakarta (Adhi Indra Prasetya/detikcom)

Di pojokan Gang Musala At-Taubah, ada Herman (40) yang juga merupakan pemilik usaha pengolahan ikan. Sama seperti Sodikin, dia hanya menerima ikan-ikan yang mendarat, yakni di Muara Baru, dan setelah itu dia kerjakan dengan mengolah tangkapan itu menjadi ikan asin.

Herman merasa saat ini harga hiu tangkapan sedang kelewat tinggi, yakni Rp 27 ribu per kg. Maka dia tak kuat bila beli banyak-banyak. Biasanya, yang beli adalah pengecer yang langsung menjual ikan basah di pasar. Namun biasanya dia bisa mendapat harga lebih miring, yakni Rp 22 ribu per kg.

“Nunggu kalau ada orang pesan lagi, baru belanja lagi. Intinya gini, kalau ada permintaan ya saya beli lagi,” kata Herman.

Nasib Hiu di Lautan

Hiu adalah predator teratas di laut, punya peran menjaga keseimbangan ekosistem di laut. Yoga dari WWF Indonesia menjelaskan, populasi hiu di Indonesia mengalami penurunan. Dia menyitir keterangan dari IUCN, 30% dari 114 spesies sudah terancam kepunahan. Produksi hiu nasional dari tahun 2000 hingga 2014 cenderung mengalami penurunan sebesar 28,30%.

Hiu sering diburu siripnya dan dibiarkan mati tanpa bisa berenang karena kehilangan sirip. Daging hiu juga diperdagangkan. Perburuan hiu juga didorong permintaan ekspor. Hiu sering menjadi tangkapan sampingan (bycatch), atau secara tidak sengaja terangkut jaring nelayan. Hal-hal seperti itu membuat populasi hiu berkurang, di sisi lain hiu termasuk lambat bereproduksi.

WHO menyebut Indonesia sebagai produsen produk hiu terbesar di dunia dan menjadi negara nomor tiga di dunia dalam hal besarnya nilai produk hiu yang dikirim ke China dan Hong Kong pada 2012. WWF Indonesia menghimpun data dari Kementerian Kelautan dan Perikanan, Indonesia menjadi negara produsen hiu terbesar di dunia dengan kontribusi sebesar 16,8 persen dari total tangkapan dunia.

Hiu-hiu Anakan Dijual di Muara Angke, Bagaimana Nasibnya di Lautan?Suasana di Kalibaru, Jakarta (Beawiharta/Reuters)

Soal perlindungan terhadap hiu, Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut KKP menjelaskan hanya satu jenis hiu yang sudah berstatus dilindungi penuh, yaitu hiu paus (Rhyncodon typus). Empat jenis hiu lainnya, yaitu hiu koboi (Carcharhinus longimanus) dan tiga jenis hiu martil (Spyhrna lewini, Sphyrna zygaena, dan Sphyrna mokarran) termasuk yang dilarang ekspor melalui Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 5 Tahun 2018. Ada pula delapan jenis hiu yang masuk CITES (Konvensi Perdagangan Internasional Tumbuhan dan Satwa Liar Spesies Terancam), yang artinya pemanfaatan untuk perdagangan luar negerinya diperbolehkan, namun dengan aturan ketat.

“Penetapan status perlindungan ikan hiu tentunya harus dilakukan secara bijaksana dan berdasarkan prinsip kehati-hatian, karena menyangkut sosial dan ekonomi sebagian masyarakat, khususnya masyarakat nelayan yang menjadikan ikan hiu sebagai tangkapan utama (Tanjung Luar-NTB) dan konsumsi lokal (Aceh, Toraja) karena murah dagingnya. Kehati-hatian itu berarti kekayaan alam Indonesia seperti ikan hiu dan pari boleh kita manfaatkan secara optimal untuk kesejahtraan masyarakatnya, namun dengan tetap menjaga kelestariannya sehingga ikan hiu itu dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan,” demikian keterangan pers dari Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut KKP sebagaimana tertera di situs resminya.

Bycatch & Shark Conservation Coordinator WWF Indonesia, Dwi Ariyoga Gautama, berharap agar pemerintah memperluas cakupan jenis-jenis hiu yang perlu diatur supaya tidak punah. “Kami menyarankan agar pemerintah mengatur jenis-jenis hiu yang terancam puna, ini urgen dalam mengatur lebih banyak hiu yang masuk kategori terancam punah,” kata dia.

(dnu/dnu)

<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Malaysia Gagalkan Penyelundupan 30 Ton Trenggiling untuk Obat Tradisional

Liputan6.com, Kuala Lumpur – Pihak berwenang Malaysia mencatatkan rekor penyitaan sekitar 30 ton trenggiling, yang diperkirakan bernilai US$ 2 juta, atau setara Rp 28 miliar.

Dikutip dari Channel News Asia pada Selasa (12/2/2019), penyitaan tersebut meliputi sekitar 1.800 kotak penuh trenggiling beku, yang dimasukkan ke dalam tiga unit freezer berukuran besar.

Selain itu, ditemukan pula 572 ekor trenggiling sangat beku pada enam unit freezer berukuran sedang. Sebanyak 61 ekor lainnya disita dalam kondisi hidup di kandang-kandang sempit.

Pihak bea cukai Malaysia juga menemukan sebanyak 361 kilogram pangolin, alias produk obat-obatan khas Tiongkok dari bahan baku trenggiling.

Penyitaan besar-besaran ini bermula dari sebuah petunjuk pada penggrebekan sebuah pabrik dan gudang pengolahan trenggiling di negara bagian Sabah, pada Kamis pekan lalu.

Menurut kepala polisi setempat, Omah Mammah, seorang pria berusia 35 tahun ditangkap, karena diduga bertanggung jawab atas operasional pabrik dan gudang terkait, sekaligus menyimpan kunci terhadap sindikat penjualan hewan ilegal.

Diyakini bahwa praktik penyelundupan trenggiling ini telah berjalan selama hampir satu dekade terakhir, di mana hal itu diduga kuat berasal dari transaksi dengan pemburu liar, untuk kemudian didistribusikan di Malaysia via pasar gelap.


Simak video pilihan berikut: 

2 dari 2 halaman

Mamalia Langka yang Banyak Diperdagangkan

Saat ini, sebagian besar negara di Asia Tenggara tengah berjuang bersama memberantas perburuan liar dan penyelundupan trenggiling, mamalia langka yang paling banyak diperdagangkan di dunia.

Makhluk yang sangat terancam punah, juga dikenal sebagai trenggiling bersisik, telah lama menjadi target buruan karena bagian tubuh mereka dianggap berkhasiat dalam pengobatan tradisional Tiongkok.

Di beberapa masyarakat negara Asia Timur lainnya, seperti Vietnam Korea, daging trenggiling juga kerap dianggap sebagai bahan makanan lezat, yang merepresentasikan prestise dan kemakmuran.

Sebelumnya, Malaysia sering menggagalkan upaya penyelundupan trenggiling dari dan ke luar negeri, namun dalam skala yang jauh lebih kecil. Baru sekarang, Negeri Jiran berhasil mengungkapnya secara besar-besaran.

“Temuan ini menyiratkan bahwa populasi trenggiling bisa jadi dalam kondisi mengkhawatirkan, mengingat fakta bahwa permintaan akan satwa dilindungi tersebut tetap tinggi. Saya harap bukan hanya menyita, namun juga memberantas hingga ke akar masalahnya di hulu,” ujar Kanitha Krishnasamy, salah seorang pimpinan Traffic, lembaga sosial yang memantau risiko penyelundupan di Asia Tenggara.

Fakta di Balik Aksi Kejam Penyeret Kucing Pakai Motor di Pekalongan

Pekalongan – Aksi seorang pembonceng motor, ML (29) yang menyeret kucing di Pekalongan banjir kecaman. Beberapa jam setelah video aksi kejam itu beredar di media sosial, polisi mengungkap identitas pelaku.

Melalui nomor polisi yang terekam video, diketahui pria yang membonceng motor berinisial ML. Video direkamn oleh seorang mahasiswi, Diefie Hafiez Maufalia (21). Diefie merekam karena marah melihat kejadian itu. Keinginannya untuk menegur pelaku diurungkan karena takut terjadi perselisihan, lalu dialihkan dengan membuat rekaman.

“Kucingnya diseret pakai motor. Saya melihat saat di jalan Desa Babel, Kecamatan Wonokerto menuju arah pantai (Wonokerto) pukul 11.30 WIB (Minggu 10/2),” kata dia.

Diefie tidak bisa memastikan apakah kucing yang ditarik pakai tali tersebut sudah mati apa belum. Diefie hanya melihat tali yang melilit leher kucing ditarik pembonceng motor.

“Pemboncengnya yang menarik kucing,” jelasnya.

Polisi mendatangi ML di rumahnya pada Minggu (10/2) malam. Saat dimintai keterangannya, pengakuan ML berbelit-belit. Sedangkan keluarga mengatakan bahwa ML mengalami gangguan jiwa sejak usianya 22 tahun.

Polisi kemudian mengamankan ML dan membawanya ke RS Djunaid untuk mendapat pemeriksaan medis.

Menurut pengakuan kakak ML kepada polisi, anak bungsu dari lima bersaudara tersebut mulai mengalami gangguan jiwa usai belajar ilmu kebatinan tujuh tahun lalu.

“Terakhir berobat menurut pihak pihak keluarga pada Bulan November lalu di dokter Gito, sebelum ia berangkat kerja di kapal sebagai ABK,” kata Kapolsek Wiradesa, AKP Yorisa Prabowo saat ditemui detikcom di kantornya, Senin (11/2).

Bahkan, lanjut Yorisa, saat bekerja di kapal ML sempat diturunkan di Sumatera pada tanggal 23 Januari 2019 lalu, karena penyakit gangguan jiwanya kambuh.

“Jadi karena sakitnya kambuh, oleh nahkoda diturunkan di Sumatera dan dijemput oleh Fadholi (kakak kandung),” kata Yorisa.

Usai kejadian, ML sempat mengaku kepada keluarga bahwa dirinya memukul dan menyeret kucing.

“Katanya mendapatkan bisikan ghaib untuk memukul kucing hingga tidak berdaya kemudian menyeretnya pakai tali,” tambah Yorisa Prabowo.

Kapan dan di mana aksi itu dilakukan ML, polisi belum berhasil mengorek keterangan lebih jauh.

“Sampai saat ini (Senin petang) masih dalam pengaruh obat penenang, setelah sebelumnya dimintai keterangan berbelit-belit,” tambahnya.

Sehingga polisi masih belum bisa mengumpulkan keterangan dari ML maupun mengungkap seorang pelaku lain yang berperan sebagai pengendara motor.

“Kita belum menemukan titik terangnya, dari mana pelaku ini menemukan kucing dan dibawa ke mana kucingnya serta satu pelaku lagi siapa,” beber Yorisa Prabowo.

Pihaknya sendiri kini menunggu kondisi kejiwaan ML tenang untuk kembali dimintai keterangan.

Sementara itu, bila terukti bersalah kedua pelaku ini akan dijerat dengan pasal 302 KUHP tentang penganiayaan binatang dengan ancaman hukuman 9 bulan penjara.

Animal Defender Indonesia secara resmi melaporkan kasus penyiksaan seekor kucing oleh pembonceng motor yang terjadi kepada polisi di Kabupaten Pekalongan. Anggota Animal Defender Indonesia dari seperti Yogyakarta, Jakarta dan Pekalongan melapor ke Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polres Pekalongan.

Sekitar 12 pecinta satwa ini melaporkan dua pelaku yang menyeret seekor kucing menggunakan sepeda motor di jalanan. Mereka membawa bukti penyebaran video yang viral di media sosial.

“Hari ini, kita pelaporan ke polisi, dan yang paling menggembirakan adalah polisi sudah bertindak dari semalam,” kata Ketua Animal Defender Indonesia, Doni Hendaru, saat ditemui usai melakukan pelaporan ke SPKT Polres Pekalongan, Senin (11/2) sore.

Ia berharap laporannya ditindaklanjuti agar penegakan hukum tentang hewan bisa menjadi satu keputusan hukum tetap.

“Hal ini agar bisa menjadi tolok ukur kawan-kawan di mana saja di wilayah hukum Republik Indonensia terkait adanya penganiayaan hewan,” katanya.

Diwawancara terpisah, Kareskrim Polres Pekalongan, AKP Agung Ariyanto mengatakan laporan ini akan ditindaklanjuti.

“Ini akan kita tindaklanjuti. Karena (salah seorang pelaku) diduga mengalami gangguan jiwa masih dilakukan pemeriksaan kejiwaanya,” kata Agung.
(sip/sip)

<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>