Taman Nasional Kerinci Seblat Rawan Jadi Lokasi Perburuan Satwa Liar

Liputan6.com, Jakarta – Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS), berpotensi menjadi lokasi perburuan dan perdagangan satwa liar dilindungi. Beberapa daerah di sekitar kawasan TNKS dan di bentang alam Bukit Balai Rejang Selatan diyakini menjadi lokasi penampungan, penyembunyian dan lokasi transaksi perdagangan satwa liar dilindungi seperti harimau sumatera, gajah sumatera, atau trenggiling.

Kepala Balai KSDA Bengkulu Lampung Donal Hutasoit menyatakan sejak 2015 hingga Desember 2018 tercatat 18 kasus perdagangan dan kepemilikan satwa liar dilindungi yang berhasil dibongkar oleh aparat penegak hukum di Provinsi Bengkulu dengan melibatkan 21 tersangka.

“Dari serangkaian kasus yang ada, tuntutan pidana dan putusan pengadilan yang diterima tersangka sangat bervariasi. Salah satu contoh kasus pedagang organ harimau sumatera dengan barang bukti kulit harimau dan bagian lainnya memperoleh hukuman tertinggi yaitu vonis empat tahun penjara, denda limapuluh juta rupiah, dan subsider dua bulan kurungan oleh Hakim Pengadilan Negeri Bengkulu Utara,” jelas Donal.

Donal menambahkan bahwa pada beberapa kasus serupa masih mendapatkan vonis yang terbilang sangat ringan jika dibandingkan dengan kerugian yang ditimbulkan sehingga tidak menimbulkan efek jera bagi para pelaku.

Tingkat perburuan di alam yang masih tinggi juga masih terjadi di kawasan TNKS. Perburuan di alam dapat dilihat pada saat kegiatan monitoring dan patroli. Tim patroli dapat menghitung jumlah jerat yang ditemui selama tim berada di dalam hutan.

Administrator Pelestarian Harimau Sumatera, Fauna & Flora International Indonesia Programme Iswadi menjelaskan dalam kurun waktu 2016 hingga 2018, tim patroli di Bengkulu menemukan 20 jerat untuk harimau dan 113 jerat mangsa. Di antara penemuan jerat selama patroli, tim menghitung ada enam harimau yang terkena jerat tersebut.

“Kami sering menemukan pemburu saat kami melakukan patroli bersama BKSDA Bengkulu. Tidak segan-segan kami memberikan sanksi kepada mereka berupa surat peringatan bahkan kami tahan untuk segera diadili,” jelas Iswadi.

Demi mendukung penyelamatan satwa liar dan memberikan efek jera kepada pemburu dan pedagang satwa liar, maka diadakan kerjasama antara aparat penegak hukum, khususnya jaksa dan hakim yang menangani kasus-kasus tersebut. Kerjasama tersebut termasuk dalam peningkatan pengetahuan, kapasitas serta kepedulian aparat penegak hukum.

Ketua Satuan Tugas Sumber Daya Alam Lintas Negara Kejaksaan Agung Republik Indonesia Ricardo Sitinjak saat ditemui pada in house training penanganan perkara kejahatan di Bengkulu pada 26 Maret 2019 mengapresiasi pelatihan ini sebagai bentuk dukungan pengetahuan dan prioritas penanganan kejahatan untuk satwa liar bagi jaksa yang memiliki sertifikat.

“Bila berbicara masalah unsur pasal, jaksa sudah sangat mengerti. Namun mereka perlu diberi pengetahuan mengapa harus melindungi satwa liar dan fungsi satwa liar di alam. Perlu juga diberikan pengetahuan bahwa pada saat satwa liar tertangkap dan sisi liarnya masih terlihat, maka harus segera dibuat berita acara dengan dokumentasi sebagai tanda bukit untuk segera dilepasliarkan untuk mengurangi stres pada satwa tersebut,” jelas Ricardo.

Ricardo menambahkan bahwa kegiatan serupa perlu diadakan di kejaksaan tinggi pada setiap ibukota Provinsi agar lebih efektif dan dapat dipahami oleh setiap jaksa berwenang.

Kehadiran Mantan Wakapolri dalam Persidangan Nenek ‘Sahabat Satwa’

Rupanya sidang yang menimpa nenek K ini sangat istimewa karena mendapatkan perhatian dari Wakapolri tahun 2013-2014, Komjen Pol. Purnawirawan Oegroseno (63).

Dia jauh-jauh datang dari Jakarta untuk memberikan dukungan moral, serta ikut hadir menyaksikan sidang pembacaan tuntutan di Pengadilan Negeri Jember, yang dinyatakan terbuka untuk umum. Dia berharap kepada majelis hakim Pengadilan Negeri Jember, membaca dan memutus kasus tersebut, dengan hati nurani.

“Hak jaksa menuntut terdakwa hingga 3 tahun penjara. Saya tidak punya hak di situ. Kalau mendengar penjelasan tadi, ya arahnya pelanggaran administrasi,” tutur Oegroseno.

Oegroseno menjelaskan, dengan tuntutan jaksa itu, dia melihat peran pemerintah atau BKSDA dalam hal ini, hampir sama sekali tidak ada. Padahal masyarakat sudah berbuat baik untuk melestarikan sumber daya alam hayati dan ekosistemnya.

“Kok dicari-cari dengan izin, yang masa berlaku habis tahun 2015. Izin kan gratis, otomatis pemerintah datang dong, memperpanjang,” katanya.

Dia juga berharap pemerintah, ke depannya, bisa melindungi rakyatnya. “Siapa lagi kalau tidak ke pemerintah, apa minta perlindungan ke luar negeri, terutama dari BKSDA,” katanya.

“Saya harapkan BKSDA bisa memosisikan diri sebagai pelayan, pelindung, pengayom masyarakat. Sama dengan aparatur pemerintah lainnya. Apalagi izinnya mati tahun 2015, tahun 2018 baru diproses. Itu yang saya sesalkan peran BKSDA saja,” dia menambahkan.

Menanggapi pernyataan mantan wakapolri itu, JPU, Dian Akbar Wicaksana menjelaskan, sesuai fakta dalam persidangan dan keterangan ahli, bahwa surat izin penangkaran mati selama 3 tahun, dari 2015 hingga tahun 2018.

“Sesuai keterangan ahli, surat izin yang mati selama 3 tahun, sama halnya dengan tidak memiliki izin. Karena itu, upaya penangkaran satwa yang dilindungi, tidak berizin adalah dilarang undang-undang,” kata Akbar.

Padahal sebelum izinnya mati, BKSDA sudah memberi peringatan kepada yang bersangkutan, untuk mengurus izin-izin terkait. Sebab, mengurus izin tersebut harus dilakukan minimal 3 bulan sebelum masa berlakunya habis.

Sebelumnya, Polda Jawa Timur mengamankan 443 ekor burung yang dilindungi, Selasa, 9 OKtober 2018. Dari 443 ekor berbagai burung yang dilindungi, 212 ekor nuri bayan (Eclectus Roratus), 99 ekor kakatua besar jambul kuning (Cacatua galerita), 23 kakatua jambul orange (Cacatua molluccensis), 82 ekor kakatua govin (Cacatua govineana).

Kemudian 5 ekor kakatua raja, 1 ekor kakatua alba, 1 ekor jalak putih, 6 ekor burung dara mahkota (Gaura victoria), 4 ekor nuri merah kepala hitam (Lorius lory), 4 ekor anakan nuri bayan, 6 nuri merah (Red nury), 61 butir telur burung bayan dan kakatua.

Simak video pilihan berikut ini:

Ayo Ramai-Ramai Menjaga Rinjani dari Ulah Setan Pembakar Lahan

Liputan6.com, Mataram – Ancaman kebakaran hutan selalu mengintai kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani, Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat.

Pada musim kemarau, kobaran api bisa tiba-tiba muncul menghanguskan sabana dan pepohonan di pegunungan yang memiliki ketinggian 3.726 meter di atas permukaan laut (mdpl) tersebut.

Hampir setiap tahun, api menghanguskan sebagian kawasan sabana dan pepohonan besar di atas gunug tertinggi kedua di Indonesia setelah Gunung Kerinci di Pulau Sumatera dengan ketinggian 3.805 mdpl.

Meskipun demikian, kebakaran hutan dan lahan di Provinsi NTB selama ini, termasuk di kawasan Gunung Rinjani, tidak separah di provinsi lainnya yang menyebabkan terjadinya kabut asap.

Data Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR), ratusan hektare sabana hangus terbakar. Api membakar kawasan yang didominasi rumput ilalang pada 19 September 2015. Kejadian sejak siang hari tersebut berlangsung hingga beberapa hari lamanya, dilansir Antara.

Peristiwa serupa juga terjadi pada 9 Oktober 2017. Api membakar rumput ilalang dan pohon cemara saat panas tering matahari. Api begitu cepat menjalar ke segala penjuru kawasan TNGR. Total luas kawasan yang terbakar mencapai puluhan hektare.

Bahkan, kobaran api sempat mengarah ke pemukiman penduduk Kecamatan Sembalun, Kabupaten Lombok Timur, yang posisinya berada di kaki Gunung Rinjani. Namun, petugas berhasil mencegahnya.

Perjuangan memadamkan api yang dilakukan petugas taman nasional bersama TNI-Polri dibantu warga lokal juga terjadi pada Juni 2018. Sekitar 20 hektare sabana hangus menjadi abu setelah terbakar api beberapa jam lamanya.

Menurut Kepala BTNGR Sudiyono, upaya memadamkan api di dalam kawasan Gunung Rinjani, relatif sulit. Pasalnya, lahan yang terbakar berada pada kemiringan yang sulit dijangkau oleh petugas.

Pemadaman api dilakukan dengan menyiramkan air menggunakan alat penyemprot sederhana (jet sutter). Pasokan air dibawa menggunakan mobil tangki ke dalam kawasan yang masih memungkinkan untuk masuk kendaraan roda empat.

BTNGR memiliki dua mobil tangki air untuk memadamkan api dan membantu penyiraman material longsor yang menutup badan jalan di sekitar lingkar Gunung Rinjani.

Namun, upaya pemadaman api menggunakan peralatan semprot terkadang menemui hambatan jika lokasi api jauh dari tempat parkir mobil tangki. Kondisi tersebut diperparah dengan tidak adanya sumber mata air di sekitar lokasi kebakaran.

Dalam kondisi demikian, upaya pemadaman dilakukan secara tradisional (gepyok) agar api tidak meluas. Petugas bersama warga memukul kobaran api yang membakar rerumputan dengan “gepyok” yang terbuat dari ranting pepohonan basah.

2 dari 3 halaman

Ulah Manusia

Setiap peristiwa kebakaran di dalam hutan Gunung Rinjani, selalu muncul dugaan terjadi akibat pembakaran lahan kebun di sekitar kawasan.

Ada juga dugaan disebabkan ulah manusia yang membuang puntung rokok ke areal sabana. Api akhirnya berkobar karena rerumputan yang kering mudah terbakar meskipun hanya terkena api dari puntung rokok.

Kebakaran seperti itu sering terjadi ketika musim pendakian. Rata-rata jumlah pendaki mencapai 2.000-an orang per hari. Namun, belum pernah ada warga yang diproses hukum. Pasalnya, pihak berwenang kesulitan mendapatkan bukti-bukti kuat, meskipun penyebab kebakaran diduga kuat karena perilaku manusia yang tidak bertanggung jawab.

Kebakaran Permukaan Menurut Sudiyono, kebakaran di dalam kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani masih tergolong kebakaran permukaan karena hanya membakar rerumputan kering.

Berbeda dengan di Kalimantan dan Sumatera tergolong kebakaran bawah karena menghanguskan lahan gambut.

Kebakaran permukaan memang tidak begitu berdampak besar terhadap habitat satwa. Pasalnya, hewan-hewan berukuran besar memiliki insting menyelamatkan diri ke kawasan yang ditumbuhi pepohonan besar ketika terjadi kebakaran padang rumput.

Namun, hal yang paling diantisipasi adalah kebakaran bawah menjadi kebakaran atas, yakni terbakarnya pepohonan hingga kobaran api menjulang tinggi.

Hal itu bisa terjadi jika api yang membakar padang rumput dibiarkan menjalar ke dalam kawasan hutan yang ditumbuhi pepohonan.

Apalagi, hal itu tidak ditangani serius. Kobaran api juga bisa merembet ke pemukiman padat penduduk yang berada di bawah kaki Gunung Rinjani, khususnya desa-desa di Kecamatan Sembalun, Kabupaten Lombok Timur.

Aktivitas pendakian sudah ditutup sejak terjadinya rentetan gempa bumi dengan magnitudo 6-7 Skala Richter (SR) yang terjadi pada 29 Juli hingga sepanjang Agustus 2018. Untuk sementara, tidak ada manusia yang naik gunung hingga batas waktu yang belum ditentukan.

Sepinya para pendaki tentu berpengaruh terhadap kecilnya potensi kebakaran akibat ulah pendaki yang membuang puntung rokok sembarangan di dalam kawasan sabana.

Namun, hal yang paling dikhawatirkan adalah pembakaran lahan kebun oleh warga tanpa memperhatikan bahaya yang bisa ditimbulkan. Jika aktivitas tersebut tidak dikontrol, api bisa merembet ke dalam kawasan taman nasional yang jaraknya dekat dengan lahan milik warga.

3 dari 3 halaman

Sosialisasi Bahaya Pembakaran Lahan

Untuk mencegah terjadinya kebakaran hebat, BTNGR terus menerus melakukan sosialisasi bahaya pembakaran lahan kepada masyarakat di 38 desa lingkar Gunung Rinjani.

Sosialisasi dilakukan oleh petugas yang tersebar di Resor Sembalun dan Joben, Kabupaten Lombok Timur, dan Resor Setiling di Kabupaten Lombok Tengah, serta Resor Senaru, Kabupaten Lombok Utara.

Pihaknya juga terus mengaktifkan kelompok masyarakat yang tergabung dalam Masyarakat Peduli Api (MPA). Mereka selalu siap siaga dan cepat melapor kepada pihak berwenang ketika terjadi kebakaran di dalam kawasan hutan.

Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah II BTNGR, Benedictus Rio Wibawanto, menyebutkan jumlah anggota MPA 90 orang. Mereka tersebar di Resor Sembalun 30 orang, Resor Senaru 30 orang, dan gabungan Resor Setiling-Joben 30 orang.

Ada juga Masyarakat Mitra Polisi Kehutanan (MMP). Mereka adalah kelompok masyarakat sekitar hutan yang membantu polisi hutan (polhut) dalam pelaksanaan perlindungan hutan di bawah koordinasi, pembinaan, dan pengawasan instansi pembina.

Anggota MMP lingkar Gunung Rinjani berjumlah 136 orang yang tersebar di empat resor di wilayah kerja BTNGR. Mereka berasal dari berbagai unsur, seperti kepala dusun, guru, dan ibu rumah tangga yang sukarela dan ikhlas membantu menjaga kelestarian kawasan hutan.

BTNGR sebagai instansi vertikal di bawah Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup (LHK) juga membentuk kader konservasi. Mereka berasal dari semua kalangan, seperti guru, pecinta alam, anggota pramuka, dan ibu rumah tangga.

Seluruh masyarakat yang memiliki kepedulian terhadap upaya menjaga Gunung Rinjani sudah pernah mendapatkan pelatihan, khususnya tentang teknis pemadaman api.

Materi tersebut diberikan oleh petugas khusus yang ahli memadamkan kebakaran hutan maupun melakukan pencarian dan pertolongan.

BTNGR memiliki dua petugas khusus yang tergabung dalam Satuan Manggala Agni Reaksi Taktis (SMART). Wadah tersebut dibentuk oleh Kementerian LHK dalam rangka menurunkan angka titik panas secara nasional pada 2010.

Pada awal musim kemarau setiap tahun, para pihak terkait dan masyarakat berkumpul dalam suatu apel siaga kebakaran hutan bersama anggota TNI-Polri. Khusus untuk anggota MPA yang terlibat dalam upaya pemadaman api diberikan apresiasi, meskipun nilainya tidak seberapa dibandingkan dengan tugas yang harus dijalankan.

Bahkan, mereka harus menahan haus dan bercucuran keringat karena terbatasnya air bersih untuk diminum ketika berhadapan dengan api.

Semua yang terlibat dalam proses pemadaman api di dalam kawasan Taman Nsional Gunung Rinjani ibaratnya “Pantang pulang sebelum api padam”.

Mereka rela berhari-hari di atas gunung mendirikan kemah pos, sampai api benar-benar tidak menyala lagi.

Saksikan video pilihan berikut ini:

Operasi Penyelamatan Pahu di Kalimantan

Liputan6.com, Balikpapan – Pagi-pagi, Pahu (20) terlihat bersemangat menapaki sekeliling boma, kandang buatan hutan Kelian Kutai Barat (Kubar) Kalimantan Timur (Kaltim). Sesekali badak betina seberat 356 kilogram ini mengendus sekaligus menukil tanah mempergunakan moncongnya di kubangan lumpur.

Hewan mamalia besar bernama latin decerorhinus sumatrenis ini sepertinya sedang mencari sisa makanan.

“Pagi hari memang merupakan jadwalnya masuk kandang rawat untuk meminta makan,” kata Koordinator Tim Rescue Badak Kalimantan, Arif Rubianto, beberapa waktu lalu.

Rutinitas Pahu memang seperti itu setiap paginya. Badak Sumatra ini gemar menikmati ragam pakan dedaunan dan buah buahan khas Kalimantan. Satwa langka yang ditemukan di Kubar ini menyukai tiga jenis makanan, yakni rumpun semak, akar pohon (liana), dan buah nangka.

Kedatangan pawang sembari membawa keranjang pakan pun tidak luput perhatiannya. Salah seorang keeper tim rescue ini cukup mencicit menirukan bunyi persis disuarakan badak. Suaranya persis lumba-lumba yang dibunyikan terus menerus.

“Kadang kala suaranya seperti kicauan burung,” papar Arif.

Seolah paham panggilan makan, Pahu setengah berlari memasuki kandang. Badak Sumatra ini lahap menikmati pakan segar kegemarannya.

Kala badak asyik bersantap dimanfaatkan tim medis mengobservasi kesehatan fisiknya. Seluruhnya diperiksa, mulai ujung kepala hingga setiap pangkal buku kakinya.

Kesimpulannya, badak Pahu dalam kondisi prima. Kesehatannya terus membaik terlihat dari peningkatan signifikan berat badannya menjadi 356 kilogram. “Berat badan badak semula hanya 320 kilogram.  Sekarang sudah naik dan kesehatannya normal,” ungkap Arif.

Selama tiga bulan terakhir, Pahu memperoleh penanganan khusus dari tim medis maupun pawang. Tidak sembarang orang diperkenankan berinteraksi dengan badak yang statusnya sangat terancam ini. Salah satu alasannya, menjaga agar badak tidak berlaku jinak terhadap manusia.

“Nantinya badak akan dilepaskan di alam liar. Hanya keeper khusus yang boleh memberi makan mempergunakan tangan. Petugas lainnya dilarang mendekati pagar perawatan,” ujar Arif.

Selesai memperoleh perawatan, Pahu lantas dibiarkan kembali ke kandang utamanya berukuran 50 x 80 meter. Tempat dimana ia menghabiskan waktunya seharian bermalasan.

2 dari 3 halaman

Badak di Belantara

Kegiatan badak terbilang monoton, berkubang dalam lumpur, menggosok badan, makan siang, berendam air, tidur siang, makan sore, tidur malam hingga dilanjutkan pagi harinya.  

“Seluruh aktifitasnya terekam dalam cctv di pagar kandang,” ungkap Arif.

Selama itu pula, mereka mengidentifikasi ciri fisik badak setinggi 101 centimeter dan berat 356 kilogram. Ukuran badannya terbilang kerdil bila dibandingkan sejawatnya badak sumatra berukuran lebih kekar setinggi 145 centimeter dan berat 800 kilogram.

Selain itu, gigi seri badak kalimantan saat dihitung sebanyak empat buah, sedikit lebih banyak dari badak sumatra hanya dua buah.

Uniknya lagi, ciri fisik badak kalimantan pun berbeda dengan kerabat dekatnya, badak di Sabah Malaysia. Badak negeri jiran sedikit lebih besar dengan tinggi 120 centimeter dan berat 550 kilogram.

Hanya memang, kajian genetiknya menempatkannya dalam rumpun populasi badak sumatera. Soal keberadannya ribuan kilometer di Kalimantan masih misteri. Belum ada penjelasan ilmiah keberadaan badak Sumatera di Kalimantan.

Pahu sendiri terperangkap lubang jebakan tim rescue di sekitar Sungai Kedang Pahu Kabupaten Kubar Kaltim, November lalu. Lokasi penemuan badak berdekatan dengan Sungai Pahu yang merupakan salah satu anakan Sungai Mahakam.

Nama sungai ini lantas diabadikan sebagai nama temuan badak kalimantan.

Penangkapannya merupakan prestasi sendiri mengingat tim berjibaku memburu badak kalimantan sejak tiga tahun terakhir. Mereka awalnya hanya menelusuri mitos soal keberadaan satwa langka badak di belantara.

Selama bertahun tahun, masyarakat Kaltim mendengar rumor kawanan badak. Informasinya bersumber dari warga adat dan pegawai perkebunan. Sayangnya memang belum ada bukti otentik keberadaannya.

Titik terang fakta keberadaannya mulai terkuak dua tahun silam, bulan Maret 2016. Tim rescue mendapati badak berusia 10 tahun terjerat senar jebakan pemburu. Badak malang lantas di evakuasi ke kantong populasi I Kubar.

Sayangnya, badak dinamai Najag ini gagal bertahan hidup. Badak sumatra ini menderita infeksi akut di kaki kirinya dimana terdapat luka jeratan sedalam 1 centimeter.

Peristiwa ini sepertinya menjadi pembelajaran tim rescue badak. Mereka akhirnya extra hati hati dalam penyelamatan penanganan badak yang populasinya diperkirakan tersisa tiga ekor di Kalimantan.

“Petugas rescue ada 40 orang yang mengawasi aktifitas badak selama 24 jam,” tutur Arif.

3 dari 3 halaman

Mencarikan Jodoh Pahu

Tim rescue ini pun akhirnya memperluas area pemantauan hingga masuk perbatasan Kalimantan Utara (Kaltara) dan Kalimantan Tengah (Kalteng). Kerja kerasnya terjawab dengan ditangkapnya Pahu di suatu kawasan di Kalbar.

Saat bersamaan, penggiat lingkungan sedang mengupayakan aktifasi pembangunan suaka badak seluas 6.700 hektare berlokasi di Kelian Kubar. Lokasi suaka ini nantinya bisa menjadi pusat perkembangbiakan satwa badak di Kalimantan.

“Temuan Pahu menjadi awal pembibitan badak,” ungkap Arif.

Sementara ini, sudah tersedia sarana kandang khusus perawatan, pembibitan, dan infrastruktur tim rescue lapangan. Secepatnya akan ditambah sarana baru seperti pedok, kandang rawat, karantina, klinik satwa, pondok pawang, pembibitan pakan, dan infrastruktur.  

Manusia harus campur tangan aktif dalam upaya penyelamatan keberlangsungan badak di Kalimantan. Proses perkembangbiakan diupayakan dengan mengawinkan spesies badak yang sama. Tugas utama adalah mencarikan badak jantan dijodohkan dengan Pahu.

“Ini program jangka panjang yang akan berlangsung selama 25 hingga 100 tahun kedepan,” tegasnya.

Tim rescue mencari kelompok kawanan Pahu yang masih tersisa. Bukan perkara gampang mengingat luasnya medan harus dijangkau. Apalagi mereka mengejar waktu dengan para pemburu liar.

Tim rescue memasang lubang jebakan di sejumlah lokasi perlintasan badak. Pemasangan jebakan diperluas hingga memasuki wilayah perbatasan di Kaltara dan Kalteng. “Kalau ada badak pejantan akan dikawinkan dengan Pahu,” sebutnya.

Di sisi lain, tim pun berjibaku membaca berbagai informasi dari camera trap sudah terpasang. Petugas melawan berbagai kendala seperti faktor cuaca, sulitnya medan hingga non teknis. “Sebelum turun di lapangan ada pelatihan dulu bagi pemula,” tuturnya.

Kalimantan Program Director WWF Indonesia Irwan Gunawan mengabarkan, Pahu merupakan sub spesies badak baru dunia. Badak ini memiliki kekerabatan yang erat dengan badak sumatra. Uji tes DNA sedang dilakukan guna memperkuat teori genetik badak ini.

“Ada kecenderungan temuan sub genetis spesies baru badak,” ungkapnya.

Irwan mengatakan, keberadaan badak kalimantan terungkap berkat masifnya eksploitasi sumber daya alam di Kalimantan. Sejumlah wilayah jelajah badak sudah beralih rupa menjadi kawasan terbuka seperti pemukiman warga, pertambangan, dan perkebunan.

Hanya saja memang populasi badak ini berada dalam ambang gawat nyaris punah. Soal ini, WWF menjadi salah satu non goverment organization (NGO) yang mendorong realisasi pembentukan lokasi suaka di Hutan Restorasi Kelian Kubar.

Pihak pemerintah, dalam hal ini Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kaltim Sunandar tetap menguatarakan optimisnya dalam upaya penyelamatan badak. “Populasi kemungkinan badak masih tersisa 10 hingga 12 ekor. Keberadannya tersebar merata di seluruh hutan Kalimantan,” sebutnya.

Lokasi dugaan kuat perlintasannya sudah diketahui, hanya belum bisa di publikasi. Khawatirnya merangsang pihak lain melakukan perburuan.

Seluruh badak badak nantinya akan direlokasikan ke Hutan Kelian Kubar. Hutan ini menjadi pusat perkembangbiakan berkelanjutan badak kalimantan. Campur tangan manusia diharapkan mendorong populasinya menjadi 20 ekor.

Langkah terakhir adalah menetapkan lokasi hutan tempat pelepasliaran kawanan badak. BKSDA Kaltim menghubungi sejumlah daerah yang menyatakan kesediannya menjadi lokasi pelepasliaran badak. “Ada beberapa daerah bersedia menjadi lokasi pelepas liaran badak,” tegasnya.

Saksikan video pilihan berikut ini:

Berkonflik dengan Manusia, Gajah di Botswana akan Dijadikan Pakan Ternak

Liputan6.com, Gaborone – Pemerintah Botswana tengah mempertimbangkan pencabutan larangan berburu gajah, menyusul sejumlah kasus penyerangan hewan tersebut terhadap warga negara. Hal ini disampaikan oleh subkomite peninjau moratorium perburuan pada Kamis, 21 Februari 2019.

Sebuah laporan menteri kabinet juga mengatakan bahwa gajah yang kemudian mati karena diburu, akan digunakan untuk makanan hewan peliharaan, dikutip dari situs abc.net.au, Sabtu (23/2/2019).

Masyarakat yang bertempat tinggal di dekat habitat gajah mendukung pemberlakuan perburuan. Mereka beralasan bahwa jumlah konflik antara manusia dan satwa liar meningkat sejak larangan berburu diterapkan pada 2014.

Namun para konservasionis menyatakan bahwa sektor pariwisata yang menjadi andalan negara di benua Afrika Selatan itu akan menurun. Mengingat, gajah adalah salah satu primadona turis mancanegara.

Saat ini, memang terdapat 130.000 gajah di Afrika Selatan dengan Botswana merupakan habitat bagi sebagian besar hewan tersebut. 

Warga Menolak

Senada dengan konservasionis, beberapa warga Botswana juga menolak diperbolehkannya berburu.

Gajah sama-sama makhluk hidup dan makhluk sosial seperti manusia. Mencabut larangan berburu, maka sama dengan menolak hak-hak mereka. Menembak mereka sama dengan membunuh manusia,” kata Ashwin Kumar dalam balasan terhadap tweet pemerintah.

Sementara itu, pengguna akun @mulalamovement mengatakan bahwa sudah seharusnya berburu dilarang. Menurutnya, berkat pelarangan itu Botswana terdepan dalam menjaga satwa liar.

“Jangan cabut larangan. Tetap di jalur dan terus menjadi juara konservasi,” katanya.

Rencana kontroversial ini akan dibahas oleh kabinet sebelum dikeluarkan sebagai keputusan final, sebagaimana dinyatakan oleh Presiden Botswana Mokgweetsi Masisi.

Selain itu, menanggapi kritik dari banyak pihak, Masisi menyatakan bahwa perburuan masih dilarang untuk sementara waktu. Hal ini berkaitan dengan beberapa spesies hewan yang tengah menurun.

“Aku berjanji akan mempertimbangkannya,” kata Masisi.

“Kertas putih akan segera dibuat dan akan dibagikan kepada publik,” pungkasnya.


Simak pula video pilihan berikut:

2 dari 2 halaman

87 Gajah Botswana Ditemukan Mati Tanpa Gading

Sementara itu, belum lama ini puluhan gajah didapati mati di dekat tempat perlindungan satwa liar yang terkenal di Botswana.

Sebuah penyidikan menemukan sekitar 87 ekor gajah yang diambil gadingnya. Keseluruhan gajah itu terbunuh dalam tiga bulan terakhir.

Tak hanya gajah, ada sekitar lima badak putih yang juga diburu dalam tiga bulan terakhir. Diperkirakan bahwa perburuan ini dilakukan oleh sejumlah orang asing di negara tetangga yang menyeberangi perbatasan ke Botswana, demikian dikutip dari laman ABC Indonesia.

Mike Chase dari grup Elephants Without Borders mengatakan dia terkejut dengan temuan itu.

“Skala perburuan gajah sejauh ini adalah yang terbesar yang pernah saya lihat, atau baca di mana saja di Afrika hingga saat ini,” katanya kepada BBC.

“Ini membutuhkan tindakan segera dari Pemerintah Botswana.”

Populasi gajah Afrika telah merosot dari jutaan menjadi sedikitnya 415.000 hari ini. Di Tanzania saja, populasi gajah menurun 60 persen menjadi 43.000 antara 2009 dan 2014 menurut pengakuan pemerintah.

Bangkai ditemukan di dekat perlindungan satwa liar Okavango Delta yang dilindungi, yang terpencil di Botswana.

“Orang-orang memang memperingatkan kami tentang masalah perburuan yang akan datang dan kami pikir kami siap untuk itu,” kata Dr Chase.

“Para pemburu sekarang mengarahkan senjata mereka ke Botswana. Kami memiliki populasi gajah terbesar di dunia dan musim terbuka bagi para pemburu gelap.

“Jelas kita perlu berbuat lebih banyak untuk menghentikan skala dari apa yang kami rekam pada survei,” pungkas Dr Chase.

Kawanan Gajah Masih Betah di Kebun Warga

Liputan6.com, Pekanbaru- Belasan Gajah Sumatera sepertinya masih betah mengitari sejumlah kebun warga di Desa Maharani, Kecamatan Rumbai, Kota Pekanbaru. Sejauh ini belum ada tanda-tanda satwa berbelalai dan bongsor itu meninggalkan lokasi sejak datang beberapa hari lalu.

Pemilik lahan kelapa hybrida, kelapa sawit, pisang serta tanaman lainnya belum berani menjenguk kebunnya. Mereka hanya pasrah tanaman mereka dicabut lalu dimakan oleh satwa bernama latin Elephas Maximus Sumatrensis ini.

Beberapa personel dari Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau dan pawang dari Pusat Latihan Gajah (PLG) Minas sudah di lokasi memantau pergerakan kawanan gajah dimaksud. Kewaspadaan tinggi menjadi syarat penanganan karena sewaktu-waktu gajah bisa menyerang.

“Sudah dari malam sampai pagi tadi kami ikuti, sekarang kami masih di lokasi,” terang pawang gajah dari PLG Minas, Widodo pada Selasa petang, 19 Februari 2019.

Selama di lokasi, Widodo mengaku sudah melihat kawanan gajah yang meluluh-lantakkan puluhan batang kelapa hybrida milik Mangido Nababan. Secara perlahan, dia mengiring gajah itu untuk kembali masuk ke hutan.

Hingga kini, penggiringan masih dilakukan secara manual. Petugas mengikuti gajah dari belakang dan membuatnya supaya kembali lagi ke hutan di kawasan Minas.

Petugas di lapangan juga dibekali mercon atau alat-alat yang menimbulkan suara jika dipukul. Hanya penggunaannya tak sembarangan karena dibawa untuk jaga-jaga jika gajah mendekat. “Mercon ada, itu alat kita. Digunakan sewaktu-waktu saja, untuk jaga-jaga saja,” sebut Widodo.

2 dari 2 halaman

Kelompok 11

Sejauh ini, Widodo belum berniat mengerahkan gajah jinak dari PLG Minas. Menurutnya hal itu dilakukan jika penggiringan secara manual dan bunyi-bunyian sudah tidak ampuh lagi.

“Kalau kuwalahan baru dikerahkan gajah jinak, di PLG itu ada 17 ekor,” sebut Widodo.

Penuturan Widodo, gajah itu sudah dua hari masuk ke kebun warga. Hanya saja warga tidak melapor karena pihak RT yang sering berkomunikasi dengan PLG ataupun BBKSDA Riau tidak berada di desa tersebut.

“Malahan kami tahu dari media, makanya turun ke lokasi,” sebut Widodo.

Sementara itu, Kabid II BBKSDA Riau Heru Sutmantoro menyebut kawanan gajah itu sering melintasi Kabupaten Kampar, Kota Pekanbaru dan Minas, Siak. Kawanan ini merupakan satu di antara beberapa kantong gajah di kawasan tersebut.

Dia memperkirakan ada 22-24 ekor gajah liar masih mendiami kantong gajah tersebut dan terbagi dalam dua kelompok besar. Untuk gajah di kebun itu, Heru menyebut masuk dalam kelompok 11.

“Mereka terus bermigrasi untuk mencari makan dan melakukan penandaan wilayah dia,” paparnya..

Belakangan, tambah Heru, habitat gajah semakin terancam dengan semakin banyaknya perkebunan sawit serta pemukiman. Hal ini membuat intensitas kemunculan meningkat karena pemukiman dan kebun buatan manusia itu termasuk home range atau area pergerakan gajah secara periodik.

Saksikan video pilihan berikut ini:

Derita Anak Gajah Hidup dengan Belalai Terpotong

Liputan6.com, Lampung – Bupati Lampung Timur Chusnunia Chalim kembali mengajak peduli pada nasib gajah betina bernama Erin yang berumur sekitar lima tahun. Erin mengalami cacat akibat jeratan pemburu liar separuh belalainya terputus.

Setelah sebelumnya sejumlah pihak menunjukkan kepedulian pada nasib gajah Erin itu, kini perhatian kembali datang dari Bupati Lampung Timur Chusnunia Chalim.

Prihatin dengan kondisi Erin, Cusnunia Chalim, melalui akun instagramnya Noenia_ch mengunggah video pendek Erin disertai keterangan ajakan peduli kembali terhadap satwa berbadan besar, berbelalai, dan termasuk salah satu spesies satwa langka yang dilindungi di dunia tersebut.

Dilansir Antara, pada akun instagramnya, Chusnunia menulis Erin adalah gajah kesayangannya. Dia menulis ajakan menengok Erin di Taman Nasional Way Kambas dan berpesan tidak lupa membawa makanan kesukaannya.

2 dari 2 halaman

Harus Menunduk Ketika Makan

Makanan yang disukai Erin, kata Chusnunia, adalah buah-buahan dan sayur-sayuran.

Ini Erin, kesayanganku, yang belalainya terkena jerat hingga putus. Alhamdulillah mahot-mahot sayang pada Erin, ayo berkunjung ke Way Kambas, tengok Erin kecil, jangan lupa bawa makanan ya, bisa pisang, sayur-sayuran, kacang panjang, jagung, Erin suka macam-macam sayuran, bantu rawat Erin ya,” tulis Chusnunia Chalim di akun IG-nya itu pula.

Erin berada di Pusat Konservasi Gajah (PLG) Taman Nasional Way Kambas, Kabupaten Lampung Timur, Provinsi Lampung.

Gajah betina Erin yang berumur sekitar lima tahun itu, belalainya telah terpotong akibat jerat, dan diselamatkan Tim Elephant Response Unit (ERU) Way Kambas pada tahun 2016.

Namun, sampai dengan saat ini untuk makan Erin harus menunduk, bahkan terkadang disuapi oleh pengasuhnya (mahot/pawang).

Tahun 2018 lalu, Erin telah mendapat perhatian banyak pihak, termasuk dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).


Simak video pilihan berikut ini:

Malam Mencekam Saat Belasan Gajah Cabut Puluhan Pohon Kelapa di Pekanbaru

Liputan6.com, Pekanbaru- Belasan Gajah Sumatera memakan puluhan batang kelapa hybrida milik warga bernama Mangido Nababan di Jalan Maharani, Kecamatan Rumbai, Kota Pekanbaru. Pria 59 tahun ini tak bisa berbuat dan hanya pasrah melihat tanamannya porak-poranda oleh satwa berbelalai dan berbadan bongsor itu.

Mangido dihubungi wartawan pada  menjelaskan, kedatangan satwa bernama latin Elephas Maximus Sumatrensis itu dikabarkan penjaga kebunnnya, Nono. Kala itu, dia sedang tidur dan terbangun oleh dering telepon selulernya.

”Pak Nababan cepat ke kebun, tanaman bapak habis dimakan gajah,” kata Mangido menirukan perkataan Nono di ujung telepon, Senin (18/2/2019) petang.

Mangido memang tak bergegas ke kebun karena sadar takkan bisa mengusir belasan gajah itu. Dia baru ke kebunya pukul 9.00 WIB, lalu mendatangi Nono untuk mencari tahu kronologis masuknya gajah itu ke kebun.

Saat gajah datang, Nono engah tidur di pondok. Patahan demi patahan pelepah kelapa dan bunyi ringsek pohon membangunkannya lalu mengintip ke luar yang masih gelap.

“Nono ini tak berani keluar, dia hanya melihat dari kejauhan karena takut menjadi sasaran,” cerita Mangido.

Pengakuan Nono, gajah itu berjumlah 13 ekor dan terdiri dari berbagai ukuran, mulai dari besar hingga kecil. Gajah itu bergerak meninggalkan kebun beberapa jam kemudian karena sudah kenyang.

“Barulah Nono ini keluar paginya untuk melihat, ternyata puluhan kelapa sudah tumbang,” kata Mangido.

2 dari 2 halaman

Bukan Pertama Kali

Mangido menyebutkan, bukan kali ini saja kawanan gajah datang ke kebunnya. Hampir tiap tahun sejak tahun 2017, kawanan itu menghampiri kebun kepala dan memakan isinya.

“Kalau kebun sebelah untuk tahun ini saja sudah lima kali gajah datang ke sana,” jelasnya.

Mangido menyebut, kedatangan pertama kali terjadi pada 31 juli 2017. Kala itu gajah liar merusakan sekitar 90 batang sawitnya. Selanjutnya pada 10 Agustus 2018, di mana ada 40 batang kelapa dirusak.

”Ada juga tanaman pisang yang dimakan dan tanaman lainnya selain kelapa hybrida,” sebut Mangido.

Mangido sadar bahwa kebunnya saat ini merupakan perlintasan gajah. Diapun berharap ada solusi dari pihak terkait agar masalah ini tidak terulang tiap tahunnya.

“Harapannya gajah ini dipindah, kalau tidak bisa tak makan saya dan keluarga,” ucapnya.

Inspirator Pelestarian Lingkungan, Pemkot Bitung Resmikan Monumen Alfred Russel Wallace   

Liputan6.com, Jakarta Pemerintah Kota Bitung beserta segenap elemen masyarakat pencinta lingkungan, menyelenggarakan kegiatan perayaan 100th Natuurmonument Goenoeng Tangkoko Batoeangoes pada tanggal 20 – 21 Februari 2019, bertempat di lapangan Singkanaung – Kampung wisata Batuputih. Kegiatan perayaan dikemas dalam berbagai kegiatan tontonan yang penuh tuntunan yang terdiri dari Workshop masyarakat & Komunitas, Talkshow, Pameran dan Konser Musik Alam.

Kegiatan talkshow akan menampilkan narasumber ahli diantaranya : Harry Hisler – UK; Dou Van Hoang – Vietnam ; Khouni Lomban Rawung dan Rahmi Handayani yang akan mengupas terkait pendekatan kampanye dan pelestarian lingkungan hidup melalui berbagai perspektif yang berbeda.

Kegiatan pameran akan melibatkan 24 komunitas lingkungan dan pariwisata yang bersama sama akan melandasi pengembangan kampung wisata Batuputih sebagai kampung wisata berbasis konservasi. Musisi Nugie dan Tanita bersama The early bird, lamp of bottle, jarank pulang dan 4play akan menyajikan konser alam yang mengajak seluruh pengunjung menghargai dan merawat alam melalui alunan musik.

Sebagai puncak kegiatan, akan diresmikan monumen Alfred Russel Wallace sebagai sosok inspirator dalam gerakan pemuliaan lingkungan bertempat di dalam Taman Wisata Alam Batuputih dan Batuangus. Monumen ini juga sekaligus menjadi simbol keunikan satwa endemik di Sulawesi serta menjadi peringatan bahwa mengkonsumsi satwa liar asli secara berlebihan bisa berujung pada kepunahan. Pada acara ini akan dihadir bapak Paul Smith OBE, Country Director British Councill Indonesia sebagai perwakilan negara sahabat.

Kota Bitung merasa bangga karena sejak kunjungan Wallace hingga hari ini, Batuputih mampu menarik para ilmuwan dan pelajar dari seluruh belahan dunia untukmempelajari keunikan dan kekayaan serta keanekaragaman hayati Sulawesi Utara di Tangkoko. Kehadiran monumen ini diharapkan dapat melindungi dan menghormati warisan alam kita sampai ke generasi yang akan datang.

Walikota Bitung, Max Lomban menyatakan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk melanjutkan keteladanan para pendahulu dalam menjaga dan melestarikan lingkungan, namun juga turut mendorong percepatan pembangunan pariwisata di kawasan Batuputih. Akan turut diluncurkan paket wisata “Jelajah Tangkoko” sebagai paket unggulan bagi para wisatawan untuk dapat menjelajahi keunikan alam dan budaya di kawasan Tangkoko.

Hutan Tangkoko-Batuangus

Hutan Tangkoko-Batuangus, merupakan salah satu hutan konservasi tertua di Indonesia yang ditetapkan melalui surat keputusan Gubernur Jendral Hindia Belanda pada tahun 21 Februari 1919. Pada tanggal 24 Desember 1981, kementrian pertanian Republik Indonesia merubah status Cagar Alam Gunung Tangkoko Batuangus seluas 1.250 Ha menjadi Taman Wisata Alam Batuputih (615 Ha) dan TWA Batuangus (635 Ha).

Sesuai dengan penetapan awalnya, tujuan pengelolaan kawasan ini adalah untuk perlindungan dan pelestarian satwa endemik, dan kegiatan wisata. Dalam perkembangannya, cagar alam Gunung Tangkoko-Batuangus mengalami perubahan berdasarkan SK Mentri Kehutanan RI No SK/1826/Menhut-VIII/KUH/2014 tentang penetapan kawasan hutan pada kelompok hutan Dua saudara seluas 8.5045.07 Ha. Kawasan ini terdiri dari Cagar Alam Dua Saudara (7.247,46 Ha) TWA Batu putih (649 ha), TWA Batuangus ( 648.57 Ha)

Terlepas dari penamaan yang berganti, dunia tetap mengenal kawasan TANGKOKO sebagai salah satu laboratorium hidup dengan tempat keragaman ekologi yang menawan. Adalah Alfred Russel Wallace, seorang naturalis berkebangsaan Inggris yang memulai perjalanan dan pengamatannya dengan meneliti fauna di kepulauan Indonesia bagian timur. Hasil pengamatannya dituliskan dalam sebuah buku bertajuk “THE MALAY ARCHIPILAGO”. Sebuah buku yang menginspirasi jutaan generasi setelahnya tentang kekayaan biogeografi untuk sekelompok pulau yang dipisahkan oleh selat yang dalam yang memisahkan lempeng ASIA dan AUSTRALIA”.

Sepak Terjang Alfred Russel Wallace

Alfred Russel Wallace dikenal sebagai penemu teori evolusi melalui seleksi alam dan membuat tulisan bersama Charles Darwin yang membahas subjek tersebut. Beliau dianggap sebagai “Bapak dari Biogeografi”- sebuah studi mengenai distribusi secara geografi dari flora dan fauna.

Alfred Russel Wallace yang lahir pada 8 Januari 1823 dan meninggal pada 7 November 1913) adalah seorang naturalis, ahli biologi, penjelajah, geografer dan antropolog dari Britania Raya. Ia paling dikenal akan pemahamannya tentang teori evolusi melalui seleksi alam. Tulisannya yang membahas tentang subjek tersebut diterbitkan bersamaan dengan beberapa tulisan Charles Darwin pada tahun 1858. Hal ini mendorong Darwin untuk mempublikasikan gagasannya sendiri dalam bukunya yang berjudul “Origin of Species”(Asal Usul Spesies).

Wallace banyak melakukan penelitian lapangan, pertama-tama di lembah Sungai Amazon dan kemudian di Kepulauan Melayu (Nusantara),termasuk Celebes (Sulawesi). Observasinya yang tajam menyoroti keunikan dari biogeografi Sulawesi.

Di Indonesia, Wallace mengidentifikasi pembagian flora dan fauna yang sekarang dikenal dengan istilah Garis Wallace. Garis tak kasat mata ini melintang melewati di antara Bali dan Lombok ke arah utara di antara Borneo dan Sulawesi. Garis Wallace membagi kepulauan Indonesia menjadi dua bagian flora dan fauna yang berbeda, bagian barat terdiri dari fauna yang berasal dari Asia (primata, macan, harimau, gajah, badak, dsb) dan bagian timur terdiri dari fauna asal Australia (kakaktua, perkici, cendrawasih, marsupial, dsb).

Garis Wallace dan batasan biogeografi antara Papua dan Maluku kini didefinisikan sebagai area ekologis yang dikenal sebagai Wallacea. Wallacea dideskripsikan sebagai zona dengan persilangan flora dan fauna yang unik antara Asia dan Australia. Zona ini terdiri dari Sulawesi dan Kepulauan Maluku bagian utara, dan Kepulauan Nusa Tenggara bagian selatan.

Sekarang ini, zona tersebut dianggap sebagai salah satu dari titik dengan keanekaragaman hayati yang terkaya di dunia, dimana spesies baru yang bahkan belum pernah ditemukan oleh peneliti sebelumnya masih bermunculan sampai hari ini. Dalam sejarah taksonomi, penamaan spesies hewan berdasarkan nama Wallace jumlahnya lebih banyak jika dibandingkan dengan nama-nama yang lain.

Wallace melakukan perjalanan ke wilayah Minahasa dari bulan Juni sampai September 1859. Ia mengunjungi Batu putih selama seminggu pada pertengahan September tahun 1859 untuk mencari spesimen Maleo – burung endemik Sulawesi – sebagai bahan koleksi di museum sejarah alam di Inggris. Populasi Maleo di Batuputih sekarang sudah punah karena telur-telur mereka diambil oleh masyarakat untuk dikonsumsisecara berlebihan. Namun sampai saat ini sebagian masyarakat masih mengingat tempat bersarang Maleo yang terletak di sepanjang garis pantai ini di masa lampau.

Wallace mencatat bahwa masyarakat setempat biasanya berjalan sejauh 50 km untuk mengumpulkan telur Maleo di Batuputih, sebuah desa nelayan yang didirikan oleh warga keturunan Kepulauan Sangihe-Talaud. Burung Maleo, termasuk sarang dan telur mereka, kini sudah dilindungi hukum Republik Indonesia.

35 tahun setelah kunjungan Wallace, seorang Belanda ahli botani Dr. Sijfert Koorders melakukan survei di hutan Minahasa secara ekstensif pada tahun 1894-1895,tetapi ia sendiri tidak sempat mejelajahi Tangoko. Beliau sudah mempelajari publikasi dari Wallace dan mereka berdua surat-menyurat menggenai beberapa hal. Koorders juga sempat memberi nama sekelompok pohon di Sulawesi Wallaceodendron, sebagai tanda untuk menghormati Wallace. Dr. Koorders menjabat sebaga iketua Perkumpulan Perlindungan Alam Hindia Belanda (Nederlandsch-Indische Vereeniging tot Natuurbescherming), yang mengusulkan beberapa kawasan konservasidi Jawa, Sumatera, Sulawesi, Maluku dan Papua. Meskipun Koorders tidak pernah survei hutannya sendiri, “Goenung Tongkoko-Batoeangoes” di resmikan oleh pemerintah Hindia Belanda sebagai cagar alam pada 1919 karena memiliki “nilai ilmiah” berdasarkan flora dan fauna (Anoa, Babirusa dan Maleo).

Wallace sangat terpukau dengan Sulawesi karena keunikan formasi geologinya yang terbagi atas dua kawasan ekologi. Berdasarkan penelitiannya terhadap burung, serangga, mamalia, tumbuhan dan biota lainnya, ia bisa menjelaskan secara detail mengenai apa yang disebutnya sebagai “anomali dan eksentriknya sejarah alam di Sulawesi” Kata beliau, Sulawesi merupakan “..pulau yang kaya akan makhluk yang khas, banyak keistimewaan dan keindahan… sejumlah fauna disini begitu luar biasa dan tidak ada duanya di belahan dunia yang lain”

Sulawesi adalah satu-satunya wilayah di Asia yang mempunyai baik primata (seperti ragam spesies tarsius dan macaca) dan marsupial (seperti ragam spesies kuse kerdil dan kuskus beruang). Kita bisa melihat apa yang menjadi inspirasi di balik konsep biogeografi Wallace dan evolusi dari seleksi alam: “Maka dari itu, Sulawesi menunjukkan kepada kita bukti nyata mengenai pentingnya kita mempelajari distribusi geografis fauna.”


(*)