Sang Alang Minta Batalkan RUU Permusikan, Anang: Yang Harus Beri Input Seniman

Jakarta – Anggota Komisi X DPR sekaligus musisi Anang Hermansyah enggan kisruh RUU Permusikan dipolitisasi. Ananghanya ingin mendisukusikan aturan permusikan itu dengan sesama musisi.

“Jangan bicara itu, konteksnya sekarang undang-undang musik dibutuhkan atau tidak oleh seniman, konteksnya seniman yang harus beri masukan dan input. Ini tak boleh orang lain, senimannya ayo diskusi tentang itu, jangan dilebarkan,” kata Anang saat dihubungi, Selasa (5/2/2019).

Politikus PAN ini menyebut tak pernah membahas RUU Permusikan dengan partai koalisi di Pilpres. Sebab, menurutnya RUU permusikan harus dibahas oleh sesama seniman musik.

“Aku cuman bilang, aku mau diskusi tentang hal itu dari teman-teman seniman,” ujarnya.

Anang juga merinci masalah penolakan RUU Permusikan yang jadi kontroversi. Menurutnya, salah satu yang jadi masalah yakni rencana sertifikasi musisi yang tercantum dalam RUU Permusikan.

Soal sertifikasi musisis ini memang disinggung musisi Sang Alang yang juga pendukung dari Prabowo Subianto-Sandiaga Uno di Pilpres. Alang mempertanyakan untuk apa dibuat sertifikasi kepada musisi.

Anang menjelaskan dalam RUU Permusikan pasal 52 sudah dijelaskan bahwa seniman musik yang sudah memiliki karya yang diterima masyarakat secara otomatis tersertifikasi.

“RUU udah ditulis pasal 52, sebelum undang-undang ini lahir, buat seniman yang sudah memiliki karya yang diterima masyarakat dia otomatis tersertifikasi. Aku kalau ketemu orang yang nggak baca ya aku susah, aku sedih kalau nggak baca, kala mas baca kan pada saat dia (Sang Alang) bicara, ‘Mas Alang sudah baca ya?’ Kalau nggak baca capek dong. itu yang aku bilang,” lanjut dia.

Selain itu, Anang menegaskan RUU Permusikan masih bersifat draf. Dalam draf tersebut, pasal 51-52 berbunyi bahwa musisi yang sudah menghasilkan karya musik otomatis tersertifikasi. Sertifikasi hanya untuk seniman musik yang dari jalur pendidikan musik atau otodidak.

“Pelaku Musik yang telah menghasilkan karya Musik sebelum Undang Undang ini berlaku diakui sebagai Pelaku Musik tersertifikasi berdasarkan penilaian terhadap karya Musik yang telah dihasilkan. (2) Penilaian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh lembaga sertifikasi profesi yang telah mendapat lisensi sesuai dengan ketentuan perundang-undangan. (3) Proses pengakuan sebagai Pelaku Musik tersertifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) harus telah selesai dilakukan dalam jangka waktu paling lama 5 (lima) tahun dan setelahnya berlaku ketentuan sebagaimana diatur dalam Undang,” tulis dalam draf RUU Permusikan.

Anang mengatakan, seniman musik yang harus menempuh proses sertifikasi tercantum dalam RUU Permusikan pasal 32 hingga 34.

“Itu dibahas di pasal 32, 34, 35. Ada organisasinya, ada badannya nanti bersama menteri menyusun melalui organisasi profesi musik untuk merumuskan, yang menguji kita-kita juga yang punya pengalaman dan di situ ditulis,” paparnya.
(idn/fdn)

<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *