Ini Saran dari Buya Syafii Terkait Saling Klaim Menang di Pilpres

Ini Saran dari Buya Syafii Terkait Saling Klaim Menang di Pilpres Syafii Maarif (Foto: Ristu Hanafi/detikcom)

Sleman – Ahmad Syafii Maarif atau yang akrab disapa Buya Syafii meminta segenap masyarakat Indonesia menahan diri dan menunggu hasil resmi dari KPU soal pemenang Pemilu. Buya juga memberi masukan kepada dua kubu peserta Pilpres terkait penyelesaian adanya sengketa hasil Pilpres.

“Siapapun pemenangnya, kita tunggu hasil dari KPU, bulan depan. Jadi tidak perlu orang sekarang mengklaim menang atau kalah,” kata Buya kepada wartawan di kompleks kediamannya, di Perum Nogotirto Elok, Gamping, Sleman, DIY, Jumat (19/4/2019).

“Kita tunggu proses itu, walaupun sudah ada hitung cepat yang mengeluarkan pendapat itu, biar saja sebagai rujukan saja,” lanjutnya.


Buya juga mengajak kepada seluruh masyarakat agar menerima siapapun pemenang Pilpres 2019. Bagi pihak yang kalah juga harus legowo.

“Mari kita sama-sama menjaga keutuhan bangsa, perdamaian bangsa, kebhinekaan, pluralisme, sehingga bangsa ini utuh, bersatu, untuk mencapai tujuan kemerdekaan demi tegaknya keadilan sosial seluruh rakyat Indonesia,” pesan Buya.

Terkait kemungkinan adanya sengketa hasil Pemilu, Buya meminta agar diselesaikan melalui jalur hukum. Bukan dengan upaya inkonstitusional.

“Jangan di luar hukum, karena kita mempunyai Mahkamah Konstitusi, kita punya penegak hukum, jangan di luar hukum. Kita adalah negara hukum, tidak boleh main hakim sendiri, tidak boleh mengadu domba, tidak gampang percaya kepada hoax,” ujarnya.

Buya kembali menegaskan adanya klaim kemenangan dari pihak manapun untuk saat ini tidak perlu didengar karena bukan merupakan hasil resmi dari KPU. Ajakan gerakan inkonstitusional juga diminta tidak digubris.

“Kalau ada keputusan KPU dan ternyata jurdil, damai, secara konstitusi, harus kita akui. Jangan kita berspekulasi siapa pemenang siapa yang kalah sebelum itu,” jelasnya.

“(People power) Itu tidak usah didengarkan, karena itu di luar konstitusi, di luar hukum,” imbuh Buya.
(mbr/mbr)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

TKN Setuju Istilah ‘Cebong-Kampret’ Dikubur: Pilpres Bukan Saling Ledek

Jakarta – Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo (Jokowi)-Ma’ruf Amin setuju jika istilah ‘cebong-kampret’ dikubur. Direktur Kampanye TKN, Daniel Johan mengaku ingat zaman sekolah dasar (SD) yang kerap saling meledek.

“Setuju banget (istilah ‘cebong-kampret’ dikubur). Ledek-ledekan seperti itu jadi ingat waktu SD, kaya anak kecil saja,” kata Daniel saat dimintai tanggapan detikcom, Kamis (18/4/2019).

Istilah ‘cebong-kampret’ sendiri muncul saat memasuki Pilpres 2019. Menurut Daniel, pilpres bukan ajang untuk saling meledek antar pendukung.

“Pilpres itu kan hal biasa yang berlangsung rutin, bukan untuk memecah dan saling ledek, tapi saling berlomba menunjukkan yang terbaik, saling berlomba memenangkan hati rakyat,” jelasnya.

Anggota TKN Jokowi-Ma’ruf lainnya, Achmad Baidowi mengaku sejak awal tak setuju dengan istilah ‘cebong-kampret’. Namun, politikus yang kerap disapa Awiek itu menyadari tidak dapat membendungnya.

“Ya memang dari awal saya sepakat. Bahkan sejak lama ketika kontestasi sudah mulai kami termasuk yang tidak setuju dengan itu. Tapi kan kita hanya bisa mengimbau. Dan di lapangan itu kita tidak bisa mengendalikan orang per orang,” jelasnya.

Sebelumnya, cawapres Ma’ruf Amin menyuarakan kepada para pendukung kedua capres untuk kembali bersatu. Dia meminta tak perlu lagi ada sebutan ‘cebong’ (pendukung Jokowi) dan ‘kampret’ (pendukung Prabowo).

“Jangan lagi bunyi lagi. Selesai sampai kemarin. Kita kubur, ada ‘cebong’ ada ‘kampret’, kubur saja,” tegas Ma’ruf di kediamannya, Jalan Situbondo, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (18/4).
(zak/fai)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Kasus Penistaan Agama di Bangka Berawal dari Saling Ejek di Medsos

Pangkalpinang – Warga di Bangka Belitung (Babel), Daud Rafles (25) ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan penistaan agama. Kapolda Bangka Belitung Brigjen Istiono menyebut kasus tersebut berawal dari saling ejek antara Daud dengan temannya.

“Motifnya adalah saling ejek dengan rekannya di media sosial,” kata Istiono saat menggelar jumpa pers di Mapolda Babel, Selasa (9/4/2019).

Istiono menjelaskan, Daud saling ejek dengan temannya di media sosial. Karena ingin membalas temannya, Daud kemudian merekam aksinya saat membacakan salah satu surat di Alquran namun diplesetkan.

“Berdasarkan pemeriksaan sementara karena saling ejek, video tersebut di-upload pada Senin (8/4) ke grup alumninya hingga berujung viral di media sosial,” terang Istiono.

Pemeriksaan sementara, Daud merupakan residivis kasus pengeroyokan. Daud baru bebas pada Desember 2018 lalu.

“Hasil pemeriksaan petugas, pelaku adalah residivis kasus pengeroyokan dan menjalani hukuman selama 8 bulan, baru menghirup udara segar Desember 2018 lalu,” jelasnya.

Daud saat ini ditahan Polda Babel. Istiono memastikan pihaknya akan mengusut tuntas kasus tersebut.

“Kita akan usut tuntas video tersebut, termasuk pemeriksaan saksi-saksi,” tegasnya.

Sebelumnya diberitakan, penetapan Daud sebagai tersangka kasus dugaan penistaan agama berdasarkan hasil pemeriksaan penyidik Krimsus Polda Babel, usai ditangkap dan dilaporkan ke Polres Bangka Barat.

“Hasil pemeriksaan petugas subuh tadi dan langsung ditetapkan sebagai tersangka,” ujar Dirkrimsus Polda Babel AKBP Indra Krimasyadi.
(zak/dnu)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Posisi Pasutri di Malang Gantung Diri Saling Berhadapan

Posisi Pasutri di Malang Gantung Diri Saling Berhadapan Pasutri gantung diri di Malang/Foto: Istimewa

MalangPasutri gantung diri ditemukan dalam posisi berhadap-hadapan. Mereka adalah SP (52) dan istrinya TS (52), warga Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang.

Kedua bagian leher mereka terikat tali tambang. Bagian kepala sang suami masih memakai hoodie warna hitam, sementara sang istri terlihat memakai jaket dan kaki sebelah kanan masih tergantung di sebuah kursi plastik.

“Ditemukan gantung diri di lantai atas rumah. Posisinya saling berhadapan dengan tali berbeda mengikat leher kedua korban,” terang Kanit Reskrim Polsek Tumpang Ipda Sigit Hernadi kepada detikcom, Selasa (9/4/2019).

Kanit mengaku, tengah menyelidiki perkara ini dengan menggali keterangan dari sejumlah saksi. Seorang kerabat, pertama kali yang menemukan pasutri gantung diri. Saat itu rumah dalam kondisi sepi, tidak satupun penghuni bisa dijumpai saksi.

“Yang menemukan kerabatnya, yang biasa antar jemput cucu korban. Ketika dicari tidak ada, ternyata sudah meninggal di lantai atas dengan cara gantung diri,” ujar warga ditemui detikcom di lokasi kejadian.

Dia mengatakan selama ini keduanya tinggal bersama sang cucu. Sementara, putra si mata wayang korban tinggal di Bandung. “Anaknya satu tinggal di Bandung, kini dalam perjalanan pulang,” ungkap warga itu.
(fat/fat)

<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Penjara Seumur Hidup Gegara Saling Ejek Soal Pilpres

Jakarta – Idris harus menghadapi kenyataan dirinya divonis penjara seumur hidup karena terbukti bersalah melakukan pembunuhan berencana yang menewaskan Subaidi. Pembunuhan ini berawal dari perbedaan pilihan Pilpres.

Kasus ini berawal pada Minggu, 28 Oktober 2018. Saat itu, ada laki-laki datang ke rumah Idris hendak mengklarifikasi mengenai komentar akun milik Idris di laman Facebook yang membuat status berkaitan dengan capres.

Pada intinya, ada postingan di Facebook berbunyi:

Siapa pendukung Jokowi yang ingin merasakan pedang ini?

Lengkap dengan gambar pedang samurai. Akun milik Idris kemudian memberikan komentar di postingan itu:

Saya pingin merasakan tajamnya pedang tersebut.

Ketika didatangi oleh pria tersebut, Idris membenarkan bahwa akun tersebut merupakan miliknya. Namun, akun itu sudah tidak lagi dalam kendalinya lantaran ketika ponsel miliknya dijual, aplikasi Facebook di dalamnya masih dalam posisi belum di-log out.

Keesokan harinya, Idris mendapat kabar ada video viral mengenai dirinya saat tengah diklarifikasi mengenai komentar di postingan tersebut. Postingan video dari akun Ahmad Alfateh itu dibumbui dengan kata-kata bernada mengancam dan menyudutkan Idris.

Tak terima dengan postingan itu, Idris langsung mencari informasi dengan bertanya kepada temannya terkait akun Ahmad Alfateh mengunggah videonya. Singkat cerita Idris mengetahui bahwa akun Ahmad Alfateh itu dimiliki oleh seseorang bernama Subaidi.

Idris sempat mendatangi rumah Subaidi untuk mengklarifikasi postingan tentang video tersebut. Namun, dia tidak menemui Subaidi hingga akhirnya Idris mengetahui Subaidi bekerja sebagai tukang gigi.

Selanjutnya pada 21 November 2018, Idris keluar rumah dan sempat berpapasan dengan Subaidi. Idris dan Subaidi terlibat tabrakan motor kemudian berkelahi. Merujuk pada keterangan polisi, Subaidi sempat mengeluarkan pisau dalam perkelahian itu. Sedangkan Idris mengeluarkan pistol dan menembak dada kiri Subaidi hingga akhirnya tewas.

Jokowi: Jangan Sampai karena Pilpres, Teman Tak Saling Sapa

Liputan6.com, Jakarta – Calon presiden petahana Joko Widodo atau Jokowi mengingatkan masyarakat untuk menjaga persatuan dan kerukunan. Dia berharap Pemilu 2019 ini tidak membuat antartetangga dan antar teman saling tidak saling menyapa.

Hal itu disampaikan dalam kampanye terbuka di Pontianak, Kalimantan Barat, Rabu (27/3/2019). Jokowi mengatakan di Kalbar ini masyarakatnya memiliki keragaman yang Indah.

“Ada Dayak, Melayu, Jawa, Bugis, Banjar, adaTionghoa. Yang perlu saya ingatkan menjaga kerukunanan persaudaraan dan persatuan kita. Jangan sampai karena urusan politik, pilgub, pemilihan wali kota, pilihan presiden,” kata Jokowi, di Kubu Resor, Pontianak, Kalimantan Barat, dikutip dari keterangan resmi, Rabu (27/3/2019).

Jokowi mengatakan, perbedaan politik pun sesuatu yang wajar. Namun, jangan sampai gara-gara Pilpres antarteman dan antartetangga tidak saling sapa.

“Hati hati nanti antarkampung tidak saling ngomong gara-gara pemilihan bupati, antartetangga gara-gara pilgub, antara tetangga, antara teman nggak saling sapa gara gara presiden‎. Tetap kerukunan persaudaraan kita. Tetap hidup berdampingan karena Indonesia negara besar,” tegas mantan gubernur DKI Jakarta itu.

Jokowi pun menyanjung keberagaman masyarakat Kalimantan Barat. Menurut dia. perbedaan tidak menjadi penghalang, malah menyatukan masyarakatnya.

“Kalimantan Barat adalah miniaturnya Indonesia. Di sini semua suku ada, semua agama ada,” ujar Jokowi.

Jelang Laga, Saling Intai Terjadi antara Timnas Indonesia U-23 dan Vietnam

Jakarta – Timnas Indonesia U-23 dan Timnas Vietnam U-23 akan bentrok pada matchday kedua Grup K kualifikasi Piala AFC U-23 2020 di Stadion My Dinh, Hanoi, Minggu (24/3/2019). Semestinya kedua tim sudah tak asing satu sama lain karena baru bersua pada semifinal Piala AFF U-22 2019 di Olympic Stadium, Phnom Penh, Kamboja (24/2/2019).

Meski baru berjumpa satu bulan lalu, kekuatan kedua tim diyakini mengalami perubahan. Vietnam, misalnya, perubahan banyak terjadi dalam komposisi pemain mengingat adanya perubahan pelatih.

Saat Piala AFF U-22 2019, Timnas Vietnam U-22 dilatih Nguyen Quoc Tuan, saat ini Timnas Vietnam U-23 kembali dibesut pelatih Park Hang-seo. Park lantas memanggil beberapa pemain anyar dalam tim.

Perubahan juga terjadi di kubu Tim Garuda Muda, dengan masuknya tiga pemain yang berbasis di luar negeri.

Itulah mengapa, tim pelatih kedua tim mencoba mengintip kekuatan dan kelemahan terkini tim lawan. Timnas Indonesia U-23 dan Vietnam saling bergantian mematai penampilan lawan saat melakoni matchday pertama Grup K, Jumat (22/3/2019), di Stadion My Dinh.

Vietnam, yang dipimpin pelatih kepala Park Hang-seo, lebih dulu terlihat di tribune kehormatan Stadion My Dinh, untuk mengamati duel Thailand versus Indonesia. Laga ini memang lebih dulu dipertandingkan, tepatnya kick-off jam 17.00 WIB.

Park tak sendirian, ia didampingi beberapa asisten pelatihnya, termasuk eks pelatih Timnas Kamboja, Lee Tae-hoon, serta Direktur Teknik, Jurgen Gede.

Beberapa asisten pelatih Park terlihat membawa buku untuk membuat catatan perihal permainan Indonesia maupun Thailand, yang akan jadi lawan Vietnam selanjutnya. Pada pertandingan itu, Timnas Indonesia U-23 di luar dugaan menyerah dari Thailand dengan skor cukup telak, 0-4.

Saling Balas Dungu Antara Rocky vs TKN Jokowi

JakartaRocky Gerung dan anggota Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf Amin saling balas serangan ‘dungu’. Begini rangkumannya.

Rocky Gerung bicara jaket kedunguan dan kartu pradungu

Hal itu diucapkan Rocky saat menghadiri acara Aliansi Pengusaha Nasional yang digelar di Djakarta Theater, Kamis (21/3/2019). Dia bicara usai Prabowo-Sandi berpidato. Rocky sendiri menyebut dirinya sedang stand up comedy.

Rocky menceritakan tentang bully yang diterimanya. Rocky menyinggung soal jaket 01 dan jaket 02.

“Sering kali, saya di-bully lagi kan, bahwa… kayak kemarin di Osaka yang kemudian jadi viral. Saya pinjam ini jaketnya persis jaket begitu, ada tulisan 02. Saya pakai jaket begituan karena saya habis ceramah di Osaka. Saya kedinginan, maka hanya ada jaket 02, maka saya pinjam jaket itu. Karena saya kedinginan. Kalau saya kedunguan, saya pinjam jaket 01,” sebut Rocky.

“Jadi geng petahana marahin saya, kenapa nggak pernah pakai jaket 01. Lo itu jaket kedunguan, bukan kedinginan. Itu mempersoalkan hal yang sifatnya teknis saja,” imbuh dia.

Saling Balas Dungu Antara Rocky vs TKN JokowiRocky Gerung di acara Aliansi Pengusaha Nasional (Foto: Gibran Maulana/detikcom)

Dia lanjut berbicara tentang kartu. Menyinggung kartu Pra-Kerja, Rocky lantas bicara soal kartu Pradungu.

“Semua kartu sudah dikeluarin. Kemarin saya katakan yang terakhir kartu Pra-Kerja. Saya bilang masih ada satu kartu yang belum dikeluarin, namanya kartu Pradungu dan jangan harap kartu itu akan dibagikan kepada saudara-saudara karena beliau akan pakai sendiri kartu itu,” sebut Rocky.

TKN Jokowi balas menyebut ‘dungu’

Juru bicara TKN Irma Suryani Chaniago heran mengapa Rocky Gerung terlihat sangat benci dengan Jokowi. Dia balik mempertanyakan bagaimana kriteria kartu yang tidak dungu menurut Rocky.

“Apa sih ukuran kartu yang tidak dungu menurut dia? Kalau nggak mampu bikin program dan cuma mampu ngomong dungu saja artinya Rocky Gerung itu asbun (asal bunyi) dan dungu stadium 4,” kata Irma.

Menurut politikus NasDem ini, ungkapan ‘kartu pradungu’ Rocky sebagai bentuk kekesalan karena kubu Prabowo-Sandi ‘hanya’ bisa menunjukkan e-KTP.

“Rocky Gerung dungu! Teriak dungu! Kartu yang dibutuhkan rakyat dia bilang pradungu! Karena dia kesal, jagoannya cuma bisa nunjukin e-KTP yang selama ini selalu dibilang banyak yang bodong dan lain-lain. Malu dong menggunakan produk orang lain trus klaim. Bikin program yang autentik! Jangan cuma bisa nambah kalimat ‘plus’ doang dibelakang kartu yang dikeluarkan Jokowi,” tegasnya.

Serangan balasan juga dilontarkan anggota TKN lainnya, Inas Nasrullah. Dia balas menyebut Rocku Gerung pakar dungu.

“Kalu kita bicara kedunguan, maka pakar dungu-nya memang Rocky Gerung, sebab kedunguan ini tidak diajarkan di universitas manapun karena memang tidak ada ilmunya, sehingga bisa kita simpulkan bahwa kedunguan tersebut diperoleh dari pengalaman pribadi Rocky Gerung sendiri,” kata Inas.
(imk/rna)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Ini Hasil Survei yang Bikin Elite Golkar dan PSI Saling Serang

Jakarta – Elite Golkar dan PSI saling serang soal hasil survei tentang resistensi parpol dan kaitannya dengan elektabilitas Joko Widodo (Jokowi). Sebenarnya, seperti apa hasil surveinya?

Survei yang dimaksud adalah survei Litbang Kompas tentang elektabilitas partai politik. Tak hanya elektabilitas, resistensi terhadap partai politik juga diukur. Litbang Kompas menyebut pertanyaan soal resistensi itu bukan semata-mata karena responden sudah memiliki pilihan lain tetapi sekaligus untuk menguji persepsi responden terhadap parpol.

Litbang Kompas menyatakan resistensi terbesar di kelompok partai baru dialami oleh PSI. Elektabilitas PSI hanya 0,9% namun resistensinya berada di angka 5,6%.

Berikut hasil lengkap survei terkait resistensi terhadap parpol:

PKB: 1,5%
Gerindra: 5,9%
PDIP: 13%
Golkar: 2%
NasDem: 1,2%
Garuda: 0,9%
Berkarya: 1,3%
PKS: 3,2%
Perindo: 1,9%
PPP: 0,5%
PSI: 5,6%
PAN: 1%
Hanura: 0,8%
PBB: 0,4%
PKPI: 1,9%

Survei digelar pada 22 Februari-5 Maret 2019 dengan melibatkan 2.000 responden yang dipilih secara acak menggunakan metode pencuplikan sistematis bertingkat di 34 provinsi Indonesia. Margin of error survei ini plus-minus 2,2 persen dengan tingkat kepercayaan 95%.

Nah, hasil ini yang kemudian disoroti oleh elite Golkar, Andi Sinulingga. Menurutnya, angka resistensi yang besar terhadap PSI berimbas ke menurunnya elektabilitas Jokowi.

“Blunder PSI memberikan sumbangan pada turunnya elektabilitas Jokowi. Resistensi rakyat terhadap PSI tinggi sekali dan itu berpengaruh negarif pada Jokowi,” kata Andi.

Ketua DPP PSI, Tsamara Amany, lalu membalasnya. “Blunder PSI memberikan sumbangan pada turunnya elektabilitas Jokowi. Resistensi rakyat terhadap PSI tinggi sekali dan itu berpengaruh negarif pada Jokowi,” kata Tsamara.

Andi lalu kembali merespons. Menurutnya, politikus PSI masih seperti anak kecil sehingga tidak bisa membaca data survei itu.

“PSI itu sudah terasosiasi dengan Jokowi meski ‘berkah’ elektoralnya juga tidak ke mereka. Sementara buruknya persepsi publik atas PSI itu berpengaruh pada citra Jokowi. Itu yang mereka nggak paham-paham dan nggak bisa diberi pemahaman,” ungkap Andi.
(imk/gbr)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Mbak Tutut: Kita Ingin Bangsa yang Bersatu, Tidak Saling Cakar

Nasihat lain Soeharto kepada anak-anaknya adalah tidak boleh dendam. Sebab, dendam tidak menyelesaikan masalah, tapi membuat masalah baru.

Mbak Tutut juga bercerita jelang Soeharto mengambil keputusan berhenti sebagai presiden. Cerita dimulai saat Soeharto memanggil seluruh anaknya, dan menyampaikan keinginan mengundurkan diri.

“Bagaimana menurut kalian? Masyarakat sudah ramai meminta bapak berhenti,” Mbak Tutut menirukan kata-kata sang ayah. “Saya jawab, apa pun keputusan bapak kami tetap mendukung bapak berhenti karena sudah tidak dikehendaki rakyat,” lanjut Mbak Tutut.

Yang juga tidak bisa dilupakan Mbak Tutut adalah ketika Pak Harto memintanya mencarikan buku UUD 45. Saat itu, Soeharto mengatakan; “Bapak mau berhenti jadi presiden tapi saya mau memakai kata yang sesuai UUD 45. Bapak tidak mau mengatakan mengundurkan diri, tapi berhenti dari presiden.”

“Saya katakan kepada bapak, kan berhenti dan mengundurkan diri sama,” cerita Mbak Tutut.

Namun tidak menurut ayahandanya. Mengundurkan diri artinya sebagai mandataris rakyat, Soeharto mundur karena tidak mampu melaksanakan tugas. Berhenti artinya sang ayah sebagai mandataris rakyat, disuruh berhenti karena tidak dipercaya lagi.

“Bukan karena kemauan bapak, tapi kaena kehendak masyarakat.” ujar Mbak Tutut menirukan ayahandanya.

Jadi, apa yang Soeharto lakukan selalu berdasarkan UUD 45.

“Malam hari, bapak memanggil kami berenam dan menyampaikan keputusan berhenti, Adik saya mengatakan jangan dulu berhenti, beri kami kesempatan membuktikan bahwa sebagian besar rakyat Indonesia mencintai bapak,” kata Mbak Tutut dengan suara tersendat menahan tangis.

Menanggapi itu, Soeharto hanya meminta keluarganya untuk bersabar. Selain itu tidak boleh dendam. Karena Dendam tidak menyelesaikan masalah, tapi membuat masalah lebih besar.

“Tidak hanya sekali Pak Harto mengingatkan anak-anaknya untuk tidak dendam, tapi setiap hari,” ucap dia.

Tidak jarang pula dia menambah nasihatnya dengan ucapan bahwa Allah tidak tidur. Suatu saat rakyat akan tahu mana yang salah dan benar.

Menurut Mbak Tutut, dari hari ke hari nasihat itu menyadarkan dia dan adik-adiknya bahwa keputusan ayahanda mengundurkan diri adalah yang terbaik untuk bapak dan keluarga.

“Setelah belajar Alquran, saya akhirnya tahu semua nasihat bapak adalah ajaran Allah SWT. Pak Harto selalu bersandar kepada Allah SWT,” Mbak Tutut mengakhiri, dan semua yang hadir terharu bahwa ada yang menitikkan air mata.