Mau Dibeli Sandiaga, Begini Pergerakan Saham Indosat

Jakarta – Cawapres nomor urut 02 Sandiaga Uno menggaungkan kembali janji pembelian kembali (buyback) saham Indosat yang pernah didengungkan Jokowi pada pilpres 2014 lalu. PT Indosat Tbk sendiri tercatat sebagai perusahaan terbuka yang sahamnya diperdagangkan dengan kode ISAT.

Siang ini, saham perusahaan telekomunikasi tersebut berada di Rp 2.830. Turun Rp 50 (1,74%) dari posisi penutupan perdagangan saham kemarin sore yang berada di Rp 2.880.

Hingga siang ini, harga saham ISAT telah diperdagangkan sebanyak 827 kali dengan volume 13.031 lot saham dan total nilai transaksi mencapai Rp 3,7 miliar.

Posisi tertinggi saham ISAT berada di Rp 2.910 dan terendah di Rp 2.830.
Membeli kembali (buyback) saham PT Indosat Tbk merupakan salah satu janji dari Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang belum terlaksana. Calon Wakil Presiden Nomor Urut 02 Sandiaga Uno berjanji akan menuntaskan janji yang masih menggantung itu.

Jika terpilih jadi Wapres, Sandiaga mengaku akan melakukan komunikasi dengan Qatar soal rencana buyback Indosat. Upaya ini juga bagian strateginya yang diberi nama Big Push.

“Sebetulnya ide Pak Jokowi untuk mem-buyback Indosat itu bagus. Dan di bawah Prabowo-Sandi, akan kita usahakan,” kata Sandiaga di Klender, Duren Sawit, Jakarta Timur, Rabu (20/3/2019) lalu.

(dna/zlf)

Levi Strauss Kembali Catatkan Saham, Pegawai di Bursa New York Boleh Pakai Jeans

Sebelumnya, SoftBank, perusahaan telekomunikasi dan media asal Jepang melalui perusahaan telekomunikasinya akan peroleh dana USD 23,5 miliar dari hasil penawaran saham perdana atau initial public offering (IPO). Hal itu akan membuat IPO tersebut terbesar kedua di bursa saham global.

Permintaan kuat dari investor mendorong perseroan meningkatkan jumlah saham yang tersedia 160 juta saham. Hal itu juga didukung perseroan salah satu operator nirkabel atau wireless terbesar di Jepang.

Harga saham ditetapkan 1.500 yen (USD 3). Perolehan dana IPO sebesar 2,65 triliun yen atau sekitar USD 23,5 miliar atau sekitar Rp 344,15 triliun (asumsi kurs Rp 14.644 per dolar Amerika Serikat).

Dengan begitu, IPO tersebut terbesar di Jepang, dan dunia sejak Alibaba kumpulkan dana USD 25 miliar ketika lepas saham ke publik di Bursa Saham New York pada 2014. Hal itu berdasarkan data Dealogic.

Mengutip laman CNN Money, Selasa 11 Desember 2018, pencatatan saham unit usaha telekomunikasi SoftBank menjadi bagian penting dari upaya CEO SoftBank Masayoshi Son untuk memposisikan SoftBank sebagai investor teknologi global.

Transaksi tersebut membagi perusahaan menjadi dua yaitu memungkinkan investor memilih antara bisnis telekomunikasi dan investasi teknologi termasuk saham besar di Alibaba.

Son menjadi salah satu pemain utama global di industri teknologi dengan meluncurkan Vision Fund hampir USD 100 miliar pada tahun lalu. Sebagian dari dana itu berasal dari pemerintah Arab Saudi.

The Vision Fund mengucurkan dana ke puluhan perusahaan rintisan atau startup antara lain WeWork dan Slack. SoftBank juga membuat investasi besar di perusahaan teknologi antara lain Uber dan saingannya di China Didi Chuxing.

Dengan jual saham divisi telekomunikasi akan meningkatkan dana miliaran dolar AS bagi Son untuk memburu lebih banyak transaksi besar. Saham di unit telekomunikasi mulai diperdagangkan di Tokyo pada 19 Desember.

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Kiat Investasi Reksa Dana Saham Saat IHSG Bergejolak

Fakta di Balik Rencana Sandiaga Beli Saham Indosat

Jakarta – Membeli kembali (buyback) saham PT Indosat Tbk merupakan salah satu janji dari Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang belum terlaksana. Calon Wakil Presiden Nomor Urut 02 Sandiaga Uno berjanji akan menuntaskan janji yang masih menggantung itu.

Jika terpilih jadi Wapres, Sandiaga mengaku akan melakukan komunikasi dengan Qatar soal rencana buyback Indosat. Upaya ini juga bagian strateginya yang diberi nama Big Push.

“Sebetulnya ide Pak Jokowi untuk mem-buyback Indosat itu bagus. Dan di bawah Prabowo-Sandi, akan kita usahakan,” kata Sandiaga di Klender, Duren Sawit, Jakarta Timur, Rabu (20/3/2019).

Jika benar Sandi mau merealisasikan janji itu, muncul beberapa pertanyaan berapakah dana yang dibutuhkan untuk mengambil kembali Indosat dari tangan investor Qatar, layakkah Indosat dibeli kembali saat ini dan bersediakah Ooredoo menjualnya kembali?

(das/ang)

Jika Buyback Saham Indosat, Berapa Dana yang Dibutuhkan Sandiaga?

Sebelumnya, Cawapres nomor urut 02 Sandiaga Salahuddin Uno akan merealisasikan wacana membeli kembali atau buyback saham Indosat jika terpilih bersama Prabowo Subianto dalam Pilpres 2019. Sandiaga bakal bicara dengan pihak Qatar Telecom, pemilik grup Ooredoo.

“Sebetulnya, ide Pak Jokowi untuk mem-buyback Indosat itu bagus. Dan di bawah Prabowo-Sandi akan kita usahakan. Kita bicara dengan Qatar,” kata Sandiaga di kawasan Jakarta Timur, Rabu 20 Maret 2019.

Sandiaga menjelaskan, tujuannya buyback saham Indosat untuk mengintegrasikan data masyarakat Indonesia lewat KTP elektronik (e-KTP). Menurut dia, supaya sistem integrasi e-KTP tercapai, membutuhkan data-data yang dikuasai Indosat.

“Nah, salah satu yang mau kita dorong adalah dengan KTP elektronik, tapi kita juga harus menguasai data bagaimana kita kolaborasi Indonesia bisa punya kedaulatan datanya,” ucap Sandiaga.

Sehingga, kata Sandi, sistem integrasi Single Indentification Number (SIN) yang gagasnya lewat penggunaan ‘big data’ bisa dikawal dan dikontrol oleh perusahaan perusahaan seperti Telkomsel maupun Indosat. Nantinya, pusat data tersebut berada di Indonesia jika buyback Indosat berhasil.

“Data itu bukan hanya pemerintah saja, dari para pemegang seperti Telkomsel gabung sama Indosat itu bisa 80 persen. data masyarakat dipegang oleh kita. Akan kita ajak bergabung, Telkomsel kan mayoritasnya Indonesia kalau Indosat kan mayoritasnya masih pihak Qatar,” tutur Sandiaga.

“Kita mau buy back, sesuai rencanya Pak Jokowi namun tak kunjung terlaksana. Kita akan dateng ke pihak qatar, kita akan kembangkan, tapi kita yang mesti mayoritas, seperti telkomsel kan bagus dikelolanya oleh kita,” tambah dia.

 Eks Wakil Gubernur DKI Jakarta itu memastikan data data masyarakat dapat dikelola dengan baik dan bisa memberikan pelayanan publik yang lebih bagus bila dikuasai pemerintahnya kelak.

Menurut dia, Jokowi saat ini belum serius untuk buyback kembali Indosat.

“Ini kolaborasi, data untuk kebaikan kita semua dan saya yakin kalau kita bisa kelola dengan baik, kita rangkul, janji Pak Jokowi sampaikan kita tuntaskan,” tandas Sandiaga Uno.

Sandiaga akan Tunaikan Janji Jokowi Buyback Saham Indosat

Jakarta – Cawapres Sandiaga Uno berjanji akan meneruskan janji capres petahana Joko Widodo untuk pembelian kembali (buyback) saham Indosat yang telah dijual ke investor Qatar. Upaya itu dilakukan untuk menyempurnakan Sistem Integrasi Nasional (SIN).

“Sebetulnya ide Pak Jokowi untuk mem-buyback Indosat itu bagus. Dan di bawah Prabowo-Sandi akan kita usahakan,” kata Sandiaga di Klender, Durem Sawit, Jakarta Timur, Rabu (20/3/2019).

Jika terpilih jadi cawapres, Sandiaga mengaku akan melakukan komunikasi dengan Qatar soal rencana buyback Indosat. Upaya ini juga bagian strateginya yang diberi nama big push.


“Saya kan tadi bicara soal penciptaan lapangan kerja dan dua strategi kita satu membangun ekosistem wirausaha dengan OK OCE dan membuka lapangan kerja melalui rumah siap kerja. Ada juga proses yang harus didorong oleh usaha-usaha besar kita, yang kita sebut sebagai strategi big push. Bagaimana industrialisasi lapangan kerja, nah salah satu yang mau kita dorong adalah dengan KTP elektronik, tapi kita juga harus menguasai data,” paparnya.

Menurutnya integrasi ini perlu pusat kontrol data yang besar. Maka dari itu dia berencana buyback Indosat untuk memperkuat integrasi data.

“Kita bicara dengan Qatar, bagaimana kita kolaborasi Indonesia bisa punya kedaulatan datanya sehingga nanti sistem integrasi SIN dengan penggunaan big data itu bisa dikawal dengan perusahaan dan dikontrol oleh perusahaan-perusahaan seperti Telkomsel, Indosat, di situ kan mereka bisa mengawal sehingga data kita kuat didorong bukan hanya oleh pemerintah tapi dunia usaha juga yang dikelola oleh pemerintah,” terangnya.

Janji buyback Indosat ini dicetuskan Jokowi saat Pilpres 2014. Namun hal ini belum terealisasi di masa kepimpinannya bersama Jusuf Kalla. Sandiaga menyebut salah satu hambatannya yakni kurang keseriusan Jokowi untuk membeli saham Indosat dari Qatar.

“Menurut saya belum diseriusin aja. Kalau diseriusin saya rasa bisa dan Prabowo-Sandi melihat dari berbagai janji Pak Jokowi yang belum ditunaikan itu salah satu yang akan kita seriusin dan insyaallah kita akan teruskan,” kata Sandiaga.

Dari catatan detikcom, Jokowi pernah mengungkapkan rencana membeli kembali saham Indosat yang dulu sempat dijual karena krisis ekonomi. Namun, saat itu Jokowi punya syarat untuk membeli Indosat kembali.

“Kan kita sampaikan ada klausul buyback. Buyback itu tentu saja kalau harganya wajar dan sesuai, biasanya kalau pas, sahamnya itu pas lagi bagus-bagusnya pasti harga sweetener, minta yang paling manis, itu,” kata Jokowi di sela kampanyenya di Pontianak, Kalimantan Barat, Senin (23/6/2014).

Jokowi juga menyebutkan untuk membeli Indosat lagi, syarat pertumbuhan ekonomi di atas 7 persen sangat penting. “Makanya saya sampaikan kalau bisa pertumbuhan bisa di atas 7 persen, membeli Indosat itu bukan sesuatu yang sulit,” ucapnya.
(idn/jbr)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

BEI Tunda Aturan Saham Gocap Tahun Ini

Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Inarno Djajadi berharap, pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) tak terganggu jelang hajatan pemilihan presiden dan wakil presiden (Pilpres).

Selain itu, kegiatan pemilihan umum (Pemilu) legislatif pada periode yang sama juga diharapkan tak berdampak pada pola gerak IHSG.

“Dalam waktu dekat ada Pilpres, tetapi saya katakan 3 Pemilu sebelumnya bahwasanya korelasinya tidak terlalu banyak jadi harapannya korelasinya pun tahun ini tidak banyak terhadap indeks kita yakni ihsg,” ungkapnya di Jakarta, Rabu (20/3/2019).

Dia menambahkan, tantangan sentimen global juga akan terus diamati perubahannya oleh perusahaan. Itu seperti ketidakpastian Brexit maupun perang dagang Amerika-China.

Oleh karena itu, pihaknya menekankan akan berusaha semaksimal mungkin menjaga daya saing pasar modal Indonesia untuk tetap kompetitif.

“Memang tantangan global ini ada kebijakan the fed dan kebijakan bank sentral dunia. Kemudian ketegangan dagang Amerika-China. Lalu proyeksi perlambatan ekonomi global. Serta volatilitas daripada harga minyak dunia,” ujarnya.

“Tetapi kami akan tetap berupaya jadi penyelenggara efek perdagangan efek yang terpercaya. Visi misi dan core value terus kita kedepankan seperti menjadi bursa kompetitif dengan kredibilitas tingkat dunia,” dia menambahkan.

Tercatat di BEI, Saham Wahana Interfood Melonjak 69,7 Persen

Dia menambahkan, Perseroan juga akan menawarkan waran seri I sebanyak 56 juta unit dengan harga pelaksanaan Rp 400 per unit. Setiap pemegang tiga saham akan memperoleh satu waran seri I. Dari penawaran waran seri I tersebut, WIN nantinya akan memperoleh tambahan modal sebesar Rp 22,4 miliar.

Dalam aksi korporasi ini, COCO menunjuk PT UOB Kay Hian Sekuritas sebagai perusahaan penjamin emisi efek. COCO mencatat aset sebesar Rp 158 miliar per September 2018, naik 58,3 persen, dari Rp 99,8 per September 2017.

Sementara pendapatan COCO tercatat Rp 115,1 miliar per September 2018, naik 5,04 persen dari Rp 109,3 miliar per September 2017. COCO mencatat peningkatan laba 5,3 persen menjadi Rp 17,8 miliar, dari Rp 16,9 miliar per September 2017.

“Laba Desember 2018 sekitar Rp 3 miliar dan tahun ini laba kami targetkan Rp 3 miliar. Untuk penjualan akhir 2018 sekitar Rp 152 miliar dan target penjualan 2019 Rp 178,1 miliar,” tandasnya.

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Kiat Investasi Reksa Dana Saham Saat IHSG Bergejolak

Investor Asing Beli Saham, IHSG Naik 48,26 Poin

Liputan6.com, Jakarta – Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akhirnya bertahan di zona hijau meski sempat melemah.

Pada penutupan perdagangan saham, Senin (18/3/2019), IHSG naik 48,26 poin atau 0,75 persen ke posisi 6.509,44. Indeks saham LQ45 naik 1 persen ke posisi 1.024,97. Seluruh indeks saham acuan kompak menguat.

Sebanyak 225 saham menguat sehingga mengangkat IHSG. 195 saham melemah dan 124 saham diam di tempat. Pada awal pekan ini, IHSG sempat berada di level tertinggi 6.509,44 dan terendah 6.477,28.

Total frekuensi perdagangan saham 408.901 kali dengan volume perdagangan 16,1 miliar saham. Nilai transaksi harian saham Rp 8,1 triliun. Investor asing beli saham Rp 671,72 miliar di pasar regular. Posisi dolar Amerika Serikat (AS) menguat ke posisi Rp 14.238.

Sebagian besar sektor saham menghijau kecuali sektor saham pertanian melemah 0,26 persen dan sektor tambang susut 0,55 persen. Sektor saham infrastruktur naik 1,9 persen, dan bukukan penguatan terbesar.

Disusul sektor saham aneka industri menanjak 1,86 persen dan sektor saham konstruksi menguat 0,98 persen.

Saham-saham yang menguat di awal pekan antara lain saham ISAT naik 9,93 persen ke posisi 2.990 per saham, saham PEHA menanjak 9,21 persen ke posisi 2.610 per saham, dan saham MPPA naik 8,63 persen ke posisi 302 per saham.

Sedangkan saham-saham yang tertekan antara lain saham TOBA susut 6,71 persen ke posisi 1.600 per saham, saham IBFN merosot 5,97 persen ke posisi 252 per saham, dan saham GAMA tergelincir 9,09 persen ke posisi 50 per saham.

Bursa saham Asia sebagian besar menguat kecuali indeks saham Thailand turun 0,41 persen. Indeks saham Hong Kong Hang Seng naik 1,37 persen, indeks saham Korea Selatan Kospi menanjak 0,16 persen.

Selain itu, indeks saham Jepang Nikkei naik 0,62 persen, indeks saham Shanghai menguat 2,47 persen, dan bukukan penguatan terbesar.

Disusul indeks saham Singapura naik 0,40 persen dan indeks saham Taiwan mendaki 0,70 persen.

Analis PT Binaartha Sekuritas, Nafan Aji menuturkan, stabilitas fundamental makroekonomi domestik yang inklusif dan berkesinambungan memberikan katalis positif bagi stabilitas pergerakan IHSG dan rupiah.

Apalagi lembaga pemeringkat Fitch Rating juga mempertahankan rating BBB untuk Indonesia dengan prospek stabil.

Dengan demikian, stabilitas fundamental makro ekonomi domestik begitu penting dalam rangka menjaga stabilitas pertumbuhan ekonomi nasional. Begitu pun dengan surplusnya neraca perdagangan per Februari sebesar USD 330 juta dan juga mendukung euforia pasar.

Ia menambahkan, dari eksternal, selain dari meredanya sentimen perang dagang antara AS dan China, adapun optimisme para pelaku pasar terkait dengan the Federal Reserve atau bank sentral AS yang diperkirakan masih dovish memberikan katalis positif bagi penguatan indeks di regional. “Hal itu juga mempengaruhi penguatan IHSG,” ujar dia saat dihubungi Liputan6.com.

Mau Naik Kelas, Bank Yudha Bhakti Tawarkan 3 Miliar Lembar Saham

Jakarta – PT Bank Yudha Bhakti Tbk (BBYB) berencana naik kelas menjadi bank BUKU II. Untuk menambah sumber modal, perusahaan akan menawarkan 3 miliar lembar saham melalui rights issue atau penerbitan saham baru.

Direktur Utama BBYB Denny Novisar Mahmuradi mengatakan saat ini bank masih dalam kategori BUKU I atau bank dengan modal inti di bawah Rp 1 triliun.

Hanya saja, dengan adanya suntikan sebesar Rp 500 miliar dari startup Akulaku, pihaknya ingin operasional bank semakin kuat.

“Tahap berikutnya itu rights issue (setelah suntikan dana Rp 500 miliar). Itu sebanyak-banyaknya 3 miliar lembar saham,” kata dia dalam konferensi pers di CIMB Niaga Building, Jakarta, Jumat (15/3/2019).

Lebih lanjut, ia mengungkapkan target dana yang akan diperoleh masih dalam tahap perhitungan. Sehingga Denny belum dapat menyampaikan target jumlahnya.

“Target dana saat ini masih dalam perhitungan jadi belum bisa disampaikan,” ungkap dia.

Sementara itu, ia mengatakan Akulaku akan menjadi investor yang siap membeli saham jika tak laku terjual.

“Yang mana juga Akulaku akan jadi standby buyer jadi perjanjian dengan Bank Yudha Bakhti,” tutup dia. (ara/ara)

Saham Bank Permata Meroket Sepanjang 2019, Ada Apa?

Liputan6.com, Jakarta – Saham PT Bank Permata Tbk (BNLI) melonjak sepanjang tahun berjalan 2019. Kabar Standard Chartered, salah satu pemegang saham PT Bank Permata Tbk akan melepas saham Bank Permata menjadi katalis penguatan saham PT Bank Permata Tbk.

Mengutip data RTI, Jumat (15/3/2019), saham PT Bank Permata Tbk sudah melonjak 76 persen ke posisi Rp 1.100 per saham sepanjang tahun berjalan. Saham BNLI mencatatkan posisi tertinggi 1.280 dan terendah 595 per saham. Volume perdagangan saham sekitar 5,56 miliar saham dengan nilai transaksi Rp 5,6 triliun. Total frekuensi perdagangan saham 177.779 kali.

Pada perdagangan saham sesi pertama Jumat 15 Maret 2019, saham PT Bank Permata Tbk turun 2,73 persen ke posisi 1.070 per saham dari penutupan perdagangan kemarin di posisi 1.100 per saham.

Kepala Riset PT RHB Sekuritas Indonesia, Henry Wibowo menuturkan, Standard Chartered yang genggam saham BNLI sekitar 44,56 persen beri sinyal lepas saham Bank Permata menjadi katalis untuk pergerakan saham Bank Permata. Standard Chartered dinilai akan fokus ke negara lain dan memperkuat rasio cadangan modalnya. 

Henry menilai, katalis itu menjadi harapan ada kenaikan harga saham PT Bank Permata Tbk. Bila aksi merger dan akuisisi saham Bank Permata terjadi, Henry prediksi ada potensi kenaikan valuasi saham Bank Permata. Hal ini juga yang sebelumnya terjadi pada aksi merger dan akuisisi sektor bank yaitu Bank Danamon dan BTPN.

Seperti diketahui, The Bank of Tokyo Mitsubishi UFJ (MUFG) telah meningkatkan kepemilikan sahamnya di PT Bank Danamon Indonesia Tbk menjadi 40 persen pada Agustus 2018. Sementara itu, BTPN resmi merger dengan PT Bank Sumitomo Mitsui Indonesia pada 1 Februari 2019. BTPN baru membuat Sumitomo Mitsui Bank Corporation akan kuasai 96,89 persen saham BTPN.

“Kami melihat potensi pembelian saham Bank Permata bila terjadi merger dan akuisisi akan meningkatkan  saham dari sekarang sekitar 1.100 per saham itu sekitar 1,3 kali price book value (pbv) menjadi sekitar dua kali dari pbv. Sedangkan untuk target harga saham 1.400 hingga akhir 2019,” ujar Henry saat dihubungi Liputan6.com, seperti ditulis Jumat (15/3/2019).

Selain itu, Henry menilai, kinerja Bank Permata yang membaik juga menjadi sentimen positif. Bank Permata menurut Henry, juga memperkuat penyaluran pinjaman untuk segmen usaha kecil dan menengah. “Bank Permata sejak 2016 sudah bersih-bersih dengan write off Rp 6 triliun. Aset kuat, turn around bisa bagus. Pinjaman SME juga diperkuat,” tutur Henry.