Sabetan Arit Maut, Mengakhiri Amukan Celeng di Bukit Menoreh

Liputan6.com, Magelang – Cerita duel Zaini dengan seekor celeng di Bukit Menoreh menjadi perbincangan masyarakat di drkitsr desa Paripurno, Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang. Zaini seakan menjelma menjadi superhero bagi masyarakat setempat.

Zaini bercerita bahwa ia tak pernah membayangkan kalau harus bertempur melawan celeng yang cukup besar itu. Meskipun sehari-hari ia memang harus bergaul dengan berbagai keliaran alam, ketika mencari rumput untuk pakan ternaknya.

“Saya sedang ngarit, cari rumput. Tiba-tiba ada suara perempuan minta tolong. Saat saya lihat, ada orang sedang melempari celeng itu dengan batu,” kata Zaini, Rabu (14/08/2019).

Saat itu sang celeng yang memiliki panjang sekitar satu setengah meter berada di tengah Kali Kluban. Tentu saja si celeng tak berada di air karena memang air kali Kluban sangat kecil jika kemarau.

Melihat seorang perempuan berusaha mengusir celeng itu seorang diri, naluri Zaini sebagai pelindung perempuan muncul. Dengan membawa sabit yang digunakan untuk mencari rumput, keberaniannya memaksanya mendatangi celeng itu.

“Saya mencoba membacok celeng itu. Kena memang, tapi celeng itu seperti tak merasakan sesuatu. Ia membalikkan badan dan menyeruduk. Celaka, serudukan itu menyebabkan celana saya nyangkut di taring celeng saat saya terjatuh,” katanya.

Berusaha lepas, akhirnya Zaini bisa melepaskan diri. Duel dilanjutkan. Pertempuran hidup mati dua makhluk Tuhan itu berlangsung sekitar 15 menit.

Zaini bangkit dan tak mau kabur. Ia hadapi celeng itu. Sabetan aritnya akhirnya mengenai tubuh celeng itu. Tak banyak, hanya tiga kali sabit itu menemui sasarannya. Namun sukses mengantar si celeng menemui malaikat maut.

“Yang diseruduk itu tepat kena paha. Makanya kaki dan tangan saya yang luka-luka. Saya bersyukur masih bisa selamat,” kata Zaini.

Kisah amukan celeng di Bukit Menoreh itu ternyata juga terjadi di wilayah Desa Ngargoretno Kecamatan Salaman Kabupaten Magelang, Senin (12/08/20190. Menurut Dodi Suseno, Kepala Desa Ngargoretno, amukan celeng itu tak hanya membawa satu korban saja.

“Celeng itu mengamuk dengan cara menyeruduk korbannya,” kata Dodi.

Dodi Suseno bercerita bahwa korban serudukan celeng dialami salah satunya dialami Suwardi. Saat itu, warga Dusun Wonosoko 1 Desa Ngargoretno Kecamatan Salaman sedang berada di ladangnya.

“Dekat sih. Hanya sekitar 100-200 meter dari rumahnya. Korban sedang asyik menanam pohon durian,” kata Dodi.

Saat Suwardi menyelesaikan pekerjaannya dengan berjongkok, tiba-tiba ada serudukan keras dari belakang. Seekor celeng sudah menubruknya.

Suwardi yang tidak siap tentu mencoba bertahan. Ia mengambil sebatang kayu dan menakut-nakuti si celeng dengan mengayun-ayunkan tongkatnya. Namun bukannya kabur, celeng itu malah berbalik arah dan menyerangnya lagi.

“Tangan korban sudah kesakitan karena robek cukup besar terkena taring celeng. Maka korban lalu lari dan memanjat pohon sengon atau albasia,” kata Dodi.

Frustasi gagal membunuh korbannya, celeng di Bukit Menoreh itu berlalu. Suwardi turun dan mengobati lukanya. Ia kemudian dibantu wrga lainnya ke sebuah rumah sakit di Kota Magelang, dan ia hanya menjalani rawat jalan.

2 dari 2 halaman

Deretan Korban

Cerita amukan celeng di Bukit menoreh ternyata tak hanya seputar Zaini dan Suwardi. Jika Zaini sukses membunuh binatang liar itu dan Suwardi justru mendapat luka. Ini bukan soal kalah menang. Bukan siapa lebih jagoan.

Data di Polsek Salaman menyebutkan bahwa amukan celeng di Bukit Menoreh ternyata telah melukai banyak orang. Setidaknya yang tercatat ada lima orang dengan korban meninggal satu orang.

Menurut Kapolsek Salaman Iptu Marsodik, lima korban berasal dari dua desa berbeda. Yakni desa Ngargoretno dan desa Paripurno. Keduanya berada di kecamatan Salaman Kabupaten Magelang.

“Lima korban. Ada yang luka-luka, ada pula yang sampai meninggal dunia,” kata Kapolsek.

Polisi mencatat, korban pertama adalah warga Dusun Sabrang Desa Paripurno Salaman yakni Ahmad Zaini, superhero yang berduel dengan celeng di Kali Kluban.

“Sebelum sampai di Desa Paripurno, celeng itu diduga sudah menyerang beberapa warga di Desa Ngargoretno,” kata Iptu Marsodik.

Saat menyerang warga di Ngargoretno, celeng itu melukai empat orang dan salah satunya adalah Suwardi. Ia menjalani operasi di RSU Tidar dan mendapat 30 jahitan.

Korban kedua di Ngargoretno adalah Karsiti. Perempuan setengah abad warga Dusun Tegalombo 1. Karsiti tubuhnya memar disruduk celeng hingga terperosok. Korban ketiga adalah Mbah Atim. Petani cengkeh dari Dusun Wonosoko 1 ini juga memar disruduk ketika sedang menjemur cengkeh.

Korban keempat adalah Sudir, warga Dusun Tegalombo 2 Ngargoretno. Ia juga mengalami memar karena diseruduk celeng itu. Dan korban kelima adalah seorang nenek yang ditemukan sudah meninggal dunia, yakni Siti Maemunah, warga Kalisat Desa Paripurno. Saat ditemukan tubuhnya sudah penuh luka.

“Tidak ada saksi mata yang melihat kalau ia meninggal karena serangan celeng. Namun membandingkan luka-luka yang dideritanya dan kondisi pakaiannya, diyakini ia juga menjadi korban srudukan celeng yang lari dari arah Ngargoretno ke Paripurno,” kata Kapolsek.

Setelah Zaini sukses berduel dan mengalahkan celeng itu di Kali Kluban dengan sabetan arit mautnya, belum ada kabar serangan serupa.

Simak video pilihan berikut:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *