Rupiah Melemah, IHSG Bakal Terjun ke Zona Merah

Sebelumnya, laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bertahan di zona merah sepanjang perdagangan saham Rabu pekan ini. Aksi jual investor asing menekan IHSG.

Pada penutupan perdagangan saham, Rabu (5/12/2018), IHSG merosot 19,74 poin atau 0,32 persen ke posisi 6.133,12. Indeks saham LQ45 tergelincir 0,66 persen ke posisi 979,45. Seluruh indeks saham acuan kompak tertekan.

Sebanyak 236 saham melemah sehingga menekan IHSG. 171 saham menguat dan 122 saham diam di tempat. Pada Rabu pekan ini, IHSG sempat berada di level tertinggi 6.133,12 dan terendah 6.064,83.

Transaksi perdagangan saham cukup ramai. Total frekuensi perdagangan saham sekitar 432.860 kali dengan volume perdagangan 10 miliar saham. Nilai transaksi harian saham Rp 8,5 triliun. Investor asing jual saham Rp 509,55 miliar di pasar regular. Posisi dolar Amerika Serikat (AS) menguat ke Rp 14.390.

Sebagian besar sektor saham tertekan kecuali sektor saham pertanian naik 1,61 persen, sektor saham industri dasar mendaki 1,7 persen dan sektor saham manufaktur menguat 0,13 persen.

Selain itu, sektor saham aneka industri merosot 1,71 persen, dan bukukan penurunan terbesar. Disusul sektor saham konstruksi melemah 0,78 persen dan sektor saham keuangan tergelincir 0,67 persen.

Saham-saham yang catatkan top gainers antara lain saham TFCO naik 24,78 persen ke posisi Rp 705 per saham, saham SQMI menguat 24,38 persen ke posisi Rp 505 per saham, dan saham BIPI mendaki 24 persen ke posisi Rp 62 per saham.

Sedangkan saham-saham yang tertekan antara lain saham NUSA merosot 25 persen ke posisi Rp 372 per saham, saham AKPI tergelincir 17,98 persen ke posisi Rp 730 per saham, dan saham IMJS susut 14,29 persen ke posisi Rp 630 per saham.

Bursa saham Asia pun kompak tertekan. Indeks saham Hong Kong Hang Seng turun 1,62 persen, indeks saham Korea Selatan Kospi merosot 0,62 persen, indeks saham Jepang Nikkei susut 0,53 persen.

Selain itu, indeks saham Shanghai tergelincir 0,61 persen, indeks saham Singapura turun 0,37 persen dan indeks saham Taiwan melemah 1,65 persen.

Analis PT Binaartha Sekuritas, Nafan Aji menuturkan, para pelaku pasar global masih wait and see dan menantikan langkah nyata dari Amerika Serikat (AS) maupun China untuk akhiri kisruh perdagangan bebas di antara kedua negara tersebut. “Sementara itu, untuk sentimen domestik masih minim,” kata Nafan saat dihubungi Liputan6.com.

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Kiat Investasi Reksa Dana Saham Saat IHSG Bergejolak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *