Riset Industri Perkebunan Harus Digalakkan Kembali

Adapun, pada tahun 2018, kinerja komoditas kopi nasional dari sisi luas areal perkebunan mencapai 1.241.514 hektare dan total produksi 722.461 ton. Potensi ini menjadi sebuah harapan besar mengingat saat ini kualitas kopi Indonesia dikategorikan sebagai kopi speciality, yakni kopi berkualitas yang telah melewati proses sesuai standar mulai dari hulu ke hilir.

“Oleh karena itu, penguatan sisi hulu dan hilir perkebunan kopi menjadi salah satu hal yang terus dioptimalkan oleh pemerintah bersama pihak swasta,” kata Darmin.

Untuk komoditas lainnya, misalnya teh, produksi komoditas ini dapat mencapai 141.342 ton yang didapat dari luas areal sebesar 113.215 hektare sepanjang tahun 2018. Potensi pengembangan teh sendiri sangat luas, tidak hanya untuk kesehatan tetapi juga sering digunakan untuk kosmetik.

Adapun untuk komoditas terakhir yakni coklat, Indonesia dapat menghasilkan jumlah produksi biji kakao pada tahun 2018 mencapai 593.832 ton dari luas areal perkebunan 1.678.269 hektare. Potensi ini sangat besar mengingat kualitas kakao nasional sendiri dikenal dengan cita rasa yang tinggi yang yang berbasis geografis.

Di hadapan para undangan yang didominasi oleh pelaku usaha dan pihak swasta, Darmin menegaskan komoditas perkebunan perlu mendapatkan perhatian tersendiri, khususnya pada bagian processing. “Kita tahu bahwa Indonesia memiliki speciality coffee misalnya, yang sangat bervariasi. Jika komoditas ini diproses dengan baik maka kopi nasional kita akan memiliki ciri khas tersendiri,” tandasnya.

Reporter: Anggun P. Situmorang

Sumber: Merdeka.com

Riset Menyebutkan SDM Indonesia Kurang Menguasai Bahasa Inggris

Liputan6.com, Jakarta – Menguasai bahasa Inggris menjadi salah satu kunci untuk tampil terdepan dan bersaing di dunia kerja global. Untuk mendukung itu, EF English Center for Adults meluncurkan Career Track pada Maret 2019 yang diadakan di empat yaitu The Plaza Office Tower, Kuningan City, FX dan Mall Taman Anggrek.

Sumber daya manusia Indonesia (SDMI), merujuk pada peringkat Human Capital Index yang terbaru, saat ini menempati peringkat ke-651. Suatu kemajuan mengingat pada tahun sebelumnya berada di urutan ke-72. Meski begitu, posisi Indonesia masih di bawah negara ASEAN lain seperti Singapura, Malaysia, Thailand bahkan Brunei Darussalam.

Tak hanya sumber daya manusia, EF EPI (English Proficiency Index) 2018, posisi Indonesia sebagai negara yang penguasaan bahasa Inggris-nya cukup rendah. Hal itu berdasarkan riset yang dilakukan EF secara global.

Pada 2018 lalu, Indonesia berada di posisi ke-51 dari ke-80 negara internasional yang termasuk dalam riset. Sementara dari 21 negara Asia, Indonesia ada pada peringkat ke-13.

Berdasarkan riset dan survei itu, EF berusaha untuk terus berinovasi dalam meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris masyarakat Indonesia. Apalagi, berkaitan dengan kompetensi global di dunia kerja yang memiliki kontribusi luas bagi kemajuan Indonesia.

“Untuk itulah kami menghadirkan Career Track untuk siswa minimum tingkat elementary dengan metode pengajaran Learn Try Apply yang lebih intensif dan padat dengan tenaga pengajar yang seluruhnya sudah memiliki sertifikasi di bidang pengajaran Bahasa Inggris,” kata Head of Marketing EF English Centers for Adults Evan Januli, dalam keterangan pers yang diterima Liputan6.com, baru-baru ini.

Evan melanjutnya, materi dan fokus Career Track lebih mengarah kepada fokus kemampuan karena pengalaman sehingga segala aspek yang akan disampaikan akan sangat relevan dengan kebutuhan siswa terkait.

“Career Track menjadi produk pelengkap yang disusun khusus untuk kebutuhan profesional saat ini dan dipandu dengan tenaga pengajar berkualifikasi, memungkinkan siswa belajar lebih mendalam mengenai kebutuhan bahasa Inggris di dunia kerja, untuk meningkatkan kompetensi sebagai tenaga kerja dengan skala global,” lanjut Evan.

Sementara itu, Associate Director Michael Page Indonesia Amelia Lestari mengatakan, banyak tenaga kerja Indonesia yang mumpuni, tapi penguasaan Bahasa Inggris masih di level kurang. Untuk itu Indonesia harus mempersiapkan pengembangan sumber daya manusia yang memiliki standar kompetensi mengikuti kualifikasi global.

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Jika Anda kerap membeli makanan di pedagang kaki lima, jangan heran jika Anda akan dilayani dengan bahasa Inggris. Memang tak di semua tempat, aksi ini dapat ditemukan hanya di kampung Inggris, Kediri, Jawa Timur. Seperti apakah aksi para pedagang ka…

Riset: Kecerdasan Buatan Ini Bisa Prediksi Kematian Dini pada Manusia

Liputan6.com, Jakarta – Peneliti medis telah membuka kemampuan yang inovatif pada kecerdasan buatan (AI), yakni: memprediksi kematian dini seseorang.

Para ilmuwan baru-baru ini melatih sistem AI untuk mengevaluasi satu dekade data kesehatan umum yang diajukan oleh lebih dari setengah juta orang di Inggris.

Kemudian, mereka menugaskan kecerdasan buatan untuk memprediksi apakah individu berisiko meninggal sebelum waktunya – dengan kata lain, lebih cepat dari harapan hidup rata-rata – akibat penyakit kronis, para peneliti melaporkan dalam sebuah studi baru.

Prediksi kematian dini yang dibuat oleh algoritma AI “secara signifikan lebih akurat” daripada prediksi yang disampaikan oleh model yang tidak menggunakan mesin kecerdasan buatan, penulis studi utama Dr. Stephen Weng, asisten profesor epidemiologi dan ilmu data di University of Nottingham di Inggris, mengatakan dalam sebuah pernyataan, seperti dikutip dari Live Science, Minggu (31/3/2019).

Untuk mengevaluasi kemungkinan kematian dini subjek, para peneliti menguji dua jenis AI: “pembelajaran yang mendalam”, di mana jaringan pemrosesan informasi berlapis membantu komputer untuk belajar dari contoh; dan “studi acak,” jenis analisis menggunakan AI yang lebih sederhana yang menggabungkan banyak model untuk mempertimbangkan kemungkinan hasil.

Kemudian, mereka membandingkan kesimpulan model AI dengan hasil dari algoritma standar, yang dikenal sebagai “model Cox”.

Dengan menggunakan ketiga model ini, para ilmuwan mengevaluasi data di UK Biobank – bank data akses terbuka berisi data genetik, fisik dan kesehatan – yang diajukan oleh lebih dari 500.000 orang antara 2006 dan 2016. Selama waktu itu, hampir 14.500 peserta meninggal, terutama akibat kanker, penyakit jantung dan penyakit pernapasan.

Ketiga model menentukan bahwa faktor-faktor seperti usia, jenis kelamin, riwayat merokok dan diagnosis kanker sebelumnya adalah variabel teratas untuk menilai kemungkinan kematian dini seseorang. Tetapi model-model itu juga dengan faktor-faktor kunci lainnya, menurut temuan para peneliti.

“Model Cox” sangat bergantung pada etnis dan aktivitas fisik, sedangkan model “pembelajaran yang mendalam” tidak.

Sebagai perbandingan, model “studi acak” lebih menekankan pada persentase lemak tubuh, lingkar pinggang, jumlah buah dan sayuran yang dimakan orang, dan warna kulit, menurut penelitian. Untuk model “pembelajaran yang mendalam”, faktor-faktor utama mencakup paparan terhadap bahaya terkait pekerjaan dan polusi udara, asupan alkohol dan penggunaan obat-obatan tertentu.

Ketika semua angka-angka telah dilakukan, algoritma AI “pembelajaran yang mendalam” memberikan prediksi yang paling akurat, mengidentifikasi 76 persen subjek yang meninggal selama periode penelitian dengan benar. Sebagai perbandingan, model hutan acak memprediksi dengan benar sekitar 64 persen kematian dini, sedangkan “model Cox” hanya mengidentifikasi sekitar 44 persen.

Dalam studi baru, para ilmuwan menunjukkan, dengan penyetelan hati-hati, algoritma AI “pembelajaran yang mendalam” dapat digunakan untuk memprediksi hasil kematian dari waktu ke waktu, kata rekan penulis studi Joe Kai, profesor perawatan primer University of Nottingham, dalam pernyataannya.

Meski menggunakan kecerdasan buatan (AI) dengan cara ini mungkin asing bagi banyak profesional perawatan kesehatan, namun, menghadirkan metode yang digunakan dalam penelitian ini “dapat membantu dengan verifikasi ilmiah dan pengembangan masa depan pada bidang yang menarik ini,” kata Kai.

Temuan ini diterbitkan online pada 27 Maret 2019 di jurnal PLOS One (peer-reviewed open access scientific journal).

Simak video pilihan berikut:

Konferensi Kecerdasan Buatan menampilkan sejumlah robot pintar yang bisa menemani dan memudahkan manusia dalam keseharian.

Sandiaga Uno Ingin Hasil Riset Tidak Hanya Menumpuk dan Berdebu

Liputan6.com, Jakarta Calon wakil presiden 02 Sandiaga Uno mengatakan bahwa jika terpilih, dia akan lebih memperhatikan penelitian. Hal ini karena riset saat ini dianggap kurang selaras dengan dunia usaha.

“Yang harus kita fokuskan adalah menkosolidasikan agar dunia usaha, akademik, dan pemerintah memiliki satu sinergi,” kata Sandiaga di dalam debat cawapres di Jakarta, Minggu (17/3).

Sandiaga mengatakan banyak hasil riset tidak tersambung dengan apa yang dibutuhkan dunia usaha. Hal ini membuat hasil penelitian tersebut terabaikan.

“Riset banyak yang tidak digunakan, menumpuk, mengumpulkan debu,” kata Sandiaga Uno.

Dia mengungkapkan, anak muda di Indonesia sesungguhnya banyak menciptakan terobosan-terobosan. Dalam bidang pertanian misalnya, pupuk organik bisa digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan di bidang pangan dan untuk rakyat.

Maka dari itu, Sandiaga Uno mengatakan akan memberikan insentif pada perusahaan-perusahaan yang mau melakukan investasi di bidang riset. Selain itu, kesejahteraan peneliti juga akan diperhatikan oleh Prabowo dan Sandiaga.

Debat Ma’ruf Amin vs Sandiaga Uno Soal Riset ’10 Years Challenge’

Jakarta – Cawapres nomor urut 01 Ma’ruf Amin terlibat ditantang debat oleh cawapres nomor urut 02 Sandiaga Uno. Visi Ma’ruf Amin soal pembentukan badan riset nasional dikritik Sandiaga, Ma’ruf pun membalas dengan argumen yang lebih kuat.

“Mohon maaf, nuwun sewu, kalau membuat lembaga baru itu menambah birokrasi,” kata Sandiaga mendebat visi Ma’ruf Amin yang ingin memajukan Indonesia dengan memperkuat riset dengan membentuk Badan Riset Nasional.

Sandiaga pun lantas memaparkan visinya tentang riset nasional. Sandiaga ingin membuka peluang dunia usaha untuk melakukan riset.

“Bagi kami kuncinya kolaborasi. Dunia usaha kita berikan insentif kalau invenstasi di research. Kita punya lembaga riset tapi banyak yang dihasilkan tidak digunakan, kita akan memberikan kesejahteraan lebih baik. Kalau pemerintah tidak memfasilitasi, bagaimana ekosistem riset menghasilkan,” kata Sandiaga.

Ma’ruf Amin pun tak tinggal diam. Ia lantas meluruskan persepsi Sandiaga soal Badan Riset Nasional yang akan didirikannya.

“Bukan menambah, tapi menyatukan lembaga di bidang riset. Dengan demikian riset akan semakin berkembang ke depan. Bisa menjadi riset yang membangun Indonesia ke depan,” jelas Ma’ruf.

“Sekali lagi kita persiapkan untuk 10 years challenge,” pungkasnya.
(van/tor)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Ma’ruf Amin Akan Bentuk Badan Riset Nasional

Debat ketiga Pilpres 2019](3918916 “”) di gelar di Hotel Sultan, Jakarta, Minggu (17/3/2019). Debat kali ini hanya menampilkan calon wakil presiden (cawapres), Ma’ruf Amin dan Sandiaga Uno.

Pada debat Cawapres ini, tema yang diangkat soal Pendidikan, Kesehatan, Ketenagakerjaan, Sosial, dan Kebudayaan. Tak seperti dua debat sebelumnya, pada debat cawapres akan ada beberapa perbedaan.

Hal ini memang sengaja dilakukan Komisi Pemilihan Umum (KPU) untuk memperbaiki kekurangan pada debat-debat sebelumnya. Salah satunya adalah pembentukan Komite Damai yang baru muncul pada debat ketiga Pilpres 2019 nanti.

Selain itu, format debat juga berubah dan jumlah penonton yang hadir akan berkurang.

Soal Riset, Sandiaga Janjikan Ada Kolaborasi dan Tambahan Insentif

Liputan6.com, Jakarta Cawapres Sandiaga Uno memastikan di bawah kepemimpinannya akan mengintensifkan polemik dana riset yang terjadi saat ini. Dia pun berjanji akan ada kolaborasi dan tambahan insentif untuk mendongkrak kemajuan Indonesia lewat riset.

“Kuncinya ada di kolaborasi. Kami akan memastikan dunia usaha dapat insentif di riset, baik fiskal dan non fiskal. Juga kepada para peneliti di universitas terbaik kita,” kata Sandiaga menanggapi pernyataan Ma’ruf Amin dalam Debat Ketiga Cawapres, di Hotel Sultan Jakarta, Minggu (17/3/2019).

Ke depan, Sandiaga memastikan di bawah komandonya, pemerintah akan menghasilkan ekosistem di bidang teknologi, seni, dan matematika. Mantan Wagub DKI ini yakin bahwa anak Indonesia di masa depan pintar dan luar biasa.

“Karena saya yakin anak-anak Indonesia ini luar biasa, kuncinya ada di Indonesia adil dan makmur,” ujar Sandiaga.

Debat ketiga adalah pertarungan hanya antar Cawapres. Keduanya akan saling beradu gagasan dan visi misi soal empat tema. seperti,pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan, sosial dan budaya.

Bantah Tudingan Minim Program, Ini Strategi Ekonomi Jokowi-Ma’ruf

Jakarta – Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf menjelaskan bahwa akan ada enam program aksi besar yang akan dilakukan capres petahana Joko Widodo apabila terpilih kembali menjadi presiden.

Hal ini merespon keluhan para pengusaha yang menyampaikan bahwa kampanye tahun ini hanya terlihat saling tuding dan kurang memperlihatkan program yang dibawakan kedua pasangan calon (paslon).

Sebelumnya, taipan Sofjan Wanandi mengeluhkan iklim politik Indonesia di tengah gelaran Pemilu 2019. Dia menilai para paslon hanya saling tuding dan minim menjelaskan apa program yang ingin diperkenalkan ke publik.

“Saya kemarin bertemu dengan banyak pengusaha, itu semua mempersoalkan kok kita kampanye kali ini tidak bicara program banyak ya? Cuma saling menghujat satu sama lain, ini gimana kita, ini mana yang harus kita pegang, nah ini yang menimbulkan was-was terhadap para pengusaha maka wait and see itu terjadi,” ungkap Sofjan pada saat menghadiri CNBC Economic Outlook 2019, Kamis (28/2/2019).
Berikut ini daftar program-program aksi besar yang disampaikan oleh Juru bicara TKN, TB Ace Hasan Syadzily kepada detikFinance, Jumat (1/3/2019).

1. Memantapkan Penyelenggaraan Sistem Ekonomi Nasional yang Berlandaskan Pancasila.
Pancasila sebagai dasar negara dan ideologi bangsa perlu diwujudkan dalam sistem ekonomi nasional. Untuk itu, diperlukan langkah-langkah sistematis untuk memantapkan penyelenggaraan sistem ekonomi yang berlandaskan Pancasila.
– Menyelesaikan penyusunan peraturan dan perundangan
tentang Sistem Perekonomian Nasional yang berlandaskan
ideologi Pancasila.
– Mewujudkan pelaksanaan Sistem Perekonomian Nasional
yang berlandaskan ideologi Pancasila.
– Pengembangan Ekonomi Kerakyatan yang berkelanjutan.

2. Meningkatkan Nilai Tambah dari Pemanfaatan Infrastruktur.
Percepatan pembangun infrastruktur dalam empat tahun terakhir telah memberikan manfaat pada kelancaran konektivitas dan penurunan biaya logistik. Tahapan berikutnya adalah meningkatkan pemanfaatan infrastruktur pada penciptaan nilai tambah ekonomi melalui langkah-langkah:
– Mempercepat pemerataan pembangunan infrastruktur untuk menumbuhkan sentra-sentra ekonomi baru dengan mengembangkan pembiayaan kreatif dan inovatif yang melibatkan Swasta, BUMN, maupun BUMD.
– Mengintegrasikan pembangunan infrastruktur dengan pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus dan Kawasan Industri.
– Meningkatkan pemanfaatan infrastruktur bagi pengembangan UMKM.
– Memperluas akses perumahan/tempat tinggal/hunian dan bedah rumah bagi 5 juta Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR), buruh, ASN, prajurit TNI, dan anggota Polri.
– Mengembangkan infrastruktur perkotaan: perumahan/ tempat tinggal/hunian, transportasi massal, sentra-sentra ekonomi yang terintegrasi, serta memastikan ketersediaan infrastruktur air bersih, tenaga listrik, dan pengolahan limbah/sampah.
– Mempercepat pembangunan infrastruktur digital untuk pengembangan ekonomi digital.
– Mengembangkan sistem angkutan umum terintegrasi antar- permukiman, desa, kota, dan provinsi, dengan kerja sama antara pemerintah dan badan-badan usaha.

3. Melanjutkan revitalisasi industri dan infrastruktur Pendukungnya untuk Menyongsong Revolusi Industri 4.0.
Agar perekonomian Indonesia memiliki daya saing, maka revitalisasi industri merupakan keniscayaan. Untuk itu, ada beberapa langkah yang akan dilakukan:
– Menguatkan kebijakan pengelolaan sumber daya alam dari berbasis komoditas menjadi lokomotif pembangunan ekonomi.
– Mempercepat pengembangan industri prioritas nasional, terutama di industri manufaktur, industri pangan, industri energi, serta industri kelautan/maritim, untuk menciptakan nilai tambah, meningkatkan penyerapan tenaga kerja, serta memperkokoh struktur ekonomi menuju kemandirian.
– Menciptakan keterkaitan industri, baik ke depan maupun ke belakang melalui sinergi seluruh pelaku ekonomi nasional.
– Meningkatkan penggunaan komponen dalam negeri (TKDN) untuk memperkuat industri nasional serta membuka lapangan kerja yang lebih luas di dalam negeri.
– Mengembangkan sentra-sentra inovasi serta peningkatan anggaran riset untuk mendorong inovasi teknologi serta revitalisasi science-technopark untuk keperluan masyarakat serta pengembangan teknologi yang diperlukan di era revolusi industri 4.0.
– Revitalisasi industri pengolahan pascapanen sub-sektor pangan, hortikultura, hingga perkebunan.
– Meneruskan program peningkatan produksi dan pemanfaatan energi fosil secara efisien serta meningkatkan nilai tambah untuk kemajuan perekonomian nasional.
– Meneruskan dan mengokohkan pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT) untuk mencapai target yang terukur pada tahun 2025, termasuk memberikan akses kepada rakyat untuk mengembangkan dan mengelola sumber- sumber energi terbarukan.
– Meneruskan revitalisasi dan pembangunan sarana dan prasarana logistik domestik dan internasional, seperti pelabuhan dan gudang dengan fasilitas pengolahan pascapanen, agar biaya logistik dapat bersaing dengan memanfaatkan kemajuan digital.
– Mengembangkan industri kelautan/kemaritiman, serta mendorong investasi infrastruktur pendukungnya.

4. Mengembangkan sektor-sektor ekonomi baru.
Selain ekonomi berbasis sumber daya alam, kita juga memiliki beberapa potensi ekonomi baru yang perlu dikembangkan secara merata. Potensi ekonomi baru itu berbasis kekayaan alam dan juga modal sosial budaya yang bisa dimanfaatkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi berkualitas. Langkah- langkah yang bisa dilakukan:
– Mempercepat pengembangan sektor pariwisata yang memberikan nilai tambah bagi perekonomian daerah dan masyarakat sekitarnya. Fokus pada melanjutkan pembangunan 10 destinasi wisata baru (“Bali Baru”).
– Mempercepat pengembangan ekonomi dan industri kreatif dengan terobosan strategi kebijakan dan insentif melalui Badan Ekonomi Kreatif.
– Mengembangkan industri jasa keuangan berbasis syariah.
– Memfasilitasi berkembangnya ekonomi digital, termasuk transportasi online, dengan menciptakan peluang bisnis, kepastian hukum pada pelaku usaha dan perlindungan pada konsumen, serta meningkatkan daya saing demi kepentingan nasional.

5. Mempertajam reformasi struktural dan fiskal.
Reformasi struktural dan reformasi fiskal adalah kunci peningkatan daya saing perekonomian nasional. Arahnya adalah untuk meningkatkan efisiensi, kemudahan berusaha, dan menciptakan level of playing field yang berkeadilan. Langkah yang akan dilakukan:
– Melanjutkan reformasi struktural dan kemudahan berusaha secara terpadu dan berbasis teknologi informasi.
– Melanjutkan reformasi kebijakan fiskal untuk menghadirkan APBN yang sehat, adil, dan mandiri, serta mendukung peningkatan kesejahteraan, penurunan tingkat kesenjangan, dan peningkatan produktivitas rakyat.
– Melanjutkan reformasi perpajakan yang berkelanjutan untuk mewujudkan keadilan dan kemandirian ekonomi nasional, dengan target terukur, serta memperhatikan iklim usaha dan peningkatan daya saing.
– Optimalisasi PNBP dengan sistem yang terintegrasi serta tata kelola yang lebih transparan dan akuntabel.
– Memperkuat sinergi tiga pilar (kebijakan fiskal, moneter, dan sektor riil) guna memperbaiki ketersediaan sumber pembiayaan, menurunkan tingkat bunga, sekaligus mendorong produksi nasional.
– Meningkatkan penyimpanan devisa hasil ekspor di dalam negeri sehingga bisa dimanfaatkan untuk ekonomi nasional.

6. Mengembangkan reformasi ketenagakerjaan.
Sektor ketenagakerjaan memiliki peran penting dalam peningkatan produktivitas dan daya saing bangsa. Untuk itu, upaya perlindungan dan penguatan dilakukan dengan:
– Membangun sistem perburuhan dan pengupahan yang dapat meningkatkan kesejahteraan buruh sekaligus meningkatkan daya saing industri nasional.
– Meningkatkan keterampilan pencari kerja dan buruh dengan pelatihan vokasi dan sertifikasi dengan melibatkan pemerintah, dunia usaha, dan kalangan pendidikan.
– Memperluas akses buruh untuk mendapatkan dana beasiswa pendidikan dan peningkatan keterampilan.
– Meningkatkan perlindungan bagi tenaga kerja di sektor informal.
– Mempercepat pembenahan sistem, pelayanan dan kualitas buruh migran, akses pembiayaan KUR, serta meningkatkan perlindungan bagi buruh migran secara terintegrasi. (dna/dna)

Dapat Mosi Tidak Percaya, Kepala LIPI: Tunggu Tim Penyelaras

Jakarta – Profesor riset dan peneliti utama Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melayangkan mosi tidak percaya terhadap Ketua LIPI Laksana Tri Handoko. Handoko menilai tak semestinya ada gerakan tersebut.

“Dalam konteks di atas, gerakan dan manuver dari sebagian kecil peneliti senior dan pensiunan peneliti LIPI tidak sepatutnya dilakukan,” ucap Handoko lewat pesan singkat, Kamis (28/2/2019).

Dia menegaskan LIPI merupakan lembaga akademis yang menjunjung tinggi kebebasan akademis berdasarkan etika ilmiah. Namun di sisi lain, LIPI juga lembaga eksekutif pemerintahan yang mengacu pada regulasi dan etika ASN bagi civitas di dalamnya.


Menurut Handoko, sebaiknya seluruh pihak menunggu hasil kerja Tim Penyelaras yang sudah dibentuk KemenPAN-RB dan Kemenristekdikti. Dia mengatakan bila ada bagian dari eksekusi yang perlu diperbaiki semestinya segera dicari solusinya.

Salah satu alasan dilayangkannya mosi tidak percaya yakni Handoko dinilai mengingkari kesepakatan untuk menghentikan sementara reorganisasi di LIPI. Handoko mengatakan reorganisasi sebagai produk hukum yang telah melalui proses panjang sehingga tak bisa dianulir dengan mudahnya.

Handoko juga mengatakan reorganisasi dilakukan untuk perbaikan di tubuh LIPI. Dia tidak sepakat bila reorganisasi membuat kinerja LIPI menurun.

“Reorganisasi ditujukan untuk meningkatkan tata kelola, produktifitas dan kinerja LIPI di bidang litbang. Selain untuk menyesuaikan tata kelola sesuai dengan regulasi terkini. Dengan proses reorganisasi yang baru berjalan beberapa minggu bagaimana mungkin membuat layanan dan reputasi LIPI merosot,” ujar dia.

Sebelumnya diberitakan, profesor riset dan peneliti utama LIPI melayangkan mosi tidak percaya terhadap Handoko. Mereka menilai Handoko mengingkari kesepakatan tentang pengkajian ulang kebijakan reorganisasi.

“Kepala LIPI ternyata tidak menepati janji untuk menghentikan reorganisasi dan redistribusi sesuai dengan kesepakatan yang telah diambil oleh kedua belah pihak dan imbauan tersebut,” kata perwakilan profesor dan peneliti LIPI, Hermawan Sulistyo, di gedung Widya Graha lantai 7, LIPI, Jalan Jenderal Gatot Subroto, Jakarta, Kamis (28/2/2019).

Hermawan mengatakan ada sembilan alasan lain yang melatarbelakangi munculnya mosi tidak percaya tersebut. Profesor dan peneliti menilai saat ini sistem dan tata kelola internal LIPI telah rusak, pelayanan publik LIPI juga merosot, dan reputasi LIPI sebagai pemegang otoritas keilmuan hancur.

Atas berbagai alasan tersebut, para profesor dan peneliti LIPI menyatakan tak percaya pada kepemimpinan Handoko. Karena itu, mereka mendesak Presiden Joko Widodo (Jokowi) memberhentikan Handoko.

Diberitakan sebelumnya, Handoko memang menandatangani kesepakatan bersama profesor dan peneliti tentang pengkajian ulang kebijakan reorganisasi LIPI. Dalam kesepakatan itu, terdapat 5 poin tuntutan para profesor dan peneliti utama LIPI.

Handoko bersedia menandatangani dengan catatan poin 1 dan poin 5 dalam kesepakatan itu dikaji lebih dulu. Berikut ini 5 tuntutan para peneliti yang ditandatangani Handoko pada 8 Februari 2019 ini:

1. Menghentikan sementara (moratorium) kebijakan reorganisasi LIPI
2. Membentuk Tim Evaluasi Reorganisasi LIPI yang beranggotakan perwakilan dari masing-masing kedeputian
3. Mengkaji ulang kebijakan reorganisasi LIPI dengan melibatkan seluruh civitas LIPI secara inklusif, partisipatif, dan humanis
4. Merumuskan visi, rencana strategis, dan peta jalan (road map) LIPI dengan tahapan yang terukur dan jelas
5. Selama proses pengkajian ulang berlangsung, maka tata kelola LIPI dikembalikan pada struktur sesuai dengan Perka LIPI No 1/2014.

Seusai pertemuan, Handoko menjelaskan alasannya yang sempat tidak mau menandatangani 5 tuntutan dari peneliti LIPI tersebut karena poin 1 dan 5 berbenturan dengan Perpres Nomor 4 Tahun 2018.

“Jadi memang kalau reorganisasi itu sebenarnya bukan hanya saya prosesnya. Jadi yang jelas proses itu melibatkan banyak pihak khususnya KemenPAN-RB. Kedua, memang kita ada proses pemindahan pusat yang standardisasi nasional. Itu kalau kita pakai kan itu gugur padahal sesuai perpres itu harus sudah dipindah, jadi tak mungkin, kasihan juga yang sudah ke sana, itu amanah Perpres Nomor 4 Tahun 2018,” paparnya.
(jbr/fjp)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>