Orang Desa Juga Bisa Kena Hipertensi, Ini Alasannya

Liputan6.com, Jakarta Jika Anda mengira tekanan darah tinggi atau hipertensi hanya dialami oleh masyarakat perkotaan saja, ini salah besar. Faktanya, orang-orang yang hidup di pedesaan bisa terkena hipertensi.

Beberapa waktu lalu, ketika berbincang dengan seorang kepala dinas kesehatan dalam Rapat Kerja Kesehatan Nasional 2019 di Tangerang Selatan, Banten Presiden Joko Widodo sempat terkejut mendengar bahwa di wilayah Natuna, Kepulauan Riau banyak orang terkena hipertensi. Salah satu faktor yang bisa meningkatkan kondisi itu kemungkinan besar adalah konsumsi garam.

“Kemungkinan sekali hal itu karena konsumsi garamnya tinggi sekali,” kata Prof. Dr. dr. Suhardjono SpPD-KGH, K.Ger kepada Health Liputan6.com di Jakarta ditulis Sabtu (23/2/2019).

Di kesempatan yang sama, Presiden Perhimpunan Dokter Hipertensi Indonesia Tunggul Situmorang mengatakan, dahulu di publikasi awal mengenai hipertensi, daerah dengan angka tertinggi di Silungkang, Sumatera Barat. Penyebabnya karena daerah tersebut memang memiliki konsumsi garam yang tinggi.


Simak juga video menarik berikut ini:

2 dari 3 halaman

Konsumsi garam meningkat dengan modernisasi

Tunggul mengatakan, konsumsi garam di daerah-daerah luar kota memang meningkat seiring dengan  modernisasi. Namun, penelitian dari Jepang di Amerika Serikat telah membuktikan hal semacam itu.

“Dengan kondisi diet garam yang bertambah, maka prevalensi hipertensinya juga bertambah,” ungkap Tunggul menjelaskan.

Dia menambahkan, dalam sebuah studi di Jawa Barat, orang-orang di desa memang banyak mengonsumsi garam.

“Mereka memang ‘lauk’nya garam. Makan pakai garam. Jadi ini bukan soal di kota atau di desa, walaupun stres dan lainnya (berpengaruh), tapi yang utamanya juga konsumsi garam.”

Sehingga, pemerintah diminta untuk membuat regulasi khusus terkait konsumsi garam. Tunggul mencontohkan di Inggris yang tidak memperbolehkan konsumen restoran menambahkan garam secara mandiri.

3 dari 3 halaman

Hipertensi, pintu gerbang stroke dan penyakit jantung

Tunggul mengatakan bahwa hipertensi bisa menjadi awal mula dari berbagai penyakit tidak menular yang mematikan. Misalnya masalah jantung dan stroke.

“Hipertensi adalah biang keladi dari kelainan pada ginjal, jantung, bahkan pada saraf dan semua organ yang mempunyai pembuluh darah,” kata Tunggul. Maka dari itu, penyakit semacam ini harus diwaspadai.

Salah satu untuk mencegahnya adalah dengan mengurangi konsumsi garam dan juga makanan-makanan kemasan yang mengandung monosodium glutamat (MSG). Tentu saja, juga diimbangi dengan gaya hidup sehat seperti rajin olahraga.

Aksi Penerbang Pesawat Tempur Masuk Parit Bersihkan Sampah di Pasar

Liputan6.com, Pekanbaru- Pemandangan tak biasa terlihat di Pasar Pagi Arengka Kota Pekanbaru, Kamis, 21 Februari 2019. Puluhan pria bercelana loreng beramput cepak terlihat berbaris di lokasi yang masih dikelilingi sampah itu.

Beberapa di antaranya merupakan pilot pesawat tempur. Matahari yang mulai terik tak sedikitpun merubah barisan para prajurit yang selama ini bertugas di Pangkalan Udara Roesmin Nurjadin Pekanbaru.

Sejurus kemudian, usai komandan memberikan perintah, mereka mengambil sapu lidik, sekop, dan alat kebersihan lainnya. Tanpa ragu-ragu, prajurit TNI AU ini langsung masuk parit lalu mulai mendongkel sampah, mengumpulkan dan diletakkan ke wadah yang disediakan.

Menurut Komandan Lanud Roesmin Nurjadin Marsma TNI Ronny Irianto Moningka ST MM, apa yang dilakukan prajuritnya untuk memperingati Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) tahun 2019. Kegiatan ini disebutnya bertujuan agar masyarakat tak membuang sampah di tempat keramaian.

“Ini aksi nyata, membersihkan sampah yang berserakan di sini. Prajurit diharap menjadi contoh bagi masyrakat,” kata pria berbintang satu di pundaknya ini, usai terjun langsung mengutip sampah.

Dia menjelaskan, HPSN dicatuskan untuk memperingati tragedi longsor sampah di Leuwigajah, Jawa Barat pada 21 Februari 2005. Penyebab longsor tersebut kala itu diduga karena curah hujan tinggi serta ledakan gas Metana (CH4) yg terperangkap terhadap timbunan sampah.

Longsoran gunungan sampah tersebut menelan lebih dari 150 jiwa. Peristiwa pilu ini dinyatakan sebagai bencana lingkungan, di mana mayoritas korbannya adalah penduduk di sekitar TPA yang bekerja sebagai pemulung.

“Tujuan diperingati sebagai komitmen bersama agar bencana akibat pengelolaan sampah yang kurang baik dan tidak berwawasan lingkungan tak terulang kembali,” imbuh Ronny.

Di samping itu, tambah Ronny, kegiatan ini merupakan wujud kemanunggalan Lanud Roesmin masyarakat sekitaran Pasar Pagi Arengka serta Pemerintah Provinsi Riau.

Menurut Ronny, sampah bisa menjadi kawan dan bisa jadi lawan. Hal itu tergantung bagaimana warga memperlakukannya karena sampah bisa bisa menjadi penyakit, merusak lingkungan.

“Namun bila ditangani dengan baik maka akan bermanfaat bagi masyarakat serta sejalan dengan hal ini. Dan Panglima TNI menginginkan seluruh jajaran AD, AL, AU untuk turun langsung dalam kegiatan HPSN ini,” terang Ronny.

Deretan Lumbung Suara Jokowi dan Prabowo, Mampukah Naikkan Elektabilitas?

Liputan6.com, Jakarta – Saling klaim kemenangan di daerah-daerah yang menjadi titik kelemahan masing-masing pasangan calon atau paslon, kini gencar dilakukan tim pemenangan Jokowi-Ma’ruf Amin dan Prabowo Subianto.

Kondisi ini tak bisa dipungkiri lantaran kedua kubu menjelang Pilpres 2019 kerap berkampanye di daerah-daerah yang pada Pilpres 2014 silam menjadi titik lemah Jokowi dan Prabowo.

Tentu itu dilakukan untuk menaikkan elektabilitas keduanya hingga akan mempengaruhi jumlah pemilih pada pertarungan final, 17 April 2019.

Dari sejumlah survei, baik independen maun internal parpol menyebutkan, pasangan cawapres nomor urut 1, Jokowi-Ma’ruf Amih masih lebih unggul dibanding Prabowo-Sandiaga.

Wakil Ketua TKN Jokowi-Ma’ruf Amin, Abdul Kadir Karding mengatakan, elektabilitas pasangan capres cawapres ini berada di angka 56 persen. “Di kisaran angka 56 persen,” ucap Karding saat dikonfirmasi, Rabu, 6 Februari 2019.

Meski demikian diakui Karding ada sejumlah daerah, dimana Jokowi-Ma’ruf masih kalah tipis dari Prabowo-Sandi. Di antaranya Jawa Barat dan Banten.

Berikut deretan lumbung suara Jokowi-Ma’ruf Amin dan Prabowo-Subianto yang berpotensi menaikkan elektabilitas kedua paslon:

2 dari 6 halaman

Kekuatan Jokowi

Berdasarkan rilis sejumlah lembaga survei, Jokowi-Ma’ruf mengungguli Prabowo-Sandi hampir di seluruh pulau besar di Indonesia. Seperti Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Bali, daerah Nusa Tenggara ditambah Maluku dan Papua.

Bahkan diprediksi Provinsi Jawa Tengah, Jawa Timur serta Yogyakarta akan menjadi lumbung suara Jokowi-Ma’ruf Amin dengan pencapaian suara mencapai 57,1 persen.

Bahkan oleh Lembaga Surabaya Survey Center (SSC) diperkirakan, kedua pasangan ini akan menang telak di Jawa Timur dengan meraih suara sebesar 55.9 persen.

3 dari 6 halaman

Kelemahan Jokowi

Seperti disebutkan di atas, DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten merupakan titik lemah Jokowi-Ma’ruf Amin dalam perolehan suara. Khususnya di Priangan Barat yakni Sukabumi, Cianjur dan Priangan Timur yakni Garut dan Tasikmalaya.

“TKD akan terus lakukan sosialisasi juga untuk kampanye di sana. Sebab kalau program-program yang dilakukan Pak Jokowi kan sudah cukup dan bagus, sudah diterima masyarakat. Tinggal bagaimana supaya masyarakat di sana kemudian juga tingkat elektoralnya tinggi,” ” ungkap Sekretaris TKD Abdy Yuhana.

Begitu pula di Madura. Perolehan suara Jokowi pada Pilpres 2014 yang saat itu dipasangkan dengan Jusuf Kalla, kalah parah di empat kabupaten di Pulau Madura.

Banten juga diperkirakan masih akan menjadi basis Prabowo. Jokowi- Ma’ruf Amin hanya unggul di Kabupaten Lebak dari delapan Kabupaten/Kota di Banten versi survei internal.

“Di Banten kalah tipis sekitar 5 sampai 6 persen. Kita kalah di tujuh Kabupaten/Kota kalah tipis, kita menang hanya di Lebak,” kata Ketua Tim Kampanye Daerah (TKD) Jokowi-Ma’ruf Amin Banten Asep Rahmatullah saat dikonfirmasi.

4 dari 6 halaman

Kekuatan Prabowo

Dari hasil survei internal yang dilakukan tim Prabowo-Sandiaga disebut sejumlah provinsi akan menjadi lumbung suara kedua paslon ini. Misalnya di Pulau Sumatera, kubu Prabowo diklaim unggul di Aceh, Sumatera Barat dan Riau.

Sementara di Pulau Jawa, Kubu Prabowo juga merasa unggul di Banten, DKI Jakarta dan Jawa Barat. Menurut pengurus Partai Gerindra, hal tersebut merupakan bentuk bukti nyata kerja keras para kadernya.

“Merupakan hal mutlak kalau kami berada di tengah-tengah masyarakat, berarti masyarakat bisa menilai,” ucap Ketua DPD Gerindra Banten Desmon J Mahesa di kediamannya, usai acara bersama Cak Nun dan Kiai Kanjeng, di Kota Serang, Banten, Kamis (7/6/2018).

Sementara di kawasan Indonesia bagian Timur, Andre mengungkapkan, di Pulau Sulawesi Prabowo-Sandi unggul. Begitu pula di Kalimantan, di beberapa titik, Prabowo-Sandi ada yang unggul dan kalah.

“Kita Sulawesi unggul, Kalimantan ada menang dan ada yang kalah, NTB menang, NTT kalah, Papua masih tertinggal,” ungkap Jubir Prabowo-Sandiaga, Andre Rosiade.

Sementara untuk di kawasan Indonesia bagian Timur, Andre mengungkapkan, di Pulau Sulawesi Prabowo-Sandi unggul. Begitu pula di Kalimantan, di beberapa titik, Prabowo-Sandi ada yang unggul dan kalah.

5 dari 6 halaman

Kelemahan Prabowo

Berkaca dari beberapa hasil survei yang menyatakan kubu Jokowi-Ma’ruf masih lebih unggul, Timses Prabowo-Sandi kini tengah mengejar ketertinggalan.

Meski disebutkan selisih elektabilitas paslon nomor urut 02 dengan Jokowi-Ma’ruf tinggal 4 persen, masih ada sejumlah pekerjaan rumah yang harus menjadi perhatian Timses Prabowo-Sandiaga untuk mendulang suara.

Salah satunya adalah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Hal inilah yang menjadi kenapa Prabowo-Sandi ingin mendirikan Markas di provinsi yang menjadi basis massa terbesar PDIP yakni Jawa Tengah.

Koordinator Juru Bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga, Dahnil Anzar Simanjuntak mengungkap, alasan rencana dibangunnya markas mereka di Jawa Tengah.

“Berdasarkan survei kita, memang Jateng menjadi istilah ‘Battle Ground’. Banyak tempat kita menang tipis,” kata Dahnil di Kantor Seknas, Hos Cokroaminoto, Jakarta Pusat, Minggu (9/12/2018).

Namun, Dahnil percaya kali ini magnet Prabowo akan mampu menjadi magnet yang sangat kuat untuk menaikkan elektabiltas Prabowo-Sandi.

6 dari 6 halaman

Saksikan video pilihan di bawah ini:

CCTV Pembunuhan Noven di Bogor Sampai ke Tangan FBI

BogorSiswi SMK di Bogor berusia 18 tahun, Andriana Yubelia Noven Cahya, tewas dibunuh di sebuah gang sempit pada 7 Januari 2019 lalu. Wajah pelaku terekam CCTV, namun tak jelas.

Sebanyak 28 saksi telah diperiksa untuk mencari titik terang perkara ini. Polisi kesulitan untuk mengidentifikasi wajah pelaku karena kualitas rekaman CCTV yang terpasang di dekat lokasi penusukan tidak baik.

Hanya tampak dalam rekaman CCTV bahwa pelaku menusuk korban di sebuah gang yang sepi. Pelaku memang sebelumnya telah menunggu korban berjalan di gang di Jalan Riau itu.
“Kita sudah periksa 28 orang saksi. Tapi dari semuanya, belum ada yang menjurus kepada pelaku. Kita masih analisa keterangan-keterangan saksi,” ucap Kabid Humas Polda Jabar Kombes Trunoyudo Wisnu Andiko kepada detikcom, Selasa (29/1).

Noven menderita luka akibat senjata tajam di bagian dada kiri. Luka yang ditemukan di tubuhnya memanjang sepanjang 22 cm. Dia tewas seketika berdekatan waktunya dengan kaburnya pelaku.

“Memang untuk wajah pelaku ini di CCTV tidak terlalu jelas. Lalu kualitas video CCTV juga kurang baik ya,” kata Kombes Truno.

Salah seorang pria berinisial S yang tak lain mantan kekasih Noven sempat diamankan. Namun karena tak cukup kuat bukti, pria tersebut dilepaskan. Polisi juga sempat ‘mengubek-ubek’ laptop Noven, namun tak ada petunjuk mengarah ke siapa pelakunya.
Rekaman CCTV yang kualitasnya tak terlalu bagus membuat polisi memutuskan untuk meminta bantuan kepada Federal Bureau of Investigation (FBI). Polri ingin meminjam alat canggih milik FBI guna mengidentifikasi wajah pria penusuk Noven yang terekam CCTV.

“Kita akan meminta bantuan kepada FBI (karena) mereka kan alatnya lebih canggih secara digital forensik. Untuk zoom yang lebih besar dan tidak pecah-pecah, sehingga kita bisa mengenali dengan jelas pelaku yang ada di CCTV tersebut,” ujar Kapolres Bogor Kota Kombes Hendri Fuiser, Jumat (22/2).

Kombes Hendri tak menjelaskan lebih jauh apakah FPI telah merespons permintaan tersebut atau belum. Akibat CCTV yang kurang terlalu dan bukti-bukti yang belum cukup, hingga kini pembunuh Noven masih berkeliaran.
(rna/knv)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Daftar Biaya yang Dibayar Warga buat Sertifikasi Tanah

Jakarta – Program pendaftaran tanah sistematis lengkap (PTSL) yang sudah dijalankan pemerintahan kabinet kerja sejak tahun 2017 masih ada praktik pungli yang dilakukan oknum.

Padahal, sudah ada aturan yang mengatur bahwa program PTSL ada biaya yang dibebankan atau harus dibayar oleh masyarakat, biaya itu dalam rangka pelaksanaan persiapan pendaftaran tanah sistematis.

Adapun, dana tersebut untuk seperti kegiatan penyiapan dokumen, kegiatan pengadaan patok dan materai, lalu kegiatan operasional petugas kelurahan/desa.

“Iya, adminitrasi pra sertifikat, seperti bukti waris, kalau lebih dari itu dan itu tidak ada persetujuan dari masyarakat, tidak ada peraturannya, itu pungli,” kata Menteri ATR Sofyan Djalil di Gelanggang Remaja Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Jumat (22/2/2019).

Keputusan adanya beban biaya yang dibayarkan masyarakat tertuang dalam keputusan SKB 3 Menteri Nomor 25 Tahun 2017. Ketiga menteri tersebut adalah Menteri ATR, Menteri Dalam Negerti, dan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi.

Sofyan mengatakan, biaya yang dikeluarkan oleh masyarakat dalam proses pembuatan sertifikat ini pun dilakukan di tingkat desa, dalam hal ini kelurahan.

“Ada ketentuan itu ada peraturan 3 menteri yang boleh diambil oleh desa,” jelas dia.

Lalu berapa biaya yang seharusnya dikeluarkan oleh masyarakat dalam program sertifikat tanah? Berikut sesuai ketentuan SKB 3 Menteri Nomor 25 Tahun 2017:

Kategori I untuk Provinsi Papua, Maluku Utara, dan Nusa Tenggara Timur (NTT) sebesar Rp 450.000.

Ketegori II untuk Provinsi Kepulauan Riau, Bangka Belitung, Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara, Sulawesi Tenggara, Nusa Tenggara Barat (NTB) sebesar Rp 350.000.

Kategori III untuk Provinsi Gorontalo, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Sumatera Utara, Aceh, Sumatera Barat, Kalimantan Timur sebesar Rp 250.000.

Kategori IV untuk Provinsi Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Lampung, Bengkulu, Kalimantan Selatan sebesar Rp 200.000.

Kategori V untuk Pulau Jawa dan Bali sebesar Rp 150.000.

(hek/eds)

Tuan dan Puan dari Melayu O atau Melayu E?

Liputan6.com, Pekanbaru – Bahasa menjadi pembeda meski masyarakat berada dalam wadah sama bernama negara. Bahasa menjadi ciri kebudayaan dan identitas bagi penuturnya sebagai petunjuk dari daerah mana dia berasal.

Di Indonesia, tentu sudah tidak asing lagi dengan Melayu dan kebudayaannya. Melayu kemudian kian lekat dengan sebagian besar masyarakat yang tinggal di Sumatera, misalnya Riau, dan beberapa provinsi tetangga seperti Jambi, Sumatera Selatan, hingga Bangka Belitung.

Bagi masyarakat Melayu Riau, bahasa ini tentu saja menjadi bahasa ibu atau pertama kali diperoleh, dipelajari dari orangtua, lalu dituturkan untuk berkomunikasi dengan orang lain. Namun perlu diketahui, pengucapan dalam Melayu itu beragam tergantung dari kabupaten mana penuturnya berasal.

Di Riau sendiri, penuturan bahasa Melayu juga beragam dilihat dari pengucapan atau dialek huruf vokal berakhiran A menjadi O dan E dengan pengucapan ringan. Makanya, ketika seseorang mengaku Melayu, akan ditanya apakah Melayu O atau E.

Sebagai contoh pengucapan “kata”, ada yang menuturkan menjadi “kate” atau “kato”, kata “ke mana” biasanya diucapkan jadi “ke mane” atau “ke mano”.

Kemudian ada juga menggugurkan pemakaian huruf R lalu diganti dengan O, baik yang ada di tengah ataupun akhir kata. Misalnya telur menjadi “telo”, tidur menjadi “tido”, pergi menjadi “pegi”, berjalan menjadi “bejalan”.

Secara umum, perbedaan dialek O dan E karena geografis wilayah. Biasanya, dialek O sangat identik dengan masyarakat Melayu daratan sementara E bagi masyarakat yang tinggal di daerah pesisir.

Daerah pesisir sebut saja Bengkalis, Meranti, Rokan Hilir dan Indragiri Hilir, sebagian Pelalawan. Kemudian daratan misalnya Kampar, Rokan Hulu, Siak, Indragiri Hulu, Kuantan Singingi, sebagian Pelalawan.

Terkadang, ada juga masyarakat Melayu pesisir yang dialeknya lebih banyak kepada O. Biasanya terjadi karena akulturasi budaya dengan wilayah daratan.

2 dari 2 halaman

Saling Menjaga Bahasa Ibu

Menurut Ketua Majelis Kerapatan Adat Lembaga Adat Melayu Riau, Al Azhar, perbedaan dialek itu sampai sekarang masih terjaga. Setiap daerah masih menjaga bahasa ibu sebagai cara berkomunikasi yang pertama kali diperoleh.

“Hanya saja ketika diajak berbahasa Indonesia, masyarakat langsung mengerti. Bahasa Indonesia dianggap sebagai bahasa Melayu baku, tapi tetap saja berbeda dengan bahasa ibu (Melayu asli),” sebut Al Azhar di Pekanbaru, Rabu, 20 Februari 2019.

Al Azhar menjelaskan, perbedaan itu tidak menjadi penghalang komunikasi ketika dua ‘penganut’ dialek itu bertemu. Satu dengan lainnya akan saling menghargai dengan menjaga bahasa ibu masing-masing.

“Ketika orang Indragiri berbicara, orang Siak paham, begitu pula sebaliknya tanpa berbahasa Indonesia. Misalnya ketika di LAM ini rapat, kan datuknya dari berbagai daerah, terkadang pakai bahasa masing-masing,” jelasnya.

Kata pria 58 tahun ini, terpeliharanya bahasa ibu karena masyarakat Melayu menjunjung tinggi kekerabatan dan rasa berkaum. Tak jarang ada yang melebur jika tahu lawan bicaranya memakai dialek lain.

“Misalnya orang Siak ngomong, terkadang orang Bengkalis mengikuti karena perbedaannya tipis sekali. Dan rasa kekerabatan inilah yang membuat bahasa ibu tetap bertahan,” ucap Al Azhar.

Lebih jauh, Al Azhar menerangkan, di Indonesia terdata 700 bahasa daerah. Sebagian bahasa daerah sudah tidak digunakan lagi karena kecenderungan masyarakatnya memilih memakai bahasa Indonesia.

“Bahasa Indonesia penting karena sebagai pemersatu, tapi bahasa ibu tak boleh dilupakan karena itu yang menjadi ciri khas Indonesia,” sebut Al Azhar.


Simak video pilihan berikut ini:

24 Provinsi Tengah Susun Rencana Umum Energi Daerah

Liputan6.com, Jakarta – Dewan Energi Nasional (DEN) menggelar sidang anggota yang ke-27. Salah satu agenda yang dibahas dalam sidang ini adalah Rencana Umum Energi Daerah (RUED).

Sekretaris Jenderal DEN Sales Abdurrahman mengatakan,‎ sidang DEN ke-27 telah selesai dengan dihadiri anggota DEN dan pemangku kepentingan terkait penyediaan dan penggunaan energi.

“Ini tadi kami melakukan sidang anggota yang ke-27, hadir anggota DEN dari AUPK unsur pemangku kepentingan, juga dari anggota unsur pemerintah,” kata Saleh, usai sidang DEN, di Banyuwangi, Jawa Timur, Kamis (21/2/2019).

Pembahasan dalam‎ sidang DEN ke-27 diantaranya penyusunan RUED oleh pemerintah daerah (pemda), dengan mengacu pada Rencana Umum Energi Nasional (RUEN), dalam pasal 17 ayat 1.

Penyusunan RUED didampingi tim penyusunan RUED‎ Pusat yang terdiri dari DEN, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), dan BPPT.

Dalam perkembangannya, sudah ada dua Provinsi yang telah menyelesaikan RUED, kemudian dilanjuti dengan penyusunan Peraturan Daerah (Perda). Provinsi tersebut adalah Jawa Tengah dengan menerbitkan Perda Nomor 12 Tahun 2018 dan Jawa Barat dengan menerbitkan Perda Nomor 2 Tahun 2018.

2 dari 3 halaman

24 Provinsi

Saat ini ada 24 Provinsi yang sedang melakukan Program Pembentukan Perda (Propemperda). Pembuatan perda tersebut dibahas bersama DPRD Provinsi masing-masing. ‎

Terdapat dua provinsi yang menganggarkan naskah akademis dan Rancangan Perda, yaitu Provinsi Sulawesi Utara dan Kalimantan Barat.

Berikutnya ada enam Provinsi yang tidak menganggarkan naskah akademis dan Rancangan ‎Peraturan Daerah RUED Provinsi pada 2019, yaitu Riau, Kepulauan Riau, Sumatera Selatan,Sulawesi Tenggara, Papua Barat dan Papua.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Pasokan Listrik RI Bertambah 4.000 MW pada 2019

Liputan6.com, Jakarta – PT PLN (Persero) mencatat pasokan listrik Indonesia akan bertambah sebesar 4.000 Mega Watt (MW) pada 2019. Dengan beroperasinya pembangkit bagian dari program 35 ribu Mega Watt (MW).

Direktur Perencanaan Korporat PLN, Syofvi Felienty Roekman mengatakan, tambahan pasokan listrik sebesar 4 ribu MW, berasal dari pembangkit yang beroperasi pada 2019, di antaranya adalah Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Lontar dengan kapasitas 315 Mega Watt (MW).

Kemudian Jawa 7 Unit 1 dan Cilacap Unit 1 dengan total kepasitas ‎2300 MW, Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG) Tanjung Priok, Grati dan Muara Karang. 

Selain itu, juga ada pembangkit yang menggunakan Energi Baru Terbarukan (EBT) dengan total kapasitas 780 MW. Terdiri dari Pembangkit Listrik Tenaga Air‎ (PLTA) Jatiede dan Raja Mandala.

“Kurang lebih 4 ribu. Bagian dari 35 ribu MW, yang besar batu bara,” kata Syofvi, di Jakarta, Kamis (21/2/2019).

Syofvi menuturkan, jumlah tambahan pasokan listrik dari pembangkit program 35 ribu MW lebih besar pada 2019, dibanding tahun lalu sebesar 2 ribuan MW. Sedangkan total kapasitas pembangkit 35 ribu MW yang telah beroperasi sampai 2018 sekitar 10 ribu MW.

“2000-an lebih. Total empat tahun 2015-2018 sekitar 10 ribu MW tapi size-nya kecil-kecil,” tutur dia.

Syofvi menilai, pembangkit listrik tersebut dipercepat pengoperasianya beberapa bulan. Mayoritas pembangkit yang beroperasi terletak di Pulau Jawa. Hal ini untuk memenuhi pertumbuhan kebutuhan listrik di wilayah tersebut .

‎”Jawa pertumbuhan 2018 jauh lebih dari 2016 bagus sekitar 4 persen lebih, nasional 5,15 itu konsumsi listrik, tahun ini lebih dari 6 persen,”‎ kata dia.

2 dari 2 halaman

PLN Ganti Bahan Bakar Empat Pembangkit Listrik dengan Minyak Sawit

Sebelumnya, PT PLN (Persero) akan mengalihkan pemakaian bahan bakar keempat ‎pembangkit listrik menjadi menggunakan minyak kelapa sawit (Crude Palm Oil/CPO). Hal ini merupakan upaya mengurangi penggunaan energi fosil pada sektor ketenagalistrikan.

Direktur Perencanaan Korporat PLN, Syofvi Felienty Roekman mengatakan, empat pembangkit yang menjadi pelopor pengalihan pemakaian bahan bakar ke CPO sedang tahap uji coba.

Pembangkit tersebut adalah Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) Batakan 50 Megawatt (MW) di Balikpapan, Kalimantan Timur, PLTD Supa di Pare-Pare dengan kapasitas 62 MW dan PLTD Kanaan di Bontang Kalimantan Timur berkapasitas pembangkit listrik sebesar 10 MW, dan‎ Pembangkit Listrik Tenaga Mesin Gas (PLTMG)‎ PLTMG Jayapura dengan kapasitas 10 MW di Papua.

“Itu untuk tahun ini targetnya, yang eksisting diganti menjadi CPO,” kata Syovfi, di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Rabu 20 Februari 2019.

Menurut Syovfi, untuk mengalihkan bahan bakar pembangkit listrik tersebut, PLN harus memodifikasi pembang‎kit dan mengubah beberapa komponen.

Namun tak disebutkan nilai investasi yang dibutuhkan untuk peralihan penggunaan bahan bakar tersebut. “Ada investasi baru, tapi saya lupa angkanya berapa,” tutur Syovfi.

Direktur PLN Bisnis Regional Jawa Bagian Timur, Bali dan Nusa Tenggara Djoko Rahardjo Abumanan mengungkapkan, peralihan  bahan bakar yang digunakan pembangkit dari Bahan Bakar Minyak (BBM) menjadi CPO, akan menurunkan konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM) pada sektor kelistrikan sekitar 190 ribu kilo liter (kl) per tahun.

“Dalam satu tahun BBM yang bisa dikonversi bisa mencapai 190 ribu Kiloliter,” tutur Djoko. Djoko pun memastikan, empat pembangkit tersebut akan beropersi optimal pada tahun ini, setelah dilakukan ujicoba. Untuk pasokan CPO, PLN sudah mendapat kepastian dari produsen CPO.

“Uji coba sudah dimulai. Ya pokoknya tahun ini empat pembangkit itu sudah harus gunakan CPO,” tandasnya.


Saksikan video pilihan di bawah ini:

Ini Sosok Pembunuh Pensiunan TNI AL yang Jasadnya Dibuang ke Septic Tank

Fokus, Riau – Jajaran Polres Tanjungpinang, Kepulauan Riau, berhasil membekuk pembunuh Arnold Tambunan, seorang Purnawirawan TNI AL yang jasadnya ditemukan di dalam septic tank rumah seorang pegusaha tenda.

Seperti ditayangkan Fokus Indosiar, Rabu (20/2/2019), Abdul ditangkap polisi beserta barang bukti berupa sebuah linggis, seutas tali, baju korban, sebatang besi, dan martil yang digunakan untuk mengahabisi nyawa korban.

Polisi awalnya memeriksa Abdul sebagai saksi yang menemukan korban di dalam septic tank. Namun, belakangan tersangka mengaku diperintah oleh Rasyid majikanya yang menjadi otak pembunuhan.

Kepada polisi Abdul mengaku membunuh korban lantaran disuruh Rasyid yang sakit hati terus menerus ditagih hutang sebesar Rp 30 juta oleh korban. Untuk menghabisi korban yang merupakan pensiunan angkatan laut, Abdul dibayar Rp 20 juta oleh Rasyid.

“Korban pernah mendatangi rumah Rasyid, kemudian berlanjut sampai proses hilangnya itu karena ada satu sebab yaitu hutang piutang,” ujar Kapolres Tanjung Pinang AKBP Ucok Lasdin.

Sebelumnya polisi telah memeriksa Rasyid sebagai saksi setelah pihak keluarga memiliki bukti CCTV keberadaan korban di rumah Rasyid. Namun, pengusaha tenda itu kemudian tewas dalam sebuah kecelakaan.

Untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya tersangka akan dijerat Pasal 340 tentang Pembunuhan Berencana dengan ancaman pidana mati. (Muhammad Gustirha Yunas)

Kawanan Gajah Masih Betah di Kebun Warga

Liputan6.com, Pekanbaru- Belasan Gajah Sumatera sepertinya masih betah mengitari sejumlah kebun warga di Desa Maharani, Kecamatan Rumbai, Kota Pekanbaru. Sejauh ini belum ada tanda-tanda satwa berbelalai dan bongsor itu meninggalkan lokasi sejak datang beberapa hari lalu.

Pemilik lahan kelapa hybrida, kelapa sawit, pisang serta tanaman lainnya belum berani menjenguk kebunnya. Mereka hanya pasrah tanaman mereka dicabut lalu dimakan oleh satwa bernama latin Elephas Maximus Sumatrensis ini.

Beberapa personel dari Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau dan pawang dari Pusat Latihan Gajah (PLG) Minas sudah di lokasi memantau pergerakan kawanan gajah dimaksud. Kewaspadaan tinggi menjadi syarat penanganan karena sewaktu-waktu gajah bisa menyerang.

“Sudah dari malam sampai pagi tadi kami ikuti, sekarang kami masih di lokasi,” terang pawang gajah dari PLG Minas, Widodo pada Selasa petang, 19 Februari 2019.

Selama di lokasi, Widodo mengaku sudah melihat kawanan gajah yang meluluh-lantakkan puluhan batang kelapa hybrida milik Mangido Nababan. Secara perlahan, dia mengiring gajah itu untuk kembali masuk ke hutan.

Hingga kini, penggiringan masih dilakukan secara manual. Petugas mengikuti gajah dari belakang dan membuatnya supaya kembali lagi ke hutan di kawasan Minas.

Petugas di lapangan juga dibekali mercon atau alat-alat yang menimbulkan suara jika dipukul. Hanya penggunaannya tak sembarangan karena dibawa untuk jaga-jaga jika gajah mendekat. “Mercon ada, itu alat kita. Digunakan sewaktu-waktu saja, untuk jaga-jaga saja,” sebut Widodo.

2 dari 2 halaman

Kelompok 11

Sejauh ini, Widodo belum berniat mengerahkan gajah jinak dari PLG Minas. Menurutnya hal itu dilakukan jika penggiringan secara manual dan bunyi-bunyian sudah tidak ampuh lagi.

“Kalau kuwalahan baru dikerahkan gajah jinak, di PLG itu ada 17 ekor,” sebut Widodo.

Penuturan Widodo, gajah itu sudah dua hari masuk ke kebun warga. Hanya saja warga tidak melapor karena pihak RT yang sering berkomunikasi dengan PLG ataupun BBKSDA Riau tidak berada di desa tersebut.

“Malahan kami tahu dari media, makanya turun ke lokasi,” sebut Widodo.

Sementara itu, Kabid II BBKSDA Riau Heru Sutmantoro menyebut kawanan gajah itu sering melintasi Kabupaten Kampar, Kota Pekanbaru dan Minas, Siak. Kawanan ini merupakan satu di antara beberapa kantong gajah di kawasan tersebut.

Dia memperkirakan ada 22-24 ekor gajah liar masih mendiami kantong gajah tersebut dan terbagi dalam dua kelompok besar. Untuk gajah di kebun itu, Heru menyebut masuk dalam kelompok 11.

“Mereka terus bermigrasi untuk mencari makan dan melakukan penandaan wilayah dia,” paparnya..

Belakangan, tambah Heru, habitat gajah semakin terancam dengan semakin banyaknya perkebunan sawit serta pemukiman. Hal ini membuat intensitas kemunculan meningkat karena pemukiman dan kebun buatan manusia itu termasuk home range atau area pergerakan gajah secara periodik.

Saksikan video pilihan berikut ini: