7 Pose Unik Anjing Mirip dengan Pemiliknya Ini Lucu Banget

Liputan6.com, Jakarta – Anjing merupakan salah satu hewan peliharaan yang dekat dengan manusia. Biasanya, anjing peliharaan sering diajak main-main atau hanya berlari kecil keliling kompleks rumah. Tak jarang juga jika seseorang sudah sangat menyukai anjing peliharaannya, ia rela untuk mengeluarkan biaya yang cukup besar demi kenyamanan sang anjing.

Namun, sebagian orang beranggapan bahwa kebersamaan dengan hewan peliharaan lama-lama memunculkan persepsi kemiripan dengan pemiliknya. Seperti yang dilakukan oleh fotografer asal Wigan, Inggris bernama Gerrard Gethings. Pria ini membuat karya foto bertema anjing yang mirip dengan pemiliknya.

Kini ia pun membuat proyek bernama ‘Do You Look Like Your Dog’. Karyanya akan dibukukan dan dijual senilai Rp 216 ribu. Nah, penasaran kan dengan karya fotografer ini? Berikut Liputan6.com rangkum 7 pose unik anjing mirip dengan pemiliknya dari akun Instagram @gezgethings, Sabtu (16/2/2019).

2 dari 8 halaman

1. Gaya rambut dan warna bibirnya terlihat serupa

3 dari 8 halaman

2. Lirikan mata yang memesona

4 dari 8 halaman

3. Pasangan antara si nenek dan si kecil

5 dari 8 halaman

4. Si putih dan si gadis manis

6 dari 8 halaman

5. Walaupun terlihat berantakan namun tetap sama

7 dari 8 halaman

6. Hembusan angin membuat si pemilik dan peliharaannya terlihat mirip

8 dari 8 halaman

7. Jenggot dan jambul di kepalanya enggak ada bedanya

Melihat Masa Muda Ani Yudhoyono, Ditemani Caktor hingga Menolak Asmara

Liputan6.com, Jakarta – Ani Yudhoyono yang lahir dari keluarga Sarwo Edhie Wibowo sudah terbiasa hidup dengan latar belakang TNI. Sebelum menikah dengan SBY, Ani juga pernah tinggal di Komplek RPKAD.

Kuatnya pengaruh gaya hidup sederhana dari kedua orangtua membuatnya tidak ada keinginan menjadi seperti anak gaul Jakarta. Dirinya hanya mendekam saja sebagai anak-anak RPKAD Cijantung yang bergaul hanya di sekitar kompleks. Fase masa mudanya sangat mempengaruhi pembentukan mental Ani keepan.

“Maka sesulit apa pun, berjuanglah untuk terus berada di bidang putih. Jika kita berdiri di atas titik yang benar, kita bisa membawa cahaya kepada semua warna. Yang putih tetap terang. Yang hitam terpanggil menuju terang. Dan yang abu-abu menjadi mantap memilih jati diri yang baik, yang memutihkan dirinya. Inilah kalimat Papi mengenai kepemimpinan yang kelak sangat berguna membentuk mentalku.”

Demikian kata Ani Yudhoyono dikutip dari buku Kepak Sayap Putri Prajurit, Karya Alberthiene Endah, Jumat (15/2/2019).

Peristiwa G30S PKI merupakan pembelajaran pertama bagi dirinya. Dalam situasi saat itu, Ani dan anak-anak kompleks RPKAD menjadi lebih dewasa. Sebab semua menyadari keluarga RPKAD sedang berada dalam situasi yang berbahaya karena isu yang beredar.

Sang ayah yang diberi tugas untuk menumpas PKI, kerap bepergian. Sekali pergi bisa berbulan-bulan demi mencari sisa-sisa pengikut PKI.

Hal itu sering membuat Ani Yudhoyono bertanya pada dirinya sendiri, “Apa ibu tidak gelisah ditinggal suami yang entah bagaimana nasibnya.” Tetapi ia tahu bahwa ibunya adalah sosok yang tangguh dan seorang istri tentara sejati.

Saat G30S PKI sudah mereda dan menuju era Orde baru, sang ayah membawa kabar mengejutkan. “Papi akan pindah ke Medan,” kata Ani. Saat itu situasinya ia akan melakukan ujian SMP.

Akhirnya dibuatlah keputusan agar sang ayah dan ibu berangkat terlebih dulu. Kemudian disusul anak-anak setelah urusan sekolah mereka beres.

2 dari 3 halaman

Tidur Ditemani Caktor

Tinggal di Medan berbeda dengan situasi saat di Cijantung. Rumah mereka terletak di pinggir jalan. Saat itu sedang populer kendaraan bernama caktor, alias becak motor. Kendaraan ini beroperasi tanpa kenal waktu dan mengeluarkan suara yang memekakkan telinga. Hal itu yang menyebabkan mereka sulit tidur di malam hari.

Seiring berjalannya waktu sang Ayah dipindah ke Irian Jaya menjadi Pangdam XVII Cendrawasih. Keluarga harus pindah kembali. Tapi situasi Irian Jaya saat itu masih belum memungkinkan. Terutama untuk pendidikan, khususnya bagi Wiwiek yang harus berkuliah. Akhirnya empat anak terbesar kembali tinggal di Cijantung.

Setelah kembalinya Ani dan saudara ke Cijantung, dirinya kembali melanjutkan sekolah di SMA Slamet Riyadi, Cijantung sebelum mendapatkan kembali sekolah negeri. Tahun 1968 Ani dan saudarinya mendaftar di SMA 24. Inilah masa SMA seorang Ani Yudhoyono.

Sekolah di SMA 24 berbeda dengan sekolah di Medan yang murid-muridnya sangat patuh. “Pada hari pertama aku masuk, ada pelajaran menggambar. Gurunya sering terkantuk-kantuk. Pada saat itulah aku menyaksikan ragam perilaku yang mencengangkan. Murid cowok asyik mengepulkan asap rokok dan yang cewek dengan santai menarik sesuatu dari kolong meja, mangkuk bakso! Astaga!” kata Ani Yudhoyono.

Mulai dari situ, Ani memahami karakter kawannya. Hari-hari awal bersekolah memang butuh adaptasi. Kemudian Ani semakin dekat dengan sejumlah siswa.

Teman-teman di SMAnya merasa kaget, “Anak jenderal kok sekolah di sini?”. Tapi Ani menjelaskan bahwa keluarganya memang hidup sederhana saja.

Masa SMA Ani sama seperti anak SMA pada umumnya. Diisi dengan belajar, olahraga, main, makan di kantin, bahkan diwarnai dengan perkelahian dan candaan masa remaja.

3 dari 3 halaman

Menolak Asmara

Walau rajin belajar, Ani tidak menutup diri dari pergaulan. Pergi ke pusat perbelanjaan, berenang, atau hanya berkumpul di rumah bersama kawan sering dilakukan.

Asmara remaja bukan hal yang asing bagi anak SMA. Laki-laki yang naksir Ani juga ada. Tapi Ani memang tidak berani menanggapi. Sebab Ani hanya tinggal bersama Saudarinya, tanpa orangtua. Ibunya sudah mewanti-wanti agar semua anak bisa menjaga sikap sebagai remaja putri.

Tanpa nasihat dari Ibu sebenarnya Ani juga enggan berpacaran. Selain itu, para pria di kompleks Cijantung juga menjaga perempuan di kompleksnya. Seakan tak rela jika wanita dikompleks tersebut dipacari oleh lelaki luar.

Itulah masa muda Ani sebelum akhirnya bertemu sang suami, Susilo Bambang Yudhoyono.

Selepas SMA, Ani mengambil kuliah kedokteran. Hingga saat dirinya memasuki tahun ketiga kuliah, Ani bertemu SBY saat masih menjadi taruna. Hingga akhirnya saat SBY diwisuda menjadi AKABRI terbaik, orangtuanya bertemu Ayah dan ibu untuk melamar Ani. Kini usia pernikahan mereka telah menginjak 42 tahun.


Saksikan video pilihan berikut ini:

TKN Jokowi Nilai Pidato Kebangsaan Prabowo Klise dan Tanpa Solusi

Jakarta – Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf menilai pidato kebangsaan yang disampaikan oleh capres Prabowo Subianto klise dan tidak menawarkan solusi. Materi pidato yang dipaparkan Prabowo di Semarang, Jawa Tengah juga disebut minim substansi.

“Pidato kebangsaan Prabowo di Semarang kembali mempertontonkan seperti biasa: penuh retorika, klise dan tanpa solusi. Prabowo menyampaikan akan menurunkan harga pangan tapi tak menjelaskan bagaimana cara menurunkan harga pangannya tersebut. Apa yang disampaikannya tidak ada substansi yang mendalam dan solutif,” kata jubir TKN, Ace Hasan Syadzily, kepada wartawan, Sabtu (16/2/2019).

Ace kemudian menyoroti isi pidato Prabowo tentang uang Indonesia yang lebih banyak beredar di luar negeri. Secara tidak langsung, menurut Ace, Prabowo sedang memuji kinerja Jokowi atas program tax amnesty.

“Prabowo mengatakan uang Indonesia banyak ke luar negeri tapi mengakui adanya program yang spektakuler dari Pak Jokowi tentang tax amnesty,” imbuh dia.

Hal lain yang disorot Ace adalah keinginan Prabowo untuk menurunkan harga pangan. Menurut Ace, tindakan nyata justru sudah dilakukan Jokowi dengan membuat harga stabil dalam empat tahun pemerintahannya.

“Prabowo mengatakan soal harga pangan akan dia turunkan, tapi tak jelaskan bagaimana cara menurunkannya. Padahal pemerintahan Jokowi telah mampu menstabilkan harga dengan sangat baik yang terbukti dengan angka inflasi yang sangat rendah selama 4 tahun terakhir ini,” papar dia.

Ace lalu menyinggung soal strategi firehood of falsehood. Bagi Ace, pidato Prabowo seolah-olah paradoks sebab di awal menyatakan tidak pesimis tetapi di bagian akhir pidato, Prabowo menyinggung soal negara hancur.

“Substasinya lebih banyak menyampaikan kecemasan seperti membenarkan strategi firehood of falsehood dengan mengatakan bahwa Indonesia seperti badan yang sakit. Padahal apa yang dikatakannya sakit, tak jelas. Apanya yang sakit? Semua baik-baik saja,” tuturnya.

“Apalagi di saat pidato penutupan Prabowo mengatakan lebih baik hancur daripada dijajah kembali? Ini sebuah paradoks. Di awal mengatakan tidak pesimis, tetapi di akhir bilang hancur. Ini mengulangi kembali narasi pesimismenya,” sambungnya.

Karena itu, Ace menegaskan tak ada hal yang baru dari pidato kebangsaan Prabowo. Menurut Ace, Prabowo justru kembali memperlihatkan kecemasan kepada rakyat.

“Dari apa yang disampaikan Prabowo dalam pidato kebangsaannya, tidak ada yang baru. Tak ada tawaran program yang konkret dan solutif. Kembali mempertontonkan kecemasan untuk meraih simpati. Tapi gagal memberikan tawaran yang dapat meyakinkan rakyat,” ujarnya.

Sebelumnya, Prabowo menyampaikan pidato kebangsaannya tentang swasembada energi pangan dan air. Prabowo berbicara tentang badan Republik Indonesia yang disebutnya tengah sakit.

“Saudara-saudara sekalian, kita tadi mendengarkan masukan-masukan, temuan-temuan tentang kondisi yang dihadapi oleh bangsa kita saat ini dan sudah berapa kali saya sampaikan bahwa kalau kita ingin dengan jujur, dengan realistis, dengan berani untuk meneliti diri kita sendiri, meneliti badan kita sendiri,” kata Prabowo di Semarang, Jumat (15/2/2019).

Prabowo juga bicara banyak hal mengenai kondisi bangsa. Mantan Danjen Kopassus ini berjanji mencari jalan keluar dari permasalahan yang ada.

“Demikian yang ingin saya sampaikan, para pakar rela berjuang dengan keahlian masing-masing, kita akan mencari solusi-solusi dari masalah-masalah kesulitan-kesulitan bangsa kita. Insyaallah kita akan mencapai, kita yakin Indonesia menang,” kata Prabowo.
(knv/aud)

<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Tutup Pidato, Prabowo: Lebih Baik Hancur Daripada Dijajah Kembali!

Semarang – Calon presiden Prabowo Subianto menutup pidato kebangsaannya dengan mengutip kalimat pahlawan nasional Sutomo alias Bung Tomo. Tidak lupa, Prabowo turut memekikan takbir.

“Saya, saya terinspirasi oleh Bung Tomo. Bung Tomo dalam waktu menghadapi ancaman dari asing, mereka ingin menggempur kota Surabaya, beliau jawab ‘lebih baik hancur daripada dijajah kembali’. Sebagai Muslim, izinkanlah untuk mengumandangkan takbir: Allahuakbar, Allahuakbar, Allahuakbar, merdeka, merdeka, merdeka, terima kasih, selamat berjuang,” ujar Prabowo dalam pidato kebangsaan di Grand Ballroom Hotel PO Semarang, Jawa Tengah, Jumat (15/2/2019).

Di penutup pidato, Prabowo bersumpah untuk berbakti pada bangsa. Ia juga mengingatkan elite untuk tidak sombong.
“Ojo dumeh, ojo adigang adigung adiguno, ojo ngoyo, ngoyo. Tapi juga ojo wedi, tidak boleh takut. Siapa yang berani dialah yang menang saudara-saudara sekalian. Dan yakinlah, yakinlah bahwa hanya satu kepastian di dunia ini suatu saat kita akan dipanggil oleh Yang Maha Kuasa, betul. Kok begitu saya ngomong diam semua? Ya memang, pasti dipanggil kita, dan belum tentu yang tua duluan,” ujarnya.
“Karena kita sudah mengerti itu dan kita paham bahwa kita dipanggil, tidak bisa bawa banyak harta, ya kan? Jadi, hei para koruptor, itu mobil-mobilmu nggak bisa dibawa nanti,” imbuh Prabowo.

Dalam pidatonya, Prabowo berbicara soal kondisi bangsa. Mantan Danjen Kopassus ini berjanji mencari jalan keluar dari permasalahan yang ada.

“Demikian yang ingin saya sampaikan, para pakar rela berjuang dengan keahlian masing-masing, kita akan mencari solusi-solusi dari masalah-masalah kesulitan-kesulitan bangsa kita. Insyaallah kita akan mencapai, kita yakin Indonesia menang,” kata Prabowo.

Dia mengaku optimistis membawa Indonesia ke arah yang lebih baik. Namun ada syaratnya. Apa itu?

“Syaratnya adalah kita harus mencari putra-putra dan putri-putri terbaik bangsa Indonesia. Terbaik artinya terbaik otaknya, terbaik hati dan akhlaknya,” ujar Prabowo.

Ikuti perkembangan Pemilu 2019 hanya di sini.
(dkp/hri)

<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Marek Hamsik Tinggalkan Napoli yang Sudah Dibelanya Sejak 2007

Jakarta Napoli harus rela kehilangan Marek Hamsik yang memutuskan pindah ke Dalian Yifang. Napoli dikabarkan menerima uang transfer sebesar 20 juta euro.

Proses kepindahan Hamsik ke Dalian Yifang sejatinya sudah terjadi sejak beberapa waktu lalu. Namun kala itu transfer pemain 31 tahun tersebut sempat tertunda gara-gara masalah administrasi.

Rampunya proses kepindahan Hamsik akhirnya diumumkan presiden Napoli, Aurelio De Laurentiis pada Kamis (14/2), “Kesepakatan telah dicapai dengan Dalian. Semoga Hamsik bahagia di Tiongkok. Pintu akan selalu terbuka baginya di sini di Napoli,”

Selain pernyataan dari De Laurentiis, pernyataan soal kepergian Hamsik juga tertera di laman resmi Napoli. Klub yang bermarkas di San Paolo itu berterima kasih atas dedikasi Hamsik selama hampir 12 tahun membela I Partenopei.

“Seorang kapten, seorang teladang, seorang pesepakbola dan pria yang akan dicintai Napoli untuk selamanya, dan akan menjadi bagian sejarah kami untuk selamanya,” demikian bunyi pernyataan di laman resmi klub.

“Marek tengah bersiap menjalani petualangan baru di Tiongkok, klub mendoakan yang terbaik baginya dan semoga ia dipenuhi berkah, baik secara moral maupun secara keolahragaan,”

Hamsik mulai bergabung dengan Napoli sejak musim panas 2007 silam ketika ia direkrut dari Brescia dengan biaya transfer senilai 5,5 juta euro. Sejak saat itu ia langsung menjadi andalan di lini tengah Napoli.

Sejak 2014 lalu, Hamsik ditunjuk menjadi kapten Napoli. Pemain asal Slovakia itu dipilih untuk menggantikan Paolo Cannavaro.

Bersama Napoli, Hamsik total bermain sebanyak 520 kali dengan menyumbang 121 gol dan 111 assist. Pada Desember 2017 lalu Hamsik menjadi pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah Napoli, melewati catatan Diego Maradona.

Dari sisi prestasi tim, Hamsik sukses mempersembahkan dua gelar Coppa Italia dan satu trofi Supercoppa Italiana.

Sumber: bola.net

Saksikan siaran langsung pertandingan-pertandingan Premier League, La Liga, Ligue 1, dan Liga Europa di sini:

Doraemon dalam Fashion Berkelas hingga Mahakarya Ivan Gunawan di MODO 2019

Liputan6.com, Jakarta Sejak muncul hampir lima dekade silam, Doraemon dikenal sebagai salah satu karakter kartun asal Jepang yang melegenda hingga saat ini. Daya pikat karakter ciptaan Fujiko F. Fujio ini sukses menyedot atensi banyak pasang mata di seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Melihat hal ini, Doraemon yang bernaung di bawah PT Berkat Animasi Internasional Indonesia, Perwakilan Lisensi Tunggal Doraemon di Indonesia menggelar MODO (Mode Doraemon) 2019. Gelaran ini juga dapat diartikan sebagai Pekan Peragaan Busana Doraemon.

MODO 2019 berlangsung di Grand Indonesia, Jakarta Pusat mulai 11 Februari-3 Maret 2019. Untuk peragaan busana menyuguhkan kolaborasi Doraemon bersama para perancang busana Tanah Air digelar 13-14 2019 di Atrium Grand Indonesia.

“Kami berkomitmen membawa lebih banyak kejutan untuk penggemar Doraemon Indonesia. Meyakinkan rasa cinta Doraemon melalui fashion, apalagi melihat perkembangan dunia fashion yang pesat,” kata Helena Irma K. Tegoeh, Direktur Al Indonesia di Grand Indonesia, Jakarta Pusat, Rabu (13/2/2019).

Irma juga menambahkan ingin menampilkan suguhan berbeda lewat MODO 2019. Kolaborasi dengan deretan perancang menjadi inspirasi menghidupkan karakter Doraemon melalui fashion.

“Kami ingin membawa karakter Doraemon ke market high-fashion tahun ini. Tidak hanya casual sporty dan sekarang kolaborasi sama lokal brand yang menampilkan tema berbeda,” tambahnya.

Perancang busana ternama Indonesia, Ivan Gunawan didaulat membuka MODO 2019 dengan membawa sebanyak 30 set koleksi apik yang terdiri atas 25 busana perempuan dan lima busana pria.

“Doraemon sangat detail, sesuai bentuk dan tidak mau mereka-rela. Di project ini saya menggarap koleksi satu tahun mengeluarkan 30 koleksi namanya Kuroba yang berarti sayap. Pada eranya ia berjaya dengan imajinasi tanpa batas,” ungkap Ivan Gunawan pada kesempatan yang sama.

Perancang yang biasa membuat gaun malam ini menyebutkan bahwa dirinya ingin menghadirkan koleksi dengan tampilan tidak kartunis. Ivan lebih memilih merangkum dalam nuansa glamor, elegan yang didominasi warna hitam, putih, dan gold.

Usai dibuka oleh koleksi Ivan Gunawan, peragaan busana MODO 2019 pada hari Rabu, (13/2/2019) juga dilanjutkan dengan koleksi Jii by Gloria Agatha dan Monday to Sunday. Sementara pada Kamis, 14 Februari 2019 akan ada peragaan koleksi Third Day, 3 Mongkis, dan Harajuku x Hannie Hananto.

Selain koleksi busana, karakter Doraemon juga hadir dalam bentuk tas, aksesori, sepatu yang ditampilkan oleh Woodka (strap watches), Season Chic (koleksi clutch dan phone chasing), Never Too Old (tas dan dompet), Studio Amara (serving board), Stay Cool (ragam kaus kaki, Chameo Couture (aneka tas anyam) dan Tutu (koleksi sepatu berhak rata dan tinggi).

2 dari 2 halaman

Mahakarya Ivan Gunawan di MODO 2019

Ivan Gunawan membutuhkan waktu satu tahun untuk melahirkan 30 set koleksi yang ia pamerkan di MODO 2019. Bukan tanpa alasan, proses yang cukup panjang harus ia lalui baik dari merancang berbagai hal.

“Pengerjaan koleksi saya cukup lama, satu baju berbulan-bulan mulai dari pemikiran konsep pemilihan warna, detail, dan motif butuh waktu panjang. Saya meletakkan karakter di baju nggak mau kartunis, tidak mau yang terkesan anak-anak,” jelasnya.

Ia membagi dua karakter busana dalam presentasi koleksi di MODO 2019. Pada sesi pertama, karakter Doraemon diinfuskan secara logis dalam siluet Doraemon dan kawan-kawan dalam motif bahan yang dicetak khusus.

Lewat bahan bermotif karakter diwujudkan dalam bentuk dan potongan-potongan busana yang longgar, lurus, hingga bertumpuk khas harajuku. Bahan-bahan yang dipakai dari katun hingga mika.

Pada sesi kedua, karakter Doraemon tersublim dalam bentuk lebih halus. Desain busana yang ditampilkan lebih bernuansa elegan, clean, dan sophisticated yang didominasi tekstil polos modern yang meliputi brokat, velvet, mikado, tulle, sampai netting hitam putih.

Tidak ketinggalan, ciri khas Doraemon yakni topi dengan baling-baling dan lonceng juga turut dihadirkan. Ivan turut menggaet desainer aksesori ternama, Rinaldy Yunardi dan memakai kacamata Optik Seis.

Di antara ke-25 koleksi di MODO 2019, Ivan mempersembahkan satu koleksi yang ia sebut sebagai mahakarya. Koleksi ini diperagakan oleh model Jesslyn Lim, jebolan Asia’s Next Top Model cycle 6.

“Satu koleksi ini hadir dengan bordie sulam benang emas, karakter Doraemon ada di sana sudah jadi. Ada taburan Swarovski dengan total pembelian hampir Rp 50 juta. Di sela-sela kristal di seluruh baju. Ini masterpiece,” tambahnya.

Saat peragaan seluruh koleksinya berakhir, Ivan Gunawan mengucapkan terima kasih kepada Tuhan karena ia selalu diberi kesempatan untuk berkarya. Ia juga menyebut perihal masterpiece-nya tersebut.

“Baju yang dipakai Jesslyn dibuat enam bulan. Ini masterpiece saya selama 15 tahun berkarya. Saya berniat menjual baju ini seharga Rp 250 juta kepada yang hatinya terketuk. Hasil dari penjualan akan disumbangkan ke anak-anak Indonesia,” kata Ivan Gunawan.

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Sinopsis Sinetron SCTV Orang Ketiga Episode Rabu 13 Februari 2019: Afifah Ngidam Rangga Berkumis

Liputan6.com, Jakarta Ikuti kelanjutan Orang Ketiga. Episode malam ini tentang Afifah balik ke rumah. Rangga sudah ada di sana. Rangga cium pipi istrinya. Afifah malah geli karena kegesek kumis. Rangga bingung. Afifah protes. Pipinya sakit kena kumis. Rangga bingung kan afifah yang ngidam dia berkumis?

Afifah serba salah, bingung sendiri. Rangga senyum dan bilang dia juga gatal berkumis tapi dia rela demi Afifah. Rangga lalu kasih Afifah bunga, makanan sehat, dll, dengan cara yang sweet. Afifah bingung buat apa? Rangga bilang pengen aja. Rangga juga lalu pamit ke Afifah; nanti malah dia ada kerjaan. Afifah tanya, kerjaan apa? Deg, Rangga serba salah.

Sementara di Orang Ketiga juga, Aris masih pusing dengan urusan ganti rugi. Saat itu Rossy datang dan kasih cek Rp 400 juta. Itu uang dia. buat bantu. Aris kaget dan bilang dia ngga bisa terima. Tapi, Rossy mohon Aris terima. Itu uang anggap aja buat ganti uang Aris yang dipinjamkan ke mamanya.

Putra dan Desi di lokasi Cipayung. Desi pamit karena harus angkat telepon, tapi langkahnya keserimpet, dan hak sepatunya malah patah. Putra kaget dan tangkap. Desi lega dan mereka ketawa. Saat itu Yuni datang diantar imron. Jreng! Yuni kaget karena ternyata beneran Putra kerja sama bareng Desi.

Orang Ketiga masih berlanjut…

2 dari 2 halaman

Salman Salahkan Yuni

Putra dan Yuni di rumah. Putra kembali coba jelaskan ke Yuni mengapa dia nggak bilang dia kerja sama dengan Desi. Salman malah dengar. Ayahanda Putra itu malah salahkan Yuni kenapa malah masih saja kerja di perusahaan Aris? Coba Yuni bantuin Putra. Deg! Yuni tercekat pedih banget karena ayah mertuanya malah bicara seperti itu. 

Disambut Warga Purbalingga, Prabowo Mengaku Berdarah Banyumasan

Liputan6.com, Jakarta – Calon Presiden nomor urut 02, Prabowo Subianto melakukan kunjungannya ke beberapa wilayah di Jawa Tengah. Wilayah pertama adalah Kabupaten Purbalingga. Prabowo menyampaikan terima kasih karena disambut meriah oleh warga.

Dalam kunjungannya di Purbalingga, Prabowo didampingi mantan Gubernur Jawa Tengah Letjen TNI (Purn) Bibit Waluyo, Direktur Kampanye Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, Sugiono, Ketua DPD Partai Gerindra Jawa Tengah Abdul Wachid serta para Anggota DPR RI Koalisi Indonesia Adil Makmur.

Di hadapan pendukungnya, Prabowo mengaku memiliki kedekatan dengan Purbalingga dan Banyumas yang identik dengan logat bergaya ngapak. Prabowo mengaku memiliki darah Banyumas dari ayahnya yakni Soemitro Djojohadikusumo. Karena itu, Prabowo merasa dekat dan akrab dengan masyarakat Jawa Tengah.

“Purbalingga ini satu daerah sama Banyumas ya? Banyumasan ya? ngapak-ngapak ya? Dan saudara-saudara, saya ini ada darah Banyumasan. Kalau melihat begini saya sudah yakin bahwa bapak-bapak dan ibu-ibu semua sudah mengerti apa yang harus kita lakukan ke depan,” ungkap Prabowo di hadapan ribuan tokoh agama, tokoh masyarakat dan warga sekitar di Desa Slinga, Kecamatan Kaligondang, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, Rabu (13/2/2019).

Capres yang berpasangan dengan Sandiaga Salahuddin Uno tersebut menegaskan bahwa rakyat Indonesia harus merebut kedaulatannya kembali dengan menggunakan hak suaranya pada Pemilu yang akan dilaksanakan 17 April 2019. Sebab, saat ini, dia merasa bahwa rakyat Indonesia masih belum berdaulat secara utuh, terutama dalam bidang ekonomi.

“Negara kita dalam keadaan sulit dan susah benar? Benar. Kalian merasakan? Apakah kalian merasakan kehidupan sudah baik atau tidak? Tidak. Apakah sudah adil atau belum? Kita harus merebut kedaulatan kita, rakyat Indonesia harus berdaulat,” tegas Prabowo.

2 dari 2 halaman

Keadilan dan Kemakmuran

Prabowo bersama tim pemenangnya mengajak seluruh rakyat Indonesia berjuang bersama merebut kedaulatan negara dan bangsa. Serta ikut berjuang bersama untuk menciptakan keadilan dan kemakmuran bagi seluruh rakyat Indonesia.

“Itulah perjuangan saya dengan Sandiaga Uno itulah perjuangan kami-kami semua, kami tidak rela melihat rakyat kita ada yang sulit mencari makan. Rakyat kita berhak mendapatkan keadilan dan kemakmuran. Negara kita sangat kaya tapi kekayaan kita tidak tinggal di Indonesia,” terang Prabowo. 


Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

MUA Indonesia Kembali Dipercaya Mendandani Aktris Hollywood

Liputan6.com, Jakarta – Tak hanya artis Indonesia yang dikenal dunia internasional. Make Up Artist (MUA) Indonesia juga sudah diakui kemampuannya sampai ke Hollywood, Amerika Serikat. Salah satunya adalah Archangela Chelsea.

Ia dipercaya mendandani pemeran Psylocke dalam film X-Men Apocalypse, Olivia Munn. Ini bukan yang pertama, karena Chelsea yang kini sedang berada di Los Angeles sebelumnya sudah pernah merias Olivia Munn.

Pada awal 2019 ini, Chelsea juga sempat mendandani aktris Nickelodeon Kira Kosarin, digital influencer Chriselle Lim, dan Miss Universe 2012 Olivia Culpo. Untuk Olivia Munn, Chelsea mengaplikasikan tren coral makeup dengan sentuhan warna bronze.

Menurut Chelsea, sentuhan bronze yang dipadukan dengan warna coral membuat tampilan wajah yang tidak berat. “Ada depth-nya di sana, tapi juga tetap membentuk dan menonjolkan fitur wajah,” terang Chelsea, dilansir dari Antara, 9 Februari 2019.

Paduan makeup ini, menurut Chelsea, menimbulkan efek sculpted.  “Terkesan warm dan tidak medok, walaupun makeup yang diaplikasikan sebenarnya tebal,” lanjutnya.

Riasan yang ditampilkan pun tetap terkesan ringan meskipun ada sejumlah aksen pada wajah seperti pada bagian kelopak mata yang berkilat serta penggunaan blush on yang halus. Tampilan kulit yang terlihat segar dan merona tapi tetap terlihat ringan menjadi salah satu kelebihan Chelsea dalam mengaplikasikan riasannya.

Chelsea yang berasal dari Surabaya dan lama berkarier di Los Angeles ini sebelumnya dikenal karena menjadi satu dari sedikit MUA asal Indonesia yang berkarier di Hollywood.  Selain artis Indonesia, ia pernah mendandani beberapa artis top Hollywood seperti Elizabeth Olsen, Olivia Culpo, Olivia Munn, Bebe Rexha, dan Amanda Steele.

Saksikan video pilihan di bawah ini:

HEADLINE: Polemik Swastanisasi Air Ibu Kota, Pemprov DKI Tetap Ambil Alih?

Liputan6.com, Jakarta – Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan tak lagi banyak bicara soal rencana Pemprov DKI mengambil alih pengelolaan air bersih dari PT Aetra Air Jakarta dan PT PAM Lyonnaise Jaya (Palyja).

Putusan Mahkamah Agung yang menerima permohonan peninjauan kembali (PK) Kementerian Keuangan ditengarai membuat rencana itu tak lagi mulus.

Dalam putusan PK itu, MA menyatakan menerima permohonan untuk membatalkan putusan kasasi yang menolak swastanisasi pengelolaan air Jakarta. Dengan kata lain, putusan PK itu membuat PT Aetra dan Palyja tetap dibolehkan melanjutkan kontrak mengelola air di Jakarta hingga 2023.

Namun, fakta itu tak membuat Anies berniat menghentikan rencana mengambil alih pengelolaan air di Ibu Kota. Dia bahkan memperpanjang masa kerja Tim Evaluasi Tata Kelola Air Minum yang mengkaji swastanisasi air di Ibu Kota.

“Kita mengikuti rekomendasi yang disusun oleh Tim Evaluasi Tata Kelola Air Minum. Jadi, tim ini yang menyusun studi, mengkaji banyak aspek, kemudian mereka merekomendasikan untuk mengambil opsi untuk penghentian melalui mekanisme perdata. Itu yang kita ikuti,” ujar Anies di Balai Kota Jakarta, Selasa (12/2/2019) petang.

Namun, mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ini menolak untuk menjelaskan lebih rinci tentang proses yang akan dilakukan melalui tindakan perdata. Alih-alih menjabarkan langkah lebih lanjut, Anies menyarankan untuk menanyakan hal itu kepada Tim Evaluasi Tata Kelola Air Minum.

“Diskusikan saja dengan tim (Tim Evaluasi Tata Kelola Air Minum),” ujar Anies sambil berjalan meninggalkan wartawan.

Keterangan yang lebih jelas didapat dari Direktur Utama PAM Jaya Priyatno Bambang Hernowo. Dia mengatakan, pihaknya sebenarnya belum memutuskan langkah yang akan diambil Pemprov DKI Jakarta. Putusan baru akan diambil setelah pihaknya berbicara dengan rekanan yang memegang kontrak pengelolaan air di Ibu Kota.

“Kita akan bicara dengan dua mitra (PT Aetra dan Palyja) dan sepakat untuk dijadwalkan selama satu bulan. Akan dilihat progress kita bagaimana. Kemudian, konklusinya seperti apa. Konklusi seperti yang disampaikan Tim Evaluasi kan ada beberapa opsi,” jelas Priyatno melalui sambungan telepon, Selasa petang. 

Infografis Polemik Swastanisasi Air di Ibu Kota. (Liputan6.com/Abdillah)

Tiga opsi itu adalah, pertama membiarkan kontrak selesai. Kedua, pemutusan kerja sama saat ini juga. Ketiga, pengambilalihan pengelolaan melalui tindakan perdata. Dia mengatakan, selama sebulan ke depan harus ada kepastian opsi yang diambil.

“Dalam satu bulan kemudian akan ada opsinya,” ujar Priyatno.

Dia melanjutkan, jika opsi yang diambil sudah diputuskan, maka akan ada due diligence (uji tuntas kinerja perusahaan). Akan ada pula legal opinion untuk memastikan nilai-nilai yang akan diubah.

“Step selanjutnya adalah transisi untuk kemudian implementasinya,” papar Priyatno.

Dia juga memastikan bahwa masa transisi tidak akan berlangsung dalam waktu yang lama, misalnya hingga tahun 2023 atau saat berakhirnya kontrak kerja pengelolaan air dengan PT Aetra dan Palyja.

“Tidak selama itu. Kalau sampai 2023, diam saja kita nanti. Yang jelas kita berniat untuk memperbaiki pelayanan,” pungkas Priyatno.

Langkah dan keseriusan Pemprov DKI untuk mengambil alih pengelolaan air di Ibu Kota juga mendapat dukungan dari Koalisi Masyarakat Menolak Swastanisasi Air Jakarta (KMMSAJ). Kelompok ini bahkan menampik putusan PK Kemenkeu sebagai tanda kekalahan Pemprov DKI.

“Kita tidak memandang bahwa kita kalah. Peninjauan kembali itu kita belum mendapat salinan. Walau kalah secara hukum, perkiraan kita putusan PK itu terkait masalah formil saja, apakah itu terkait surat kuasa yang didalilkan maupun mekanisme gugatannya,” jelas pengacara publik dari KMMSAJ, Alghifari Aqsa kepada Liputan6.com, Selasa petang.

Dia mengatakan, dari sisi substansi hukum, pihaknya berhasil membuktikan privatisasi air itu buruk, karena tidak ada pemenuhan hak-hak air dan merugikan keuangan negara.

“Seharusnya ini jadi patokan, substansi terkait hak-hak air dan penyelamatan keuangan negara telah berhasil dibuktikan Koalisi Masyarakat Sipil, sehingga ini yang jadi patokan untuk kebijakan selanjutnya,” papar staf Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) ini.

Dia pun menyarankan, dalam memutuskan kebijakan selanjutnya, Pemprov DKI harusnya menjadikan putusan Mahkamah Konstitusi yang menghapus UU Sumber Daya Air sebagai acuan. Alasan MK, UU itu dinilai melanggengkan privatisasi dan bertentangan dengan UUD 1945.

“Sehingga pemenuhan ataupun pengelolaan air, harus dikelola oleh negara, BUMN atau BUMD,” tegas Alghifari.

Lantas, apa kerugiannya jika pengelolaan air di Jakarta dikuasai swasta?

2 dari 4 halaman

Cara Cepat atau Lambat?

Gubernur Anies Baswedan menegaskan, langkahnya untuk mengambil alih pengelolaan air di Ibu Kota dari tangan pihak swasta bukan tanpa alasan. Selain mencegah berlanjutnya kerugian, tujuannya adalah untuk mengoreksi kebijakan perjanjian yang dibuat di masa Orde Baru, tepatnya tahun 1997.

“Dan kita tahu, selama 20 tahun perjalanan perjanjian ini, pelayanan air bersih di Ibu Kota tidak berkembang sesuai dengan harapan,” jelas Anies di Balai Kota Jakarta, Senin 11 Februari 2019.

Anies memberi gambaran, di tahun 1998 atau saat swastanisasi dimulai, cakupan awalnya adalah 44,5 persen. Setelah berjalan selama 20 tahun (2018) dari 25 tahun yang ditargetkan, hanya meningkat sampai 59,4 persen.

“Artinya, selama waktu 20 tahun jangkauan hanya meningkat 14,9 persen,” ujar Anies.

Kini, kerja sama dengan PT Aetra dan Palyja masih tersisa sampai 2023 dan sampai akhir kontrak kekurangannya adalah lebih dari 20 persen. Melihat capaian perusahaan ini selama 20 tahun terakhir, agak sulit untuk bisa menutupi kekurangan itu.

“Jadi bayangkan, lebih dari 20 persen harus dijangkau di tahun 2023. Sementara selama 20 tahun, swasta baru bisa melaksanakan peningkatan rata-rata 15 persen. Sekarang kita akan siap untuk mengambil alih dari swasta dikembalikan kepada pemerintah,” tegas Anies.

Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi merespons positif keinginan Anies untuk mengambil alih pengelolaan air dari pihak swasta. Dia mengatakan, air itu hajat hidup orang banyak, sehingga tidak bisa dikomersialisasikan.

“Harus dikelola oleh negara, dalam UUD kan jelas bumi beserta air dan kekayaannya dikuasai negara. Jadi harus negara yang mengatur kalau kita konsisten dengan itu. Undang-Undang Sumber Daya Air kan juga sudah dicabut,” ujar Tulus kepada Liputan6.com, Selasa (12/2/2019) petang.

Dia mengatakan, selain soal regulasi, kedua perusahaan yang memegang kontrak pengelolaan air di Ibu Kota tidak bisa memenuhi kewajibannya. Hal itu terbukti dari fakta bahwa jumlah air yang dipasok tidak sampai 40-45 persen dari kebutuhan warga.

“Juga soal kualitas air yang harusnya sudah layak minum, juga tak terwujud. Padahal, untuk Jakarta harusnya dipasok lewat PDAM untuk mengurangi eksploitasi di air tanah,” jelas Tulus.

Bahkan, jika diurut berdasarkan pengaduan yang masuk ke YLKI, menurut dia daftar itu bakal sangat panjang. Mulai dari debit air, kualitas air jelek, frekuensi air, hingga pentarifan yang tagihannya membengkak karena berubah status kelas secara otomatis.

“Secara logika, privat kan mencari untung. Air yang bukan produk komersial dikomersilkan. Komersil itu kan artinya profit oriented berdasar mekanisme pasar, bagaimana mungkin air dikelola dengan mekanisme pasar?” ujar Tulus.

Sementara itu, Alghifari Aqsa yakin Pemprov DKI mampu menggantikan peran PT Aetra dan Palyja jika nantinya pengelolaan air diambil alih. Alasannya, dari segi pengelolaan Jakarta sudah sangat siap karena bisnis air ini tidak seperti bisnis tambang atau yang lainnya.

“Bisnis air ini mudah, pipa-pipanya banyak yang sudah dipakai oleh swasta puluhan tahun. Para pegawai PDAM yang selama ini ditempatkan di swasta secara skill juga sudah punya. Hanya, dalam pengelolaan oleh PAM Jaya nantinya, harus banyak akuntabilitas dan partisipasi publik,” jelas dia.

Alghifari memastikan, pengambilalihan pengelolaan air dari pihak swasta akan sangat menguntungkan Pemprov DKI, apa pun cara yang ditempuh. Hal itu menurutnya bisa dilihat dari hitung-hitungan angka dan keuntungan yang bisa diraup.

“Pemda bisa untung Rp 400 miliar setahun dari pengelolaan air ini. Kalau misal ada denda yang harus dibayar ke swasta, dengan mudah bisa dibayar, akan lunas dalam beberapa tahun kalau pengelolaan dikembalikan ke publik,” jelas dia.

Gubernur Anies sebenarnya sangat memahami bahwa pengambilalihan ini harus dilakukan secepat mungkin. Bahkan, dia tak rela kalau pengelolaan air baru diserahkan ke Pemprov DKI menunggu habisnya masa kontrak pada 2023.

“Kalau membiarkan sampai 2023, artinya rakyat DKI tidak akan merasakan penambahan yang serius, karena hampir pasti swasta tidak mau lagi melakukan investasi,” papar Anies.

Yang jelas, Anies kini menunggu hasil penjajakan yang dilakukan PAM Jaya. Pada saat bersamaan, Anies juga menugaskan kepada Tim Evaluasi Tata Kelola Air Minum untuk mendampingi dan mengawal proses pengambilalihan ini.

“Yang akan melakukan proses ini nantinya adalah PDAM atau PAM Jaya. Karena selama ini perjanjian kerja samanya pun adalah antara PAM Jaya dengan pihak swasta,” ujar dia.

Policy kita adalah mengambil alih seluruhnya. Jadi, keempat aspek, yaitu air baku, pengolahan, distribusi, dan pelayanan, itu insyaallah kita akan kelola semua,” pungkas Anies.

Kita tunggu janji air tanah itu segera mengalir ke setiap rumah di pelosok Ibu Kota.

3 dari 4 halaman

2 Putusan Beda dari Merdeka Utara

Silang sengkarut pengelolaan air di Ibu Kota menjadi tak kunjung ada kejelasan salah satunya disebabkan dua putusan Mahkamah Agung yang saling bertentangan.

Awalnya, MA mengabulkan permohonan 12 warga DKI yang terdiri dari pemerhati, aktivis, dan konsumen air minum. Mereka mengajukan permohonan kasasi terhadap putusan Pengadilan Tinggi Jakarta Nomor 588/PDT/2015/PT DKI tentang kebijakan swastanisasi air di Jakarta.

Mereka yang menjadi tergugat adalah PT Aetra Air Jakarta, PT PAM Lyonnaise Jaya, Pemerintah Pusat dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, serta DPRD DKI, dan Perusahaan Daerah Air Minum Provinsi DKI.

“Menyatakan para tergugat lalai dalam memberikan pemenuhan dan Perlindungan Hak Asasi Manusia atas air terhadap warga negaranya, khususnya masyarakat DKI Jakarta,” demikian bunyi putusan MA yang dipimpin Ketua Majelis Hakim Nurul Elmiyah, seperti yang diterima Liputan6.com, Kamis 12 Oktober 2017.

Dalam putusan itu dinyatakan para tergugat telah melakukan perbuatan melawan hukum karena menyerahkan kewenangan pengelolaan air Jakarta kepada pihak swasta dalam wujud Pembuatan Perjanjian Kerja Sama (PKS) tertanggal 6 Juni 1997 yang diperbaharui pada 22 Oktober 2001 yang tetap berlaku dan dijalankan hingga saat ini.

“Menyatakan para tergugat telah merugikan Pemerintah Daerah DKI Jakarta dan masyarakat DKI Jakarta,” tulis putusan itu.

Bukan hanya itu, MA juga memerintahkan para tergugat untuk menghentikan kebijakan swastanisasi air minum di Provinsi DKI, mengembalikan pengelolaan air minum di Provinsi DKI Jakarta sesuai dengan Peraturan Daerah Nomor 13 Tahun 1992 dan peraturan perundang-undangan lainnya.

“Melaksanakan pengelolaan air minum di Provinsi DKI Jakarta sesuai prinsip dan nilai-nilai hak asasi atas air, sebagaimana tertuang dalam Pasal 11 dan 12 Kovenan Internasional Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya,” jelas putusan MA.

Dalam pertimbangannya, majelis hakim menilai dari bukti-bukti dan fakta hukum, Perjanjian Kerja Sama Swastanisasi Air Jakarta telah melanggar Perda Nomor 13 Tahun 1992 dan pascaperjanjian kerja sama swastanisasi itu, pelayanan pengelolaan air bersih dan air minum warga di DKI Jakarta tidak meningkat dari segi kualitas, kuantitas, dan kontinuitas.

“Bahwa PAM Jaya kehilangan kewenangan pengelolaan air minum karena dialihkan kepada swasta, bahwa pertimbangan dan putusan dari Judex Facti Pengadilan Negeri sudah tepat dan benar,” lanjut MA dalam pertimbangannya.

Karena itu, dengan tidak perlu mempertimbangkan alasan kasasi lainnya, Mahkamah Agung berpendapat terdapat cukup alasan untuk mengabulkan permohonan kasasi dari para pemohon.

Meski begitu, MA memberi waktu kepada Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk menjalankan putusan ini. Sebab, dengan putusan itu, DKI harus menghentikan swastanisasi air minum yang kini dikelola PT Aetra Air Jakarta dan PT PAM Lyonnaise Jaya (Palyja).

“Ya tentunya tidak otomatis (swastanisasi air berhenti) begitu ya. Yang melaksanakan putusan harus ada waktu cukup untuk melaksanakan itu,” kata Kepala Biro Hukum dan Humas MA, Abdullah kepada Liputan6.com, Jakarta, Kamis 12 Oktober 2017.

Abdullah mengaku pihaknya tidak memberi batas waktu untuk melaksanakan putusan tersebut. Semuanya terpulang kembali kepada Pemprov DKI.

“Ya kita tidak bisa menentukan itu. Semua terpulang kepada pemerintah Provinsi DKI,” tegas Abdullah.

Ketika Pemprov DKI mempersiapkan pengambilalihan pengolahan air itu, pihak Kementerian Keuangan mengajukan permohonan peninjauan kembali (PK) atas putusan kasasi yang mengabulkan kasasi Koalisi Masyarakat Menolak Swastanisasi Air Jakarta pada 10 April 2017.

Kemenkeu mengajukan memori peninjauan kembali melalui Pengadilan Negeri Jakarta Pusat pada 22 Maret 2018. Kementerian merupakan salah satu pihak yang digugat oleh koalisi penolak privatisasi air selain Gubernur DKI Jakarta, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah DKI, dan PAM Jaya.

Adapun PT PAM Lyonnaise Jaya (Palyja) dan PT Aetra Air Jakarta (Aetra) merupakan pihak turut tergugat.

Dalam memori PK, Kemenkeu mengajukan empat argumentasi. Salah satunya, Kemenkeu menganggap gugatan yang diajukan 12 anggota Koalisi Masyarakat Menolak Swastanisasi Air Jakarta tidak termasuk kategori citizen lawsuit. Alasannya, gugatan tersebut menyertakan Palyja dan Aetra sebagai pihak turut tergugat.

Berdasarkan empat argumentasi itu, Kemenkeu meminta hakim agung yang mengadili perkara itu menerima/mengabulkan PK. “Membatalkan putusan Nomor 31 K/PDT/2017 (putusan kasasi) tanggal 10 April 2017,” seperti dikutip dari memori kasasi yang diajukan Kemenkeu.

Saat PK itu berproses di MA, Gubernur Anies Baswedan membentuk Tim Evaluasi Tata Kelola Air Minum melalui Keputusan Gubernur Nomor 1149 Tahun 2018 yang ditandatangani pada 10 Agustus 2018. Tim tersebut diketuai oleh Sekretaris Daerah Saefullah.

Salah satu tugasnya adalah mengevaluasi kebijakan tata kelola air minum menyesuaikan putusan MA tentang penghentian kebijakan swastanisasi air. Tim itu diberikan waktu enam bulan masa kerja.

Belakangan, MA mengabulkan permohonan PK yang diajukan Kemenkeu terkait swastanisasi air di Jakarta. Dengan putusan ini, maka, PT Aetra Air Jakarta, PT PAM Lyonnnase Jaya (Palyja) bisa mengelola lagi swastanisasi air di Jakarta

Juru bicara MA Andi Samsan Nganro menerangkan, Koalisi Masyarakat Menolak Swastanisasi Air Jakarta (KMMSAJ) sebagai penggugat asal, tidak memenuhi syarat citizen law suit atau gugatan terhadap penyelenggara negara yang dianggap lalai dalam pemenuhan hak-hak warga negara.

“Betul (PK-nya dikabulkan), karena tidak memenuhi syarat citizen law suit,” kata Andi di kantornya, Jakarta, Jumat 1 Februari 2019.

Kini, dua putusan yang saling bertentangan itu membuat Pemprov DKI sulit untuk bersikap dan bertindak.

4 dari 4 halaman

Saksikan video pilihan di bawah ini: