Pengantin ISIS Asal Australia Ingin Pulang ke Negaranya

Damaskus

Seorang wanita Australia bersama dua anaknya yang berada di kamp pengungsi untuk keluarga ISIS menyatakan ingin pulang kembali ke negaranya. Anaknya, katanya, sangat membutuhkan perawatan medis.

Pengantin ISIS Australia:

Wanita itu menolak memberitahu identitasnya, tetapi ABC menyakini dia adalah Zehra Duman, wanita berusia 24 tahun asal Melbourne.

Zehra kini ditahan di kamp pengungsian Al Hawl di Suriah.

Dalam wawancara eksklusif dengan ABC, wanita itu mengaku ingin membawa putranya yang berusia dua tahun dan putrinya yang berusia enam bulan kembali ke Australia.

“Kedua anak saya sakit. Mereka sangat kekurangan gizi,” katanya seraya menambahkan, putrinya kini begitu kurus.

Dia mengaku sudah tak punya uang dan mengeluhkan kurangnya makanan di kamp pengungsi. “Mereka tidak membiarkan kami menghubungi keluarga kami,” katanya.

Wanita ini mengatakan kehidupan putrinya sangat kritis.

“Anakku butuh susu dan saya tak punya uang membeli susu. Saya tidak tahu harus bagaimana lagi,” ujarnya.

Dia juga mengatakan ingin kembali ke Australia. “Saya ingin kembali ke negara saya. Saya kira semua orang menghendaki hal itu karena saya warga negara Australia,” katanya.

“Saya memahami kemarahan mereka terhadap kami semua di sini. Tapi anak-anak ini tak perlu menderita,” katanya seraya menambahkan, anak-anaknya pun berhak diperlakukan seperti anak-anak normal.

Perdana Menteri Australia Scott Morrison mengatakan mereka yang pergi ke luar negeri untuk mendukung kelompok teroris harus menyadari konsekuensi perbuatan mereka.

“Mereka harus bertanggungjawab atas keputusan bergabung dengan teroris yang memerangi Australia,” tegasnya.

“Saya tidak ingin membahayakan penduduk Australia dengan mengambil orang-orang dari situasi tersebut,” kata PM Morrison.

Dia menambahkan, mereka akan menghadapi proses hukum di Australia jika berusaha kembali lagi ke negara tersebut.

Meninggalkan Melbourne di Usia 19 Tahun Zehra stands in a field with three women and a teenage boy. She wears a Niqab and holds a child.
Wanita asal Australia Zehra Duman (tengah) bersama pekerja kemanusiaan di Suriah. (Supplied)

Kepada ABC, wanita Australia ini mengaku telah berusaha melarikan diri dari ISIS selama dua tahun. Namun dia tidak pernah punya peluang.

“Sangat berbahaya untuk melarikan diri. Jika tertangkap oleh pihak yang satu atau pihak yang lain, kita akan menghadapi masalah besar,” ujarnya.

Dia mengatakan orang tak bisa meninggalkan daerah tersebut tanpa uang, sementara ISIS melarang pengiriman uang dari luar.

Kisah wanita Australia ini tampaknya cocok dengan yang dialami Zehra Duman. Remaja 19 tahun asal Melbourne itu bergabung dengan ISIS pada November 2014.

Zehra pindah ke Raqqa yang diklaim sebagai ibukota ISIS, menikahi kombatan ISIS asal Australia Mahmoud Abdullatif.

Dia dikenal sangat vokal mendukung retorika ISIS di media sosial, serta menjadi perekrut untuk kelompok teroris tersebut.

Di tahun 2015 Zehra, yang menyebut dirinya Umm Abdullatif Australi, memposting foto wanita memegang senjata otomatis, dengan kalimat, “Tangkap aku jika kamu bisa”.

Akun Twitter yang diyakini milik Zehra tersebut sudah ditutup tahun 2015, namun sebelumnya dia banyak menyerukan aksi kekerasan terhadap non-Muslim.

Pada Februari lalu, ABC memperoleh rekaman seorang wanita yang diyakini sebagai Zehra Duman dan putrinya di Suriah, yang saat itu tampak sehat.

Video itu direkam pekerja kemanusiaan asal AS David Eubank di Suriah utara.

Wanita yang kini berada di kamp pengungsi itu, menolak memastikan apakah dirinya adalah Zehra Duman.

Dia mengaku mengikuti pacarnya ke Suriah. “Aku mengenalnya sejak masih remaja di sekolah,” ujarnya.

“Saya bukan Muslim sebelumnya. Saya ke sini untuk menikah dengannya,” katanya.

Dia mengatakan suaminya itu sudah meninggal dan dia mengaku tak ada jalan keluar dari sana.

Setelah kematian Abdulatiff, Zehra menikah lagi dengan kombatan ISIS lainnya yang juga meninggal dalam pertempuran di kota Al Soussa, dekat Baghouz.

“Suamiku terbunuh. Saya berusaha keluar dari sana. Saya pergi sendiri bersama anak-anakku,” ujarnya.

Sudah menghubungi keluarganya A close up of a woman's eyes which are visible through an opening in her hijab
Wanita ini mengaku sebagai warga negara Australia. (ABC News)

Bulan lalu, Pasukan Demokrat Suriah (SDF) bernegosiasi dengan ISIS agar mengizinkan warga sipil pergi dari wilayah ISIS.

Wanita yang diyakini sebagai Zehra Duman pun ikut dalam konvoi dan tiba di area pemrosesan pengungsi tiga pekan lalu.

Dia mengaku belum melakukan kontak dengan pihak berwenang Australia.

“Saya belum melihat orang kedutaan sama sekali. Kami tak tahu apa yang terjadi. Kami tak diizinkan memiliki telepon, tak diizinkan berbicara dengan keluarga kami,” katanya.

Dia sangat berharap bisa segera keluar dari wilayah tersebut.

“Pada akhirnya, kami ini manusia. Kami memiliki hak asasi manusia,” ujarnya.

Dia mengaku keluarganya sudah tahu dia berada di kamp pengungsi karena sempat menghubungi mereka sebelum meninggalkan Baghouz.

Wilayah Suriah utara saat ini dipenuhi sekitar 30.000 anggota keluarga ISIS yang meninggalkan Baghouz dalam beberapa pekan terakhir.

Pihak berwenang Kurdi menyatakan mereka menyiapkan tiga kali makan sehari bagi wanita dan anak-anak. Mereka juga berusaha semaksimalnya menyiapkan perawatan kesehatan.

Namun mereka mengaku sangat membutuhkan bantuan dan menghendaki negara seperti Australia mengambil kembali warganya.

Juru bicara SDF Mustafa Bali mengatakan sejauh ini belum ada tanggapan atas permintaan bantuan tersebut.

“Jika ada teroris Australia di sini dan kami memulangkannya, mereka mungkin dipenjara dalam waktu singkat. Lalu mereka akan membahayakan penduduk di Australia,” katanya.

Sejauh ini puluhan anak-anak meninggal dunia di kamp pengungsi itu.

Awal pekan ini, anak pengantin ISIS asal Inggris Shamima Begum dilaporkan meninggal dunia.

Kematian bayi itu memicu perdebatan di Inggris, apakah akan mengizinkan anak-anak kombatan ISIS kembali ke negara asal orangtua mereka.

Simak berita selengkapnya dalam Bahasa Inggris di sini.


(ita/ita)
<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Siti Aisyah Pulang Kampung, Bawa Pesan dari Jokowi untuk Keluarga

Siti terlihat lebih segar. Dia mengungkapkan, banyak pesan yang disampaikan Presiden Jokowi, untuk dirinya dan keluarga, saat bertemu di Istana Negara.

“Beliau (Jokowi) menitipkan pesan dan nasehat saja. Supaya lebih baik lagi, enggak mudah cepat percaya sama orang,” jelasnya.

Siti Aisyah, WNI terdakwa kasus pembunuhan Kim Jong-nam –kakak tiri pemimpin Korea Utara Kim Jong-un– pada Senin 11 Maret 2019 dinyatakan bebas oleh pengadilan Malaysia.

Atas permintaan jaksa, tuntutan terhadap perempuan berusia 27 tahun itu resmi dihentikan oleh pengadilan Negeri Jiran.

Wanita kelahiran Serang, Banten itu tiba di Tanah Air pada Senin sore dengan pendampingan dari Menteri Kementerian Hukum dan HAM, Yasonna Laoly, dan sejumlah perwakilan dari Kuala Lumpur.

Dia mendarat di Bandara Halim Perdana Kusuma sekitar pukul 17.00 WIB. Aisyah lalu dibawa ke Kementerian Luar Negeri RI untuk diserahkan langsung ke keluarga. Acara serah terima ini dilakukan oleh Menteri Luar Negeri RI, Retno Marsudi.

“Menkumham, beberapa perwakilan dari KL (Kuala Lumpur) dan juga saya sendiri, telah menyerahkan secara resmi saudara Siti Aisyah kepada keluarga,” kata Retno dalam prosesi pemulangan dan serah terima Siti Aisyah kepada keluarga di Kemlu RI, Senin 11 Maret 2019.

Saksikan video pilihan berikut ini:

Presiden Jokowi menerima Siti Aisyah di Istana usai dinyatakan bebas oleh majelis hakim di Malaysia.

Suasana di TKP Bom Sibolga: Polisi Bersenjata Berjaga, Warga Tak Bisa Pulang

Sibolga – Suasana tegang masih menyelimuti Gang Sekuntum, Sibolga, Sumatera Utara, TKP ledakan bom. Gang itu ditutup, warga bahkan belum dibolehkan pulang.

Pantauan di Gang Sekuntum, Selasa (12/3/2019) pukul 20.30 WIB malam ini, polisi menutup akses masuk ke jalan itu. Sejumlah warga yang ingin menuju rumahnya bahkan tak boleh masuk.

Sejumlah polisi yang menenteng senjata berjaga di depan gang itu. Sementara sekitar 100 meter masuk ke dalam gang, di TKP ledakan, polisi lain sedang bernegosiasi dengan istri terduga teroris Abu Hamzah yang masih bertahan di dalam rumahnya.
Warga berkerumun di dekat polisi yang berjaga. Mereka tak diperkenankan melewati penjagaan, karena negosiasi masih dilakukan.

Kerumunan warga.Kerumunan warga di Gang Sekuntum. Foto: Abdi Somat Hutabarat/detikcom

Polisi menduga ada benda-benda berbahaya yang disimpan di rumah terduga teroris Abu Hamzah alias Husain itu. Polisi masih bernegosiasi, membujuk istri dan anak Abu Hamzah menyerah. Abu Hamzah telah ditangkap lebih dulu.

“Saat ini kami masih bernegosiasi. Petugas belum masuk ke dalam rumah tersangka karena patut diduga di dalamnya terdapat benda-benda berbahaya. Intinya kami meminimalisir korban,” ujar Kadiv Humas Polri Irjen M Iqbal saat dimintai konfirmasi, Selasa (12/3/2019).

Dalam penangkapan Abu Hamzah, benda diduga bom meledak di halaman rumahnya sekitar pukul 14.50 WIB. Bom meledak saat tim Densus hendak menggeledah rumah Abu Hamzah.
(tor/tor)
<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Pulang Umrah, Luna Maya Gendong Bayi Momo Geisha di Singapura

Nama Luna Maya kini memang sedang menghiasi berbagai pemberitaan. Apalagi kalau bukan karena mantan kekasihnya menikah dengan temannya sendiri. Meski berbagai spekulasi datang dari banyak pihak, Luna memilih bungkam.

Alih-alih menanggapi semua spekulasi paranormal dan netizen, Luna pergi umrah. Setelah ibadahnya selesai, ia berjalan-jalan bersama beberapa temannya. Mulai dari wisata kuliner di Turki, sampai nonton aksi Adam Levine dkk di Singapore Stadium.

Mungkin Luna butuh waktu untuk menghindar dari semua pemberitaan ini.

(Penulis: Rezka Aulia/Kapanlagi.com)

Alasan Jokowi Rela Berdesakan Naik KRL Pulang ke Istana Bogor

Liputan6.com, Jakarta – Presiden Joko Widodo atau Jokowi pulang ke Istana Kepresidenan Bogor dengan naik kereta listrik (KRL) commuter line, Rabu (6/3/2019). Jokowi bahkan rela berdesak-desakan dengan para pekerja yang hendak pulang.

Meski berdesakan, Jokowi tetap mendapat pengawalan dari Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres). Hal ini dibenarkan oleh Komandan Paspampres Mayjen Maruli Simanjuntak yang ikut mendampingi Jokowi.

Usai membagikan Kartu Indonesia Pintar (KIP) di GOR Bulungan Jakarta Selatan, Maruli mengatakan Jokowi tiba-tiba ingin pulang ke Istana Bogor menggunakan commuter line. Dia pun naik dari Stasiun Tanjung Barat sekitar pukul 17.45 WIB.

“Baru kegiatan sekitar situ (GOR Bulungan), bapak mau pulang naik kereta,” kata Maruli saat dikonfirmasi Liputan6.com, Rabu.

Bukan tanpa alasan, menurut Maruli, mantan Gubernur DKI Jakarta itu pulang menggunakan KRL lantaran ingin berkomunikasi langsung dengan masyarakat.

“Ya supaya tahu bagaimana kondisi sebenarnya. Komunikasi langsung dengan masyarakat,” ujarnya.

Maruli menyebut sepanjang perjalanan ke Bogor, Jokowi pun terus meladeni para penumpang yang ingin bersalaman dan berswafoto dengannya. Di salah satu foto, Jokowi memang tampak berdiri di kerumunan penumpang sambil memegang hand grip.

2 dari 2 halaman

Sudah Lama Ingin Naik KRL

Sementara itu, Asintel Komandan Paspampres Kolonel Kav Urip Prihatman mengungkapkan bahwa Jokowi telah lama ingin pulang ke Bogor menggunakan KRL. Namun, keinginan capres petahana itu baru terwujud hari ini.

“Sebenarnya sudah lama Presiden Jokowi menginginkan naik KRL saat kembali ke Bogor. Nah baru tadi saat setelah kegiatan di GOR Bulungan dapat terwujud. Sifatnya juga incognito,” jelas Urip kepada Liputan6.com.

Dia memastikan bahwa hal tersebut sama sekali tak terencana. Hal ini lantaran Jokowi ingin berbaur dengan para masyarakat.

“Kepala stasiunnya juga sengaja tidak diberi tahu agar mengalir sebagaimana penumpang lainnya,” tutur Urip.


Saksikan video pilihan di bawah ini:

Desak-desakan! Potret Jokowi Pulang Kerja Naik KRL

Rabu 06 Maret 2019, 19:56 WIB

Dok. Istimewa – detikNews

Jakarta detikNews – Presiden Joko Widodo (Jokowi) memilih pulang ke kediamannya di Istana Kepresidenan Bogor, dengan menumpangi KRL. Begini potret Jokowi naik KRL ke Bogor.

Sebelum naik KRL ke Bogor, Jokowi terlebih dahulu menyerahkan Kartu Indonesia Pintar (KIP) dan sosialisasi Program Keluarga Harapan (PKH) di Jakarta Selatan, Rabu (6/3/2019). 

Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com

Pulang Kerja, Jokowi Desak-desakan Naik KRL ke Bogor

Jakarta – Setelah menyerahkan Kartu Indonesia Pintar (KIP) dan sosialisasi Program Keluarga Harapan (PKH) di Jakarta Selatan, Presiden Joko Widodo (Jokowi) bergegas menuju kediamannya di Istana Kepresidenan Bogor. Menuju Bogor, Jokowi memilih menggunakan kereta KRL.

Informasi yang dihimpun, Jokowi naik kereta dari Stasiun Tanjung Barat, Jakarta Selatan, sekitar pukul 17.45 WIB, Rabu (6/3/2019). Jokowi naik KRL tanpa pengawalan ketat.

“Iya benar, tadi usai kegiatan Presiden pulang ke Bogor menggunakan kereta KRL. Tanpa pengawalan ketat. Presiden naik dari Stasiun Tanjung Barat menuju Bogor,” kata Deputi Bidang Protokol, Pers, dan Media Sekretariat Presiden Bey Machmudin.

Bey mengatakan banyak yang terkejut atas kehadiran Jokowi di kereta tersebut. Dia juga mengatakan banyak yang meminta foto dan salaman.

“Penumpang ramai. Presiden juga banyak diminta foto dan salaman,” kata Bey.
(jor/gbr)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Polisi: Andi Arief Sudah Boleh Pulang, Tapi Besok Balik Lagi

Liputan6.com, Jakarta – Politikus Partai Demokrat Andi Arief diperbolehkan pulang setelah sekitar dua hari diperiksa terkait kasus penyalahgunaan narkoba oleh penyidik Bareskrim Polri.

“Proses administrasi telah selesai. Semua surat-surat sudah ditandatangani. Untuk malam ini AA sudah diperbolehkan pulang,” ujar Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo saat dikonfirmasi, Jakarta, Selasa (5/3/2019).

Namun perjalanan kasus narkoba yang menyeret Wasekjen DPP Partai Demokrat itu belum selesai.

Pada Rabu 6 Maret 2019 esok, Andi Arief diwajibkan kembali lagi ke Kantor Direktorat IV Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri untuk diserahkan ke Badan Narkotika Nasional (BNN).

“Besok AA akan datang kembali untuk menjalani proses rehab di BNN,” ucap Dedi.

Hanya saja Dedi tidak menyebutkan secara pasti jam berapa Andi Arief bakal kembali ke kantor polisi yang ada di Cawang, Jakarta Timur itu.

2 dari 3 halaman

Andi Arief Pulang

Pengacara memastikan kliennya Andi Arief diizinkan pulang. Hal itu lantaran proses assesment yang dilakukan Badan Narkotika Nasional telah berakhir.

“AA (Andi Arief) diperbolehkan pulang karena berdasarkan hasil assesment itu dinyatakan rehabilitasi kesehatan,” ucap pengacara Dedi Yahya ketika dihubungi awak media, Selasa (5/3/2019).

Dedi menjelaskan, Andi Arief tidak dirawat di Rumah Sakit Ketergantungan Obat (RSKO), Jakarta Timur seperti kebanyakan pengguna lain. Menurut hasil assesment, Andi Arief hanya Rehabilitasi kesehatan

“Oh enggak (bukan Rehab di RSKO), kalau rehab kesehatan itu hanya memeriksa kesehatannya saja. Bukan direhab mentalnya. Jadi hanya direhabilitasi kesehatannya saja,” ujar dia.

“Sehingga penyidik dapat memulangkan Pak Andi,” imbuh dia.

Dedi menyatakan, sejauh ini status Andi Arief masih terperiksa. Dia menyebut, kliennya sudah meninggalkan sel tahanan Direktorat Tipid Narkoba sekitar pukul 18.35 WIB.

“Tidak ada penahanan. Jadi Pak Andi ini selama ini hanya terperiksa saja statusnya,” dia menandaskan.

3 dari 3 halaman

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Andi Arief Diperbolehkan Pulang

Jakarta

Andi Arief sudah diperbolehkan pulang malam ini. Andi Arief sebelumnya menjalani pemeriksaan pasca penangkapan di Hotel Menara Peninsula, Jakbar, terkait kasus narkoba.

“Proses administrasi telah selesai semua, surat-surat sudah ditandatangani. Untuk malam ini AA sudah diperbolehkan pulang,” ujar Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo, Selasa (5/3/2019).

Andi Arief dipulangkan dari gedung Direktorat Tindak Pidana Bareskrim Polri, Jl MT Haryono, Jakarta Timur. Andi Arief sebelumnya menjalani asesmen oleh tim dokter Badan Narkotika Nasional (BNN).

Andi Arief ditangkap pada sekitar pukul 18.30 WIB, Minggu (3/3). Polisi saat penangkapan menyita alat pakai narkoba. Sedangkan dari hasil tes urine, Andi Arief dinyatakan positif mengonsumsi sabu.

Polisi menyebut Andi Arief akan direhabilitasi. Namun rehabilitasi baru dilakukan setelah proses asesmen oleh tim dokter BNN selesai.

“Tapi dari asesmen sementara sepertinya selesai, bahwa saudara AA konsumsi narkoba bukan hanya sekarang sudah beberapa kali. Kita lakukan asesmen, profiling saudara AA sebagai pengguna,” ujar Kadiv Humas Polri Irjen M Iqbal terpisah.

Sedangkan Andi Arief lewat akun Twitter, meminta maaf karena membuat marah dan kecewa usai ditangkap karena mengonsumsi narkoba. Dia juga minta didoakan.

Andi mengatakan kesalahan bisa membenamkan tapi bisa juga menjadi titik awal dari pencarian jalan hidup. Dia meminta maaf sudah membuat berbagai pihak marah dan kecewa. Selain itu, Andi Arief mengundurkan diri dari posisi Wasekjen Demokrat.


(fdn/fdn)
<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Perempuan Saudi di Hongkong Takut Dihukum Mati Jika Pulang: Kami Hanya Ingin Hidup

JakartaRawan dan Reem (bukan nama sebenarnya) meminta wajah mereka tidak diperlihatkan. Getty Images RawandanReem (bukan nama sebenarnya) meminta wajah mereka tidak diperlihatkan.

Rawan – bukan nama sebenarnya – memiliki satu kata untuk menjelaskan kehidupannya dalam enam bulan terakhir: “ketakutan”.

Dia dan saudara perempuannya, Reem, berpindah tempat paling tidak sudah 13 kali, hidup dalam ketidakpastian hukum dan terus-menerus ketakutan akan dikirim kembali ke negara yang akan menghukum mati mereka.

Kedua bersaudara yang terdampar di Hong Kong setelah melarikan diri dari liburan keluarga ini mengatakan kepada BBC bahwa mereka mengalami penyiksaan fisik di rumah dan diperlukan “seperti ART” oleh kerabat prianya.

Kekerasan di Rumah

Perempuan yang berumur 18 dan 20 tahun tersebut dibesarkan dalam “keluarga Muslim garis keras” di Arab Saudi, di mana perempuan di bawah perwalian pria dan sering kali diawasi dengan ketat dan tidak melihat apapun selain “masa depan kematian” bagi diri mereka.

“Mereka mengawasi setiap langkah yang kami lakukan; mereka mengendalikan setiap sisi kehidupan kami,” kata Rawan.

Reem dan Rawan, yang memakai nama samaran untuk melindungi jati diri mereka, keluar dari agama Islam, menyatakannya sebagai agama yang “membiarkan pria mengendalikan perempuan”. Berdasarkan hukum Saudi, sanksi atas murtad adalah hukuman mati.

Beberapa kasus baru-baru ini tentang perempuan Saudi berusaha melarikan diri dari kekerasan di keluarga telah mendapatkan perhatian dunia.

Perempuan Saudi ini berumur 18 dan 20 tahun. Getty Images Perempuan Saudi ini berumur 18 dan 20 tahun.Rencana jangka panjang

Kedua saudara perempuan ini dalam perjalanan ke Australia untuk mendapatkan suaka enam bulan lalu, ketika pejabat konsulat Saudi menghentikan mereka saat transit di Hong Kong.

Para perempuan ini mengatakan kepada BBC bahwa mereka menabung dan merencanakan pelarian mereka sejak tahun 2016.

Mereka menunggu untuk mewujudkan niat sampai keluarga mengadakan perjalanan dalam rangka liburan ke Sri Lanka, yang bersamaan dengan ulang tahun ke-18 Rawan. Pada usia itu, mereka lebih berkemungkinan memegang paspor, yang biasanya disimpan oleh ayah mereka di brankas di rumah.

Berdasarkan “sistem perwalian laki-laki” di Arab Saudi, seorang perempuan memerlukan izin kerabat pria untuk membuat paspor, melakukan perjalanan ke luar negeri, belajar di luar negeri atas beasiswa pemerintah, menikah, meninggalkan penjara atau bahkan keluar dari tempat perlindungan korban pelecehan.

September lalu, mereka berhasil secara diam-diam mencapai bandara internasional Kolombo, Sri Lanka, dengan memakai jeans dan melakukan perjalanan menuju Australia.

Tetapi ketika mereka bersiap-siap memasuki penerbangan selanjutnya di Hong Kong, mereka ditarik beberapa pria yang mengambil paspor mereka dan mengatakan penerbangan mereka selanjutnya telah dibatalkan.

Arab Saudi menerapkan sistem perwalian pria atas perempuan yang ketat. Getty Images Arab Saudi menerapkan sistem perwalian pria atas perempuan yang ketat.

‘Kami Mengetahui Hak Kami’

Reem dan Rawan mengatakan mereka ingat Dina Ali Lasloom, yang dihentikan dalam perjalanan ke Australia pada bulan April 2017 dan dipaksa kembali ke Arab Saudi dari bandara Manila.

Keberadaan Lasloom tetap tidak diketahui hingga kini, tetapi Human Rights Watch menyatakan dia sempat ditahan di tempat perlindungan di Riyadh.

Kedua perempuan ini mengatakan mereka menolak diintimidasi pejabat Saudi di Hong Kong.

“Kami bukanlah sasaran empuk. Kami mengetahui hak kami,” kata Reem. “Mereka yang melakukan kesalahan, bukannya kami. Kami hanya ingin tetap bisa hidup.”

Mereka memperdebatkannya dan secara diam-diam menyusun rencana di antara mereka sendiri dan akhirnya menolak masuk ke pesawat menuju Dubai.

Kedua saudara ini merebut dokumen perjalanan mereka dari tangan para pria itu, tetapi mereka berada di dalam daerah transit bandara Hong Kong tanpa penerbangan ke luar.

Rahaf Mohammed al-Qunun Getty Images Remaja Saudi,RahafMohammed al-Qunun melarikan diri dan mendapatkan suaka di Kanada.

Skandal international

Reem dan Rawan adalah kasus besar kedua terkait perempuan yang melarikan diri dari Arab Saudi pada tahun ini saja.

Di bulan Januari, Kanada memberikan suaka kepada Rahaf Mohammed al-Qunun, 18, yang terdampar di bandara utama Bangkok saat berusaha mencapai Australia.

Dia menolak terbang ke Kuwait, tempat keluarganya menunggu dan membarikade dirinya di kamar hotel bandara sehingga menarik perhatian dunia.

Human Rights Watch telah mendokumentasi sejumlah kasus perempuan Saudi yang berusaha melarikan diri dari keluarganya dalam beberapa tahun terakhir. Mereka akhirnya mengalami “penyiksaan seumur hidup” ketika dipaksa kembali.

Menurut data terbaru Kementerian Tenaga Kerja dan Pembangunan Sosial, seperti dikutip Associated Press, 577 perempuan Saudi berusaha melarikan diri dari rumah mereka di tahun 2015.

Tetapi angka itu kemungkinan jauh lebih tinggi dalam kenyataannya karena banyak keluarga tidak melaporkan para pelarian karena adanya stigma masyarakat, lapor AP.

Larangan perempuan mengemudikan mobil dicabut pada bulan Juni, 2018. Getty Images Larangan perempuan mengemudikan mobil dicabut pada bulan Juni, 2018.

‘Tidak Dihormati’

“Ketika kami mulai melihat korban selamat lain yang melarikan diri ke negara lain untuk mendapatkan suaka, kami berpikir ini juga mungkin (bagi kami),” kata Rawan.

“Ada orang-orang yang menginspirasi kami.”

Di Arab Saudi, mereka “tidak dihormati,” katanya.

“Mereka memaksa saya memasak (untuk mereka) sejak saya berumur 12 tahun. Ketika (adik) perempuan saya lahir, kami membesarkannya.”

Kedua saudara ini mengatakan mereka selalu dipermalukan ayah dan saudara laki-lakinya, yang juga menghukum mereka dengan memukulinya.

“Kehidupan saya adalah hanya untuk melayani mereka. Saya sangat depresi, tidak melihat ada masa depan. Mereka tidak memperhatikan kebutuhan ataupun pendidikan saya – fokus mereka hanyalah membesarkan saya untuk menjadi istri yang baik.”

Pengunjuk rasa di Roma, Italia. Getty Images Pengunjuk rasa di Roma, Italia.Ketidakpastian masa depan

Sejak memasuki wilayah Hong Kong yang merupakan bagian dari Cina, perempuan kakak beradik tersebut merasa diikuti keluarga dan konsulat Saudi.

Karena paspor sekarang sudah divalidasi, mereka sekarang dapat melamar visa darurat ” di negara ketiga” dan menghabiskan sebagian besar waktu dengan menggantungkan diri pada bantuan orang lain, makan mie dan mengkhawatirkan masa depan yang tidak pasti.

“Kehidupan kami di Hong Kong pada dasarnya adalah bersembunyi, menyembunyikan diri setiap waktu. Kami telah pindah 13 kali, ke berbagai tempat yang berbeda: hostel, hotel, tempat perlindungan, rusun,” kata Rawan.

“Kami takut pergi kemana pun jika hanya kami berdua. Ini semuanya terkait dengan ketakutan.”

‘Keluar bayang-bayang’

Meskipun begitu, kedua saudara ini mengatakan mereka sekarang sudah “keluar dari bayang-bayang”.

Reem yang mempelajari sastra Inggris di universitas mengatakan dia bermimpi dapat menulis tentang kehidupan para saudara perempuan di Arab Saudi, menulis puisi dan menjelajahi dunia.

Perempuan Saudi memerlukan izin wali pria untuk bekerja, melakukan perjalanan, menikah, bercerai ataupun membuka rekening bank. Getty Images Perempuan Saudi memerlukan izin wali pria untuk bekerja, melakukan perjalanan, menikah, bercerai ataupun membuka rekening bank.

Dia mengatakan dirinya juga bermimpi “hidup di sebuah negara di mana mereka menghormati hak perempuan dan HAM” dan dia dapat menyuarakan pendapat dengan bebas.

Rawan juga mengatakan dirinya hanya ingin “hidup aman” dan “hidup bahagia” di negara yang memberikannya hak pilih.

“Saya bermimpi untuk menyelesaikan sekolah. Saya sangat menyukai pelajaran saya,” kata Rawan.

“Saya ingin mempelajari biologi dan mendapat gelar S3 dalam bidang genetika.”

(zak/zak)
<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>