Raffi Ahmad Bentak-bentak Istri, Netizen Puji-puji Nagita Slavina

Jakarta

Raffi Ahmad melakukan prank untuk Nagita Slavina belum lama ini. Raffi membuat skenario, dirinya terlambat mengejar penerbangan karena Nagita.

Dalam prank tersebut. ia berupaya membuat sang istri kesal, marah bahkan menangis.

Untuk memuluskan misinya, Raffi sengaja mempercepat jam yang dimiliki Gigi. Dari mulai jam tangan juga jam di telepon seluler.

Ia pula memasang kamera tersembunyi di beberapa sudut ruangan.

Yang menjadi perhatian kala Raffi melakukan skenario terlambat ke bandara itu. Ia berpura-pura marah kepada Nagita karena dianggap bikin telat pergi ke bandara.

“Ini jam berapa lihat tuh? Cepetan deh, kamu mah kebiasaan belum ngapa-ngapain,” kata Raffi seraya membangunkan Gigi.

Gigi curiga, sebab alarm telepon selulernya tak berbunyi. “Ini alarmnya bisa nggak buyi ah,” kata Gigi kebingungan.

“Lihat jam berapa tuh. Udah nggak usah mandi, cepetan. Kamu kebiasaan deh. Keterlaluan kamu mah, terlambat semua,” oceh Raffi mencecar Nagita.

“Ya ini bentar dong, jangan marah-marah terus. Aku kan jadi nggak bisa ngapa-ngapain. Kalau marah-marah terus aku nggak bisa berpikir,” kata Gigi.

“Kamu gimana sih, nggak ada otaknya kamu,” timpal Raffi lagi.

Dari prank ini, netizen memuji kesabaran Nagita. Beragam komentar menyebut Nagita menjadi istri yang penyabar menghadapi Raffi Ahmad.

“Dengan di prank-nya gigi, netizen semakin tau tingkat kesabarannya gigi level dewa. Gak marah balik, gak ngebentak suami, bahkan tetap merendah untuk minta maaf,’ kata seorang netter di kolom komentar channel YouTube Rans.

“Ya emg gini harus nya sbg istri klo suami lg marah2,sikap istri emang harus nya nunduk aja sama diem… Jgn malah nantangin .good bgt lah sikap mba gigi ke suami,” timpal netizen lain.

“Istri yg sakinah Istri baik Bersyukur a’ Rafi mempunyai istri sabar dan sebaik mb Gigi,” tutur seorang warganet.

(doc/doc)

Photo Gallery

1 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20

Anies Puji-puji Kader PKS Calon Wagub DKI

Jakarta – Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan memuji tiga calon wakil gubernur (cawagub) DKI yang diusulkan PKS. Meski diusulkan, ketiga calon itu tidak melakukan lobi-lobi politik kepada Anies.

Anies menilai ketiga cawagub menjaga etika dan adab. Ketiga cawagub itu dikatakan Anies menaati proses yang ada.

“Menurut saya, jadi salah satu yang menarik bahwa kader-kader PKS yang diusung itu menjaga adab, menjaga etika. Bahwa mereka menaati proses itu. Jadi tidak ada kemudian lobi-lobi kanan-kiri, itu sama sekali tidak ada. Justru ini yang menurut saya merupakan nilai tambah,” ujar Anies setelah menghadiri konsolidasi nasional PKS di Hotel Grand Sahid Jaya, Sudirman, Jakarta Pusat, Rabu (30/1/2019).


PKS sebelumnya memperkenalkan tiga calon Wakil Gubernur DKI, yakni Ahmad Syaikhu, Agung Yulianto, dan Abdurrahman Suhaimi, ke sejumlah fraksi. PKS telah mengunjungi Fraksi PDIP, Partai Golkar, Partai Hanura, Partai Demokrat-PAN, dan PPP.

PKS akan melanjutkan pertemuan ke Partai NasDem, PKB, dan Gerindra. Ketiga calon wakil gubernur saat ini sudah menjalani proses fit and proper test. Rencananya, proses tersebut selesai pada 11 Februari 2019.

Anies menilai ketiga cawagub yang diusung PKS merasa jabatan adalah sebuah amanah dan bukan perebutan otoritas. Menurut Anies, sikap tersebut patut dijadikan contoh.

“Bahwa ini amanah yang dititipkan, ini bukan sebuah otoritas yang diperebutkan dan perasaan itu muncul. Karena saya merasakan betul bahwa tidak ada pola lobi-lobi satu sama lain, misalnya, tidak. Menurut saya, ini sebuah etika, sebuah adab berpolitik yang harus dijaga dan bisa dijadikan contoh,” tuturnya.

Kursi wagub DKI masih kosong sejak ditinggalkan Sandiaga, yang maju sebagai cawapres. Ketua DPRD DKI Jakarta Prasetio Edi Marsudi meminta Fraksi Gerindra dan PKS segera menentukan cawagub pengganti Sandiaga Uno.

“Katanya hari ini mau ke fraksi kami, PDI Perjuangan. Silakan saja. Buka visi-misi dia. Masalah Jakarta ini bukan hal yang gampang ya. Masalahnya complicated dan saya juga kasihan dengan Pak Anies,” kata Prasetio di gedung KPK, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Rabu (23/1).

Dia menyatakan, setelah Gerindra dan PKS sepakat soal nama yang bakal diusung, akan ada surat yang dikirim ke Anies selaku gubernur. Setelah itu, barulah DPRD melakukan pembahasan.

“Nanti kalau surat dari pengusungnya, Gerindra dan PKS, sudah ke Pak Gubernur, pasti ke saya. Di situ ada pembahasan, harus kuorum, karena menyebut nama, terbuka-tertutup, nah itu nanti diatur,” ucapnya.
(idh/idh)

<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Didakwa, Idrus Marham Malah Puji-puji Jaksa

Jakarta – Ucapan manis dilontarkan Idrus Marham pada deretan jaksa KPK yang baru saja menyebutnya menerima suap sebesar Rp 2,25 miliar dari seorang pengusaha. Mantan Sekretaris Jenderal (Sekjen) Partai Golkar itu pun mengaku tidak keberatan dengan dakwaan yang dibeberkan jaksa itu.

Hal itu terjadi di dalam ruang sidang di Pengadilan Tipikor Jakarta pada Selasa, 15 Januari 2019 siang. Selama kurang lebih 30 menit jaksa membacakan 21 lembar dakwaan tersebut. Isinya menyebutkan bila Idrus menerima uang dari pengusaha bernama Johanes Budisutrisno Kotjo.

“Menerima hadiah berupa uang secara bertahap yang seluruhnya berjumlah Rp 2.250.000.000 dari Johanes Budisutrisno Kotjo,” ucap jaksa KPK saat membacakan surat dakwaan dalam persidangan di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Selasa (15/1/2019).

Kotjo disebut jaksa sebagai pemegang saham Blackgold Natural Resources Ltd (BNR) yang ingin mendapatkan proyek di PLN tetapi kesulitan berkomunikasi dengan pihak PLN. Hingga akhirnya Kotjo meminta bantuan Setya Novanto yang saat itu sebagai Ketua Umum Partai Golkar sekaligus Ketua DPR.

Novanto disebut telah lama mengenal Kotjo. Dari Novanto, Kotjo dikenalkan dengan Eni Maulani Saragih yang bertugas di Komisi VII DPR. Melalui Eni, Kotjo dapat berkomunikasi langsung dengan Direktur Utama PT PLN Sofyan Basir.

Dalam perjalanannya Eni selalu melaporkan perkembangan Kotjo pada Novanto. Namun suatu ketika Novanto tersandung kasus korupsi proyek e-KTP. Eni pun memutar haluan dengan melapor ke Idrus sebagai representasi pimpinan Golkar saat itu.

Jaksa menyebut Idrus saat itu mengarahkan Eni agar meminta uang ke Kotjo. Selain itu Idrus disebut mengarahkan sebagian uang dari Kotjo sebesar Rp 713 juta untuk penyelenggaraan Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) Partai Golkar untuk menggantikan Novanto di posisi Ketua Umum Partai Golkar.

“Terdakwa selaku penanggung jawab Munaslub Partai Golkar mengarahkan Eni Maulani Saragih selaku bendahara untuk meminta uang kepada Johanes Budisutrisno Kotjo guna kepentingan Munaslub Partai Golkar tahun 2017,” kata jaksa.

“Dikarenakan terdakwa berkeinginan untuk menjadi pengganti antarwaktu Ketua Umum Golkar. Terdakwa ingin menggantikan Setya Novanto yang masih memiliki sisa jabatan 2 tahun,” imbuh jaksa.

Selepas itu majelis hakim mempersilakan Idrus untuk menanggapi, apakah akan mengajukan nota keberatan atau eksepsi atau tidak. Idrus pun membuka suara.

“Kami tidak ajukan eksepsi dengan berbagai pertimbangan,” ujar Idrus.

Alasan Idrus adalah agar apa yang didakwakan padanya dibuktikan dalam persidangan saja. Selain itu dia mengaku tidak berprasangka buruk pada KPK sejak awal.

“Saya justru terima kasih terlepas dari siapa pun benar salahnya proses saya lalui sampai saya ada di sini. Kenapa? Karena ternyata ada hikmahnya saya banyak merenung dan merespons masalah bangsa terutama penegakan hukum dalam keadilan,” kata Idrus yang mengaku menulis buku dari balik sel tahanan.

Tak lupa pujian untuk jaksa disampaikan Idrus. Pun terhadap majelis hakim, Idrus melontarkan penghargaan.

“JPU (jaksa penuntut umum) masih muda-muda, yang tentu memiliki idealisme yang tinggi, tentu sangat positif keadilan,” kata Idrus.

“Saya melihat majelis hakim adalah teladan penegak keadilan yang memiliki track record. Ketika saya di DPR bidang hukum, tahu persis orang (hakim) yang ditugaskan di Jakarta orang yang senior dan punya prestasi dan memiliki integritas dan komitmen,” imbuh Idrus.

Pujian dari Idrus itu tidak menjadi masalah bagi jaksa. Usai persidangan, salah seorang jaksa yang menangani perkara itu, Lie Putra Setiawan, mengaku berpegang teguh membuktikan perkara yang diajukan dalam persidangan tanpa melihat secara subjektif siapa pun terdakwanya.

“Tentunya kami akan buktikan dakwaan kami pada proses pemeriksaan nantinya,” ucap Lie.
(dhn/rvk)

<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>