Elektabilitas Jokowi Vs Prabowo Jelang Pilpres 2019

Liputan6.com, Jakarta – Perhelatan Pilpres 2019 tak sampai hitungan satu bulan ke depan. Tak heran, bila survei terbaru Pilpres 2019 menjadi perhatian berbagai kalangan.

Dalam rentang Februari hingga Maret 2019, lima lembaga merilis hasil survei terbaru Pilpres 2019. Survei ini terkait elektabilitas atau tingkat keterpilihan Jokowi dan Ma’ruf Amin dengan Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno.

Dari lima survei itu, selisih tingkat keterpilihan Jokowi dengan Prabowo berkisar 11-27%. Beragam faktor diyakini turut mempengaruhi elektabilitas terbaru kedua paslon, termasuk Debat III Pilpres 2019 pada 17 Maret 2019.

Bagaimana hasil survei terbaru Pilpres 2019 dari kelima lembaga terkait elektabilitas Jokowi-Ma’ruf dengan Prabowo-Sandiaga? Simak dalam Infografis berikut ini:

Bawaslu: Guru Honorer Banten Akui Foto Pamer Stiker Prabowo di Sekolah

Jakarta – Keenam guru honorer SMA 9 Kronjo, Kabupaten Tangerang telah menjalani pemeriksaan oleh Bawaslu Banten terkait pose dua jari sambil memegang stiker Prabowo-Sandiaga di sekolah. Keenam guru itu mengakui ada di foto yang kemudian viral itu.

Bawaslu Banten bersama Panwascam melakukan pemeriksaan terhadap keenam guru itu di kantor Panwascam Kronjo, pukul 16.00-20.00 WIB, Kamis (22/3). Keenam honorer itu berinisial AR, HN, KY, MK, SH, dan SA

“Sudah dipanggil semuanya hadir. Intinya sudah diperiksa dan mereka mengakui bahwa mereka ada dalam foto itu, mereka guru di sekolah tersebut,” kata Komisioner Bawaslu Banten Badrul Munir kepada detikcom di Serang, Banten, Jumat (22/3/2019).

Namun, Munir belum bisa memberikan keterangan lebih lanjut bagaimana keenam guru honorer itu bisa melakukan pose dan pamer stiker Prabowo di sekolah sambil menggunakan pakaian dinas. Apalagi, foto tersebut kemudian jadi viral dan berujung pada pemecatan.

Munir menjelaskan pihaknya akan memanggil pihak lain terkait kasus tersebut. “Kami masih akan melakukan pemanggilan berikutnya terhadap pihak lain yang kita butuhkan terkait peristiwa ini,” jelasnya.

Menurut Munir, para honorer itu juga mengakui sudah diberikan sanksi oleh pimpinan mereka. Namun, sambung Munir, Bawaslu belum menentukan ada atau tidaknya sanksi tambahan. Pihaknya masih menunggu hasil pemeriksaan rampung.

“Sanksi kan nanti kalau memang ada hal-hal yang mungkin layak diberikan sanksi. Walaupun memang (mereka) memberi informasi sudah diberikan sanksi oleh dinas,” pungkasnya.

Rencananya, pemeriksaan akan dilanjutkan pada beberapa pihak. Pemeriksaan akan dilakukan di Panwascam Kronjo, Tangerang.

(bri/knv)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Prabowo Curhat Bertahun-tahun Nyapres, Anaknya Jarang Diperhatikan

Liputan6.com, Jakarta – Calon Presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto curhat tentang pengalamannya nyapres. Dia mengaku sudah lama tak pernah istirahat. Kesibukan Prabowo membuat putra semata wayangnya jarang diperhatikan.

Hal itu disampaikan Prabowo saat pidato di acara Aliansi Pengusaha Nasional untuk Indonesia Menang di Djakarta Theater, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Kamis 21 Maret 2019 malam.

“Sejak umur 18 tahun saya siap mati untuk republik ini, usia saya nanti Oktober, 68 tahun. Sebetulnya saya ingin istirahat saya belum pernah istirahat dari umur 18 tahun,” kata Prabowo.

“Saya tidak tahu libur, saya hanya punya satu anak dia pun mengeluh gak pernah memperhatikan dia,” sambung dia.

Mantan Danjen Kopassus itu mengaku ingin istirahat di sisa umurnya. Namun, Prabowo tak rela melihat kondisi negara.

Selain itu, Prabowo mengaku tak ingin ada perpecahan dan konflik di Tanah Air. Dia pun mengatakan, lebih baik dirinya yang hancur daripada rakyat menderita.

“Saudara-saudara sekalian saya tidak pernah mau perpecahan, saya tidak permah mau konflik saya dibesarkan senagai seorang kesatria lebih baik saya yg hancur daripada rakyat yang menderita. Itu tekad saya dari muda,” tegas Prabowo

Reporter: Muhammad Genantan Saputra

Sumber: Merdeka.com

HEADLINE: Waktu Mepet Jelang Pilpres, Jurus Jokowi Vs Prabowo Dongkrak Elektabilitas?

Pemungutan suara Pilpres 2019 akan berlangsung pada 17 April 2019. Pada 26 hari menjelang Pilpres 2019, sejumlah lembaga merilis hasil survei terbarunya terkait elektabilitas atau tingkat keterpilihan antara pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Pada periode Februari-Maret 2019, tercatat ada empat lembaga yang mengeluarkan hasil survei terbaru Pilpres 2019. Berikut ini data-datanya yang dihimpun Liputan6.com, Kamis (21/3/2019):

1. LSI Denny JA

Elektabilitas pasangan calon presiden nomor urut 01 Jokowi-Ma’ruf Amin masih unggul dari pasangan calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno dalam survei terbaru Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA pada Februari 2019. Selisih tingkat keterpilihan Jokowi dengan Prabowo berkisar 27,8 persen.

Pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin mendapatkan elektabilitas sebesar 58,7 persen. Sedangkan Prabowo-Sandiaga 30,9 persen.

“Jokowi-Amin tetap unggul, dengan selisih tetap sekitar 20%,” ujar peneliti LSI Ardian Sopa di kantornya, Rawamangun, Jakarta Timur, Selasa (5/3).

Survei elektabilitas capres-cawapres ini menggunakan simulasi surat suara. Besaran responden 1.200 yang diwawancarai tatap muka dalam rentang waktu 18-25 Februari 2019. Survei menggunakan metode multistage random sampling dengan margin of error plus minus 2,9 persen.

2. Survei Konsepindo

Lembaga survei Konsep Indonesia Research and Consulting atau Konsepindo merilis hasil penelitiannya 17-24 Februari 2019, yang memuat salah satunya terkait hasil suara Pemilihan Presiden 2019. Hasilnya, Jokowi-Ma’ruf meraup hasil 55 persen, sedangkan Prabowo-Sandiaga hanya 33,2 persen.

“Hasil ini didapat pada pertanyaan spontan jika pemilihan presiden dilakukan hari ini, dan hasilnya demikian, sisanya 11,8 persen mengaku belum memutuskan atau undecided voters,” kata Direktur Konsepindo Veri Muhlis Arifuzzaman di Hotel Milenium, Jakarta Pusat, Rabu (13/3/2019).

Dia pun memprediksi, jika melihat hasil survei tersebut, maka Pilpres mendatang bisa saja dimenangkan paslon nomor urut 01. Dengan catatan tidak ada sesuatu yang tak terduga.

“Jadi, bila kami melihat selisih ini dan menimbang sisa waktu tinggal 35 hari lagi bisa diprediksi akan dimenangkan Jokowi-Ma’ruf. Jika tak ada kejadian luar biasa,” ungkap Veri.

Selain itu, masih kata dia, pihaknya juga menjabarkan mengenai tingkat kepuasan, khususnya terhadap kinerja Jokowi. Apalagi sebanyak 69,6 persen dari responden mengaku puas dengan apa yang telah dilakukan pemerintah selama ini.

“Hanya 26 persen yang mengaku belum puas dari kinerja Jokowi,” jelas Veri.

Survei ini dilakukan dengan mengambil 1.200 responden. Kemudian menggunakan teknik multistage random sampling. Untuk margin of error plus minus 2,9 persen.

3. Survei SMRC

Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) kembali merilis survei terbaru elektabilitas pasangan calon presiden dan wakil presiden dalam Pilpres 2019. Hasilnya, Jokowi-Ma’ruf Amin naik, sementara Prabowo Subianto-Sandiaga Uno mengalami penurunan.

Survei terakhir yang dilakukan SMRC pada 24 Februari-5 Maret 2019, Jokowi-Ma’ruf Amin 57,6 persen dan Prabowo-Sandiaga Uno 31,8 persen. Pada survei sebelumnya yang dilakukan SMRC pada 24-31 Januari, Jokowi-Ma’ruf Amin dipilih 54,9 persen, sementara Prabowo-Sandiaga mendapat 32,1 persen.

Ada kenaikan 2,7 persen untuk pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin, dan penurunan 0,3 persen untuk Prabowo-Sandiaga. Selisih elektabilitas keduanya pada survei terbaru SMRC ini sebesar 25,8 persen.

Populasi survei ini adalah seluruh warga negara Indonesia yang yang punya hak pilih dalam pemilihan umum, yakni mereka yang sudah berumur 17 tahun atau lebih, atau sudah menikah ketika survei dilakukan. Dari populasi itu dipilih secara random (multistage random sampling) 2.820 responden.

Response rate (responden yang dapat diwawancarai secara valid) pada survei Februari-Maret ini sebesar 2.479 atau 88%. Margin of error rata-rata dari survei dengan ukuran sampel tersebut sebesar ± 2% pada tingkat kepercayaan 95%.

Responden terpilih diwawancarai lewat tatap muka oleh pewawancara yang telah dilatih. Quality control terhadap hasil wawancara dilakukan secara random sebesar 20% dari total sampel oleh supervisor dengan kembali mendatangi responden terpilih (spot check). Dalam quality control tidak ditemukan kesalahan berarti.

4. Survei Litbang Kompas

Berdasarkan survei terbaru Litbang Kompas, jarak elektabilitas Jokowi dan Prabowo saat ini lebih tipis dibandingkan survei Litbang Kompas Oktober 2018. Elektabilitas Jokowi dan Prabowo saat ini hanya selisih 11,8 persen. Jokowi-Ma’ruf Amin mendapat perolehan suara 49,2 persen, sedangkan Prabowo-Sandi 37,4 persen. Sebanyak 13,4 persen masih merahasiakan pilihannya.

Pada Oktober 2018 lalu, Litbang Kompas juga telah merilis elektabilitas dua pasangan capres. Saat itu, elektabilitas Jokowi-Ma’ruf sebanyak 52,6 persen sedangkan Prabowo- Sandiaga Uno 32,7 persen. Sebanyak 14,7 persen masih merahasiakan pilihannya. Saat itu, selisih suara keduanya masih 19,9 persen.

Disebutkan pula, penyebab menurunnya elektabilitas Jokowi-Ma’ruf karena sejumlah hal. Seperti perubahan pandangan atas kinerja pemerintah, berubahnya arah dukungan kalangan menengah atas, membesarnya pemilih ragu pada kelompok bawah dan persoalan militansi pendukung yang berpengaruh pada penguasaan wilayah.

Dengan mengasumsikan kelompok yang belum memutuskan dukungan pilihan (undecided voters) akan terbagi proporsional menurut perolehan survei, potensi kemenangan Jokowi-Ma’ruf 56,8 persen dan Prabowo-Sandi 43,2 persen. Disebutkan pula, penurunan suara Jokowi-Ma’ruf masih akan terjadi sebulan ke depan.

Metode pengumpulan pendapat menggunakan wawancara tatap muka sejak tanggal 22 Februari-5 Maret 2019. Survei ini diikuti 2.000 responden yang dipilih secara acak dengan metode pencuplikan sistematis bertingkat di 34 provinsi di seluruh Indonesia. Tingkat kepercayaannya 95 persen dengan margin of error penelitian plus/minus 2,2 persen.

Saksikan video pilihan berikut ini:

Prabowo Buka-bukaan Kriteria Kabinet Pemerintahan Bila Menang Pilpres

JakartaCapres Prabowo Subianto buka-bukaan mengenai kriteria kabinet menteri ideal jika menang Pilpres 2019. Seperti apa?

Buka-bukaan kabinet menteri itu disampaikan Prabowo saat berpidato di acara Aliansi Pengusaha Nasional di Djakarta Theater, Kamis (21/3/2019). Prabowo awalnya menyapa Sandiaga Uno yang berdiri menemani dia berpidato.

“Kalau lihat nanti kira-kira kabinet kita bagaimana Pak Sandi?” sebut Prabowo.

Kriteria kabinet Prabowo yang pertama harus diisi putra-putri bangsa yang pintar. Mereka juga harus berusia muda.

“Saya kasih kriteria ya, yang pertama harus, harus pinter, tapi tidak hanya pinter, harus punya akhlak dan harus muda,” kata Prabowo.

“Tapi tidak hanya muda, harus berpihak kepada bangsa sendiri. Kita akan mencari putra putri terbaik Indonesia. Kita ingin tadi nakhoda tadi disinggung Pak Erwin, navigasi harus benar, tidak boleh salah kita,” ucapnya. Erwin yang dimaksud Prabowo ialah Erwin Aksa.

Prabowo meminta pendukungnya tak menyalahkan siapa pun untuk saat ini. Dia ingin semua maju menatap masa depan.

Selain anak muda, Prabowo tak menutup kemungkinan mengangkat menteri senior. Namun, menteri senior itu harus memenuhi beberapa kualifikasi.

“Yang senior-senior kalau masih capable, masih hebat, masih punya pengalaman akan kita pakai juga. Di situ kira-kira mungkin… kalian sudah tebaklah kira-kira. Jadi saudara-saudara kita akan bikin tim yang hebat karena kita ingin Indonesia menang,” tegas Prabowo.

(gbr/fdn)
<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Saat Prabowo Ralat Ucapan soal ‘Pemimpin Bodoh’

Jakarta – Calon presiden Prabowo Subianto mengungkapkan soal calon wakil presiden (cawapres) idamannya. Kriteria cawapres ideal Prabowo adalah yang lebih muda dan pintar darinya.

Hal itu disampaikan Prabowo dalam acara Aliansi Pengusaha Nasional yang digelar di Djakarta Theater, Kamis (21/3/2019). Prabowo awalnya mengatakan dia ingin calon wakil yang muda.

“Saya dari awal ingin calon wakil saya harus anak muda. Lo, kalau saya 68 tahun, pengganti saya harus lebih muda dari saya. Dan dan dia harus fit, harus kuat, harus sehat, dia harus pinter. Betul?” kata Prabowo diamini peserta acara.
Prabowo menegaskan calon wakilnya harus lebih pintar darinya. Menurutnya, begitulah cara seorang panglima bekerja.
“Dan dia harus lebih pintar dari saya. Anda tahu? Itu adalah ilmu seorang panglima. Panglima harus pilih orang-orang yang paling pintar supaya dia tidak terlalu capek berpikir. Betul?” sebut Prabowo.

Prabowo lalu berbicara soal pemimpin. Dia sempat meralat pernyataannya saat bicara ‘pemimpin bodoh’.

“Kalau pemimpin kita bodoh, apa, aaa… apa, apalah itu…. Gini, gini, ralat! Kalau orang sekitar kita bodoh-bodoh, kita yang capek,” sebut Prabowo.
(gbr/jbr)
<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Survei Terbaru Jokowi Vs Prabowo Versi 4 Lembaga Periode Februari-Maret 2019

Berdasarkan survei terbaru Litbang Kompas elektabilitas Jokowidan Prabowo saat ini lebih tipis dibandingkan survei Litbang Kompas Oktober 2018. Elektabilitas Jokowi dan Prabowo saat ini hanya selisih 11,8 persen. Jokowi-Ma’ruf Amin mendapat perolehan suara 49,2 persen, sedangkan Prabowo-Sandi 37,4 persen. Sebanyak 13,4 persen masih merahasiakan pilihannya.

Pada Oktober 2018 lalu, Litbang Kompas juga telah merilis elektabilitas dua pasangan capres. Saat itu, elektabilitas Jokowi-Ma’ruf sebanyak 52,6 persen sedangkan Prabowo- Sandiaga Uno 32,7 persen. Sebanyak 14,7 persen masih merahasiakan pilihannya. Saat itu, selisih suara keduanya masih 19,9 persen.

Disebutkan pula, penyebab menurunnya elektabilitas Jokowi-Ma’ruf karena sejumlah hal. Seperti perubahan pandangan atas kinerja pemerintah, berubahnya arah dukungan kalangan menengah atas, membesarnya pemilih ragu pada kelompok bawah dan persoalan militansi pendukung yang berpengaruh pada penguasaan wilayah.

Dengan mengasumsikan kelompok yang belum memutuskan dukungan pilihan (undecided voters) akan terbagi proporsional menurut perolehan survei, potensi kemenangan Jokowi-Ma’ruf 56,8 persen dan Prabowo-Sandi 43,2 persen. Disebutkan pula, penurunan suara Jokowi-Ma’ruf masih akan terjadi sebulan ke depan.

Metode pengumpulan pendapat menggunakan wawancara tatap muka sejak tanggal 22 Februari-5 Maret 2019. Survei ini diikuti 2.000 responden yang dipilih secara acak dengan metode pencuplikan sistematis bertingkat di 34 provinsi di seluruh Indonesia. Tingkat kepercayaannya 95 persen dengan margin of error penelitian plus/minus 2,2 persen.

‘Rommy Effect’ di Peta Pertarungan Jokowi dan Prabowo

Jakarta – ‘Rommy Effect’ disebut-sebut dalam peta pertarungan antara Joko Widodo-Ma’ruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Penangkapan eks Ketum PPP Romahurmuziy alias Rommy dinilai akan memperbesar kesempatan Prabowo-Sandiaga untuk menang di Pilpres 2019.

Adalah Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga yang meyakini ‘Rommy Effect’ akan memberi pengaruh buruk pada elektabilitas Jokowi-Ma’ruf. Prediksi itu disampaikan BPN usai melihat selisih yang semakin tipis antara Jokowi dengan Prabowo dalam suvei Litbang Kompas.

Survei ini melibatkan 2.000 responden yang dipilih secara acak menggunakan metode pencuplikan sistematis bertingkat di 34 provinsi Indonesia. Margin of error survei ini plus-minus 2,2 persen dengan tingkat kepercayaan 95%. Hasil survei Litbang Kompas yang menunjukkan selisih Jokowi dan Prabowo tinggal 11,8%. Elektabilitas Jokowi tercatat sebesar 49,2%, sementara elektabilitas Prabowo 37,4%, dan yang merahasiakan pilihan sebesar 13,4%.

BPN meyakini ‘Rommy Effect’ akan membuat Jokowi-Ma’ruf semakin keok. Sebab, swing voters dan pendukung Jokowi akan berpindah ke Prabowo lantaran Rommy terjerat korupsi.
“Survei Litbang Kompas dilakukan pada 22 Februari-5 Maret atau sebelum terjadinya OTT KPK terhadap Rommy PPP pada 15 Maret 2019, jadi belum ada Rommy effect dalam survei tersebut. Jika Rommy effect sudah dihitung, saya yakin sebagian besar swing voter dan bahkan pendukung Jokowi akan pindah ke Prabowo,” kata anggota BPN Prabowo-Sandiaga, Habiburokhman kepada wartawan, Rabu (20/3).

“Fakta di lapangan tidak terbantahkan, di mana pun Prabowo-Sandi hadir selalu disambut lautan massa, sementara paslon kubu sebelah kerap terlihat sepi. Justru kami yakin kondisi saat ini Prabowo sudah mengungguli Jokowi karena adanya OTT terhadap pentolan TKN Romy PPP beberapa hari lalu,” imbuhnya.

Kubu Tim Kampanye Nasional (TKN) langsung membantah, termasuk oleh PPP. PPP menegaskan tidak ada kaitan penangkapan Romahurmuziy dengan elektabilitas Jokowi.

“Jika yang dimaksud BPN tentang ‘Rommy effect’ tersebut terkait dengan konstituen PPP bakal beralih kepada Prabowo, maka itu hanya spekulasi BPN saja,” kata Sekjen PPP Arsul Sani kepada wartawan, Rabu (20/3/2019).

Menurut Arsul, elektabilitas Jokowi-Ma’ruf di kalangan pemilih PPP terus meningkat. Dia membandingkan survei Litbang Kompas pada Oktober 2018 dan Maret 2019.

“Elektabilitas paslon 01 di internal konstituen PPP justru konsisten trennya naik. Lihat dari survei Kompas di Oktober 2018 dan yang sebelumnya dibanding hasil survei Maret 2019, maka kenaikannya cukup signifikan,” jelasnya.

“Bahkan yang Maret tersebut persentase pemilih PPP yang dukung 01 lebih besar daripada PKB dan Golkar,” lanjut Arsul.

Masih dari PPP, Wasekjen PPP Achmad Baidowi (Awiek), menyebut Habiburokhman seorang politisi bukan pengamat. Penilaian pun subjektif sebagai pendukung Prabowo-Sandiaga.

“Habiburokhman itu politikus apa pengamat politik? Kalau bicara atas nama politisi, ya, penilaiannya subjektif. Sejauh ini kasus Pak Rommy tak ada kaitan dengan PPP, apalagi TKN,” kata Awiek.

Sementara itu, Wakil Ketua TKN, Johnny G Plate menyebut kasus Rommy tidak mempengaruhi elektabilitas Jokowi. Bagi Johnny, kasus Rommy tidak terkait urusan Pilpres 2019. Meski begitu, Johnny memberi saran kepada PPP agar tidak lagi menggunakan foto Rommy saat kampanye. Lebih baik mengangkat tokoh lain dalam alat peraga kampanye (APK).

“Kasus Rommy tidak akan mempengaruhi elektabilitas paslon 01 Jokowi-Ma’ruf. Masyarakat mengetahui bahwa itu adalah tindakan perorangan dan sama sekali tidak terkait pilpres,” kata Johnny.

“Kami meyakini dan kerja keras untuk mencapai kemenangan di atas 60%. Kemenangan pilpres kali ini akan jauh lebih besar dibandingkan dengan pilpres 2014, di mana Jokowi-JK 53,15 persen dan Prabowo-Hatta 46,85 persen. Walaupun saat itu survei juga tidak berbeda jauh, yaitu Jokowi-JK 42,3 persen, Prabowo-Hatta 35,3 persen dan undivided voters 22,4 persen,” imbuh dia.
(aik/mae)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

BPN: Prabowo Sudah Jenguk Ahmad Dhani, Kapan Jokowi Besuk Rommy?

JakartaBadan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno bicara soal pengaruh kasus dugaan korupsi eks Ketum PPP Romahurmuziy (Rommy) terhadap capres petahana Jokowi. BPN Prabowo-Sandiaga memprediksi elektabilitas Jokowi akan menurun karena kasus tersebut.

“Kalau setelah kasus Rommy, tentu (elektabilitas) Pak Jokowi semakin nyungsep karena menurun. Bagaimanapun Gus Rommy itu orang dekat presiden. Gus Rommy itu bukan hanya orang dekat presiden, teman dekat presiden, setiap minggu berkali-kali ketemu dengan presiden. Bahkan ketua umum partai politik pendukung presiden dan juga TKN Jokowi-Ma’ruf,” kata juru bicara BPN Andre Rosiade di Media Center BPN, Jalan Sriwijaya I, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (20/3/2019).

Politikus Gerindra itu mempertanyakan kapan Jokowi menjenguk Rommy di tahanan. Andre kemudian membandingkan dengan sikap Prabowo-Sandiaga yang menjenguk Ahmad Dhani di penjara.

“Pertanyaan saya, ini pertanyaan publik, kan Ahmad Dhani orangnya Prabowo, timses ya, nah maka Prabowo datang. Kira-kira kapan Pak Jokowi besuk Gus Rommy? Kan ini orangnya Jokowi,” jelasnya.

“Lalu bahkan Gus Rommy suka membanggakan, Pak Jokowi loh yang bilang, ‘saya milenial dan lebih ganteng dari Sandi’. Masa udah sedekat ini hubungannya, Pak Jokowi nggak datang? Jangan habis manis sepah dibuang dong,” imbuhnya.

Andre menilai kegiatan Prabowo-Sandiaga menjenguk Ahmad Dhani merupakan bukti perhatian calon pemimpin. Dia lalu menyindir Jokowi sambil kembali mempertanyakan kapan Jokowi membesuk Rommy.

“Nah, lihat Prabowo. Dia datang besuk Ahmad Dhani, datang ke Surabaya, jauh loh. Bang Sandi dua kali datang ke Cipinang sama Surabaya. Menunjukkan apa? Pak Prabowo tunjukkan perhatian ke timsesnya dan beliau dekat secara personal dengan Dhani. Kita tahu Jokowi dekat secara personal dengan Rommy. Kira-kira kapan (menjenguk)? Jangan habis manis sepah dibuang,” ucapnya.

Sebelumnya, Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf Amin menegaskan penangkapan Rommy tidak mempengaruhi elektabilitas jagoan mereka. TKN menyebut kasus Rommy tidak terkait urusan Pilpres 2019.

“Kasus Rommy tidak akan mempengaruhi elektabilitas paslon 01 Jokowi-Ma’ruf. Masyarakat mengetahui bahwa itu adalah tindakan perorangan dan sama sekali tidak terkait pilpres,” kata Wakil Ketua TKN, Johnny G Plate kepada wartawan, Rabu (20/3).
(zak/imk)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

PPP Tepis BPN Prabowo Soal ‘Rommy Effect’: Itu Spekulasi Saja

Jakarta – BPN Prabowo Subianto-Sandiaga Uno menyebut ada ‘Rommy Effect’ yang bisa menyebabkan pemilih Jokowi-Ma’ruf Amin melabuhkan suara untuk paslon 02. PPP menegaskan tidak ada kaitan penangkapan Romahurmuziy terhadap elektabilitas Jokowi.

“Jika yang dimaksud BPN tentang ‘Rommy Effect’ tersebut terkait dengan konstituen PPP bakal beralih kepada Prabowo, maka itu hanya spekulasi BPN saja,” kata Sekjen PPP Arsul Sani kepada wartawan, Rabu (20/3/2019).

Menurut Arsul, elektabilitas Jokowi-Ma’ruf di kalangan pemilih PPP terus meningkat. Dia membandingkan survei Litbang Kompas Oktober 2018 dan Maret 2019.

“Elektabilitas paslon 01 di internal konstituen PPP justru konsisten trennya naik. Lihat dari survei Kompas di Oktober 2018 dan yang sebelumnya dibanding hasil survei Maret 2019, maka kenaikannya cukup signifikan,” jelasnya.

“Bahkan yang Maret tersebut persentase pemilih PPP yang dukung 01 lebih besar daripada PKB dan Golkar,” lanjut Arsul.

Ia menegaskan PPP makin solid mendukung Jokowi-Ma’ruf. Arsul mengatakan kasus Rommy tidak memengaruhi soliditas partai.

“Ini maknanya adalah jajaran PPP makin solid dukung 01. Nah, soliditas ini yang tetap kami akan jaga setelah kasus Mas Rommy. Seluruh jajaran bertekad sama, sehingga spekulasi BPN tersebut akan tinggal spekulasi saja,” tutur Arsul.

Sebelumnya diberitakan, Survei Litbang Kompas yang memperlihatkan selisih elektabilitas Jokowi dan Prabowo di Pilpres 2019 makin tipis dilakukan sebelum eks Ketum PPP Romahurmuziy (Rommy) ditangkap KPK. Politikus Gerindra, Habiburokhman, yakin Prabowo menang jika memperhitungkan ‘Rommy effect’.

“Survei Litbang Kompas dilakukan pada 22 Februari-5 Maret atau sebelum terjadinya OTT KPK terhadap Rommy PPP pada 15 Maret 2019, jadi belum ada Rommy effect dalam survei tersebut. Jika Rommy effect sudah dihitung, saya yakin sebagian besar swing voter dan bahkan pendukung Jokowi akan pindah ke Prabowo,” kata Habiburokhman, hari ini.
(tsa/imk)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>