Polisi Periksa Pilot hingga Teknisi Lion Air PK-LQP Denpasar-Jakarta

Jakarta – Tim khusus Bareskrim Polri meminta keterangan kru dan teknisi Lion Air PK-LQP Denpasar-Jakarta sehari sebelum jatuhnya pesawat di perairan Karawang. Polisi juga mengecek kesehatan para kru pesawat yang bertugas dari Denpasar itu.

“Sudah diperiksa di Denpasar, (penerbangan) dari Denpasar ke Jakarta. Hasil pemeriksaan ini semua sedang dikumpulkan, masih investigasi masih penyelidikan. Nanti akan divalidkan dengan hasil KNKT,” ujar Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karo Penmas) Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo di Mabes Polri, Jl Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jaksel, Kamis (8/11/2018).

Tim khusus Bareskrim ditugaskan untuk melakukan penyelidikan dari nonteknis. Karena itu, pemeriksaan terbatas seputar kronologis saat Lion Air PK-LQP terbang dari Denpasar ke Jakarta.

“Dari kesehatan, kemudian dari teknisi pesawat, latar belakangnya. Dari sekuriti bandara, kemudian bagian yang angkat-angkat barang itu, sekuriti barang, yang seperti itu yang kita dalami,” sambung Dedi.

“Nonteknisnya siapa tahu pilotnya menggunakan obat, kemudian dari sisi medisnya. Medisnya bagaimana, apakah dia dipaksa dengan kondisi kesehatan yang nggak prima. Kemudian kita meyelidiki sabotase. Sabotase sementara belum ditemukan kemudian serangan terorisme sampai hari ini masih belum ditemukan. Jadi yang kita mengerucut ya itu nonteknisnya itu, masalah kesehatan,” papar Dedi.

Sebelumnya Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) menyebut pesawat Lion Air PK-LQP mengalami masalah dengan alat penunjuk kecepatan. Masalah itu sudah terjadi dalam 4 penerbangan terakhir sebelum jatuh di perairan Karawang, Senin (29/10).

Kemudian dirilis temuan terbaru dari hasil pemeriksaan flight data recorder (FDR) black box Lion Air PK-LQP. Menurut KNKT, kerusakan ditemukan dari sensor AOA atau angle of attack.

“Setelah dilakukan troubleshooting (pencarian sumber masalah secara sistematis), yang rusak adalah AOA,” kata Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono, Rabu (7/11).

“AOA itu mengukur sudut pesawat terhadap aliran udara. Jadi, kalau pesawatnya seperti ini (kondisi mendatar), ini nol, tapi kalau pesawatnya naik, nah itu AOA itu berapa derajat terhadap aliran udara akan terbaca,” imbuh Soerjanto.

Soerjanto mengatakan sensor AOA menunjukkan perbedaan pada saat penerbangan dari Bali ke Jakarta. Dalam penerbangan itu, AOA pesawat PK-LQP sebelah kiri berbeda 20 derajat dengan sebelah kanan.
(abw/fdn)

<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *