Tak Ada Gajah yang Mau Dijajah

Liputan6.com, Bandar Lampung – Kepala Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) Agus Wahyudiono mengimbau masyarakat untuk tidak mengganggu habitat gajah atau mengusirnya secara sembarangan ketika kawanan itu memasuki permukiman.

“Masyarakat yang ada jangan sampai mengganggu kawanan gajah, bila tidak mau kawanan gajah ini merusak rumah, perkebunan dan pertanian warga,” kata Agus saat dihubungi dari Bandarlampung, Jumat (22/2/2019), dilansir Antara.

Menurut dia, sering keluar dan masuknya kawanan gajah ke permukiman warga karena mereka merasa terganggu dengan keberadaan manusia di habitatnya, terutama memberikan dampak keterbatasan makanan.

Selain itu, masyarakat juga jangan gegabah saat mengusir kawanan gajah yang masuk ke permukiman warga. Kalau perlu berkoordinasi terlebih dahulu dengan petugas yang ada agar tidak memakan korban.

“Masyarakat jangan suka gegabah untuk mengusir kawanan gajah yang ada, karena bisa membahayakan warga,” katanya.

Sebelumnya, kawanan gajah liar kembali masuk ke perkebunan serta merusak puluhan hektare tanaman di sawah yang berada di Pekon (Desa) Roworejo, Kecamatan Suoh, Kabupaten Lampung Barat.

“Iya tadi sore kawanan gajah kembali masuk dan merusak lahan perkebunan dan pertanian milik warga termasuk sawah,” ujar Eko, salah seorang warga saat dihubungi dari Bandarlampung, Sabtu, pekan lalu.

Menurut dia, kawanan gajah sudah hampir dua pekan menginap di lahan perkebunan dan pertanian milik warga di Pekon Roworejo, Kecamatan Suoh, Lampung Barat.

Dia menerangkan, para pemilik lahan perkebunan dan pertanian hanya dapat melihat dari jarak terdekat sekitar 50 meter.

“Kami hanya bisa melihat dari jarak 50 meter saja. Dan belum berani mendekat, karena tidak mau mengambil risiko,” katanya.

Eko menjelaskan, puluhan gajah ini sudah hampir satu bulan menginap di dekat permukiman warga dan sampai saat ini kawanan gajah tersebut berpindah dari pekon satu ke pekon lainnya.

“Bila diusir dari pekon Roworejo maka akan berpindah ke pekon lainnya. Karena hutan ini dikelilingi oleh rumah penduduk,” ungkapnya.


Simak video pilihan berikut ini:

Pemerintah Tata Pemukiman Nelayan di 10 Kota

Liputan6.com, Jakarta Penataan kawasan pemukinan atau kampung nelayan tidak hanya dilakukan di Bengkulu, tetapi juga dilakukan di 10 daerah lainnya di tanah air. Lima diantaranya yakni Kampung Beting Kota Pontianak, Kawasan Sungai Kemuning Kota Banjarbaru, Kampung Nelayan Untia Kota Makassar, Kawasan Dufa-Dufa Kota Ternate, dan Kampung Nelayan Hamadi Kota Jayapura.

Ini diungkapkan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono mengutip dalam keterangan tertulisnya, Kamis (21/2/2019).

Penataan kawasan pemukiman nelayan di Kampung Sumber Jaya, Kota Bengkulu, yang dikunjungi Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada akhir pekan lalu, merupakan salah satu dari 11 kampung nelayan yang dilakukan penataan oleh Kementerian PUPR melalui Ditjen Cipta Karya.

“Indonesia memiliki jumlah kawasan pesisir yang banyak, sehingga penataan 11 kawasan ini akan menjadi contoh bagi Pemerintah Daerah untuk pembenahan kawasan pesisir,” ujar Menteri Basuki. 

Dia memastikan jika pembangunan infrastruktur yang dikerjakan pada pemukiman nelayan dan tepi air serta kawasan kumuh pesisir dilakukan dengan melibatkan Pemerintah Daerah dan masyarakat sekitar.

“Secara umum ruang lingkup pengerjaan adalah pembangunan dan perbaikan jalan lingkungan, promenade, drainase, Ruang Terbuka Publik, MCK Komunal, gazebo, jetty sampan, jembatan, penerangan jalan, pedestrian, dan pembangunan turap (talud),” ungkap Basuki.

Di Kawasan Kampung Beting, yang memiliki bangunan cagar budaya yang erat dengan sejarah perkembangan Kota Pontianak yakni Masjid Jami dan Istana Kadriah Kesultanan Pontianak misalnya, dilakukan penataan secara bertahap tahun 2017-2018 dengan anggaran Rp 79,18 miliar. Penataan di Kampung Beting ini dilakukan terintegrasi dengan penataan tepian Sungai Kapuas di Tambelan Sampit.

Kemudian, Kawasan Sungai Kemuning yang terletak di Kelurahan Guntung Paikat Kota Banjarbaru dengan luas 14,58 Ha dengan tipologi permukiman tepi sungai. Jumlah penduduk di kawasan permukiman kumuh Banjarbaru ini sebesar 46.872 jiwa. Tahun 2017 dilakukan penataan seluas 2,03 hektare dengan anggaran Rp 3,95 miliar.

2 dari 2 halaman

Kota Lainnya

Di Kota Makasar, penataan dilakukan pada Kampung Nelayan Untia seluas 10 ha dengan anggaran Rp 51,82 miliar. Program ini menyasar penyediaan sistem jaringan air bersih, sarana penyediaan pembuangan air hujan berupa kanal dan sanitasi.

Di Kota Ternate, pemukiman kumuh berada di Kawasan Dufa-Dufa yang terdiri dari 4 (empat) lokasi yaitu Dufa-Dufa, Salero, Toboleu, dan Sangaji seluas 12,41 Ha yang berada di tepi laut.

Setelah dilakukan penataan, Kota Ternate memiliki Taman Dufa-Dufa sebagai tempat wisata baru dengan kondisi jalan yang baik, adanya trotoar, kursi dan perkuatan tanggul laut. Anggaran berasal dari APBN Tahun 2017 sebesar Rp 8,5 miliar.

Di Kota Jayapura, penataan pemukiman Hamadi dilakukan sejak tahun 2017 dengan melakukan pekerjaan fisik meliputi, jalan gertak beton sehingga mempermudah akses menuju pelelangan ikan dan pariwisata di permukiman nelayan dan Ruang Terbuka Publik. Anggaran berasal dari APBN tahun 2017 sebesar 49,46 miliar.

Dia menegaskan, program penataan kawasan permukiman nelayan dan kampung tepi air Kementerian PUPR tidak hanya memperbaiki fisik infrastruktur. Namun ini juga mengajak masyarakat menjaga kebersihan lingkungan dengan tidak membuang sampah dan limbah sembarangan sehingga meningkatkan derajat kesehatan dan ekonomi lokal.

Gedung Penyimpan Bahan Kimia Terbakar di Bangladesh, 45 Orang Tewas

Liputan6.com, Dhaka – Setidaknya 45 orang tewas dalam kebakaran hebat gudang kimia di Ibu Kota Dhaka, Bangladesh India, pada Rabu 20 Februari 2019 pukul 22.40 waktu setempat.

Saat ini proses evakuasi masih berlangsung di lokasi, tepatnya di Chawkbazar, salah satu distrik di Dhaka. Jumlah korban tewas diperkirakan akan bertambah, demikian dikutip dari Al Jazeera pada Kamis (21/2/2019).

“Sejauh ini kami telah menemukan 45 jenazah. Jumlah jasad mungkin akan meningkat. Pencarian masih berlangsung,” kata Ali Ahmed, Kepala Dinas Pemadam Kebakaran setempat.

Jumlah korban telah dikonfirmasi oleh inspektur polisi di Rumah Sakit Medical College Dhaka. Selain korban tewas, empat orang lain dinyatakan dalam kondisi sangat kritis.

Api berkobar pada empat bangunan apartemen penyimpan bahan kimia, termasuk senyawa plastik dan unit body spray.

Akibat bahan kimia yang sangat mudah terbakar, kobaran api menjadi susah untuk dipadamkan meskipun telah mengerahkan 200 personel pemadam kebakaran.

“Ini akan memakan waktu, tidak seperti kebakaran pada umumnya,” kata Ahmed.

Ahmed menyampaikan bahwa jalan yang sempit serta sesaknya arus lalu lintas menjadi penyebab korban tidak bisa melarikan diri dari kobaran api.

“Ada kemacetan lalu lintas ketika kebakaran terjadi. Jadi orang tidak bisa melarikan diri,” lanjutnya.


Simak pula video pilihan berikut

2 dari 2 halaman

Kebakaran di Bangladesh Pekan Lalu

Sebelumnya, kebakaran juga terjadi di kota pesisir Bangladesh, Chittagong pekan lalu. Setidaknya sembilan orang tewas akibat insiden yang melanda lebih dari 200 tempat tinggal kumuh tersebut.

Polisi dan petugas pemadam kebakaran mengatakan lebih dari 50 orang lainnya terluka.

“Empat anggota dari satu keluarga termasuk di antara korban,” Tribune Dhaka melaporkan seperti dikutip dari BBC News.

Petugas pemadam kini tengah menyelidiki kemungkinan bahwa korsleting adalah penyebab kebakaran tersebut. Meski Bangladesh dikenal memiliki catatan keselamatan kebakaran yang buruk.

Para pejabat mengatakan kebakaran di permukiman kumuh Pasar Bhera terjadi sekitar pukul 03.30 waktu setempat (21.30 GMT).

Butuh sekitar lima jam untuk mengendalikan kobaran api di kawasan kumuh Bangladesh tersebut.

Cilegon Vs Bekasi, Mana yang Lebih Keren?

Cilegon – Wali Kota Cilegon Edi Ariyadi ingin daerahnya tak seperti Kota Bekasi yang disebut macet-macetan. Ia ingin pemerintah provinsi dan pusat gelontorkan pembangunan di kota ini. Jadi, mana yang lebih keren, Bekasi atau Cilegon?

Kadis Perumahan dan Kawasan Permukiman (Perkim) Cilegon Aziz Setia Ade memamerkan wilayahnya yang saat ini penuh dengan taman. Bahkan, ada alun-alun kota dengan air mancur yang disebutnya sebagai yang terbesar se-Indonesia.

“Alun-alun ada fasilitas utamanya air mancur buatan terbesar kalau kita klaim se-Indonesia. Dibuat dengan panjang 125 meter lebar 20 meter malam bisa warna-warni,” kata Aziz saat berbincang dengan detikcom, Cilegon, Rabu (20/2/2019).

Air mancur ini, lanjutnya berbeda dengan di Surabaya yang pembangunannya di laut. Atau Purwakarta yang dipasang di danau. Di Cilegon, air mancur dibuat di tengah kota dan bisa diakses publik begitu datang.
“Kalau untuk hari libur pengunjung bisa lebih dari seribu orang. Kalau dilihat malam pasti ramai. Tapi sampai dengan saat ini nggak ada kemacetan,” katanya.

Selain air mancur, pembenahan di Cilegon juga ditambah dengan pembangunan taman dan landmark Kota Baja. Ada 15 total taman dibangun jadi ruang terbuka publik di setiap kecamatan dan pusat kota.

“Target tahun ini ada penambahan di kecamatan, taman itu fasilitas bersosialisasi masyrakat, ada plaza, ruang olah raga dan fasilitas bermain,” ujarnya.

Wali Kota Cilegon Edi Ariyadi mengaku kotanya tak ingin seperti Bekasi yang penuh macet. Sebab itu, ia ingin ada pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah pusat maupun provinsi salah satunya flyover.

“Kita kan minta flyover, itu kewenangan pusat atau provinsi. Jangan kaya Bekasi kan kasihan macet. Jalan kelurahan itu Cilegon lah, tapi yang gede-gede ini,” ujarnya.

(bri/asp)



<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Kementerian PUPR Beri Contoh Kawasan Hijau di Kampus Ini

Liputan6.com, Jakarta – Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kementerian PUPR) mengembangkan Kampus PUPR sebagai percontohan kawasan hijau atau Greenship Neighborhood yang dikeluarkan oleh Green Building Council Indonesia (GBCI).

Pengembangan kawasan dilakukan secara bertahap, diantaranya pembangunan Gedung Utama Kementerian PUPR yang rampung 2015 dan telah mendapatkan sertifikasi bangunan hijau dari GBCI.

Berdasarkan informasi Kementerian PUPR, pengembangan kawasan Kampus PUPR yang berada di Jalan Pattimura 20, Jakarta Selatan dilanjutkan dengan target mencapai kategori Greenship Neighborhood dengan standar tertinggi yakni Platinum. Pada 2017-2018, dilakukan pembangunan pengendali banjir, gedung parkir dan tampungan air bawah tanah (ground water tank).

Mengusung konsep ini, disamping ramah lingkungan dan hemat energi, manfaat lainnya meliputi kenyamanan dalam bekerja sehingga menstimulasi kreatifitas bagi ASN Kementerian PUPR dalam menjalankan tugasnya dalam pelayanan infrastruktur di Indonesia.

Menteri PUPR Basuki Hadimuljono mengatakan, kehadiran ruang terbuka hijau (RTH) bisa dimanfaatkan sebagai ruang untuk beristirahat diluar ruang, dan selain akses penghubung antar bangunan juga dapat dinikmati dari dalam ruang kerja.

“Dengan kawasan kerja yang nyaman akan mendukung kualitas kerja. Apa yang sudah dibangun harus dipelihara dan dijaga kebersihannya,” kata Menteri Basuki dalam keterangan tertulisnya, Rabu (20/2/2019).

Dalam pengembangan kawasan, Kampus PUPR juga menargetkan zero run off dengan melakukan rain water harvesting, recycling dan reuse. Air hujan turun di area resapan kemudian dialirkan masuk dalam drainase kawasan.

Pada saat terjadi curah hujan tinggi, kelebihan aliran air disalurkan ke dua tampungan air bawah tanah dengan kapasitas total 1.200 m3 yang kemudian didaur ulang sebagai air untuk menyiram tanaman, flushing urinoir dan air cooling tower.

Sementara untuk gedung parkir motor dibangun setinggi 5 lantai dengan kapasitas sekitar 1.250 motor. Sebelum ada gedung parkir, parkir motor mengambil area yang cukup luas dan tidak tertata rapi.

Di sisi lain, atap gedung dipasang panel surya dilengkapi teknologi PVROOF hasil penelitian Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) Permukiman, Balitbang Kementerian PUPR, sehingga dapat mengurangi penggunaan daya listrik PLN bagi operasional gedung parkir yang dilengkapi lift tersebut. Dengan pemakaian PVROOF maka biaya pemakaian listrik gedung parkir bisa dihemat 50 persen.

Komitmen ramah lingkungan juga ditunjukan dengan pembangunan jalan kawasan menggunakan aspal plastik.

Selain itu juga dilengkapi jalur pejalan kaki dilengkapi guiding blok untuk difabel, sculpture, taman sanita, taman abipraya, jalur sepeda, prototipe rumah adat papua yaitu rumah honai, area batu refleksi 1 x 3 meter, dan drinking water fountain.

Pekerjaan Kampus PUPR ini dilaksanakan oleh kontraktor PT Brantas Abipraya (Persero), Konsultan Perencana PT Arkonin dan Konsultan Manajemen Konstruksi PT Ciriajasa Cipta Mandiri.

2 dari 2 halaman

Selanjutnya

Di sisi lain, atap gedung dipasang panel surya dilengkapi teknologi PVROOF hasil penelitian Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) Permukiman, Balitbang Kementerian PUPR, sehingga dapat mengurangi penggunaan daya listrik PLN bagi operasional gedung parkir yang dilengkapi lift tersebut.

Dengan pemakaian PVROOF maka biaya pemakaian listrik gedung parkir bisa dihemat 50 persen.

Komitmen ramah lingkungan juga ditunjukan dengan pembangunan jalan kawasan menggunakan aspal plastik.

Selain itu juga dilengkapi jalur pejalan kaki dilengkapi guiding blok untuk difabel, sculpture, taman sanita, taman abipraya, jalur sepeda, prototipe rumah adat papua yaitu rumah honai, area batu refleksi 1 x 3 meter, dan drinking water fountain.

Pekerjaan Kampus PUPR ini dilaksanakan oleh kontraktor PT Brantas Abipraya (Persero), Konsultan Perencana PT Arkonin dan Konsultan Manajemen Konstruksi PT Ciriajasa Cipta Mandiri.


Saksikan video pilihan di bawah ini:

Akhir Cerita Angin Kencang Gandeng Hujan Lebat Terjang Kota Malang

Liputan6.com, Malang – Angin kencang gandeng hujan lebat menerjang Kota Malang, Jawa Timur, Selasa (19/2/2019) siang. Sepasang suami istri yang sedang berkendara pun terluka tertimpa pohon tumbang saat melintas.

Angin kencang dengan kecepatan diperkirakan lebih dari 45 kilometer per jam beserta hujan lebat itu berlangsung sekitar 30 menit, sekitar pukul 13.00 WIB. Pasutri itu tertimpa pohon saat melintas di Jalan Cipto dan kini sudah dibawa ke RS Syaiful Anwar Malang.

Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Malang, Tri Oki mengatakan, pohon-pohon yang bertumbangan ada di 24 lokasi berbeda.

Tercatat, ada 5 mobil, 9 rumah, dan puluhan motor rusak tertimpa pohon tumbang. Akses jalan di beberapa lokasi juga sempat lumpuh beberapa jam.

Diameter pohon yang tumbang itu mulai dari puluhan sentimeter hingga 1 meter. Dampak kerusakan bisa jadi terus bertambah. Sejauh ini pendataan kerusakan masih terus dilakukan oleh BPBD setempat.

“Ini juga masih di jalan. Tugas kami untuk segera bekerja penanggulangan bencana,” ujar Tri Oki.

Salah satu lokasi pohon tumbang itu terjadi di sebuah warung makan di Jalan Wahidin Sudiro. Saat itu ada banyak pembeli di dalam warung. Beruntung kala pohon besar di atas warung tumbang setelah angin kencang, mereka bisa cepat keluar menyelamatkan diri.

“Alhamdulillah selamat semua. Tapi bangunan yang ambruk menimpa banyak kendaraan yang parkir di depan warung,” kata Rahmat Prayoga salah seorang pembeli di warung itu.

2 dari 2 halaman

Imbauan Potong Pohon

BPBD Kota Malang belum bisa menaksir berapa kerugian ekonomi dampak dari peristiwa ini. Apalagi banyak fasilitas umum yang turut rusak. Sejauh ini pendataan masih terus dilakukan sekaligus memastikan jumlah kerusakannya.

“Ini masih dijalan. Tugas kami untuk secepatnya melakukan penanggulangan bencana,” kata Tri Oki, Sekretaris BPBD Kota Malang.

Ketua DPRD Kota Malang, Bambang Heri Susanto mengatakan sudah meminta Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Kota Malang untuk memotong pohon – pohon tua yang tinggi menjulang.

“Itu antisipasi sejak awal, sudah kami sampaikan ke mereka agar secepatnya dilakukan,” kata Bambang.

Namun tampaknya belum semua pohon besar di tepi jalan yang dipangkas oleh dinas tersebut. Legislatif pun mendorong agar segera mendata titik rawan pohon tumbang agar tak ada warga yang jadi korban.

“Dalam waktu dekat kami panggil lagi perwakilan pemerintah kota. Agar tak ada korban lagi karena peristiwa seperti ini,” tutur Bambang.

Saksikan video pilihan berikut ini:

Puluhan Monyet Liar Turun Gunung Curi Makanan Warga Lumajang

Liputan6.com, Lumajang – Puluhan ekor monyet liar di Gunung Tambu, Desa Condro, Kecamatan Pasirian Lumajang turun gunung. Monyet berwarna cokelat dengan ekor panjang ini kerap menaiki atap dan masuk ke rumah warga. Bahkan, tak jarang tanaman buah di lahan pertanian habis disantapnya.

Menurut salah seorang warga, monyet berekor panjang atau Macaca fascicularis ini sudah dua pekan terakhir turun ke permukiman warga, terutama saat pagi dan sore hari.

“Kalau pagi banyak, cari makan di tempat sampah bahkan kadang masuk ke dapur,” tutur Lilis Supari saat ditanya Liputan6.com, Senin (18/2/2019).

Monyet yang diduga berjumlah lebih dari 1.000 ekor ini memang sudah lama menghuni hutan di Gunung Tambu, di kawasan Perum Perhutani Kecamatan Pasirian. Namun, yang turun ke permukiman hanya puluhan ekor saja.

“Kalau jumlahnya mungkin lebih dari 1.000, tapi yang ke rumah warga enggak banyak, sekitar puluhan lah,” jelas Supirno, Kepala Desa Condro kepada Liputan6.com.

Turunnya komplotan monyet liar ini membuat aparat kepolisian setempat melakukan pengecekan dan imbauan pada warga agar tak mengganggu habitat monyet.

“Kita tahu sebelumnya di wilayah Klakah ada kera yang masuk rumah dan menggigit anak kecil, maka hari ini saya datang untuk melihat langsung dan mengimbau agar warga tak mengganggu habitat kera ini,” kata Kapolres Lumajang, AKBP Muhammad Arsal Sahban.

Meski sudah biasa, tetapi kali ini turunnya monyet liar ini menjadi perhatian sejumlah pihak, termasuk aparat keamanan. Pasalnya sebelumnya, di wilayah kecamatan Klakah, komplotan monyet liar juga turun ke permukiman, bahkan sampai melukai empat balita.


Simak video pilihan berikut ini:

Kampung Nelayan di Papua hingga Kalimantan Dipoles Jadi Cantik

Jakarta – Dikutip dari Instagram Kementerian PUPR, pemerintah menata 11 kampung nelayan dari Kalimantan hingga Papua. Yuk intip hasil permak kampung nelayan tersebut

Di Kota Ternate, permukiman kumuh berada di Kawasan Dufa-Dufa yang terdiri dari 4 (empat) lokasi yaitu Dufa-Dufa, Salero, Toboleu, dan Sangaji seluas 12,41 hektar yang berada di tepi laut. Setelah dilakukan penataan, Kota Ternate memiliki Taman Dufa-Dufa sebagai tempat wisata baru dengan kondisi jalan yang baik, adanya trotoar, kursi dan perkuatan tanggul laut. Anggaran berasal dari APBN Tahun 2017 sebesar Rp 8,5 miliar. Dok. Kementerian PUPR.

Detik-Detik Retakan Tanah Muncul Mendadak dan Memanjang di Cilacap

Liputan6.com, Cilacap – Cilacap dikenal sebagai daerah dengan risiko tertinggi bencana alam di Provinsi Jawa Tengah. Banjir, longsor hingga ancaman gempa, dan tsunami berpotensi terjadi di kabupaten ini.

Pasalnya, secara geografis, Cilacap terbagi menjadi dua wilayah yang kontras. Sisi selatan adalah dataran rendah pesisir, adapun di sisi utara membentang pegunungan tengah Jawa dengan kontur curamnya perbukitan. Longsor, gerakan tanah atau retakan tanah silih berganti terjadi di wilayah ini.

Nyaris seluruh kecamatan di sisi utara Cilacap merupakan zona merah bencana tanah longsor.

Jumat, 15 Februari 2019, BMKG merilis peringatan dini cuaca ekstrem yang diperkirakan melanda Kabupaten Banyumas, Cilacap hingga Brebes. Perkiraan itu nyata. Sekitar pukul 15.00 WIB, hujan ekstrem dilaporkan terjadi di beberapa wilayah.

Itu termasuk Desa Ujungbarang Kecamatan Majenang, Cilacap. Di desa pegunungan ini, air hujan bak tumpah dari langit.

Menjelang pukul 17.00 WIB, sejumlah warga di Dusun Ujungbarang I Desa Ujungbarang mendengar gemeretak gerakan tanah. Beberapa lainnya, merasa rumahnya turut bergoncang.

Warga pun panik. Mereka mendapati tanah mendadak retak memanjang puluhan meter. Retakan tanah itu merusak dua rumah warga di RT 02/1 Ujungbarang, serta mengancam 13 rumah lainnya.

Lantai rumah retak. Pondasi sedikit terangkat. Dinding juga retak dan menyebabkan dua keluarga yang terdiri dari lima jiwa mengungsi.

“Yang satu titik yang dipermukiman yang sudah mengungsi, dua KK, lima jiwa. Yang terkena garis retakan tanah itu, di mahkotanya. Panjangnya sekitar 50-60 meter,” kata petugas Unit Pelaksana Teknis (UPT) Badan Penanggulanga Bencana Daerah (BPBD) Majenang, Muhadi, Minggu (17/2/2019)

2 dari 2 halaman

Kajian Badan Geologi

Rupanya, munculnya retakan tanah di RT 02/1 bukan satu-satunya. Retakan lainnya juga muncul di RT 3/1, sepanjang 30 meter.

“Retakan pertama meliputi area seluas satu hektare. Adpun retakan kedua seluas 0,5 hektare,” Muhadi menambahkan.

Selain merusak rumah, terjadi pula amblesan di pekarangan penduduk yang berimpitan dengan perumahan warga. Tanah itu ambles dengan kedalaman sekitar satu meter.

Yang berbahaya, retakan ini muncul di tengah permukiman penduduk. Kawasan padat ini pun berada di perbukitan curam dengan kemiringan antara 40-50 derajat.

Dikhawatirkan, gerakan tanah akan berlanjut dan membahayakan jiwa penduduk. Karenanya, selain dua keluarga yang rumahnya rusak, 15 keluarga lain yang berada di zona bahaya pun mengungsi saat turun hujan lebat.

Muhadi mengemukakan, BPBD Cilacap bakal melayangkan permohonan kepada Badan Geologi untuk mengkaji dua retakan tanah yang muncul di tengah permukiman ini. Kajian oleh badan geologi dilakukan untuk menyimpulkan apakah perumahan perlu direlokasi atau tidak.

Dia berharap Badan Geologi segera turun ke Cilacap. Pasalnya, selain retakan Ujungbarang, BPBD Cilacap juga telah melayangkan permohonan penelitian tanah untuk longsor di Sadabumi Kecamatan Majenang, yang merusak gedung sekolah, gedung PAUD, musala dan mengancam 16 keluarga, pekan lalu.

“BPBD induk akan mengajukan permohanan ke Badan Geologi untuk diadakan penelitian tanah. Mungkin nanti pelaksanaannya bareng dengan (longsoran) yang di Sadabumi itu,” jelasnya.

Untuk mengantisipasi gerakan tanah susulan, warga bersama petugas BPBD dan relawan telah menutup retakan tanah dengan tanah. Ini dilakukan untuk mengantisipasi merembesnya air hujan yang bisa memicu retakan lebih besar atau bahkan longsor.

Saksikan video pilihan berikut ini:

Ditemukan Grafiti Pemburu Paus dari Abad Ke-19 di Australia Barat

Jakarta

Arkeolog Australia yang bekerja di pulau-pulau di pantai barat laut Australia yang terpencil menemukan ukiran yang ditinggalkan oleh awak perburuan paus asal Amerika yang mengarungi lautan sekitar tahun 1840-an.

Temuan ini memberikan gambaran tentang kebosanan dan isolasi yang dialami para pelaut saat berada di laut selama bertahun-tahun.

Ukiran berbentuk tulisan nama dan tanggal itu ditemukan di pulau Rosemary dan Lewis Barat di Kepulauan Dampier, di barat laut Karratha.

“Ini adalah prasasti paling awal yang kita miliki di Australia yang ditinggalkan oleh pemburu paus, sehingga secara historis sangat, sangat signifikan,” kata arkeolog Alistair Paterson.

“Kami tahu bahwa para pemburu paus asal Amerika Utara, untuk jangka waktu 30- atau 40 tahun, mengarungi keseluruhan lautan dunia untuk berburu ikan paus, tetapi kami memiliki sedikit bukti bahwa mereka benar-benar membuat pendaratan, jadi ukiran ini merupakan penemuan penting.”

Nama-nama dan tanggal itu diukir di batu karang oleh orang-orang yang berlayar dengan menggunakan dua perahu ikan paus yang berbeda, beberapa tahun terpisah.

Professor Alistair Paterson Professor Alistair Paterson mengatakan para pemburu paus Amerika sering mendarat di barat laut Australia Barat pada abad ke-19.

Supplied: Glen Jones

Catatan sejarah mengungkapkan identitas

Kapal pertama, Connecticut, berangkat dari kota pantai New London pada Agustus 1842 dengan awak 26 orang dan berlayar dari pantai barat laut Amerika Serikat ke tempat yang kemudian dikenal sebagai tempat perburuan paus New Holland.

Anggota kru mengukir kata-kata “Jacob Anderson”, “Crocker”, “New London”, dan “di Kapal Connecticut London Baru”, di punggung bukit berbatu tinggi yang menghadap ke air, bersama dengan tanggal perjalanan mereka.

Profesor Paterson menjelajahi catatan sejarah untuk mengidentifikasi orang-orang itu, termasuk kapten, dan menulis temuannya di jurnal internasional Antiquity.

“Catatan sejarah menunjukkan bahwa pada pelayaran kapal Connecticut, Kapten Crocker berusia 33 tahun, sementara Jacob Anderson digambarkan sebagai pelaut berusia 18 tahun dari London ‘kulit hitam’ – hampir pasti seorang pelaut Afrika-Amerika,” tulisnya .

Banyak ukiran kedua ditemukan di dekat Pulau Lewis Barat dan termasuk kata-kata “J.Leek, Ship Delta, 1849”.

Arkeolog mengatakan font yang bergeser dan awal yang salah pada kata-kata tersebut mencerminkan kru yang bosan dan kemudian menghabiskan waktu di saat mereka mengamati laut untuk berburu ikan paus.

“Ketimbang bentuk pesan resmi untuk disampaikan secara lebih terbuka kepada pengunjung di masa depan ke pulau itu, pemburu paus ini merayakan dan memperingati diri mereka yang telah tiba dengan selamat dari perjalanan ke sisi lain dunia.”

‘Perkembangan luar biasa dari waktu ke waktu’

Profesor Jo McDonald adalah salah satu dari arkeolog yang menemukan ukiran tersebut pada tahun 2017, saat merekam ribuan gambar batu Aborigin di kepulauan tersebut.

Dia mengatakan ukiran itu sangat tidak biasa karena dibuat di atas tanda yang lebih tua oleh orang-orang Aborigin setempat.

Dua pulau di Australia Barat Arkeolog percaya tulisan tangan di batu itu dibuat saat kru sedang mengawasi paus.

Supplied: Alistair Paterson

“Kesan pertama kami adalah bahwa prasasti itu telah dicoret setelah dibuat oleh orang Aborigin … tetapi yang kami temukan adalah bahwa tulisan itu dibuat dengan alat logam di atas pola grid yang lebih tua, yang dibuat dengan alat batu, ” dia berkata.

“Jadi itu menunjukkan perkembangan luar biasa antar waktu dimana orang yang berbeda datang dan menandai batu ini dan menceritakan hal-hal tentang diri mereka sendiri, dan ingin meninggalkan catatan mereka berada di suatu tempat.”

CEO Perusahaan Aborigin Murujuga, Peter Jeffries, mengatakan daerah itu sangat istimewa bagi pemilik tradisional Ngarluma dan Yaburara.

“Orang-orang tahu tentang ukiran ini dari tahun 1800-an,” katanya.

“Tidak ada apa pun yang diwariskan melalui cerita lokal yang saya ketahui, tetapi kami tahu tentang mereka di zaman yang lebih modern, dalam 20 atau 30 tahun terakhir.

“Bagi pemilik tradisional setempat, daerah ini sangat penting, karena ia menceritakan kisah dari masa lalu kami dan juga menangkap kedatangan orang Eropa di negara ini, sehingga Anda dapat melihat koeksistensi ini.”

Dibuat sebelum pendatang kulit putih datang Professor Jo McDonald Professor Jo McDonald merupakan salah satu yang menemukan tulisan tangan para pemburu paus ini tahun 2017.

ABC News: Erin Parke

Di puncak industri perburuan paus, pada pertengahan abad ke-19, sekitar 22.000 orang dipekerjakan di hampir 1.000 kapal perburuan paus yang melintasi dunia dan berhenti di garis pantai terpencil.

Ukiran di pantai Pilbara dibuat sebelum permukiman warga putih di daerah itu – sekitar dua dekade sebelum para penggembala dan pencari mutiara tiba.

Profesor McDonald mengatakan, ukiran itu memberikan pandangan langka tentang kehidupan para pemburu paus Amerika, yang jauh dari rumah selama bertahun-tahun pada suatu waktu.

“Mereka menghabiskan banyak waktu di laut, jadi pasti sangat melegakan untuk mendarat,” katanya.

“Saya tidak bisa membayangkan hal yang lebih buruk daripada berada di perahu kecil dengan 30 atau 40 orang bau lainnya, jadi saya pikir itu akan menjadi perasaan lega untuk datang ke darat.

“Dan mereka pasti sedang menunggu paus, jadi entah bagaimana caranya mereka harus menghibur diri sendiri.”

Simak beritanya dalam bahasa Inggris disini.


(zak/zak) <!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>