Perjuangan 17 Jam Arungi Samudra Bawa Rupiah ke Pulau Terpencil

Saumlaki – Kapal perang Varchim KRI Sultan Nuku Satuan Eskorta (Satkor) Armada 2 TNI Angkatan Laut (AL) tampak menepi di sebuah dermaga di Pulau Kei Kecil, Maluku Tenggara. Saat itu hampir petang, waktu menunjukan pukul 16.30 waktu Indonesia bagian tengah (WIT).

Dipandu TNI AL, tim dari Departemen Pengelolaan Uang (DPU) Bank Indonesia (BI) dan detikFinance menjadi penumpang di kapal perang tersebut. Kami bersiap melakukan ekspedisi kas keliling pulau terpencil, tertinggal, dan terdepan (3T) Jelajah Nusantara, Bela Negara Tanpa Senjata.

Pulau Jamdena di Kabupaten Maluku Tenggara Barat, Provinsi Maluku menjadi tujuan kami. Untuk mencapai pulau itu, kami harus mengarungi Laut Banda dan menerjang ganasnya Samudera Hindia selama 17 jam. Begini ceritanya.

Pada pukul 17.00 WIT, kapal mulai melepas tali pengaman dari dermaga. Salam hormat dari Belasan serdadu TNI AL dari atas dermaga melepas keberangkatan kami untuk mengantar rupiah ke pulau yang bertetanggaan dengan negara Australia tersebut.

Ada perasaan sedikit was-was untuk tinggal bermalam di atas kapal perang yang yang berlayar di lautan lepas seperti itu. Kapal itu sendiri berukuran tak terlalu besar, hanya muat sekitar 30 orang di kapal tersebut. Kami yang merupakan penumpang sipil diberi tempat untuk tinggal dan bersantai di sebuah lounge yang ada di bagian dalam kapal.

Ruangan yang tak terlalu luas itu tersedia sofa, televisi, dispenser, serta barang-barang perlengkapan untuk layanan keliling. Bahkan, uang yang berjumlah miliaran juga ditaruh di ruangan tersebut menggunakan kotak yang terbuat dari besi. Aman dan terjaga. Ruangan itu juga menjadi tempat tidur kami di kapal.

Hingga pukul 21.00 WIT, masing-masing penumpang melakukan berbagai aktivitas. Ada yang mempersiapkan kegiatan besok, makan malam, menonton tv, hingga sekadar bersantai di deck kapal sambil menikmati malam. Sementara para anggota TNI AL tampak masih bertugas di atas kapal.

Kembali muncul perasaan was-was untuk bermalam di tengah lautan lepas seperti itu. Was-was karena akan tidur sambil dihantam ombak. Karena tentu saja, medan menyeberangi Samudera Hindia ini menjadi salah satu tantangan dalam misi menjaga kedaulatan rupiah di seluruh nusantara.

Saat malam semakin larut, perasaan was-was tersebut akhirnya menjadi kenyataan. Pelan-pelan, kapal perang dari baja tersebut mulai terasa bergoyang. Awalnya goyangan masih bisa dimaklumi. Namun semakin malam, goyangan semakin terasa. Penyakit mabuk laut pun menghampiri banyak penumpang kapal.

Sehingga alam jadi tantangan kami. Ada ombak, angin segala macam, dan juga nggak sekali dua kali, kalau transportasi laut ada keterlambatan, kemudian jadwal yang tidak sesuai dengan yang adaKetua Rombongan Tim Ekspedisi 3T Bank Indonesia Bonaryadi

Dua butir Antimo sepertinya tak cukup untuk menangkal sapuan ombak Samudera Hindia malam itu. Beberapa penumpang pun akhirnya jackpot, mereka muntah karena tak kuat menahan kerasnya goyangan kapal TNI AL tersebut.

Saya yang bukan seorang mabuk laut untungnya bisa tahan dengan situasi tersebut. Namun, kondisi itu sulit untuk bisa melakukan aktivitas apapun di kapal. Jangankan untuk jalan, berdiri normal pun tak bisa karena kuatnya ombak yang menghantam kapal. Tidur pun begitu, rasanya badan seperti diayun-ayun ke kanan dan ke kiri.

Selain badan, beragam alat-alat yang ada di atas kapal pun ikut terayun kencang karena ombak. Suara ombak yang kencang serta barang-barang yang terpental menambah riuh malam itu. Tali rafia pun disiapkan. Barang-barang yang mudah goyang diikat dengan kuat pada apa saja yang bisa menjadi tumpuan.

Walau sudah tengah malam, namun kegiatan di atas kapal masih cukup ramai dipenuhi penumpang yang mondar-mandir ke toilet karena tak kuat menahan muntah. Beberapa orang yang tak mengalami mabuk laut ikut membantu yang lain. Bahkan ada beberapa dari mereka yang bertahan di depan toilet karena tak kuat balik ke ruang istirahat.

Kondisi itu berlangsung semalam penuh. Pagi hari kondisi ombak sudah mulai normal. Deburan ombak sudah tak terlalu terasa menghantam kapal. Namun malam itu menjadi salah satu pengalaman yang mungkin cukup diingat jelas oleh para penumpang yang hendak mengantar rupiah ke Pulau Jamdena.

Ketua Rombongan Tim Ekspedisi 3T Bank Indonesia Bonaryadi mengungkapkan tak mudah bagi Bank Indonesia dalam menjangkau pulau-pulau terpencil itu. Ada banyak sekali tantangan serta hambatan yang menghampiri untuk bisa menjaga kedaulatan mata uang rupiah sampai ke pelosok negeri.

Dia mengatakan, untuk di wilayah timur, biasanya hambatan terbesarnya ialah dari sektor transportasi. Untuk menjangkau pulau-pulau terpencil di wilayah timur Indonesia itu, 90% jalur yang digunakan merupakan jalur laut. Ganasnya lautan pun menjadi tantangan bagi BI menuju wilayah tersebut.

“Sehingga alam jadi tantangan kami. Ada ombak, angin segala macam, dan juga nggak sekali dua kali, kalau transportasi laut ada keterlambatan, kemudian jadwal yang tidak sesuai dengan yang ada,” katanya di Saumlaki, Pulau Jamdena, Maluku Tengara Barat, Minggu (4/11/2018).

Untuk mencapai wilayah-wilayah tersebut, biasanya BI menggunakan kapal-kapal perang milik TNI AL. Mereka pun harus rela tidur bermalam selama berhari-hari di dalam kapal yang digoyang oleh deburan ombak laut.

“Jadi memang sudah biasa kalau harus seperti itu. Karena memang jalur yang dipakai jalur laut, jadi harus menginap di atas kapal,” ujarnya.

Setelah 17 jam lamanya kami berada di atas kapal dan tak melihat daratan, akhirnya saat jam sudah menunjukkan pukul 10.00 WIT, kapal akhirnya bisa menepi di dermaga. Layanan kas keliling yang meliputi penukaran uang, sosialisasi keaslian rupiah, hingga pengobatan gratis mulai dilakukan DPU BI di pulau terpencil tersebut.

Namun, pulau itu bukan merupakan tujuan akhir mereka. Tim ekspedisi juga akan melanjutkan perjalanan berlayar ke Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) hingga 9 November 2018. Semua itu dilakukan untuk bisa menjaga kedaulatan rupiah di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. (fdl/ang)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *