Perempuan Muda Dibakar Sampati Mati karena Laporkan Pelecehan Seks

Dhaka – Nusrat JahanRafi, seorang gadis Bangladesh, disiram minyak tanah dan dibakar di sekolahnya. Sekitar dua minggu sebelumnya, ia telah membuat pengaduan keluhan pelecehan seksual yang dilakukan oleh kepala sekolahnya.

Keberaniannya dalam mengungkap pelecehan seksual dan kematiannya lima hari sesudah ia dibakar, serta segala hal yang terjadi di antara peristiwa-peristiwa itu telah mengguncang Bangladesh serta membawa perhatian pada kerentanan korban pelecehan seksual di negara Asia Selatan tersebut.

Nusrat, 19 tahun, berasal dari Feni, sebuah kota kecil 160 kilometer dari ibukota Dhaka. Ia belajar di madrasah atau sekolah Islam di Bangladesh. Pada tanggal 27 Maret, ia menyatakan kepala sekolah memanggilnya ke kantornya dan berulang kali menyentuhnya dengan cara tak pantas. Sebelum keadaan menjadi lebih buruk, ia pun kabur dari ruang itu.

Banyak perempuan muda di Bangladesh memilih untuk menyimpan dalam-dalam pelecehan dan kekerasan seksual yang mereka alami karena takut tambah dipermalukan oleh keluarga atau masyarakat mereka.

Yang membedakan dengan Nusrat Jahan adalah ia tidak hanya bicara, tapi ia juga melaporkan pelecehan seksual itu ke polisi dengan bantuan keluarganya pada hari ketika pelecehan seksual yang dituduhkan itu terjadi.

Di kantor polisi setempat, ia memberi pernyataan. Ia seharusnya disediakan tempat yang aman saat melaporkan pengalaman traumatisnya itu. Alih-alih, ia malah difilmkan oleh seorang petugas yang menerima laporannya saat menggambarkan siksaan yang ia hadapi.

Di rekaman video itu, terlihat jelas Nusrat merasa tertekan dan mencoba menyembunyikan wajahnya dengan tangan. Polisi yang menerima pengaduannya terdengar mengatakan “tak apa-apa” dan meminta Nusrat menyingkirkan tangan dari wajahnya. Belakangan, rekaman video itu bocor ke media setempat.

‘Saya mencoba membawanya ke sekolah’

Nusrat Jahan Rafi berasal dari kota kecil, datang dari sebuah keluarga yang konservatif, serta belajar di sekolah agama. Bagi seorang perempuan dalam posisinya, melaporkan pelecehan seksual bisa mendapat konsekuensi berat. Korban kerap menerima penghakiman dari komunitasnya, pelecehan – secara langsung maupun daring – dan dalam beberapa kasus, serangan fisik dengan kekerasan. Nusrat mengalami semua pengalaman tersebut.

Pada tanggal 27 Maret, sesudah ia melapor, polisi menangkap sang kepala sekolah. Namun persoalannya memburuk bagi Nusrat. Sekelompok orang berkumpul di jalan menuntut pembebasan si kepala sekolah. Protes ini diatur oleh dua orang murid laki-laki. Politisi setempat diduga ikut hadir di sana. Orang-orang mulai menyalahkan Nusrat. Keluarganya mulai merasa khawatir akan keselamatannya.

Tak urung, pada tanggal 6 April, atau sebelas hari sesudah pelecehan seksual terhadapnya, Nusrat datang ke sekolah untuk menghadiri ujian akhir.

“Saya mencoba membawa saudari saya itu ke sekolah dan masuk ke dalam, tapi saya dihentikan dan tak diperbolehkan masuk,” kata saudara Nusrat, Mahmudul Hasan Noman.

“Kalau saya tak dihentikan, hal seperti itu tak akan terjadi pada saudari saya itu,” katanya.

Menurut sebuah pernyataan yang diberikan oleh Nusrat, seorang teman perempuannya di sekolah membawanya ke atap sekolah sambil berkata seorang temannya dipukuli. Ketika Nusrat tiba di atap, empat atau lima orang – memakai burqa – mengelilinginya dan diduga mendesaknya untuk menarik tuduhannya kepada si kepala sekolah.

Ketika Nusrat menolak, mereka membakarnya.

Kepala penyelidik kepolisian Banaj Kumar Majumder mengatakan para pelaku ingin agar pembunuhan “itu terlihat seperti bunuh diri”. Rencana itu gagal ketika Nusrat berhasil diselamatkan ketika mereka meninggalkan tempat kejadian. Nusrat mampu memberi pernyataan sebelum meninggal dunia.

“Salah satu pembunuh itu menekan kepalanya dengan tangannya, dan minyak tanah tidak disiramkan ke kepala, maka kepalanya tak terbakar,” kata Majumder kepada BBC Bengali.

Namun ketika Nusrat dibawa ke rumah sakit setempat, dokter menemukan luka bakar telah menutupi 80 persen tubuhnya. Karena tak sanggup menangani luka tersebut, mereka mengirim Nusrat ke Dhaka Medical College Hospital.

Di dalam ambulans, karena khawatir tak akan selamat, Nusrat merekam pernyataan di telepon genggam saudaranya.

“Si kepala sekolah itu telah menyentuh saya. saya akan melawan kejahatan ini hingga napas saya yang terakhir,” begitu bunyi rekamannya.

Ia juga mengidentifikasi beberapa penyerangnya sebagai para pelajar di sekolahnya.

Berita tentang Nusrat mendominasi pemberitaan media di Bangladesh. Pada tanggal 10 April ia meninggal dunia. Ribuan orang datang ke pemakamannya di Feni.

Sejak itu, polisi telah menahan 15 orang, tujuh di antaranya dituduh terlibat dengan pembunuhan. Di antara mereka yang ditangkap, terdapat dua orang pelajar yang mengorganisir protes mendukung si kepala sekolah. Si kepala sekolah sendiri masih di dalam tahanan. Polisi yang memfilmkan pengaduan pelecehan seksual Nusrat telah dipindahkan dari jabatannya dan dialihkan ke departemen lain.

Perdana Menteri Bangladesh Sheikh Hasina telah bertemu keluarga Nusrat di Dhaka dan berjanji bahwa setiap orang yang terlibat di dalam pembunuhan itu akan diadili. “Tak ada pelaku yang akan terbebas dari tindakan hukum,” kata Sheikh Hasina.

Kematian Nusrat telah memicu protes dan ribuan orang menggunakan media sosial untuk menyatakan kemarahan mereka, baik terhadap kasus itu maupun pada perlakuan terhadap korban pelecehan dan kekerasan seksual di Bangladesh.

“Banyak perempuan yang tidak protes karena takut sesudah kejadian itu. Burqa, bahkan pakaian dari besi tak mampu menyetop pemerkosa,” kata Anowar Sheikh di laman Facebook BBC Bengali.

“Saya ingin punya anak perempuan sepanjang hidup saya, tapi sekarang saya takut. Melahirkan anak perempuan di negeri ini artinya hidup dan ketakutan dan kecemasan,” kata Lopa Hossain di post Facebook-nya.

Banyak orang protes di kampung halaman Nusrat Banyak orang protes di kampung halaman Nusrat (Shahadat Hossain)

Menurut kelompok pembela hak perempuan di Bangladesh,MahilaParishad, terdapat 940 peristiwa perkosaan di Bangladesh pada tahun 2018. Namun beberapa peneliti menyatakan angka sesungguhnya kemungkinan besar jauh lebih tinggi.

“Ketika seorang perempuan mencoba mencari keadilan untuk pelecehan seksual, ia harus menghadapi lebih banyak lagi pelecehan. Kasusnya bisa berjalan beberapa tahun, dan ia akan dipermalukan oleh masyarakat, keinginan polisi untuk melakukan penyelidikan yang pantas juga sangat kecil,” kata Salma Ali, pengacara hak asasi manusia dan bekas direktur asosiasi pengacara perempuan di Bangladesh.

“Ini membuat para korban berhenti mencari keadilan. Ujung-ujungnya para penjahat ini tidak dihukum, dan mereka akan melakukan kejahatan serupa. Yang lain tidak takut melakukan kejahatan semacam itu karena contoh-contoh yang terjadi ini.”

Kini orang-orang bertanya: mengapa kasus Nusrat hanya mendapat perhatian sesudah ia diserang? Dan apakah kasus Nusrat ini akan mengubah cara pandang orang tentang pelecehan seksual di Bangladesh?

Di tahun 2009, Mahkamah Agung memerintahkan pembangunan ruang khusus untuk pelecehan seksual di lembaga pendidikan di mana para pelajar bisa melakukan pengaduan, tetapi hanya sedikit sekali sekolah yang menjalankan perintah itu. Para aktivis kini menuntut agar perintah itu dilaksanakan dan dimasukkan ke dalam undang-undang agar bisa melindungi para pelajar.

“Peristiwa ini telah mengguncang kita, tetapi sebagaimana kita lihat di masa lalu, peristiwa ini dilupakan seiring berjalannya waktu. Saya pikir tak akan banyak perubahan sesudah ini. Kita harus lihat apakah keadilan ditegakkan,” kata Profesor Kaberi Gayen di Universitas Dhaka.

“Perubahan telah datang, baik secara psikologis maupun dalam pelaksanaan penegakan hukum. Kesadaran tentang pelecehan seksual harus dimunculkan sejak anak-anak di sekolah-sekolah,” kata Prof Kaberi.

“Mereka harus belajar, apa yang benar dan salah dalam hal pelecehan seksual.”


(ita/ita)
<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Kisah Perempuan yang Terkenal karena Tak Pernah Berhasil Dibuat Tertawa

Permainan naik level. Akhirnya para komedian profesional bergantian mempertontonkan materi terbaik mereka. Tapi, Sober Sue tak pernah tertawa, bahkan tersenyum. Seiring waktu, namanya makin melambung dan membuat tak sedikit publik penasaran.

Ragam terori akhirnya muncul tentang wajah tanpa ekspresi Sober Sue. Beberapa teori mengatakan, ia buta atau tuli. Tapi, fakta kemudian terungkap di musim dingin di tahun yang sama saat kemunculan Sober Sue.

Ia tak bsa tersenyum atau tertawa karena otot wajahnya lumpuh. Willie Hammerstein sekalu produser teater tempat Sober Sue muncul ternyata membayarnya 20 dolar Amerika per minggu, nominal yang menggiurkan di waktu itu.

Kemunculan perempuan tak pernah tertawa ini mendatangkan banyak keuntungan, termasuk pertunjukan gratis dari para komedian profesional. Namun, ketika hal ini terungkap, mereka mengecam perbuatan sang produser teater.

Pengawal Suara Perempuan

<!–

Caption / Nama penulis / Reporter / Narasumber

Ilustrasi : Nama ilustrator

–>

Gelanggang Olahraga Bulungan, Jakarta Selatan disulap menyerupai suasana tempat pemungutan suara. Tiga bilik suara dan lima kotak suara tiruan diletakkan di tengah-tengah lapangan basket. Hampir 500 perempuan berbagi peran dalam simulasi yang digelar Koalisi Perempuan Indonesia (KPI), Institut Kapal Indonesia, dan Migrant Care pada Sabtu, 6 April 2019 itu. Ada yang menjadi anggota Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS), saksi-saksi, sampai jadi pemantau.

Sementara ratusan perempuan lainnya yang jadi pemilih satu persatu mendapat panggilan untuk mencoblos replika-replika surat suara, kemudian melipat dan memasukkannya dalam kotak-kotak suara “Dari simulasi itu ketahuan ternyata surat suaranya terlalu besar dan banyak yang kesulitan untuk melipatnya kembali,” ujar Retno Dyah, seorang relawan pemantau pemilu dari KPI yang mengikuti simulasi itu kepada detikX beberapa waktu lalu.

Tak hanya dibekali dengan pengetahuan teknis pencoblosan dan penghitungan suara di TPS. Para perempuan pemantau pemilu dari KPI juga diminta mengenali modus-modus kecurangan yang mengintai pelaksanaan pemilu. Seperti pelanggaran panitia pemilu, peserta pemilu, atau tim sukses. “Perempuan atau kelompok rentan yang kehilangan hak pilih dan caleg perempuan yang kehilangan suara,” kata Retno. “Ini gambaran-gambaran kerawanan dan pelanggaran serta bagaimana menyikapinya di lapangan.”

Dalam pemilu pada 17 April ini, KPI menempatkan Retno mengawal TPS di kawasan Bidara Cina, Jatinegara, Jakarta Timur. Beberapa lembar formulir berisi daftar periksa pemantauan jadi bekalnya di TPS. Nantinya daftar tersebut diisi sesuai dengan kondisi dan fakta yang ditemuinya. “Hasil itu nanti diserahkan ke kantor KPI untuk diolah data-datanya,” ujar perempuan berusia 38 tahun itu. “Selain formulir fisik itu, para pemantau juga mengirimkan foto formulir C1 melalui grup Whatsapp.”

ISIS: Perempuan dan Anak-anak yang Tak Diinginkan Siapapun

JakartaSeorang anakBBC

Kamp al-Hol di timur laut Suriah menjadi wadah bagi aliran deras amarah dan berbagai pertanyaan yang tak memiliki jawaban. Di dalamnya hidup para perempuan dan anak-anak kelompok ISIS yang telah kalah, dicampakkan para suami, diabaikan khalifah dan pemerintah mereka.

Beberapa di antaranya berkukuh pada ideologi mereka yang disulut kebencian: “Kami tidak terkalahkan!” teriak mereka lantang. Lainnya memohon jalan keluar – jalan untuk kembali pulang.

Sementara negara-negara Barat bicara berbelit-belit, anak-anak mereka mati.

Umm Usma, perempuan Belgia keturunan Maroko, berkukuh pada fantasinya bahwa ia telah menolong para perempuan dan anak-anak Suriah sepanjang keberadaannya di sana selama enam tahun, sebagian besarnya bersama ISIS.

Mantan perawat itu merengkuh cadarnya dengan tangan yang terbungkus sarung tangan hitam, “Ini pilihan saya,” ujarnya. “Di Belgia, saya tidak bisa mengenakan cadar – ini pilihan saya.”

“Setiap agama melakukan suatu kesalahan,” tuturnya. “Tunjukkan kami sisi baiknya.”

Ketika ia berteriak dengan sekelompok wanita berpakaian hitam lainnya, seorang anak yang terbakar parah didorong dalam kereta bayinya di atas lumpur oleh sang ibu. “Lihat apa yang mereka perbuat,” teriak ibunya, merujuk pada pasukan yang didukung AS.

Al-Hol seperti sebuah mimpi buruk, sebuah kamp dengan jumlah pengungsi yang terus meningkat, dari 11.000 orang hingga sekarang lebih dari 70.000 orang. Ia terus membengkak seiring buntut runtuhnya sebuah kekhalifahan semu. Ia siap meledak.

Kamp Al-Hol Getty Images

Umm Usma mengaku tak perlu meminta maaf atas serangan ISIS tahun 2016 lalu di Brussels yang menewaskan – tidak termasuk aktor pemboman – 32 orang.

Dalam benaknya, serangan melawan negara asalnya oleh kelompok yang ia ikuti tak perlu dijawab. Ia menenggalamkan dirinya dalam peran sebagai korban. Ia percaya bahwa negara-negara Barat dan serangan udara mereka terhadap markas pertahanan terakhir ISIS di Baghouz patut dipersalahkan atas penderitaan yang mereka alami. Kebencian dan kekerasan yang dilakukan oleh ISIS ia lupakan.

Inilah permainan pikiran para teroris, ingatan selektif yang menghapus kesalahan apa pun.

“Saya tidak akan membicarakan apa yang telah dilakukan suami saya, saya tidak tahu apa yang ia perbuat,” klaim Umm Usma. Ia telah hidup di bawah sistem demokrasi dan di bawah kekuasaan ISIS. Ia mengatakan kepada saya bahwa ia tahu yang mana yang lebih baik.

“Pikiran Anda tertutup,” ujarnya sambil berbalik badan dan meninggalkan saya.

Ini baru dua pekan sejak Baghouz, daerah kekuasaan ISIS yang terakhir, jatuh ke tangan pasukan Kurdi. Mereka mengulur waktu, melakukan gencatan senjata demi gencatan senjata agar para perempuan, anak-anak, dan mereka yang terluka dapat keluar dari daerah tersebut.

Pesawat tempur pasukan koalisi yang menghabisi nyawa penduduk sipil di Mosul dan Raqqa, dua ibu kota ISIS yang telah direbut kembali, bertindak lebih berhati-hati di Baghouz.

Balita yang menjadi korban

ISIS menjadikan keluarga kelompok mereka sebagai barisan pertahanan terakhir.

“Dalam satu hari, setidaknya 2.000 orang tewas,” ujar seorang bocah laki-laki asal Irak yang selamat dari berbagai serangan kepada saya. “ISIS memarkirkan kendaraan di antara tenda-tenda keluarga. Kami tahu bahwa kendaraan menjadi sasaran serangan, maka kami bilang kepada mereka untuk memindahkan kendaraan-kendaraan itu. Tapi mereka tidak melakukannya, dan semua kendaraan itu meledak.”

Ketika pertempuran usai, kawasan Baghouz dibersihkan dari mayat-mayat yang tercecer sebelum awak media tiba.

‘Warga’ ISIS bukan hanya para prajurit di medan perang. Mereka membawa serta perempuan, anak-anak, hingga sanak saudara bersama mereka.

Nour al-IslamBBC

Nour adalah korban dari kekacauan itu. Ia terbaring di tempat tidur di klinik Red Crescent di kamp tersebut. Bocah berusia enam tahun itu tertembak di bagian wajah.

Hal itu terjadi 15 hari lalu, dan sejak itu ia baru menerima pengobatan ringan. Pipinya membengkak dan giginya rontok. Rasa sakit tampaknya menjadi hal yang sudah biasa ia alami, karena ia hanya menjerit saat tubuhnya dipindahkan.

Rentetan tembakan penembak jitu yang menembus tendanya di Baghouz. Ia tengah bersembunyi bersama keluarganya, bagian dari pasukan garis keras yang bertahan dengan ISIS hingga akhir.

Di Al-Hol, banyak di antara mereka yang terluka adalah anak-anak. Ibunda Nour, yang berasal dari dari Turkmenistan, terlalu sakit untuk bisa berdiri. Ia meringkuk di sisinya, di samping Nour, tertatih-tatih di tepi tempat tidur. Suaminya yang petempur ISIS telah tewas.

Kondisi Nour memerlukan penanganan segera dan ia pun lantas dibawa ke rumah sakit di kota Hassakeh. Kini, tempat tidur klinik itu kosong dan seorang pasien lain di tempat di atas lapisan kulit hitamnya.

Asma MohamedBBC

Kehadiran Asma, sang pasien baru, hampir tidak terasa sama sekali: ia sangat lemah, hampir transparan. Terlalu lemah untuk menangis, ia tampak baru berumur beberapa hari.

Nyatanya, ia sudah berusia enam bulan. Saudari perempuannya, berdiri menatap ke bawah, ke arahnya. Sementara pasukan ISIS bertempur hingga titik darah penghabisan, keluarganya pun menderita kelaparan.

Kekhalifahan yang terlunta-lunta

Sekitar 169 anak meninggal dunia sejak melarikan diri dari Baghouz – anak-anak tanpa dosa. Mereka yang masih bertahan terancam berbagai penyakit. Dan masih ada bahaya besar yang tampaknya terabaikan negara-negara Barat. Mereka masih berada di bawah pengasuhan orang tua mereka yang notabene ekstrimis, sementara paham kebencian yang tertanam di diri mereka tidak dibersihkan atau dididik ulang – itu semua dibiarkan membusuk.

Mereka yang selamat dari ISIS dibawa dalam truk-truk ternak terbuka, melintasi gurun dalam jumlah puluhan ribu ke kamp al-Hol. Desa di dekat kamp tersebut adalah desa di mana dulunya ISIS menjual perempuan Yazidi sebagai budak. Tak jauh dari sini, ratusan pasukan Kurdi terbunuh dalam satu serangan ISIS.

Sekolah dua lantai di desa itu masih dilapisi cat bergambar bendera ISIS. Basahnya hujan musim semi dan teriknya matahari musim panas tak memudarkan gambar itu.

Lokasi kamp itu berada di tepi desa: negara mini, sebuah kekhalifahan yang terlunta-lunta, suatu bahaya yang terus berkembang dan kini lebih besar dari desa itu sendiri.

Yang tersisa di dalamnya, tak diinginkan siapa pun. Hanya sedikit negara yang menerima mereka kembali: Rusia, Arab Saudi, dan Maroko.

Amerika Serikat telah menerima kembali seorang perempuan. Inggris tak berencana merepatriasi prajurit maupun keluarga mereka. Al-Hol adalah kamp di mana Shamima Begum, remaja asal London, pertama kali ditahan dan di mana ia mengetahui bahwa kewarganegaraan Inggrisnya dicabut. Perancis telah menerima banyak anak yatim piatu yang orangtuanya tewas dalam pertempuran demi ISIS.

Ada sejumlah tingkat radikalisasi, dan akibat langsung dari suatu perang adalah tak adanya tempat untuk menentukan siapa yang bisa diperbaiki, siapa yang bisa diselamatkan.

Ideologi Beracun

Para perempuan dari negara asing ditempatkan secara terpisah, di bawah pengawasan pasukan bersenjata. Di sini ideologi yang ada bersifat paling beracun. Di sinilah tempat para penganut ISIS sejati ditempatkan. Seorang penjaga di luar menunjuk ke arah kepalanya yang terluka. “Mereka melempari kami dengan batu kemarin,” ungkapnya.

Di dekat pintu masuk, sekantong potongan ayam mentah tergeletak di tanah. Para perempuan berdesakan di pagar berantai, menuntut dibebaskan. Mereka berasal dari banyak negara: Brazil, Jerman, Prancis, Maroko, Somalia, dan masih banyak lagi.

Para perempuan yang berasal dari negara Barat khawatir berbicara di dalam. Mereka takut diserang oleh perempuan lain yang lebih radikal di dalam kamp, jika ketahuan berbicara kepada lelaki. Jika mereka melepaskan kerudung, mereka diserang oleh sebagian perempuan lainnya. Sejumlah tenda pernah dibakar habis sebagai balasannya.

“Perempuan Tunisia dan Rusia yang paling parah,” ungkap Leonora Messing, gadis berusia 19 tahun asal Jerman. Ia menunjuk ke dua tenda besar. “Mereka paling terakhir keluar dari Baghouz.”

Messing bergabung dengan ISIS saat berusia 15 tahun, sebulan setelah gadis berusia 15 tahun lainnya, Shamima Begum, dan teman-temannya meninggalkan Inggris ke Suriah. Meesing menjadi istri ketiga seorang ekstrimis asal Jerman yang kini menjadi tawanan pasukan Kurdi.

Perempuan asal Jerman itu sangat menyesal, bukan hanya karena keadaan yang ada sekarang, tetapi penyesalan yang diakuinya telah ada jauh sebelum kekalahan ISIS.

“Saya baru setengah tahun di ISIS dan saya bertanya kepada ayah saya apakah ia bisa membantu mengirimkan seorang penyelundup untuk membawa saya keluar dari sana. Mereka mengirimkan seorang penyelundup, namun pasukan keamanan ISIS, membunuhnya. Lantas mereka juga menangkap saya karena mereka menemukan foto-foto saya di telepon genggamnya. Lalu saya pertama kali dipenjara (di Raqqa) dan kedua kalinya di (desa) Shaafa,” jelasnya.

Di tangannya, ia menimang seorang bayi keriput berusia dua bulan, anak keduanya, lahir di Baghouz ketika pertempuran memanas di sekelilingnya.

“Saya melahirkan sendirian. Tak ada dokter, tak ada perawat,” ujarnya, “Saya meminta suami saya mencari mereka. Saya menyuruhnya. Saya menangis. Kau tahu bagaimana seorang perempuan meyakini sesuatu. Saya bilang kamu cari. Ia bilang tak ada siapa pun. Saya bilang CARI.”

Leonora MessingBBC

Ia masih mencintai suaminya yang seorang ekstrimis dan berkata bahwa ia akan menantinya jika ia dikirim kembali ke Jerman untuk menjalani masa hukuman penjara.

Ia berbicara tentang kematian anak lelaki Shamima Begum, yang lahir di dalam kamp, dan meninggal hanya 20 hari kemudian. Kedua anaknya juga pernah sakit, tetapi ia mengatakan bahwa ia punya alasan untuk percaya bahwa mereka akan baik-baik saja.

Pertemuan kedua kami hanya sebentar. Sebuah konvoi kendaraan berperisai, dikawal pasukan bersenjata, tiba dengan beberapa orang Barat di dalamnya. “Pemerintah Jerman ingin memeriksa anak-anak saya,” ujar Messing.

Seberapa dibelas kasihi?

Menteri luar negeri Inggris telah menyatakan bahwa terlalu berbahaya bagi diplomat Inggris untuk pergi ke Suriah, tempat di mana, seperti Jerman, Inggris tidak memiliki konsulat atau kedutaan. Tetapi belum ada rencana untuk merepatriasi perempuan dan anak-anak yang suaminya telah terbunuh atau dicabut kewarganegaraannya.

Ketika awan mendung menggulung dan menebal di langit, dua perempuan kurus berjalan beriringan melintasi lapangan berlumpur, menuju ke arah saya dan rekan saya yang berasal dari Suriah. Kamp itu beraroma busuk, tak ada sistem sanitasi yang baik dan hujan pun tak membantu baunya hilang. Salah satu di antara mereka, dengan ganjil, membawa tas tangan kulit asli dengan jepitan berbentuk kristal. Melalui kerudung mereka saya melihat apa yang tampak seperti mata gadis remaja.

“Di mana suami-suami kami? Kapan mereka akan dibebaskan?” tuntut mereka tanpa ancaman apa-apa. Saat rekan saya mengangkat bahunya, salah satu dari mereka berkata, “tanya dia,” menunjuk saya dengan tangan bersarung hitamnya. Tawa geli muncul dari balik pakaian serba hitam mereka.

Mereka mungkin akan mendapatkan jawabannya dalam waktu dekat, karena Irak juga berencana menerima kembali warga mereka. Tahanan berisiko tinggi akan diberangkatkan lebih dulu dan hampir pasti akan dieksekusi, sementara para perempuan dan anak-anak akan menyusul ke Irak. Sebuah kamp tengah disiapkan, tak begitu jauh dari al-Hol, di sisi perbatasan Irak.

Hal itu akan mengurangi tekanan di kamp, tetapi tak akan menjawab pertanyaan abadi yang al-Hol berikan ke dunia Barat: berapa banyak belas kasihan yang patut diberikan kepada musuh yang tak memberikan apa pun? Dan, apa yang akan terjadi kepada para perempuan dan anak-anak mereka sekarang setelah ISIS hilang?


(imk/imk)
<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Soal Dewi-Dedi, TKN: Ma’ruf Amin Buktikan Tahu Persoalan Perempuan

Liputan6.com, Jakarta – Debat pamungkas terakhir, calon wakil presiden Ma’ruf Amin mengeluarkan istilah Dewi Dedi untuk merealisasi pemberdayaan perempuan di sektor-sektor ekonomi.

Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf memandang, apa yang disampaikan cawapresnya, membuktikan luasnya pemahaman seorang ulama, yang peduli dengan masalah kaum perempuan.

“Pilihan diksi KH Ma’ruf Amin semakin membuktikan luasnya pemahaman ulama besar tersebut pada persoalan perempuan, masalah bangsa dan ditopang oleh kearifan sebagai ulama yang telah terbiasa bergulat dengan masalah pokok rakyat,” ucap Sekretaris TKN Hasto Kristiyanto, Jakarta, Sabtu (13/4/2019).

Dia menyebut, dalam debat pamungkas ini,praktis tidak menunjukkan perubahan berarti dari sosok Prabowo-Sandiaga. “Pak Jokowi kembali menampilkan hal-hal kongkrit dan mendasar terhadap program peningkatan kesejahteraan di desa, pondok pesantren, dan menghadirkan perempuan sebagai pilar di dalam peningkatan kesejahteraan ekonomi rumah tangga,” jelas Sekjen PDIP ini.

Dia pun melihat dengan kepiawaian dari pasangan nomor urut 01 ini, dipastikan jalan kemenangan akan semakin kuat.

“Lima kali debat disia-siakan oleh Prabowo-Sandi. Penuh serangan, namun miskin kebijakan unggulan,” pungkasnya.

OK OCE Jadi Senjata Sandiaga Berdayakan Perempuan

Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani sudah sempat angkat bicara soal partisipasi perempuan di dunia kerja. Angka yang ia sebut pun sesuai dengan pertanyaan di debat pilpres malam ini. 

“Tadi saya sebutkan labor participation untuk perempuan, itu masih jauh tertinggal hanya 54 persen dibandingkan lebih dari 83 persen untuk laki-laki,” ujar Sri Mulyani di Jakarta, Rabu, 13 Maret 2019. 

Menurutnya, kondisi ini disebabkan banyaknya kendala dihadapi perempuan sejak dari masih masa anak-anak hingga dewasa. Selain itu dalam hal akses keuangan, perempuan juga sering kesulitan mendapatkan pinjaman karena tidak memiliki jaminan.

Sementara itu, partisipasi ibu rumah tangga selama ini juga kurang diperhitungkan dalam PDB. Hal tersebut pun tengah dikaji secara global.

“Dan sekarang ini secara global, sudah ada inisiatif untuk menginput value-nya itu. Sehingga nanti secara statistik akan di-recognized sebagai suatu nilai yang sangat penting,” papar dia.

Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia tersebut pun menambahkan, pemerintah juga akan bekerja sama dengan BPS untuk melihat kondisi ini secara statistik.

“Dengan adanya data statistik, biasanya akan memberikan informasi dan juga bukti sehingga isu mengenai gender itu bisa diletakkan sebagai objektif,” tandasnya.

Cara Nasdem Tingkatkan Peran Perempuan di Bidang Politik dan Ekonomi

Liputan6.com, Jakarta – Politikus Partai Nasdem Taufiqulhadi menegaskan pihaknya sangat mengakomodir kepentingan kaum perempuan. Hal itu terlihat dari kebijakan Partai Nasdem yang lebih memprioritaskan perempuan dalam berbagai hal.

Dalam bidang politik, misalnya, Taufiq mengatakan, partai besutan Surya Paloh itu telah memberikan kuota lebih dari 30 persen bagi kaum perempuan di pencalegan dan kepengurusan partai dari tingkat pusat hingga daerah.

Bahkan, Nasdem juga memberikan nomor teratas kepada perempuan-perempuan yang mempunyai kapasitas dan kapabilitas.

“Kita bukan hanya 30 persen tetapi juga lebih dari itu. Kebijakan ini membuktikan jika Nasdem memang mendahulukan kepentingan perempuan,” ujar Taufiqulhadi di Jakarta, Jumat, 12 Aprlil 2019.

Anggota DPR RI ini juga mengatakan, partainya ingin memberikan peluang kepada perempuan Indonesia untuk berkarya dan berbakti kepada negara dan bangsa.

“NasDem ingin perempuan Indonesia maju, ucap dia. 

Tak hanya dalam dalam politik, di bidang ekonomi, Nasdem juga memberikan pendidikan kewirausahaan dan pengembangan keterampilan bagi kaum ibu di perkotaan dan perdesaan.

“Begitupun dengan bidang budaya, pendidikan bidang lainnya,” ucap Taufiq.

 

 

Lewat Kampanye Untuk Perempuan, Shopee Dorong Wanita Indonesia Berkarya

Liputan6.com, Jakarta – Pergeseran ke era digital turut datang bersama kesempatan bagi para perempuan berkarya di ruang lebih luas. Hal ini membuat kontribusi kaum hawa tak semata berada di ranah ‘domestik’, tapi juga mencakup ranah publik, termasuk bisa berpartisipasi dalam industri bisnis.

Sayang, langkah ini sering kali tersendat stigma sosial tentang perempuan harus di rumah dan urus anak. Padahal, perubahan konstruksi sosial dan peran perempuan tengah bergerak ke arah berlawanan dari pemikiran konvensional.

“Pasti timbul komentar karena stigma sosial itu sudah terbentuk sekian lama. Padahal, dari awal pun itu hanya persepsi. Sekarang tinggal bagaimana kita punya support system yang kuat,” kata Gender Specialist Tunggal Pawestri di acara diskusi “Dari Kami #UntukPerempuan” di Kantorkuu Coworking Space di kawasan Kuningan, Jakarta, Jumat (12/4/2019).

Tunggal yang memilih bekerja menanangi ranah-ranah sensitif seperti kasus Hak Asasi Manusia (HAM), isu-isu sosial, bahkan kekerasan yang menimpa perempuan mengaku bisa ada di posisi sekarang, lantaran memiliki support stystem yang kuat.

Karenanya, Shopee ingin berperan sebagai media pendukungkhususnya bagi perempuan Indonesia, bergerak maju dan mengambil peran sesuai minat masing-masing. Hal ini dilakukan sebagai feedback, lantaran perempuanlah yang berperan dalam membesarkan nama Shopee.

Kampanye ini pun didukung content creator Ario Pratomo yang menuturkan pengalamannya jadi suami suportif bagi sang istri. Tak hanya soal keinginan istri untuk bekerja, namun juga soal waktu menjaga kedua anak mereka.

“Saya itu senang kalau istri bisa berdaya dengan caranya. Mau di rumah, full urus anak, silakan. Mau sambil berkarier, silakan. Bagaimana dia happy-nya,” katanya.

Dukungan ini pun dilakukan Ario dengan komitmen dan, catatan pentingnya, mereka saling mendukung satu sama lain. Ario percaya, ia juga harus terlibat dalam mengurus anak.

“Semisal perempuan, di sini maksudnya istri saya, kerja dan saya lagi giliran jaga anak, saya malah happy karena bisa punya waktu lebih banyak sama anak. Jadi, memang harus imbang kasih sayang dan perhatiannya. Nggak ada yang lebih sayang mama atau papa,” tambah Ario.

Mengenang Sarinah, Perempuan yang Mengajarkan Cinta Kasih kepada Sukarno

Liputan6.com, Jakarta – Dari mana Sukarno mengenal ajaran cinta sesama? Proklamator RI itu mengaku sejak dini mencerap nilai cinta kasih dari seorang perempuan rakyat kecil yang -seperti disebut Sukarno- jiwanya besar. Perempuan itu adalah Sarinah.

“Dialah yang mengajarku untuk mengenal cinta kasih. Sarinah mengajarku untuk mencintai rakyat. Massa rakyat, rakyat jelata,” kata Sukarno.

Sarinah adalah perempuan paruh baya dari desa yang mengasuh Sukarno kecil. Begitu membekasnya sosok Sarinah, Sukarno mengabadikannya sebagai nama gedung pusat perbelanjaan modern pertama di Indonesia.

Cerita Sukarno soal Sarinah tertuang dalam buku yang ditulis Sukarno pada 1963 bertajuk ‘Sarinah Kewajiban Wanita dalan Perdjoeangan Repoeblik Indonesia’. Cerita Sarinah juga terselip di biografi Sukarno yang ditulis Cindy Adams: Soekarno, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia.

“Dari Mbok Sarinah, saya mendapat pelajaran mencintai orang kecil. Ia orang kecil, tapi jiwanya selalu besar. Sarinah adalah satu nama biasa. Tetapi Sarinah yang ini bukanlah wanita biasa. Dia orang yang paling besar pengaruhnya dalam hidupku,” tulis Sukarno.

Apa yang diajarkan Sarinah hingga Sukarno begitu terkesan?

Kala Sukarno berusia empat tahun, setiap pagi Sarinah menanamkan ajaran cinta kasih. Di gubuk kecil dekat rumah di Kelurahan Kepatihan, Tulungagung, Jawa Timur, Sukarno kecil duduk di samping Sarinah yang sedang memasak.

Dalam momen itu, Sarinah menyuapi nilai, sebelum ke momongannya, sebelum memberi sarapan.

“Karno, pertama engkau harus mencintai ibumu. Kemudian, kamu harus mencintai rakyat jelata. Engkau harus mencintai manusia umumnya.”

Mantra itu masuk ke hati dan otak Sukarno, sebelum makanan masuk ke perutnya, setiap pagi. Tidak berkeluarga sendiri, Sarinah menjadi bagian dari keluarga Sukarno. Sarinah tinggal, makan, dan bekerja di rumah keluarga Bung Karno. Perempuan itu telah memberi bekal berharga untuk salah satu tokoh bangsa itu.

Detik-detik Kecelakaan Maut Perempuan di Jalan Margonda Terekam CCTV

Depok – Polisi mengamankan rekaman CCTV terkait temuan mayat Ita Sachari (27) di Jalan Margonda Raya, Depok. Rekaman CCTV menjadi salah satu petunjuk polisi hingga disimpulkan bahwa korban mengalami kecelakaan tunggal.

“CCTV juga sudah kita lihat. Tidak ada tanda-tanda keramaian, normal aja jalan. Tetapi memang ada yang kemudian memelankan kendaraannya,” jelas Kasat Lantas Polresta Depok Kompol Sutomo saat dihubungi detikcom, Senin (8/4/2019).

Sutomo mengatakan, CCTV ini diperoleh dari sebuah tempat usaha di seberang lokasi kejadian. Sedangkan CCTV yang lebih dekat ke lokasi, tidak ditemukan.

“CCTV di MUG Coffee tidak berfungsi sejak setahun lalu, sedangkan di showroom mobil tidak ada CCTV,” jelas Sutomo.

Dalam rekaman CCTV yang diperoleh detikcom, kecelakaan terjadi pada pukul 05.40 WIB. Situasi lalu lintas di sekitar lokasi sudah ramai kendaraan.

Dalam rekaman CCTV itu tampak sebuah motor diduga korban melesat dengan kecepatan tinggi. Tidak lama setelah itu, beberapa motor memelankan laju kendaraannya.

Saksi petugas kebersihan mendengar suara benturan keras pada saat itu. Saksi kemudian melihat ke lokasi dan menemukan korban sudah meninggal dengan kondisi kepala putus.

Sutomo mengatakan, diduga motor Honda Vario bernopol B-3678-ENU yang dikendarai korban menyerempet separator yang ada di jalur cepat Jalan Margonda arah Depok. Hal ini terbukti dari bekas lecet-lecet pada bagian kanan motor korban.

“Motornya nyenggol pembatas jalan. ‘Kan pembatas jalannya itu ada pagar dari kawat sling itu, kemudian jatuh ke situ sehingga kepala putus,” papar Sutomo.

Motor korban terpelanting sejauh 30 meter dari posisi korban. Motor tersebut saat ini diamankan di Unit Laka Lantas Satlantas Polresta Depok.

(mei/fjp)
<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>