Peremajaan Vagina: Sekadar Tren atau Kebutuhan?

Data Bamed Women’s Clinic tahun 2017 sampai 2018 menunjukkan, sebagian besar pasien yang melakukan peremajaan vagina berusia 35-40 tahun. Rentang usia tersebut termasuk usia produktif. Selanjutnya, pasien menopause lebih dari 51 tahun ikut peremajaan vagina. Adapun keluhan pasien pada usia menopause seputar kekeringan vagina, nyeri berhubungan seks, dan iritasi vagina. Jenis peremajaan vagina meliputi non-invasif (CO2 fractional laser, labia bleaching), semi-invasif (labia mayora augmentation, injeksi G-Spot), dan bedah invasif (hymenoplasty, vaginoplasty, labia minora plasty, labia mayora plasty, clitoralhood reduction).

Prosedur pemeriksaan sebelum tindakan perawatan dilakukan ketat. Walaupun penanganan peremajaan sebentar antara 30-45 menit, sesi konsultasi bisa sampai 1 jam. Yeni menjelaskan, sesi konsultasi memang lebih lama. Pasien yang datang diajak mengobrol mendalam soal keluhan yang dialami. Edukasi dan pemaparan tentang tindakan penanganan yang akan dijalani disampaikan secara jelas. Pasien diberitahukan risiko maupun alat peremajaan vagina yang digunakan dokter.

“Dokter yang menangani harus punya kompetensi dan pemilihan alat teknologi yang terbaik. Apakah pasien memerlukan bedah invasif atau tidak. Kalau tidak perlu bedah invasif, artinya jaringannya tidak perlu dilukai. Pasien bisa menjalani non-invasif. Itu jauh lebih aman. Yang pasti kami selektif memilih pasien untuk ambil tindakan,” Yeni melanjutkan.

Pada pasien menopause, skrining dilakukan lebih ketat agar tidak ada penyakit lain, seperti diabetes. Pemeriksaan imunitas, gaya hidup, dan nutrisi juga dilakukan. Pap smear pun harus dilakukan di atas 45 tahun ke atas, apakah pasien bebas dari infeksi vagina maupun kanker mulut rahim. Kalau semua pemeriksaan aman dan tidak ada indikasi penyakit, tindakan baru akan dilakukan.

Dari segi penanganan, dosis pasien menopause yang melakukan peremajaan vagina akan berbeda dari usia lain. Ini mempertimbangkan kondisi wanita yang menopause punya lapisan vagina tipis, pembuluh darah oksigen ke vagina yang sudah mulai berkurang, dan jaringan vagina lebih pucat. Pasien dirawat secara nyaman selama tindakan berlangsung. Pemilihan laser perlu dilakukan tepat.

“Satu Laser saja belum tentu cocok diterapkan pada semua pasien. Makanya, ada yang sangat kesakitan, ‘Laser di sana kok sakit banget.’ Treatment (perawatan) wanita menopause memang berbeda dari usia-usia muda lain,” lanjut Yeni.

Dokter spesialis kandungan dan ginekologi Dasep Suwanda ikut menambahkan, pasien menopause yang berusia di atas 50 tahun memerlukan terapi dan perawatan setelah menjalani peremajaan vagina. Selama menjalani prosedur, setiap satu pasien tidak hanya ditangani satu dokter, melainkan tim dokter. Ada dokter yang menangani tindakan invasif dan perawatan. Misal, pasien menopause tidak hanya terapi laser, terapi hormon juga diperlukan. Ini untuk memperbaiki hormon.

“Jadi, jangan lupa, kami juga menangani pasien secara holistik. Hormonnya ikut di treatment. Selain itu, pemberian obat anti penuaan (anti aging medicine) ikut berjalan. Bukan sekadar satu modalitas (treatment invasif atau non-invasif) yang dikerjakan,” tambah Dasep, suami dari Yeni.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *