Cardiff Ceroboh, Uang Duka Emiliano Sala Terancam Tidak Cair

Liputan6.com, Jakarta Emiliano Sala telah dimakamkan di kampung halamannya, Argentina, akhir pekan lalu. Namun pihak keluarga terancam kehilangan uang pensiun Sala gara-gara kecerobohan Cardiff City.

Menurut Times, setiap pemain otomatis masuk dalam skema dana pensiun Asosiasi Pemain Profesional Britania Raya (PFA) saat pertama kali terdaftar di kompetisi papan atas. Dan besarnya uang duka yang disediakan oleh PFA mencapai angka 600 ribu euro atau setara Rp9.5 Miliar.

Dana ini juga berlaku bagi pemain non Premier League yang rutin membayar iuran kepada PFA.

Seperti diketahui, Sala tercatat sebagai pemain Cardiff City saat kecelakaan merenggut nyawanya. Pria berusia 28 tahun itu diboyong dari klub Prancis, Nantes dengan nilai transfer sebesar 15 juta poundsterling dan menjadi pemain termahal yang pernah didatangkan klub asal Wales tersebut.

Namun seperti dilansir The Sun, Cardiff ternyata melakukan kesalahan saat perekrutan Sala. Ada berkas yang tidak lengkap saat mereka mendaftarkan pemain Argentina itu ke Premier League.

Cardiff kemudian diminta untuk memperbaikinya dan meminta tanda tangan Sala. Sayang, sebelum perbaikan dilakukan, Sala sudah keburu mengalami kecelakaan. Pesawat yang membawanya dari Nantes ke Cardiff, jatuh dan tenggelam di Selat Inggris, 21 Januari 2019 lalu.

Jenazah Sala sempat sulit ditemukan. Namun lewat pencarian tak kenal lelah dari tim pencari independen, jasad Sala pun akhirnya terdeteksi bersama puing pesawat yang ditemukan di dasar laut Selat Inggris. Setelah menjalani visum, jenazah dibawa ke Argentina dan dimakamkan di sana.

Kecerobohan Cardiff dalam melengkapi dokumen Sala membuat pihak keluarga terancam kehilangan uang duka dari PFA. Carfiff pun kabarnya tengah berusah memperbaiki kesalahan itu.


2 dari 2 halaman

Bantah Korupsi

Masalah lain juga muncul setelah kematian Sala. Beredar isu yang menyebutkan bahwa proses transfer yang dilakukan dari Nantes terindikasi korupsi. Namun hal ini segera dibantah oleh broker yang menjadi perantara transfer Emiliano Sala, Willie McKay. Menurutnya, transfer itu bersih.

Dia pun membela manajer Cardiff City, Neil Warnock. “Tidak ada yang kami sembunyikan. Rumor itu murahan, benar-benar murahan,” ujar McKay marah. “Saya sudah muak dengan itu. Saya heran orang-orang mengatakan ini. Saya menunggu telepon dari FA (Asosiasi Sepak Bola Inggris).”

Saksikan juga video menarik di bawah ini:

Arti Perayaan Cap Go Meh dan Cara Merayakannya, Intip Yuk

Liputan6.com, Jakarta Tahun Baru Imlek nampaknya kurang meriah kalau tidak ada Cap Go Meh. Kebanyakan orang cuma tahu Cap Go Meh adalah perayaan yang dilakukan orang Tionghoa dua minggu setelah Tahun Baru Imlek.

Istilah Cap Go Meh berasal dari dialek Hokkian yang bila diartikan secara harafiah bermakna “15 hari atau malam setelah Imlek”. Bila dipenggal per kata, ‘Cap’ mempunyai arti sepuluh, ‘Go’ adalah lima, dan ‘Meh’ berarti malam.

Upacara perayaan ini dirayakan secara rutin setiap tahunnya pada tanggal 15 bulan pertama menurut sistem penanggalan kalender Imlek. Upacara ini dahulu dilakukan tertutup hanya untuk kalangan istana dan belum dikenal secara umum oleh masyarakat Tiongkok.

Ternyata Cap Go Meh bukan sekadar itu, karena Cap Go Meh juga punya makna khususnya untuk masyarakat Tionghoa. Berikut arti perayaan Cap Go Meh dan cara perayaannya yang telah Liputan6.com rangkum dari berbagai sumber, Rabu (20/2/2019).

2 dari 4 halaman

Arti Perayaan Cap Go Meh

Perayaan Cap Go Meh atau Perayaan Lampion ini tidak hanya dirayakan di Indonesia saja. Beberapa negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura juga ikut merayakan hari raya ini.

Di negara Tiongkok, festival Cap Go Meh dikenal dengan nama Festival Yuanxiao atau Festival Shangyuan. Perayaan ini awalnya dirayakan sebagai hari penghormatan kepada Dewa Thai Yi. Dewa Thai Yi sendiri dianggap sebagai Dewa tertinggi di langit oleh Dinasti Han (206 SM – 221 M).

Dulunya, Cap Go Meh dilakukan secara tertutup untuk kalangan istana dan belum dikenal masyarakat awam. Festival tersebut dilakukan pada malam hari, sehingga harus menyediakan banyak lampion dan aneka lampu warna-warni. Lampion adalah pertanda kesejahteraan hidup bagi seluruh anggota keluarga.

Ketika pemerintahan Dinasti Han berakhir, barulah Cap Go Meh dikenal oleh masyarakat. Ketika Cap Go Meh, rakyat bisa bersenang-senang sambil menikmati pemandangan lampion yang telah diberi banyak hiasan.

3 dari 4 halaman

Perbedaan Cap Go Meh dan Imlek

Imlek biasanya dirayakan dengan sembahyang ke kelenteng untuk memanjatkan doa keselamatan dan keberkahan di tahun yang baru. Setelah itu, berkumpul dan makan bersama keluarga.

Sedangkan, ketika Cap Go Meh, orang-orang membawa persembahan berupa kue keranjang dan melakukan sembahyang untuk mengucap syukur dan memohon keselamatan.

Orang zaman dulu percaya kalau anak kecil tidak makan kue keranjang, matanya bakal belekan. Makanya, hingga saat ini masih banyak orang yang membawa persembahan kue keranjang ketika Cap Go Meh.

Setelah itu, pastinya ada acara makan kue keranjang yang bisa dimakan langsung atau digoreng. Kue keranjang juga boleh dibagi-bagikan secara gratis untuk warga sekitar.

4 dari 4 halaman

Cara Merayakan Cap Go Meh

Perayaan Festival Cap Go Meh di Indonesia sendiri sangat bervariasi. Perayaan biasanya dilakukan oleh umat di Kelenteng atau Wihara dengan melakukan kirab atau turun ke jalan raya sambil menggotong ramai-ramai Kio/Usungan yang di dalamnya diletakkan arca para Dewa.

Bahkan di beberapa kota di tanah air seperti di daerah Jakarta dan di Manado, terdapat atraksi ‘lokthung‘ atau ‘thangsin‘ di mana ada seseorang yang menjadi medium perantara yang konon setelah dibacakan mantra tertentu dipercaya telah dirasuki oleh roh Dewa untuk memberikan berkat bagi umat-Nya.

Mereka biasanya akan melakukan beberapa atraksi sayat lidah, memotong lengan atau menusuk bagian badannya dengan sabetan pedang, golok, dan lain sebagainya.

Ketika Cap Go Meh, rakyat akan menyaksikan Tarian Barongsai dan Liong (naga), berkumpul untuk main games penuh teka-teki, dan makan onde-onde. Sepanjang perayaan, tentunya bakal diramaikan oleh kehadiran kembang api dan petasan.

Barongsai adalah simbol kebahagiaan, kegembiraan, dan kesejahteraan. Sedangkan Liong dianggap sebagai simbol kekuasaan atau kekuatan. Menurut kepercayaan orang Tionghoa, keluarga akan jadi sangat besar jika anak mereka lahir di Tahun Naga.

Onde-onde yang dimakan ketika Cap Go Meh biasanya dibuat ramai-ramai oleh seluruh anggota keluarga, terutama wanita dan anak-anak. Lalu, Tarian Barongsai dan Liong harus sambil membunyikan petasan.

Pasalnya, petasan dipercaya bisa mengusir energi negatif dan akan membersihkan seluruh lokasi yang dilalui Barongsai. Secara umum, itulah yang dilakukan orang Tionghoa ketika merayakan Cap Go Meh.

KPK Bakal Telisik Aset Eks Dirut Garuda Indonesia di Australia

Liputan6.com, Jakarta Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) akan menelisik aset mantan Direktur Utama (Dirut) PT Garuda Indonesia Emirsyah Satar dalam kasus dugaan suap pembelian mesin dan pesawat. KPK baru saja melakukan pertemuan dengan Duta Besar Australia untuk Indonesia, Gary Quinlan di gedung KPK, Jakarta.

“Dan itu (aset Emirsyah) menjadi salah satu aspek yang kita diskusikan. Kita juga membangun keamanan bersama dengan pemerintah Australia,” ujar Wakil Ketua KPK Laode M. Syarif di Gedung KPK, Kuningan, Jakarta Selatan, Senin (18/2/2019).

Beberapa aset milik Emirsyah Satar yang diduga berasal dari hasil korupsi disimpan di luar negeri, salah satunya di Australia. Menurut Laode, pihak Australia menyatakan siap membantu Indonesia untuk menelusuri aset Emirsyah Satar dan tersangka korupsi lainnya.

“Karena beberapa kasus korupsi yang terjadi di Indonesia, beberapa diantaranya ada yang mengenai masalah aset di Australia, dan kita bekerjasama menangani hal itu,” kata Syarif.

Permintaan KPK disambut baik oleh Gary. Selaku perwakilan pemerintah Australia dia menyatakan siap membantu apapun keperluan KPK, termasuk penelusuran aset tersangka korupsi yang ada di luar negeri

“Kami telah memiliki sejarah yang sangat lama dengan KPK. Baik itu kerja sama pada tahap awal pendiriannya, dan sekarang kami terus memberikan bantuan yang tepat di seluruh hubungan antara Australia dan Indonesia,” kata Gary di lokasi yang sama.

2 dari 2 halaman

2 Tersangka

KPK sebelumnya menetapkan dua tersangka terkait kasus dugaan suap pengadaan mesin dan pesawat di PT Garuda Indonesia.

Mereka adalah Emirsyah Satar dan Soetikno Soedarjo yang merupakan Presiden Komisaris PT Mugi Rekso Abadi (MRA). Emirsyah Satar dalam kasus ini diduga menerima suap Euro 1,2 juta dan USD 180 ribu atau senilai total Rp 20 miliar.

Ia juga diduga menerima barang senilai USD 2 juta yang tersebar di Singapura, Australia, dan Indonesia, dari perusahaan manufaktur terkemuka asal Inggris, Rolls Royce, dalam pembelian 50 mesin pesawat Airbus SAS pada periode 2005-2014 di PT Garuda Indonesia.

KPK menduga, pemberian suap itu dilakukan melalui seorang perantara Soetikno Soedarjo selaku beneficial owner dari Connaught International Pte Ltd yang berlokasi di Singapura.


Saksikan video pilihan di bawah ini:

Orang Kepercayaan Fahmi Buka Mulut Soal Renovasi Kamar Lapas Sukamiskin

Liputan6.com, Bandung Narapidana yang juga terdakwa dalam kasus suap izin keluar Lapas Sukamiskin, Andri Rahmat, menjadi saksi atas terdakwa Fahmi Darmawansyah di Pengadilan Tipikor Bandung, Senin (11/2/2019).

Andri yang disebut-sebut sebagai tahanan pendamping Fahmi menyebutkan, selain praktik jual-beli kamar, ada juga renovasi kamar di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Sukamiskin menjadi mewah. Bahkan nilai renovasi kamar mencapai puluhan hingga ratusan juta rupiah.

Renovasi tersebut dilakukan oleh Andri Rahmat sendiri. Terungkapnya pekerjaan Andri sebagai orang yang merenovasi kamar lapas di Sukamiskin itu saat jaksa mengungkap temuan uang di sel Andri ketika penggeledahan saat operasi tangkap tangan (OTT) KPK. Jaksa menyebut ada sejumlah uang baik rupiah maupun bentuk dollar.

Andri tak menampik bahwa dirinya memang membuka jasa renovasi sel. Andri juga sempat melaporkan pekerjaannya itu kepada Fahmi. Bahkan suami Inneke Koesherawati itu memberikan modal sebesar Rp50 juta untuk Andri.


“Fahmi dapat keuntungan juga atau uang (modal) dibalikin?,” tanya jaksa. “Mau dikasih untungnya Fahmi tidak mau, dikasih modal saja,” kata Andri.

Andri menjelaskan jasa renovasi itu dilakoni selama tiga bulan sejak Wahid menjabat sebagai Kalapas Sukamiskin. Dia menggantikan peran Ikhsan, napi tipikor lainnya yang sudah bebas untuk menjalani bisnis tersebut di dalam lapas.

Andri mengaku banyak kamar yang telah dia renovasi. Renovasi dilakukan, kata dia, agar membuat penghuni lapas nyaman.

“Yang bocor ditambal. Terus nambah wallpaper dinding,” kata Andri.

Andri menyebut aktivitasnya diketahui dan direstui Wahid Husen. Ia meminta izin terlebih dahulu kepada Wahid untuk merenovasi sel milik napi.

“Cuma saya bilang pak mau beres-beres kamar. Dia bilang jangan terlalu mewah,” ucap Andri.

Soal biaya renovasi menurut Andri bermacam-macam. Mulai dari Rp60 juta hingga Rp200 juta.

Menurut Andri, renovasi seharga Rp200 juta saat itu terjadi karena ada napi yang hendak keluar dan meminta kepada Andri untuk menjual kamar yang sudah berfasilitas mewah ini. Namun Andri tak mengungkap siapa napi tersebut.

“Dia mau keluar lalu minta jual kamar dia. Saya cari info dulu ke karantina ada yang sudah dapat kamar atau belum. Nah transaksi ya antar mereka,” kata Andri.

2 dari 2 halaman

Wahid Husen Minta Uang Buat Perjalanan Dinas

Dalam persidangan, Andri juga menyebutkan mantan Kepala Lembaga Pemasyarakatan (Kalapas) Sukamiskin Wahid Husen kerap meminta uang kepada Fahmi Darmawansyah untuk perjalanan dinas. Selain perjalanan dinas, Wahid juga meminta uang untuk perbaikan mobil.

Awalnya, jaksa penuntut umum dari KPK bertanya soal sejumlah pemberian kepada Wahid Husen. Salah satunya mobil double cabin merek Mitsubishi Triton yang diberikan Fahmi kepada Wahid. Andri disebut sebagai perantara dalam penyuapan mobil ke Kalapas Sukamiskin.

“Awalnya mencari mobil yang second dulu. Tapi tidak ada, akhirnya cari yang lain,” kata Andri.

Setelah mobil yang dimaksud tak kunjung ketemu, Wahid menyarankan kepada Andri untuk mencari diler mobil di Bekasi. Andri lantas menyampaikan itu kepada Fahmi.

“Apa yang disampaikan Fahmi?,” tanya jaksa. “Nanti lama lagi,” kata Andri.

Setelah itu, Fahmi menyampaikan kepada Andri bahwa mobil tersebut sudah ada. Andri lalu menghubungi Wahid soal mobil tersebut. Namun Wahid yang pada saat itu berada di Jakarta, meminta mobil untuk diantar ke rumahnya di kawasan Buahbatu.

“Saat disampaikan, Pak Wahid kaget. Dia menyuruh untuk diantar ke rumah saja di Buahbatu. Hendry Saputra (ajudan Wahid) telepon saya menanyajan mobil sudah berangkat atau belum,” ujarnya.

Selain mobil, Andri mengakui pernah memberikan barang lain kepada Wahid dari Fahmi. Di antaranya sepatu boots laki-laki hingga tas mewah.

Sebelumnya, sempat diungkap dalam dakwaan tas tersebut akan diberikan ke Direktur Jenderal Pemasyarakatan Sri Puguh Budi Utami.

“Tas itu untuk siapa?,” tanya jaksa. “Saya disuruh mengantarkan saja. Pak Fahmi sebutnya untuk ibu. Tapi ibu siapa tidak menyebut,” kata Andri.

Selain barang-barang, Wahid juga pernah meminta sejumlah uang kepada Fahmi melalui Andri. Menurutnya uang itu diminta untuk perjalanan dinas mobil dan uang makan.

Perjalanan dinas dalam dakwaan disebut perjalanan menuju ke Jakarta ke kantor Kemenkum HAM.

“Untuk perjalanan dinas dua kali masing-masing Rp10 juta, untuk mobil Rp4,5 juta dan uang makan Rp15 juta,” ucap Andri.


Simak juga video pilihan berikut ini:

KPK Segera Kirim Berkas Kasus Garuda Indonesia ke Pengadilan

Liputan6.com, Jakarta – Wakil Ketua KPK Laode Muhammad Syarif menyatakan, kasus dugaan suap pengadaan mesin Garuda Indonesia dengan dua tersangka Emirsyah Satar dan Soetikno Soedarjo akan segera disidangkan.

“Kasus itu akan segera rampung dan dikirim ke pengadilan, ditunggu saja,” kata Laode di Gedung Merah Putih, Kuningan, Jakarta Selatan, Senin (11/2/2019).

Rampungnya pemberkasan kasus ini, menurut Loade, berkat bantuan komisi antirasuah Inggris Serious Fraud Office (SFO) yang memiliki hubungan baik dengan KPK. Sehingga, dokumen dari Inggris dibutuhkan KPK yang berhubungan dengan kasus ini bisa terpenuhi.

“Kami juga berterima kasih pada SFO, karena dokumen yang kami butuhkan, sudah tiba di KPK,” jelas Laode.

Dalam kasus ini, KPK telah menetapkan dua tersangka, yaitu mantan Dirut PT Garuda Emirsyah Satar dan Soetikno Soedarjo. Emirsyah Satar dalam perkara ini diduga menerima suap 1,2 juta euro dan US$ 180 ribu atau senilai total Rp 20 miliar.

Emir juga diduga menerima barang senilai US$ 2 juta yang tersebar di Singapura dan Indonesia, dari perusahaan manufaktur terkemuka asal Inggris, Rolls Royce, dalam pembelian 50 mesin pesawat Airbus SAS pada periode 2005-2014 di PT Garuda Indonesia.

KPK menduga, pemberian suap itu dilakukan melalui seorang perantara Soetikno Soedarjo selaku beneficial owner dari Connaught International Pte Ltd yang berlokasi di Singapura.

2 dari 2 halaman

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Pertemuan James Riady dengan Bupati Neneng Terencana Terungkap di Sidang Meikarta

Liputan6.com, Jakarta – Pertemuan antara bos Lippo Group James Riady dengan Bupati Neneng Hasanah Yasin ternyata bukan kebetulan seperti diungkap James pada sidang lalu. James Riady diketahui justru yang meminta diadakan pertemuan dengan Bupati Neneng untuk membahas Meikarta.

Hal itu terungkap dalam kesaksian Kepala Divisi Land Acquisition and Permit PT Lippo Cikarang, Edi Dwi Soesianto yang dihadirkan dalam sidang lanjutan kasus suap perizinan Meikarta di Pengadilan Tipikor Bandung, Senin (11/2/2019).

Sidang kasus suap perizinan Meikarta sendiri tetap menghadirkan terdakwa Direktur Operasional Billy Sindoro dan tiga terdakwa lainnya, pegawai Lippo Group, Henry Jasmen serta dua konsultan Lippo Group yaitu Taryudi dan Fitra Djaja Purnama.

Dalam sidang, Edi Dwi Soesianto diketahui berperan mengurus izin bersama Bartholomeus Toto selaku Direktur Lippo Cikarang. Edi menjelaskan bahwa ia mengatur pertemuan Bupati Neneng dengan James. Ia juga diminta oleh Billy Sindoro untuk meminta nomor handphone ajudan Bupati Neneng.

Awalnya, jaksa dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memperdengarkan rekaman pembicaraan antara Edi dengan Bartholomeus Toto. Dalam percakapan tanggal 6 Januari 2018 tersebut, Edi dan Toto memang berkomunikasi mengatur pertemuan James.

Pertemuan Bupati Neneng dengan James kemudian diatur oleh Yusup E Taufik selaku salah satu pegawai Pemkab Bekasi. Dalam komunikasi dengan Taufik, Edi menjelaskan bahwa yang bertemu bupati merupakan pejabat tinggi Lippo.

Jaksa KPK menanyakan, kepada Edi ada kalimat ‘perintah penting’. “Apa maksudnya ‘perintah penting,” tanya jaksa.

“Ada perintah penting dari pak Toto, minta Taufik serius ada Pak James sama Billy mau menghadap ibu,” jawab Edi.

“Pertemuan untuk apa,” tanya jaksa.

“Ada kemungkinan bisa jadi terkait Meikarta. Menurut pemahaman saya iya untuk Meikarta. Taufik kasih nomornya Marfuah,” ujar Edi.

“Apa kepentingannya Billy minta nomor Marfuah,” tanya jaksa.

“Pak Toto menghubungi saya, kemudian saya hubungi Taufik. Pak James dan Billy ingin menemui bupati,” ucap Taufik.

2 dari 3 halaman

Bukti Rekaman

Dalam surat dakwaan jaksa, Sekretaris Direksi PT Lippo Cikarang, Melda Peni Lestari disebut memberikan Rp10,5 miliar kepada Edi Dwi Soesianto. Melda memberikan uang itu kepada Edi Dwi atas persetujuan Bartholomeus Toto untuk menyuap Bupati Bekasi Neneng, yang telah mengeluarkan Izin Peruntukan Penggunaan Tanah (IPTT) proyek Meikarta.

Penerbitan IPPT sendiri sebagai syarat pengurusan izin mendirikan bangunan (IMB).

Usai persidangan, jaksa KPK Yadyn mengatakan bukti rekaman percakapan dan kesaksian Edi Soesianto menyanggah keterangan James Riady yang sebelumnya mengaku pertemuan dengan Bupati Neneng hanya kebetulan.

“Kita bisa sanggah keterangan dari Edi Soes dan percakapan telepon tadi, bahwa tujuannya hanya menjenguk Neneng Hasanah itu kita bisa bantah juga. Neneng Hasanah dalam persidangan sebelumnya menjelaskan bahwa di sana ada proses dimana mereka memperlihatkan gambar-gambar terkait proyek Meikarta,” kata Yadyn.

Yadyn mengatakan kesaksian Edi juga membuat jelas bahwa pertemuan tersebut sudah direncanakan. Peran Edi Soes tergambar sebagai perantara yang menghubungkan pihak Lippo dengan Pemkab Bekasi melalui EY Taufik.

“Ini sudah direncanakan, Toto menghubungi Edi Soes. Edi Soes menghubungi EY Taufik, EY Taufik menghubungi Marpuah, Marpuah menghubungi ajudan, ajudah menghubungi Neneng Hasanah Yasin, itu alurnya,” kata Yadyn.

Sebelumnya, James Riady yang hadir dalam persidangan pekan lalu mengaku pertemuan dengan Bupati Neneng hanya sebatas menjenguk dan mengucapkan selamat usai Neneng melahirkan. Dia membantah adanya pembicaraan soal Meikarta.

3 dari 3 halaman

Saksikan video pilihan di bawah ini:

KPK Periksa Rombongan Anggota DPRD Lampung Tengah

JakartaKPK memeriksa rombongan anggota DPRD Kabupaten Lampung Tengah terkait kasus dugaan gratifikasi Bupati Lampung Tengah nonaktif Mustafa. Para saksi itu diperiksa di SPN Polda Lampung.

“Hari ini dilakukan pemeriksaan terhadap 10 orang dari unsur pimpinan dan anggota DPRD Lampung Tengah di SPN Polda Lampung untuk tersangka MUS (Mustafa),” kata Kabiro Humas KPK Febri Diansyah kepada wartawan, Senin (11/2/2019).

Para saksi dicecar soal informasi penerimaan uang terhadap Mustafa. Ada 40 orang anggota DPRD Lampung Tengah dan saksi lainnya yang rencananya diperiksa pekan ini.

“Pada para saksi didalami informasi tentang dugaan penerimaan uang dari Bupati melalui perantara terhadap tersangka,” ujar Febri.

Adapun anggota DPRD Lampung Tengah yang diperiksa hari ini ialah:
1. Riagus Ria, Wakil Ketua II DPRD Lampung Tengah
2. Joni Hardito, Wakil Ketua III DPRD Lampung Tengah
3. Evinitria, anggota Komisi I DPRD Kab Lampung Tengah
4. Hi Hakii
5. Yulius Heri Susanto, Anggota Komisi I DPRD Kab Lampung Tengah
6. Made Arka Putra Wijaya, Wakil Ketua Komisi I DPRD Kab Lampung Tengah
7. Saenul Abidin, Anggota Komisi I DPRD Kab Lampung Tengah
8. Hi Singa Ersa Awangga, Anggota Komisi I DPRD Kab Lampung Tengah
9. Ariswanto, Anggota Komisi I DPRD Kab Lampung Tengah
10. Jahri Effendi, Anggota Komisi I DPRD Kab Lampung Tengah.

Mustafa kembali dijerat KPK sebagai tersangka. Kali ini dia diduga menerima fee dari ijon proyek di Dinas Bina Marga Pemkab Lampung Tengah dengan kisaran fee 10-20 persen dari nilai proyek. Total gratifikasi yang diterima Mustafa setidaknya Rp 95 miliar.

Sebelum kasus ini, Mustafa telah ditetapkan KPK sebagai tersangka pemberi suap dan telah disidangkan.

Mustafa pun dinyatakan terbukti bersalah
menyuap sejumlah anggota DPRD untuk menyetujui pinjaman daerah pada PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) dan divonis 3 tahun dan denda Rp 100 juta subsider 3 bulan serta pencabutan hak politik selama 2 tahun.
(haf/fdn)

<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Jaksa Tanya Saksi Soal Catatan Rp 1 M ke ‘Zal’ Asisten Nasir Djamil

Jakarta – Jaksa KPK membongkar aliran uang dalam perkara suap yang menjerat Gubernur Aceh nonaktif Irwandi Yusuf. Salah satu aliran uang digali jaksa dari seorang saksi bernama Dedi Mulyadi.

Dedi yang mengaku sebagai Direktur PT Kenpura Alam Nanggroe duduk sebagai saksi dalam persidangan. Jaksa membacakan berita acara pemeriksaan (BAP) Dedi yang berisi percakapan antara Dedi dengan Teuku Saiful Bahri. Saiful Bahri turut didakwa bersama-sama Hendri Yuzal sebagai perantara suap untuk Irwandi. Mereka bertiga pun duduk sebagai terdakwa dalam persidangan itu.

“(Dalam) BAP, ada percakapan dengan Saiful Bahri. (Saiful bilang) Kalau berminat dapat kerjaan di PUPR, saya bisa bantu ngurusin. Anda bilang, ‘Boleh bang, saya berminat’. (Saiful bilang) Kalau berminat ada dana partisipasi karena menyambut Lebaran untuk Gubernur Aceh,” ucap jaksa KPK membacakan isi BAP Dedi dalam persidangan di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Senin (11/2/2019).

“(Dedi bilang), ‘Oke saya ikut, berapa?’ (Saiful jawab), ‘Kasih Rp 1 miliar’,” imbuh jaksa.

Setelahnya isi BAP yang dibacakan jaksa berisi pengakuan Dedi bila Rp 1 miliar itu diserahkan dalam bentuk cek pada seorang bernama Hasrudin. Kemudian, Hasrudin melapor pada Dedi kembali bila cek itu sudah diuangkan dan diambil orang kepercayaan Saiful Bahri bernama Teuku Fadhilatul Amri.

Dedi yang mendengarkan isi BAP-nya yang dibacakan jaksa mengamininya. Jaksa kemudian

“Iya benar,” jawab Dedi yang membenarkan BAP yang dibacakan jaksa.

Jaksa kemudian menanyakan pada Dedi tentang barang bukti yang didapat dari penggeledahan salah satu lokasi atas nama Mamik Riswanti (Komisaris PT Kenpura Alam Nanggroe yang juga istri Dedi). Barang bukti itu disebut jaksa berupa catatan bertuliskan ‘kewajiban’ untuk orang lain.

Dedi memaparkan bila catatan itu berisi aliran uang berkaitan dengan proyek yang dikerjakan perusahaannya. Dia pun menyebutkan satu per satu isi catatan itu.

“Yang berkaitan dengan proyek Pak Indra untuk pembelian alat Rp 1,5 miliar truk dan eskavator. Dengan Pak Jufri pinjaman dikembalikan sudah kembali. Bu Linda itu paket pengerjaan mereka yang punya, saya beli dengan memberikan kompensasi itu. Mereka menang tender saya beri kompensasi itu,” kata Dedi.

Jaksa heran dengan bahasa ‘kewajiban’ yang digunakan Dedi dalam catatan itu. Jaksa pun menanyakan apakah ‘kewajiban’ yang dimaksud Dedi merupakan commitment fee.

“Jujur sajalah, kewajiban artinya commitment fee yang diberikan? Betul itu? tanya jaksa.

“Iya betul,” ucap Dedi.

Jaksa kembali menilik catatan ‘kewajiban’ milik Dedi tersebut. Di dalamnya, jaksa menemukan adanya aliran uang Rp 1 miliar untuk Zal Nasir Djamil.

“Di sini Zal Nasir Djamil Rp 1 miliar. Ini maksudnya apa? Terkait apa ini? tanya jaksa lagi.

“Si Rizal itu adalah asistennya Pak Nasir Djamil,” jawab Dedi.

Dedi menyebut Nasir Djamil yang dimaksudnya adalah anggota DPR. Sedangkan Rizal diakui Dedi sebagai orang yang kerap menawarinya proyek.

“Tapi Pak Nasir nggak tahu apa-apa itu. Itu tidak dengan Bang Nasir. Yang menawarkan pekerjaan itu si Rizal kepada saya,” ucap Dedi.

Dalam perkara ini, Irwandi didakwa menerima suap Rp 1 miliar dari Bupati Bener Meriah Ahmadi. Uang tersebut, disebut jaksa, dimaksudkan agar Irwandi menyetujui program pembangunan dari DOKA tahun 2018. Irwandi menerima uang tersebut melalui Hendri Yuzal dan Saiful Bahri.

Selain itu, Irwandi didakwa menerima gratifikasi Rp 41,7 miliar selama menjabat Gubernur Aceh. Irwandi menjabat Gubernur Aceh periode 2007-2012 dan periode 2017-2022.

Saksikan juga video ‘Gubernur Irwandi Didakwa Terima Gratifikasi Rp 41,7 M’:

[Gambas:Video 20detik]

(dhn/dhn) <!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

KPK Ambil Contoh Suara 5 Tersangka Suap Infrastruktur Mesuji Lampung

Liputan6.com, Jakarta – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengambil contoh suara lima tersangka kasus dugaan suap proyek-proyek infrastruktur di Kabupaten Mesuji, Lampung. Kelima tersangka tersebut sebelumnya dipanggil sebagai saksi untuk tersangka yang lain.

Juru Bicara KPK Febri Diansyah mengatakan, pengambilan sampel suara untuk mencocokkan bukti percakapan pihak-pihak yang terlibat tindak pidana.

“KPK memanggil saksi terkait dengan keperluan mengambil contoh suara guna kepentingan pemeriksaan lebih lanjut dalam perkara ini,” ujar Febri Diansyah di Gedung KPK, Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat, 8 Januari 2019. 

Sebelumnya, KPK menetapkan Bupati nonaktif Mesuji Khamami sebagai tersangka kasus dugaan suap proyek-proyek infrastruktur di Kabupaten Mesuji, Lampung.

Selain Khamami, KPK juga menjerat empat orang lainnya sebagai tersangka. Yakni Taufik Hidayat yang merupakan adik dari Khamami, Sekretaris Dinas PUPR Mesuji Wawan Suhendra, pemilik PT. Jasa Promix Nusantara (JPN) dan PT. Secilia Putri (SP) Sibron Azis, serta pihak swasta bernama Kardinal.

2 dari 2 halaman

Diduga Terima Rp 1,28 M

Khamami diduga menerima suap sebesar Rp 1,28 miliar dari Sibron Azis melalui beberapa perantara terkait dengan fee pembangunan proyek-proyek infrastruktur di lingkungan Kabupaten Mesuji.

Diduga uang tersebut merupakan bagian dari permintaan fee proyek sebesar 12% dari total nilai proyek yang diminta Bupati Mesuji melalui Wawan Suhendra.

Adapun fee tersebut merupakan pembayaran fee atas empat proyek infrastruktur yang dikerjakan oleh dua perusahaan milik Sibron Azis.

 

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini: 

Romansa Pria Tajir Melintir dan Bella, Dulu Dekat Kini Saling Lapor

Banyuwangi – Pria Tajir Melintir Wahyu Widodo dan Bella pernah memiliki kedekatan di masa lalu. Namun kini keduanya saling melaporkan satu sama lain ke pihak berwajib.

Rabu (6/2), pria yang akrab disapa Raja Sengon itu dipanggil penyidik Polres Banyuwangi. Ia diperiksa terkait kasus pencemaran nama baik melalui media sosial, sesuai aduan wanita bernama Bella, warga Kecamatan Tegaldlimo, Banyuwangi.

Pria yang pernah mengaku memiliki 7 kontainer uang itu diperiksa selama 2 jam lebih oleh penyidik tindak pidana tertentu (tipidter) Polres Banyuwangi. Seperti yang disampaikan Kasat Reskrim Polres Banyuwangi, AKP Panji Prathista Wijaya.


“Sudah kita periksa. Setelah ada laporan tanggal 17 Januari lalu,” ujarnya kepada detikcom, Kamis (7/2/2019).

Raja Sengon diduga telah mencemarkan nama baik Bella dengan menuding Bella sebagai pelaku dan muncikari online di Banyuwangi. Tak hanya itu, Raja Sengon juga memposting foto Bella di Facebook dengan kalimat tersebut.

Namun sehari kemudian, pria tajir melintir itu juga melaporkan Bella dengan dugaan kasus pemerasan dan penggelapan barang. Menurut pengacara Raja Sengon, Mawardi, kliennya justru kerap diperas dan dimintai sejumlah uang oleh Bella.

“Klien kami punya bukti-bukti lengkap. Bahkan saat ini kami juga telah melaporkan balik Bella kepada Satreskrim Polres Banyuwangi atas dugaan penggelapan,” ujar Mawardi kepada wartawan.

Mawardi menjabarkan, pemerasan yang dilakukan Bella terhadap kliennya dilakukan dengan cara menakut-nakuti kliennya dengan foto vulgar antara keduanya. Foto-foto tersebut diambil oleh Bella dari i-cloud milik kliennya

“Melalui perantara dia minta uang Rp 20 juta. Itu yang membuat klien kami gerah. Hubungan antara keduanya itu dulu pernah dekat. Tidak tahu bagaimana tiba-tiba saja dia minta uang. Kan itu sama saja pemerasan. Kalau dugaan penggelapan ada yang dibawa Bella hingga saat ini,” tambahnya.

Di tempat terpisah, Bella mengaku tertekan dan enggan keluar rumah, setelah unggahan Raja Sengon terkait tuduhan dirinya sebagai muncikari online. Bahkan di dalam unggahan medsos tersebut, Raja Sengon sengaja menandai banyak orang.

“Saya malu mas. Mengenai keterangan pelaporan silahkan tanya pengacara saya,” kata Bella.
(iwd/fat)

<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>