Penyerangan Polsek Penjaringan yang Menegangkan

Jakarta – Dini hari Jumat, 9 November 2018, seorang pria melintasi Jalan Pluit Selatan Raya, Jakarta Utara dengan motornya. Dia berhenti di depan Polsek Penjaringan yang berdekatan dengan halte busway Landmark Pluit Auto Plaza.

Dia memarkirkan motornya di depan gerbang kantor polisi itu. Seorang petugas Sentra Pelayanan Kepolisian (SPK) yang malam itu piket, Brigadir Sihite, mendekati pria berkepala plontos itu.

Brigadir Sihite menyapa pria tersebut tetapi dibalas serangan membabi buta. Sebilah golok diayunkan pria itu ke arah Brigadir Sihite, sedangkan tangan satunya memegang pisau babi.

Mengetahui dalam keadaan bahaya, Brigadir Sihite berlari ke arah dalam kantor polisi itu. Pria yang menyerangnya mengejar Brigadir Sihite dan melemparkan pisau yang dipegangnya tadi hingga mengenai seorang petugas lainnya yang berjaga, AKP Irawan.

“Pelaku terus menyerang dengan berteriak ‘Allahu Akbar… Allahu Akbar…’ dan pelaku melempar pisau babi yang dipegang di tangan kirinya dan golok masih dipegang di tangan kanannya sambil menyerang petugas kepolisian,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono dalam keterangannya, Jumat (9/11/2018).

Pria yang belakangan diketahui bernama Rohandi pun menyabetkan goloknya dan mengenai tangan polisi tersebut hingga menimbulkan luka ringan. Lepas itu, Rohandi mengalihkan perhatiannya pada dua polisi lainnya, Aipda Dedi Raharjo dan Aipda Giyarto, yang berada di dalam Ruang Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA).

“Pelaku mengejar petugas lalu pelaku berbalik dan menyerang anggota reskrim, yaitu Aipda Dedi Raharjo dan Aipda Giyarto, yang ada di ruang PPA sambil berteriak ‘Allahu Akbar… Allahu Akbar…’,” ujar Argo.

Rohandi menyerang dengan buas hingga memecahkan pintu kaca dengan golok. Aipda Giyarto pun melepaskan tembakan peringatan dengan harapan Rohandi menghentikan serangannya. Namun tembakan peringatan itu tidak diindahkan Rohandi.

“Kemudian Aipda Giyarto melumpuhkan pelaku dengan menembak pangkal lengan pelaku sehingga golok yang dipegang pelaku terlempar dan pelaku dapat diamankan,” ujar Argo.

Informasi mengenai penyerangan itu pun diteruskan ke internal kepolisian. Tim Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror yang berjumlah kurang lebih 20 orang langsung merapat ke Polsek Penjaringan dan kediaman Rohandi.

Sedangkan Rohandi langsung diperiksa intensif. Belakangan setelah dicek latar belakangnya, Rohandi terbebas dari dugaan keterlibatan dengan jaringan terorisme tertentu.

Lalu apa motifnya?

“Iya yang nyerang itu orang yang sedang depresi,” ujar Kapolsek Penjaringan AKBP Rachmat Sumekar.

Rohandi mengaku depresi lantaran penyakit yang dideritanya tak kunjung sembuh. Pria yang membabi-buta menyerang polisi itu mengaku menderita penyakit getah bening.

“Dia mau bunuh diri, nggak berani bunuh diri, akhirnya dia nyerang polisi dengan harapan mau ditembak mati,” ucap Rachmat.

Menurut Rachmat, Rohandi tidak berniat melukai polisi tetapi hanya menakut-nakuti dengan golok dengan harapan ditembak mati. Namun niat Rohandi itu tidak terlaksana lantaran berhasil dilumpuhkan.

Dari pemeriksaan itu, polisi menetapkan Rohandi sebagai tersangka. Sedangkan perkaranya ditangani Polres Jakarta Utara. Selain itu, kondisi kejiwaan Rohandi juga bakal dicek.

“Kita jadwalkan untuk periksa kejiwaannya karena kan dari pihak keluarga mengatakan dia ada depresi,” kata Kapolres Jakarta Utara Kombes Reza Arief.

Bila nantinya Rohandi positif mengalami gangguan jiwa, kepolisian menyerahkan keputusan proses hukum pada Pengadilan Negeri Jakarta Utara. “Nanti kan itu pengadilan yang menentukan dia mampu mempertanggungjawabkan perbuatannya atau tidak. Kalau nggak kan dia nanti dimasukkan ke rumah sakit jiwa misalnya,” imbuh Reza.
(dhn/nvl)

<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *