Pengelola Hotel, Pengunjung Karaoke, dan Driver Online di Kasus Ciktuti

Jakarta – Polisi tengah mengurai benang kusut di kasus pembunuhan pemandu lagu Ciktuti Iin Puspita yang mayatnya ditemukan dalam lemari sebuah kosan di daerah Mampang Prapatan, Jakarta Selatan.

Sejumlah pihak yakni pengelola hotel, pengunjung karaoke, dan driver taksi online diperiksa polisi dalam kasus ini. Pemeriksaan terhadap para pihak ini untuk memastikan keterangan dari pelaku perempuan NR soal tip Rp 1,8 juta yang akan diberikan setelah menemani 4 tamu pria untuk karaoke.

Persoalan tip ini diakui NR sebagai pangkal penyebab dia bersama pacarnya, YAP, membunuh Ciktuti. NR mengatakan dari janji tip Rp 1,8 juta yang dijanjikan Ciktuti, hanya diberikan Rp 500 ribu.

Pengelola hotel akan diperiksa polisi soal pertemuan Ciktuti, NR, dan tamu-tamunya. Polisi juga memeriksa rekaman CCTV yang ada di hotel yang ada di kawasan Jakarta Pusat.

“Selama dua hari kemarin yang diperiksa itu teman wanitanya korban. Ternyata kegiatan mereka itu bukan hari Sabtu. Tapi dua hari sebelumnya, hari Jumat malam. Pergi ke salah satu tempat hiburan karaoke di wilayah Kemayoran Jakpus. Saat ini kami sedang minta CCTV tempat tersebut dan kami akan periksa pengelolanya,” kata Kapolres Jakarta Selatan Kombes Indra Jafar di Mapolda Metro Jaya, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Kamis (29/11/2018).

Indra mengatakan pihaknya juga telah mengantongi identitas keempat tamu yang bertemu dengan Ciktuti, NR, dan temannya. Seorang tamu di antaranya sudah diperiksa polisi.

Pasangan berinisial Y (24) dan NR (17), terduga pelaku pembunuhan pemandu lagu Ciktuti Iin Puspita (22)Pasangan berinisial YAP (24) dan NR (17), terduga pelaku pembunuhan pemandu lagu Ciktuti Iin Puspita (22) (Foto: Matius Alfons/detikcom)

Polisi mengatakan pertemuan ketujuh orang tersebut tidak terkait dengan pekerjaan Ciktuti dan NR sebagai pemandu lagu. Polisi mengatakan Ciktuti memang sudah janjian untuk bertemu dengan empat orang tamu tersebut.

NR butuh uang Rp 1,8 juta itu agar bisa pindah dari kosan Ciktuti. NR memang tinggal menumpang di kosan Ciktuti di Mampang Prapatan. Duit Rp 500 ribu disoal NR karena dianggap tidak cukup sebagai modal mencari tempat tinggal baru.

Sebelumnya polisi memang ingin mengetahui soal pertemuan Ciktuti, NR, bersama keempat tamu tersebut agar masalah tip Rp 1,8 juta jadi terang benderang. Untuk tahu soal pertemuan ini, polisi juga memeriksa driver taksi online.

Dari pemeriksaan ini, polisi malah mendapatkan fakta baru soal cekcok antara Ciktuti dengan NR. Ciktuti risi dengan NR yang hidup menumpang di kosannya.

Ciktuti sempat meluapkan kegerahannya itu kepada NR. Driver taksi online jadi salah satu saksi yang tahu Ciktuti menegur keras NR.

Kedua tersangka melakukan rekonstruksi saat memasukkan jasad Ciktuti ke dalam lemariKedua tersangka melakukan rekonstruksi saat memasukkan jasad Ciktuti ke dalam lemari (Foto: Lamhot Aritonang/detikcom)

“Mereka bertiga (Ciktuti, NR, dan temannya) sama driver online jadi empat (orang). Driver online mendengar pembicaraan yang sama yang temen wanita korban mendengar yang sama juga. Jadi intinya korban ini menegur ‘kamu bersyukur’ (dan) pokoknya macem-macem (teguran lain) lah. Keras lah,” ujar Indra.
Ciktuti juga disebut risi karena NR selalu melapor ke pacarnya mengenai kegiatan mereka. NR juga diketahui kerap bermesra-mesraan dengan pacarnya di kosan Ciktuti.

“‘Ini kamu pergi aja dari sini ini kamu ganggu saya aja’ (kata Ciktuti) gitu. ‘Kamu sedikit-sedikir lapor’. Lapor sama pacarnya itu,” ujar Indra menirukan cekcok antar korban dan tersangka.

Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Jakarta Selatan Kompol Andi Sinjaya Ghalib menyebut tersangka NR sempat mempunyai kesepakatan dengan Ciktuti untuk ikut membantu membayar kosan. Namun uang untuk kosan itu tak juga dibayarkan karena tersangka tak mempunyai uang.

“Ya mereka pacaran. Kadang ada sikap mereka yang… ya namanya pacaran, mereka mesra-mesraan kan. Ya mereka juga nggak ada uang. Awalnya mau ada kesepakatan untuk bantu-bantulah. Bantu-bantu kosan bayar,” ujar Andi.

Selain itu, tersangka NR meminta dicarikan pekerjaan kepada Ciktuti. Namun, menurut Andi, Ciktuti merasa risi karena NR sering melapor mengenai pekerjaannya itu kepada pacarnya, YAP.

“Karena dia butuh uang. Mohon cari-cari kerjaan. Si perempuan ini kan mau minta cari kerjaan di karaoke dengan tamu-tamu. Dia selalu minta izin sama pacarnya. Si korban juga tidak senang. ‘Kamu kok apa-apa lapor terus.’ Dia nggak senang,” tutur Andi kepada detikcom, Kamis (29/11/2018).

Persoalan ini semakin memuncak tatkala NR diusir dari kosan Ciktuti, tapi dia masih meminta dicarikan pekerjaan kepada korban. Ciktuti pun akhirnya membawa NR bekerja di sebuah hotel karaoke.

Pada poin inilah Ciktuti mengajak NR ke hotel di daerah Kemayoran, Jakpus, untuk menemani empat tamu hingga ada janji Rp 1,8 juta. Namun, setelah pekerjaan selesai, NR tak menerima uang seperti yang dijanjikan. Dia mengadukan hal tersebut kepada Ciktuti tapi malah dimarahi.

“Terus dijanjikan sama tamunya Rp 1,8 juta, kok ternyata dikasih Rp 500 ribu. Tapi sikapnya si korban kok tidak berempati, malah bilang, ‘Untung masih dibayar kan…,’ itu yang buat marah tuh. Pada saat kejadian itu, datang lagi malah diusir lagi. Ditanyain kenapa hanya bayar segitu? Malah marah-marah. Jadi karena itu,” beber Andi.

Setelah cekcok itu, NR pun menghubungi pacarnya YAP. YAP naik pitam dan terlibat cekcok dalam sambungan telepon dengan korban.

Cekcok berlanjut pada Minggu (18/11), saat korban datang ke rumah kos. Setelah bertengkar, YAP memukulkan palu ke kepala korban dan mengikat leher Ciktuti Iin Puspita dengan tali. Setelah itu, mayat korban dimasukkan ke lemari.
(jbr/rna)

<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *