Mabes Polri Awasi Penyelidikan Salah Tangkap Pelaku Pemerkosaan di Sumsel 

Liputan6.com, Jakarta – Mabes Polri ikut mengawasi proses penyelidikan kasus salah tangkap terhadap seseorang yang dituduh melakukan pemerkosaan di Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan.

Penyelidikan kasus yang diduga melibatkan oknum anggota kepolisian itu diserahkan ke Polda Sumsel. 

“Kami kedepankan (penanganan oleh) wilayah dulu. Tapi (Mabes Polri) tetap monitor perkembangannya,” ujar Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo di kantornya, Jakarta Selatan, Jumat (1/3/2019).

Seorang warga bernama Haris alias Ujang (25) tiba-tiba diculik sekelompok orang tak dikenal dan dipaksa naik mobil. Ujang kemudian dicecar sejumlah pertanyaan termasuk tuduhan pemerkosaan terhadap seorang bidan berinisial Y yang membuatnya bingung. 

Ujang bahkan terluka di sekujur tubuhnya akibat dipukuli sekelompok orang tak dikenal itu, lantaran terus mengelak dari tuduhan pemerkosaan.

“Korban (salah tangkap) sendiri, karena kondisinya itu ditutup matanya jadi tidak bisa mengindetifikasi siapa pelakunya,” ucap Dedi.

Pelaku penculikan dan penganiayaan tersebut memang belum teridentifikasi. Namun kuat dugaan, aksi itu melibatkan oknum anggota polisi. Apalagi para pelaku menginterogasi dugaan pemerkosaan bidan Y yang tengah diselidiki kepolisian. 

“Pak Kapolda sudah menyatakan apabila terbukti jika anggota polisi melakukan penegakkan hukum yang melanggar hukum, tentunya akan ditindak sesuai prosedur yang ada di internal kepolisian sekeras-kerasnya,” kata Dedi.

 

2 dari 2 halaman

Belum Temukan Bukti

Sementara itu, hingga saat ini polisi belum menemukan bukti yang memperkuat adanya tindak pidana pemerkosaan terhadap bidan Y.

Polisi masih terus mendalami kasus yang dilaporkan bidan desa di Kabupaten Ogan Ilir tersebut. 

“Belum ada perkembangan. Saya juga masih nunggu (laporan) Kabid Humas, masih dalam proses pendalaman. Saksi-saksi juga kebetulan sangat minim,” ujar Dedi. 

 

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:  

Habiburokhman Sakit Hati Puisi Neno Disebut Biadab

Jakarta – Juru Bicara Direktorat Advokasi Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Habiburokhman, mengatakan pernyataan mantan Ketum PP Muhammadiyah Buya Syafii Maarif yang menyebut puisi Neno Warisman biadab sangat melukai hati. Pernyataan itu dinilainya berlebihan.

“Pernyataan Buya Syafii Maarif yang menyatakan puisi Neno Warisman biadab sangat melukai hati. Sejauh ini kami menempatkan Buya Syafii sebagai ulama dan cendekiawan berhati mulia, namun pernyataan beliau kali ini menurut saya sangat berlebihan dan cenderung tidak adil,” kata Habiburokhman dalam keterangannya, Jumat (1/3/2019).

“Kalau puisi Mbak Neno dianggap biadab karena mengarah ke politisasi agama, bagaimana dengan mereka yang juga diduga mempolitisasi agama di kubu politik sebaliknya? Apakah biadab juga? Atau hanya yang bertentangan dengan 01 yang biadab?” imbuhnya.

Menurut Habiburokhman, kata biadab dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berkonotasi ekstrem dan dicontohkan dengan pemerkosaan anak di bawah umur. Habiburokhman sakit hati jika puisi Neno disamakan dengan pemerkosaan anak.

“Kata biadab mungkin berasal dari bahasa Persia yang berarti sekadar tidak bertata krama. Tetapi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata tersebut sangat ekstrem karena bisa berarti tidak beradab dan kejam dengan contoh pemerkosaan anak di bawah umur. Sakit sekali hati kami kalau puisi Mbak Neno disamakan dengan pemerkosaan anak di bawah umur. Terlebih jika yang menyampaikannya adalah sosok yang selama ini sangat kami hormati dan kagumi,” ungkapnya.

Politikus Gerindra ini meyatakan yang pantas dikatakan biadab adalah para koruptor dan pihak-pihak yang menggunakan kekuasaan untuk menindas lawan politik.

“Menurut saya, yang layak dikatakan biadab adalah para koruptor pencuri uang rakyat, atau jika ada pihak yang menggunakan pengaruh kekuasaan untuk menindas dan memenjarakan lawan politik,” ucap Habiburokhman.

Sebelumnya, Mantan Ketum PP Muhammadiyah, Buya Syafii Maarif, bicara soal doa yang dibacakan Neno Warisman di Munajat 212. Buya Syafii menyebut apa yang disampaikan Neno biadab dan Neno tak mengerti agama.

“Itu puisi, itukan sudah saya (jelaskan). Saya kemarin di Jakarta bicara ini puisi biadab. Biadab itu bahasa Persia, Bi itu artinya tidak, adab itu tata krama,” jelasnya.

Buya Syafii mengatakan, doa yang dipanjatkan Neno Warisman dengan membawa nama tuhan ke ranah Pemilu tak tepat. Apa yang dilakukan Neno, bagi Buya Syafii adalah perbuatan biadab.

“Ini dia membuat (membawa nama) Tuhan dalam Pemilu, itukan biadab, dan dia nggak ngerti agama. Neno itu nggak paham agama,” tegasnya.
(azr/idn)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Top 3 Berita Hari Ini: Siswi SMP Jember Hilang Keperawanan Akibat Rayuan Miras

Liputan6.com, Jember – Top 3 berita hari ini mengungkap aksi pencabulan yang dilakukan seorang remaja putus sekolah (18) terhadap siswi SMP di Jember. Aksi bejat pelaku terungkap setelah korban mengaku telah ditiduri pria yang baru dikenalnya.

Oleh polisi, GN berhasil diciduk di rumahnya. Dari pengakuan pelaku, korban terlebih dulu diberi minuman keras agar mudah diajak untuk berhubungan badan. Perbuatan tersebut telah dilakukan GN sebanyak dua kali terhadap korban.

Sementara itu, kisah haru datang dari Provinsi Aceh. Seorang bapak menggantikan posisi anaknya di acara wisuda karena sang putri meninggal dunia akibat penyakit asam lambung.

Seperti teman-temanya di Prodi Kimia, Fakultas Tarbiyah, sejatinya saat itu Rina Muharami akan mengenakan atribut wisuda. Namun, Tuhan berkehendak lain. 

Bukhari tidak dapat menyembunyikan kesedihan dari raut mukanya, terlebih saat Rektor UIN Ar-Raniry, Prof Warul Walidin memeluk pria yang kesehariannya bekerja sebagai petani.

“Itu (SKL, red) nanti kita simpan sebagai kenang-kenangan karena dari awal saya sudah menguliahkan almarhum. Seharusnya, dia yang pertama mendapat gelar sarjana di keluarga,” ujar Bukhari, kepada Liputan6.com.

Berikut berita terpopuler dalam Top 3 Berita Hari Ini:

1. Rayuan Miras dan Hilangnya Keperawanan Gadis SMP di Jember

Foto: Dian Kurniawan/ Liputan6.com.

Siswa putus sekolah berinisial GN (18), warga Dusun Besuki Desa Sidomekar Kecamatan Semboro Kabupaten Jember, Jawa Timur, ditangkap polisi lantaran merayu siswi SMP minum minuman keras lalu mencabulinya.

Menurut Fathur, saat diinterogasi di Mapolsek Semboro, GN mengaku lebih dari sekali meniduri korban yang berasal dari kecamatan lain, yakni Kecamatan Gumukmas, Kabupaten Jember. Pertama kali korban dipaksa menyerahkan kegadisannya, Jumat, 1 Februari 2019.

Modusnya, tersangka GN menghubungi korban melalui WA, mengundang untuk datang ke rumahnya.

Selengkapnya…

2. Bikin Haru, Bapak di Aceh Diwisuda Gantikan Anaknya yang Meninggal Usai Skripsi

Bukhari lengkap dengan toga naik ke podium wisuda yang digelar Universitas Islam Negeri (UIN) Arraniry Banda Aceh, Kamis (27/2/2019). (Liputan6.com/ Rino Abonita)

Di rumah Bukhari (57) tentu saja tidak terpajang foto Rina Muharami sedang mengenakan topi wisuda dan baju toga. Putrinya itu berpulang sebelum sempat mengenakan atribut wisuda.

Rina sejatinya ikut dalam barisan wisudawan dan wisudawati saat acara wisuda yang digelar Universitas Islam Negeri (UIN) Arraniry Banda Aceh, Rabu, 27 Februari 2019. Namun, Rina meninggal dunia tepat sehari setelah ia menyelesaikan sidang skripsi pada 24 Januari 2019 lalu.

Anak pertama pasangan Bukhari-Nur Bayani itu meninggal karena penyakit asam lambung yang dideritanya.

Bukhari tidak pernah menyangka, kiranya dia yang akan mewakili putrinya menjadi sarjana.

Selengkapnya…

 3. Kronologi Dugaan Penganiayaan oleh Bahar bin Smith Versi Dakwaan JPU

Terdakwa kasus penganiayaan remaja, HB Assayid Bahar bin Smith menjalani sidang dakwaan di Pengadilan Negeri Klas IA Bandung, Kamis (28/2/2019). (Huyogo Simbolon)

Terdakwa kasus penganiayaan remaja, HB Assayid Bahar bin Smith menjalani sidang dakwaan di Pengadilan Negeri Klas IA Bandung, Kamis (28/2/2019). Selain Bahar, dua rekannya yakni Agil Yahya dan Basit Iskandar yang berstatus terdakwa juga turut disidang.

Jaksa mengatakan, pada Senin, 26 Nopember 2018 saksi korban CAJ (18) diajak oleh rekannya MKU (17) untuk menemani mengisi acara di Seminyak, Bali. CAJ yang disuruh MHU mengaku sebagai Habib Bahar bin Smith dalam acara tersebut.

Kemudian pada 1 Desember 2018 sekitar pukul 09.00 WIB, Bahar memerintahkan saksi Agil Yahya, untuk menemui Basid dan mengajak Habib Husein, Wiro, Keling (tersangka belum tertangkap) untuk membawa CAJ ke Pondok Pesantren Tajul Al Awiyin.

Selengkapnya…

2 dari 2 halaman

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Benarkah Bukti Kasus Pelecehan Seksual Anak Sengaja Dilenyapkan dari Gereja Katolik?

Liputan6.com, Roma – Seorang Uskup Agung di Munich (Jerman), Kardinal Reinhard Marx, mengatakan kepada 190 pemimpin gereja yang berkumpul di Roma bahwa prosedur untuk menyelidiki dan menghukum para pendeta pedofil sering diabaikan.

“Arsip yang mendokumentasikan perbuatan mengerikan dan mengungkapkan identitas pelaku kejahatan seksual pada anak, telah sengaja dihancurkan, atau bahkan tidak dibuat,” katanya, seperti dikutip dari ABC Indonesia, Minggu (24/2/2019).

Komisi kerajaan Australia menemukan “asas kerahasiaan berlaku” di Gereja Katolik, dan dokumen tentang tuduhan pelecehan seksual anak seringkali tidak disimpan.

Peter Isely, dari Ending Clergy Abuse, mempertanyakan apakah para kardinal telah merujuk para uskup yang menutupi kejahatan ini kepada otoritas sipil. “Mereka telah menghancurkan bukti kejahatan terhadap anak-anak yang diperkosa. Kardinal Marx tahu siapa para pelaku itu,” ucap Isely.

Sementara itu, Vatikan dianggap memiliki berbagai lembaga untuk menyelidiki kejahatan pelecehan seksual anak ini, tetapi Kardinal Marx mengkritik penggunaan “asas rahasia kepausan” dalam beberapa kasus.

“Gereja tidak boleh beroperasi di bawah standar kualitas administrasi peradilan publik, jika tidak ingin menghadapi kritik bahwa gereja memiliki sistem hukum yang lebih rendah yang berbahaya bagi orang-orang,” ungkap Marx.

Sedangkan Uskup Agung di Brisbane, Mark Coleridge, mengklaim bahwa ia mengetahui adanya “penumpukan” kasus yang telah dirujuk ke penyelidik di Vatikan, termasuk beberapa kasus itu berasal dari Australia. “Saya tahu ada sesuatu yang menjadi hambatan … dalam arti saya pikir mereka telah kebanjiran kasus, mereka telah meminta semua kasus ini dilaporkan ke Roma,” akunya.

Salah satu pidato yang paling banyak mendapat perhatian dalam pertemuan Paus tentang perlindungan anak di bawah umur, disampaikan oleh salah satu dari sedikit wanita yang diundang untuk berpartisipasi dalam acara itu.

Suster Veronica Openibo, biarawati dari Nigeria, menegaskan bahwa Gereja Katolik harus bertanggungjawab atas kegagalannya. “Kita harus mengakui bahwa keadaan biasa-biasa saja, kemunafikan, dan rasa puas diri kita telah membawa kita ke tempat yang memalukan dan tidak bermartabat yang kita kenal sebagai gereja,” serunya.

Dia juga mengecam gereja, karena telah berlindung dibalik citra sebagai “penjaga standar moral” ketika kasus-kasus pelecehan seksual anak justru disembunyikan dari muka dunia.

Kisah-kisah tentang wanita yang telah mengalami pelecehan seksual di gereja menjadi terang benderang, termasuk pemerkosaan para biarawati.

Openibo menggarisbawahi bahwa ada “diskriminasi gender dan peran perempuan telah diabaikan di gereja.”

Pada pembukaan KTT itu, seorang wanita tak dikenal asal Afrika menceritakan kisahnya kepada para uskup dan menyampaikan, dia dihamili sebanyak tiga kali oleh seorang pemuka agama yang memperkosanya selama 13 tahun.

“Saya merasa hidup saya hancur,” kenangnya sembari berurai air mata.

Di samping itu, jurnalis veteran Vatikan, Valentina Alazraki, juga berpidato kepada para uskup bahwa media akan terus menjadi “mimpi terburuk” gereja jika mereka tidak segera menangani krisis ini.

“Laporkan hal-hal (pelecehan seksual) ketika Anda mengalaminya. Itu adalah satu-satunya cara, jika Anda ingin masyarakat mempercayai gereja ketika Anda mengatakan ‘mulai sekarang kita tidak akan lagi mentolerir dan menutup-nutupi’,” tegasnya.


Saksikan video pilihan berikut ini:

2 dari 2 halaman

Italia Dinilai Lamban

Berkali-kali selama berlangsungnya KTT Uskup pada akhir pekan ini di Roma, seorang korban pelecehan seksual anak bernama Alessandro Battaglia, mengutarakan kenangannya mengenai kejadian nahas yang dialaminya.

Dia berusia 15 tahun ketika seorang pendeta melecehkannya, dan pria itu baru-baru ini dinyatakan bersalah di pengadilan Italia.

Dari Milan, Alessandro Battaglia datang ke Roma untuk bertemu dengan para penyintas korban pelecehan imam gereja lainnya, untuk memprotes respons gereja terhadap krisis pelecehan seksual di kalangan gereja di Italia.

“Mereka ingin mengutamakan reputasi mereka dibandingkan kehidupan anak-anak. Ini cara hidup para kriminal,” ucapnya.

Pria berusia 23 tahun itu mengatakan, pemerintah Italia lamban untuk mengambil tindakan karena ikatan mendalam Italia dengan Gereja Katolik Roma. “Kondisi penangan kasus ini berbeda di Italia karena kami memiliki Vatikan di sini,” menurutnya.

Di sela-sela pertemuan puncak itu, ratusan umat Katolik datang ke Roma untuk mendesak Paus Fransiskus agar melibatkan lebih banyak orang awam dan perempuan dalam pengambilan keputusan.

Wanita-wanita Amerika dari Gerakan Pekerja Katolik berziarah untuk mendoakan para penyintas, termasuk Claire Schaeffer-Duffy dari Massachusetts.

“Ini adalah isyarat iman sebagai penyintas untuk berada di sini dan mengatakan kepada gereja Anda harus menghadapi ini,” pungkasnya. “Karena jika anda tidak memiliki keyakinan anda tidak akan datang, anda akan mengatakan lupakan mereka bahwa mereka hanya nasib buruk, saya akan pergi.”

Komisi VIII DPR: Pelaku Incest Biadab, Harus Dihukum Maksimal!

Jakarta – Komisi VIII DPR menilai kasus incest atau hubungan sedarah yang dilakukan ayah M (45), dan kakaknya, SA (24), serta adiknya, YF (15) terhadap perempuan berinisial AG (18) di wilayah Kabupaten Pringsewu, Lampung tak bermoral. DPR meminta pelaku dihukum maksimal.

“Tindakan incest atau hubungan sedarah dalam rumah tangga dan dilakukan dengan cara kekerasan atau pemerkosaan merupakan tindakan yang sangat tidak bermoral alias biadab,” kata Wakil Ketua Komisi VIII, Ace Hasan Syadzily, saat dihubungi Minggu (24/2/2019).

Ace menilai kasus kekerasan seksual tersebut telah melanggar UU No 23 tahun 2004 tentang kekerasan dalam rumah tangga dan UU No 35 tahun 2014 tentang perlindungan anak. Dimana semestinya korban anak harus dilindungi.

Ia meminta para pelaku dihukum secara maksimal. Apalagi karena peristiwa tersebut dilakukan oleh orang dekat anak.

“Pelaku kekerasan seksual terhadap anak itu harus diberikan hukuman yang maksimal. Tindakan ini jelas merupakan tindakan yang melanggar hukum. Apalagi dilakukan kepada orang yang seharusnya dilindungi oleh orang-orang terdekatnya, yaitu ayah, kakak dan adiknya,” ungkap Ace.

“Kami berharap penegak hukum dapat memberikan hukuman yang maksimal kepada para pelaku kekerasan itu. Para pelakunya telah melanggar Undang-Undang UU No 35 tahun 2014 tentang perlindungan anak pasal 76D dengan hukuman sebagaimana tertera dalam pasal 81 (3) lebih maksimal yaitu 15 tahun penjara ditambah dengan sepertiga dari hukuman maksimal tersebut,” ungkapnya.

Ace mendesak pada pemerintah, terutama Kementerian Perempuan dan Perlindungan Anak dan pemerintah daerah untuk segera memberikan layanan psikologis terhadap korban agar dirinya betul-betul merasa dilindungi.

Sebelumnya, polisi menangkap ketiga tersangka di kediaman mereka di wilayah Pringsewu, Lampung. Mereka yang ditangkap adalah ayah kandung korban berinisial M (45) serta kakak berinisial SA (24) dan adik berinisial YF (15). Korban sendiri merupakan perempuan berinisial AG (18).

Ayah kandung korban berinisial M (45), kakaknya berinisial SA (24), dan adiknya, YF (15), berulang kali memperkosa AG di rumah mereka di Pekon Panggung Rejo, Kecamatan Sukoharjo, Kabupaten Pringsewu, Lampung. AG tak kuasa melawan karena takut. Selain itu, dia diketahui mengalami keterbelakangan mental.

“Kakaknya itu sudah menyetubuhi 120 kali dalam setahun, adiknya 60 kali. Kalau bapaknya sudah berulang kali, saya yakin sudah sering,” kata AKP Edi saat dihubungi detikcom lewat telepon. Edi meyakini rata-rata pelaku menyetubuhi korban lebih dari satu kali setiap hari.
(yld/rvk)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Komnas Perempuan Minta Pelaku Incest di Lampung Dihukum Berat dan Direhab

Jakarta – Komnas Perempuan meminta pelaku incest atau hubungan sedarah yang dilakukan ayah M (45), dan kakaknya, SA (24), serta adiknya, YF (15) terhadap perempuan berinisial AG (18) di wilayah Kabupaten Pringsewu, Lampung dihukum berat. Selain itu Komnas Perempuan juga meminta pelaku direhabilitasi supaya tidak mengulangi lagi kesalahannya.

“Seluruh elemen (pemerintah, penegak hukum dan pemuka agama dan masyarakat) harus dioptimalkan peran dan fungsinya dalam menghentikan kekerasan seksual, oleh anggota keluarga ini. Ini tidak boleh dilihat sebagai persoalan privat urusan masing-masing keluarga. Masyarakat perlu meningkatkan kepedulian satu sama lain, penegakan hukum maksimal kepada pelaku incest juga perlu dibarengi dengan rehabilitasi perilaku, untuk mencegah incest berulang,” kata Ketua Komnas Perempuan, Azriana Manalu, saat dihubungi, Minggu (24/2/2019).

Azriana mengatakan kasus tersebut menunjukan perempuan rentan menjadi korban pemerkosaan meskipun dirumahnya sendiri, yang semestinya dilindungi. Ia mengatakan pada tahun 2017 kaus incest yang dilaporkan sebanyak 1210 kasus sehingga sangat mengkhawatirkan. Ia berharap aparat kepolisian dan pemda setempat melakukan pendampingan hingga korban pulih kembali.

“Hal penting lainnya adalah pemulihan korban. Korban Incest tentu mengalami dampak yang cukup kompleks dan serius, jika dilihat dari rentang waktu dia mengalami pemerkosaan, apalagi jika itu berlangsung sejak dia masih usia anak. Kami berharap korban sudah mendapatkan penanganan terbaik untuk pemulihannya. Jangan sampai terabaikan, hanya karena kita semua sedang berfokus pada pelaku,” ungkapnya.

“Semoga kasus Lampung ini juga semakin membukakan mata kita, bahwa kekerasan seksual sudah sangat mendesak untuk disikapi secara serius, termasuk mempercepat hadirnya sistem hukum yang mampu mengenali keluasan persoalan kekerasan seksual dan melindungi para korban,” sambungnya.

Ketiga pelaku yakni M, SA, dan YF saat ini sudah ditahan polisi dan ditetapkan sebagai tersangka. Mereka dipersangkakan Pasal 76D dan Pasal 81 ayat (3) UU RI No 17 Tahun 2016 tentang Perlindungan Anak serta Pasal 8 huruf a jo Pasal 46 UU RI No 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga atau Pasal 285 KUHP.

“Ancaman hukuman untuk Pasal 81 ayat 3 UU RI No 17 Tahun 2016 tentang Perlindungan Anak minimal 5 tahun maksimal 15 tahun ditambah sepertiga dari ancaman maksimal apabila dilakukan oleh orang tua, wali, orang-orang yang mempunyai hubungan darah. Untuk Pasal 46 UU RI No 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga ancaman hukuman paling lama 12 tahun. Untuk Pasal 285 KUHPidana ancaman hukuman paling lama 12 tahun,” jelas Kasat Reskrim Polres Tanggamus AKP Edi Qorinas saat dihubungi detikcom lewat telepon, Sabtu (23/2).

(yld/rvk)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Sorakan Pendukung Atletico: Ronaldo si Pemerkosa

MadridCristiano Ronaldo menjalani malam yang berat di Wanda Metropolitano. Selain Juventus kalah dari Atletico Madrid, dia juga jadi sasaran serangan verbal fans lawan.

Ronaldo tak bisa berbuat banyak membantu Juventus terhindar dari kekalahan saat bertamu ke Atletico Madrid di leg pertama babak 16 besar Liga Champions, Kamis (21/2/2019) dinihari WIB. Bianconeri pulang dari markas Atletico dengan kekalahan 0-2.

Bintang sepakbola Portugal itu juga ikut ‘berperan’ dalam gol kedua Atletico. Tembakan Diego Godin dari sudut sempit sempat membentur tubuhnya sebelum masuk ke gawang.

Di nyaris sepanjang pertandingan, Ronaldo juga dapat tekanan besar dari pendukung garis keras Atletico. Terdengar teriakan ‘Ronaldo Mati’ dan ‘Ronaldo si Pemerkosa’. Demikian dikutip dari Marca.

Serangan verbal tersebut terkait dengan kasus pemerkosaan yang kini membelit Ronaldo. Dia tuding memperkosa seorang wanita di Amerika Serikat beberapa tahun lalu. Kasusnya masih berlangsung hingga kini.

Ronaldo tentu saja juga merupakan musuh besar Atletico. Selama sembilan tahun membela Real Madrid, dia mencetak 22 gol dalam 31 pertandingan Derby Madrid.

(din/din)

Wanita Tukang Pijat di Mojokerto Diculik 2 Pria Lalu Dipukuli

Mojokerto

Tukang pijat bernama Suprapti (42) diculik 2 pria tak dikenal di Jalan Empunala, Kota Mojokerto. Wanita asal Magersari ini sempat dipukuli pelaku di areal persawahan.

Aksi kekerasan ini terjadi di Lingkungan Keboan, Kelurahan Gunung Gedangan, Kecamatan Magersari. Lokasinya di areal persawahan sebelah barat pabrik pengolahan plastik.

Satpam pabrik, Bagus Widodo mengatakan, sekitar pukul 19.00 WIB, dirinya diberitahu warga soal teriakan orang meminta pertolongan dari areal persawahan, di dekat tempatnya bekerja. Bersama dua warga Lingkungan Keboan, Bagus mendatangi lokasi asal suara tersebut.

“Warga sini sedang nongkrong di tepi sawah mendengar teriakan minta tolong, datangnya dari sebelah barat pabrik. Karena kelihatan ada lampu sein sepeda motor yang nyala dari arah suara itu,” kata Bagus kepada detikcom di lokasi kejadian, Selasa (12/2/2019).

Benar saja, di areal persawahan, dia menemukan Suprapti dalam kondisi tak berdaya. Kepala bagian belakang tukang pijat keliling ini mengalami pendarahan. Mata sebelah kanan korban lebam. Korban mengaku dipukuli dua pria tak dikenal yang telah menculiknya.

“Celana korban sudah dilepas sama pelakunya, ada bercak darah di sekitar pahanya, nampaknya diperkosa,” ungkap Bagus.

Namun, pelaku lebih dulu kabur saat warga mendatangi korban. Menurut Bagus, pelaku adalah 2 pria mengendarai sepeda motor warna hitam.

“Pelaku kabur ke arah Mojoanyar (Kabupaten Mojokerto), nopol sepedanya kami tak sempat melihatnya karena laju sepeda motornya kencang,” ujarnya.

Kejadian dilaporkan warga ke Ketua RT di lingkungan Keboan. Laporan tersebut diteruskan ke Polres Mojokerto Kota.

Polisi dari unsur Unit Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT), Tim Indentifikasi hingga Unit Resmob Satreskrim Polres Mojokerto Kota datang ke lokasi untuk olah tempat kejadian perkara (TKP) dan memintai keterangan sejumlah saksi.

Di lokasi, petugas menemukan sebuah helm berwarna hitam milik pelaku. Sementara korban dibawa petugas ke RS Hasanah di Jalan HOS Cokroaminoto, Kota Mojokerto untuk divisum dan diobati lukanya.

Kakak kandung korban Priyanto menuturkan, Suprapti diculik 2 pria tak dikenal dalam perjalanan pulang usai memijat pelanggannya di kawasan Pasar Tanjung Anyar, Jalan Residen Pamudji, Kota Mojokerto. Saat itu korban berjalan kaki seorang diri.

Menurut dia, Suprapti selalu membawa uang dalam jumlah besar dari upah memijat. Uang itu selalu disimpan korban di balik bajunya.

“Sampai di depan pasar burung Jalan Empunala, adik saya diculik dua pria tersebut, dia dibonceng paksa oleh pelaku,” terang Priyanto di IGD RS Hasanah.

Kanit SPKT Polres Mojokerto Kota Aiptu Eko Purwanto menjelaskan, hasil visum di rumah sakit menunjukkan korban mengalami luka di kepala belakang dan mata sebelah kanan akibat dipukuli pelaku penculikan.

“Visum untuk dugaan pemerkosaan kami lakukan besok karena ini tadi dokternya sedang tidak ada” jelasnya.

Dari keterangan sementara, korban mengaku tidak mengenal dengan 2 pria yang membawanya. Uang yang dibawa masih utuh.

“Pengakuan korban dibonceng paksa oleh dua pria tak dikenal. Motifnya masih kami dalami,” ujarnya.


(fdn/fdn) <!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Trauma Aksi KKSB, Tenaga Pengajar Enggan Kembali ke Nduga Papua

Jayawijaya – Sejumlah tenaga pengajar yang sebelumnya bertugas di beberapa sekolah di Kabupaten Nduga, Papua enggan kembali bertugas. Alasannya, mereka trauma akibat penyanderaan, pemerkosaan serta ancaman dari Kelompok Kriminal Sipil Bersenjata (KKSB).

“Sehingga para tenaga pengajar atau guru tidak mau kembali ke sekolah masing-masing,” ujar Dandim 1702/Jayawijaya, Papua, Letkol Inf Candra Dianto,” sebagaimana dilansir dari Antara, Senin (11/2/2019).

Akibat tenaga pengajar enggan kembali ke Nduga, sejumlah sekolah yang berada di wilayah operasi KKSB sama sekali tidak berjalan. Hal itu juga menyebabkan sejumlah guru, masyarakat, termasuk anak-anak sekolah mengungsi ke Kabupaten Jayawijaya.
“Sebagai pendatang (non penduduk lokal) merasa trauma dan ketakutan. Yang lebih fatal dari kejadian tersebut adalah tidak adanya proses belajar mengajar hingga saat ini di wilayah tersebut. Siswa siswi SD hingga SMA yang merupakan generasi penerus bangsa tidak dapat mengenyam pendidikan,” katanya.

Candra mengaku telah membangun koordinasi dengan pemerintah Nduga agar para murid yang datang ke Jayawijaya, bisa segera kembali dan melanjutkan pendidikan di Kabupaten Nduga.

“Saya sudah berkoordinasi dengan pemerintah setempat agar siswa-siswi yang berdatangan ke Wamena seluruhnya dapat melanjutkan sekolah di Kenenyam yang merupakan Ibu Kota Kabupaten Nduga,” ujar Candra.

Hingga kini, kata Candra ada sekitar 320 orang anak Nduga yang berada di Kabupaten Jayawijaya. Mereka bersekolah di sekolah darurat yang berada di halaman gedung gereja di Elekma, Jayawijaya.

“Seluruh siswa-siswi yang mengenyam pendidikan di Wamena, mereka tinggal di rumah sanak keluarganya yang sebagian besar berada di Kampung Elekma. Hal ini disebakan pasca kejadian penyanderaan, pemerkosaan serta ancaman dari KKSB,” pungkasnya.
(mae/abw)

<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Cabuli Anak Kandung, Ayah Bejat Diamankan di Polrestabes Medan

Liputan6.com, Medan – Tim Penanganan Gangguan Khusus (Pegasus) Polrestabes Medan mengamankan seorang ayah yang tega mencabuli dua buah hatinya. Kedua korban berstatus anak di bawah umur yang masih berusia 9 dan 10 tahun.

Kasat Reskrim Polrestabes Medan, AKBP Putu Yudha mengatakan, pelaku pencabulan yang diamankan berinisial YA alias Mamat (34) warga Dusun XI, Jalan Medan-Batang Kuis, Pondok I, Desa Bandar Klippa, Kecamatan Percut Sei Tuan.

“Perbuatan pelaku terhadap anak kandungnya ini diketahui oleh istrinya, kemudian melapor ke kita,” kata Putu Yudha, Sabtu, 9 Februari 2019.

Putu Yudha menjelaskan, dari laporan istri pelaku yang merupakan ibu kandung korban, R (36), perbuatan bejat pelaku pertama kali diketahui pada 2017. Saat itu, R baru saja bangun tidur dan melihat pelaku tengah mencabuli anak perempuannya, SAN (10).

Melihat hal tersebut kemudian R langsung marah. Akibat kemarahan R, terjadi percekcokan antara dirinya dengan pelaku, yang sehari-harinya bekerja sebagai sopir mobil pikap.

Selanjutnya, pada 1 Desember 2018, sekitar pukul 07.00 WIB, NSN (9), putri bungsu mereka juga mengaku telah dicabuli pelaku. Mendengar hal itu, R langsung menginterogasi SAN dan NSN.

“Dari hasil pengakuan kedua anaknya, mereka mengaku sering dicabuli pelaku, ayahnya sendiri,” ucap Putu Yudha.

2 dari 2 halaman

Modus Pelaku

Tidak tahan dengan kelakuan suaminya, R, yang sehari-harinya berstatus sebagai ibu rumah tangga melaporkan tindakan Mamat ke Polrestabes Medan, yang kemudian mengamankan pelaku di kediamannya.

“Setelah kita amankan, pelaku kita interogasi. Ternyata, pelaku mengaku perilaku bejatnya sudah dilakukan sejak 2015. Saat itu, anak-anaknya masih sangat kecil,” ungkap Putu Yudha.

Selain itu, masih dari pengakuan pelaku, dia juga sering menurunkan celana anak-anaknya. Kemudian pelaku menepuk-nepuk bokong kedua anaknya tersebut. Pelaku juga selalu membuka celananya hingga telanjang.

Atas perbuatan bejatnya tersebut, pelaku dijerat dengan Pasal 81 ayat (1),(2) (3) jo 76D atau Pasal 82 Ayat (1) (2) Jo 76 E Undang-Undang Republik Indonesia Nomir 35 Tahun 2014 tentang perubahan atas Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

“Ancaman hukuman di atas 5 tahun penjara,” Putu Yudha menandaskan.


Simak video pilihan berikut ini: