Aksi Penerbang Pesawat Tempur Masuk Parit Bersihkan Sampah di Pasar

Liputan6.com, Pekanbaru- Pemandangan tak biasa terlihat di Pasar Pagi Arengka Kota Pekanbaru, Kamis, 21 Februari 2019. Puluhan pria bercelana loreng beramput cepak terlihat berbaris di lokasi yang masih dikelilingi sampah itu.

Beberapa di antaranya merupakan pilot pesawat tempur. Matahari yang mulai terik tak sedikitpun merubah barisan para prajurit yang selama ini bertugas di Pangkalan Udara Roesmin Nurjadin Pekanbaru.

Sejurus kemudian, usai komandan memberikan perintah, mereka mengambil sapu lidik, sekop, dan alat kebersihan lainnya. Tanpa ragu-ragu, prajurit TNI AU ini langsung masuk parit lalu mulai mendongkel sampah, mengumpulkan dan diletakkan ke wadah yang disediakan.

Menurut Komandan Lanud Roesmin Nurjadin Marsma TNI Ronny Irianto Moningka ST MM, apa yang dilakukan prajuritnya untuk memperingati Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) tahun 2019. Kegiatan ini disebutnya bertujuan agar masyarakat tak membuang sampah di tempat keramaian.

“Ini aksi nyata, membersihkan sampah yang berserakan di sini. Prajurit diharap menjadi contoh bagi masyrakat,” kata pria berbintang satu di pundaknya ini, usai terjun langsung mengutip sampah.

Dia menjelaskan, HPSN dicatuskan untuk memperingati tragedi longsor sampah di Leuwigajah, Jawa Barat pada 21 Februari 2005. Penyebab longsor tersebut kala itu diduga karena curah hujan tinggi serta ledakan gas Metana (CH4) yg terperangkap terhadap timbunan sampah.

Longsoran gunungan sampah tersebut menelan lebih dari 150 jiwa. Peristiwa pilu ini dinyatakan sebagai bencana lingkungan, di mana mayoritas korbannya adalah penduduk di sekitar TPA yang bekerja sebagai pemulung.

“Tujuan diperingati sebagai komitmen bersama agar bencana akibat pengelolaan sampah yang kurang baik dan tidak berwawasan lingkungan tak terulang kembali,” imbuh Ronny.

Di samping itu, tambah Ronny, kegiatan ini merupakan wujud kemanunggalan Lanud Roesmin masyarakat sekitaran Pasar Pagi Arengka serta Pemerintah Provinsi Riau.

Menurut Ronny, sampah bisa menjadi kawan dan bisa jadi lawan. Hal itu tergantung bagaimana warga memperlakukannya karena sampah bisa bisa menjadi penyakit, merusak lingkungan.

“Namun bila ditangani dengan baik maka akan bermanfaat bagi masyarakat serta sejalan dengan hal ini. Dan Panglima TNI menginginkan seluruh jajaran AD, AL, AU untuk turun langsung dalam kegiatan HPSN ini,” terang Ronny.

Begini Alur dan Skor Seleksi Kompetensi di PPPK

Liputan6.com, Jakarta – Seleksi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) Tahap I akan digelar pada 23 hingga 24 Februari 2019. Peserta PPPK akan melalui tahap Computer Assisted Test (CAT) terlebih dahulu untuk menyelesaikan tes kompetensi.

Berdasarkan rilis resmi BKN, peserta akan mendapat waktu 100 menit untuk menyelesaikan 40 soal Kompetensi Teknis, 40 soal Kompetensi Manajerial, dan 20 soal kompetensi sosio kultural.

Ada pula wawancara berbasis komputer selama 20 menit yang terdiri atas 10 soal.

Berikut metode penilaian masing-masing subtes yang harus dikerjakan pelamar PPPK:

1. Kompetensi teknik: nilai 3 jika jawaban benar dan 0 jika salah atau kosong.

2. Kompetensi manajerial: nilai 1 jika jawaban benar dan 0 jika salah atau kosong.

3. Kompetensi sosio kultural: nilai 2 jika benar dan 0 jika jawaban salah atau kosong.

4. Wawancara berbasis komputer: nilai 3 atau 2 atau 1 untuk jawaban yang diberikan dan jika kosong atau tak menjawab nilainya 0

Pada peserta yang lolos seleksi administrasi PPPK bisa mengikuti tahap tes ini. Pengumuman seleksi administrasi dilakukan melalui Badan Kepegawaian Daerah (BKD) setempat atau via situs resmi SSCASN. Sejauh ini, terdapat 73.393 pelamar dinyatakan lolos seleksi administrasi. 

Sekadar informasi, rekrutmen PPPK Tahap 1 ini dikhususkan untuk Tenaga Harian Lepas (THL) Penyuluh, Dosen Perguruan Tinggi Negeri (PTN) Baru, serta eks Tenaga Honorer Kategori II untuk jabatan Guru (termasuk Guru Kemenag), Tenaga Kesehatan, Penyuluh Pertanian dari yang ada dalam database BKN tahun 2013, dan memenuhi persyaratan Peraturan Perundang-Undangan.

2 dari 5 halaman

95.290 Orang Daftar PPPK Tahap 1, Daerah Mana yang Paling Diburu?

Masa pendaftaran rekruitmen Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK/P3K) Tahap 1 melalui laman sscasn.bkn.go.id, resmi ditutup pada 17 Februari 2019 pukul 24.00 WIB.

Rekrutmen PPPK Tahap 1 ini dikhususkan untuk Tenaga Harian Lepas (THL) Penyuluh, Dosen Perguruan Tinggi Negeri (PTN) Baru, serta eks Tenaga Honorer Kategori II untuk jabatan Guru (termasuk Guru Kemenag), Tenaga Kesehatan, Penyuluh Pertanian dari yang ada dalam database BKN tahun 2013, dan memenuhi persyaratan Peraturan Perundang-Undangan.

Data pada situs Sistem Seleksi Calon Aparatur Sipil Negara (SSCASN) menyebutkan per 18 Februari 2019 pukul 00.01 WIB akun pelamar seleksi PPPK berjumlah 95.290 dan akun yang berhasil mendaftarkan atau submit dokumen pada web SSCASN sebanyak 87.561.

Dalam data yang dilaporkan oleh Tim Publikasi SSCASN di akun Facebook BKN, status submit dokumen pada Kementerian Agama sebesar 9.642 dan Kementerian Riset, Teknologi, Dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) sebesar 3.031.

Sementara itu, dalam data tersebut juga dapat dilihat bahwa terdapat Wilayah Kerja Kantor Regional (Wilker Kanreg) yang paling banyak diburu. Kira-kira Wilker Kanreg BKN mana saja? Berikut uraiannya: 

3 dari 5 halaman

Daftarnya

Wilker Kanreg BKN Yogyakarta

1. Kab Brebes: 906

2. Kab Jepara: 697

3. Kab Demak: 691

Wilker Kanreg BKN Surabaya

1. Kab Jember: 1.332

2. Kab Bangkalan: 1.035

3. Kab Sumenep: 973

Wilker Kanreg BKN Bandung

1. Kab Cianjur: 2.159

2. Kab Garut: 1.743

3. Kab Bogor: 1.701

Wilker Kanreg BKN Makassar

1. Kab Bone: 1.184

2. Kab Luwu: 474

3. Kab Luwu Utara: 463

4 dari 5 halaman

Berikutnya

Wiker Kanreg BKN Jakarta

1. Kab Lampung Tengah: 485

2. Kab Lampung Utara: 427

3. Kab Lampung Timur: 371

Wilker Kanreg BKN Medan

1. Kab Simalungun: 293

2. Kab Serdang Bedagai: 279

3. Kab Deli Serdang: 222

Wilker Kanreg BKN Palembang

1. Kab OKI: 372

2. Kab Banyuasin: 365

3. Kab Musi Rawas: 241

Wilker Kanreg BKN Banjarmasin

1. Kab Tabalong: 177

2. Kota Samarinda: 141

3. Kab Banjar: 137

5 dari 5 halaman

Selanjutnya

Wilker Kanreg BKN Denpasar

1. Kab Bima: 1.232

2. Kab Lombok Tengah: 752

3. Kab Sumbawa: 634

Wilker Kanreg BKN Manado

1. Kab Gorontalo: 184

2. Kab Bone Bolango: 111

3. Kab Minahasa Selatan: 77

Wilker Kanreg BKN Pekanbaru

1. Kab Kampar: 502

2. Kab Pasaman Barat: 429

3. Kab Pesisir Selatan: 423

Wilker Kanreg BKN Banda Aceh

1. Kab Aceh Timur: 281

2. Kab Aceh Tengah: 231

3. Kab Aceh Tamiang: 164


Saksikan video pilihan di bawah ini:

Tuan dan Puan dari Melayu O atau Melayu E?

Liputan6.com, Pekanbaru – Bahasa menjadi pembeda meski masyarakat berada dalam wadah sama bernama negara. Bahasa menjadi ciri kebudayaan dan identitas bagi penuturnya sebagai petunjuk dari daerah mana dia berasal.

Di Indonesia, tentu sudah tidak asing lagi dengan Melayu dan kebudayaannya. Melayu kemudian kian lekat dengan sebagian besar masyarakat yang tinggal di Sumatera, misalnya Riau, dan beberapa provinsi tetangga seperti Jambi, Sumatera Selatan, hingga Bangka Belitung.

Bagi masyarakat Melayu Riau, bahasa ini tentu saja menjadi bahasa ibu atau pertama kali diperoleh, dipelajari dari orangtua, lalu dituturkan untuk berkomunikasi dengan orang lain. Namun perlu diketahui, pengucapan dalam Melayu itu beragam tergantung dari kabupaten mana penuturnya berasal.

Di Riau sendiri, penuturan bahasa Melayu juga beragam dilihat dari pengucapan atau dialek huruf vokal berakhiran A menjadi O dan E dengan pengucapan ringan. Makanya, ketika seseorang mengaku Melayu, akan ditanya apakah Melayu O atau E.

Sebagai contoh pengucapan “kata”, ada yang menuturkan menjadi “kate” atau “kato”, kata “ke mana” biasanya diucapkan jadi “ke mane” atau “ke mano”.

Kemudian ada juga menggugurkan pemakaian huruf R lalu diganti dengan O, baik yang ada di tengah ataupun akhir kata. Misalnya telur menjadi “telo”, tidur menjadi “tido”, pergi menjadi “pegi”, berjalan menjadi “bejalan”.

Secara umum, perbedaan dialek O dan E karena geografis wilayah. Biasanya, dialek O sangat identik dengan masyarakat Melayu daratan sementara E bagi masyarakat yang tinggal di daerah pesisir.

Daerah pesisir sebut saja Bengkalis, Meranti, Rokan Hilir dan Indragiri Hilir, sebagian Pelalawan. Kemudian daratan misalnya Kampar, Rokan Hulu, Siak, Indragiri Hulu, Kuantan Singingi, sebagian Pelalawan.

Terkadang, ada juga masyarakat Melayu pesisir yang dialeknya lebih banyak kepada O. Biasanya terjadi karena akulturasi budaya dengan wilayah daratan.

2 dari 2 halaman

Saling Menjaga Bahasa Ibu

Menurut Ketua Majelis Kerapatan Adat Lembaga Adat Melayu Riau, Al Azhar, perbedaan dialek itu sampai sekarang masih terjaga. Setiap daerah masih menjaga bahasa ibu sebagai cara berkomunikasi yang pertama kali diperoleh.

“Hanya saja ketika diajak berbahasa Indonesia, masyarakat langsung mengerti. Bahasa Indonesia dianggap sebagai bahasa Melayu baku, tapi tetap saja berbeda dengan bahasa ibu (Melayu asli),” sebut Al Azhar di Pekanbaru, Rabu, 20 Februari 2019.

Al Azhar menjelaskan, perbedaan itu tidak menjadi penghalang komunikasi ketika dua ‘penganut’ dialek itu bertemu. Satu dengan lainnya akan saling menghargai dengan menjaga bahasa ibu masing-masing.

“Ketika orang Indragiri berbicara, orang Siak paham, begitu pula sebaliknya tanpa berbahasa Indonesia. Misalnya ketika di LAM ini rapat, kan datuknya dari berbagai daerah, terkadang pakai bahasa masing-masing,” jelasnya.

Kata pria 58 tahun ini, terpeliharanya bahasa ibu karena masyarakat Melayu menjunjung tinggi kekerabatan dan rasa berkaum. Tak jarang ada yang melebur jika tahu lawan bicaranya memakai dialek lain.

“Misalnya orang Siak ngomong, terkadang orang Bengkalis mengikuti karena perbedaannya tipis sekali. Dan rasa kekerabatan inilah yang membuat bahasa ibu tetap bertahan,” ucap Al Azhar.

Lebih jauh, Al Azhar menerangkan, di Indonesia terdata 700 bahasa daerah. Sebagian bahasa daerah sudah tidak digunakan lagi karena kecenderungan masyarakatnya memilih memakai bahasa Indonesia.

“Bahasa Indonesia penting karena sebagai pemersatu, tapi bahasa ibu tak boleh dilupakan karena itu yang menjadi ciri khas Indonesia,” sebut Al Azhar.


Simak video pilihan berikut ini:

Kawanan Gajah Masih Betah di Kebun Warga

Liputan6.com, Pekanbaru- Belasan Gajah Sumatera sepertinya masih betah mengitari sejumlah kebun warga di Desa Maharani, Kecamatan Rumbai, Kota Pekanbaru. Sejauh ini belum ada tanda-tanda satwa berbelalai dan bongsor itu meninggalkan lokasi sejak datang beberapa hari lalu.

Pemilik lahan kelapa hybrida, kelapa sawit, pisang serta tanaman lainnya belum berani menjenguk kebunnya. Mereka hanya pasrah tanaman mereka dicabut lalu dimakan oleh satwa bernama latin Elephas Maximus Sumatrensis ini.

Beberapa personel dari Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau dan pawang dari Pusat Latihan Gajah (PLG) Minas sudah di lokasi memantau pergerakan kawanan gajah dimaksud. Kewaspadaan tinggi menjadi syarat penanganan karena sewaktu-waktu gajah bisa menyerang.

“Sudah dari malam sampai pagi tadi kami ikuti, sekarang kami masih di lokasi,” terang pawang gajah dari PLG Minas, Widodo pada Selasa petang, 19 Februari 2019.

Selama di lokasi, Widodo mengaku sudah melihat kawanan gajah yang meluluh-lantakkan puluhan batang kelapa hybrida milik Mangido Nababan. Secara perlahan, dia mengiring gajah itu untuk kembali masuk ke hutan.

Hingga kini, penggiringan masih dilakukan secara manual. Petugas mengikuti gajah dari belakang dan membuatnya supaya kembali lagi ke hutan di kawasan Minas.

Petugas di lapangan juga dibekali mercon atau alat-alat yang menimbulkan suara jika dipukul. Hanya penggunaannya tak sembarangan karena dibawa untuk jaga-jaga jika gajah mendekat. “Mercon ada, itu alat kita. Digunakan sewaktu-waktu saja, untuk jaga-jaga saja,” sebut Widodo.

2 dari 2 halaman

Kelompok 11

Sejauh ini, Widodo belum berniat mengerahkan gajah jinak dari PLG Minas. Menurutnya hal itu dilakukan jika penggiringan secara manual dan bunyi-bunyian sudah tidak ampuh lagi.

“Kalau kuwalahan baru dikerahkan gajah jinak, di PLG itu ada 17 ekor,” sebut Widodo.

Penuturan Widodo, gajah itu sudah dua hari masuk ke kebun warga. Hanya saja warga tidak melapor karena pihak RT yang sering berkomunikasi dengan PLG ataupun BBKSDA Riau tidak berada di desa tersebut.

“Malahan kami tahu dari media, makanya turun ke lokasi,” sebut Widodo.

Sementara itu, Kabid II BBKSDA Riau Heru Sutmantoro menyebut kawanan gajah itu sering melintasi Kabupaten Kampar, Kota Pekanbaru dan Minas, Siak. Kawanan ini merupakan satu di antara beberapa kantong gajah di kawasan tersebut.

Dia memperkirakan ada 22-24 ekor gajah liar masih mendiami kantong gajah tersebut dan terbagi dalam dua kelompok besar. Untuk gajah di kebun itu, Heru menyebut masuk dalam kelompok 11.

“Mereka terus bermigrasi untuk mencari makan dan melakukan penandaan wilayah dia,” paparnya..

Belakangan, tambah Heru, habitat gajah semakin terancam dengan semakin banyaknya perkebunan sawit serta pemukiman. Hal ini membuat intensitas kemunculan meningkat karena pemukiman dan kebun buatan manusia itu termasuk home range atau area pergerakan gajah secara periodik.

Saksikan video pilihan berikut ini:

Malam Mencekam Saat Belasan Gajah Cabut Puluhan Pohon Kelapa di Pekanbaru

Liputan6.com, Pekanbaru- Belasan Gajah Sumatera memakan puluhan batang kelapa hybrida milik warga bernama Mangido Nababan di Jalan Maharani, Kecamatan Rumbai, Kota Pekanbaru. Pria 59 tahun ini tak bisa berbuat dan hanya pasrah melihat tanamannya porak-poranda oleh satwa berbelalai dan berbadan bongsor itu.

Mangido dihubungi wartawan pada  menjelaskan, kedatangan satwa bernama latin Elephas Maximus Sumatrensis itu dikabarkan penjaga kebunnnya, Nono. Kala itu, dia sedang tidur dan terbangun oleh dering telepon selulernya.

”Pak Nababan cepat ke kebun, tanaman bapak habis dimakan gajah,” kata Mangido menirukan perkataan Nono di ujung telepon, Senin (18/2/2019) petang.

Mangido memang tak bergegas ke kebun karena sadar takkan bisa mengusir belasan gajah itu. Dia baru ke kebunya pukul 9.00 WIB, lalu mendatangi Nono untuk mencari tahu kronologis masuknya gajah itu ke kebun.

Saat gajah datang, Nono engah tidur di pondok. Patahan demi patahan pelepah kelapa dan bunyi ringsek pohon membangunkannya lalu mengintip ke luar yang masih gelap.

“Nono ini tak berani keluar, dia hanya melihat dari kejauhan karena takut menjadi sasaran,” cerita Mangido.

Pengakuan Nono, gajah itu berjumlah 13 ekor dan terdiri dari berbagai ukuran, mulai dari besar hingga kecil. Gajah itu bergerak meninggalkan kebun beberapa jam kemudian karena sudah kenyang.

“Barulah Nono ini keluar paginya untuk melihat, ternyata puluhan kelapa sudah tumbang,” kata Mangido.

2 dari 2 halaman

Bukan Pertama Kali

Mangido menyebutkan, bukan kali ini saja kawanan gajah datang ke kebunnya. Hampir tiap tahun sejak tahun 2017, kawanan itu menghampiri kebun kepala dan memakan isinya.

“Kalau kebun sebelah untuk tahun ini saja sudah lima kali gajah datang ke sana,” jelasnya.

Mangido menyebut, kedatangan pertama kali terjadi pada 31 juli 2017. Kala itu gajah liar merusakan sekitar 90 batang sawitnya. Selanjutnya pada 10 Agustus 2018, di mana ada 40 batang kelapa dirusak.

”Ada juga tanaman pisang yang dimakan dan tanaman lainnya selain kelapa hybrida,” sebut Mangido.

Mangido sadar bahwa kebunnya saat ini merupakan perlintasan gajah. Diapun berharap ada solusi dari pihak terkait agar masalah ini tidak terulang tiap tahunnya.

“Harapannya gajah ini dipindah, kalau tidak bisa tak makan saya dan keluarga,” ucapnya.

Minta Ditraktir Makan Mahal, Pengasuh Anak Tewas di Tangan Kenalan Baru

Liputan6.com, Pekanbaru – Misteri pembunuhan AS di sebuah kebun sawit Kecamatan Rumbai Pesisir akhirnya terungkap. Pelaku berinisial HS ditangkap dalam bus tujuan Jakarta ketika melintas di Jalan Lintas Sumatera, Kelurahan Pagar Agung, Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan.

Menurut Wakil Kasat Reskrim Polresta Pekanbaru Ajun Komisaris Noah Aritonang, penangkapan pria 28 tahun itu berkat kerja sama Polsek Rumbai Pesisir dengan Polresta Pekanbaru dan Polres Lahat. Tersangka ketika ditangkap mengakui semua perbuatannya.

“Tidak ada perlawanan ketika ditangkap pada 14 Februari 2019, pelaku mengaku sakit hati kepada korban,” sebut Noah di Mapolresta Pekanbaru, Senin (18/2/2019).

Dalam kasus ini, pelaku dijerat dengan pasal 340 juncto pasal 338 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana tentang pembunuhan. Ancaman paling berat adalah mati dan paling lama 20 tahun penjara.

Sementara itu, Kapolsek Rumbai Pesisir Komisaris Ardinal Efendi menjelaskan, jasad AS ditemukan di Jalan Padat Karya, Kelurahan Tebing Tinggi Okura, tepatnya di jalan tanah dengan posisi tertelungkup. Penemuan itu pada 29 Januari 2019 pukul 22.45 WIB.

Penyidik lalu memeriksa sejumlah saksi dan akun media sosial korban hingga akhirnya mengarah kepada pelaku. Di sana terdapat komunikasi perkenalan antara korban dengan pelaku.

“Baru kenal paginya lalu diajak jalan pada siang harinya,” sebut Ardinal.

2 dari 2 halaman

Ingin Makan Ayam Goreng

Menurut Ardinal, niat jahat pelaku sudah muncul sejak perkenalan itu. Korban ditanya kerja di mana lalu membujuknya supaya keluar dari pekerjaan baby sitter yang baru saja diperoleh Ayu.

Pelaku juga menawari pekerjaan bagus dan bergaji lebih tinggi hingga akhirnya korban terbujuk. Korban lalu dijemput pakai sepeda motor dari tempat kerja dan diajak keliling ke beberapa lokasi di Pekanbaru.

Karena sudah siang, korban lapar lalu mengajak pelaku makan ayam goreng di waralaba ayam goreng di Jalan Yos Sudarso, Kecamatan Rumbai. Karena tak punya uang lebih, pelaku hanya mengajaknya di emperan pinggir jalan.

“Usai makan itu pelaku sakit hati dengan ucapan korban karena niat makan di tempat mahal tak diiyakan, pelaku disebut miskin,” sebut Ardinal.

Pelaku lalu mengajak korban ke kebun sawit dan berhenti di tempat sepi. Pelaku lalu mencekik leher korban hingga tak bernyawa, kemudian membawa telepon genggam dan dua tas yang dibawanya.

Satu tas korban lalu dibuang di depan Rumah Sakit Umum Daerah Petala Bumi di Jalan Mustika, satunya dibuang di bawah Jembatan Siak III. Tas kedua hingga sekarang belum ditemukan penyidik.

Kepada penyidik, pelaku yang pernah terlibat pencurian sepeda motor dan divonis dua tahun ini menyebut tidak ada niat memaksa korban berhubungan badan.

“Tidak ada niat begitu, hanya karena sakit hati saja. Lalu saya kabur dari Pekanbaru dengan tujuan Jakarta,” kata pelaku.


Simak video pilihan berikut ini:

Dahnil Sebut Jokowi Sebar Kebohongan, Ini Kata KLHK Soal Rp 18 T

Jakarta – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) meluruskan pandangan koordinator jubir Prabowo-Sandiaga Uno, Dahnil Anzar Simanjuntak. Menurut KLKH, eksekusi ganti rugi perusahaan pembakar hutan Rp 18 triliun adalah ranah pengadilan.

Kasus bermula saat LSM Greenpeace Indonesia membuat cuit tentang debat kedua. Yaitu:

@jokowi sebut telah memenangkan gugatan perdata terhadap 11 perusahaan yang harus membayar ganti rugi akibat kerusakan lingkungan kebakaran total lebih 18 T. Namun, belum ada perusahaan yang membayar ganti rugi pada negara sepeser pun.

Atas cuitan itu, Dahnil merespons sebagai berikut:

Kasihan Pak Jokowi dibohongi terus oleh pembantunya. Akhirnya beliau dengan ringan terus menyebarkan kebohongan.

Dahnil Sebut Jokowi Sebar Kebohongan, Ini Kata KLHK Soal Rp 18 T

Atas cuitan-cuitan di atas, Dirjen Penegakan Hukum Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Rasio Ridho Sani, tidak terima atas tudingan itu.

“Perlu dijelaskan kewenangan antara eksekutif dan yudikatif dalam kekuasaan negara,” kata Rasio kepada detikcom, Senin (18/2/2019).

Menurut Rasio, kewenangan eksekusi perdata adalah kewenangan Mahkamah Agung (MA), cq Ketua Pengadilan Negeri (PN). Maka cuitan Dahnil dinilai salam alamat.

“Eksekusi putusan gugatan perdata kewenangan Ketua PN,” ujar Rasio.

Eksekusi kasus perdata lingkungan ini belum pernah dilakukan sebelumnya. Maka diperlukan koordinasi dengan PN terkait.

“Karena baru sekarang kami melakukan gugatan yang intensif untuk kasus LHK,” cetus Rasio.

Sebagai penggugat, KLHK menyatakan sangat intensif koordinasi dengan pihak PN Pekanbaru untuk kasus PT MPL dan sudah ada pemanggilan (aanmaning) oleh pihak PN dan sedang berproses. Sedangkan proses eksekusi PT Kalista Alam (KA), Ketua PN Meulaboh telah melakukan aanmaning dua kali. Terakhir panggilan pada 21 Januari 2019.

“Namun PT KA tetap tidak hadir (meskipun telah dipanggil secara patut), sehingga tgl 22 Januari 2019 Ketua PN Meulaboh mengeluarkan penetapan lelang lahan yang dalam pelaksanaannya didelegasikan kepada Ketua PN Suka Makmue (lokasi lahan berada di Kabupaten Nagan Raya),” papar Rasio.

“Komitmen untuk melakukan penegakan serius dan konsisten terus kami lakukan, termasuk terus mendorong upaya eksekusi putusan-putusan yang sudah inkrach,” pungkas Rasio.
(asp/aan) <!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Saat Petugas Berhadapan dengan Truk-Truk Penghancur Jalan di Riau

Liputan6.com, Pekanbaru- Empat truk pengangkut kayu hutan tanaman industri ditangkap Balai Pengawas Transportasi Darat (BPTD) Riau-Kepulauan Riau di Kecamatan Perawang, Kabupaten Siak. Masing-masing truk bermuatan hingga 45 ton lebih dan diduga melanggar Undang-Undang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ).

Selain muatan tidak sesuai aturan, truk bertonase tinggi itu disebut sebagai penghancur jalan sehingga berakibat fatal bagi pengguna kendaraan lainnya. Jalanan rusak memicu kecelakaan tunggal atau tabrakan sesama pengendara lain.

Menurut Kepala BPTD Adji Panatagama, empat truk itu sudah dibawa ke terminal Antar Kota Antar Provinsi (AKAP) Payung Sekaki, Kota Pekanbaru. Penyidikan dilakukan, dan pemilik truk sudah ditetapkan sebagai tersangka.

“Sementara pemilik bengkel yang memodifikasi belum, kemudian sopirnya tidak kena, tidak menutup kemungkinan pemilik barang di mobil jadi tersangka,” kata Adji di Pekanbaru, Sabtu 16 Februari 2019.

Adji menjelaskan, truk itu ditangkap karena berkategori over dimensi dan over loading (ODOL). Berdasarkan UU LLAJ, setiap truk hanya boleh berkapasitas 21 hingga 30 ton, sementara truk yang ditangkap berbobot 45 ton dan barang di atasnya.

Secara normal, panjang truk pengangkut barang tidak lebih dari 12 meter. Namun pemilik truk sudah menarik sumbu truk serta memodifikasi bak belakang hingga mencapai 16 meter.

“Tonasenya sudah 100 persen melanggar, tidak boleh karena ini mempercepat kerusakan jalan di Riau,” ucapnya.

Adji menjelaskan, operasi truk ODOL akan dilakukan di seluruh kabupaten dan kota di Riau, kecuali Kepulauan Meranti karena tidak ada jalur darat di sana. Selain empat truk itu, sudah ditangkap pula beberapa truk lainnya.

“Sebelum di Perawang, kemarin ada juga truk di Kampar. Operasi ini juga melibatkan dinas perhubungan setempat, POM TNI, Lantas dan Direktorat Kriminal Khusus Polda Riau,” kata Adji.

Kegiatan Zero ODOL yang dicanangkan Kementerian Perhubungan melalui Dirjen Angkutan Darat dalam rangka Save Jalan hingga tahun 2021 ini juga sudah menormalisasi 200 unit kendaraan serupa di Riau. Hal ini bekerjasama sama dengan Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia.

2 dari 2 halaman

Jual Murah

Adji menyebutkan, saat ini di Riau terdata 30 ribu truk yang melanggar rancang bangun. Sebanyak 70 persen kendaraan berasal dari Riau dan ini menjadi target untuk ditertibkan atau dikembalikan ke rancang awal pabrikan.

“Tujuannya jelas untuk mencegah kerusakan parah jalanan di Riau,” tegasnya mengulang.

Selama penindakan, sudah ada beberapa pemilik yang terseret hingga ke pengadilan karena tidak mau menormalisasi kendaraan dengan alasan biaya. Biasanya mencapai Rp 80 juta untuk mengembalikan ke bentuk awal.

Hal ini membuat banyak pengusaha truk di Riau yang menjual kendaraannya dengan harga murah. Masyarakat diminta Adji untuk tidak membeli karena nantinya rugi sendiri dengan penegakan hukum oleh BPTD-nya.

“Akan banyak pemilik kendaraan yang menjual murah, masyarakat agar tidak tergiur karena bisa saja ODOL,” terang Adji.

Dan kepada perusahaan yang biasa memerlukan pengangkut kayu ataupun hasil minyak sawit berupa CPO, Adjie menghimbau agar tidak mengikat kontrak dengan penyedia jasa angkutan yang truknya ODOL.

“Biasanya truk CPO atau kayu, kemarin sudah ada yang deklarasi untuk tidak menggunakan lagi, perusahaan lain agar menyusul,” imbau Adji.

Saksikan video pilihan berikut ini:

‘Kalajengking Mirip Laba-laba’ di Pesawat Lion Air, dari Mana Asalnya?

JakartaKalajengking berkeliaran di pesawat Lion Air JT-293 Rute Pekanbaru ke Soekarno-Hatta. Kalajengking itu membuat penumpang menjadi panik karena takut disengat oleh racunnya. Lalu dari mana asalnya?

Dirangkum detikcom, Jumat (15/2/2019), kalajengking itu berkeliaran pada Kamis (14/2) saat pesawat terbang dari Pekanbaru ke Jakarta. Kalajengking ini keluar dari kabin tempat penyimpanan barang yang dibawa penumpang.

“Kalajengking itu persis di atas tempat duduk saya C-19. Kalajengkingnya merayap di bawah tempat bagasi yang ada di kabin,” kata salah seorang penumpang warga Jakarta, Karim, dalam perbincangan dengan detikcom.

Karim sempat memencet tombol meminta pertolongan kepada petugas maskapai. Dia juga meminta supaya kalajengking ini difoto jika sudah ditangkap.

“Karena penumpang sudah berdiri untuk mengambil barang-barangnya di kabin dalam, petugas maskapai lambat sampai di tempat duduk saya,” kata Karim.

Sementara manajemen Lion Air menyatakan binatang itu menyerupai laba-laba. Lion Air tetap mengambil tindakan untuk memastikan upaya keselamatan. Sementara manajemen Lion Air menyatakan binatang itu menyerupai laba-laba. Lion Air tetap mengambil tindakan untuk memastikan upaya keselamatan.

“Dari hasil pengamatan menurut video ataupun gambar yang berkembang, binatang dimaksud menyerupai seekor laba-laba,” ujar Corporate Communications Strategic of Lion Air Danang Mandala Prihantoro dalam keterangan tertulisnya.

Dia memastikan pesawat itu sudah steril karena sudah melalui standar pembasmian hama. Menurutnya, Lion Air sudah melaksanakan pengendalian hama dan binatang berupa fumigasi pada 19 Oktober 2018 dan pest control pada 6 Februari 2019.

“Terkait dengan laporan salah satu penumpang yang menyebutkan adanya satu binatang berjenis kalajengking di bagasi kabin (head rack) sesaat setelah mendarat di Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta serta perkembangan berita, atas hal ini masih dilakukan penyelidikan intens dan lebih lanjut,” tutur Danang.

Setibanya di Jakarta, petugas juga melakukan pencarian terhadap hewan tersebut. Hasilnya, hewan yang disebut mirip laba-laba itu belum ditemukan untuk sementara waktu.

“Petugas layanan darat (ground handling) dan teknisi segera menjalankan penanganan mendalam serta menyeluruh pada pesawat setelah penumpang maupun kargo selesai diturunkan, namun tidak ditemukan binatang tersebut,” papar Danang.
(rvk/knv)

<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Lion Air: Binatang di Pesawat Menyerupai Laba-laba, Tak Ketemu Saat Dicari

Jakarta – Lion Air menindaklanjuti keluhan dari penumpang penerbangan JT-293 Rute Pekanbaru ke Soekarno-Hatta, Tangerang mengenai adanya binatang yang disebut Kalajengking di dalam pesawat. Berdasarkan telaah bukti video, manajemen Lion Air menyatakan binatang itu menyerupai laba-laba.

“Dari hasil pengamatan menurut video ataupun gambar yang berkembang, binatang dimaksud menyerupai seekor laba-laba,” ujar Corporate Communications Strategic of Lion Air, Danang Mandala Prihantoro dalam keterangan tertulis, Jumat (15/8/2019).

Danang mengatakan, penerbangan Lion Air JT-293 pada (14/ 02) sudah dipersiapkan secara baik. Pesawat Boeing 737-800NG registrasi PK-LPK sebelum dioperasikan sudah dilaksanakan pengecekan lebih awal (pre-flight check) dan dinyatakan laik terbang (safe to flight).

Berdasarkan data catatan perawatan, lanjut Danang, terjadwal pesawat registrasi PK-LPK, Lion Air sudah melaksanakan pengendalian hama dan binatang berupa fumigasi pada 19 Oktober 2018 dan pest control pada 6 Februari 2019.

“Terkait dengan laporan salah satu penumpang yang menyebutkan adanya satu binatang berjenis kalajengking di bagasi kabin (head rack) sesaat setelah mendarat di Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta serta perkembangan berita, atas hal ini masih dilakukan penyelidikan intens dan lebih lanjut,” tutur Danang.

“Petugas layanan darat (ground handling) dan teknisi segera menjalankan penanganan mendalam serta menyeluruh pada pesawat setelah penumpang maupun kargo selesai diturunkan, namun tidak ditemukan binatang tersebut,” sambungnya.

Selanjutnya, sambung Danang, Lion Air telah meminimalisir dampak yang timbul, agar operasional Lion Air lainnya tidak terganggu.
(fjp/gbr)

<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>