Lika-liku Isu Jalan Desa 191 Ribu Km

Jakarta – Isu jalan desa 191 ribu km belum berhenti bergulir sejak debat kedua Pilpres 2019. Mulai dari ucapan Jokowi di debat, dipertanyakan Dahnil, dibalas Jokowi lagi, hingga kembali dijawab Dahnil.

Begini lika-likunya:

1. Jokowi klaim sudah bangun 119 ribu km jalan desa

Capres petahana Joko Widodo (Jokowi) bicara soal penggelontoran dana desa di awal debat yang berlangsung pada Minggu (17/2/2019). Saat itu, Jokowi sedang memaparkan visi dan misinya sesuai tema debat yaitu infrastruktur, energi, pangan, lingkungan hidup, dan sumber daya alam.

“Kita tahu dalam tiga tahun ini telah kita gelontorkan 187 triliun dana desa ke desa desa. Apa yang kita dapatkan dari dana ini? Telah dibangun 191 ribu kilometer jalan di desa. Ini jalan produksi yang sangat bermanfaat bagi para petani dan juga 58 ribu unit irigasi yang telah kita bangun dari dana desa,” kata Jokowi saat debat.

Jokowi saat debat / Jokowi saat debat / Foto: ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay

2. Dahnil pertanyakan klaim Jokowi

Koordinator Juru Bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, Dahnil Anzar Simanjuntak, mempertanyakan klaim yang disampaikan Joko Widodo (Jokowi) saat debat soal 119 ribu km jalan desa sudah dibangun. Dia mengaitkannya dengan diameter bumi.

“Jokowi klaim membangun jalan desa 191.000 km. Ini sama dengan 4,8 kali keliling bumi atau 15 kali diameter bumi. Itu membangunnya kapan? Pakai ilmu simsalabim apa? Ternyata produsen kebohongan sesungguhnya terungkap pada debat malam tadi,” cuit Dahnil di Twitter pada Selasa (19/2/2019) kemarin.

Dahnil Anzar Simanjuntak / Dahnil Anzar Simanjuntak / Foto: Ari Saputra

3. Jokowi balas pertanyaan Dahnil

Pertanyaan Dahnil itu bergulir dengan ragam komentar dari Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf dan Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga. Hingga akhirnya, Jokowi sendiri angkat bicara.

Pada Rabu (20/2/2019), Jokowi memberikan arahan pada Rapat Koordinasi Nasional Penyelenggaraan Pemerintahan Desa Tahun 2019 di Ecovention Ocean Ecopark Ancol, Jakarta Utara. Dalam arahannya itu, dia bicara soal 191 ribu km jalan desa.

“Kalau, ini kan kita sudah 4 tahun lebih banyak konsen ke infrastruktur. Catatan saya sampai akhir 2018 kemarin telah dibangun 191 ribu km jalan desa. Ada yang tanya nggak mungkin 191 ribu, itu panjang banget. Panjang gimana? Kalau itu dikerjakan 4 tahun untuk 74.900 desa artinya per desa hanya 600 meter,” ujar Jokowi.

Lika-liku Isu Jalan Desa 191 Ribu KmFoto: Jokowi (Andhika/detikcom)

Jokowi menekankan, hasil dari dana desa tidak melulu dibangun jalan. Ada yang dibangun infrastruktur lain seperti PAUD atau irigasi.

“Setiap desa tidak hanya bangun jalan. Ada PAUD, pasar desa, dan lain-lain. Irigasi saja sudah diselesaikan 58 ribu unit irigasi, 8.900 pasar desa. 24.000 pasar desa. 1,1 juta meter jembatan. Artinya ini jadi barang. Kalau ada yang sangsikan 191 ribu km tidak mungkin, ya silakan ukur sendiri,” ucap Jokowi.

“Wong satu desa setahun 600 meter hanya 0.5 Km kira-kira. Pendek banget,” katanya.

4. Dahnil jawab Jokowi

“Itu tugas pemerintah untuk meyakinkan kita,” ujar Dahnil saat dimintai konfirmasi wartawan, Kamis (21/2/2019).

Bagi Dahnil, tugas pemerintah memang meyakinkan masyarakat akan data-data yang dipertanyakan. Jika tak mau, dia menyebut pemimpin terpilih lewat Pilpres 2019–yang mana dia yakin itu adalah Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno–bakal melakukannya.

“Kalau beliau tidak mau meyakinkan publik terkait kebenaran data itu, ya serahkan saja pemerintahan pada Pemilu 2019 nanti secara legal kepada Pak Prabowo, karena meyakinkan publik terkait dengan data dan fakta itu adalah tugas pemerintah, dan saya yakin Pak Prabowo tidak akan pernah jawab keraguan publik dengan cara begitu,” sebut Dahnil.
(imk/imk)



<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Isu Panas Jalan Desa: Dikaitkan Lingkar Bumi, Disuruh Ukur Sendiri

Isu Panas Jalan Desa: Dikaitkan Lingkar Bumi, Disuruh Ukur Sendiri Joko Widodo (Foto: Andhika Prasetia)

Jakarta – Isu 119 ribu km jalan desa yang terangkat usai debat kedua Pilpres 2019 masih panas dibahas. Setelah dikaitkan dengan diameter bumi, kini pihak yang sangsi diminta untuk mengukur sendiri.

Awalnya, Koordinator Juru Bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, Dahnil Anzar Simanjuntak, mempertanyakan klaim yang disampaikan Joko Widodo (Jokowi) saat debat soal 119 ribu km jalan desa sudah dibangun. Dia mengaitkannya dengan diameter bumi.

“Jokowi klaim membangun jalan desa 191.000 km. Ini sama dengan 4,8 kali keliling bumi atau 15 kali diameter bumi. Itu membangunnya kapan? Pakai ilmu simsalabim apa? Ternyata produsen kebohongan sesungguhnya terungkap pada debat malam tadi,” cuit Dahnil di Twitter pada Selasa (19/2/2019) kemarin.

Dahnil Anzar Simanjuntak / Dahnil Anzar Simanjuntak / Foto: Ari Saputra

Pertanyaan Dahnil itu bergulir dengan ragam komentar dari Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf dan Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga. Hingga akhirnya, Jokowi sendiri angkat bicara.

Pada Rabu (20/2/2019), Jokowi memberikan arahan pada Rapat Koordinasi Nasional Penyelenggaraan Pemerintahan Desa Tahun 2019 di Ecovention Ocean Ecopark Ancol, Jakarta Utara. Dalam arahannya itu, dia bicara soal 191 ribu km jalan desa.

“Kalau, ini kan kita sudah 4 tahun lebih banyak konsen ke infrastruktur. Catatan saya sampai akhir 2018 kemarin telah dibangun 191 ribu km jalan desa. Ada yang tanya nggak mungkin 191 ribu, itu panjang banget. Panjang gimana? Kalau itu dikerjakan 4 tahun untuk 74.900 desa artinya per desa hanya 600 meter,” ujar Jokowi.

Isu Panas Jalan Desa: Dikaitkan Lingkar Bumi, Disuruh Ukur SendiriFoto: Jokowi (Andhika/detikcom)

Jokowi menekankan, hasil dari dana desa tidak melulu dibangun jalan. Ada yang dibangun infrastruktur lain seperti PAUD atau irigasi.

“Setiap desa tidak hanya bangun jalan. Ada PAUD, pasar desa, dan lain-lain. Irigasi saja sudah diselesaikan 58 ribu unit irigasi, 8.900 pasar desa. 24.000 pasar desa. 1,1 juta meter jembatan. Artinya ini jadi barang. Kalau ada yang sangsikan 191 ribu km tidak mungkin, ya silakan ukur sendiri,” ucap Jokowi.

“Wong satu desa setahun 600 meter hanya 0.5 Km kira-kira. Pendek banget,” katanya.
(imk/gbr)



<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Jokowi: Tak Ada dalam Sejarah Gelontorkan Triliunan ke Desa

Jakarta – Anggaran dana desa dalam empat tahun terakhir terus naik. Jumlahnya mencapai Rp 257 triliun hingga akhir 2019 mendatang.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan gelontoran dana ini telah banyak membantu menunjang aktivitas ekonomi di desa. Gelontoran dana Rp 257 triliun ke desa disebut menjadi sejarah dalam pengelolaan anggaran di Indonesia.

Jokowi merinci 2015 digelontorkan dana desa Rp 20,7 triliun, 2016 Rp 40,7 triliun, 2017 60 triliun Kemudian 2018 60 triliun lagi masuk ke 74.900 desa. Pada 2019 Rp 70 triliun masuk ke seluruh desa.

“Artinya sampai akhir 2018 187 triliun kami gelontorkan, sampai akhir 2019 257 triliun masuk ke desa. Ini triliun lho ya bukan miliar. Gede banget, gede banget. Tidak ada dalam sejarah, kita gelontorkan anggaran triliunan ke desa-desa, setiap tahun naik. Tahun depan ngga ktahu naik berapa lagi, yang jelas harus naik” ujar Jokowi di Ecovention Ecopark Ancol, Jakarta, Rabu (20/2/2019).
Dia pun menitipkan pesan ke seluruh kepala desa yang hadir dalam acara Rapat Koordinasi Nasional Penyelenggaraan Pemerintahan Desa tersebut agar bisa menggunakan dana tersebut seoptimal mungkin.

“Saya titip pesan di anggaran itu tolong kalau ada proyek jalan desa, jembatan, irigasi desa, usahakan betul agar material yang ada dibeli di desa itu,” katanya.

“Pasir, beli di desa itu. Nggak ada di sana, pindah desa sebelahnya. Usahakan jangan sampai uang kembali lagi ke kota biar muter terus ke desa. Karena semakin tinggi uang muter ke desa, akan berikan kesejahteraan ke desa,” tambahnya.

Seperti diketahui dana desa yang digelontorkan pada 2015 mencapai Rp 20,7 triliun, 2016 Rp 40,7 triliun, 2017 Rp 60 triliun, 2018 Rp 60 triliun, dan 2019 Rp 70 triliun.

Selain pembangunan jalan 191.000 km, capaian lainnya dari dana desa di antaranya pembangunan jembatan 1.140,37 meter, 8.983 unit pasar desa, 5.731 unit tambatan perahu, 4.175 unit embung, 58.931 unit irigasi, 959.569 unit air bersih, 50.854 kegiatan PAUD, 24.820 unit posyandu dan lainnya. (eds/hns)

Detik-Detik Retakan Tanah Muncul Mendadak dan Memanjang di Cilacap

Liputan6.com, Cilacap – Cilacap dikenal sebagai daerah dengan risiko tertinggi bencana alam di Provinsi Jawa Tengah. Banjir, longsor hingga ancaman gempa, dan tsunami berpotensi terjadi di kabupaten ini.

Pasalnya, secara geografis, Cilacap terbagi menjadi dua wilayah yang kontras. Sisi selatan adalah dataran rendah pesisir, adapun di sisi utara membentang pegunungan tengah Jawa dengan kontur curamnya perbukitan. Longsor, gerakan tanah atau retakan tanah silih berganti terjadi di wilayah ini.

Nyaris seluruh kecamatan di sisi utara Cilacap merupakan zona merah bencana tanah longsor.

Jumat, 15 Februari 2019, BMKG merilis peringatan dini cuaca ekstrem yang diperkirakan melanda Kabupaten Banyumas, Cilacap hingga Brebes. Perkiraan itu nyata. Sekitar pukul 15.00 WIB, hujan ekstrem dilaporkan terjadi di beberapa wilayah.

Itu termasuk Desa Ujungbarang Kecamatan Majenang, Cilacap. Di desa pegunungan ini, air hujan bak tumpah dari langit.

Menjelang pukul 17.00 WIB, sejumlah warga di Dusun Ujungbarang I Desa Ujungbarang mendengar gemeretak gerakan tanah. Beberapa lainnya, merasa rumahnya turut bergoncang.

Warga pun panik. Mereka mendapati tanah mendadak retak memanjang puluhan meter. Retakan tanah itu merusak dua rumah warga di RT 02/1 Ujungbarang, serta mengancam 13 rumah lainnya.

Lantai rumah retak. Pondasi sedikit terangkat. Dinding juga retak dan menyebabkan dua keluarga yang terdiri dari lima jiwa mengungsi.

“Yang satu titik yang dipermukiman yang sudah mengungsi, dua KK, lima jiwa. Yang terkena garis retakan tanah itu, di mahkotanya. Panjangnya sekitar 50-60 meter,” kata petugas Unit Pelaksana Teknis (UPT) Badan Penanggulanga Bencana Daerah (BPBD) Majenang, Muhadi, Minggu (17/2/2019)

2 dari 2 halaman

Kajian Badan Geologi

Rupanya, munculnya retakan tanah di RT 02/1 bukan satu-satunya. Retakan lainnya juga muncul di RT 3/1, sepanjang 30 meter.

“Retakan pertama meliputi area seluas satu hektare. Adpun retakan kedua seluas 0,5 hektare,” Muhadi menambahkan.

Selain merusak rumah, terjadi pula amblesan di pekarangan penduduk yang berimpitan dengan perumahan warga. Tanah itu ambles dengan kedalaman sekitar satu meter.

Yang berbahaya, retakan ini muncul di tengah permukiman penduduk. Kawasan padat ini pun berada di perbukitan curam dengan kemiringan antara 40-50 derajat.

Dikhawatirkan, gerakan tanah akan berlanjut dan membahayakan jiwa penduduk. Karenanya, selain dua keluarga yang rumahnya rusak, 15 keluarga lain yang berada di zona bahaya pun mengungsi saat turun hujan lebat.

Muhadi mengemukakan, BPBD Cilacap bakal melayangkan permohonan kepada Badan Geologi untuk mengkaji dua retakan tanah yang muncul di tengah permukiman ini. Kajian oleh badan geologi dilakukan untuk menyimpulkan apakah perumahan perlu direlokasi atau tidak.

Dia berharap Badan Geologi segera turun ke Cilacap. Pasalnya, selain retakan Ujungbarang, BPBD Cilacap juga telah melayangkan permohonan penelitian tanah untuk longsor di Sadabumi Kecamatan Majenang, yang merusak gedung sekolah, gedung PAUD, musala dan mengancam 16 keluarga, pekan lalu.

“BPBD induk akan mengajukan permohanan ke Badan Geologi untuk diadakan penelitian tanah. Mungkin nanti pelaksanaannya bareng dengan (longsoran) yang di Sadabumi itu,” jelasnya.

Untuk mengantisipasi gerakan tanah susulan, warga bersama petugas BPBD dan relawan telah menutup retakan tanah dengan tanah. Ini dilakukan untuk mengantisipasi merembesnya air hujan yang bisa memicu retakan lebih besar atau bahkan longsor.

Saksikan video pilihan berikut ini:

Kemendikbud: PAUD untuk Pendidikan Karakter, Bukan Calistung

Liputan6.com, Jakarta – Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Didik Suhardi mengatakan, pendidikan anak usia dini (PAUD) harus menekankan pendidikan karakter bukan pendidikan membaca, menulis dan berhitung (calistung).  

“Masuk SD tidak boleh ada tes calistung, karena pendidikan di lembaga PAUD bukan untuk mengajarkan calistung,” ujar Sesjen Kemendikbud Didik Suhardi, dikutip dari Antara, Jakarta, Minggu (17/2/2019).    

Dia menjelaskan, PAUD harus berkembang dengan baik di Indonesia. Pada 2016, Kemendikbud untuk pertama kalinya memberikan bantuan operasional pendidikan (BOP) untuk PAUD, jumlah lembaga PAUD sekitar 190-ribu.

Sekarang, katanya, sudah ada sekitar 246-ribu lembaga PAUD yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.   

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan, pada Pasal 69 ayat (5) disebutkan, penerimaan peserta didik kelas satu SD/MI atau bentuk lain yang sederajat tidak didasarkan pada hasil tes kemampuan membaca, menulis, dan berhitung, atau bentuk tes lain.

Kemudian dalam Permendikbud Nomor 51 Tahun 2018 tentang Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB), tercantum bahwa persyaratan usia merupakan satu-satunya syarat calon peserta didik kelas 1 SD, yaitu berusia tujuh tahun atau paling rendah enam tahun pada 1 Juli tahun berjalan.   

2 dari 2 halaman

Kesadaran Naik

Didik mengatakan, kesadaran masyarakat Indonesia terhadap pendidikan prasekolah sudah tinggi. Yang masih menjadi persoalan adalah mengenai standardisasi penyelenggaraan lembaga PAUD, termasuk pengajaran calistung pada anak-anak usia dini.  

“PAUD itu filosofinya adalah tempat bermain, taman bermain. Oleh karena itu harus diluruskan,” katanya.   

Ia menuturkan, Mendikbud juga akan membuat surat edaran ke sekolah-sekolah dasar supaya tidak memberlakukan tes calistung untuk calon peserta didik kelas satu SD, dan hanya melihat persyaratan usia.   


Saksikan video pilihan di bawah ini:

Jadi Finalis Puteri Indonesia 2019, Diah Ayu Lestari Kunjungi Sekolah PAUD

Liputan6.com, Jakarta – Penyanyi Diah Ayu Lestari mengunjungi sebuah sekolah PAUD di kawasan Tanah Abang, Sabtu (9/2/2019). Kedatangan Diah karena dirinya memang sangat menyukai anak-anak dan senang berbagi dengan sesama.

Kedatangan Diah Ayu Lestari juga sekaligus untuk berbagi kabar bahagia. Perempuan yang dikenal dengan lagu-lagu jazz-nya ini menjadi salah satu finalis pemilihan Puteri Indonesia 2019. Diah mewakili DKI Jakarta 3 dengan beberapa finalis lainnya.

Diah Ayu Lestari datang ke PAUD Puspita, Tanah Abang, dengan membawa buku-buku tulis dan bacaan. Dirinya melihat PAUD yang berada di tengah kota Jakarta itu masih memiliki kekurangan sehingga dirinya ingin membantu.

“Kedatangan aku karena ingin berbagi dengan anak-anak. Di sini, aku bisa memberi informasi kepada anak-anak mengenai makanan yang sehat, bergizi. Memberikan edukasi sebagaimana mestinya,” ujar Diah Ayu Lestari dengan mimik muka semringah.

2 dari 3 halaman

Mengajar

Diah Ayu Lestari mengaku bahwa dirinya sering kali melakukan aktivitas yang berkaitan dengan anak-anak. Dirinya juga pernah mengajar di sebuah PAUD di daerah pelosok. 

“Aku pernah mengajar PAUD selama 4 bulan. Mengasyikan sekali bisa dekat dengan anak-anak. Aku memang senang dengan anak-anak,” ujar Diah Ayu Lestari.

3 dari 3 halaman

Puteri Indonesia 2019

Hal ini pula akhirnya yang menjadi latar belakang Diah Ayu Lestari untuk ikut ajang pemilihan Puteri Indonesia. Dirinya berharap bisa ikut ambil bagian untuk mengkampanyekan kekerasan terhadap anak-anak dan wanita. 

“Kalau saya melihat di Indonesia banyak kasus yang sangat memprihatinkan. Pelecehan seksual, wanita yang tidak mendapatkan keseimbangan di hukum. Intinya, saya ingin mengajak wanita untuk bilang tidak,” ujar Diah.

Mengikuti ajang pemilihan Puteri Indonesia, Diah Ayu Lestari mengaku ini pengalaman pertama yang dijalaninya.  “Saya tidak pernah ikut pemilihan sebelumnya.  Ini adalah sesuatu yang baru. Sedangkan finalis yang lain mungkin sudah berpengalaman,” pungkasnya.

Mendes: Februari atau Maret, Gaji Pendamping Desa Sudah Naik

Liputan6.com, Jakarta – Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Eko Putro Sandjojo memastikan akan menaikkan gaji Pendamping Lokal Desa (PLD) tahun 2019. Kenaikan dilakukan atas permintaan Presiden Jokowi yang menilai gaji PLD terlalu minim.

Hal itu diutarakan Eko Putro Sandjojo dalam siaran pers saat memberikan arahan dalam Sosialisasi Permendasi Nomor 16 Tahun 2018 dan peningkatan kapasitas pendamping profesional desa Provinsi Lampung, Minggu (3/2019).

“Kenaikan tidak terlalu besar. Ini masih dalam proses administrasi di Dirjen PDTT terkait kenaikan gaji PLD. InsyaAllah, bulan Februari atau Maret, gaji PLD sudah naik,” kata dia.

Menurutnya, pemberian kenaikan gaji PLD itu adalah sebuah penghargaan bagi para mereka yang telah bekerja keras mendampingi dalam pengelolaan dana desa menjadi lebih baik dan pembangunan desa terus mengalami kemajuan yang pesat.

“Berkat pendampingan dan berkat kerja keras dari pendamping desa penyerapan dana desa terus neningkat. Apalagi, tingkat kepuasan masyarakat terhadap program dana desa berdasarkan survei sebesar 85 persen. Itu semua adalah kerja keras semua pihak terutama para pendamping desa,” kata dia.

Hal yang sangat membanggakan lagi, lanjut Eko, capaian dana desa ternyata selama empat tahun telah mampu menunjukkan hasil terbaiknya dengan telah terbangunnya sarana dan prasarana penunjang aktivitas ekonomi masyarakat.

“Seperti terbangunnya 1.140.378 meter jembatan, jalan desa 191.600 kilo meter, pasar desa sebanyak 8.983 unit, kegiatan BUMDesa sebanyak 37.830 unit, embung desa sebanyak 4.175 unit, sarana irigasi sebanyak 58.931 unit serta sarana-prasarana penunjang lainnya,” ujar dia.

2 dari 2 halaman

Angka Kemiskinan Turun

Selain itu, dana desa juga telah turut membangun sarana prasarana penunjang kualitas hidup masyarakat desa melalui pembangunan 959.569 unit sarana air bersih, 240.587 unit MCK, 9.692 unit Polindes, 50.854 unit PAUD, 24.820 unit Posyandu, serta drainase 29.557.922.

“Kalau kita melihat, selama empat tahun telah terjadi penurunan angka kemiskinan, penurunan angka stunting dari 37 persen menjadi 30 persen, peningkatan pendapatan perkapita hampir 50 persen, pembukaan lapangan kerja melalui program Padat Karya Tunai (PKT), BUMDes, dan desa wisata,” ujarnya

Capaian lain, penurunan angka pengangguran di desa turun daripada di kota dan Gini ratio di desa terus meningkat. “Jadi, telah banyak keberhasilan yang dicapai dari dana desa. Sekali lagi, saya terima kasih kepada pendamping desa yang telah turut menjadi salah satu garda terdepan dalam membangun desa,” katanya.

Eko berpesan kepada seluruh pendamping desa di Lampung dalam hal prioritas penggunaan dana desa 2019 untuk diarahkan dalam pengembangan pemberdayaan ekonomi dan pemberdayaan masyarakat desa pembangunan infrastruktur di desa dinilai sudah cukup.

“Yang paling cepat dalam hal pembangunan ekonomi desa adalah di sektor pariwisata. Tolong didorong menjadi desa-desa wisata. Saya yakin, karena lampung itu potensinya besar untuk dapat meningkatkan perekonomiannya. Selain itu, bagi desa yang sudah punya ide tapi penggunaan dana desanya sudah mentok, juga bisa ikut program prukades (produk unggulan kawasan perdesaan). Karena prukades bisa memajukan perekonomian desa dan pendapatan masyarakat desa,” terang dia.


Saksikan video pilihan berikut ini:

Kunjungi PAUD di Aceh, Iriana Jokowi Tanam Bibit Terong

Liputan6.com, Aceh – Ibu Negara Iriana Jokowi melakukan kunjungan kerja ke Provinsi Aceh, Kamis (31/1/2019). Dalan kunjungannya, Iriana sempat meninjau PAUD Permata Hati di Kuta Alam, Kota Banda Aceh.

Dalam kegiatan itu, Ibu Negara didampingi oleh istri wakil presiden Mufidah Jusuf Kalla, dan sejumlah istri Menteri Kabinet Kerja yang tergabung dalam Organisasi Aksi Solidaritas Era Kabinet Kerja (OASE-KK). Ada pula istri Plt Gubernur Aceh, Dyah Erti Idawati.

Setibanya di lokasi, sepasang anak PAUD yang memberikan ‘Peumulia Jame’ sebagai tanda ucapan selamat datang kepad Iriana. Sementara itu anak-anak PAUD lainnya ikut menyambut kedatangan Iriana beserta rombongan dengan Tari Ranut Lampoan dan senam bersama.

Sejumlah kegiatan dilakukan Ibu Negara dan rombongan bersama anak-anak PAUD dalam peninjauan kali ini. Salah satunya adalah menanam bibit sayuran.

Iriana Jokowi menanam bibit terong dan Mufidah menanam bibit cabai. Sedangkan anak-anak PAUD menanam bibit terong, cabai, dan juga tomat.

2 dari 3 halaman

Bagikan Bantuan

Selama peninjauan di PAUD Permata Hati, Ibu Negara dan rombongan juga memberikan contoh gerakan cuci tangan yang baik dan sosialisasi makan sehat melalui kegiatan ‘Isi Piringku’. Ini dilakukan agar anak-anak PAUD sadar akan kebersihan diri dan mengetahui makanan sehat sejak usia dini.

“Setidaknya anak-anak tahu kebersihan, membuang sampah dengan benar, kemudian tentang makanan sehat dengan ‘Isi Piringku’,” ujar Ibu Erni Tjahjo Kumolo, selaku Ketua Umum OASE-KK.

Sebelum peninjauan berakhir, anak-anak PAUD diberikan bingkisan dan bantuan yang merupakan hasil sinergi OASE-KK dengan sejumlah kementerian/lembaga.

Iriana berharap kegiatan dan kunjungan ini dapat memberikan manfaat nyata bagi anak-anak PAUD di Provinsi Aceh. Khususnya di PAUD Permata Hati yang menjadi lokasi peninjauan kali ini.

“Dengan adanya bantuan ini semua, semoga PAUD Permata Hati, semoga anak-anak tambah sehat, pintar, dan tumbuh kembang yang baik. Amin,” tutur Iriana.

3 dari 3 halaman

Saksikan video pilihan di bawah ini: