Hanya Dipasangi Paralon, Jalan Perbatasan Desa Pala di Entikong Ambles

Liputan6.com, Entikong – Jalan perbatasan di Dusun Mangkau Desa Pala Pasang Kecamatan Entikong Kabupaten Sanggau mendadak ambles. Jalan paralel ini menghubungkan Kecamatan Siding, Kabupaten Bengkayang dengan Kecamatan Entikong Kabupaten Sanggau.

“Kejadiannya pagi tadi,” kata Kepala Desa Pala Pasang, Entikong, Antonius Angeu, melalui pesan singkatnya kepada Liputan6.com, Selasa (9/4/2019).

Menurut Antonius, penyebab amblesnya jalan ini karena pengerjaan asal-asalan oleh kontraktor. Pasalnya, jalan yang dilewati sungai ini hanya diberikan paralon sebagai jalur aliran sungai.

Padahal, biasanya, dalam pengerjaan jalan yang dilewati sungai, akan dibuatkan jembatan atau penyangga untuk akses aliran sungai serta mencegah abrasi karena air sungai.

“Kejadiannya tidak tiba-tiba, itu air sungai tergenang karena hanya dikasih paralon sebesar kepala. Kayaknya paralon itu tersumbat, jadi air tidak bisa mengalir, sehingga memakan badan jalan,” jelasnya.

Sejak amblesnya jalan tersebut, akses warga kedua desa terganggu. Jika sangat terpaksa, warga bisa melewati aliran sungai menggunakan sepeda motor.

“Jadi warga masih bisa lewat, hanya harus pakai motor. Tapi itu kan berbahaya jika sewaktu-waktu debit air tinggi,” Antonius menambahkan.

Untuk itu, Antonius mengharapkan jalan tersebut bisa segera diperbaiki. Hal ini untuk menghubungkan kedua desa sehingga akses jalan bisa kembali normal.

Simak video pilihan berikut ini:

Jalan Siantar ke Tanah Jawa ini merupakan satu-satunya jalan lintas yang biasanya di lalui oleh warga Tanah Jawa, Simalungun.

Bom Palsu Pasar Sampang dan RSI Fatimah Cilacap, Saling Terkait?

Liputan6.com, Cilacap – Kepolisian Daerah (Polda) Jawa Tengah memastikan ledakan di Pasar Sampang, Cilacap, yang sempat mengagetkan pengunjung dan pedagang pasar adalah proses pemusnahan bom palsu oleh Gegana Polda Jateng dan Polres Cilacap.

Hasil olah TKP dan penyelidikan menunjukkan, benda mencurigakan yang dimusnahkan itu adalah bom palsu atau fake bomb. Beberapa yang disita kepolisian di antaranya paralon dan wadah benda mencurigakan ini.

“Ini, ya itu bom palsu, fake bomb ya. Itu bom palsu, ada paralonnya,” kata Kabid Humas Polda Jateng, Kombes Pol Agus Triatmaja, Selasa (19/2/2019).

Agus mengungkapkan, benda mencurigakan itu ditemukan oleh masyarakat sekitar pukul 06.30 WIB. Lantas, polisi mengamankan lokasi dan berkoordinasi untuk memusnahkan benda ini.

“Itu barang mencurigakan. Terus dicek oleh polisi, kemudian didisposal. Itu jam setengah tujuh tadi, kemudian ditindaklanjuti oleh kepolisian,” katanya.

Agus mengemukakan, sekitar pukul 09.00 WIB, benda ini diledakkan. Sebelum itu, polisi memastikan area peledakan steril dari segala aktivitas. Namun, pemusnahan itu justru lebih mengagetkan pedagang dan pengunjung pasar.

“Cuma kaget saja, padahal kan diledakkan oleh kepolisian,” ujarnya.

Dia menerangkan, saat ini kepolisian masih menggelar olah TKP yang dipimpin langsung oleh Kapolres Cilacap, Djoko Julianto. Penyelidikan itu termasuk untuk mendalami motif peletakan bom palsu di area pasar ini.

2 dari 2 halaman

Bom Palsu di RSI Fatimah Cilacap

Menurut Agus, polisi tak bisa menduga-duga motif yang melatarbelakangi peletakan bom di Pasar Sampang ini. Polisi masih mengolah TKP dan mendalami kasus fake bomb ini.

“Harus diselidiki ya. Kita tidak bisa menduga-duga,” dia menambahkan.

Sebelumnya, bom palsu juga ditemukan di seberang Rumah Sakit Islam (RSI) Fatimah yang berdekatan dengan Markas Polres Cilacap, 1 Januari 2019 lalu.

Soal ini, Agus mengatakan polisi belum bisa memastikan apakah ada hubungan antara bom palsu yang diletakkan di Pasar Sampang dengan RSI Fatimah. Dia hanya memastikan, tim sudah diterjunkan untuk menyelidiki kemungkinan itu.

“Kita masih selidiki ya. Kan baru saja kejadiannya. Kita masih menyelidiki. Kita menerjunkan tim untuk menyelidiki ya,” ucapnya.

Agus mengemukakan, lokasi saat ini masih steril. Tim masih mengolah TKP. Hal ini dilakukan untuk mengetahui motif peletak benda mirip mencurigakan yang sempat dikira bom. Dia juga belum bisa memastikan bahwa peletakan benda mencurigakan itu merupakan bentuk teror.

“Wah, kita masih harus mendalami (motifnya) ya. Belum bisa menduga-duga ini. Kita selidiki lah pokoknya,” dia menerangkan.

Sebelumnya pengunjung dan pedagang pasar Sampang Kabupaten Cilacap dikagetkan oleh ledakan diduga bom dari dalam pasar. Polisi memastikan ledakan itu adalah pemusnahan atau disposal dengan cara sengaja diledakkan.

Sekitar 1,5 bulan sebelumnya, Selasa 1 Januari 2019 sekitar pukul 03.00 WIB, seorang penunggu pasien di RSI Fatimah juga menemukan benda mencurigakan yang diletakkan di dekat pintu masuk RSI Fatimah yang berdekatan dengan Markas Polres Cilacap.

Belakangan diketahui benda itu adalah bom palsu atau fake bomb. Usai diledakaan polisi menemukan tiga paralon sepanjang 33 cm dengan diameter 1,5 inchi, dua helai kabel warna merah dan biru sepanjang 10 cm, satu buah baterai AA, 44 buah paku ukuran 5 sentimeter, dua buah jam beker, campuran pasir dan genteng, serta potongan kardus, lakban, dan kresek.


Simak juga video pillihan berikut ini:

5 Teror Menerpa Pegawai hingga Pimpinan KPK

Liputan6.com, Jakarta – Lagi, pegawai Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mendapatkan teror. Teror yang baru saja terjadi adalah dua pegawai KPK dianiaya orang tak dikenal di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat. Peristiwa tersebut terjadi pada Sabtu 2 Februari 2019.

“Dua Pegawai KPK yang bertugas tersebut mendapat tindakan yang tidak pantas dan dianiaya hingga menyebabkan kerusakan pada bagian tubuh,” kata Juru Bicara KPK Febri Diansyah.

Sebelum peristiwa terjadi kedua pegawai tersebut tengah bertugas untuk mengintai adanya dugaan praktek korupsi. Sedangkan saat penganiayaan terjadi, kedua pegawai sempat memperlihatkan surat tugas yang dikantonginya. Akan tetapi, penganiayaan tersebut terus berlangsung.

Namun jauh sebelum itu, penyidik KPK Kompol Apip Julian Miftah juga pernah diteror. Saat itu, sebuah kotak yang diduga bom ditemukan di depan rumah Apip, Minggu 5 Juni 2015 malam.

Berikut rangkaian teror yang sempat dialami pegawai hingga pimpinan KPK dihimpun Liputan6.com:

2 dari 7 halaman

1. Teror Bom Palsu

Penyidik KPK Kompol Apip Julian Miftah juga pernah diteror. Saat itu, sebuah kotak yang diduga bom ditemukan di depan rumah Apip, Minggu 5 Juni 2015 malam.

Rumah yang beralamat di Jalan Anggrek, Blok A Nomor 160, Perumahan Mediterania Regency, Kelurahan Cikunir, Kecamatan Jatiasih, Kota Bekasi itu diteror oleh orang tidak dikenal dengan cara menyimpan kotak yang isinya lilitan dibungkus lakban di depan pagar rumah Apip, sekitar pukul 23.00 WIB.

Kepala Polresta Bekasi Kota AKBP Asep Edi Suheri memastikan bahwa kotak tersebut bukan alat peledak bom. Dari hasil pengecekan Tim Gegana diketahui bahwa isi kotak hanya styrofoam yang dililit kabel dan tidak memiliki daya ledak apa pun.

“Kepastian itu setelah Tim Gegana melakukan pengecekan benda diduga bom di lokasi kejadian,” kata Asep Edi Suheri kepada wartawan di Bekasi, kala itu.

Asep mengatakan, kejadian itu murni ulah dari pihak yang tidak bertanggung jawab, dan hanya ingin membuat korbannya khawatir dengan aksi teror yang dilakukan.

Namun, bukan kali ini saja Apip mendapatkan teror. Sebelumnya dia juga pernah diteror dengan cara yang berbeda-beda dalam sepekan ini. Teror pertama pelemparan telur busuk dan pengempesan ban menggunakan benda tajam, penyiraman air keras ke mobil, dan terakhir ancaman bom yang diletakkan di gerbang rumah korban.

3 dari 7 halaman

2. Kasus Novel Baswedan

Novel Baswedan kala itu sedang berjalan kaki sendirian di kompleks rumahnya usai melaksanakan salat Subuh pada Selasa, 11 April 2017. Ia rupanya menjadi target penyerangan.

Dua orang yang berboncengan sepeda motor menyiramkan air keras ke wajahnya. Cairan asam pekat tersebut mengenai bagian mata. Sakitnya bukan kepalang. Menurut Novel, rasanya seperti bola mata dicabut paksa dari akarnya.

Operasi demi operasi dijalani hingga ke Singapura. Namun, baru mata kanannya yang pulih. Peristiwa itu membekas dalam diri Novel Baswedan, secara fisik juga psikis.

Apa yang dialami Novel Baswedan ini juga membuka mata banyak orang, tentang risiko yang dihadapi para penyelidik KPK. Namun, hingga kini, kasus tersebut belum juga terungkap. Puluhan saksi sudah diperiksa dan nomor hotline center sudah disebar untuk membuat kasus ini terang. Hasilnya, nihil.

Komjen Ari Dono Sukmanto yang saat itu masih menjabat sebagai Kepala Badan Reserse Kriminal Polri mengungkapkan, penyerangan terhadap penyidik senior KPK Novel Baswedan masuk dalam kategori hit and run. Kasus semacam ini, kata dia, sulit untuk diungkap.

“Jadi itulah yang saya sampaikan, kalau model kasus-kasus hit and run ini memang relatif sulit,” kata Ari di Bareskrim Polri, Gambir, Jakarta Pusat, Rabu 2 November 2017.

Bahkan, menurut Ari, kasus semacam ini baru bisa terungkap setelah bertahun-tahun diselidiki. Artinya, butuh waktu lama untuk mengungkapnya.

“Ada yang sudah empat tahun baru ketangkap dia pelakunya,” ucap Ari.

4 dari 7 halaman

3. Teror Pimpinan KPK

Sebuah botol berisi spirtus dengan sumbu, mirip bom molotov, ditemukan di depan garasi sebuah rumah di Jalan Kalibata Selatan No 42C, Kalibata, Pancoran, Jakarta Selatan. Jam masih menunjukkan pukul 05.30 WIB, hari itu, Rabu 9 Januari 2019.

Rumah tersebut merupakan kediaman Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Laode Muhamad Syarif.

Setelah dicek melalui CCTV, rupanya, sekitar pukul 01.00 WIB, ada dua orang mencurigakan beraktivitas di depan rumah Laode Syarif.

Laode mengaku tak tahu kejadian ini berhubungan dengan kasus yang tengah ditangani KPK atau tidak. Dia mengatakan, hal tersebut merupakan risiko dari sebuah pekerjaan.

“Biasa lah itu kerja di KPK , saya santai aja. Iya ada pengamanan dari Polri ya yang mengamati rumah, insyaallah oke, aman. (Kaitan dengan kasus yang tengah ditangani KPK?) Kami juga enggak tahu ya,” kata Laode saat ditemui di kedamaian di Jalan Kalibata Selatan No 42C, Jakarta Selatan, Rabu 9 Januari 2019.

Sementara itu, sebuah benda mirip bom ditemukan di pagar rumah Ketua KPK Agus Rahardjo di Bekasi, Jawa Barat. Benda itu terdiri dari beberapa kabel, pipa, paku, detonator, baterai, dan serbuk itu sebagai bom rakitan atau fake bomb (bom palsu).

Polri pun memastikan benda mencurigakan yang ditemukan di rumah Ketua KPK Agus Rahardjo adalah fake bomb atau bom palsu. Kesimpulan itu diperoleh setelah benda menyerupai bom rakitan itu diuji di laboratorium forensik Polri.

“Yang di rumah Pak Agus itu adalah fake bomb atau bom palsu, jadi itu bukan bom,” ujar Kepala Divisi Humas Polri Irjen Mohammad Iqbal.

Memang benda yang ditemukan terdiri dari beberapa kabel, pipa paralon, baterai dan material lain menyerupai bom rakitan. Namun polisi memastikan benda itu tidak berbahaya. Serbuk putih yang ditemukan juga bukan kategori bahan peledak.

“Tidak merupakan firing divices yang selayaknya bom. Detonator tidak ada sama sekali,” tuturnya.

5 dari 7 halaman

4. Ditabrak Motor

Kejadian pegawai KPK ditabrak motor terjadi saat penangkapan mantan Ketua DPRD Jawa Timur, Wisnu Wardhana. Penangkapan terpidana kasus korupsi itu berlangsung dramatis sebelum akhirnya digelandang menuju Kejaksaan Negeri Surabaya, Jawa Timur.

Tidak seperti koruptor lain ketika terkena Operasi Tangkap Tangan (OTT), Wisnu diciduk di jalanan. Dia ditangkap dalam mobil yang dikendarai anaknya.

Menurut Kasi Penkum Kejati Jatim, Richard Marpung, mobil yang membawa Wisnu tak mau berhenti ketika dikejar. Bahkan, sampai masuk ke gang-gang.

Tak kehabisan akal, tim kejaksaan mengejar menggunakan sepeda motor.

“Saat penggerebekan Wisnu mengenakan jaket, topi dan masker. Mobil tersebut sengaja tidak bersedia menghentikan laju kendaraannya ketika petugas menghentikannya,” tutur Richard, Rabu, 9 Januari 2019.

Richard mengungkap, Wisnu Wardana telah menjadi kejaran tim kejaksaan selama sebulan terakhir.

Pada akhirnya, tim Kejari Surabaya berhasil mengadang mobil yang membawa Wisnu. Tim menahan laju mobil tersebut di tengah jalan.

Namun bukannya berhenti, mobil tersebut justru tetap melaju dengan sengaja. Akibatnya, salah satu sepeda motor yang dikendarai tim kejaksaan ditrabak dengan cukup kencang.

“Setelah Wisnu berhasil didahului, sepeda motor petugas itu langsung berhenti di tengah jalan untuk menghalangi laju mobilnya. Namun, mobil tersebut justru menabrakkan mobilnya ke sepeda motor petugas,” kata Richard.

Akibatnya, ban depan mobil itu tersangkut sepeda motor yang ditabrak. Mobil tersebut tidak dapat melaju lagi.

6 dari 7 halaman

5. Pegawai KPK Dianiaya

Dua pegawai KPK dianiaya orang tak dikenal di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat. Peristiwa tersebut terjadi pada Sabtu 2 Februari 2019.

“Dua Pegawai KPK yang bertugas tersebut mendapat tindakan yang tidak pantas dan dianiaya hingga menyebabkan kerusakan pada bagian tubuh,” kata Juru Bicara KPK Febri Diansyah saat dihubungi di Jakarta Minggu, 3 Februari 2019.

Febri menjelaskan, sebelum peristiwa terjadi kedua pegawai tersebut tengah bertugas untuk mengintai adanya dugaan praktek korupsi. Sedangkan saat penganiayaan terjadi, kedua pegawai sempat memperlihatkan surat tugas yang dikantonginya.

Akan tetapi, kata Febri, penganiayaan tersebut terus berlangsung. Bahkan saat ini kedua pegawai harus mendapatkan perawatan di rumah sakit.

“Sekarang tim sedang dirawat dan segera akan dilakukan operasi, karena ada retak pada hidung dan luka sobekan pada wajah,” paparnya.

Karena hal itu, Febri mengatakan pihaknya telah melaporkan peristiwa tersebut ke Polda Metro Jaya. Dia juga mengaku sangat menyesalkan adanya perbuatan melanggar hukum tersebut.

“Kami memandang penganiayaan yang dilakukan terhadap dua pegawai KPK dan perampasan barang-barang yang ada pada pegawai tersebut merupakan tindakan serangan terhadap penegak hukum yang sedang menjalankan tugas,” jelasnya.

7 dari 7 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Begini Lampu Hias dari Pipa Paralon di Sumenep yang Go Internasional

Fokus, Sumenep – Di tangan seorang perajin, pipa paralon disulap menjadi lampu hias yang memiliki nilai jual cukup tinggi. Bahkan, dengan memanfaatkan media sosial, hasil kerajinannya menembus pasar mancanegara hingga ke Amerika Serikat.  

Seperti ditayangkan Fokus Indosiar, Sabtu (19/1/2019), Muhamad Misbah membuat lampu hias berbagai bentuk yang terbuat dari pvc dan mika.

Untuk satu lampu hias karyanya, Misbah menjualnya dengan harga bervariasi mulai dari Rp 65 ribu hingga Rp 250 ribu . Harga lampu disesuaikan dengan ukuran dan tingkat kerumitan saat membuatnya.

Misbah mengaku kerajinan lampu hias berawal dari sulitnya mencari pekerjaan. Dari sekadar mencoba, dia lalu menjadi perajin lampu hias yang karyanya telah menembus pasar dunia. Salah satunya adalah California, Amerika Serikat. 

Pasar luar negeri terbuka setelah Misbah memanfaatkan media sosial. Dalam sebulan, Misbah dapat memperoleh penghasilan hingga Rp 60 juta. (Karlina Sintia Dewi)

Novel Baswedan Menolak Tim Penyidik Gabungan

Jakarta – Layar hitung menampilkan angka 634 merujuk pada jumlah hari sejak teror penyiraman air keras pada Novel Baswedan. Jumlah hari itu terhitung sejak 11 April 2017 hingga 15 Januari 2019.

Perangkat itu dibuat Wadah Pegawai (WP) KPK untuk menunjukkan belum terungkapnya siapa sebenarnya pelaku yang meneror Novel tersebut. Novel pun menggugat.

“Ketika setiap teror yang tidak diungkap maka potensi yang terjadi adalah perbuatan itu akan berulang,” kata Novel di kantornya, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Selasa (15/1/2019).

Ucapan Novel itu merujuk pada teror yang baru terjadi di awal tahun 2019 di mana kedua rumah pimpinan KPK, Agus Rahardjo dan Laode M Syarif, dipasangi bom pipa paralon palsu dan dilempar molotov. Novel menyebut teror yang dialaminya dan para pimpinan KPK serta para pegawai KPK sebelumnya merupakan serangan pada institusi yaitu KPK.

Kembali soal urusan teror pada Novel. Dalam perjalanan waktu yang akan genap 2 tahun pada 11 April 2019 itu bukan berarti Polri melipat tangan saja. Berbagai upaya dilakukan polisi untuk mencari pelaku hingga sempat menangkap sejumlah orang, yang kemudian dilepas karena menurut polisi tidak terlibat. Mereka yang ditangkap itu disebut polisi sebagai mata elang.

Apa itu mata elang? Bisa dicek di tautan berita di bawah ini:

Setelahnya garis waktu pengusutan kasus itu berisi rasa pesimistis Novel, permintaan Novel agar Presiden Joko Widodo (Jokowi) membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF), Komnas HAM dan Ombudsman yang ikut mengusut, hingga upaya polisi yang terus menerus belum berbuah hasil. Sampai pada akhirnya pada Selasa, 8 Januari 2019, Kapolri Jenderal Tito Karnavian meneken surat perintah pembentukan tim gabungan untuk mengungkap kasus itu.

“Surat perintah tersebut adalah menindaklanjuti rekomendasi tim Komnas HAM dalam perkara Novel Baswedan,” kata Kepala Divisi Hubungan Masyarakat (Kadiv Humas) Polri Irjen M Iqbal di Mabes Polri pada Jumat, 11 Januari 2019.

Kami meminta untuk dibentuk Tim Gabungan Pencari Fakta, bukan tim penyidik dan penyelidik. Bedanya apa dengan tim yang sebelumnya?Novel Baswedan

Tim itu disebut Iqbal dibentuk setelah rekomendasi dari Komnas HAM diterima. Rekomendasi itu ditujukan kepada Kapolri, KPK, dan Presiden. Untuk Kapolri, Komnas HAM meminta segera dibentuk tim gabungan yang terdiri dari unsur internal dan eksternal kepolisian untuk mencari fakta dan mengungkap kasus penyerangan terhadap Novel secara cepat dan efektif sesuai dengan prosedur yang berlaku.

Tim itu diketuai Kapolda Metro Jaya Irjen Idham Azis dengan wakil Karobinops Bareskrim Polri Brigjen Nico Afinta serta jajaran penyidik dan penyelidik polisi. KPK pun disertakan dalam tim itu antara lain lima orang dari bagian penyelidikan, penyidikan, dan pengawasan internal. Selain itu, 7 orang pakar dilibatkan yaitu mantan Wakil Ketua KPK Indriyanto Seno Adji, Peneliti Utama Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Hermawan Sulistyo, Ketua Setara Institute Hendardi, komisioner Kompolnas Poengky Indarti, serta komisioner Komnas HAM Nur Kholis dan Ifdhal Kasim.

“Surat perintah tim gabungan untuk kasus Novel Baswedan berlaku untuk enam bulan,” imbuh Iqbal.

Namun pembentukan tim itu langsung memunculkan beragam komentar dari kancah perpolitikan lantaran berdekatan dengan Pemilu 2019. Kubu Prabowo Subianto-Sandiaga Uno menilai ada unsur politik di balik pembentukan tim itu, sedangkan pihak Jokowi-Ma’ruf Amin menepisnya, termasuk dari Mabes Polri.

“Beberapa pihak eksternal juga melakukan pengawasan dan penguatan seperti Ombudsman, Kompolnas, terakhir Komnas HAM. Mungkin kebetulan saja dekat dengan pesta demokrasi. Tapi tidak ada kaitan sama sekali,” kata Iqbal pada Senin, 14 Januari 2019.

Sementara itu KPK berharap banyak pada tim itu. Harapannya tentu agar pelaku tertangkap.

“Ketika ada tim yang dibentuk dengan unsur yang lebih kuat dan lebih luas, meskipun pasti akan kita dengar juga kritik dan saran terhadap tim ini, KPK berharap tim tersebut bisa berujung pada ditemukannya pelaku penyerangan Novel,” kata Kabiro Humas KPK Febri Diansyah, Jumat (11/1/2019).

Lalu bagaimana tanggapan Novel sebagai korban?

“Kami meminta untuk dibentuk Tim Gabungan Pencari Fakta, bukan tim penyidik dan penyelidik. Bedanya apa dengan tim yang sebelumnya?” gugat Novel.

Namun Novel tetap menanti hasil kerja tim gabungan Polri itu. Dia menyebut penyidikan polisi sebelumnya tidak sungguh-sungguh.

“Tentu kita semua akan menilai tim ini bekerja dengan benar atau tidak. Indikatornya adalah ini bisa diungkap dengan benar,” ucap Novel.

Novel malah khawatir pembuktian kasus itu dibebankan padanya sebagai korban. Dia pun berharap tim gabungan Polri itu tidak hanya sekadar formalitas memenuhi rekomendasi Komnas HAM.

“Sejak kapan ada penyidikan investigasi perkara penyerangan yang beban pembuktian dibebankan pada korban. Sejak kapan teror yang diduga ada aktor intelektualnya tapi dimulai dari motif dulu. Di dunia rasanya tidak ada,” ujar Novel.

Terlepas dari itu Koalisi Masyarakat Sipil Antikorupsi telah menyerahkan laporannya mengenai pengusutan kasus itu ke KPK. Laporan itu berisi pemantauan kasus penyiraman air keras yang disusun Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) bersama LBH Jakarta, KontraS, Lokataru Foundation, ICW, LBH Pers, PSHK AMAR, Pusat Studi Konstitusi (PUSaKO) FH Universitas Andalas, serta PUKAT UGM. Laporan itu diserahkan Direktur LBH Jakarta Alghiffari Aqsa pada pimpinan KPK.

(dhn/rvk)

<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

HEADLINE: Bom Palsu di Rumah Pimpinan KPK, Teror atau Pengalihan Isu?

Liputan6.com, Jakarta – Ancaman teror membayangi langkah pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Pada Rabu 9 Januari 2019, sebuah benda mirip bom berisi botol spiritus dengan sumbu serupa molotov teronggok di depan garasi rumah Wakil Ketua KPK Laode Mohammad Syarif. Tepatnya di Jalan Kalibata Selatan 42C Jakarta Selatan. Kala itu, jam masih menunjukkan pukul 05.30 WIB.

Pada waktu hampir bersamaan, sebuah benda mirip bom rakitan ditemukan di rumah Ketua KPK Agus Rahardjo, di Graha Indah, Jatiasih, Bekasi, Jawa Barat. Benda mencurigakan itu terbungkus tas berwarna hitam dengan beberapa kabel, pipa paralon, baterai, paku, dan serbuk menyerupai rangkaian bom rakitan. Pimpinan KPK dalam ancaman.

Polisi langsung bergerak cepat mengamankan lokasi. Sejumlah saksi pun dipanggil untuk dimintai keterangan. Sebanyak 12 orang dikorek keterangannya terkait teror pagi hari tersebut. Meski begitu, hingga saat ini polisi belum berhasil mengungkap siapa pelakunya.

“Kita terus bekerja mengusut siapa pelakunya, diduga hanya untuk menakut-nakuti. Kita akan ungkap,” tegas Kepala Divisi Humas Polri Irjen Mohammad Iqbal di kantornya, Jakarta Selatan, Kamis 10 Januari 2019.

Berdasarkan hasil laboratorium forensik Polri, Iqbal memastikan, benda mencurigakan di rumah Ketua KPK Agus Rahardjo adalah fake bomb atau bom palsu.  “Yang di rumah Pak Agus itu adalah fake bomb atau bom palsu, jadi itu bukan bom,” ujarnya. 

Memang benda yang ditemukan terdiri dari beberapa kabel, pipa paralon, baterai dan material lain menyerupai bom rakitan. Namun, polisi memastikan benda itu tidak berbahaya. Serbuk putih yang ditemukan juga bukan kategori bahan peledak.

“Tidak merupakan firing divices yang selayaknya bom. Detonator tidak ada sama sekali,” tuturnya.

Meski begitu, Polri memastikan tetap akan mengusut kasus teror tersebut hingga tuntas.

Iqbal belum bisa memastikan apakah teror bom palsu itu berkaitan dengan tugas Agus sebagai pimpinan KPK atau hal lainnya. “Kita akan ungkap nanti apa motifnya, kita tunggu saja,” ucapnya.

Iqbal enggan mengaitkan kasus teror tersebut dengan peristiwa lain tanpa bukti dan fakta hukum yang mendukung. Kendati, pihaknya tetap menerima informasi dari berbagai pihak sebagai bahan untuk mengungkap kasus tersebut.

“Saya imbau masyarakat juga diberi edukasi bahwa ini sebuah kriminalitas yang domainnya polisi. Tidak usah mem-framing macam-macam dulu. Kebetulan saja mungkin ada momentum saat ini, kita fokus kepada fakta hukum, fakta di TKP,” kata Iqbal.

Infografis Teror di Rumah Pimpinan KPK. (Liputan6.com/Triyasni)

Laode M Syarif sendiri tidak ambil pusing dengan teror molotov di rumahnya. Menurutnya, semua ini adalah risiko dari sebuah pekerjaan sebagai pimpinan KPK.

“Kami serahkan ke Mabes Polri dan Polda untuk menanganinya. Saya yakin mereka bekerja profesional,” kata Laode di kediamannya, Kamis 10 Januari 2019.

Laode mengatakan, dirinya tak tahu apakah kejadian ini berhubungan dengan kasus yang saat ini ditangani KPK. Menurutnya, semua ini adalah risiko dari sebuah pekerjaan. “Biasa lah itu kerja di KPK, saya santai aja,” kata dia.

Laode enggan menjawab saat ditanyai akan adanya ancaman para petinggi KPK. Menurutnya, KPK penuh warna warni.

“Enggak usahlah, kalau di KPK itu banyak warna warninya,” pungkasnya.

Sikap serupa disampaikan Ketua KPK Agus Rahardjo. Dia menegaskan rangkaian teror pada KPK tidak akan menggentarkan pihaknya untuk melanjutkan berbagai kasus.

“Jangan membuat kita takut, terus melangkah berjuang. Dukungan dari Anda masyarakat sangat dibutuhkan,”ujarnya Kamis, 10 Januari 2019.

Agus menyatakan, kejadian tersebut membuat pihaknya mempertimbangkan peningkatan keamanan anggota KPK, salah satunya mempersenjatai seluruh petugas komisi antikorupsi.

“Langkah-langkah perbaikan kemanan KPK baik di penyelidikan penyidikan penuntutan harus ditingkatkan. Waktu kasus saudara Novel langsung ada langkah (peningkatan) pengamanan,” kata Agus di Jakarta, Kamis 10 Januari 2019.

Agus menyebut pihaknya sedang mempertimbangkan untuk mempersenjatai anggota KPK.

“Kita sedang mengevaluasi ,misalkan nanti petugas KPK akan dilengkapi dengan senjata tertentu, nanti kita akan bicarakan,” katanya.

Ketua Wadah Pegawai Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Yudi Purnomo menyebut, teror yang terjadi di kediaman dua pimpinan lembaga antirasuah merupakan ujian bagi pemberantasan tindak pidana korupsi.

“Kami meyakini tindakan teror ini merupakan upaya untuk menimbulkan rasa takut dan gentar di hati pimpinan dan pegawai KPK agar berhenti menangkapi koruptor dan menciptakan Indonesia bersih,” ujar Yudi, Rabu 9 Januari 2019.

Namun, menurut Yudi, tindakan teror tersebut tak akan menyurutkan lembaga antirasuah dalam mengungkap tindak pidana korupsi. Justru, menurutnya, hal tersebut semakin memperteguh semangat pemberantasan tindak pidana korupsi, apapun risikonya.

“Bahwa teror-teror kepada pimpinan KPK dan pegawai KPK tidak akan pernah menciutkan nyali kami dalam memberantas korupsi di negeri ini,” kata dia.

Polri: Teror di Rumah Ketua KPK Bom Palsu

Jakarta – Polri menyatakan benda mirip bom pipa di rumah Ketua KPK Agus Rahardjo merupakan bom palsu (fake bomb). Kepastian didapat dari hasil identifikasi laboratorium forensik (Labfor).

“Hasil dari Puslabfor, benda mirip bom di kediaman pimpinan KPK di Bekasi, di rumah Pak Agus firm adalah fake bomb alias bom palsu. Ada memang paralon, paku, kabel, tapi tidak tersambung. Ditemukan juga serbuk putih, setelah kita periksa secara klinis, laboratoris itu semen biasa,” kata Kadiv Humas Polri Irjen M Iqbal kepada wartawan, Kamis (10/1/2019).

Iqbal menegaskan polisi terus melakukan penyelidikan ini untuk mengungkap pelaku teror. Selain meminta keterangan saksi, polisi juga mendapatkan rekaman CCTV dari area dekat rumah Agus Rahardjo.

“Kami sudah menemukan petunjuk keterangan CCTV dan lain-lain. Bahkan hari ini tim kembali ke lokasi untuk kembali mendalami, ini upaya untuk membuat terang suatu perkara. Kita sudah hitung dalam jarak berapa kilo siapa saja yang lalu lalang di situ,” papar Iqbal.

Selain di rumah Agus, teror juga dialami Wakil Ketua KPK Laode M Syarif. Rumahnya di Kalibata, Jaksel, dilempar 2 molotov. Satu molotov meledak, tidak ada korban.

(fdn/tor) <!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Belum Tuntas Air Keras Novel Baswedan, Kini Teror Bom ke Pimpinan

Jakarta – Enam ratus hari lebih penyidik KPK Novel Baswedan samar-samar menatap kejelasan siapa pelaku yang menyiramkan air keras pada wajahnya. Dan kini teror kembali mengusik tubuh lembaga antirasuah.

Tak tanggung-tanggung, dua teror sekaligus ditujukan pada dua sosok pimpinan KPK: Agus Rahardjo dan Laode M Syarif. Tas berisi benda diduga bom pipa paralon tercantol di pagar rumah Agus di Jatiasih, Kota Bekasi. Sedangkan kediaman Syarif di kawasan Kalibata, Jakarta Selatan dilempar dua bom molotov.

“Dengan adanya serangan tersebut, semakin jelas bahwa serangan-serangan seperti itu pada dasarnya adalah serangan terhadap KPK,” ucap Novel pada detikcom, Rabu (9/1) kemarin.

Novel sendiri mengaku sudah sering menerima teror hingga yang terparah mengalami penyiraman air keras pada 11 April 2017. Novel hampir kehilangan kedua penglihatannya karena teror itu bila tidak mendapat perawatan hingga operasi dari dokter yang mumpuni.

Suami dari Rina Emilda itu juga menyebut bila teror-teror pada KPK tidak hanya itu saja. Dia mengklaim banyak penyerangan yang terjadi pada pegawai KPK lainnya yang tidak jelas siapa pelakunya.

“Karena semua teror terhadap orang-orang KPK tidak ada satu pun yang terungkap, maka ini harus menjadi perhatian pemerintah,” kata Novel.

Pemerintah bukan hanya tinggal diam. Presiden Joko Widodo (Jokowi) beberapa kali memberi perintah pada Kapolri Jenderal Tito Karnavian untuk segera dan segera menuntaskan kasus penyiraman air keras itu.

Tito juga sempat menghadap Jokowi dengan maksud menjelaskan perkembangan penanganan kasus itu. Polisi juga pernah mengeluarkan sketsa terduga pelaku penyiraman air keras ke Novel, Ombudsman hingga Komnas HAM turut digandeng. Namun sampai kini siapa peneror itu masih misterius.

“Saya sudah mendapat laporan mengenai progress perkembangan dari Kapolri yang juga sudah bekerja sama dengan KPK, Kompolnas, Ombudsman, Komnas HAM,” kata Jokowi saat ditemui seusai peringatan Hari Antikorupsi Sedunia (Harkodia) 2018 di Gedung Bidakara, Pancoran, Jakarta Selatan, Selasa (4/12/2018).

Namun saat ditanya bagaimana perkembangannya, Jokowi melemparkannya ke Tito. “Tanyakan ke Kapolri,” imbuh Jokowi.

Kini teror terjadi lagi, namun bukan pada Novel melainkan Agus dan Syarif. Kabar beredar pada Rabu, 9 Januari 2019, pagi yang menyebutkan adanya dugaan bom molotov di rumah Syarif. Bom berupa botol berisi bahan bakar dengan sumbunya itu diduga dilemparkan dua pria berboncengan sepeda motor saat lewat tengah malam harinya.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono menyebut ada dua bom molotov di rumah Syarif. Satu botol pecah, sedangkan satunya masih utuh.

“Sekali tidak menyala, utuh, yang kedua pecah,” kata Argo di Mabes Polri.

Jejak molotov yang menyala itu tampak dari dinding rumah Syarif yang menghitam. Bagian balkon lantai dua rumah Syarif, tepatnya di atas garasi, tampak berjelaga.

Sejurus kemudian, kabar rumah Agus yang diteror benda berupa tas warna hitam digantungkan di pagar rumah Agus. Isinya mirip dengan bom pipa paralon.

Argo menyebut di dalam pipa paralon itu terdapat paku, kabel, bubuk berwarna putih, dan kabel. Belakangan, Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karo Penmas) Divisi Hubungan Masyarakat (Humas) Polri Brigjen Dedi Prasetyo menyebut benda mirip bom pipa paralon itu tidak mengandung bahan peledak.

“Seperti fake bomb, yang ditemukan bubuk semen putih,” ucap Dedi.

Namun, untuk lebih memastikan, Dedi menyebut benda itu tengah diteliti di Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor). Selain itu, polisi langsung membentuk tim yang di dalamnya termasuk Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror.

Mereka langsung bergerak cepat melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) serta memeriksa saksi-saksi. Namun sampai saat ini tim itu belum mencapai pada titik kesimpulan siapa di balik teror itu.

Di sisi lain, Agus dan Syarif tetap berkegiatan seperti biasa. Agus sempat menjadi pembicara di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), sedangkan Syarif beraktivitas di kantornya.

“Pimpinan juga ke kantor seperti halnya penugasan selama ini sesuai agenda yang sudah dibicarakan sebelumnya,” kata Kabiro Humas KPK Febri Diansyah.

Kegiatan penegakan hukum di KPK pun, disebut Febri, berlangsung seperti biasa. Suara-suara dukungan bagi KPK juga bermunculan baik dari mantan pimpinan KPK hingga para politikus, termasuk pimpinan DPR.
(dhn/fdn)

<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Benda di Rumah Ketua KPK Diduga Rakitan Bom Paralon

JakartaBenda yang ditemukan di rumah Ketua KPK Agus Rahardjo diduga rakitan bom paralon. Tim Labfor masih mengidentifikasi temuan diduga bom tersebut.

“Patut diduga (rakitan bom), masih proses pemeriksaan dari Puslabfor dan Inafis Polri,” ujar Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karo Penmas) Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo kepada wartawan, Rabu (9/1/2019).


Benda diduga bom ini ditemukan sekitar pukul 05.30 WIB di rumah Agus di Perum Graha Indah, Jatimekar, Jatiasih, Kota Bekasi. Ada pipa paralon dan detonator serta semen putih yang ditemukan.

Selain di rumah Agus Rahardjo, teror bom molotov terjadi di rumah Wakil Ketua KPK Laode M Syarif. Polisi masih menyelidiki keterkaitan teror di rumah pimpinan KPK ini.

Saksikan juga video ‘Rumah Wakil Ketua KPK Laode Syarif Dilempari Bom Molotov’:

[Gambas:Video 20detik]

(fdn/fdn) <!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>