Bom Bunuh Diri Teroris di Sibolga Paksa Puluhan Tetangga Mengungsi

Liputan6.com, Jakarta – Ledakan yang dipicu dari aksi bom bunuh diri istri terduga teroris di Sibolga, Sumatera Utara mengakibatkan puluhan warga mengungsi. Puluhan rumah warga di sekitar lokasi kejadian rusak akibat sejumlah ledakan bom rakitan milik terduga teroris bernama Husain alias Abu Hamzah.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo mengatakan, aparat belum bisa leluasa masuk ke TKP lantaran dikhawatirkan terjadi ledakan susulan. Warga juga dilarang mendekat dalam radius 100 meter dari rumah Husain.

“Untuk warga sekitar 100 meter dari TKP sudah disterilisasi, tidak boleh mendekat ke TKP. Karena dampak dari ledakan bom bunuh diri yang dilakukan oleh istri terduga teroris tersebut cukup luas,” ujar Dedi di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Rabu (13/3/2019).

Ledakan tersebut membuat atap dan dinding puluhan rumah warga rusak. Rumah Husain sempat terbakar saat bom bunuh diri meledak dini hari tadi. Puluhan warga pun terpaksa mengungsi akibat peristiwa tersebut.

“Di atas 20 KK yang terdampak kalau dilihat dari radiusnya. Mereka diungsikan di kerabat terdekatnya karena ini menyangkut kesalamatan warga, maka diimbau tidak mendekati TKP,” tuturnya.

Hingga saat ini, polisi belum mengizinkan warga mendekat dan kembali ke rumahnya hingga dinyatakan klir. Sebab, diperkirakan masih terdapat bom rakitan dan bahan peledak yang belum dijinakkan dan dimusnahkan petugas di rumah terduga teroris itu.

“Kalau sudah dinyatakan klir, warga boleh masuk. Dari pemerintah daerah juga akan membantu memperbaiki kerusakan-kerusakan yang terdampak dari ledakan bom itu,” ucap Dedi.

HEADLINE: Negosiasi Kim Jong-un dan Donald Trump Gagal Total, Sinyal Bahaya?

Liputan6.com, Hanoi – Pada Kamis pagi, 28 Februari 2019, untuk kali pertamanya, Kim Jong-un menjawab langsung pertanyaan yang dilontarkan wartawan asing.

“Ketua Kim, apakah Anda yakin (akan ada kesepakatan)?,” itu pertanyaan yang dilontarkan seorang jurnalis. 

Pemimpin muda Utara Korea itu sempat terdiam. Namun tak lama kemudian bibirnya bergerak.

“Terlalu dini untuk mengatakannya. Namun, saya tidak bilang bahwa saya pesimistis,” kata Kim Jong-un yang kemudian diterjemahkan dalam Bahasa Inggris. “Berdasarkan apa yang saya rasakan saat ini, saya yakin akan ada hasil yang baik.” 

Delapan bulan setelah bersua di Singapura, Kim Jong-un dan Donald Trump menggelar pertemuan kedua di Hanoi, Vietnam. Usai basa-basi, pamer kemesraan, dan makan malam bersama, kedua pemimpin membahas pokok permasalahan: perwujudan denuklirisasi Korut dengan ganjaran pencabutan sanksi atas Pyongyang.

Tapi, sejarah damai gagal tercipta hari itu.

Awalnya, pertemuan diharapkan bisa berujung pada pernyataan berakhirnya Perang Korea yang secara de facto masih berlangsung hingga saat ini. AS dan Korut juga digadang-gadang akan bersepakat untuk mendirikan kantor penghubung di ibu kota masing-masing. Kalaupun sanksi tak dicabut sepenuhnya, setidaknya bakal ada pelonggaran. 

Namun, pertemuan keduanya diakhiri secara tiba-tiba. Lebih cepat dari jadwal. Tanpa hasil. Gagal total. 

Seorang pria berdiri di dekat layar TV yang memperlihatkan siaran pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un di Vietnam, di sebuah toko elektronik di Seoul, Korea Selatan (28/2). (AP Photo/Lee Jin-man)

Kedua pemimpin hengkang dari lokasi pertemuan di Sofitel Legend Metropole Hanoi sekitar pukul 13.30 waktu setempat, hanya 4,5 jam setelah pembicaraan dimulai.

Kim dan Trump juga batal makan siang bersama, meski meja-meja telah ditata, hidangan sudah disiapkan. Agenda penandatanganan kesepakatan tak jadi dilakukan. 

“Tak ada kesepakatan yang dihasilkan kali ini,” demikian isi pernyataan tertulis Juru Bicara Gedung Putih, Sarah Sanders, seperti dikutip dari CNN News. “Namun, tim masing-masing berharap untuk menggelar pertemuan kembali pada masa yang akan datang.”

Tak lama kemudian, Donald Trump menggelar konferensi pers. Miliarder nyentrik itu bersikukuh, pertemuannya dengan Kim berlangsung produktif.

“Kami memiliki waktu yang sangat, sangat produktif,” kata Trump. Namun, ia menambahkan, dirinya dan Menlu AS Mike Pompeo merasa, itu bukan saat yang tepat untuk menandatangani kesepakatan apapun.

Presiden AS itu menambahkan, pembicaraannya dengan Kim Jong-un berakhir karena diktator Korut itu meminta penghapusan semua sanksi AS dan internasional atas negaranya sebagai imbalan atas penutupan sebagian — bukan keseluruhan — fasilitas nuklir milik rezim Pyongyang.

“Pada dasarnya mereka ingin sanksi dicabut seluruhnya dan kami tak bisa melakukannya,” kata Trump dalam konferensi pers di Hanoi. “Mereka mengaku rela melakukan denuklirisasi atas sejumlah besar area yang kita inginkan, namun tak mungkin menghapus semua sanksi untuk itu,” kata suami Melania Trump tersebut seperti dikutip dari The New York Times.

Penghapusan sanksi internasional, yang membatasi kemampuan Korea Utara mengimpor minyak dan mengekspor barang-barang menguntungkan termasuk batubara dan hasil laut, adalah tujuan utama Pyongyang dalam semua negosiasi. Di sisi lain, bagi AS, sanksi-sanksi tersebut adalah alat tawar menawar yang signifikan.

Trump mengatakan, ia dan Kim mendiskusikan soal penutupan kompleks nuklir utama Korut di Yongbyon, di mana proses pengayaan plutonium, tritium, dan uranium untuk bahan bakar bom nuklir dilakukan. 

Meskipun Yongbyon adalah fasilitas nuklir terbesar Korut, tapi itu bukan satu-satunya. Dalam konferensi pers, Trump mengakui bahwa negara itu punya fasilitas pengayaan nuklir lain, yang kemampuannya mungkin lebih besar.

Belum lagi rudal balistik, hulu ledak nuklir, dan sistem senjata pemusnah massal yang belum terungkap sepenuhnya. Diduga disembunyikan rapat-rapat rezim Pyongyang.

Yongbyon Nuclear Research Centre, Korea Utara (GeoEye Satellite Image/AFP PHOTO via ABC Australia)

Trump juga mengaku bahwa ia dan Kim Jong-un mendiskusikan soal kasus Otto Warmbier, mahasiswa AS yang tewas setelah jadi tahanan di Korut.

Warmbier, mahasiswa University of Virginia, ditangkap saat bepergian di Korea Utara karena mencuri poster propaganda. Pada 2016 dia dijatuhi hukuman 15 tahun kerja paksa.

Lebih dari setahun kemudian dia dibebaskan dan kembali ke Amerika Serikat dalam keadaan sakit parah. Dokter menyebut, dia menderita cedera otak serius. Warmbier meninggal pada Juni 2017.

Donald Trump mendapat pujian atas kembalinya Warmbier dan segelintir orang Amerika lainnya yang ditahan di Korea Utara.

Jika presiden pendahulu menyebut kasus Warmbier sebagai contoh kebrutalan rezim Kim Jong-un, Trump menolak untuk menyalahkan sang pemimpin Korut.

Otto Warmbier, mahasiswa Amerika yang menghabiskan 17 bulan di tahanan Korea Utara (AP Photo/Jon Chol Jin)

“Saya tidak percaya bahwa dia akan membiarkan itu terjadi, itu tidak menguntungkannya,” kata Trump.

“Penjara itu kasar, tempat yang brutal, di mana hal-hal buruk terjadi. Tapi saya tak yakin, ia (Kim Jong-un) tahu soal itu.” Belakangan, pembelaannya itu dikecam ramai publik AS.

Kegagalan negosiasi membuat normalisasi hubungan antar-dua negara beringsut dari hasil yang diinginkan. Kim Jong-un gagal menghasilkan pencabutan sanksi terhadap Korut, di sisi lain Trump gagal memaksa Pyongyang ambil langkah konkret untuk mengakhiri program nuklirnya — sebuah keberhasilan yang sangat ia butuhkan untuk mengimbangi sejumlah gejolak domestik di AS.

Ketika Trump berniat berbincang santai di pinggir kolam renang bersama Kim Jong-un, mantan pengacaranya, Michael Cohen bersaksi menyudutkannya di depan Kongres. Agenda kedua pemimpin tersebut kemudian dibatalkan. 

Michael Cohen pada Rabu 27 Februari 2019 mengatakan kepada panel penyidik Kongres bahwa eks kliennya itu adalah sosok yang “rasis, penipu dan tukang bohong”. Dan jika Trump kalah pada Pilpres 2020, ia menyebut, transisi kekuasaan tak akan berjalan damai.

Eks pengacara Donald Trump, Michael Cohen (AP/Pablo Martinez Monsivais)

Dalam konferensi pers, Trump sempat bereaksi atas kesaksian Cohen. Menyebutnya berisi 95 persen kebohongan, nyaris 100 persen — kecuali soal bahwa ia tak berkolusi dengan Rusia dalam Pilpres 2016. 

Seperti biasanya, ia juga menyerang mantan pengacaranya dalam cuitan di Twitter. 

Tak seperti tanggapannya atas kesaksian Cohen, Trump berupaya keras menahan diri soal Kim Jong-un. Bicaranya tak berapi-api dan tanpa retorika. Tak ketinggalan, ia juga membela diri.

“Aku bisa saja menandatangani kesepakatan hari ini, lalu kalian akan mengatakan, ‘Ah, itu transaksi yang buruk’…Aku lebih baik melakukan dengan benar daripada buru-buru.” 

Donald Trump juga menyebut, meski negosiasi berlangsung tanpa hasil, hubungannya dengan Kim Jong-un tetap hangat. Pertemuan, kata dia, diakhiri dengan jabat tangan.

Di sisi lain, Trum tak berhasil mengurangi efek kejut kesaksian Michael Cohen dengan kegagalan negosiasinya dengan Kim Jong-un. Nobel Perdamaian yang ia harapkan pun kian jauh dari jangkauan.


Saksikan video menarik berikut ini: 

2 dari 3 halaman

Konsekuensi Mengkhawatirkan

“Welcome to Hanoi, city of peace” — kalimat itu terpampang di videotron yang berbaris di sisi jalan, dari bandara menuju pusat kota Hanoi. Bendera Amerika Serikat dan Korea Utara tersebar di sejumlah wilayah ibu kota Vietnam itu.

Sementara, gambar Kim Jong-un dan Donald Trump terpampang di kaos-kaos yang dijajakan untuk menyambut sebuah momentum penting: KTT AS-Korut yang memberi harapan damai di Semenanjung Korea.

Warga mencoba kaus bergambar wajah Presiden AS Donald Trump dan pemimpin Korea Utara Kim Jong-un di sebuah toko di Hanoi, Jumat (22/2). Pembuatan kaus itu menyambut KTT kedua AS-Korea Utara di Vietnam pada 27 Februari mendatang. (Nhac NGUYEN/AFP)

Namun, harapan itu tak terwujud. Kim Jong-un dan Donald Trump balik kanan ke negara masing-masing dengan tangan hampa, tanpa kesepakatan. Negosiasi gagal.

Donald Trump bersikukuh bahwa hubungannya dengan Kim Jong-un tetap baik. Ia juga yakin pihak Korut tak akan lagi melakukan uji coba senjata nuklir atau mengancam akan mengirimkan rudal ke negara lain. 

Belakangan, ia juga mengucapkan terima kasih pada tuan rumah atas sambutan hangat dan kemurahan hati Pemerintah Vietnam. Ucapan itu ia sampaikan lewat Twitter.

Lantas, bagaimana dengan Kim Jong-un? Rezim Korut belum mengeluarkan pernyataan apapun. 

“Kontribusi utama KTT AS-Korut kali ini adalah memperkuat fakta Kim tak punya niat untuk melepaskan kemampuan nuklirnya,” kata Cheon Seong Whun, seorang pejabat keamanan nasional dalam pemerintahan mantan Presiden Korea Selatan Park Geun Hye, seperti dikutip dari www.theatlantic.com. Diplomasi denuklirisasi, dia menambahkan, sudah mati. 

“Saya khawatir tentang konsekuensinya,” kata Jean H. Lee, seorang ahli Korea di Wilson Center, sebuah lembaga penelitian di Washington.

Ia menambahkan, situasi kian pelik pasca kegagalan tersebut. “Apakah kedua pemimpin dan tim mereka membuat langkah yang cukup baik untuk menjaga jalur komunikasi tetap terbuka, atau apakah kita akan menuju periode negosiasi yang macet — atau lebih buruk lagi, ketegangan — yang akan memberi Korea Utara lebih banyak waktu dan insentif untuk terus membangun program senjata mereka?,” tambah Lee. 

Kebuntuan negosiasi disayangkan oleh pihak Korea Selatan. “Sangat disesalkan mereka tidak dapat mencapai kesepakatan yang utuh”, kata Kim Eui-kyeom, juru bicara Presiden Korea Selatan, Moon Jae-in. 

Presiden Korea Selatan Moon Jae-in (dua kanan) dan sang istri Kim Jung-sook (kanan) foto bersama Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un (dua kiri) dan sang istri Ri Sol Ju (kiri) di Gunung Paektu, Korea Utara, Kamis (20/9). (Pyongyang Press Corps Pool via AP)

“Namun, tampak jelas bahwa kedua belah pihak telah membuat kemajuan yang lebih signifikan dari sebelumnya.”

Yang lebih jelas lagi, kegagalan diplomasi Kim dan Trump berdampak langsung pada Korsel. Mata uang won melemah, bursa saham pun anjlok. 

Hubungan kian tak pasti

Guru Besar Hukum Internasional di Universitas Indonesia, Hikmahanto Juwana menilai bahwa KTT yang berakhir tanpa hasil, membuat hubungan antara AS dan Korea Utara kembali tidak pasti.

Dia berpendapat bahwa meski masih ada optimisme tentang masa depan penyelesaian isu denuklirisasi, namun hasil KTT Vietnam tetap akan berdampak buruk bagi kedua belah pihak.

“Memang kedua pemimpin negara mengatakan hubungan mereka berjalan hangat, tapi kita tidak tahu apa yang dirasakan oleh para birokratnya. Apakah mereka akan tetap bersemangat untuk mengurusi hal ini?,” ujar Hikmahanto, menyayangkan gagal terwujudnya hitam di atas putih antara Donald Trump dan Kim Jong-un.

Hikmahanto juga berpendapat bahwa gagalnya pembicaraan di Hanoi akan turut memengaruhi kondisi ekonomi Korea Utara, yang telah berusaha untuk bangkit, melalui upaya meminta penghapusan sanksi internasional yang tegas dan keras.

“Salah satu yang masih menjadi tanda tanya besar adalah apakah benar pernyataan Donald Trump tentang potensi ekonomi Korea Utara, yang berkali-kali dia sebut di Hanoi. Jika memang begitu, apakah pemerintahannya mau berkompromi untuk mencabut sanksi, di mana Kim Jong-un menyatakan mau untuk mengusahakan denuklirisasi,” ujar Hikmahanto  saat dihubungi Liputan6.com pada Kamis (28/2/2019).

Sementara, Suzie Sudarman, pengamat kebijakan AS dari Universitas Indonesia menilai, KTT Vitenam dinilai tidak substantif, kaena cenderung bersifat lokal, antara Washington dan Pyongyang.

“Isu yang diangkat dalam pertemuan ini berdampak pada dunia internasional, yakni tentang denuklirisasi, sehingga pembahasan antara dua negara saja tidak cukup. Kalaupun misalnya (KTT Vietnam) berhasil, tentu dibutuhkan dukungan dari pihak ketiga yang berkompeten untuk mengawasinya, tidak bisa hanya oleh AS dan Korea Utara,” tambah dia. 

Suzie menambahkan bahwa tidak substantifnya pertemuan Trump-Kim, salah satunya, disebabkan oleh ketidakhadiran lembaga internasional yang berkompeten di tengah-tengahnya.

“Setidaknya diperlukan kehadiran IAEA (lembaga atom dunia) untuk mengawasi pembicaraan denuklirisasi, (sehingga) syukur-syukur bisa mencapai kesepakatan hitam di atas putih,” ujar Suzie.

Selain itu, masih menurut Suzie, apabila terjadi kesepakatan terkait denuklirisasi di Semenanjung Korea, diperlukan pula pembicaraan lanjutan dengan Rusia dan China, dua negara yang dikenal dengan Korea Utara.

Hal ini dimaksudkan agar tercipta keseimbangan dalam tindakan lanjut denuklirisasi. “Sehingga tidak semata-mata karena tuntutan AS, yang nyatanya sulit dipenuhi Korea Utara karena beberapa keterbatasan,” ujar Suzie.

3 dari 3 halaman

Kim Jong-un Wujudkan Ancaman?

Dua bulan sebelum KTT AS-Korut di Vietnam digelar, Kim Jong-un sejatinya sudah menyampaikan peringatan.

Dalam pidato Tahun Baru 2019, Kim Jong-un mengatakan tekadnya untuk denuklirisasi lengkap tetap tidak berubah, tetapi, dia mungkin harus mencari “cara baru” jika Amerika Serikat terus menuntut tindakan sepihak dari Korea Utara.

Duduk di kursi berlapis kulit, mengenakan jas hitam yang dipadu dasi abu-abu, Kim Jong-un mengatakan, bakal ada kemajuan yang lebih cepat dalam denuklirisasi jika Amerika Serikat mengambil tindakan yang sesuai –yakni dengan meringankan sanksi ekonomi yang dijatuhkan kepada Korut.

Kim Jong-un menegaskan, Korea Utara mungkin tak akan punya pilihan lain selain mengeksplorasi ‘cara baru’ untuk melindungi kedaulatan, kepentingan, serta untuk mencapai perdamaian dan stabilitas di Semenanjung Korea.

Tak jelas apa yang ia sebut sebagai ‘cara baru’ itu.

Kim Jong-un menambahkan, hal tersebut akan dilakukan, “jika Amerika Serikat salah membuat perhitungan atas kesabaran rakyat (Korut), memaksakan sesuatu kepada kita dan mengejar sanksi dan tekanan tanpa menepati janji yang dibuat di hadapan dunia,” kata dia seperti dikutip media pemerintah, Rodong Sinmun.

Seperti dikutip dari situs www.businessinsider.sg, ‘cara baru’ yang disebut Kim dalam pidato tahun barunya dikhawatirkan sebagai dimulainya kembali uji coba rudal nuklir — yang menurut Pyongyang telah berakhir April 2018 lalu. 

Pidato Kim bulan lalu juga bisa jadi mengisyaratkan perluasan 12 fasilitas senjata nuklir yang sudah ada di negara itu.

Sebelum KTT Vietnam, intelijen AS dan para ahli Korea Utara berulang kali memperingatkan bahwa Pyongyang tidak mungkin menyerahkan senjata nuklirnya secara utuh.

Sebuah laporan intelijen yang diterbitkan bulan lalu menegaskan kembali gagasan bahwa para pemimpin negara Korut memandang senjata nuklir sebagai hal penting bagi kelangsungan rezim.

Berbeda dengan Donald Trump yang langsung pulang ke Amerika Serikat naik Air Force One, Kim Jong-un dilaporkan tetap tinggal di Hanoi hingga Sabtu 2 Maret 2019. 

Ia akan menyempatkan diri berjalan-jalan dan bertemu dengan sejumlah pejabat Vietnam dalam apa yang ia sebut sebagai ‘kunjungan persahabatan’.

Dengan itu, Kim Jong-un mungkin berkesempatan untuk menunjukkan pada rakyatnya, juga pada dunia bahwa pertemuannya dengan Donald Trump adalah salah satu bagian dari kunjungannya. Bukan agenda tunggal.

Dan, dunia hanya bisa menanti apa yang akan dilakukan pemimpin muda Korut itu. Apakah ia akan bersabar atau mewujudkan ancamannya?

Rayuan Miras dan Hilangnya Keperawanan Gadis SMP di Jember

Liputan6.com, Jember – Dekadensi moral di kalangan remaja semakin mengkhawatirkan. Usai kasus pencabulan siswi SMP hingga hamil di Kediri, kini muncul kasus serupa di Jember. Siswa putus sekolah berinisial GN (18), warga Dusun Besuki Desa Sidomekar Kecamatan Semboro Kabupaten Jember, Jawa Timur, ditangkap polisi lantaran merayu siswi SMP minum minuman keras lalu mencabulinya.

Kapolsek Semboro, Iptu Fathur Rohman, Rabu (27/2/2019) kepada Liputan6.com mengatakan, kasus perkosaan dan persetubuhan dengan anak di bawah umur sebagai korbannya ini awalnya terungkap karena korban seharian tidak pulang. Korban berangkat sekolah Jumat pagi, 22 Februari 2019, tetapi hingga hari berganti korban belum pulang juga.

Keluarga korban yang kebingungan terus mencarinya. Kabar hilangnya korban juga sempat membuat heboh tetangga dan warga sekitar rumah. Baru pada Sabtu malam, 23 Februari 2019, korban pulang ke rumahnya.

“Saat ditanya, korban mengaku menginap di rumah salah seorang temannya. Karena curiga dengan perubahan tingkah laku anaknya, pihak keluarga mendesak supaya memberikan keterangan yang sebenarnya. Korban akhirnya mengaku sudah ditiduri pria yang baru dikenalnya,” kata Fathur.

Mendengar pengakuan itu, keesokan harinya, Minggu, 24 Februari 2019, keluarga korban langsung melaporkan kasus itu ke Mapolsek Semboro Kepolisian resort Jember. Berdasarkan laporan itu, polisi langsung menindaklanjuti dengan penyelidikan. Berdasarkan minimal dua alat bukti sesuai KUHAP, polisi akhirnya menetapkan GN sebagai tersangka.

“GN selama ini dikenal tetangganya sebagai siswa putus sekolah yang gemar meminum minuman keras hingga mabuk. Tersangka GN, akhirnya kami tangkap di rumahnya pada hari Minggu sekitar jam setengah enam sore,” ucapnya.

Menurut Fathur, saat diinterogasi di Mapolsek Semboro, GN mengaku lebih dari sekali meniduri korban yang berasal dari kecamatan lain, yakni Kecamatan Gumukmas, Kabupaten Jember. Pertama kali korban dipaksa menyerahkan kegadisannya, Jumat, 1 Februari 2019. Modusnya, tersangka GN menghubungi korban melalui WA, mengundang untuk datang ke rumahnya. 

Tersangka kemudian menyuguhkan miras oplosan. Selang satu jam kemudian tersangka mengajak dan menarik tangan korban untuk masuk ke kamar tidur. Tersangka membujuk korban untuk melakukan hubungan badan. Karena korban menolak, tersangka membuka paksa busana korban.

“Setelah melepas busananya dan selanjutnya saya meniduri korban. Setelah memakai baju dan celananya lagi, saya mengajak korban keluar dari kamar tidur dan duduk-duduk di ruang tamu. Saat itu masih menangis, kemudian saya antar pulang ke rumahnya. Perbuatan itu, terulang kedua kalinya, pada hari Selasa kemarin,” Fathur menjelaskan.

Fatur menambahkan, karena tersangka dan korban sama-sama masih di bawah umur, maka penanganan kasus tersebut dilimpahkan ke Unit perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Jember. Polisi menyita barang bukti yaitu satu buah kaus warna hitam tanpa kerah dengan motif mutiara bertuliskan pizza, milik korban. Satu buah celana panjang jenis kain jins warna biru muda, milik korban, satu buah celana dalam warna pink polos, dan bra.

Tersangka dijerat dengan pasal 81 ayat (1), (2) Jungto pasal 76 D dan atau 82 ayat (1) Jungto 76 E, Undang-Undang Perlindungan anak, Nomor 35 Tahun 2014, perubahan atas Undang-Undang RI No 23 Tahun 2002, tentang tindak pidana setiap orang melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa anak melakukan persetubuhan dengannya, dan atau setiap orang dilarang melakukan tipu muslihat melakukan serangkain kebohongan atau membujuk untuk melakukan persetubuhan dan atau perbuatan cabul.

“Tersangka terancam hukuman minimal 5 tahun, maksimal 15 tahun dan denda maksimal 5 miliar rupiah,” ujar Fatur. 


Simak juga video pilihan berikut ini:

Saat Wartawan Ditahan Gegara Pertanyaan

Jakarta – Melemparkan pertanyaan yang tak disukai Presiden Venezuela Nicolas Maduro bisa berdampak pada penahanan. Setidaknya itulah yang dialami oleh tim jurnalis dari jaringan televisi Amerika Serikat (AS) yang berbahasa Spanyol, Univision.

Peristiwa ini berawal dari adanya janji wawancara antara pihak Univision dengan Maduro di Caracas, Senin (25/2) waktu setempat. Tim jurnalis itu beranggotakan 6 orang dari Univision yang dipimpin oleh penyiar televisi senior, Jorge Ramos.

Seperti dilansir dari Reuters, Selasa (26/2/2019), Ramos melaporkan penahanannya kepada pihak Univision yang berkantor di New York, AS. Ramos mengaku ia dan timnya ditahan selama dua jam setelah Maduro menyatakan tidak menyukai pertanyaan yang diajukan kepadanya.

Pertanyaan Ramos yang tidak disukai Maduro adalah soal kurangnya demokrasi di Venezuela. Kemudian juga soal penyiksaan terhadap para tahanan politik dan soal krisis kemanusiaan yang kini melanda negara tersebut.

Ramos sempat menunjukkan sebuah video yang menunjukkan anak-anak Venezuela makan dari truk sampah. Saat itulah Maduro langsung menghentikan wawancara.

“Mereka menyita semua perlengkapan kami. Mereka memiliki (rekaman) wawancaranya,” kata Ramos dalam pernyataannya.

Wawancara dengan wartawan Univision itu dilakukan Maduro pada Senin (25/2) saat pemerintah AS menargetkan Venezuela dengan sanksi-sanksi baru dan menyerukan sekutu-sekutunya untuk membekukan aset-aset perusahaan minyak milik negara, PDVSA. Beberapa hari sebelumnya, kekerasan mematikan terjadi di perbatasan saat pasukan militer Venezuela memblokir penyaluran bantuan kemanusiaan dari negara tetangganya.

Pihak Univision dan Departemen Luar Negeri AS langsung menyerukan pembebasan tim jurnalis itu setelah Ramos menghubungi kantornya untuk melaporkan penahanan mereka. Sementara itu Menteri Informasi Venezuela, Jorge Rodriguez, menyatakan bahwa pemerintah Venezuela di masa lalu telah menyambut ratusan jurnalis ke Istana Kepresidenan Miraflores, namun tidak mendukung ‘pertunjukan murahan’ yang dilakukan dengan bantuan Departemen Luar Negeri AS.

Peristiwa penahanan terhadap jurnalis bukan hanya terjadi di Venezuela. Pada Minggu (13/1) lalu, penyiar berita ternama untuk televisi Iran berbahasa Inggris bernama Press TV, Hashemi ditahan saat mendarat di Bandara Internasional St Louis Lambert di St Louis, Missouri, AS. Rupanya jurnalis bernama lengkap Marzieh Hashemi ditahan otoritas AS sebagai saksi untuk sebuah kasus ‘misterius.

Saat Wartawan Ditahan Gegara PertanyaanFoto: Marzieh Hashemi (Hossein Hashemi via AP)

Dokumen pengadilan AS menyatakan Hashemi tidak terjerat tindak kriminal apapun di AS dan akan dibebaskan segera. Seperti dilansir CNN, Sabtu (19/1/2019), sebuah dokumen pengadilan AS yang dirilis pada Jumat (18/1) waktu setempat mengungkapkan bahwa Hashemi ditahan di AS sebagai saksi material. Tidak disebut lebih lanjut kasus apa yang membutuhkan keterangan Hashemi sebagai saksi.

Dokumen pengadilan itu juga menyebutkan bahwa Hashemi akan dibebaskan dari sebuah fasilitas penahanan di Washington DC setelah dia memberikan keterangan di hadapan ‘dewan juri yang menyelidiki pelanggaran-pelanggaran aturan hukum kriminal AS’. Tidak diketahui secara jelas kasus yang dimaksud.

Pada hari dia ditangkap, Hashemi disebut hendak mengunjungi saudara laki-lakinya yang sakit juga menemui anggota keluarganya yang lain di AS. Namun keterangan Press TV dan pihak keluarganya menyebut Hashemi hendak merekam sebuah dokumenter soal Black Lives Matter.

Sejak ditahan, Hashemi baru diperbolehkan menghubungi keluarganya pada Selasa (15/1) lalu. Kepada anak perempuannya, Hashemi menyebut dirinya diborgol dan dirantai di bagian kaki serta diperlakukan seperti pelaku kriminal. Tak hanya itu, jilbab yang dipakai Hashemi juga dilepas secara paksa dan dia diambil fotonya tanpa jilbab oleh otoritas setempat.

Pemerintah Iran pun mengecam keras penangkapan Hashemi itu. Iran mendesak AS segera membebaskan Hashemi dan menuding penangkapan warga negaranya itu sebagai ‘permainan politik’.

“Langkah AS dengan menangkapnya merupakan sebuah langkah politik yang tidak bisa diterima dan sebuah pelanggaran kebebasan berbicara. Atas dasar itu, Amerika harus segera mengakhiri permainan politik ini,” kata Menteri Luar Negeri Iran, Mohammad Javad Zarif seperti dilansir Anadolu Agency dan Press TV, Kamis (17/1).
(elz/fdn)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Jokowi Tak Paksa Konsesi Besar Kembalikan Lahan Negara

Liputan6.com, Jakarta – Capres petahana Jokowi menjelaskan pernyataannya yang bakal menanti pemilik konsesi mengembalikan tanahnya ke negara. Jokowi menegaskan bahwa pernyataannya tersebut tidak bersifat memaksa.

“Bukan memaksa, karena kita juga tahu kepastian hukum harus ada,” kata Jokowi di PLTU Cilacap, Jawa Tengah, Senin (25/2/2019).

Jokowi mengatakan, Indonesia adalah negara hukum. Untuk itu, tak mungkin lahan yang memiliki Hak Guna Usaha (HGU) langsung diambil, karena sudah menjadi hak dari penerima, termasuk tanah milik capres nomor urut 02 Prabowo Subianto.

“Setiap hak yang diberikan pada investor, pada pengusaha, pada rakyat, itu kepastian hukum harus jelas. Sehingga kalau sudah diberi HGU ya itu hak guna usaha kalau diberikan HGB ya itu hak guna bangunan yang ada jangka waktunya. Jangan dilarikam kemana-mana,” jelasnya.

Mantan Gubernur DKI Jakarta itu lalu mengungkapkan alasan kembali menyinggung kepemilikan lahan saat pidato politik berjudul ‘Optimis Indonesia Maju’. Hal itu, kata dia, lantaran ada pihak yang siap untuk mengembalikan lahannya.

Jokowi mengaku sangat senang apabila ada pemilik konsesi yang ingin mengembalikan lahannya ke negara. Dengan begitu, dia akan membagikan tanah tersebut kepada rakyat kecil.

“Tadi malam saya ulang karena kan ada yang menyampaikan kalau tanahnya diperlukan negara akan diberikan, kalau diperlukan negara akan diberikan. Ya saya dengan senang hati akan saya terima kalau memang mau diberikan. Hingga saya bisa membagi bagikan kepada rakyat,” tutur Jokowi.

2 dari 2 halaman

Bagi-Bagi Sertifikat Tanah

Sebelumnya, Jokowi membanggakan program bagi-bagi sertifikat kepada rakyat Indonesia. Bagi-bagi sertifikat adalah salah satu program unggulan Jokowi-JK selama memimpin RI.

Dalam konteks ini, Jokowi kembali menyinggung ratusan ribu lahan milik Prabowo di Aceh dan Kalimantan. Dia mengatakan, bakal menanti pemilik konsesi yang berkomitmen untuk mengembalikan tanahnya ke negara.

“Jika ada penerima konsesi besar yang mau mengembalikan ke negara,” jelas Jokowi dipotong oleh riuh hadirin di acara pidato politik berjudul ‘Optimis Indonesia Maju’ di SICC, Sentul, Jawa Barat, Minggu (24/2/2019).

Jokowi menghentikan pidatonya beberapa detik. Setelah melihat kondisi pendukungnya mulai tenang, dia kembali melanjutkan.

“Saya ulang, jadi kalau ada yang ingin mengembalikan konsesinya kepada negara,” jelas Jokowi kembali disambut riuh pendukungnya. Jokowi terpaksa kembali menunda pidatonya.

Jokowi pun kembali melanjutkan pidatonya. Dia menantikan orang-orang yang ingin mengembalikan tanahnya kepada negara.

“Saya ulang, jadi kalau ada konsesi besar yang ingin dikembalikan ke negara, saya tunggu,” jelas Jokowi disambut riuh sorak sorai pendukungnya.


Saksikan video pilihan di bawah ini:

Cara Bersahaja Sahroni Nasdem Bangun Optimisme Warga

Liputan6.com, Jakarta – Kebahagian tak selalu harus bersinggungan dengan limpahan materi yang kita peroleh. Kesederhanaan yang memberi manfaat bagi orang banyak justru kerap kali menjadi sumber dari kebahagiaan itu sendiri.

Hal ini tergambar dari temu warga yang dilakukan Anggota Komisi III DPR Ahmad Sahroni dengan masyarakat Ex Komplex Gaya Motor Rw 08 Kelurahan Semper Timur, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara, Minggu (24/2).

Kegiatan yang sedianya menjadi ajang senam pagi bersama warga itu justru diwarnai ‘jarah warung’ khususnya oleh ibu dan anak-anak. Penjarahan dalam konteks ini tentu bukan dalam makna yang harafiah, mengambil paksa milik orang lain, melainkan aksi borong jajanan warung sebagai pelepas dahaga sehabis menguras keringat.

Situasi ini bermula ketika Sahroni yang berada di atas panggung menyaksikan warga tampak lelah mengikuti intruktur senam. Segera saja politisi muda Partai NasDem itu turun dari panggung menuju sebuah warung.

Tanpa diduga Sahroni membuka box pendingin warung tersebut, mengeluarkan berbagai minuman dan membagi-bagikannya kepada warga.

“Ibu-ibu dan bapak-bapak yang haus dan kelelahan silakan kemari ambil minumannya,” seru Sahroni.

Sontak warga berhamburan mengerumuni Sahroni. Tak ketinggalan anak-anak memanfaatkan kesempatan memborong jajanan kecil. Keceriaan tampak menghiasi wajah-wajah mereka.

“Kapan lagi dijajanin Anggota DPR,” celetuk seorang ibu mengumbar tawa.

Aminah si pemilik warung yang awalnya tampak bingung dengan aksi Sahroni pada akhirnya sadar bahwa ia sedang dijatuhi durian runtuh, dagangannya laku keras karena kehadiran sang wakil rakyat.

Satu warung tampaknya belum cukup melepas dahaga warga. Segera saja Sahroni melakukan aksi sama di warung lain yang diketahui milik Ibu Eliana Susi. Ia melayani warga seolah dirinyalah si pemilik warung. Dengan sabar dan senyum ia melayani warga yang memberinya kepercayaan menjadi Anggota DPR pada Pileg 2014 lalu.

“Jarang ada Anggota DPR yang merakyatnya seperti Pak Sahroni. Saya ketiban rezeki,” ujar Eli.

2 dari 2 halaman

Doakan Tetap Amanah

Spontanitas serupa memang sering mewarnai masa-masa reses Sahroni saat menyambangi warganya. Karakter rendah hati dan penderma yang hidup dalam diri Sahroni menjadi daya tarik bagi warga yang bahkan baru mengenalnya.

“Doakan saya tetap amanah sebagai wakil rakyat dan bermanfaat bagi masyarakat,” ucap Sahroni.

Pemandangan menyentuh yang menggambarkan nurani sosok Sahroni kembali terlihat di Kebon Jahe RT 05/14, Kapuk, Cengkareng, Jakarta Barat di hari yang sama.

Di tengah acara senam sore bersama warga Sahroni tiba-tiba keluar dari kerumunan, berjalan sendiri menuju sebuah gubuk tak layak huni yang berada di pinggir Kali Kebonjahe. Gubuk itu hanya beratapkan kain terpal bekas tanpa dinding dan beralaskan tanah.

Sahroni tampak berbincang-bincang dengan seorang kakek yang menyambung hidupnya dengan bercocok tanam di sebidang tanah kecil di pinggir kali. Sejurus kemudian ia kembali ke kerumunan dan memerintahkan timnya agar membangun hunian yang layak bagi sang kakek.

“Besok bawa tim. Benerin rumah kakek itu,” tukas Sahroni

Ia kemudian berlalu, meninggalkan harapan di dalam diri warga bahwa sesungguhnya masih ada Anggota DPR yang membuktikan diri melayani masyarakatnya dengan tindakan. Ekspresi wajah warga merepresentasikan suasana hati mereka. Begitulah keceriaan dan kebahagian terkadang lahir dari sebuah kesederhanaan.

Dihadiri Puluhan Ribu Milenial, MRSF di Riau Raih Rekor MURI

Pekanbaru – Ditlantas Polda Riau menggelar acara akbar Millennial Road Safety Festival (MRSF). Acara yang dihadiri ribuan peserta ini meraih penghargaan dari Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI).

Pelaksanaan deklarasi untuk tertib berlalu lintas ini dipusatkan di halaman Kantor Gubernur Riau, di Jl Sudirman, Pekanbaru, Minggu (24/2/2018). Penghargaan ini diberikan MURI atas komitmen kaum milenial terbanyak. Sebelumnya rekor ini diraih Polda Riau Lampung pada 3 Februari 2019 lalu.

Pihak perwakilan Muri, Awan Rahargo mengatakan, acara MRSF 2019 yang digelar di Pekanbaru merupakan peristiwa superlatif sebagai rekor MURI.

“Deklarasi MRSF yang digelar di Pekanbaru ini sebagai pemecah rekor Muri dengan jumlah terbanyak di Indonesia. Di mana acaranya disertai komitmen untuk tertib berlalu lintas oleh kaum milenial yang terbanyak,” kata Awan.
Pihak Muri memberikan sertifikasi ini langsung kepada Kapolda Riau, Irjen Widodo Eko Prihastopo. Penyerahan ini didampingi Korlantas Mabes Polri, Dirlantas Polda Roau, Kombes Bhirawa Braja Paksa.

Awan menjelaskan dari data yang dikumpulkan ada 54.127 kaum milenial menyatakan komitmen dalam kampanye untuk tertib berlalu lintas di jalan raya. Sedangkan rekor sebelumnya di Polda Lampung berjumlah 22 ribu kaum milenial.

Dir Lantas Polda Riau, Kombes Bhirawa Braja Paksa mengatakan, semangat deklarasi tertib berlalu lintas dapat menumbuhkan mindset masyarakat. Selain itu, deklarasi ini untuk menularkan budaya untuk tertib berlalu lintas.

“Deklarasi ini diharapkan dapat menumbuhkan mindset keselamatan berlalu lintas utamanya usia produktif yang akan membawa Indonesia ke arag yang maju dan gemilang,” tutup Braja.
(mae/mae)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Millenial Road Safety Festival di Pekanbaru Pecahkan Rekor MURI

Liputan6.com, Pekanbaru- Millenial Road Safety Festival (MRSF) di area car free day Jalan Jenderal Sudirman Kota Pekanbaru, Riau, berhasil memecahkan Rekor Musium Dunia Indonesia (MURI). Kegiatan untuk mengkampanyekan keselamatan lalu lintas ini dihadiri lebih oleh 54 warga pada Minggu (24/2/2019).

Menurut Kapolda Riau Irjen Widodo Eko Prihastopo, angka tersebut berdasarkan perhitungan perwakilan MURI yang datang ke Pekanbaru. Perhitungan dilakukan dari gerak jalan santai millenial yang dimulai pukul 07.00 WIB.

“Ada 54.127, ini rekor MURI yang tentunya melalui penelitian, angka yang sangat menggembirakan,” kata Widodo usai mencabut undian berhadiah umrah, sepeda motor dan barang menarik lainnya di halaman Kantor Gubernur Riau.

Widodo menjelaskan, selama tahun 2018 tercatat 1.675 kecelakaan lalu lintas di berbagai kabupaten/kota di Riau. Dari jumlah itu tercatat 798 korban meninggal dunia, 583 korban luka berat dan 1.694 korban luka ringan.

“Mayoritas yang menjadi korban adalah kaum millenial. Dengan kampanye keselamatan lalu lintas ini diharap ada penurunan angka kecelakaan,” imbuh Widodo.

Rekor MRSF ini sebelumnya dipegang oleh Polda Lampung pada 3 Februari 2019 dengan peserta 22 ribu kaum millenial. Untuk di Pekanbaru, sertifikat ini diserahkan oleh Senior Manager MURI Awan Rahargo kepada Widodo didampingi Dirlantas Polda Riau Kombes Bhirawa Braja Paksa.

Awan menjelaskan, Polda Riau mendapat sertifikat MURI atas torehan rekor komitmen tertib berlalu lintas oleh kaum millennial terbanyak dan merupakan peristiwa superlatif.

“Ada 54.127 kaum millennial menyatakan komitmennya dalam kampanye tertib berlalu lintas di jalan raya,” kata Awan.

Terpisah, Kombes Bhirawa Braja Paksa mengungkapkan, semangat deklarasi ini diharap dapat menumbuhkan mindset masyarakat serta menjadikan budaya tertib sehari-hari.

“Keselamatan menjadi perhatian kita bersama, utamanya usia produktif yang akan membawa Indonesia ke arah yang maju dan gemilang,” ucap Bhirawa.

2 dari 2 halaman

Buat Arena Balap Millenial

Sementara itu, Gubernur Riau Syamsuar di lokasi menyebut Pemerintahan Riau punya banyak program untuk menjaga kaum millenial. Bahkan dirinya berencana membangun arena balapan bagi usia produktif agar tak melakukan balapan liar di jalanan.

“Karena kami sayang dengan dengan warga dan anak kita agar tidak terjadi kecelakaan,” kata mantan Bupati Kabupaten Siak ini.

Syamsuar menjelaskan, kegiatan ini sangat penting karena banyak pelajar dan mahasiswa mengendarai motor ke sekolah. Diapun berharap kampanye seperti ini tidak dilakukan sekali dan Pemprov Riau berencana menggelarnya juga.

“Ini bukti kepedulian terhadap generasi penerus, generasi emas yang nantinya menjadi pemimpin bangsa,” sebut Syamsuar.

Terkait tingginya angka kecelakaan lalu lintas di Riau, Syamsuar berharap berkurang dalam beberapa tahun ke depan hingga menjadi tidak ada sama sekali.

“Kalau tidak menjadi zero, minimal berkurang,” ucapnya.

Rangkaian kegiatan dalam MRSF, selain jalan santai, juga diwarnai dengan pemutaran pesan keselamatan berlalu lintas dari Presiden Joko Widodo dan senam kolosal milenial.

Pantauan di lokasi, puluhan ribu peserta dengan berpakaian putih semarak mengikuti kampanye keselamatan terbesar yang pernah diselenggarakan di Bumi Lancang Kuning itu.

Menilik Motif di Balik Pembunuhan Sadis Suami Terhadap Ibu Hamil di Bengkulu

Liputan6.com, Bengkulu – Peristiwa pembunuhan suami terhadap istrinya di Kelurahan Tanjung Jaya Kota Bengkulu sontak membuat warga heboh. Pasangan Romi Sepriawan alias Romi Cabe (31) dan istrinya ES yang tengah mengandung 9 bulan itu sudah tinggal lebih dari 3 tahun di lingkungan tersebut.

Menurut Romi, dia dan istrinya memang sudah terjadi cekcok sejak 4 bulan ke belakang. Pemicunya, rasa cemburu dan selalu curiga dengan gerak gerik istrinya yang sering memainkan telepon genggam secara sembunyi-sembunyi.

“Saya mau lihat teleponnya, selalu terkunci, dan dia tidak mau memberikan kode kunci tersebut,” ujar Romi di Mapolres Bengkulu, Jumat 22 Februari 2019.

Pertengkaran demi pertengkaran terjadi antara pasangan yang sudah memiliki seorang putri yang kini berusia 3 tahun tersebut.

Jumat pagi, keduanya kembali cekcok. Romi lalu mengambil parang, menyayat istrinya dan mendorongnya ke atas tempat tidur. Setelah sang istri terbunuh, Romi lalu membelah perutnya dan mengeluarkan jabang bayi sambil membungkusnya dengan kain seadanya. Parang tersebut disiapkan Romi pada malam sebelum kejadian dengan meminjam dari tetengga.

Menurut Romi, setelah pusar bayinya dipotong, dia lalu minta tolong seorang tetangga. Lalu putrinya dan sang jabang bayi diserahkan kepada tetangga dan minta untuk diselamatkan.

“Saya katakan, saya khilaf dan minta maaf sebelum berlari ke belakang,” urai Romi.

Oleh warga, Bayi tersebut sempat dibawa ke klinik pengobatan terdekat sebelum dibawa ke RS Bhayangkara Polda Bengkulu yang berjaran 3 kilometer dari rumah korban.

“Kebetulan ada perawat warga dekat sini,” ujar Fauzan, tetangga korban pembunuhan.

2 dari 2 halaman

Sandiwara Pelaku di TKP

Peristiwa pembunuhan yang terjadi di Kelurahan Tanjung Jaya Kota Bengkulu pada Kamis siang membuattetangga korban langsung mengerumuni Tempat Kejadian Perkara. Aparat kepolisian yang mendatangi TKP langsung membentang garis polisi dan melakukan identifikasi awal.

Hasilnya, ditemukan korban tergeletak tak bernyawa diatas kasur dalam kamar tidur, terdapat luka sayat pada leher korban ES yang ditutup selimut. Loka robek juga ditemukan pada perut korban.

Aparat juga menemukan pagar seng belakang rumah itu rusak akibat diterobos secara paksa. Sempat dilakukan penyisiran beberapa jam, tetapi belum menemukan jejak pelaku.

Kapolsek Teluk Segara Kompol Jauhari menjelaskan, pukul 14.20 unit Opsnal dan Intelkam Polsek Teluk Segara melihat seorang laki-laki di TKP dengan gerak-gerik mencurigakan.

Dengan pakaian yang sebagian berlumur lumpur, dia dikerumuni warga, aparat lalu mengamankan pria yang diketahui merupakan suami korban bernama Romi Sepriawan.

“Kami amankan, dan antar ke Mapolres,” tegas Jauhari.

Ma’ruf Amin Bawa Ayat ke Panggung Debat

Jakarta – Cawapres Ma’ruf Amin berniat menjadi dirinya sendiri saat menghadapi debat cawapres bulan depan. Ma’ruf disebut akan tetap bicara dengan memakai ayat-ayat Alquran.

Hal itu disampaikan oleh Direktur Komunikasi Politik TKN Usman Kansong di Posko Cemara, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (22/2/2019). Usman mengatakan bukan tak mungkin Ma’ruf Amin akan melengkapi jawaban dan argumennya dengan sejumlah ayat. Meski begitu, Ma’ruf dinilai tak akan memaksakan diri apabila memang tak ada ayatnya.

“Kita ingin menjadikan Pak Kiai (Ma’ruf Amin) sebagai dirinya sendiri. Sebagai kiai, dia saya kira otomatis, dia ngomong di mana-mana, ngomong sama saya pun kemarin, ayat-ayat itu pun keluar, yang relevan tentu saja, namanya kiai, kita biarkan beliau seperti itu sejauh itu relevan, kan tidak ada larangannya juga,” ujar Usman.

“Misal Pak Kiai, ini kami serahkan ke Pak Kiai ya, tidak harus menyampaikan pakai ayat, kalau tidak ada ayatnya dipaksa-paksa, salah kan. Tapi intinya Pak Kiai menjadi dirinya sendiri,” imbuhnya.

Debat ketiga dengan tema ‘Pendidikan, Kesehatan, Ketenagakerjaan, Sosial, dan Kebudayaan’ digelar pada 17 Maret 2019. Stasiun televisi yang menyiarkan adalah Trans TV, Trans 7, dan CNN Indonesia TV

Selain itu, Ma’ruf Amin juga sudah brainstorming dengan asosiasi profesi. Asosiasi profesi itu masih terkait dengan tema debat, salah satunya asosiasi serikat buruh.

“Kita lihat nanti, nggak ada target, semakin banyak semakin baik, tapi kemudian harus kita pilah juga. Kita anggap perlu atau tidak, tapi kan kemarin itu sangat perlu jadi kita membuka ruang juga untuk teman-teman dari asosiasi profesi itu untuk membuat brainstorming ke Pak Kiai (Ma’ruf) terkait SDM itu begitu,” kata Usman.

Lalu, bagaimana reaksi kubu Sandiaga? Wakil Ketua Badan Pemenangan Nasional (BPN) Mardani Ali Sera mempersilahkan Ma’ruf memakai ayat-ayat, ia menyebut Sandiaga Uno sudah siap.

“Ayat tentu sah digunakan. Dan monggo saja. Dan Cawapres kami, bang Sandi akan mengedepankan bagaimana nilai itu diikat dengan sistem, ditegakkan dengan program dan dirasakan manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari,” kata Mardani.

Ikuti perkembangan Pemilu 2019 hanya di sini.
(imk/dkp)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>